Anda di halaman 1dari 14

BHINNEKA TUNGGAL IKA atau BHINNEKA TUNGGAL IKA

(Sebuah Tinjauan Paradigma Klasik Ilmu Sosial dalam Keberagaman dan


Persatuan di Indonesia)
Oleh:
Sari Monik Agustin1
Universitas Al Azhar Indonesia
Kompleks Mesjid Al Azhar, Jl Sisingamangaraja Kebayoran Baru Jakarta Selatan
monik@uai.ac.id
ABSTRAK
Berbeda-beda tetapi tetap satu. Itulah arti Bhinneka Tunggal Ika yang selama ini selalu
didengungkan di Indonesia. Dalam perjalanannya, Bhinneka Tunggal Ika memperlihatkan wajah
yang serupa namun tak sama, tak sama namun serupa. Membingungkan. Namun bila dicermati
dalam sejarahnya di beberapa periode pemerintahan dan kepemimpinan, Bhinneka Tunggal Ika
muncul dengan nuansa yang menarik untuk disimak.
Bahasa adalah sebuah hal yang sangat penting untuk dicermati. Mengapa penting? Karena dalam
Ilmu Komunikasi, bahasa sangat berhubungan dengan dasar logika terciptanya sebuah makna
yang beragam. Demikian menarik pula, mencermati logika Bhinneka Tunggal Ika dalam
keberagaman maknanya.
Tulisan yang disajikan ini merupakan tinjauan singkat bagaimana penampilan Bhinneka Tunggal
Ika muncul dan dimaknai secara berbeda dalam melihat keberagaman dan persatuan, khususnya
dalam beberapa peristiwa pada masa orde baru dan pasca orde baru. Walaupun tulisan ini masih
disajikan secara umum dan popular, namun pada hakikatnya tulisan ini bertujuan menampilkan
perspektif interpretif dalam usaha memahami Bhinneka Tunggal Ika dalam paradigma positivis,
interpretif dan kritis.
Diharapkan dengan adanya tulisan ini, sebuah pandangan baru, terutama paradigma Asli
Indonesia dalam memahami Bhinneka Tunggal Ika, muncul dan berkembang sesuai dengan keIndonesia-an bangsa.
Kata kunci: bhinneka tunggal ika, keberagaman, persatuan, paradigma

Sari Monik Agustin, S.Sos, M.Si adalah dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Al Azhar Indonesia,
dan mahasiswa Program Doktor di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia

PENDAHULUAN
Dalam kerangka berpikir Ilmu Komunikasi, pada dasarnya tulisan ini adalah tinjauan
mengenai pesan yang ada dalam Bhinneka Tunggal Ika. Untuk memudahkan tinjauan tersebut,
maka penulis melakukan interpretasi pesan yang terkandung dalam Bhinneka Tunggal Ika
dengan menggunakan paradigma positivis, interpretif dan kritis. Tinjauan ini kemudian
dihubungkan dengan bagaimana Bhinneka Tunggal Ika dimaknai oleh perjalanan bangsa ini
dalam prosesnya menjadi Indonesia.
Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan bangsa yang tercantum dan menjadi bagian dari
lambang negara Indonesia, yaitu Garuda Pancasila. Sebagai semboyan bangsa, artinya Bhinneka
Tunggal Ika adalah pembentuk karakter dan jati diri bangsa. Bhinneka Tunggal Ika sebagai
pembentuk karakter dan jati diri bangsa ini tak lepas dari campur tangan para pendiri bangsa
yang mengerti betul bahwa Indonesia yang pluralistik memiliki kebutuhan akan sebuah unsur
pengikat dan jati diri bersama.
Bhinneka Tunggal Ika pada dasarnya merupakan gambaran dari kesatuan geopolitik dan
geobudaya di Indonesia, yang artinya terdapat keberagaman dalam agama, ide, ideologis, suku
bangsa dan bahasa. Keragaman tersebut terjadi karena dari segi geografis, Indonesia adalah
negara kepulauan, terdiri dari 17.200 pulau, terdiri lebih dari 300 etnis mayoritas dan minoritas
yang kemudian berdampak pada keanekaragaman bahasa dari etnis-etnis yang tersebar dalam
untaian pulau-pulau (Rahman, 2010: 8).
Kalimat Bhinneka Tunggal Ika sendiri diambil dari penggalan Sumpah Palapa yang
dikumandangkan oleh Patih Gajah Mada dalam usaha penaklukan nusantara di masa keemasam
Kerajaan Majapahit. Sumpah Palapa kemudian menjadi dasar bagi terciptanya Sumpah Pemuda
pada 28 oktober 1928. Ketika Sumpah Pemuda diikrarkan, saat itulah Indonesia sebenarnya telah
melebur menjadi sebuah bangsa Indonesia dan melepaskan diri dari segala bentuk ide kepulauan,
ide kesukuan dan sebagainya (Setyani, 2009: 4-5). Inilah dasar Proklamasi Kemerdekaan 1945
hingga saat ini. Peristiwa Sumpah Pemuda adalah bukti bahwa bangsa Indonesia memiliki
kesadaran hidup dalam keberagaman, yang oleh karenanya dibutuhkan sebuah semboyan
pemersatu yang harus terus-menerus dijadikan tonggak dan jati diri bangsa.

