Anda di halaman 1dari 10

Membongkar Koleksi Dusta Syaikh Idahram

10 - SEJARAH DUSTA VERSI IDAHRAM


Kategori: Bantahan Diterbitkan pada 29 October 2012 Klik: 9674

BAB KEEMPAT
SEJARAH DUSTA VERSI IDAHRAM
(Koleksi kedustaan idahram)
Prolog

Senjata yang paling utama yang digunakan oleh orang-orang yang hasad terhadap dakwah salafy
wahabi adalah tuduhan bahwasanya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dan para pengikutnya
mengkafirkan kaum muslimin dan menghalalkan untuk memerangi mereka. Tuduhan inilah yang
selalu digembar-gemborkan oleh mereka, dan tuduhan inilah yang menjadi pembahasan utama
idahram untuk menggambarkan karakter bengis yang haus darah dari sosok seorang wahabi.
Akan tetapi yang benar adalah, barang siapa yang memperhatikan sejarah dakwah Syaikh
Muhammad bin Abdil Wahhab maka ia akan mendapati perkara-perkara berikut:
Pertama : Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab dan para pengikutnya seperti Alu Sa'uud mereka
berada di atas manhaj salaf dalam hal tidak bolehnya menghalalkan darah kaum muslimin kecuali
dengan dalil syar'i. Secara umum mereka berpegang teguh dengan manhaj ini dan tidak keluar dari
jalan ini, kecuali mungkin dalam beberapa peristiwa yang sangat jarang, dan yang merupakan
kesalahan atau kesalahan praktek dari sebagian pengikut mereka. Akan tetapi mereka sendiri
mengingkari
kesalahan-kesalahan
dalam
praktek-praktek
yang
keliru
Kedua : Musuh-musuh merekalah yang pertama kali memulai mengangkat pedang dan senjata
untuk melawan mereka. Bahkan sejak awal kali muncul dakwah Syaikh Muhammad di daerah
Uyainah, dimana Gubernur Ahsaa' (dari Bani Kholid) telah mengancam gubernur Uyainah Utsman
bin Mu'ammar untuk membunuh Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab (sebagaimana akan datang
penjelasannya lebih lanjut). Sebagaimana juga yang dilakukan oleh ibnu Syamis al-'Anazi.
Kemudian tatkala dakwah Syaikh sudah mantap di daerah Dir'iyah maka pemimpin kota Riyadh
tatkala itu- Dahhaam bin Dawwaas dialah yang pertama kali memulai peperangan.
Ketiga : Para musuh sering kali menipu dan mengkhianati para pengikut dakwah Syaikh
Muhammad bin Abdil Wahhab. Beliau mengirim para dai, para ulama, para pengajar di kampungkampung untuk mengajarkan syari'at Islam, akan tetapi para musuh di kampung-kampung tersebut
berkhianat. Padahal mereka telah menyatakan berbai'at kepada Muhammad bin Sa'ud rahimahullah.
Mereka lalu menyatakan pembangkangan secara terang-terangan dan membatalkan bai'at dan
perjanjian. Kondisi seperti ini mengkonsekuensikan adanya penyerangan terhadap para

pembangkang

dan

pemberontak

tersebut

untuk

memberi

pelajaran

bagi

mereka.

