Anda di halaman 1dari 5

Hukum Jual Beli Kucing dan Anjing Menurut Islam

Hukum Jual Beli Kucing dan Anjing Menurut Islam, Pandangan Hukum Agama seputar Bisnis
dan Proses Akad pindah tangan hewan kucing perlu di cermati. Pada perkembangan globalisasi
saat ini anjing merupakan aset yang sangat menguntungkan bagi orang-orang yang memiliki
usaha dalam bidang bisnis ternak anjing, selain itu juga pada saat ini anjing merupakan sahabat
dari manusia. Anjing adalah mamalia karnivora yang telah mengalami domestikasi dari srigala
sejak tahun 15.000 tahun yang lalu atau mungkin 100.000 tahun yang lalu berdasarkan bukti
genetic fosil dan tes DNA.
Dalam hal ini kita sebagai ummat muslim diperintahkan oleh Allah SWT, dalam firmanya : (QS.Al
Baqarah:198)
Artinya : Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu.
Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam. Dan
berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan
sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.
Yaitu sebagai ummat islam kita di seru untuk mencari karunia atau rezki yang sesuai degan
syariat agama dan tidak melanggar batasan-batasan yang telah di atur oleh Allah SWT.
Jumhur ulama berpendapat bahwa dibolehkan menjual seekor kucing, diantara mereka adalah
para ulama madzhab yang empat. Sementara sebagian ahli ilmu mengharamkannya, diantaranya
az Zhahiriyah, juga dinukil dari Abu Hurairoh, Mujahid dan Jabir bin Zaid oleh Ibnul Mundzir, serta
dinukil dari Thawus oleh al Mundziriy. Pendapat inilah yang paling tepat yang ditunjukkan oleh
nash, diriwayatkan oleh Muslim dari Abu az Zubeir berkata,Aku bertanya kepada Jabir tentang
uang dari (hasil penjualan) anjing dan kucing? Dia berkata,Hal itu telah dilarang oleh Nabi
Muhammad SAW.
Abu Daud meriwayatkan bahwa Nabi saw melarang uang dari (hasil penjualan) anjing dan kucing.
Baihaqi juga meriwayatkan bahwa Rasulullah saw melarang memakan (daging) kucing dan
melarang uang (penjualan) nya.
Sebagian ahli ilmu telah melemahkan hadits-hadits tersebut akan tetapi pendapat mereka ini
tertolak. Imam an Nawawi didalam al Majmu mengatakan,Adapun apa yang disebutkan oleh al
Khottobi dan Ibnul Mundzir bahwa hadits itu lemah maka tidaklah benar karena hadits tersebut
terdapat didalam shahih Muslim dengan sanad yang shahih
Al Baihaqi didalam as Sunan memberikan jawaban terhadap jumhur,Bahwa sebagian ahli ilmu
menjadikan hadits tersebut untuk kucing apabila kucing itu liar yang tidak bisa dijinakkan, diantara
mereka menganggap bahwa hal itu terjadi pada permulaan islam ketika kucing itu dianggap najis
kemudian ketika liur kucing itu diangga suci maka harganya boleh diambil, dan tidak satu pun dari
kedua pendapat itu yang memiliki dalil yang jelas.
Ibnul Qoyyim meyakini akan keharaman penjualannya didalam Zaad al Maad dan
mengatakan,Demikianlah fatwa Abu Hurairoh yang juga pendapat Thawus, Mujahid bin Zaid,
seluruh ahli Zhahir dan salah satu riwayat dari Ahmad, serta pendapat yang dipilih oleh Abu Bakar,
dan inilah pendapat yang benar berdasarkan hadits yang shahih dan tidak adanya pertentangan
didalamnya mewajibkan untuk berpendapat seperti ini.
Ibnul Mundziriy berkata,Sesugguhnya terdapat riwayat dari Nabi saw tentang larangan dari
menjualnya dan penjualannnya adalah kebatilan dan jika (tidak ada larangan) maka boleh. Dan
dia telah mengetahui bahwa hadits tersebut adalah betul maka seharusnya madzhab Ibnul Mundzir
mengharamkan penjualannya.
Islam adalah agama yang mencintai kebersihan sehingga mengingatkan bahayanya memiliki
anjing, bahkan melarang memelihara anjing kecuali untuk kepentingan penjagaan keamanan atau
pertanian. Tidak sedikit nash hadits yang menyatakan bahwa malaikat rahmat tidak akan
memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan pahala pemilik anjing akan susut atau
berkurang.
