Anda di halaman 1dari 3

Tatalaksana pada beberapa macam konjungtivitis

1. Konjungtivitis Alergi
Pengobatan konjungtivitis alergi didasarkan pada identifikasi dan eliminasi antigen spesifik,serta
penggunaan obat-obatan yang bertujuan untuk mengurangi respon imun. Penggunaan terapi
suportif, seperti pelumas nonpreserved dan kompres dingin, dapat mengurangi keluhan.
Beberapa obat di bawah ini berguna dalam mengobati konjungtivitis alergi:

Steroid topikal
Vasokonstriktor topikal / antihistamin
Antihistamin topikal
Obat anti-inflamasi nonsteroid topikal
Stabilisator sel mast-Topical
Agen dengan beragam mekanisme aksi
Imunosupresan
Antihistamin sistemik

2. Konjungtivitis Bakterial
Cara yang paling tepat untuk mengobati konjungtivitis bakteri adalah dengan cara
mengidentifikasi organisme penyebab dan memulai pengobatan antimikroba spesifik yang sudah
diketahui efektif membunuh organisme penyebab.. Pada kondisi tidak adanya kultur atau smear,
agen etiologi harus dipertimbangkan sehubungan dengan usia pasien, lingkungan, dan temuan
mata terkait. Dalam kebanyakan kasus, antibiotik topikal spektrum luas adalah terapi pilihan.
Meskipun sebagian besar kasus konjungtivitis bakteri adalah self-limiting, pengobatan dengan
antibiotik dapat mengurangi gejala-gejala pasien dan kemungkinan kambuhnya penyakit.
Hiperakut konjungtivitis memerlukan pertimbangan khusus karena potensi kebutaan yang
disebabkan karena terapi infeksi gonokokal yang tidak adekuat. Smear konjungtiva dan kultur
harus dilakukan sebelum memulai pengobatan. Pemberian antibiotik sistemik yang efektif
melawan organisme yang sudah teridentifikasi harus segera dimulai. Saline Bilas mungkin
bermanfaat dalam menghilangkan discharge purulen. Dalam kasus infeksi gonokokal, Centers
for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan pemberian dosis tunggal
ceftriaxone intramuskular. Meskipun CDC tidak merekomendasikan pengobatan topikal, praktisi
mungkin ingin mempertimbangkan penambahan fluorokuinolon topikal sebagai terapi tambahan.

Pasien juga harus dievaluasi untuk koinfeksi dengan penyakit menular seksual lainnya.
Perawatan pasien dengan penyakit menular seksual harus dikoordinasikan dengan dokter
perawatan primer pasien.
3. Viral Konjungtivitis
Terapi suportif untuk infeksi adenoviral mencakup beberapa pilihan pengobatan seperti kompres
dingin, pelumas, dan dekongestan mata.
Antibiotik topikal tidak rutin digunakan untuk mengobati konjungtivitis virus kecuali ada bukti
infeksi bakteri sekunder. Risiko reaksi beracun dan alergi dapat lebih besar dari manfaat
potensial dari penggunaan antibiotik. Penggunaan steroid dalam pengelolaan konjungtivitis
adenoviral masih kontroversial. Karena potensi efek samping dari kortikosteroid topikal tetes
mata, para dokter mungkin ingin membatasi penggunaan agen ini kepada pasien yang
mempunyai gejala signifikan atau yang mengalami penurunan tajam penglihatan karena keratitis
inflamasi.
Pengobatan konjungtivitis herpes simpleks menggunakan obat antivirus seperti trifluridin,
meskipun belum ada bukti bahwa terapi ini berhasil dalam menurunkan angka kejadian
konjugtivitis herpes simpleks dan keratitis. Terapi suportif, termasuk pelumas dan kompres
dingin, yang mungkin sama efektifnya dengan obat antivirus, dapat menghilangkan potensi efek
samping toksik. Steroid topikal sangat kontraindikasi untuk mengobati konjungtivitis herpes
simpleks
Pengobatan konjungtivitis herpes zoster menggunakan kombinasi antibiotik / steroid topical.
Hala ini untuk mengurangi risiko infeksi bakteri sekunder dan mengurangi respon inflamasi.
Berbeda dengan efeknya pada infeksi herpes simpleks, steroid topikal tidak memperburuk infeksi
herpes zoster. Selain terapi topikal, pengobatan antivirus sistemik juga dapat mengurangi durasi
kedua pelepasan virus dan neuralgia pasca-herpes. Untuk mencapai tahap paling efektif dalam
mengurangi durasi neuralgia pasca-herpes, terapi antivirus sistemik harus dimulai dalam waktu
72 jam dari tanda-tanda pertama infeksi herpes zoster.
4. Konjungtivitis Klamidia

Terapi primer untuk konjungtivitis inklusi dewasa adalah antibiotik sistemik. Terapi topikal saja
tidaklah cukup. Pengobatan sistemik yang dianjurkan, adalah yang berdasarkan usia, berat
badan, dan riwayat medis pasien. Untuk pasien konjugtivitis klmidia biasanya diberikan
azitromisin dosis tunggal 1 g atau doksisiklin 100 mg dua kali sehari selama 7 hari. Azitromisin
adalah pengobatan yang didahulukan, terutama pada pasien denga masalah kepatuhan. Pasangan
seksual pasien juga harus dievaluasi untuk adanya infeksi, dan pengobatan harus dimulai sesuai
indikasi. Dalam kasus infeksi klamidia yang menimpa anak-anak pra-remaja, dokter harus
mempertimbangkan kemungkinan bahwa pelecehan seksual telah terjadi.

Anda mungkin juga menyukai