Keempat : Para penguasa Hijaz (Mekah dan Madinah sering kali menyatakan secara terangterangan permusuhan mereka terhadap dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab. Permusuhan
yang mereka lancarkan bervariasi baik yang berkaitan dengan agama maupun politik. Bahkan
terkadang mereka membunuh sebagian ulama dan dai, serta utusan yang dikirim oleh para pengikut
Syaikh
Muhammad
bin
Abdil
Wahhab
dari
Dir'iyah.
Kelima : Mereka para pemimpin kota Mekah sering kali menghalangi hak-hak para pengikut Syaikh
Muhammad bin Abdil Wahhab. Seperti melarang mereka untuk berdakwah dan melarang mereka
untuk menunaikan ibadah haji. Syarif Gholib telah melarang mereka untuk berhaji selama bertahuntahun, hingga akhirnya ia mengizinkan pada tahun 1198 H. Lalu ia kembali melarang untuk yang
kedua kalinya pada tahun 1203 dan tahun-tahun selanjutnya, hingga akhirnya ia pun menyerang
para pengikut Syaikh Muhammad. Syarif Gholib dan penguasa lainnyalah yang pertama kali
memulai peperangan untuk menyerang para pengikut dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil
Wahhab.
(Lihat penjelasan kelima perkara di atas dalam kitab "Islaamiyah Laa Wahhaabiyah", karya Prof.
DR Nashir bin Abdil Kariim al-'Aql hal 241-242, terbitan Daar Kunuuz Isybiliyaa, cetakan kedua
1425
H/2004
M)
Maka jika ternyata justru musuh-musuh dakwah Wahabi yang memulai peperangan dan
permusuhan maka sangatlah wajar jika kemudian para pengikut dakwah Syaikh Muhammad bin
Abdil Wahab kemudian memilih metode tegas dan juga menyerang tatkala kondisi mengharuskan
demikian, memandang kekuatan musuh dan juga bercokolnya hawa nafsu dalam hati-hati mereka
sehingga
tidak
mau
menerima
kebenaran.

Dongeng

Idahram

Buku Idahram yang berjudul "Sejarah Berdarah Sekte Salafy Wahabi, Mereka Telah Membunuh
Semuanya, Termasuk Para Ulama", ternyata berisi terlalu banyak kedustaan dan manipulasi
sebagaimana yang akan kita simak bersama- koleksi kedustaan-kedustaan tersebut. Idahram
mengambil
sumber
sejarahnya
dari
beberapa
sumber:
Pertama : Dari buku-buku karya orang kafir, seperti buku God's Terrorits, karya sejarawan Inggris
kelahiran india, yang disinyalir beragama budha, karena telah menulis sebuah buku yang membela
agama
budha,
sebagaimana
akan
datang
penjelasannya.
Diantaranya juga buku As-Sijil At-Taarikhi li al-Khaliij wa 'Umman wa Awshoth al-jazirah
al-'Arabiyah. Buku ini adalah buku terjemahan dari sebuah buku yang berjudul Gazetteer of the
Persian Gulf, Oman, and Central Arabia karya Seorang sejarawan Inggris yang bernama J.G
Lorimer,
yang
bekerja
di
pemerintahan
Inggris
di
India.
Dan disebutkan para peneliti buku ini, bahwasanya sang penulis dalam ungkapan-ungkapannya
sangat nampak mendukung adanya penjajahan yang dilakukan oleh negaranya Inggris, hal ini juga
sebagaimana diingatkan oleh para penerjemah buku ini di bagian muqoddimah buku ini. (silahkan
lihat penjelasan hal ini di http://www.almajara.com/forums/showthread.php?6770-quot-).
Karenanya buku ini memang awalnya dicetak oleh pemerintah Inggris untuk kepentingan
pemerintahan
(lihat
http://ar.wikipedia.org/wiki/)_
Kedua : Dari buku-buku karya orang syi'ah. Diantaranya buku Kasyf al-Irtiyaab karya Muhsin AlAmiin, dan akan datang penjelasannya tentang hakekat orang ini. Idahram juga menukil dari

website

milik

orang-orang

syi'ah.

