Anda di halaman 1dari 32

PA C U ( P O S T A N A S TES I

C A R E U N IT )

Oleh
Wahyu Agung

P endahuluan
Ruang pemulihan dari anestesi telah ada

setidaknya 40 tahun pada pusat-pusat medis.


Sebelumnya banyak kematian post operasi segera
setelah anestesi dan pembedahan.
Perawatan singkat di Amerika Serikat pada waktu
perang dunia II punya andil dalam pemusatan
perawatan ini dalam bentuk ruang pemulihan di
mana satu atau lebih perawat dapat memantau
beberapa pasien pada satu saat.
Pada tahun 1947 sebuah penelitian yang dirilis
yang menunjukkan bahwa selama periode tahun
11, hampir setengah dari kematian yang terjadi
selama 24 jam pertama setelah operasi yang
dapat dicegah.

Sebagaimana prosedur pembedahan yang

berkembang begitu komplek, begitu juga


masalah penanganan pasien, ruang
pemulihan sering digunakan sampai
beberapa jam pertama setelah pembedahan
dan beberapa pasien yang sakitnya kritis
diinapkan di ruang pemulihan.
Keberhasilan perawatan dari ruang
pemulihan awal ini merupakan faktor utama
dalam evolusi unit perwatan intensif bedah
modern. Ironisnya, ruang pemulihan (RR)
hanya baru-baru ini diterima sebagai
perawatan intensif di kebanyakan rumah
sakit, di mana kini dikenal sebagai PACU.

Post AnestesiCare U nit

Post Anestesi Care Unit,sering


disingkatPacudan kadang-kadang disebut
sebagai Post Anestesi Recovery (pemulihan
pasca-anestesi)atauPAR, merupakan
bagian penting darirumah sakit,pusat
rawat jalan, dan fasilitas medis lainnya.Ini
adalah sebuah ruang yang biasanya
menjadi satu dengan ruang operasi,
yang dirancang untuk menyediakan
perawatan untuk pasien pulih dari
anestesi, apakah ituanestesi umum,
anestesi regional, atauanestesi lokal.

R uangan dan Fasilitas

A. Desain Ruangan

1. Harus ditempatkan dekat dengan kamar


operasi.
2. Memiliki akses cepat ke x-ray, bank
darah, dan laboratorium klinis.
3. Idealnya Pacu memiliki 1,5 tempat tidur
per kamar operasi yang digunakan.
artinya 2 ruang operasi harus disediakan
3 tempat tidur PACU
4. Jarak antara tempat tidur pemulihan
sekurang-kurangnya 1,50 m.

lanjutan

5. luas ruang PACU yang


direkomendasikan adalah minimum 1215 m2 per tempat tidur untuk
memudahkan akses bagi perawat,
terapist dan kegawatdaruratan
6. Lingkungan terbuka yang optimal untuk
observasi pasien, dengan setidaknya
satu kamar isolasi.
7. Station Nurse berada ditengah
ruangan.

lanjutan
8. Setidaknya ada satu ruang pasien yang tertutup
untuk pasien yang membutuhkan isolasi untuk
mengontrol infeksi.
9. Lama tinggal di ruang PACU tergantung pada jenis
operasi dan kapasitas bangsal yang lain dari suatu
rumah sakit. Biasanya kurang dari 6-12 jam dan
tidak boleh lebih dari 24 jam, kecuali pada kondisi
khusus
10. Memiliki ventilasi dan pencahayaan yang baik,
karena limbah gas anestesi sangat
berbahaya.Institut Nasional Keselamatan Kerja
(NIOSH) telah menetapkan batas pemaparan
merekomendasikan 25 ppm untuk nitrit dan 2 ppm
untuk anestesi volatile.

