Anda di halaman 1dari 3

Kokas sebagai Alternatif Pemanfaatan Batubara

Teknologi pemanfaatan batubara secara tidak langsung salah satunya adalah kokas. Kokas
adalah residu padat yang tertinggal bila batubara mengkokas dipanaskan tanpa udara sampai
sebagian zat yang mudah menguapnya (volatile matter) hilang (Supriyatna dkk, 2012).
Batubara yang memiliki sifat caking adalah batubara bituminus. Cooking Coal adalah
batubara yang memiliki sifat caking yaitu sifat dari batubara yang apabila dipanaskan pada
suhu tertentu batubara tersebut akan meleleh, mengembang dan memadat kembali
membentuk bongkahan.
Kokas adalah bahan karbon padat yang berasal dari distilasi batubara rendah abu dan
rendah sulfur, batubara bitumen. Kokas batubara berwarna abu-abu, keras, dan berongga.
Kokas sebenarnya dapat terbentuk secara alami, namun bentuk yang umum digunakan adalah
buatan manusia.
Salah satu cara pemanfaatan batubara untuk energi alternatif adalah dengan
penanganan lebih lanjut proses pengembangan pembuatan kokas, karena merupakan komoditi
penting yang banyak dibutuhkan pada industri berskala kecil sampai skala besar. Industri
yang membutuhkan kokas antara lain industri pengecoran logam, industri gula, industri
elektrode dan industri logam lainnya. Pemenuhan kebutuhan kokas di Indonesia sebagian
besar berasal dari luar negeri (impor) Jepang, RRC, dan Taiwan. Kokas selain digunakan
untuk meningkatkan kandungan karbon dalam besi sebagai agen pereduksi dalam peleburan
bijih besi dalam blast furnace., juga berfungsi sebagai bahan bakar, maupun penyangga
beban. Jadi jelas bahwa batubara bisa diharapkan sebagai sumber energi alternatif untuk
mengurangi ketergantungan pada impor, yang tentunya dapat menghemat devisa.
Berbagai macam uji dan analisis yang dilakukan terhadap batubara kokas diantaranya:
1.

Analisis Petrografi
Analisa petrografi merupakan analisa untuk melihat komponen struktur dari batubara
yang akan terlihat mengkilap dan kusam dengan mata telanjang atau tersusun dari
struktur yang lebih halus lagi (maseral).

2.

Uji Muai
2.1. Metode Uji Muai metode Button
Sebagai salah satu metode untuk menilai sifat caking batubara secara mudah, di Jepang

digunakan apa yang disebut Button Number (BN). Button number disebut juga dengan free
swelling index (FSI), crucible swelling number (CSN), atau crucible button index (CBI).
Metode ini termasuk mudah, dan merupakan satu hal penting dalam menyatakan sifat caking
1

suatu batubara. Seperti diketahui, sifat caking merupakan suatu parameter yang dipakai
dalam metode klasifikasi batubara internasional.
Penentuan tingkat caking berdasarkan button index adalah sebagai berikut:
9 6,5

caking kuat

6 4,5

caking sedang

4 2,5

caking lemah

21

tidak bersifat caking

2.2 Uji Muai metode Dilatometer


Pada metode ini, serbuk batubara dimasukkan ke dalam suatu wadah dengan bentuk
tertentu, lalu dipadatkan. Setelah itu, padatan serbuk batubara tersebut dimasukkan ke dalam
tungku dan dipanaskan. Perubahan bentuk yang terjadi akibat pemanasan ini, kemudian
diamati. Dalam klasifikasi batubara internasional, metode ini dipakai untuk menentukan sifat
pengkokasan.
3.

Uji Fluiditas
Bila batubara kokas (caking coal) dipanaskan, maka pada temperatur sekitar 400C akan

mulai melunak. Bila temperatur pemanasan terus naik, batubara kokas akan meleleh
mengeluarkan gas dan tar. Bila temperatur naik menjadi sekitar 500C, maka lelehan plastis
tadi akan kembali mengeras membentuk kokas. Karakteristik pelunakan dan pelelehan hingga
menjadi bentuk yang plastis, berbeda untuk tiap-tiap batubara. Untuk menerangkan keadaan
seperti di atas, digunakan istilah fluiditas. Untuk mengetahui tingkat fluiditas batubara, di
Jepang biasanya digunakan uji Gieseler Plastometer. ASTM juga memakai uji tersebut.
Bila nilai fluiditas maksimumnya tinggi, maka dikatakan bahwa fluiditasnya bagus; dan
bila nilai fluiditas maksimumnya rendah, berarti fluiditasnya jelek. Secara umum, bila
kandungan zat terbang (volatile matter)-nya tinggi, maka fluiditasnya juga semakin baik.
Pada kandungan zat terbang sekitar 40%, diperoleh fluiditas yang paling baik. Melewati
angka tersebut, fluiditas kembali turun secara drastis.
4.

Uji Kuat Kokas


4.1 Metode Small-Retort
Sampel dalam jumlah yang cukup banyak dikarbonisasi, lalu kokas yang
terbentuk diuji kekuatannya untuk melihat sifat pengkokasan yang terjadi. Pada
standard JIS, diatur tentang metode karbonisasi sampel seberat 1,5 kg.
4.2. Metode Pembakaran Kaleng (Can-Firing)
Pada metode ini, batubara sampel dimasukkan ke dalam kaleng (can) minyak
2

dan sebagainya, lalu dikarbonisasi di dalam tungku (furnace) bersamaan dengan


kegiatan operasi sehari-hari. Kokas sampel yang terjadi dianggap sebagaimana
layaknya kokas yang dihasilkan bersama-sama dari tungku. Kokas sampel tersebut
lalu diuji untuk melihat sifat pengkokasannya.