Ketiga : Dari buku-buku musuh dakwah salafy wahabi dari kalangan sufiah dan lain-lain.
Diantaranya kitab Ad-Duror As-Saniyyah fi ar-rod 'ala Al-Wahhabiyah dan kitab Khulaasot alKalaam fi 'Umaroo al-Balad al-Haroom, yang kedua kitab ini adalah karya Ahmad Zaini Dahlan
yang sangat membenci dakwah salafy wahabi. Akan datang penjelasan lebih dalam tentang hakekat
orang ini. Juga buku Sidq al-Khobar fi Khawarij al-Qorn ats-Tsaani 'Asyar, karya Syarif Abdullah
Keempat : Dari buku-buku kaum wahabi sendiri, seperti buku Ad-Duror As-Saniyyah, kitab
Unwaan al-Majd fi Taariikh Najd, karya Ibnu Bisyr, dan kitab Taariikh Najd karya Ibnu Ghonnaam.
Adapun buku-buku karya orang kafir orang yang membela agama budha atau pembela
penjajahan Inggris maka saya tidak tertarik untuk membacanya apalagi membahasnya. Demikian
juga buku-buku kaum syi'ah yang terkenal dengan gemar berdusta. Adapun buku-buku para musuh
dan pembenci dakwah salafy wahabi maka jika saya mendapati kitab aslinya maka saya akan
berusaha mengecek keotentikannya, akan tetapi jika saya tidak mendapatkannya maka tidak akan
saya
bahas.
Adapun buku-buku kaum wahabi yang dijadikan sumber berita idahram maka saya berusaha untuk
meneliti dan mencocokkan serta mengecek kebenaran nukilan-nukilan idahram dari kitab-kitab
tersebut.
Berikut ini beberapa penggal sejarah yang diuraikan oleh idahram yang menggambarkan
kebengisan dan keganasan kaum salafy wahabi, beserta dengan pembongkaran kedustaan-kedustaan
idahram
dalam
versi
sejarah
dongengnya
!!!

KISAH

PENYERANGAN

KOTA

KARBALA

Idahram berkata,
Sumber lain menyebutkan, salafy wahabi telah melakukan keganasan dan kekejaman di kota
Karbala dengan pembunuhan yang tidak mengenal batas perikemanusiaan dan tidak bisa
dibayangkan. Mereka telah membunuh puluhan ribu orang islam, selama kurun waktu 12 tahun
ketika mereka menyerang dan menduduki kota Karbala serta kawasan sekitarnya, termasuk Najaf.
Al-Amir Sa'ud menyudahi perbuatan keji dan kekejamannya di sana dengan merampas khazanah
harim al-Imam al-Husain ibnu Ali k.w. yang di sana terdapat banyak barang berharga, harta,
perhiasan dan hadiah yang dikaruniakan oleh raja, pemerintah, dan lain-lain kepada makam suci ini.
Selepas melakukan keganasan itu, dia kemudian menaklukkan Karbala untuk dirinya sehingga para
penyair menyusun kasidah-kasidah penuh dengan rintihan, keluhan, dukacita mereka. Para penulis
Syi'ah bersepakat bahwa serangan dan sebuan itu terjadi pada hari 'Id al-Ghadir ketika umat Islam
Iraq sedang memperingati wasiat Nabi saw. kepada Sayidina Ali k.w. yang berisi penunjukannya
sebagai khalifah setelah beliau wafat (www.annabaa.org/nbanews/63/95.htm...)
demikian perkataan idahram dalam bukunya hal 71-72
Sangat jelas dari pemaparan ini beberapa perkara :
PERTAMA : idahram mengambil berita ini dari orang-orang syi'ah, karenanya idahram
menyebutkan situs sekte syi'ah www.annabaa.org
Tentunya para pembaca yang budiman mengetahui bagaimana dahsyatnya kedustaan kaum sekte
syi'ah. Sampai-sampai Imam As-Syafii berkata :



"Aku tidak melihat seorangpun yang paling bersaksi dusta lebih dari para Rofidhoh" (Diriwayatkan
oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubro no 21433)
Adapun lafal yang diriwayatkan oleh Abu Nu'aim al-Asbahani adalah :



