Anda di halaman 1dari 47

Hukum dan Kebijakan Pengelolaan

Lingkungan

Diperbaharui
UU N0.32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup
1

Pencemaran Lingkungan Hidup


Masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi
dan/atau komponen lain kedalam lingkungan hidup oleh
kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu
lingkungan hidup yang telah ditetapkan

Limbah Rumah
Sakit

Aktifitas Rumah Sakit


2

HAK SETIAP ORANG

Memperoleh LH yang baik dan sehat.

Memperoleh informasi LH berkaitan dengan peran dalam


pengelolaan LH.

Berperan dalam rangka pengelolaan LH.

KEWAJIBAN SETIAP ORANG

Memelihara kelestarian fungsi LH.

Mencegah dan menanggulangi pencemaran dan


perusakan LH.

KEWAJIBAN SETIAP ORANG YANG


MENJALANKAN USAHA DAN/ATAU KEGIATAN

Memberikan informasi yg benar dan akurat mengenai

pengelolaan LH.

LARANGAN SETIAP ORANG


Melakukan pembuangan limbah ke media LH tanpa izin

Meneg. LH.
Melakukan impor limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

(PL-B3).
Membuang limbah yang berasal dari luar wilayah Indonesia

ke media LH Indonesia.

LARANGAN SETIAP USAHA DAN/ATAU


KEGIATAN
Melanggar baku mutu LH.
Melanggar kriteria baku kerusakan LH.

KEWAJIBAN SETIAP USAHA DAN/ATAU


KEGIATAN
Memiliki AMDAL (yg menimbulkan dampak besar dan

penting) untuk memperoleh izin melakukan usaha


dan/atau kegiatan.
Melakukan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun.
Melakukan pengelolaan limbah hasil usaha dan/atau

kegiatan.
5

KEWAJIBAN INSTANSI PEMBERI IZIN


MELAKUKAN
USAHA DAN/ATAU KEGIATAN
Memperhatikan:
Rencana tata ruang.
Pendapat masyarakat.
Pertimbangan dan rekomendasi pejabat yg

berwenang berkaitan dengan usaha dan/atau


kegiatan (AMDAL).

Mencantumkan dengan jelas dalam izin

mengenai persyaratan & kewajiban


penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
untuk melakukan pengelolaan & pemantauan
lingkungan.

Mengumumkan keputusan izin melakukan

usaha dan/atau kegiatan.

WEWENANG DAN KEWAJIBAN PEMERINTAH


DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

Wewenang Pemerintah.

Mengatur dan mengembangkan kebijakan;


Mengatur penyediaan, peruntukan, penggunaan
pengelolaan LH, dan pemanfaatan kembali SDA, termasuk
sumber daya genetika.
Mengatur perbuatan hukum dan hubungan hukum antara
orang dan/atau subyek hukum lainnya serta perbuatan
hukum terhadap SDA dan SD Buatan, termasuk SD
Genetika.
Mengendalikan kegiatan yg mempunyai dampak sosial.
Mengembangan pendanaan bagi upaya pelestarian fungsi
LH sesuai PUU yg berlaku.

Lanjutan..

Kewajiban Pemerintah.

Mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan


meningkatkan kesadaran & tanggung jawab para pengambil
keputusan dalam pengelolaan LH.
Mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan & meningkatkan
kesadaran akan hak & tanggung jawab masyarakat dalam
pengelolaan LH.
Mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan & meningkatkan
kemitraan antara masyarakat, dunia usaha dan Pemerintah
dalam upaya pelestarian daya dukung & daya tampung LH.
Mengembangkan & menerapkan kebijakan nasional pengelolaan
LH yg menjamin terpeliharanya daya dukung & daya tampung LH.
Mengambangkan & menerapkan perangkat yg bersifat preemtif,
preventif, & proaktif dalam upaya pencegahan penurunan daya
dukung & daya tampung LH.
Memanfaatkan & mengembangkan teknologi yg akrab LH.
Menyelenggarakan penelitian & pengembangan di bidang LH.
Menyediakan informasi LH & menyebarluaskannya kepada
masyarakat.
Memberikan penghargaan kepada orang atau lembaga yg berjasa
di bidang LH.
8

KELEMBAGAAN PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
Ditingkat nasional dilaksanakan secara terpadu

oleh perangkat kelembagaan yg dikoordinasikan


Menneg LH.
Kelembagaan Pengelolaan LH di Daerah

mengacu pada:
PP. No. 8 Th. 2003.
PP. No. 25 Th. 2000.

KETERPADUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN


HIDUP

Penetapan kebijakan nasional pengelolaan LH & penataan ruang


dengan tetap memperhatikan:
Nilai-nilai agama;
Adat istiadat;dan
Nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat.

Pengelolaan LH dilaksanakan secara terpadu oleh:


Instansi pemerintah sesuai dengan bidang tugas & tanggung
jawab masing-masing.
Masyarakat; serta
Pelaku pembangunan lain

Pengelolaan LH wajib dilakukan secara terpadu dengan:


Penataan ruang;
Perlindungan SDA hayati;
Perlindungan SD buatan;
Konservasi SDA hayati & ekosistemnya;
Cagar budaya;
Keanekaragaman hayati; dan
Perubahan iklim.
10

ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN


HIDUP
(AMDAL)
Merupakan bagian dari kegiatan studi kelayakan rencana

usaha dan/atau kegiatan.


Diberlakukan terhadap usaha dan/atau kegiatan yang

menimbulkan dampak besar & penting terhadap LH.


Jenis usaha dan/atau kegiatan wajib AMDAL ditetapkan

dalam Kepmenneg LH No. 11 Th. 2006 ttg Jenis Rencana


Usaha dan/atau Kegiatan Wajib Dilengkapi Dengan AMDAL.
Rencana usaha dan/atau kegiatan tidak AMDAL, wajib

lakukan UKL/UPL dengan berpedoman Kepmenneg LH No.86


Th. 2002 ttg Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan
Lingkungan Hidup & Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup.

11

KOMISI AMDAL
(Kepmenneg LH No. 40 Th. 2000)

1. Komisi Penilai AMDAL (Pusat).


Dibentuk Meneg LH

2. Komisi Penilai AMDAL (Provinsi).


Dibentuk Gubernur

3. Komisi Penilai AMDAL (Kab./Kota).


Dibentuk Bupati/Walikota.

12

KEWENANGAN KOMISI PENILAI AMDAL


(PUSAT)
Kegiatan yang berpotensi berdampak negatif pada

masyarakat luas dan/atau pertahanan dan keamanan:

Pembangunan dan pengoperasian reaktor nuklir;


Pembangunan & pengoperasian instalasi nuklir non reaktor;
Submarine tailing;
Teknologi peluncuran satelit;
Rekayasa genetika;
Eksploitasi minyak & gas;
Pembangunan kilang minyak;
Penambangan galian radioaktif;
Pembangunan industri pesawat terbang;
Pembangunan industri senjata;
Pembangunan industri bahan peledak;
Pembangunan industri yang menggunakan bahan baku
limbah impor;

13

Lanjutan

Pembangunan bandar udara internasional;


Pembangunan pelabuhan samudra;
Pengolahan terpadu limbah B3.

Lokasi usaha dan/atau kegiatan lebih dari 1 wilayah

Provinsi;
Kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa negara lain;
Di wilayah laut di atas 12 mil;
Di lintas batas negara kesatuan RI dengan negara lain.

14

KEWENANGAN KOMISI PENILAI AMDAL


(PROVINSI)

Rencana usaha dan/atau kegiatan yang berpotensial berdampak


negatif pada masyarakat luas:
Pembangunan industri pulp/kertas yang terintegrasi dengan
industri pulp;
Pembangunan industri semen & quarynya;
Pembangunan industri petrokimia;
Pembangunan HPH beserta unit pengolahannya;
Pembangunan HTI beserta unit pengolahannya;
Budidaya tanaman perkebunan tahunan beserta unit
pengolahannya;
Budidaya tanaman pangan & hortikultura tahunan dengan
unit pengolahannya;
PLTA;
PLTU;
Pembangunan bendungan;

15

Lanjutan

Pembangunan bandar udara di luar kategori bandar udara

internasional;
Pembangunan pelabuhan di luar kategori pelabuhan
samudra;

Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan meliputi lebih

dari satu wilayah Kab./Kota;


Di wilayah laut antara 4 s/d 12 mil.