FLO W P EN D ER ITA D A LA M K A ITA N


D G N K A M A R B ED A H SEN TR A L
Kasus
EMERGENCY

Kasus BEDAH

Departemen
EMERGENCY

Kasus MORBIDITAS

Departemen/
Ruangan BEDAH

Ruangan
Perawatan

KAMAR BEDAH SENTR


AL
O.K
O.K
O.K
O.K
Unit Pasca Anestesi dan RECOVERY
RUANG
MAYAT

Unit Perawatan Intensif

RUANG

PERAWATAN
KRS

Contoh Ruang Recovery

Ruang Recovery

B. Peralatan Medis

1. Tempat tidur berpengaman dua sisi dan


posisi yang dapat diatur.
2. Bedside monitor minimal 4 parameter
monitoring invasif maupun non invasif.
3. Suction, dan sumber oksigen dan tiang
infus di setiap sisi tempat tidur.
4. Trolly Emergency berisi obat-obatan
lengkap dan Defebrilator.
5. Alat- alat kegawat daruratan : kanul
oksigen, masker berbagai ukuran, oral dan
nasal airway, laringoskop, ETT, Jacksen
Rees.

lanjutan

6. Alat penghangat udara, seperti lampu


panas, atau selimut hangat atau dingin.
7. Syring pump dan Infus pump.
8. Alat untuk terapi respirasi seperti
terapi bronkodilator dengan aerosol,
tekanan positif kontinyu dan ventilator.
9. Instrumen set untuk tindakan seperti :
dressing care, Vena seksi set, spinal
dan epidural set dan CVP set.

European Society of A nestesiaology 2009


m em bagiperalatan
a.Monitor yang harus ada disamping

tempat tidur (bedside monitoring) :


Pulse oxymeter
EKG
Monitor NIBP
b.Monitor yang harus segera tersedia jika
diperlukan :
Perekam EKG
Kapnograf
Pengukur suhu

lanjutan
c.Monitor tambahan khusus (misalnya : tekanan

intrkranial atau vaskular, curah jantung dan variabelvariabel biokimia) :


Dibutuhkan dan dilakukan pada pasien tertentu
atau untuk prosedur tertentu
d. Monitor yang bisa dipindah-pindah (mobile
monitoring) :
Hal ini dilakukan jika PACU tidak terletak dekat
dengan ruang operasi, atau jika kondisi pasien tidak
stabil, maka mobile monitoring yang adekuat
diperlukan saat transfer pasien
Hal diatas merupakan tanggung jawab ahli
anestesiaa untuk memastikan pasien aman saat
transfer

lanjutan
e.Monitor sentral (central monitor station) :
Untuk mengontrol dan merekam semua peringatan

dan alarm dari bedside monitor dan menyediakan


dokumentasi dalam bentuk hardkopi
f.Fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan :
Defbrilator dan troley resusitasi
Peralatan untuk tatakelola jalan nafas sulit
Akses segera untuk analisis gas darah dan uji
laboratorium
Akses untuk radiograf mobile dan USG serta
endoskopi
Selimut penghangat
Sistem pelembab udara yang tepat

Staf fPA CU
1. Dokter
PACU sebaiknya dipimpin seorang

dokter ahli anestesi, karena manajemen


pasien PACU tidak berbeda dengan di
kamar operasi.
Ahli anestesi mengelola analgesia,
jalan nafas, jantung, paru, dan masalahmasalah metabolisme, sementara ahli
bedah mengelola masalah-masalah yang
berkaitan langsung dengan pembedahan
itu sendiri.

2. Perawat
Seorang perawat untuk satu pasien selama 15 menit

pertama pemulihan.
Kemudian satu perawat untuk setiap dua pasien.
Perawat terlatih dan terampil dalam perawatan pasien
Pasca-Operasi. (memanajemen jalan nafas dan ACLS)
Mampu melakukan kegiatan pemantauan tanda-tanda
vital, perawatan dan pengelolaan nyeri, mual dan muntah
pasca-operasi, pemantauan penyulit bedah lainnya seperti:
perdarahan,discharge, pembengkakan, hematoma,
kemerahan, dll.
Insentif perawat sebaiknya ditentukan untuk menjamin
staffing yang optimal sepanjang waktu.
3. Pekarya Kesehatan.
Diperlukan unyuk mendukung pelayanan Pacu seperti :
pengambilan darah transfusi, pengantaran speciment
laborat dll.