Rasulullah bersabda (yang artinya) : Sesungguhnya malaikat (rahmat) tidak akan memasuki
rumah yang didalamnya terdapat anjing [Hadits sahih ditakhrij oleh Thabrani dan Imam
Dhiyauddin dari Abu Umamah Radhiyallahu 'anhu. Lihat pula Shahihul Jami' No. 1962]
Rasulullah bersabda (yang artinya) : Sesungguhnya malaikat tidak akan memasuki rumah yang
didalamnya terdapat anjing dan gambar (patung) [Hadits sahih ditakhrij oleh Ibnu Majah dan lihat
Shahihul Jami' No. 1961]
Ibnu Hajar berkata : Ungkapan malaikat tidak akan memasuki. menunjukkan malaikat secara
umum (malaikat rahmat, malaikat hafazah, dan malaikat lainnya). Tetapi, pendapat lain
mengatakan : Kecuali malaikat hafazah, mereka tetap memasuki rumah setiap orang karena
tugas mereka adalah mendampingi manusia sehingga tidak pernah berpisah sedetikpun dengan
manusia. Pendapat tersebut dikemukakan oleh Ibnu Wadhdhah, Imam Al-Khaththabi.
Sementara itu, yang dimaksud dengan ungkapan rumah pada hadits di atas adalah tempat tinggal
seseorang, baik berupa rumah, gubuk, tenda, dan sejenisnya. Sedangkan ungkapan anjing pada
hadits tersebut mencakup semua jenis anjing. Imam Qurthubi berkata : Telah terjadi ikhtilaf di

antara para ulama tentang sebab-sebabnya malaikat rahmat tidak memasuki rumah yang
didalamnya terdapat anjing. Sebagian ulama mengatakan karena anjing itu najis, yang lain
mengatakan bahwa ada anjing yang diserupai oleh setan, sedangkan yang lainnya mengatakan
karena di tubuh anjing itu menempel najis.
Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu anha mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa
sallam telah mengadakan perjanjian dengan Jibril bahwa Jibril akan datang. Ketika waktu
pertemuan itu tiba, ternyata Jibril tidak datang. Sambil melepaskan tongkat yang dipegangnya,
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Allah tidak mungkin mengingkari janjinya,
tetapi mengapa Jibril belum datang ? Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menoleh,
ternyata beliau melihat seekor anak anjing di bawah tempat tidur. Kapan anjing ini masuk ?
tanya beliau. Aku (Aisyah) menyahut : Entahlah. Setelah anjing itu dikeluarkan, masuklah
malaikat Jibril. Mengapa engkau terlambat ? tanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada
Jibril. Jibril menjawab: Karena tadi di rumahmu ada anjing. Ketahuilah, kami tidak akan memasuki
rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar (patung)
Malaikat rahmat pun tidak akan mendampingi suatu kaum yang terdiri atas orang-orang yang
berteman dengan anjing. Abu Haurairah Radhiyallahu anhu mengatakan bahwa Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : Malaikat tidak akan menemani kelompok
manusia yang di tengah-tengah mereka terdapat anjing. [Hadits Riwayat Muslim]
Imam Nawawi mengomentari hadits tersebut : Hadits di atas memberikan petunjuk bahwa
membawa anjing dan lonceng pada perjalanan merupakan perbuatan yang dibenci dan malaikat
tidak akan menemani perjalanan mereka. Sedangkan yang dimaksud dengan malaikat adalah
malaikat rahmat (yang suka memintakan ampun) bukan malaikat hafazhah yang mencatat amal
manusia.
Dalam perdangangan yang sering dilakukan manusia, untuk mencari nafkah bagi dirinya dan
keluarganya, ada diantara mereka berdagang yang sesuai dengan tuntunan Islam namun tidak
sedikit yang melaksanakan perdangan yang dilarang oleh syariat, diantara mata pencarian yang
dilarang dalam Islam adala menperjual belikan Anjing dan Kucing.
Dalam kasus ini kita sering melihat dan menyaksikan perdagangan kucing dan anjing yang telah
menjadi hal yang biasa di kalangan kita, seperti kita lihat di pasar-pasar hewan banyak kita jumpai
penjualan binatang kucing dan anjing, jadi kita sebagai ummat muslim harus mengetahui secara
mendalam mengenai larangan memperjual belikan binatang ini, oleh karena itu pemakalah akan
membahas tentang jual beli menurut syariat islam dan hokum menjual belikan kucing dan anjing
sekaligus nilai harta hasil menjual kucing dan anjing.
