Anda di halaman 1dari 9

BAB I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Teh merupakan minuman kedua di dunia yang paling banyak digemari
dan dikomsumsi oleh kalangan masyarakat setelah air mineral (Muthumani,
2006). Teh juga sangat popular sebagai minuman (beverage) , disamping kopi
dan cokelat yang telah memiliki sejarah panjang dan digunakan hampir di 160
negara di dunia sebagai minuman setiap harinya (Wu et al, 2008). Popularitas
teh sebagai minuman karena dipercaya dengan mengkomsumsi (meminum)
teh dapat meningkatkan derajat kesehatan manusia. Hal ini karena pada
minuman teh mengandung banyak senyawa polyphenol, yang diketahui
memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi (Kanchi et al, 2007).
Salah satu lokasi yang terkenal dengan penghasil teh terbanyak yaitu
kebun teh Malino Highland yang terletak di Kabupaten Gowa Sulawesi
Selatan yang jaraknya kurang lebih 90 km dari kota Makassar kearah selatan
dan merupakan salah satu objek wisata alam yang mempunyai daya tarik yang
luar biasa. Mula-mula daun teh muda (pucuk, sampai dengan daun kelima)
dipetik dari kebun lalu dikumpulkan menggunakan sarana pengangkutan
(lazimnya mobil truk), setelah sampai di pabrik pengolahan pucuk segar
disortasi basah menurut kualitas pucuk, asal area lahan pohon teh ditanam dan
jenis (species) tanaman teh. Setelah ditimbang, pucuk segar dihampar
(pembebaran) di atas media pelayuan yang disebut palung pelayuan
(withering trough). Seaara sederhana, pengolahan teh dibagi menjadi 4 tahap
yaitu pelayuan (withering), penggulungan dan penggilingan (rolling), oksidasi
enzimatis atau fermentasi (enzymatic oxidasion, fermentation), dan
pengeringan (drying) (Muthumani, 2006).
Tahap-tahap pengolahan teh dan teknologi untuk mengetahui kualitas the
terbaik umumnya dewasa ini menjadi bidang penelitian dengan melibatkan
kajian multidisipliner. Penelitian-penelitian terdahulu pada pengukuran
kualitas teh yaitu tentang pengaruh area produksi serta klan (keluarga)
tanaman teh untuk menyortasi granula (Owuor et al, 2009) dan pengkajian
daun hijau untuk memprediksi mutu potensial teh yang ada di kebun the
Malino Highland. Pada tahap penggilingan telah dihasilkan riset tentang
pengolahan dengan tekanan tinggi terhadap kandungan kafein (Jun, 2009).
Pada proses oksidasi enzimatis telah dikaji mengenai estimasi injeksi aliran
potensial untuk derajat oksidasi enzimatis (Nieh et al, 2009) dan identifikasi
awal untuk waktu fermentasi menggunakan hidung elektronik ( Bhattacharya
et al, 2008).
Pada tahap pemanasan (pengeringan) telah dilakukan penelitian
mengenai pengamatan sampel secara on-line dengan pemanasan
elektromagnetik (Han et al, 2007), dan pengaruh pemanasan terhadap
komposisi kimia (Kim et al, 2007). Pada sortasi kering telah melibatkan
bidang image processing yaitu transformasi wavelate yang didasarkan pada

tekstur image untuk sortasi granula (Borah et al, 2007). Pada komposisi kimi
telah dilakukan penelitian penentuan kafein dengan spektroskopi simultan
(Khanci et al, 2007), investigasi kandungan lemak (kumar et al, 2006),
pengaruh ultrasonic terhadap komposisi kimia (Xia et al, 2006). Pada tahap
penyimpanan telah dilakukan riset induksi radiasi gamma untuk
dekontaminasi dan penyimpanan yang stabil (Thomas et al, 2008).
Tekanan dan kecepatan udara merupakan dua parameter fisis yang
berpengaruh pada proses menentukan kulaitas dari daun teh selain kehilangan
massa, kadar air dan temperature ruang. Pengukuran kualitas teh terhadap
kedua parameter ini penting dilakukan untuk menganilis efek termodinamis
pada prose pengukuran kualitas daun teh. Pengukuran tekanan pada kolom
udara palung pelayuan menggunakan sensor tekanan tipe MPX2100 series dan
kecepatan diukur dengan thermal anemometer.