"Aku tidak pernah melihat seorangpun dari para pengikut hawa nafsu yang lebih bersaksi dusta dari
Rofidhoh' (Hilyatul Awliyaa' 9/114)
KEDUA : idahram menyebutkan bahwa kaum yang diserang oleh Sa'ud bin Abdil Aziz adalah
kaum Syi'ah, dan penyerangan tersebut terjadi pada hari perayaan 'id Al-Ghodiir, yaitu hari
peringatan tentang wasiat Nabi saw. kepada Sayidina Ali k.w. yang berisi penunjukannya sebagai
khalifah setelah beliau wafat. Tentunya para pembaca dari kalangan ahlus sunnah bisa mengetahui
keburukan-keburukan yang timbul dibalik perayaan ini, seperti pengkafiran Abu Bakar, Umar, dan
Utsman yang telah melanggar wasiat Nabi, melangkahi Ali dan merebut kekuasan khalifah dari Ali
bin Abi Tholib !!!. Hari perayaan ini adalah hari pendirian agama aqidah Imaamiyah bahwasanya
yang berhak menjadi Imam adalah Ali bin Abi Tholib dan keturunannya, dan barang siapa yang
tidak meyakinin aqidah imamiyah ini maka telah kafir menurut kacamata Syi'ah Rofidhoh.
Sebagaimana telah lalu, diantara ibadah kaum syi'ah adalah melaknat dan mengkafirkan para
sahabat, terutama Abu Bakar dan Umar yang menurut mereka(Syi'ah Rofidhoh) telah merebut
kekuasaan dari Ali bin Abi Thoolib.
KETIGA : Idahram menyebutkan bahwa penyerangan tersebut karena merebut barang berharga
yang terdapat di "Makam Suci" Al-Husain bin Ali bin Abi Tholib.
Selain mengambil berita dari kaum pembohong Rofidhoh Syi'ah idahram juga mengambil sumber
berita dari seorang sejarawan inggris kelahiran india yang bernama Charles Allen dalam bukunya
yang berjudul God's Terrorist.
Charles Allen ini sepertinya beragama Budha atau minimal pendukung agama Budha (silahkan lihat
biografinya di http://www.martinrandall.com/expert-lecturers/?filter=a-b), karenanya ia juga
memiliki sebuah karya tulis yang berjudul "The Buddha and the Sahibs: the Men who Discovered
Indias Lost Religion".
Dengan bersumber buku ini idahram berkata,
Mereka mengepung kota Karbala, membunuhi penduduknya, menjarah makam Imam Husain cucu
Nabi dan putra Ali bin Abi Talib, dan membantai siapa saja yang berusaha merintangi jalan mereka.
Demikian perkataan idahram dalam bukunya hal 71.
Pernyataan idahram ini jelas mengisyaratkan bahwa penyerangan Karbala disebabkan karena
makam suci Husain. Ada apa gerangan di makam suci tersebut??. Ternyata makam tersebut adalah
makam yang ditinggikan, dan diatasnya dibangun kubah yang tinggi. Dan sebagaiamana telah lalu
(pernyataan-pernyataan Khomeini) bahwasanya agama kaum syi'ah adalah agama kesyirikian
dengan meminta dan berdoa kepada para wali dalam kuburan. Karenanya adanya kubbah di atas
kuburan Husain merupakan kemungkaran yang harus dihilangkan selama tindakan penghilangan
tersebut tidak menimbulkan kemudhorotan yang lebih besar.

Keberadaan kubah besar di atas maka Al-Husain radhiallahu 'anhu telah dijelaskan oleh Ibnu Bisyr
dalam kitabnya 'Unwaan al-Majd, sebagaimana juga telah dinukil oleh idahram dalam bukunya hal
72-74.
Ibnu Bisyr berkata :