Bhinneka Tunggal Ika sering diartikan sebagai berbeda-beda tetapi tetap satu. Dalam
perjalanan kemerdekaan Indonesia, frasa ini sering muncul dalam nuansa makna yang berbedabeda. Keberagaman dan persatuan muncul sebagai atribut yang melekat dalam semangat
Bhinneka Tunggal Ika. Nuansa perbedaan makna itulah yang ingin diangkat dalam tulisan ini.
Menurut penulis, nuansa perbedaan makna tersebut didasari oleh adanya perbedaan cara pandang
atau yang populer disebut sebagai paradigma. Dalam paradigma yang berbeda, maka Bhinneka
Tunggal Ika akan terlihat berbeda, terutama bila dilihat dari bagian mana dari semboyan tersebut
ditekankan penerjemahannya dalam kehidupan bernegara dan berbangsa di Indonesia.
Terdapat ketegangan antara kesatuan (unity) dan keragaman (diversity) sebagai isu
utama dalam masyarakat plural yang dalam konteks Indonesia, adalah isu pemaknaan Bhinneka
Tunggal Ika itu sendiri. Menurut Bagir dan Dwipayana, semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah
awal upaya memecahkan masalah ketegangan yang terjadi tersebut. Bhinneka Tunggal Ika
bukanlah sebuah akhir ataupun semboyan yang harus ditafsirkan terus-menerus (Bagir,
Dwipayana, Rahayu, Sutarno, & Wajidi, 2011: 45).
Tulisan ini tidak hendak membicarakan ketegangan dan penafsiran atas Bhinneka
Tunggal Ika tersebut, melainkan berusaha memahami adanya perbedaan pemaknaan sehingga
diharapkan paradigma yang tepat sesuai konteks dapat didiskusikan lebih lanjut untuk Indonesia
dewasa ini.
TINJAUAN PUSTAKA
Tulisan ini mengandung beberapa konsep penting, terutama konsep-konsep yang berhubungan
dengan keberagaman dan persatuan, seperti yang dimaksud dalam Bhinneka Tunggal Ika dan
bagian ini juga akan menjabarkan tinjauan paradigma klasik dalam ilmu sosial dalam memahami
Bhinneka Tunggal Ika.
Keberagaman.
Keberagaman merujuk pada pluralisme. Konsep pluralisme sering digunakan sebagai
konsep yang mendeskripsikan adanya keragaman budaya. Sebagian antropolog menggunakan
pemahaman pluralisme sebagai fakta atas adanya kemajemukan budaya. Parsudi Suparlan
misalnya, menggunakan konsep masyarakat multikultural Indonesia yang dibangun sebagai
3

hasil reformasi dengan tatanan kehidupan orde baru yang bercorak masyarakat majemuk
(plural society). Plural Society adalah istilah yang digunakan Furnival untuk menggambarkan
segregasi masyarakat Indonesia pada masa kolonialisme Belanda (Bagir, Dwipayana, Rahayu,
Sutarno, Wajidi, 2011: 28-29).
Seperti telah disinggung di atas, konsep lain yang berhubungan dengan pluralisme adalah
masyarakat

majemuk

dan

multikulturalisme.