JUAL BELI MENURUT ISLAM
Pengertian Menurut etimologi, jual beli adalah pertukaran sesuatu dengan
sesuatu (yang lain). Kata lain dari jual beli adalah al-bai, asy-syira, al- mubadah, dan at-tijarah
Menurut terminologi, para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikannya, antara lain :
a.
Menurut ulama Hanafiyah: Jual beli adalah pertukaran harta (benda) dengan harta
berdasarkan cara khusus (yang dibolehkan).
b.
Menurut Imam Nawawi dalam Al-Majmu : Jual beli adalah pertukaran harta dengan harta
untuk kepemilikan.
c.
Menurut Ibnu Qudamah dalam kitab Al-mugni : Jual beli adalah pertukaran harta dengan
harta, untuk saling menjadikan milik.
Pengertian lainnya Jual beli ialah persetujuan saling mengikat antara penjual (yakni pihak yang
menyerahkan/menjual barang) dan pembeli (sebagai pihak yang membayar/membeli barang yang
dijual). Pada masa Rasullallah SAW harga barang itu dibayar dengan mata uang yang terbuat dari
emas (dinar) dan mata uang yang terbuat dari perak (dirham).
Landasan atau dasar hukum mengenai jual beli ini di syariatkan berdasarkan Al-Quran, yang mana
Allah Swt berfirman dalam surat Al-Baqarah, 2: 198 :
Artimya : Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu.
Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam [1]. Dan
berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan
sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.
Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda "Dua orang yang saling berjual beli punya hak untuk
saling memilih selama mereka tidak saling berpisah, maka jika keduianya saling jujur dalam jual
beli dan menerangkan keadaan barang-barangnya (dari aib dan cacat), maka akan diberikan
barokah jual beli bagi keduanya, dan apabila keduanya saling berdusta dan saling
menyembunyikan aibnya maka akan dicabut barokah jual beli dari keduanya" (Diriwayatkan oleh
Abu Dawud dan Nasa'i, dan shahihkan oleh Syaikh Al Bany dalam [2].
B.
HUKUM MENJUAL BELIKAN KUCING DAN ANJING
Berbagai Aktivitas perdangangan dilakukan manusia saat ini untuk mencari nafkah bagi dirinya
dan keluarganya, namun demikian ada diantara mereka berdagang sesuai dengan tuntunan Islam

namun tidak sedikit yang melaksanakan perdangan yang dilarang oleh syariat, diantara mata
pencarian yang dilarang dalam Islam adalah menperjual belikan Anjing dan Kucing. Para ulama
mengharamkan jual beli benda benda yang pengunaannya dibatasi, seperti Anjing, Kucing, walau
pada prinsipnya syariat memperbolehkan memiliki dan memelihara Anjing namun hal itu dibatasi
missalnya Anjing boleh dipelihara untuk menjaga kebun atau untuk berburu dalam sebuah hadis
rasululloh bersabda:
Barang siapa yang memelihara Anjing selain Anjing untukberburu dan menjaga tanaman maka
sesunguhnya akan berkurang pahalanya setia hari satu Qiran(satu Qiran= sebesar Bukit uhud)
hadis riwayat Buhkari & Muslim)
Melalui hadist ini tidak dibenarkan untuk menperjual belikan anjing walaupun itu adalah anjing
yang telah terlatih. Ketika tidak boleh atau haram memperjual belikan anjing maka hasil dari
penjualannya menjadi haram dan begitu juga halnya dengan kucing, walaupun kucing telah
menjadi sahabat bagai banyak orang dan berguna untuk menangkap tikus dan hewan kecil lainya,
Ulama berpendapat bahwa jual beli kucing itu haram hukumnya : Bahwa Nabi Melarang Penjualan
Kucing HR. Imam Muslim
Dari Abu Juhaifah, beliau berkata,
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang hasil penjualan darah, hasil penjualan anjing
dan upah dari budak wanita (yang berzina). Beliau juga melaknat orang yang mentato dan yang
meminta ditato, memakan riba (rentenir) dan yang menyerahkannya (nasabah), begitu pula
tukang gambar (makhluk yang memiliki ruh). (HR. Bukhari)