Fungsi PACU

Beberapa fungsi PACU menurut European

Society of Anestesiaology 2009 antara lain :1


a. Terapi segera pasca operasi di ruang PACU
b. Optimalisasi kondisi preoperatif pasien sakit
berat dalam situasi khusus
c. Optimalisasi dan titrasi obat pada terapi nyeri
akut
d. Menyokong kondisi pasien (buffer) sebelum
dirawat di Intensive Care Unit (ICU), high
Dependency Unit (HDU) atau sebelum dikirim ke
bangsal perawatan.
e. Evaluasi dan penentuan terapi lebih lanjut di
ICU, HDU atau bangsal

lanjutan
f. Meningkatkan atau mengoptimalkan kondisi

pasien untuk terapi lebih lanjut di ICU, HDU atau


bangsal
g. Bentuk tanggung jawab profesional
Bagi seorang ahli anestesiaa :

o Memonitor dan mempertahankan fungsi vital


o Merupakan bentuk tanggung jawab profesi dan

organisasi
o Harus ada dan cepat datang saat dibutuhkan

Bagi seorang ahli bedah :

o Harus diingatkan / diberitahu kapanpun jika ada

komplikasi yang membutuhkan intervensi bedah


o Harus ada untuk konsultasi darurat jika dibutuhkan

TUJUAN PELAYAN AN PACU

a. Melakukan tindakan untuk mencegah

terjadinya kematian atau cacat.


b. Mencegah terjadinya penyulit
c.Menerima rujukan dari level yang lebih
rendah & melakukan rujukan ke level yang
lebih tinggi
d. Mengoptimalkan kemampuan fungsi
organ tubuh pasien
e. Mengurangi angka kematian pasien kritis
dan mempercepat proses penyembuhan
pasien

TUJUAN PERAWATAN PASIEN DI PACU adalah:


1. Mempertahankan jalan nafas
Dengan mengatur posisi, memasang suction dan pemasangan

mayo/gudel.
2.Mempertahankan ventilasi/oksigenasi
Ventilasi dan oksigenasi dapat dipertahankan dengan pemberian
bantuan nafas melalui ventilaot mekanik atau nasal kanul
3. Mempertahakan sirkulasi darah
Mempertahankan sirukais darah dapat dilakukan dengan
pemberian caiaran plasma ekspander
4. Observasi keadaan umum, observasi vomitus dan drainase
Keadaan umum dari pasien harus diobservasi untuk mengetahui
keadaan pasien, seperti kesadaran dan sebagainya. Vomitus
atau muntahan mungkin saja terjadi akibat penagaruh anastesi
sehingga perlu dipantau kondisi vomitusnya. Selain itu drainase
sangat penting untuk dilakukan obeservasi terkait dengan
kondisi perdarahan yang dialami pasien.

5. Balance cairan
Harus diperhatikan untuk mengetahui input dan output

caiaran klien. Cairan harus balance untuk mencegah


komplikasi lanjutan, seperti dehidrasi akibat perdarahan
atau justru kelebihan cairan yang justru menjadi beban
bagi jantung dan juga mungkin terkait dengan fungsi
eleminasi pasien.
6. Mempertahanakn kenyamanan dan mencegah
resiko injury
Pasien post anastesi biasanya akan mengalami
kecemasan, disorientasi dan beresiko besar untuk jatuh.
Tempatkan pasien pada tempat tidur yang nyaman dan
pasang side railnya. Nyeri biasanya sangat dirasakan
pasien, diperlukan intervensi keperawatan yang tepat
juga kolaborasi dengan medi terkait dengan agen
pemblok nyerinya.