"Merekapun meruntuhkan kubah yang diletakkan di atas kuburan Al-Husain karena persangakaan
orang-orang yang berkeyakinan pada kubah tersebut-. Dan mereka mengambil apa yang terdapat di
kubah dan sekitarnya, mereka mengambil pusara yang diletakkan di atas kuburan, yang pusara
tersebut dihiasi dengan zamrud, batu mulia dan berbagai permata indah" ('Unwaan al-Majd 1/257)
Dari kesimpulan-kesimpulan di atas bisa kita fahami bahwasanya Sa'ud bin Abdil Aziz
menyerang kota Karbala dalam rangka untuk menghacurkan kubah yang dibangun di atas kuburan
Al-Husain radhiallahu 'anhu, dimana kubah tersebut sangat diagungkan seperti halnya ka'bah-.
Karena banyak hadiah dan permata yang diletakkan di kubah tersebut. Terlebih lagi kubah tersebut
menjadi situsnya kaum syi'ah rofidhoh yang gemar melakukan kesyirikan menyembah para wali
yang berada di kuburan. Ternyata penyerangan tersebut juga pas terjadi tatkala hari peringatan
wasiat Nabi kepada Ali untuk menjadi khalifah, yang tentunya peringatan tersebut berisi laknat dan
pengkafiran kepada Abu Bakar dan Umar secara khusus dan kepada para sahabat secara umum.
Maka jika Sa'ud bin Abdil Aziz kemudian berijtihad untuk menghancurkan kubah tersebut maka ini
merupakan ijtihad yang baik. Karena meratakan kuburan merupakan sunnah dan perintah Nabi,
terlebih lagi jika menjadi icon kesyirikan, wallahu A'lam. Karenanya Sa'ud memerangi penduduk
karbala, kaum syi'ah yang hendak menghalangi tekadnya, sehingga terbunuh sekitar 2000 orang
diantara mereka .

Menghancurkan Bangunan Tinggi Yang Dibangun Di atas Kuburan Merupakan Perintah


Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
Ternyata Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memerintahkan Ali Bin Abi Thalib sahabat
yang paling diagungkan sekte syi'ah- untuk menghancurkan kuburan yang tinggi


: :


Dari Abul Hayyaaj al-Asady rahimahullah berkata, "Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu berkata
kepadaku, "Tidakkah aku mengutusmu (menugaskanmu) atas apa yang Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam- menugaskanku?, Tidaklah engkau tinggalkan patung kecuali telah engkau
hancurkan, dan tidaklah engkau tinggalkan kuburan yang tinggi kecuali telah engkau ratakan" (HR
Muslim no 969)
Imam Muslim juga meriwayatkan dalam shahihnya dari Tsumaamah bin Syufay berkata:

:
Kami bersama Fadholah bin 'Ubaid radhiallahu 'anhu di negeri Romawi, yaitu di Rudis, maka
salah seorang sahabat kami meninggal. Fadholah bin 'Ubaid pun memerintahkan agar kuburannya
diratakan, kemudian ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
memerintahkan untuk meratakan kuburan" (HR Muslim no 968)

Al-Imam As-Syaukani rahimahullah berkata :

((Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ((Dan tidaklah kau biarkan kuburan yang tinggi kecuali
kau ratakan)) menunjukkan bahwa sunnahnya adalah tidak meninggikan sekali kuburan, tanpa ada
perbedaan antara mayat orang yang mulia atau yang tidak mulia. Dzohirnya bahwasanya
meninggikan kuburan lebih dari pada ukuran yang diizinkan- hukumnya adalah haram.
Sebagaimana telah ditegaskan oleh para sahabat Imam Ahmad, dan sekelompok dari para sahabat
Imam As-Syafii, dan juka Imam Malik

Dan diantara bentuk meninggikan kuburan yang pertama masuk dalam larangan hadits adalah
kubah-kubah dan situs-situs kuburan yang dibangun di atas kuburan, dan ini juga termasuk bentuk
menjadikan kuburan sebagai masjid yang mana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah melaknat
pelakunya sebagaimana akan datang penjelasannya.
Sungguh betapa banyak mafsadah/kerusakan -yang membuat umat Islam menangis karenanya- yang
ditimbulkan akibat membangun dan menghiasi kuburan. Diantara kerusakan tersebut adalah
keyakinan orang-orang bodoh terhadap kuburan sebagaimana keyakinan orang-orang kafir terhadap
patung-patung mereka.