16

KEWENANGAN KOMISI PENILAI AMDAL


(KABUPATEN/KOTA)
Semua rencana usaha dan/atau kegiatan di luar kewenangan
Komisi Penilai AMDAL Pusat dan Provinsi.

17

UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP


(UKL) DAN UPAYA PEMANTAUAN
LINGKUNGAN HIDUP (UPL)
(Permen LH No. 86 Tahun 2002)
Jenis usaha dan/atau kegiatan yang tidak wajib AMDAL
Prosedurnya tidak dilakukan menurut ketentuan PP 27

Tahun 1999 tentang AMDAL

Pengajuan formulir isian UKL/UPL oleh pemrakarsa

ditujukan kepada:
Instansi LH kab./kota, jika lokasi usaha dan/atau kegiatan
di wilayah 1 kab./kota
Instansi LH Prov., jika lokasi usaha dan/atau kegiatan lebih
dari 1 kab./kota.
KNLH, jika lokasi usaha dan/atau kegiatan lebih dari 1 prov
dan/atau lintas batas negara.
18

Lanjutan

Rekomendasi UKL/UPL diberikan oleh KNLH/Instansi LH


Prov. /Instansi LH kab./kota.
Rekomendasi UKL/UPL sebagai dasar penerbitan izin
melakukan usaha dan/atau kegiatan.
Instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan
usaha dan/atau kegiatan wajib mencantumkan syarat
dan kewajiban yang tercantum dalam UKL/UPL ke
dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan.

19

AUDIT LINGKUNGAN HIDUP


(AUDIT LH)
Audit LH bersifat sukarela (Voluntary Audit).

Dalam rangka peningkatan kinerja usaha dan/atau


kegiatan.
Kewajiban pemerintah untuk mendorong penanggung
jawab usaha dan/kegiatan untuk melakukan Audit LH.
Acuan yang digunakan: Kepmenneg LH No. 42 Th. 1994
tentang Pedoman Pelaksanaan Audit Lingkungan.

Audit LH bersifat wajib (Mandatory Audit).

Diberlakukan terhadap penanggung jawab usaha


dan/atau kegiatan yg tidak mematuhi ketentuan yg diatur
dalam PUU di bidang LH.
Merupakan bagian dari sanksi administrasi.
Acuan yang digunakan: Kepmenneg LH No. 30 Th. 2001
tentang Pedoman Pelaksanaan Audit LH Yang Diwajibkan.
20

PENGAWASAN LH

Kewenangan pengawasan LH:


Meneg LH/Gubernur/Bupati/Walikota dengan menetapkan pejabat
pengawas LH.

Tugas pengawas:
Melakukan pengawasan terhadap penaatan penanggung jawab
usaha dan/atau kegiatan atas ketentuan yang telah ditetapkan
dalam PUU di bidang LH

Kewenangan Pejabat Pengawas LH:


Melakukan pemantauan;
Meminta keterangan;
Membuat salinan dari dokumen dan/atau membuat catatan yang
diperlukan;
Memasuki tempat tertentu;
Mengambil contoh;
Memeriksa peralatan;
Memeriksa instalasi dan/atau alat transportasi;
Meminta keterangan dari pihak yang bertanggung jawab atas
usaha dan/atau kegiatan.

21

Lanjutan..
Kewajiban pejabat pengawas:
Memperlihatkan surat tugas dan/atau tanda pengenal;
Memperhatikan situasi dan kondisi tempat pengawasan.

Kewajiban penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan:


Memenuhi permintaan petugas pengawas sesuai dengan

ketentuan PUU yang berlaku.

Pedoman yang berkaitan dengan pengawasan :


Kepmenneg LH No. 7 Th. 2001 ttg Pejabat Pengawas LH dan

Pejabat Pengawas LH Daerah.


Kepmenneg LH No. 56 Th. 2002 ttg Pedoman Umum
Pengawasan LH bagi Pejabat Pengawas.
Kepmenneg LH No. 57 Th. 2002 ttg Tata Kerja Pejabat
Pengawas LH di Kementerian Negara Lingkungan Hidup.

22

PERBEDAAN PEJABAT PENGAWAS LH (PPLH)


DAN PEJABAT PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL
LH (PPNS-LH)
No

PPLH

PPNS LH

1.

Dasar Hukum Psl 22-24 UU PLH

Dasar Hukum Psl 40 UU PLH

2.