Masyarakat

majemuk

terbentuk

dari

dipersatukannya masyarakat-masyarakat suku bangsa oleh sistem nasional, yang biasanya


dilakukan secara paksa (by force) menjadi sebuah bangsa dalam wadah negara. Sebelum Perang
Dunia kedua, masyarakat-masyarakat negara jajahan adalah contoh dari masyarakat majemuk.
Sedangkan setelah Perang Dunia kedua contoh-contoh dari masyarakat majemuk antara lain,
Indonesia, Malaysia, Afrika Selatan, dan Suriname. Ciri-ciri yang menyolok dan kritikal dari
masyarakat majemuk adalah hubungan antara sistem nasional atau pemerintah nasional dengan
masyarakat suku bangsa, dan hubungan di antara masyarakat suku bangsa yang dipersatukan
oleh sistem nasional (Suparlan, 2004).
Multikulturalisme adalah sebuah ideologi yang menekankan pengakuan dan penghargaan
pada kesederajatan perbedaan kebudayaan. Tercakup dalam pengertian kebudayaan adalah para
pendukung kebudayaan, baik secara individual maupun secara kelompok, dan terutama ditujukan
terhadap golongan sosial askriptif yaitu sukubangsa (dan ras), gender, dan umur. Ideologi
multikulturalisme ini secara bergandengan tangan saling mendukung dengan proses-proses
demokratisasi, yang pada dasarnya adalah kesederajatan pelaku secara individual (HAM) dalam
berhadapan dengan kekuasaan dan komuniti atau masyarakat setempat (Suparlan, 2002).
Upaya penyebarluasan dan pemantapan serta penerapan ideologi multikulturalisme dalam
masyarakat Indonesia yang majemuk harus sejalan dengan upaya penyebaran dan pemantapan
ideologi demokrasi dan kebangsaan atau kewarganegaraan dalam porsi yang seimbang.
Diharapkan setiap orang Indoensia nantinya, akan mempunyai kesadaran tanggung jawab
sebagai orang warga negara Indonesia, sebagai warga sukubangsa dan kebudayaannya, tergolong
sebagai gender tertentu, dan tergolong sebagai umur tertentu, yang tidak akan berlaku sewenangwenang terhadap orang atau kelompok yang tergolong lain dari dirinya sendiri dan akan mampu
untuk secara logika menolak diskriminasi dan perlakuakn sewenang-wenang oleh kelompok atau
masyarakat yang dominan (Suparlan, 2004).
4

Persatuan.
Persatuan dalam tulisan ini merujuk pada konsep integrasi nasional. Integrasi adalah
suatu pola hubungan yang mengakui adanya perbedaan ras dalam masyarakat, tetapi tidak
memberikan makna penting pada perbedaan ras tersebut. Hak dan kewajiban yang terkait dengan
ras seseorang hanya terbatas pada bidang tertentu saja dan tidak ada sangkut pautnya dengan
bidang pekerjaan atau status yang diraih dengan usaha (Sunarto, 2004). Integrasi nasional adalah
penyatuan bagian-bagian yang berbeda menjadi sebuah kesatuan yang lebih utuh atau
memadukan masyarakat-masyarakat kecil yang banyak jumlahnya menjadi suatu bangsa
(Herdiawanto & Hamdayama, 2010). Sebutan kesatuan bangsa atau kesatuan wilayah
mempunyai dua makna yaitu (kompasiana, 2010):
1.

Menunjukkan sikap kebersamaan dari bangsa itu sendiri.

2.

Menyatakan wujud yang hanya satu dan utuh, yaitu satu bangsa yang utuh atau satu

wilayah yang utuh.


Dalam hubungannya dengan Bhinneka Tunggal Ika, maka konsep integrasi nasional
sangat berkaitan erat dengan konsep identitas nasional. Identitas nasional adalah manifestasi
nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan suatu nation (bangsa)
dengan ciri-ciri yang khas, yang dari ciri khas tersebut, suatu bangsa menjadi berbeda dengan
bangsa lain (Wibisono dalam Herdiawanto & Hamdayama, 2010).
Dilihat dari konteks Indonesia, identitas nasional merupakan manifestasi nilai-nilai
budaya yang tumbuh dan berkembang dalam berbagai aspek kehidupan dari ratusan suku yang
dihimpun dalam satu kesatuan Indonesia menjadi kebudayaan nasional dengan acuan Pancasila
dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar dan arah pengembangannya (Herdiawanto &
Hamdayama, 2010).
Paradigma Klasik Ilmu Sosial.
Tulisan ini membahas paradigma klasik ilmu sosial, yaitu paradigm positivis, interpretif
dan kritis. Ketiga paradigma tersebut memiliki karakternya masing-masing. Bagian ini adalah
penjelasan ringkas mengenai inti dari paradigma-paradigma tersebut.

