Anda di halaman 1dari 15

Pengukuran

BAB I

PENGUKUR
AN
I. KOMPETENSI INTI
KI 1

: Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

KI 2

: Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli


(gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsive dan pro-aktif dan
menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam
berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam
menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

KI 3

: Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural


berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan
humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban
terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural
pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk
memecahkan masalah

KI 4

: Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu
menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

II. KOMPETENSI DASAR


1.1. Menyadari kebesaran Tuhan yang menciptakan dan mengatur alam jagad raya melalui
1.

pengamatan fenomena alam fisis dan pengukurannya


Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu; objektif; jujur; teliti;
cermat; tekun; hati-hati; bertanggung jawab; terbuka; kritis; kreatif; inovatif dan peduli
lingkungan) dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam
melakukan percobaan , melaporkan, dan berdiskusi
Indikator:
1. Menunjukkan sikap ilmiah (kritis, obyektif, dan rasa ingin tahu pada saat kegiatan
pembelajaran)
2. Menunjukkan sikap ketelitian saat melaksanakan praktikum dan diskusi
Alat Ukur, Ketelitian, Ketepatan, dan Ketidakpastian | 2

Pengukuran
3. Menunjukkan kejujuran saat melaksanakan praktikum dan diskusi
4. Menunjukkan tanggung jawab saat melaksanakan praktikum dan diskusi
3.1. Memahami hakikat fisika dan prinsip-prinsip pengukuran (ketepatan, ketelitian, dan
aturan angka penting)
Indikator:
1. Mengelompokkan alat ukur
2. Menjelaskan cara menggunakan alat ukur
3. Membaca hasil pengukuran panjang
4. Membaca hasil pengukuran massa
5. Membaca hasil pengukuran waktu
6. Menentukan ketidakpastian pada pengukuran untuk pengukuran tunggal
7. Menentukan ketidakpastian pada pengukuran untuk pengukuran berulang
1.
Menyajikan hasil pengukuran besaran fisis dengan menggunakan peralatan dan
teknik yang tepat untuk penyelidikan ilmiah
Indikator:
1. Melakukan pengukuran beberapa benda menggunakan alat ukur baku (pajang,
massa, dan waktu)
2. Menyajikan data pengukuran
3. Mengolah data pengukuran
4. Melaporkan hasil percobaan
III.MATERI PEMBELAJARAN
A. ALAT UKUR DAN KETELITIANNYA
Pemilihan alat ukur harus sesuai dengan fungsi, keperluan, dan tingkat ketelitiannya.
Misalnya, untuk mengukur sebuah kayu, massa dari daging, dan seseorang mengukur
lamanya waktu berlari. Nah dari beberapa benda tersebut pasti Anda membutuhkan alat untuk
mengukurnya. Bab pengukuran ini lah yang akan membahas permasalahan tersebut lengkap
dengan ketelitian dan ketidakpastiannya.

1.

Pengukuran panjang

Alat Ukur, Ketelitian, Ketepatan, dan Ketidakpastian | 3

Pengukuran
Pernahkah Anda mengamati seorang tukang bangunan yang akan membangun sebuah
rumah seperti pada gambar di atas? Saya yakin kalian pasti pernah. Alat ukur yang paling
sering digunakan adalah alat ukur panjang. Sebelum kita membahas lebih jauh lagi, coba
Anda sebutkan beberapa alat ukur panjang yang digunakan oleh seorang tukang! Contoh alat
ukur panjang yaitu, mistar, jangka sorong, dan mikrometer sekrup.
a. Mistar dan rol meter biasanya digunakan untuk mengukur panjang suatu benda dengan
ketelitian (skala terkecil) 1 mm atau
0,1 cm. Mistar mempunyai ketelitian
pengukuran 0,5 mm, yaitu sebesar
setengah dari skala terkecil yang
dimiliki oleh mistar. Pada saat
melakukan

Gambar 1. Mistar
(Sumber: BSE, 2009)

pengukuran

dengan

mistar,

arah

menggunakan

pandangan hendaknya tepat pada


tempat yang diukur. Artinya, arah pandangan harus tegak lurus dengan skala pada
mistar dan benda yang diukur. Cara menggunakan mistar adalah dengan menempelkan
mistar pada benda yang diukur.
Nilai yang diukur = skala utama ketidakpastian
L x x

(di mana x

1
skala terkecil )
2

Contoh:

L = (6,3

+ 0,05 cm)

Alat Ukur, Ketelitian, Ketepatan, dan Ketidakpastian | 4

Pengukuran
b. Jangka sorong memiliki dua pasang rahang yaitu rahang tetap dan rahang geser.
Bagian-bagian

dari

jangka

sorong dapat dilihat dari Gambar


2.