Gambar 1. Kebun Teh Malino Highlands


Tujuan utama dari kegiatan ini yaitu tentang pengukuran kualitas layu teh
yang ada di kebun teh Malino Higland. Beradarkan uraian latar belakang
tersebut maka dibuat salah satu rancang bangun sistem instrumentasi yaitu Tea
Quality Measurement Instrumentation Sistem untuk mengetahui kualitas teh
yang diproduksi dari kebun teh Malino yang bisa memberikan teh yang
produktif dan berkualitas bagi masayrakat.
1.2 Rumusan Masalah
Dari paparan yang telah disampaikan, masalah dalam penelitian ini dapat
dirumusakan :
a. Bagaimana mendesain dan memfabrikasi sistem instrumentasi untuk
mengukur tekanan dan kehilangan massa pada proses pelayuan pengolahan
teh Malino di Kabupaten Gowa ?
b. Bagaimana menghitung pengurangan massa pada proses pelayuan untuk
menentukan kualitas teh dan derajat layu teh Malino ?

c. Bagaimana menganalisis aliran udara dalam kolom udara palung pelayuan


untuk proses pelayuan pada pengolahan teh yang ada di kebun teh Malino
Highlands ?
1.3 Tujuan dan Manfaat Peneltian
a. Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mendesain dan memfabrikasi system instrumentasi untuk mengukur
tekanan dan massa pada proses pengukuran kualitas pelayuan
pengolahan teh di kebun teh Malino Highlands Kabupaten Gowa.
2. Menghitung pengurangan massa pada proses pelayuan untuk
menentukan kualitas teh Malino.
3. Menganalisis aliran udara dalam kolom udara palung pealyuan untuk
proses pelayuan pada pengolahan teh Maino.
b. Manfaat penelitian
Penelitian mengenai pengukuran tekanan pada palung pelayuan
bermanfaat untuk mendapatkan informasi mengenai efek termodinamis
dari penggunaan udara panas pada proses pelayuan pengolahan teh
Malino. Pengukuran kecepatan pada permukaan hamparan pembeberan
daunt eh dapat digunakan untuk mengetahui distribusi kecepatan pada arah
vertical aliran udara panas pada palung pelayuan. Pengukuran kehilangan
massa berguna untuk mendapatkan informasi terukur bahwa daunt eh segar
yang dilayukan telah cukup layu untuk mendapatkan kualitas teh yang baik
untuk diolah selanjutnya, kemudian system monitoring pada jarak jauh
bermanfaat untuk efektivitas pengawas pabrik dalam menentukan
kelayuan daunt teh.
1.4 Luaran Yang Diharapkan
Adapun luaran yang diharapkan dari program ini yaitu berupa alat
instrumentasi pengukur kualitas derajat layu teh Malino dan berupa artikel
ilmiah yang dipublikasikan di seminar bertarap nasional maupun internasional
dan diterbitkan di Journal terakreditasi.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengolahan Teh Malino
Teknologi pengolahan teh Malino dipengaruhi oleh beberapa faktor dan
tahapan proses yang memengaruhinya yaitu: pertama adalah sifat
termodinamika udara baik secara mekanisme dehidrasi atau perpindahan kalor.
Kedua adalah komposisi kimia daunt eh baik secara genetik, lingkungan dari
teknik budidaya. Ketiga adalah proes pelayuan baik secara kimia maupun fisik.
Keempat adalah proses penggilingan yang dikenal dengan dua proses
pengolahan yaitu penolhan teh secara orthodox dan CTC (crushing, tearing,
and curling). Kelima adalah proses fermentasi (belakangan lebih disukai