Paradigma Positivis.
Paradigma positivis merupakan paradigma yang awalnya berakar dari ilmu alam.
Paradigma ini pertama kali dikenalkan oleh Auguste Comte. Salah satu sumbangan Comte dalam
memandang masyarakat bahwa sejarah peradaban manusia akan melalui tahapan, yang
disebutnya sebagai Hukum Tiga Jenjang, yaitu jenjang teologi, jenjang metafisika dan jenjang
positivis. Hukum ini berlaku di seluruh masyarakat, sehingga tahapan yang telah dilalui oleh
sebuah masyarakat dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat lain yang belum melalui
tahapan tersebut.
Paradigma ini melihat masyarakat diibaratkan memiliki hukum-hukum pasti yang berlaku
universal di seluruh aspek-aspek kehidupan. Dalam hubungannya dengan tulisan ini, paradigma
positivis mengharuskan adanya penyeragaman nilai-nilai dalam setiap masyarakat. Harus ada
sebuah standar normatif yang disepakati berlaku umum dan dipatuhi oleh seluruh masyarakat.
Standar normatif dalam setiap masyarakat akan memiliki fungsi sebagai penyatu atau perekat
dan menjadi pedoman hidup bagi masyarakat tersebut.
Secara ontologis, paradigm positivis berbicara mengenai hakikat realitas atau kenyataan.
Paradigma ini percaya bahwa realitas yang ada di luar sudah diatur oleh hukum dan kaidahkaidah tertentu secara universal. Sementara itu, secara metodologis, paradigma ini berbicara
mengenai cara yang akan digunakan dalam memperoleh pengetahuan. Cara yang dipakai dalam
pardigma ini adalah cara hipotesis dan metode deduktif (Neuman, 2007).
Paradigma Interpretif.
Paradigma ini juga dikenal dengan nama paradigma konstruktif. Dalam Paradigma
konstruktif, kebenaran tentang suatu realitas bersifat relatif. Artinya

kebenaran realitas sosial

tergantung pada individu pelaku sosial. Dalam paradigma ini, kebenaran atau realitas dunia
sosial, merupakan hasil interaksi dari sesama pelaku sosial. Dalam paradigma ini, cara yang
dipakai untuk mengetahui kebenaran realitas sosial adalah cara dialektis (Neuman, 2007).
Pada dasarnya paradigma ini merupakan antitesis dari positivisme. Secara ontologis
aliran ini menyatakan bahwa realitas itu ada dalam bentuk macam-macam konstruksi mental,
berdasarkan pengalaman sosial, bersifat lokal, spesifik dan tergantung pada orang yang
melakukannya. Karenanya, realitas yang diamati seseorang tidak bisa digeneralisasikan kepada
6

semua orang seperti pandangan positivisme. Secara metodologis, aliran ini menerapkan metode
hermeneutics dan dialectics dalam proses pencapaian kebenaran (Salim, 2001).
Paradigma Kritis.
Dalam paradigma ini, realitas sosial dipandang sebagai sesuatu yang semu karena
merupakan hasil dari proses sejarah, sosial maupun politik. Paradigma ini memiliki beberapa
kemiripan dengan paradigma interpretif, namun paradigma ini juga merupakan campuran dari
objektivitas atau materialis ditambah dengan pandangan paradigma konstruktif mengenai realitas
sosial (Neuman, 2007).
Kata kunci paradigma ini adalah tindakan, sehingga penelitian berbasis paradigma ini
sangat berhubungan dengan isu-isu moral dan politik di tingkat praksis. Pendekatan ini
menekankan pada pengupasan realitas sosial yang berlapis-lapis. Dengan kata lain membongkar
apa yang ada dibalik sebuah realitas sosial dengan mengupasnya satu-persatu. Realitas sosial
yang terlihat di permukaan kadangkala hanyalah berupa kepalsuan sebagai akibat adanya
tekanan atau arahan seperti kekuasaan dan otoritas dalam masyarakat (Neuman, 2007).