Jangka

sorong

digunakan

untuk mengukur diameter suatu


benda

baik

diameter

dalam

maupun diameter luar, mengukur


Gambar 2. Jangka sorong
(Sumber: BSE, 2009)

ketebalan

benda,

maupun

kedalaman,

dengan

ketelitian

(skala terkecil) 0,1 mm. Jangka

sorong terdiri dari skala utama dan skala nonius.


Contoh pengukurannya adalah sebagai berikut:

Hasil perhitungan dari gambar di atas adalah


x = skala utama + (skala nonius x ketelitian alat)
x = 2,3 cm + (12 x 0,01 cm) = 2,3 cm + 0,12 cm = 2,42 cm
x

1
x0,01cm 0,005cm
2

Karena

= 0,005 cm (tiga desimal) maka x sebaiknya dinyatakan dengan tiga

desimal, karena memiliki skala nonius maka kita tidak pernah menaksir angka yang
ke-4, akan tetapi cukup diberi angka 0, sehingga x = 2,420 cm, jadi pengukuran
jangka sorong dilaporkan sebagai berikut:
L x x 2,420 0,005 cm

Alat Ukur, Ketelitian, Ketepatan, dan Ketidakpastian | 5

Pengukuran

Soal Kompetensi 1

Berapakah hasil pengukuran beserta ketelitiannya dengan menggunakan jangka


sesuai gambar di atas?

c. Mikrometer sekrup terdiri dari rahang geser, skala utama, selubung, bidal, dan roda
bergigi, dapat juga dilihat pada Gambar 3. Mikrometer sekrup digunakan untuk
mengukur ketebalan suatu
benda

dengan

ketelitian

(skala terkecil) 0,01 mm, jadi


micrometer sekrup memiliki
ketelitian alat lebih tinggi
dibandingkan dengan kedua
alat di atas tersebut. Cara
menggunakan alat ini dengan
Gambar 3. Mikrometer sekrup
(Sumber: BSE, 2009)

memeriksa kedudukan nol,


membuka rahang ukur, tidak

menekan benda yang diukur dengan keras.


Contoh pengukurannya adalah sebagai berikut:
Skala utama

Skala nonius

Alat Ukur, Ketelitian, Ketepatan, dan Ketidakpastian | 6

Pengukuran
Hasil perhitungan dari gambar di atas adalah
x = skala utama + (skala nonius x ketelitian alat)
x = 3,0 mm + (48 x 0,01 mm) = 3,0 mm + 0,48 mm = 3,48 mm
x

1
x0,01mm 0,005mm
2

Karena

= 0,005 mm (tiga desimal) maka x sebaiknya dinyatakan dengan tiga

desimal, karena memiliki skala nonius maka kita tidak pernah menaksir angka yang
ke-4, akan tetapi cukup diberi angka 0, sehingga x = 3,480 mm, jadi pengukuran
mikrometer sekrup dilaporkan sebagai berikut:

L x x (3,480 0,005)mm

Soal Kompetensi 2

Berapakah hasil pengukuran dan ketelitiannya dengan menggunakan mikrometer


sesuai gambar di atas?

2.

Pengukuran massa
Dalam pengukuran massa sangat sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, misalnya

dalam menimbang daging, beras, buah, dan lain-lain. Anda pasti pernah melihat bahkan ada
yang pernah melakukan dan mengamatinya. Namun, pada faktanya kita sering salah
menggunakan kata massa dalam kehidupan sehari-hari, karena kata berat yang lebih sering
digunakan. Dalam materi ini kita akan membahas bersama alat ukur yang digunakan untuk
mengukur massa suatu benda.