dengan istilah oksidasi enzimatis). Keenam adalah pengkondisian udar ruang


giling dan fermentasi baik kondisi udara luar atau metode pengkondisian udara
terebut. Terakhir, kedelapan, adalah proses sortasi yang meliputi pola kerja
sortasi, mesin sortasi dan kondisi ruang sortasi (Nngrt, 2006).
2.2 Proses Plyun pada Pengolahan Teh Malino
Pelayuan merupakan langkah pertama dan sangat penting dalam
pengolahan teh Malino (Muthumani, 2006) yng meletakkan dsar bagi prosesproses selanjutnya (Bambang,2002). Dalam pelayuan, pucuk teh akan
mengalami dua hal yaitu: perubahan senyawa-senywa hasil metabolism
tanaman yang terkandung di dalam sel-sel daun dan menurunnya kandungan
air sel ehingga pucuk menjadi lemas dan lentur (Soedrajat, 1989) Proses
biokimia dan fisiologi pada jaringan masih dilanjutkan setelah daun dipeik,
tetapi prosesnya berjalan berbeda. Pada pelayuan dikenal dua perbahn pokok,
yaitu perubahan fisik dn perubahan kimia. Perubahan fisik yang jelas ada;ah
melemasnya daun akibat menurunnya kandungan air.
Keadaan melemasnya daun ini memberikan kondisi mudah digiling pada
daun. Pelayuan merupakan proses yang sangat mahal ditinjau dari segi waktu,
biaya dan energi. Pelayuan dilakuka untuk menyiapkan daun tehsupaya siap
diolah baik secara fisis maupun biokimia, untuk penggulungan yang efektif
serta proses oksidasi enzimatis dan pengeringan. Proses pelayuan
menghasilkan peningktan level asam amino, kandungan kafein (caffeine
content) dan aktivitas oksidasi polyphenol, mengubah kandungan klorofil
(chlorophyll) dan membentuk komposisi flavor pendahuluan dengan
penguapan (Mathumani,2006)). Santoso dkk (2008) menyatakan bahwa
pengurangan air dlam daun akan memekatkan bahan-bahan yang dikandung
sampai pada suatu kondisi yang tepat untuk terjadinya peristiw oksidasi pada
tahap pengolahan berikutnya.
2.3 Proses Pelayuan pada Pengolahan Teh Malino
Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kualitas teh banyak
ditentukan pada proses pelayuan, diantaranya (Santoso, dkk, 2008):
pembeberan pucuk, pengaturan udara, pemakaian udara dingin dan panas
selama pelayuan, suhu udara pelayuan, kapasitas withering trough (palung
pelayuan), tingkat layu pucuk, lama pelayuan, alat-alat pelengkap withering
trough, pengaruh hasil pelayuan terhadappengolahan.
Faktor penting selama proses pelayuan adalah kadar air pucuk, persentase
layu dan derajat layu. Tinggi rendahnya kadar air yang terkandungdalam
pucuk sangat berpengaruh terhadap jalannya reaksi kimia dan biokimia yang
terdapat di dalamnya (Santoso, 2008). Penguapan air pada pengolahan teh
CTC untuk menghasilkan 1000 kg teh kering berkadar air 3 % dari 4500 kg

+
-

pucuk segar dan kadar air pucuk layu 72 % (Ningrat, 2006). Aliran udara
pada palung pelayuan ditunjukkan pada Gambar 2.1 di bawah ini:
V

Palung pelayuan seperti yang ditunjukkan pada


R6 gambar 2.1, media untuk
proses pelayuan, dilengkapi dengan kipas embun (fan) untuk menghisap atau
mendorong aliran udara ke trough dengan volume udara yang dihasilkan
bergantung electromotor dan ukuran kipas yang digunakan (Santoso, dkk,
2008).
R3

2.4 Pengukuran Kadar Air dan Massa Pucuk Teh


Efek perubahan tekanan terhadap pengukuran aliran zat cair dapat
dikatakan tidak ada. Sebaliknya untuk pengukuran aliran gas, perubahan
besarnya tekanan akan menimbulkan perubahan massa jenis, sedemikian
sehingga dalam pengukuran
aliran gas, besarnya perubahan tekanan harus
U2
U1
diperhitungkan. Pengukuran
tekanan mempunyai konsep dasar yang sama
dengan gaya karena tekanan dapat dirumuskan sebagai perbandingan gaya
yang bekerja terhadap luas permukaan. Namun untuk beberapa kondisi yang
berpengaruh terhadap sistem yang diukur, konsep kemiripan dengan
pengukuran gaya menjadi tak sepenuhnya dapat dilakukan, tetapi
memerlukan teknik pengukuran yang khas atau mengunakan sensor yang
U3
khas (Doebelin, 2004).
2.5 Penguat Instrumentasi
R4
Penguat instrumentasi R2
(instrumentation amplifier, IA) adalah
Rg
R5
pengembangan dari penguat diferensial
(selisih tegangan) yang
mengakomodasi masukan selisih tegangan. Para perekayasa (engineer)
R1
elektronik telah banyak mengembangkan
rangkaian penguat instrumentasi
dalam berbagai area aplikasi, namun demikian, rangkaian dari penguat
instrumentasi klasik ditunjukkan pada Gambar 2.2 di bawah ini:
+

Gambar 2.2 Skema penguat instrumentasi klasik (Fraden, 2003).