PEMBAHASAN
Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, yang disemangati oleh Sumpah Pemuda
tahun 1928, sebetulnya merupakan terbentuknya sebuah bangsa dalam sebuah negara yaitu
Indonesia tanpa ada unsur paksaan. Namun begitu, pembentukan bangsa yang ada itu, bukanlah
tanpa halangan. Pada awal kemerdekaan Indonesia, tantangan pertama adalah membuat berbagai
perangkat guna melegitimasi pembentukan negara baru, seperti pembuatan perangkat hukum
(undang-undang dasar), perangkat pemerintahan (penyusunan alur tata negara), dan juga
penentuan simbol-simbol kebangsaan. Proses pembuatan berbagai perangkat yang ada tersebut
dijalankan oleh suatu badan yang dikenal dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(PPKI) melalui sidang-sidangnya. Pada akhirnya dihasilkanlah UUD 1945 sebagai undangundang dasar, pasangan proklamator sebagai presiden dan wakil presiden, Pancasila sebagai
dasar negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara Indonesia.

Bhinneka Tunggal Ika sendiri merupakan sebuah kalimat yang diambil dari kitab
Sutasoma karya Mpu Tantular yang ditulis pada abad ke 14, yang juga dipakai oleh Gajah Mada
dalam Sumpah Palapa. Penggunaan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara dikukuhkan
melalui PP no. 66 tahun 1951 tentang Lambang Negara. Sebenarnya Bhinneka Tunggal Ika
merupakan penggalan dari kitab sutasoma yang menggambarkan kerukunan beragama pada masa
Majapahit. Namun pengertian Keragaman dalam Bhinneka Tunggal Ika pada akhirnya tidak
hanya dimaknai keragaman agama namun juga keragaman suku dan etnis yang ada di Indonesia.
Pembahasan dalam tulisan ini berupaya meninjau pesan dalam Bhinneka Tunggal melalui
paradigma interpretif. Pemahaman yang dimaksud dalam tulisan ini adalah pemahaman dalam
melihat bagaimana cara pandang bangsa dan negara Indonesia mengenai aplikasi Bhinneka
Tunggal Ika dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Tinjauan Paradigma Positivis dalam memandang Bhinneka Tunggal Ika.
Seperti telah dijelaskan, paradigma positivis menekankan masyarakat memiliki nilai
universal sebagai pengikat dan dengan demikian ada penyeragaman nilai dalam masyarakat.
Dengan pemahaman tersebut, dapat dikatakan terdapat beberapa situasi dan kondisi dalam
beberapa periode dimana Indonesia menerapkan cara pandang demikian dalam memaknai
Bhinneka Tunggal Ika. Kondisi ini sangat amat terlihat pada masa Orde Baru, dimana berbagai
macam aspek kehidupan sangat terpusat pada satu titik, yaitu rezim Orde Baru itu sendiri.
Pemusatan ini berujung pada pengontrolan secara ketat terhadap masyarakat. Pengontrolan
terjadi tidak hanya pada bidang politik atau ekonomi semata, namun pengontrolan juga terjadi
pada norma dan nilai yang berkembang pada masyarakat. Dengan fokus utama dari rezim orde
baru yang menekankan kestabilan politik, Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara juga
tentu saja dikontrol maknanya oleh rezim Orde Baru. Konsep Bhinneka Tunggal Ika yang
memiliki dua sisi yaitu persatuan dan keragaman oleh rezim orde baru

maknanya lebih

ditekankan pada persatuan. Bahkan bukan hanya makna persatuan yang dijalankan dan
ditekankan oleh rezim orde baru, melainkan Tunggal Ika itu dimaknai menjadi satu dan seragam.
Persatuan yang ditandai dengan stabilitas sosial sangat kental dalam periode Orde Baru.
Stabilitas sosial sangat penting dalam periode ini, karena kestabilan dimaknai sebagai awal dari
pembangunan. Untuk menciptakan kestabilan tersebut, maka masyarakat harus diseragamkan
8