Alat Ukur, Ketelitian, Ketepatan, dan Ketidakpastian | 7

Pengukuran
Alat untuk mengukur massa pada umumnya
adalah neraca. Jenis neraca cukup banyak,
misalnya neraca lengan, neraca dua lengan,
neraca

pegas,

neraca

elektronik/neraca

digital, dan lain-lain.

Gambar 4. Beberapa jenis neraca


(Sumber: BSE, 2009)
a. Neraca analitis dua lengan berguna untuk mengukur massa benda, misalnya emas,
batu, kristal benda, dan lain-lain. Batas ketelitian neraca analitis dua lengan yaitu 0,1
gram.
b. Neraca lengan gantung berguna untuk menentukan massa benda, yang cara kerjanya
dengan menggeser beban pemberat di sepanjang batang.
c. Neraca ohauss berguna untuk mengukur massa benda atau logam dalam praktek
laboratorium. Kapasitas beban yang ditimbang dengan menggunakan neraca ini adalah
311 gram. Batas ketelitian neraca Ohauss yaitu 0,1 gram.
d. Neraca digital (neraca elektronik) di dalam penggunaanya sangat praktis, karena besar
massa benda yang diukur langsung ditunjuk dan terbaca pada layarnya. Ketelitian
neraca digital ini sampai dengan 0,001 gram.
Cara menimbang dengan menggunakan neraca Ohauss adalah sebagai berikut.
Posisikan skala neraca pada posisi nol dengan menggeser penunjuk pada lengan
depan dan belakang ke sisi kiri dan lingkaran skaladiarahkan pada angka nol
Periksa bahwa neraca pada posisi setimbang
Letakkan benda yang akan diukur di tempat yang tersedia pada neraca
Geser ketiga penunjuk diurutkan dari penunjuk yang terdapat pada ratusan, puluhan,
dan satuan sehingga tercapai keadaan setimbang
Bacalah massa benda dengan menjumlah nilai yang ditunjukkan oleh penunjuk
ratusan, puluhan, satuan, dan sepersepuluhan!
3.

Pengkuran waktu
Hal yang paling sering kita temukan
dalam kehidupan sehari-hari adalah
mengenai

waktu,

karena

Alat Ukur, Ketelitian, Ketepatan, dan Ketidakpastian | 8


Gambar 5. Beberapa jenis alat pengukur waktu
(Sumber: BSE, 2009)

setiap

Pengukuran
pekerjaan dan kegiatan kita berkaitan dengan waktu. Mengukur seorang yang sedang berlari
itu sudah menjadi hal biasa dalam hidup kita. Tahukah Anda alat apa saja yang bisa
digunakan?
Waktu merupakan besaran yang menunjukkan lamanya suatu peristiwa berlangsung.
Berikut ini beberapa alat untuk mengukur besaran waktu.
a. Stopwatch, dengan ketelitian 0,1 detik karena setiap skala pada stopwatch dibagi
menjadi 10 bagian. Alat ini biasanya digunakan untuk pengukuran waktu dalam
kegiatan olahraga atau dalam praktik penelitian.
b. Arloji, umumnya dengan ketelitian 1 detik.
c. Penunjuk waktu elektronik, mencapai ketelitian 1/1000 detik.
d. Jam atom Cesium, dibuat dengan ketelitian 1 detik tiap 3.000 tahun, artinya kesalahan
pengukuran jam ini kira-kira satu detik dalam kurun waktu 3.000 tahun.
B. KETIDAKPASTIAN PENGUKURAN
Saat melakukan pengukuran mengunakan alat, tidaklah mungkin mendapatkan nilai
yang pasti benar (xo), melainkan selalu terdapat ketidakpastian. Apakah penyebab
ketidakpastian pada hasil pengukuran?. Secara umum penyebab ketidakpastian hasil
pengukuran ada tiga, yaitu kesalahan umum, kesalahan sistematik, dan kesalahan acak.
1. Kesalahan Umum
Kesalahan umum adalah kesalahan yang disebabkan keterbatasan pada pengamat saat
melakukan pengukuran. Kesalahan ini dapat disebabkan karena kesalahan membaca skala
kecil, dan kekurangterampilan dalam menyusun dan memakai alat, terutama untuk alat yang
melibatkan banyak komponen.
2. Kesalahan Sistematik
Kesalahan sistematik merupakan kesalahan yang disebabkan oleh alat yang digunakan
dan atau lingkungan di sekitar alat yang memengaruhi kinerja alat. Misalnya, kesalahan
kalibrasi, kesalahan titik nol, kesalahan komponen alat atau kerusakan alat, kesalahan
paralaks, perubahan suhu, dan kelembaban.
a. Kesalahan Kalibrasi
Kesalahan kalibrasi terjadi karena pemberian nilai skala pada saat pembuatan
atau kalibrasi (standarisasi) tidak tepat. Hal ini mengakibatkan pembacaan hasil
pengukuran menjadi lebih besar atau lebih kecil dari nilai sebenarnya. Kesalahan ini