Hal-hal yang harus diketahui oleh perawat anastesi di

ruang PACU adalah :


1. Jenis pembedahan
Jenis pembedahan yang berbeda tentunya akan berakibat pada
jenis perawatan post anastesi yang berbeda pula. Hal ini sangat
terkait dengan jenis posisi yang akan diberikan pada pasien.?
2. Jenis anastesi
Perlu diperhatikan tentang jenis anastesi yang diberikan, karena
hal ini penting untuk pemberian posisi kepada pasien post operasi.
Pada pasien dengan anastesi spinal maka posisi kepala harus agak
ditinggikan untuk mencegah depresi otot-otot pernafasan oleh
obat-obatan anastesi, sedangkan untuk pasien dengan anastesi
umum, maka pasien diposisika supine dengan posisi kepala sejajar
dengan tubuh.
3. Kondisi patologis klien
Kondisi patologis klien sebelum operasi harus diperhatikan dengan
baik untuk memberikan informasi awal terkait dengan perawatan
post anastesi. Misalnya : pasien mempunyai riwayat hipertensi,
maka jika pasca operasi tekanan darahnya tinggi, tidak masalah
jika pasien dipindahkan ke ruang perawatan asalkan kondisinya
stabil. Tidak perlu menunggu terlalu lama.

4.Jumlah perdarahan intra operatif


Penting bagi perawata RR untuk mengetahui apa yang terjadi

selama operasi (dengan melihat laporan operasi) terutama


jumlah perdarahan yang terjadi. Karena dengan mengetahui
jumlah perdarahan akan menentukan transfusi yang diberikan.
5. Pemberian tranfusi selama operasi
Apakah selama operasi pasien telah diberikan transfusi atau
belum, jumlahnya berapa dan sebagainya. Hal ini diperlukan
untuk menentukan apakah pasien masih layak untuk diberikan
transfusi ulangan atau tidak.
6. Jumlah dan jenis terapi cairan selama operasi
Jumlah dan jenis cairan operasi harus diperhatikan dan
dihitung dibandingkan dengan keluarannya. Keluaran urine
yang terbatas < 30 ml/jam kemungkinan menunjukkan
gangguan pada fungsi ginjalnya.?
7. Komplikasi selama pembedahan
Komplikasi yang paling sering muncul adalah hipotensi,
hipotermi dan hipertermi malignan. Apakah ada faktor
penyulit dan sebagainya.

form pengkajian post anasteshia


Nama :
Ruangan :
Tanggal :

Nilai Akhir :
Ahli bedah/Anasteshia :
Perawat R.R :
Area pengkajian Score Saat penerimaan Setelah
1 jam 2 jam 3 jam
1. Respirasi : 2
Kemampuan nafas dalam dan batuk : 2
Upaya bernafas terbatas (dsipneu) : 1
Tidak adanya upaya nafas spontan : 0
2. Sirkulasi (tekanan sisteolik) : 2
80 % dari preanastesi : 2
50 % dari pre anastesi : 1
< 50 % dari pre anastesi: 0
3. Tingkat Kesadaran : 2
Orientasibaik dan respon verbal positif : 2
Terbangun ketika dipanggil namanya : 1
Tidak ada respon : 0

4. Warna kulit : 2
Warna dan penampilan kulit normal : 2
Pucat, agak kehitaman, keputihan.Ikterik : 1
Sianosis: 0

5. Aktivitas : 2
Mampumenggerakkan semua ekstrimitas : 2
Mampu menggerakkan hanya 2 ekstrimitas : 1
Tak mampu mengontrol ektrimitas : 0
Total : ..................

Keterangan :
Pasien bisa dipindahkan ke ruang perawatan dari ruang
PACU/RR jika nilai pengkajian post anastesi > 8.

SEKIAN DAN
TERIMAKASIH ATAS
PERHATIANNYA
SEMOGA SUKSES