agar dapat dikontrol dan terjadi pemerataan nilai-nilai yang menunjang tujuan tersebut.
Sosialisasi nilai misalnya terjadi di semua lini masyarakat, baik di tingkat dasar seperti sekolahsekolah dan di tingkat yang lebih tinggi seperti di kantor-kantor.
Penyeragaman nilai-nilai yang disepakati ini menjadi standar normatif dan difungsikan
sebagai perekat atau penyatu masyarakat. Bhinneka Tunggal Ika, yang menekankan pentingnya
Tunggal Ika terjadi pada periode ini. Oleh karenanya, masa itu diwarnai dengan kebijakankebijakan yang mengarah pada persatuan dan berlaku untuk seluruh masyarakat. Masyarakat
dilihat harus mengalami kemajuan yang sama dengan negara-negara yang dianggap maju, dan
diasumsikan dengan mengikuti cara yang sama dengan pemikiran negara maju, maka Indonesia
akan mencapai kesuksesan yang serupa. Lokalitas tidak dipentingkan dalam periode ini. Oleh
karena itu, kebijakan-kebijakan seperti Repelita yang mengacu pada Tahapan Pertumbuhan
Ekonomi Rostow misalnya sangat amat modernis. Pemikiran ini sejalan dengan pemikiran
positivis Comte yang melihat bahwa setiap masyarakat akan melalui jenjang yang sama.
Berdasarkan pemikiran inilah, proses Tunggal Ika, penyatuan seluruh masyarakat melalui
penyeragaman nilai menjadi penting. Bhinneka Tunggal Ika dimaknai sebagai keberagaman
yang harus disatukan menjadi sebuah identitas nasional. Dengan ciri-ciri termanifes dalam nilainilai yang diseragamkan, kesatuan bangsa yang utuh akan tercapai. Penyeragaman nilai bahwa
kita adalah satu, atau kita adalah sama (satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa) akan menjadi
identitas nasional bangsa. Demi tujuan itu, segala cara harus digunakan termasuk cara represif
sehingga setiap anggota masyarakat yang menunjukkan perbedaan dianggap bertentangan dan
harus ditertibkan.
Kesatuan wilayah juga menjadi ciri khas dalam periode ini. Kebijakan transmigrasi
adalah salah satunya. Dengan dilakukan transmigrasi memindahkan pendudukan dari pulau padat
penduduk ke pulau jarang penduduk, seperti dari Jawa ke Sumatera, Kalimantan atau Sulawesi
adalah sebuah cara agar terjadi kesatuan dan perasaan memiliki yang tinggi terhadap Indonesia
sebagai sebuah kesatuan negara.
Negara berdaulat, bersatu dan melebur merupakan ciri-ciri pesan yang mengutamakan
Tunggal Ika. Kemajemukan bangsa ada namun tidak dimaknai penting karena persatuan dan
kesatuan bangsa dan negara dianggap lebih penting dalam proses kemajuan bangsa (memodernkan bangsa).
9

Tinjauan Paradigma Interpretif dalam memandang Bhinneka Tunggal Ika.


Paradigma ini dapat dikatakan sebagai anti tesis dari paradigma positivis. Oleh
karenanya, maka terdapat pemaknaan berbeda dalam menginterpretasi pesan dalam semboyan
Bhinneka Tunggal Ika.
Bila paradigma positivis menekankan Tunggal Ika dalam Bhinneka Tunggal Ika, maka
paradigma interpretif lebih memaknai pentingnya Bhinneka dalam semboyan tersebut. Dapat
dikatakan dalam paradigma ini, multikulturalisme atau kemajemukan masyarakat atau
keberagaman atau pluralisme menjadi penting walaupun tetap disatukan dalam sebuah sistem
nasional. Paradigma ini menekankan adanya pengakuan dan penghargaan pada kesederajatan
perbedaan budaya. Perbedaan budaya adalah sebuah realitas sosial yang nyata dan dialami secara
berbeda oleh setiap masyarakat yang berbeda. Dengan keragaman suku bangsa dan ras dan
agama di Indonesia, maka dalam paradigma interpretif, budaya tidak dapat digeneralisasikan.
Selain budaya tidak dapat digeneralisir, dalam kerangka berpikir paradigma ini
penyeragaman nilai menjadi tidak masuk akal. Identitas nasional dalam kerangka berpikir ini
hanya akan tercapai bila bangsa Indonesia justru mengedepankan perbedaan budaya tersebut.
Menurut Wisnumurti (2010), multikulturalisme mengedepankan prinsip keterbukaan, kesetaraan,
keadilan dan penghormatan atas perbedaan, sangat sejalan dengan nilai-nilai Bhinneka Tunggal
Ika, oleh karena itu, menjadi sangat penting untuk dijadikan dasar dalam memperkuat solidaritas
sosial dan kebangsaan sebagai konstruksi dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.
Paradigma yang demikian sangat kental terasa ketika Indonesia memasuki masa
reformasi. Dalam masa ini, keragaman menjadi satu isu yang penting setelah selama tiga
dasawarsa masa orde baru isu keragaman seperti terpinggirkan, dikalahkan oleh isu persatuan,
kesatuan, keseragaman. Keragaman dalam masa reformasi ini terlihat dalam berbagai bidang.
Dalam bidang politik misalnya keragaman sangat kental terlihat dengan diberlakukannya
otonomi daerah sebagai tata kelola negara. Dalam bidang budaya keragaman diperlihatkan
terutama melalui diakuinya tahun baru suatu etnis sebagai hari libur nasional. Dalam bidang
pendidikan, keragaman dalam masa reformasi ditandai dengan tumbuh suburnya sekolah-sekolah
yang berwawasan komunitas dan lokalitas masing-masing tempat. Walaupun masih banyaknya
hambatan, namun Bhinneka Tunggal Ika yang menekankan keragaman seperti halnya paradigma
interpretif banyak dapat dilihat dalam masa reformasi.
10