Dan perkaranya parah, mereka menyangka bahwa kuburan-kuburan tersebut mampu untuk
mendatangkan manfaat dan menolak kemudhorotan, maka merekapun menjadikan kuburan-kuburan
tersebut tujuan untuk tempat meminta dipenuhinya kebutuhan dan sandaran untuk meraih
keberhasilan. Mereka meminta kepadanya apa-apa yang (seharusnya) diminta oleh para hamba
kepada Rob mereka, mereka bersafar kepada kuburan-kuburan tersebut, mereka mengusapngusapnya dan beristighotsah kepadanya.
Secara umum mereka tidak meninggalkan sesuatupun yang dilakukan oleh kaum jahiliyah terhadap

patung-patung mereka kecuali mereka juga melakukannya. Innaa lillahi wa innaa ilaihi rooji'uun.
Meskipun adanya kemungkaran yang sangat buruk ini dan kekufuran yang sangat mengerikan akan
tetapi engkau tidak mendapati orang yang marah karena Allah, dan marah karena membela agama
yang lurus, engkau tidak mendapati baik orang alim, maupun yang belajar, gubernur, menteri,
maupun raja !!! . . .

Wahai para ulama agama, wahai para raja kaum muslimin, dosa apakah dalam agama Islam yang
lebih parah daripada kekufuran??, dan bencana apakah yang menimpa agama ini yang lebih
berbahaya daripada bencana beribadah kepada selain Allah??!!, musibah apakah yang menimpa
kaum muslimin yang sebanding dengan musibah ini??! Kemungkaran manakah yang wajib
diingkari jika mengingkari kesyirikan ini bukan kewajiban??!!
Sungguh engkau telah memperdengarkan kalau seandainya engkau menyeru orang yang hidup
Akan tetapi orang yang kau seru tidak memiliki kehidupan
Kalau seandarinya api yang kau tiup tentu akan memberikan penerangan
Akan tetapi engkau meniup di debu)) (Nailul Awthoor 5/164-165)
Beliau juga berkata :
Sungguh benar perkataan Al-Imam As-Syaukany rahimahullah yang mendapati di masanya orangorang yang mengagungkan kubah-kubah yang dibangun di atas kuburan.
Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah (salah seorang ulama besar dari madzhab As-Syafiiah yang
dikenal juga sebagai muhaqqiq madzhab setelah zaman Ar-Rofii dan An-Nawawi) telah
menjelaskan bahwa pendapat yang menjadi patokan dalam madzhab As-Sayfii adalah dilarangnya
membuat bangunan di atas kuburan para ulama dan sholihin.
Dalam Al-fataawaa Al-Fiqhiyah Al-Kubroo Ibnu Hajar Al-Haitami ditanya :









"Dan apa pendapat anda semoga Allah memperpanjang umar anda dan memberikan kepada kami
bagian dari keberkahanmu- tentang perkataan dua syaikh (*Ar-Rofi'i dan An-Nawawi) dalam
(*bab) janaa'iz : "Dibencinya membangun di atas kuburan", akan tetapi mereka berdua berkata
dalam (*bab) wasiat : "Dibolehkannya berwasiat untuk 'imaaroh kuburan para ulama dan solihin
karena untuk menghidupkan ziaroh dan tabaaruk dengan kuburan tersebut". Maka apakah ini
merupakan bentuk kontradiksi?, padahal anda mengetahui bahwasanya wasiat tidak berlaku pada
perkara yang dibenci. Jika anda mengatakan perkataan mereka berdua kontradiktif maka manakah
yang roojih (*yang lebih kuat)?, dan jika anda mengatakan : "Tidak ada kontradikisi (*dalam
perkataan mereka berdua)", maka bagaimana mengkompromikan antara dua perkataan tersebut?

(Al-Fataawaa

Al-Fiqhiyah

Al-Kubro

2/17)

Maka Ibnu Hajr Al-Haitami Asy-Syafii rahimahullah menjawab :