Pengawasan (Pantau, Inspeksi)

Penyidikan Kasus PDN (Pulbaket,


Investigasi)

3.

Diangkat Kepala Bapedal/Gub/


Bupati/Walikota

Diangkat Menkeh & HAM

4.

PH. Administratif (Psl 25-29


UUPLH)

PH Pidana Psl 41-47

5.

Tidak semua PPLH dapat


menjadi PPNS LH

Semua PNS dapat menjadi PLH

6.

Penugasan dari atasan yang juga Penugasan atasan Penyidik (Penyidik


jadi pengawas
atau penyidik senior)

7.

Tanda pengenal dikeluarkan


Kepala Bapedal/Gub/Bupati/
Walikota

Tanda Pengenal dikeluarkan oleh POLRI

23

PENEGAKAN HUKUM LINGKUNGAN

A.
B.
C.

Sanksi Administrasi
Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup
Sanksi Pidana.

24

A.

1.
2.
3.
4.

SANKSI ADMINISTRASI

Paksaan pemerintahan (bestuurdwang);


Uang Paksa (dwangsom);
Pencabutan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan;
Audit lingkungan hidup yang diwajibkan.

1. Paksaan Pemerintahan

Pengenaan paksaan pemerintahan menjadi kewenangan


Gubernur/Bupati/Walikota.

Perintah dari Gubernur/Bupati/Walikota kepada


penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dapat berupa:

25

Lanjutan.

Mencegah dan mengakhiri terjadinya pelanggaran;

Menanggulangi akibat yang ditimbulkan oleh suatu


pelanggaran;

Melakukan tindakan penyelamatan, penanggulangan


dan/atau pemulihan.

Biaya pelaksanaan paksaan pemerintahan menjadi

tanggung jawab pihak penanggung jawab usaha dan/atau


kegiatan.

26

2. Uang Paksa

Pengganti dari biaya pelaksanaan tindakan tertentu.

Tata cara penetapan beban biaya dan penagihan paksaan pemerintahan:

Ditetapkan dengan PUU.

Jika PUU belum ditetapkan, pelaksanaan menggunakan upaya hukum


menurut PUU yang berlaku.

3. Pencabutan Izin Melakukan Usaha dan/atau


Kegiatan

Kewenangan berada pada instansi pemberi izin melakukan usaha dan/atau kegiatan.

Pencabutan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan hanya dapat dikenakan


terhadap pelanggaran tertentu.

Pihak-2 yg dapat mengajukan pencabutan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan:

Kepala Daerah;

Pihak ketiga yang berkepentingan.

27

4. Audit LH Yang Diwajibkan (Mandatory


Audit)
Kewenangan Meneg LH:

Memerintahkan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan

untuk melaksanakan audit LH.


Menetapkan jumlah beban biaya pelaksanaan audit LH.
Melaksanakan audit LH, atau
Menugaskan pihak ketiga untuk melaksanakan audit LH, dan
Mengumumkan hasil audit LH.

Kewenangan Gubernur/Bupati/Walikota:

Mengusulkan secara tertulis kepada Meneg LH untuk

mengeluarkan perintah audit LH, disertai data pendukung.

Kriteria audit LH yang diwajibkan:

Ketidakpatuhan terhadap ketentuan yg diatur dalam PUU di

Bidang LH.

Kewajiban penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan:

Melaksanakan audit LH sesuai yang diperintahkan Meneg LH.


Menanggung beban biaya pelaksanaan audit LH.

28

B. PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN


HIDUP (PSL)

PSL dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar


pengadilan berdasarkan pilihan para pihak yang
bersengketa.

Tujuan PSL di luar pengadilan untuk mencapai kesepakatan


mengenai:
Bentuk dan besarnya ganti rugi dan/atau
Tindakan tertentu.

PSL di luar pengadilan dapat digunakan pihak ketiga netral:


Tidak berwenang mengambil keputusan (mediator).
Disetujui para pihak yang bersngketa;
Tidak memiliki hubungan keluarga dan/atau hubungan kerja
dengan salah satu pihak yang bersengketa;
Memiliki ketrampilan untuk melakukan perundingan atau
penengahan;
Tidak memiliki kepentingan terhadap proses perundingan
maupun hasilnya;
Berwenang mengambil keputusan (arbiter).