Tinjauan Paradigma Kritis dalam memandang Bhinneka Tunggal Ika


Paradigma kritis memandang suatu realitas sosial sebagai realitas yang semu. Dalam
paradigma ini, suatu realitas sosial dianggap memiliki berbagai lapisan yang jika dikupas
semakin dalam maka akan terbongkar lapisan-lapisannya. Seperti yang telah disebutkan dalam
bagian sebelumnya, paradigma positivis menekankan universalisme dan keseragaman, sehingga
bila digunakan untuk menelaah Bhinneka Tunggal Ika maka penekanan Bhinneka Tunggal Ika
adalah pada Tunggal Ika atau satu dan seragam. Dan seperti juga telah disebutkan sebelumnya,
jika menggunakan paradigma interpretif, maka pembahasan mengenai Bhinneka Tunggal Ika
akan menitikberatkan pada Bhinneka-nya atau keragamannya. Namun apabila

Bhinneka

Tunggal Ika dikaji dengan menggunakan paradigma kritis, realitas yang berupa terjadi
penekanan pada Bhinneka atau realitas berupa penekanan pada Tunggal Ika hanyalah realitas
yang semu. Kedua realitas yang ada tersebut hanyalah lapisan paling luar dari apa yang terlihat
dan dirasakan.
Penggunaan paradigma kritis yang menganggap untuk memahami suatu realitas yang
diperlukan adalah membongkar realitas semu yang ada; sehingga dalam menelaah Bhinneka
Tunggal Ika akan membongkar realitas-realitas yang ada. Dengan menggunakan pendekatan
kritis ini, kondisi dimana penerapan Bhinneka Tunggal Ika lebih menekankan kesatuan dan
keseragaman dianggap sebagai satu lapisan terluar dari kenyataan atau realitas sosial yang
sesungguhnya terjadi. Dengan paradigma kritis ini, kondisi yang ada tersebut harus dibongkar
dengan mengajukan asumsi-asumsi yang mempertanyakan kondisi yang ada tersebut. Misalnya
saja jika kita melihat pada masa orde baru yang menekankan kesatuan dan penyeragaman, maka
harus dipertanyakan mengapa hal demikian terjadi, siapa yang mendapatkan keuntungan dengan
kondisi yang demikian itu, apakah mungkin kodisi demikian diciptakan negara untuk
memobilisasi rakyat demi pembangunan, dan lain sebagainya.
Apabila Bhinneka Tunggal Ika dalam satu masa dalam sejarah Indonesia ini dianggap
menekankan ke-bhinneka-annya, maka dengan paradigma kritis perlu pula dijelaskan mengapa
itu terjadi dan untuk kepentingan pihak atau kelompok mana kondisi demikan itu terjadi.
Misalnya dengan melihat pada masa reformasi dimana penekanan Bhinneka Tunggal Ika hanya
pada bhinneka-nya maka perlu dilihat mengapa hal ini terjadi, bisa saja kondisi demikian terjadi
11

karena negara memang melihat bahwa pada masa reformasi masyarakat sudah lelah dengan
penyeragaman sehingga apabila negara pada masa reformasi tetap memberlakukan
penyeragaman, maka tentangan akan banyak terjadi terhadap negara. Sebaliknya jika negara
lebih mengedepankan keragaman, maka masyarakat akan memihak pada negara, dan dengan
demikian negara akan memperoleh legitimasi dari rakyat.
Dari penjelasan yang ada