Penguat instrumentasi dibangun oleh tiga buah op-amp. Op-amp 1 dan 2


(U1 dan U2) dikonfigurasi sebagai penguat differential, sedangkan op-amp ketiga
dikonfigurasi sebagai penguat penyangga. Penguat instrumentasi didesain harus
memenuhi tegangan offset minimum, penguatan stabil, ketaklinieran rendah, input
impedansi sangat tinggi, output impedansi sangat rendah, rasio penolakan modus
bersama (common mode rejection ratio, CMMR) sangat tinggi (Terrel, 1996).
CMRR adalah satu sifat yang bertalian dengan penguat diferensial. Bila
tegangan-tegangan yang sama fasanya diumpankan ke dalam masukan-masukan
penguat, keluaran akan nol, hanya perbedaan tegangan pada masukan yang akan
menghasilkan keluaran. Kemampuan suatu op-amp untuk memperkuat sinyal
diferensial sambil menolak sinyal modus bersama disebut perbandingan
penolakan modus bersama (CMMR) (Hughes, 1990). Tegangan keluaran yang
dihasilkan dari konfigurasi penguat instrumentasi klasik pada Gambar 2.2 adalah
bergantung pada nilai-nilai resistor dan selisih tegangan masukan yang diterapkan
pada differential voltage, V1 dan V2, menurut persamaan (Tompkin, 1988):
Vo = (V1-V2)

2)
( ( R 1+r
Rg )

(2.1.1)

Sedangkan besar penguatannya (gain, A) dirumuskn sebagai:


A=

( ( R 1+RgR 2) )

(2.1.2)

Besarnya differential gain (DG) pada dapatdihitung dengan:


( Rg+ R 1+ R 2)
(2..1.3)
Rg
CMRR dapat dihitung dengan besarnya niai-nilai resistor dan tegangan common
mode, Vcm, menurut persamaan:
DG =

CMRR =

( Rg+ R 1+ R 2)
RgVcm

(2.1.4)

Jika dinyatakan dalam decibel (DB) dinytakan sebagai:


DB = 20 log

R 1+ R 2)
( (Rg+RgVcm
)

(2..1.5)

BAB 3. METODE PELAKSANAAN


3.1 Alat-alat penelitian
Alat-alat yang digunakan pada kegiatan ini meliputi peralatan ukur dan
komponen elektronik pendukung untuk pembuatan perangkat keras dan
perangkat lunak. Peralatan yang digunakan tersebut adalah: multitesterdigital,
alat kur kecepatan angina dan alat ukur kelembaban dan temperature, alat ukur
kadar air, seperangkat komputer pribadi (personalcomputer. PC) perkakas

elektronis dan mekanis (tool set), printed circuit board (PCB) dan pelarut PCB,
serta kabel-kabel penghubung aksesoris box.
3.2 diagram Alir Tahapan Pelaksanaan
Tahapan-tahapan kerja dalam pelaksanaan ini ditunjukkan seperti pada gambar
3.1 di bawah ini :
Start

Pemilihan komponen dan menyiapkan toolsete

Pembuatan Rangkaian catu daya

Pembuatan dan Kalibrasi sensor


Pembuatan
tekanan
dan Kalibrasi sensor massa

Pembuatan rangkaian penguat


Pembuatan
instrumentasi
rangkaian penguat instrumentasi

Interface ke komputer pribadi


Interface ke peraga display

Sukses

Interface ke peraga display

Sukses

Koneksi ke data base dan internet online

Finish

Gambar 3.1. Diagram alir tahapan peneltian.