29

Lanjutan
Pemerintah dan/atau masyarakat dapat dapat

membentuk lembaga penyedia jasa pelayanan


penyelesaian sengketa LH (LPJP2SLH) yang bersifat
bebas & tidak berpihak.
Pedoman pembentukan LPJP2SLH mengacu PP. 54 Th.

2000 ttg LPJP2SLH.

30

SUBYEK GUGATAN

Instansi yg bertanggung jawab di bidang LH (Standi in


Judicio)
Organisasi Lingkungan Hidup (Legal Standing)
Kelompok Masyarakat (Class Action)
Orang perorangan/Individu.

31

PERSYARATAN ORNOP-LH YANG DAPAT


MENGAJUKAN GUGATAN

Berbentuk badan hukum atau yayasan;


Dalam anggaran dasar ORNOP-LH menyebutkan dengan

tegas tujuan organisasi untuk kepentingan pelestarian


fungsi LH.
Telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan angaran

dasarnya.

32

OBYEK GUGATAN

Adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan.

Adanya kerugian masyarakat dan/atau lingkungan


(negara).

Adanya pengeluaran riil dari pihak penggugat.

Adanya tanggung jawab kegiatan usaha untuk


melaksankan tindakan tertentu.

33

DASAR GUGATAN

Perbuatan Melawan Hukum (PMH).

Aspek pelaku, setiap PMH;


Aspek kejadian, pencemaran dan/atau perusakan LH;
Aspek akibat, menimbulkan kerugian pada orang lain
atau LH;
Aspek kausalitas, kewajiban penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan untuk membayar ganti rugi dan/atau
melakukan tindakan tertentu.

Tanggung jawab mutlak (strict Liability):

Dampak besar dan penting;


Menggunakan B3; dan/atau
Menghasilkan Limbah Berbahaya & Beracun;
34

Lanjutan

Pembayaran ganti rugi secara langsung & seketika pada saat

terjadinya pencemaran & perusakan LH;


Mengesampingkan unsur kesalahan pelaku.

Pengecualian strict liability :


Adanya bencana alam atau peperangan; atau
Adanya keadaan terpaksa di luar kemampuan manusia; atau
Adanya tindakan pihak ketiga yang menyebabkan terjadinya

pencemaran dan/atau perusakan LH.

Jika disebabkan pihak ketiga, maka pihak ketiga yang


bertanggung jawab membayar ganti rugi.
35

JENIS GUGATAN YANG DAPAT DIAJUKAN OLEH


PEMEGANG HAK
KELOMPOK MASYARAKAT
(Class Action)

INSTANSI LH (Standi in
Judicio)

ORNOP-LH
(Legal Standing)

Kerugian
materiil

Kerugian
materiil

Kerugian
imateriil

Penggantian
pengeluaran
riil

Penggantian
pengeluaran
riil

Penggantian
pengeluaran
riil

Tindakan
tertentu

Tindakan
tertentu

Tindakan
tertentu

36

PERAN KNLH DALAM PSL


SELAKU
PARA PIHAK

BUKAN SELAKU
PARA PIHAK

Selaku Penggugat
Verifikasi dan PULBAKET
Analisis laboratoium
Mengeluarkan SKKh
Membantu pemegang kuasa
dalam proses di pengadilan.

Memberi fasilitasi
Menetapkan norma, standar
dan prosedur
Diklat, bimbingan, arahan dan
supervisi
Membantu penyediaan ahli/
saksi ahli.

Selaku Tergugat
Mengeluarkan SKKh
Membantu menyiapkan eksepsi,
bukti surat dan dokumen lain

Melakukan Advokasi
Mendorong masyarakat untuk
gunakan class action.
Mendorong ORNOP-LH untuk
gunakan legal standing
37

C.

SANKSI PIDANA

Berdasarkan Asas SUBSIDIARITAS (ULTIMUM REMIDIUM),

Sanksi Pidana sebagai penunjang Hukum Administrasi.


Sanksi Pidana digunakan apabila:

Sanksi administrasi tidak berhasil;


Penyelesaian sengketa lingkungan tidak efektif;
Kesalahan pelaku relatif besar/berat;
Timbul keresahan masyarakat;
Menimbulkan orang sakit;
Menyebabkan orang meninggal dunia.
Ada bukti permulaan yang cukup.
Pelaku pencemaran dan/atau perusakan jelas.