"Pendapat yang umum dinukil yang menjadi patokan -sebagaimana yang ditegaskan (*dipastikan)
oleh An-Nawawi dalam (*Al-Majmuu') syarh Al-Muhadzdzab- adalah diharamkannya membangun
di kuburan yang musabbalah (*yaitu pekuburan umum yang lokasinya adalah milik kaum muslimin
secara umum), maka jika dibangun di atas pekuburan tersebut maka dihancurkan, dan tidak ada
perbedaan dalam hal ini antara kuburan sholihin dan para ulama dengan kuburan selain mereka.
Dan pendapat yang terdapat di al-khoodim (*maksud Ibnu Hajar adalah sebuah kitab karya AzZarkasyi, Khodim Ar-Rofi'i wa Ar-Roudhoh, wallahu a'lam) yang menyelisihi hal ini maka
pendapat tersebut adalah lemah dan tidak dipandang. Betapa sering para ulama mengingkari
para pembangun kubah (*di kuburan) Imam Asy-Syafii radhiallahu 'anhu dan kubah-kubah
yang lain. Dan cukuplah penegasan para ulama (*tentang dibencinya membangun di atas kuburan)
dalam buku-buku mereka sebagai bentuk pengingkaran. Dan yang dimaksud dengan musabbalah
sebagaimana yang dikatakan Al-Isnawiy dan yang ulama yang lain- yaitu lokasi yang biasanya
penduduk negeri menguburkan mayat disitu. Adapun pekuburan wakaf dan pekuburan pribadi tanpa
izin pemiliknya maka diharamkan membangun di atas dua pekuburan tersebut secara mutlaq. Jika
telah jelas hal ini maka pekuburan yang disebutkan oleh penanya maka diharamkan membangun di
situ dan harus dihancurkan apa yang telah dibangun, meskipun di atas (*kuburan) orang sholeh atau
ulama. Jadikanlah pendapat ini sebagai patokan dan jangan terpedaya dengan pendapat yang
menyelisihinya.
(al-Fataawaa
al-Fiqhiyah
al-Kubroo
2/17)
Ibnu Hajar Al-Haitami As-Syafii juga berkata :



"Dan wajib atas para penguasa untuk menghancurkan bangunan-bangunan yang terdapat di
pekuburan umum. Sekelompok ulama besar madzhab syafii telah berfatwa untuk
menghancurkan kubah (*di kuburan) Imam As-Syafi'i radhiallahu 'anhu, meskipun telah
dikeluarkan biaya ribuan dinar (*untuk membangun kubah tersebut) karena kubah tersebut
terdapat di pekuburan umum. Dan perkara ini maksudku yaitu membangun di pekuburan umummerupakan perkara yang telah merajalela dan tidak menghindar darinya baik orang besar maupun
orang
kecil"
(al-Fataawa
al-Fiqhiyah
al-Kubroo
2/25)
(Pembahasan yang lebih dalam tentang permasalahan larangan beribadah di kuburan telah saya
kupas dalam buku saya "Ketika Sang Habib Dikritik" diterbitkan oleh penerbit Nashirus Sunnah)
Intinya bahwa meruntuhkan bangunan yang ditinggikan di atas kuburan merupakan perintah
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan yang pertama kali ditugaskan untuk melakukannya adalah Ali
bin
Abi
Tholib
radhiallahu
'anhu.
Perintah ini dilanjutkan oleh para ulama sebagaimana yang tercatat dalam sejarah. Diantara contoh
praktek
yang
dilakukan
oleh
para
ulama
adalah,
Pertama : Al-Haarits bin Miskin, Abu 'Amr Muhammad bin Yusuf salah seorang ulama besar