Alat Ukur, Ketelitian, Ketepatan, dan Ketidakpastian | 9

Pengukuran
dapat diatasi dengan

mengkalibrasi ulang alat menggunakan alat yang telah

terstandarisasi.
b. Kesalahan Titik Nol
Kesalahan titik nol terjadi karena titik nol skala pada alat yang digunakan
tidak tepat berhimpit dengan jarum penunjuk atau jarum penunjuk yang tidak bisa
kembali tepat pada skala nol. Akibatnya, hasil pengukuran dapat mengalami
penambahan atau pengurangan sesuai dengan selisih dari skala nol semestinya.
Kesalahan titik nol dapat diatasi dengan melakukan koreksi pada penulisan hasil
pengukuran
c. Kesalahan Komponen Alat
Kerusakan pada alat jelas sangat berpengaruh pada pembacaan alat ukur.
Misalnya, pada neraca pegas. Jika pegas yang digunakan sudah lama dan aus, maka
akan berpengaruh pada pengurangan konstanta pegas. Hal ini menjadikan jarum atau
skala penunjuk tidak tepat pada angka nol yang membuat skala berikutnya bergeser.
d. Kesalahan Paralaks
Kesalahan paralaks terjadi bila ada jarak antara jarum penunjuk dengan garisgaris skala dan posisi mata pengamat tidak tegak lurus dengan jarum.
3. Kesalahan Acak
Kesalahan acak adalah kesalahaan yang terjadi karena adanya fluktuasi fluktuasi halus
pada saat melakukan pengukuran. Kesalahan ini dapat disebabkan karena adanya gerak
brown molekul udara, fluktuasi tegangan listrik, landasan bergetar, bising, dan radiasi.
a. Gerak Brown Molekul Udara
Molekul udara keadaannya selalu bergerak secara tidak teratur atau rambang.
Gerak ini dapat mengalami fluktuasi yang sangat cepat dan menyebabkan jarum
penunjuk yang sangat halus seperti pada mikrogalvanometer terganggu karena
tumbukan dengan molekul udara.
b. Fluktuasi Tegangan Listrik
Tegangan listrik PLN atau sumber tegangan lain seperti aki dan baterai selalu
mengalami perubahan kecil yang tidak teratur dan cepat sehingga menghasilkan data
pengukuran besaran listrik yang tidak konsisten.
c. Landasan yang Bergetar
Getaran pada landasan tempat alat berada dapat berakibat pembacaan skala
yang berbeda, terutama alat yang sensitif terhadap gerak. Alat seperti seismograf
Alat Ukur, Ketelitian, Ketepatan, dan Ketidakpastian | 10

Pengukuran
butuh tempat yang stabil dan tidak bergetar. Jika landasannya bergetar, maka akan
berpengaruh pada penunjukkan skala pada saat terjadi gempa bumi.
4. Ketidakpastian pengukuran
a. Ketidakpastian pada Pengukuran Tunggal
Pengukuran tunggal merupakan pengukuran yang hanya dilakukan sekali saja.
Pada pengukuran tunggal, nilai yang dijadikan pengganti nilai benar adalah hasil
pengukuran itu sendiri. Sedangkan ketidakpastiannya diperoleh dari setengah nilai
skala terkecil instrumen yang digunakan. Pada pengukuran tunggal nilai
ketidakpastiannya disebut ketidakpastian mutlak. Makin kecil ketidakpastian mutlak
yang dicapai pada pengukuran tunggal, maka hasil pengukurannya pun makin
Keterangan:

mendekati kebenaran.

x0 x

panjang benda
x 0 hasil pengukuran mendekati nilai benar
x ketidakpastian penelitian

1
xketelitian benda
2

Contoh Soal
Perhatikan gambar berikut!