38

Memberitahukan :
Dimulainya penyidikan
Hasil penyidikan, kepada
penyidik pejabat POLRI
NEGARA RI

PENYIDIK
PEJABAT
POLISI
NEGARA RI

BAB VIII
PENYIDIKAN
PASAL 40

PENYIDIKAN
UU.ZEE
di ZEE

DALAM
PELAKSANAA
N TUGAS

PENYIDIK
PEJABAT
PEGAWAI
NEGERI SIPIL
PP PNS
Dalam pel.
Tugasnya
menyampaikan
hasil penyidikan
kepada PENUNTUT
UMUM, melalui
Penyidik Pejabat
POLISI NEGARA RI

MELAKUKAN
PEMERIKSAA
N

Kebenaran Lap
Kebenaran Ket

MELAKUKAN
PEMERIKSAA
N

Thd Orang
Thd Bdn Hkm

MEMINTA

MELAKUKAN
PEMERIKSAA
N

MELAKUKAN
PEMERIKSAA
N

Keterangan
dg
Bahan Bukti
Atas :
Pembukuan
Catatan
Dokumen

Berkenaan degan
tindak pidana LH
Yg diduga melakukan
tindak pidana LH
Dari

Sehubungan

- Org
- B.H

tndk pidana LH

Berkenaan dgn
tindak pidana LH

Ditempat tertentu di duga terdapat :


Bahan bukti
Pembukuan
Catatan
Dokumen

MELAKUKAN
PENYITAAN

Terhadap :
-Bahan
-Barang

MEMINTA
BANTUAN

Ahli, dlm pelaksaan tugas

Hsl kejh/pelanggr
sbg bhn bukti dlm prkr
tindak pidana LH

39

DELIK
MATERIL

DELIK
UU
23/97

DELIK
FORMIL

Pasal 41
Pasal 42

Akibat adanya
Pencemaran dan/
atau perusakan
LH

Tindak Pidana
Korporasi

Pasal 43
Pasal 44

Pasal 46
Pasal 47

perbuatan yg
dilakukan
melanggar
ketentuan PUU yg
berlaku

Adanya Akibat
Perlu Dibuktikan

Tindak Pidana LH yg
Dilakukan Olah atau
atas nama BH,
Perseroan,
Perserikatan,
Yayasan atau
Organisasi lain
Adanya Perbuatan
yang dilakukan
cukup untuk
menuntut tindak
pidana

40

Barang
Siapa

2
Psl 43 (1)
Pidana
Formil

Yg dg melanggar
Ketent PUU yg berlaku

Sengaja
Melepas atau
membuang

Padahal mengetahui atau


sangat beralasan untuk
menduga bahwa
perbuatan tersebur dpt
menimbulkan

1. Pidana penjara paling


lama 6 thn dan
2. Pidana denda paling
banyak 300 juta rupiah

Psl 43
ayat (2)

Dg senagaja memberikan inform palsu atau


menghilangkan atau
menyembunyikan atau
merusak inf yg
diperlukan dlm kaitannya
dg perbuatan Psl 41 (1)

1. Zat
2. Energi, dan/atau
3. Komponen lain yg B3
diatas/kedalam
1.
2.
3.
4.

Tanah
Udara
Air permukaan
Melakukan
impor/eksport
5. Memperdagangkan,
mengangkut,
menyimpan bahan tsb

Kealphaan
Psl 44

Padahal mengetahui
atau sangat beralasan
utk menduga bahwa
perbuatan tsb dpt
mengakibatkan (angka
5). Pidana (angka 5)
Menyebabkan Angka 5
1.Pidana penjara
paling lama 3 thn &
2.Pidana denda paling
banyak 100 juta Rp.
Menyebabkan org
mati/ luka berat
1.Pidana penjara
paling lama 3 thn &
2.Pidana denda paling
banyak 150 juta Rp.

1. Menjalankan instalasi
berbahaya

1. Pencem dan/atau perusk LH


2. Membahayakan kesehatan
umum,atau
3. Membahayakan nyawa orang
lain

Pasal 43 ayat (3)


Mengakibatkan:
Org mati atau
2 org luka berat

1. Pidana penjara
paling lama 9 thn
2. Pidana denda
paling banyak
450 juta rupiah
41

Barang
Siapa

KEALPHAAN
(Psl 42 (1))

Secara melawan
Hukum

1.
2.