madzhab
Ibnu

Maliki
Farhuun

Al-Maliki

(wafat
berkata

250

tentang

Al-Haarits

H)
bin

Miskiin

"Imam Ahmad bin Hanbal memujinya dengan baik, Ibnu Ma'iin berkata, "Laa Ba'sa bihi", Ibnu
Waddhooh berkata, "Dia adalah tsiqoh-nya para tsiqoot (para perawi yang terpercaya)"
Ia adalah seorang yang faqih dan wara', zuhud dan selalu jujur dalam berkata. Ia adalah seorang
hakim yang adil dalam hukum-hukumnya di mesir, sejarahnya baik. Ia telah meruntuhkan sebuah
masjid yang dibangun oleh seorang dari Khurosaan, dibangun di antara kuburan. Di sisi AlMaqthob di padang pasir. Orang-orang dulu berkumpul di masjid tersebut untuk membaca (alQur'an), menceritakan kisah-kisah dan nasehat-nasehat" (Ad-Diibaaj Al-Mudzhab fi Ma'rifati
A'yaan Ulamaa al-Madzhab, karya ibnu Farhuun Al-Maaliki, tahqiq : DR Muhammad Al-Ahmad
Abu
An-Nuur,
Daar
at-Turoots,
al-Qoohiroh,
Mesir,
1/339)
Kedua : Al-Khalifah Al-'Abbaasi Al-Mutawakkil, pada tahun 236 H meruntuhkan kuburan AlHusain
bin
Ali.
Al-Imam Ibnu Katsiir As-Syafi'i rahimahullah berkata dalam kitab sejarah beliau :
"Kemudian masuk tahun 236 H, pada tahun tersebut Al-Mutawakkil memerintahkan untuk
meruntuhkan kuburan Al-Husain bin Ali bin Abi Tholib, serta rumah-rmah dan tempat-tempat
yang ada di sekitar kuburannya. Lalu diumumkan kepada masyarakat : "Barang siapa yang masih
ada di sini setelah tiga hari maka akan dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah". Maka tidak
tersisa seorangpun, lalu lokasi tersebut dijadikan sawah perkebunan dan digunakan untuk
dimanfaatkan" (Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 14/346, tahqiq Abdullah bin Abdilmuhsin At-Turki,
Daar
Hajr,
cetakan
pertama)
Lihatlah, sebelum Sa'ud bin Abdil Aziz ternyata pembongkaran kuburan Al-Husain bin Ali
radhiallahu 'anhumaa telah dilakukan atas perintah khalifah Al-Mutawakkil, bahkan dengan tegas
barang
siapa
yang
masih
ada
di
lokasi
tersebut
akan
dipenjara
!!!
Catatan

Syi'ah

akhirnya

membalas

dendam

dengan

membunuh

Abdul

Aziz.

Utsman bin Abdillah bin Bisyr menyebutkan dalam kitabnya 'Unwaan Al-Majd tentang kisah
terbunuhnya Abdul Aziz bin Muhammad bin Sa'ud oleh seorang syi'ah pada tahun 1218 H. Beliau
terbunuh dalam keadaan sujud pada waktu sholat ashar di masjid Al-Thoriif di kota Ad-Dir'iyah.
Pembunuh beliau adalah seorang syi'ah dari Karbala yang mengaku bernama Utsman dan berhijrah
menuju kota Ad-Dir'iyah, serta menampakkan bahwasanya ia adalah soerang yang taat. Sehingga
orang inipun dimuliakan oleh Abdul Aziz. Abdul Aziz memberikan kepadanya makanan dan
pakaian, bahkan Abdul Aziz meminta sebagian alhi ilmu untuk mengajari orang ini.
Tatkala suatu hari ketika sholat ashar berjamaa'ah, ketika jama'ah masjid sedang sujud maka orang
inipun dari saf ke tiga menyerang Abdul Aziz lalu menikamkan belatinya (yang ia sembunyikan
tatkala sholat) ke lambung Abdul Aziz bin Muhammad bin S'aud, yang menyebabkan beliau

meninggal

dunia.

(Lihat

Unwaan

Al-Majd

1/264-266)

Maka kita katakan kepada idahram:

Lihatlah bagaimana busuknya kaum rofidhoh yang membunuh dengan cara berkhianat,
Abdul Aziz telah memuliakan sang pembunuh akan tetapi dibalas dengan cara yang curang,
keji, dan pengecut. Hal ini sebagaimana nenek moyang mereka Abu Lu'lu' Al-Majusi yang
telah dimuliakan oleh Umar bin Al-Khotthoob malah justru membunuh Umar dengan cara
yang pengecut, yaitu tatkala Umar sedang sholat.

Sebagaimana yang dikatakan oleh idahram : Apakah Abdul Aziz adalah seorang kafir?, aneh
orang kafir kok sholat berjama'ah??, malah dibunuh tatkala sedang sholat??. Namun hal ini
tidak mengherankan bagi idahram, karena menurut kacamata idahram kaum salafy wahabi
adalah kaum kafir murtad!!! Innaa lillahi wa inaa ilaihi raji'uun.

bersambung...

Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja


www.firanda.com