dapat terlihat bahwa paradigma kritis menekankan pada

pembongkaran realitas semu yang ada dengan bertujuan menyadari atau mengetahui realitas
sosial yang sesungguhnya.
Penutup
Pembahasan Bhinneka Tunggal Ika dengan menggunakan tiga paradigma klasik yang ada
yaitu paradigma positivis, paradigma interpretif, dan paradigma kritis memperlihatkan bahwa
semboyan negara kita bersifat multi-interpretasi. Terlepas dari masih banyaknya konflik yang
ada di negara ini, konsep Bhinneka Tunggal Ika memang bisa diinterpretasikan dari berbagai
paradigma.
Dengan menggunakan paradigma positivis, konsep Bhinneka Tunggal Ika akan lebih
menekankan pada kesatuan, keseragaman dan universalisme nilai-nilai yang ada. Dengan
menggunakan paradigma interpretif, maka Bhinneka Tunggal Ika akan lebih menekankan
perbedaan dan keragaman. Dengan menggunakan paradigma kritis, maka Bhinneka Tunggal Ika
akan membongkar kondis-kondisi ataupun realitas sosial yang ada dengan mempertanyakannya
lebih lanjut.
Tulisan ini tidak membahas mengenai kondisi mana yang ideal ataupun paradigma mana
yang lebih baik digunakan dalam menjelaskan Bhinneka Tunggal Ika. Pada akhirnya penulis
merasa bahwa kesadaran mengenai multi-interpretasi dari pesan yang terkandung dalam
Bhinneka Tunggal Ika adalah hal terpenting dan patut diwacanakan lebih luas.

12

PUSTAKA
Buku.
Bagir, Zainal Abidin, AA GN Ari Dwipayana, Mustaghfiroh Rahayu, Trisno Sutanto, Farid
Wajidi. 2011. Pluralisme Kewargaan: Arah Baru Politik Keragaman di Indonesia.
Bandung: Mizan Media Utama
Herdiawanto, Heri dan Jumanta Hamdayama. 2010. Cerdas, Kritis dan Aktif Berwarganegara.
Jakarta: Penerbit Erlangga
Neuman, Lawrence W. 2007. Basic of Social Research: Qualitative and Qualitative Approaches
(2nd ed.). Boston: Pearson Education Inc.
Rahman, H. Darmawan M, dkk. 2010. Makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai Perekat Kembali
Budaya Ke-Indonesia-an. Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
Salim, Agus, penyunting. 2001. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara
Wacana Yogya
Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: LPFEUI
Makalah.
Setyani, Turita Indah. 2009. Bhinneka Tunggal Ika sebagai Pembentuk Jati Diri Bangsa.
Dipresentasikan dalam Konferensi Nasional dan Pembentukan Organisasi Profesi
Pengajar, Bahasa, Sastra, Budaya, dan Seni Daerah se-Indonesia, Yogyakarta, 8-9
Agustus 2009.
Website.
Suparlan, Parsudi. 2002. Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural, dipresentasikan
dalam

Simposium

Internasional

Jurnal

ANTROPOLOGI

INDONESIA

ke-3:

Membangun Kembali Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika: Menuju Masyarakat


Multikultural, Universitas Udayana, Denpasar, Bali, 1619 Juli 2002 dalam
http://www.fisip.ui.ac.id/antropologi/httpdocs/jurnal/2002/69/10brt3psu69.pdf diakses 24
Oktober 2011 00: 14
Suparlan, Parsudi. 2010. Masyarakat Majemuk, Masyarakat Multikultural, dan Minoritas:
Memperjuangkan Hak-hak Minoritas, dipresentasikan dalam Workshop Yayasan
13

Interseksi Hak-hak Minoritas dalam Landscape Multikultural, Mungkinkah di


Indonesia? Wisma PKBI, 10 Agustus 2004, 14.00-17.00 bbwi. Jakarta: The Interseksi
Foundation dalam
http://www.interseksi.org/publications/essays/articles/masyarakat_majemuk.html
diakses 24 Oktober 2011, 00:15
____________.

2010.

Persatuan

dan

Kesatuan

Bangsa

sosbud.kompasiana.com/2010/06/14/persatuan-dan-kesatuan-bangsa-pengantar/

dalam
diakses

24 Oktober 2011, 00: 17


Wisnumurti, Anak Agung Gede Oka. Kesadaran Multicultural dalam Memperkokoh Persatuan
dan Kesatuan Bangsa dalam http://www.yayasankorpribali.org/artikel-dan-berita/58kesadaran-multicultural-dalam-memperkokoh-persatuan-dan-kesatuan-bangsa.html
diakses 24 Oktober 2011, 00: 20

14

Anda mungkin juga menyukai