1.
2.

Psl 41 (1)

Dengan
Sengaja

PIDANA
MATERIL

Melakukan
Perbuatan

Mengakibatkan
1. Org mati/atau
2. Luka Berat

1.
2.

1.

Pidana penjara
paling lama 10 thn,
dan
Pidana denda paling
banyak 500 juta RP

Pencemaran
dan/atau
Perusakan LH

(Psl 41 (2)
Yang
mengakibatkan

Pidana plg lama 3


thn, dan
Pidana Denda plg
banyak 100 juta Rp

Pasal 42 (2)
KEALPHAAN

2.

Pidana Penjara
paling lama 15 Thn
Pidana denda paling
banyak 750 juta Rp.
Pidana Penjara
paling lama 5 thn
Pidana denda paling
banyak 150 juta Rp.

42

ATAS
NAMA

a.
b.
c.
d.
e.

Badan Hukum
Perseroan
Perserikatan
Yayasan, atau
Organisasi Lain

1. Tuntutan Pidana
2. Sanksi Pidana
3. Tindakan Tata Tertib

Dilakukan oleh org-org


berdasarkan :
1. Hub Kerja
2. Hub Lain
Bertindak dlm
lingk BH, dll
Pasal 46 (2)
Pasal 46 (1)
TINDAK
PIDANA
KORPORASI

Panggilan utk menghadap


dan penyerahan surat
panggilan di tujukan
kepada pengurus
Pasal 46 (3)

TINDAK PIDANA ATAS


NAMA BH DLL.
PIDANA DITAMBAH 1/3

1. BH, Perseroan,
Persriktan, Yysan, org.
lain
2. Memberi Perintah
3. Yg bertindak sbg
pimpinan dlm perb.
Atau 2 dan 3

Dijatuhkan

1.
2.

1. Yg memberi
perintah
2. Bertindak
sebagai
pimpinan

Tempat Tinggal
Pengurus melakukan
pekerj yg tetap
Jika tuntutan dilakukan
terhadap BH dl.
Pengurus harus datang
sendiri ke Pengadilan
Pasal 46 (3)

PASAL 45
43

TINDAKAN TATA TERTIB

Perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana

Penutupan seluruhnya atau sebagian perusahaan; dan/atau

Perbaikan akibat tindak pidana; dan/atau

Mewajibkan mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hak;


dan/atau

Meniadakan apa yang dilalaikan tanpa hak; dan/atau

Menempatkan perusakaan di bawah pengampunan paling lama 3


tahun.

44

POKOK-POKOK PENGATURAN REVISI UU NO.


23 TH. 1997 TENTANG PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP

Pengertian Pengelolaan Lingkungan Hidup dirumuskan


kembali tanpa mengurangi aspek yg tercakup di dalamnya,
yaitu aspek penetapan kebijakan penatan, pemeliharaan, dan
penaatan.

Ketentuan lebih rinci tentang hak dan kewajiban.

Lingkup pengaturan pelestarian fungsi LH lebih rinci, memuat


ketentuan tentang:
Memasukkan limbah (B3 dan non-B3) ke dalam wilayah RI, dan
Melakukan dumping limbah (B3 dan Non-B3) yang berasal dari

luar wilayah Indonesia ke media LH Indonesia.

Rumusan wewenang pengelolaan LH dirumuskan secara rinci,


baik aspek penataan, pemeliharaan, maupun penaatan yang
menjadi tugas dan wewenang Pemerintah, Provinsi dan
Kabupaten/Kota.
45

Lanjutan
Bertujuan memperkuat kelembagaan pengelolaan LH baik

ditingkat pusat & daerah.


Memuat ketentuan perizinan lebih rinci.
Dimuat satu Bab tentang pembiayaan & kompensasi yg

sebelumnya tidak diatur.


Penegasan Meneg LH untuk melakukan pengawasan

penaatan.
Penambahan ketentuan lebih rinci tentang gugatan

perwakilan kelompok & gugatan administrasi.


Mengatur sanksi administrasi lebih rinci & tegas.
Memperjelas & memperkuat mengenai alat bukti.
Mengatur ketentuan denda dan pidana minimum.

46

TERIMA KASIH

47