3.3 Prosedur Kerja Penentuan Derajat Layu dan Pengolahan Teh Malino
Untuk memperoleh kualitas derajat layu, maka harus melakukan semua
tahapan proses pengolahan teh Malino mulai dari penanganan pucuk segar
sampai dengan mendapatkan bubuk kering teh jadi. Prosedur kerja dalam
penentuan kualitas derajat layu adalah sebagai berikut :
1. Ditimbang sekitar 32 kg pucuk segar, lalu pucuk teh dibeberkan dengan
kepadatan tertentudiatas palung pelayuan. Rangka mekanis dan keranjang
sampel juga diisi dengan pucuk teh dan dicatat bobot yang ditunjukkan
dari LCD alat ukur massa dengan load cell.
2. Dicatat waktu mulai pelayuan dan parameter fisis yang berpengaruh
diukur, meliputi kelembaban dan temperatur, kecepatan serta tekanan
aliran udara. Setiap satu jam dilakukan pengukuran terhadap parameter
fisis tersebut. Pada tahap ini, sampel pucuk segar dicacah (dipotongpotong dengan ukuran kecil) lalu diukur kadar airnya dengan
menggunakan alat ukur Brabender.
3. Selama proses pelayuan dilakukan pembalikan pertama setelah 5 jam
pelayuan dan pembalikan kedua setelah 11 jam pelayuan. Jika sensor load
cell telah menunjukkan berat antara 0,50 sampai dengan 0,53 dari berat
pucuk segar, maka dilakukan turun layu. Berat yang ditunjukkan load cell
dicatat dan berat layu teh ditimbang. Sampel pucuk layu diambil secara
acak untuk diukur kadar airnya. Selanjutnya dilakukan proses
penggulungan dan penggilingan pada mesin rolling. Selama penggilingan
dilakukan press kap selama 10 15 menit dan kirab selama 5 menit
4. Setelah pucuk digiling, selanjutnya dilakukan pengayakan untuk
memisahkan bubuk teh berdasarkan grade-nya. Pada sistem orthodox
murni tanpa melalui mesin rotorvane dan bubuk hasil ayakan
dikelompokkan menjadi dua yaitu bubuk halus dan badag (sunda = besar).
5. Setelah proses oksidasi enzimatis, selanjutnya bubuk teh dikeringkan di
mesin pengering. Hasil dari berat kering teh jadi ditimbang juga diukur
kadar airnya. Bubuk kering hasil olahan diberi label berupa tanggal dan
kode produksi. Selanjutnya bubuk teh siap dikemas. Berat bubuk kering
teh jadidibandingkan dengan berat pucuk layu untuk mendapatkan
kuantitas derajat layu.
6. Tahap akhir dari pengolahan teh hitam adalah uji indrawi oleh tester. Pada
uji indrawi (sensoris) ini meliputi tiga komponen utama yaitu warna
seduhan dan penampakan, rasa dan aroma.
3.4 Prosedur Analisis Aliran Udara pada Kolom Udara Palung Pelayuan
Pengolahan data pada penelitian ini adalah menganalisis aliran udara
pada kolom udara palung pelayuan untuk menghitung kecepatan transfer
panas, Q, dari aliran udara terhadap beberan pucuk teh. Untuk mendapatkan
nilai Q, terlebih dahulu perlu diketahui konversi noncircular, Dh, menghitung
bilangan Reynold, RED, menghitung faktor friksi, f, dan menghitung bilangan
Nusselt, NU. Setelah semua nilai tersebut diperoleh, berikutnya adalah

menghitung koefisien transfer panas, h, dari aliran udara kering pada palung
pelayuan. Besaran lai yang perlu diketahui nilainya adalah properti udara,
meliputi: kapasitas panas, cp, konstanta Prandalt, Pr, viskositas kinematis.
Semua nilai properti uadar ini didekati pada temperatur 290 K.
Temperatur udara panas pada kolom udara dan temperatur permukaan
beberan teh selama pelayuan juga diukur untuk menghitung besarnya
perpindahan kalor dari aliran udara terhadap beberan pucuk teh. Temperatur
udara panas pada dasar permukaan daun teh, disebut sebagai temperatur
batas, Tb, dan temperature permukaan beberan daun teh, disebut temperatur
permukaan, Ts. Jika semua parameter tadi telah diperoleh maka nilai
perpindahan kalor, Q, dihitung dengan persamaan berikut:
Q = hsA(tb-ts)
di mana:
Q = Kecepatan transmisi kalor (kJ/s)
A = Luas permukaan partikel teh (m2)
Ts = Temperatur pemukaan beberan daun teh (0C)
Tb = Temperatur massa udara (0C)
hs = Koefisien transmisi permukaan (kJ/m.s.K)