Pada Gambar tersebut ujung benda terlihat pada tanda 15,6 cm lebih sedikit. Berapa
nilai lebihnya? skala terkecil mistar adalah 1 mm. Ketidakpastian pada pengukuran
tunggal merupakan setengah skala terkecil alat. Jadi, ketidakpastian pada pengukuran
tersebut adalah sebagai berikut.
1
x x 1 mm 0,5 mm 0,05 cm
2
Karena nilai ketidakpastiannya memiliki dua desimal (0,05 mm), maka hasil
pengukurannya pun harus dilaporkan dalam dua desimal. Artinya, nilai x harus
dilaporkan dalam tiga angka. Angka ketiga yang dilaporkan harus ditaksir, tetapi
taksirannya hanya boleh 0 atau 5. Karena ujung benda lebih sedikit dari 15,6 cm,
maka nilai taksirannya adalah 5. Jadi, pengukuran benda menggunakan mistar
tersebut dapat dilaporkan sebagai berikut.

x0 x
Panjang benda adalah
= (15,65 0,05) cm
Alat
Ukur,
Ketelitian,
danpanjang
Ketidakpastian
| 11
Arti dari laporan pengukuran tersebutKetepatan,
adalah bahwa
benda terdapat
pada selang 15,60 cm sampai 15,70 cm

Pengukuran
b. Ketidakpastian pada Pengukuran Berulang
Untuk mendapatkan hasil pengukuran yang akurat, kita dapat melakukan
pengukuran secara berulang. Pada pengukuran berulang akan mendapatkan hasil
pengukuran sebanyak N kali. Berdasarkan analisis statistik, nilai terbaik untuk

x0
menggantikan nilai benar x0 adalah nilai rata-rata dari data yang diperoleh (

).

Sedangkan untuk nilai ketidakpastiannya ( x ) dapat digantikan oleh nilai simpangan


baku nilai rata-rata sampel. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut.
Keterangan:
x0 hasil pengukuran mendekati nilai benar
1
xketelitian benda
2
N banyaknya pengukuran yang dilakukan

x ketidakpastian penelitian

Nilai ketidakpastian tersebut juga menentukan banyaknya angka yang boleh


disertakan pada laporan hasil pengukuran. Cara menentukan banyaknya angka yang
boleh disertakan pada pengukuran berulang adalah dengan mencari ketidakpastian
relative pengukuran berulang tersebut. Ketidakpastian relatif dapat ditentukan dengan
membagi ketidakpastian pengukuran dengan nilai rata-rata pengukuran. Secara
matematis dapat ditulis sebagai berikut.

Kesalahan Re latif

x
x100%
x

Setelah mengetahui ketidakpastian relatifnya, dapat menggunakan aturan yang telah


disepakati para ilmuwan untuk mencari banyaknya angka yang boleh disertakan
dalam laporan hasil pengukuran berulang. Aturan banyaknya angka yang dapat
dilaporkan dalam pengukuran berulang adalah sebagai berikut.

ketidakpastian relatif sekitar 10% berhak atas dua angka


ketidakpastian relative sekitar 1% berhak atas tiga angka
ketidakpastian relatif sekitar 0,1% berhak atas empat angka
Alat Ukur, Ketelitian, Ketepatan, dan Ketidakpastian | 12

Pengukuran

Contoh Soal:
Suatu pengukuran berulang massa sebuah benda menghasilkan data sebagai berikut:
12,5 g; 12,3 g; 12,8 g; 12,4 g; 12,9 g; dan 12,6 g. Laporkan hasil pengukuran berulang
tersebut lengkap dengan ketidakpastiannya!
Pembahasan:

x0

Percobaan ke-

xi (gram )

xi ( gram)

1
2
3
4
5
6
N 6

12,5
12,3
12,8
12,4
12,9
12,6
xi 75,50

151,29
153,76
156,25
158,76
163,84
166,41
2
xi 950,31

N
75,50

6
2
2
12
N gram
xi xi
1 ,5833
x
N
N 1

1 6(950,31) (75,50) 2
6
6 1

Ketidakpastian relative =

1 1,61
6 5
0,167 x0,32 0,09 gram

x 100%

0,09
12,58

1 5701,86 5700,25

6
5

x
x

x 100%

Menurut aturan yang telah disepakati,


ketidakpastian relatif 0,7% berhak atas tiga
angka. Jadi, hasil pengukuran dapat
dilaporkan sebagai berikut.

m x0 x

= (12,58 0,09) g
= (12,6 0,1) g

Alat Ukur, Ketelitian, Ketepatan, dan Ketidakpastian | 13

Pengukuran
Soal Kompetensi 3
1. Bagaimana cara Anda agar memperoleh nilai ketidakpastian yang
lebih baik dengan menggunakan instrumen pengukuran yang sama?
Jelaskan!
2. Perhatikan gambar berikut!

Laporkan hasil pengukuran dengan jangka sorong tersebut beserta

1. Sebutkan dua instrumen pengukuran panjang, massa, waktu dan berikan penjelasan
nilai ketidakpastiannya!

kelebihan dan kekurangannya!


3. Diketahui hasil pengukuran berulang sebanyak 5 kali terhadap kuat
2. Tentukan hasil pengukuran berikut dengan jangka sorong!

arus pada suatu rangkaian berturut-turut adalah sebagai berikut: 5


mA; 5,4 mA; 5,6 mA; 5,3 mA; dan 5,5 mA. Laporkan hasil pengukuran
tersebut beserta nilai ketidakpastiannya!

RANGKUMAN
1.

Instrumen pengukuran adalah alat-alat yang digunakan untuk mengukur suatu besaran. Misalnya,

2.

panjang dengan mistar, massa dengan neraca, dan waktu dengan stopwatch dan jam.
Setiap pengukuran pasti terdapat ketidakpastian yang disebabkan beberapa kesalahan, antara lain,

3. Tentukan hasil pengukuran berikut dengan micrometer sekrup!


kesalahan internal, kesalahan sistematik, dan kesalahan acak.

. 3. Kesalahan internal adalah kesalahan yang disebabkan keterbatasan pada pengamat saat melakukan
4.

pengukuran.
Kesalahan sistematik merupakan kesalahan yang disebabkan oleh alat yang digunakan dan atau
lingkungan di sekitar alat yang mempengaruhi kinerja alat. Misalnya, kesalahan kalibrasi, kesalahan
titik nol, kesalahan komponen alat atau kerusakan alat, kesalahan paralaks, perubahan suhu, dan

kelembapan.
5.
acak adalah
kesalahaanpengukuran
yang terjadi terhadap
karena adanya
fluktuasi-fluktuasi
halusrangkaian
pada saat
4. Kesalahan
Seorang siswa
melakukan
tegangan
pada suatu
melakukan pengukuran. Misalnya, karena adanya gerak brown molekul udara, fluktuasi tegangan

berturut-turut adalah sebagai berikut: 5,2 V; 5,8 V; 6 V; 5,9 V; 5,7 V. Laporkan hasil

listrik, landasan bergetar, bising, dan radiasi.


pengukuran
tersebut
besertapengukuran
nilai ketidakpastiannya!
Pengukuran tunggal
merupakan
yang hanya dilakukan sekali saja.
7. Ketidakpastian pada pengukuran tunggal diperoleh dari setengah skala terkecil alat yang digunakan.
8. Pengukuran berulang adalah pengukuran yang dilakukan beberapa kali
6.

LATIHAN SOAL!

Alat Ukur, Ketelitian, Ketepatan, dan Ketidakpastian | 14

Pengukuran

SELAMAT
BEKERJA
GOOD LUCK

DAFTAR PUSTAKA
Sumarsono, J. 2009. Fisika 1 untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen
Pendidikan Nasional.
Alat Ukur, Ketelitian, Ketepatan, dan Ketidakpastian | 15

Pengukuran
Nufus, N. & Furqon, A. 2009. Fisika 1 untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional.
Nurachmandani, S. 2009. Fisika 1 untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional.
Handayani, S. & Damari, A. 2009. Fisika 1 untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Pusat
Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Alat Ukur, Ketelitian, Ketepatan, dan Ketidakpastian | 16