Dari Rofi bin Khodij, beliau mendengar sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

Artinya :Sejelek-jelek penghasilan adalah upah pelacur, hasil penjualan anjing dan penghasilan
tukang bekam. (HR. Muslim)
Juga dari Rofi bin Khodij, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Artinya :Hasil penjualan anjing adalah penghasilan yang buruk. Upah pelacur juga buruk. Begitu
pula penghasilan tukang bekam adalah khobits (jelek). (HR. Muslim)
Dari Abu Az Zubair, beliau berkata bahwa beliau pernah menanyakan pada Jabir mengenai hasil
penjualan anjing dan kucing? Lalu Jabir mengatakan,
Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang keras hal ini. (HR. Muslim)
Abu Muhammad Ibnu Hazm mengatakan bahwa yang dimaksud dengan zajar dalam hadits di atas
adalah larangan keras.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang dari hasil penjualan anjing dan kucing. (HR. Abu
Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Hukum menjual belikan kucing adalah haram berdasarkan dalil hadits Nabi SAW dan kaidah fiqih
(al-qawaid al-kulliyah). Dalil hadits Nabi SAW, diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah RA
bahwasanya Nabi SAW telah melarang memakan kucing dan melarang pula memakan harga
kucing (nahaa [an-nabiyyu] an akli al-hirrah wa an akli tsamaniha) (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan
Al-Hakim, hadits shahih [3].
Hadits Nabi SAW itu menjadi dalil haramnya memakan kucing dan memperjual-belikan kucing. Jadi
kita diharamkan memperdagangkan kucing sebagaimana kita diharamkan memakan daging kucing
(Tentang haramnya memakan kucing [4].
Adapun dasar dari kaidah fiqih, adalah kaidah fiqih yang berbunyi :
Kullu maa hurrimaa ala al-ibaad fabaiuhu haraam (Segala sesuatu yang diharamkan atas hamba,
maka memperjual belikannya adalah haram juga) [5].
Kaidah ini menjelaskan bahwa apa saja yang telah diharamkan syara, maka diharamkan pula
memperjual belikannya. Baik sesuatu itu diharamkan memakannya (seperti babi, darah, bangkai,
singa, elang, anjing), diharamkan meminumnya (seperti khamr), diharamkan membuatnya (seperti
patung atau gambar makhluk bernyawa), atau diharamkan pada segi-segi yang lainnya.
Ketika sudah jelas bahwa syara mengharamkan kita untuk memakan daging kucing, maka haram
pula menjual belikan kucing berdasarkan kaidah fiqih tersebut. Dengan demikian, jelaslah bahwa
menjual belikan kucing adalah haram berdasarkan dalil hadits Nabi SAW dan kaidah fiqih tersebut.
Jumhur ulama berpendapat bahwa dibolehkan menjual seekor kucing, diantara mereka adalah para
ulama madzhab yang empat. Sementara sebagian ahli ilmu mengharamkannya, diantaranya az
Zhahiriyah, juga dinukil dari Abu Hurairoh, Mujahid dan Jabir bin Zaid oleh Ibnul Mundzir, serta
dinukil dari Thawus oleh al Mundziriy. Pendapat inilah yang paling tepat yang ditunjukkan oleh
nash, diriwayatkan oleh Muslim dari Abu az Zubeir berkata,Aku bertanya kepada Jabir tentang
uang dari (hasil penjualan) anjing dan kucing? Dia berkata,Hal itu telah dilarang oleh Nabi saw.
Abu Daud meriwayatkan bahwa Nabi saw melarang uang dari (hasil penjualan) anjing dan kucing.
Baihaqi juga meriwayatkan bahwa Rasulullah saw melarang memakan (daging) kucing dan
melarang uang (penjualan) nya.
Sebagian ahli ilmu telah melemahkan hadits-hadits tersebut akan tetapi pendapat mereka ini

tertolak. Imam an Nawawi didalam al Majmu mengatakan,Adapun apa yang disebutkan oleh al
Khottobi dan Ibnul Mundzir bahwa hadits itu lemah maka tidaklah benar karena hadits tersebut
terdapat didalam shahih Muslim dengan sanad yang shahih
Al Baihaqi didalam as Sunan memberikan jawaban terhadap jumhur,Bahwa sebagian ahli ilmu
menjadikan hadits tersebut untuk kucing apabila kucing itu liar yang tidak bisa dijinakkan, diantara
mereka menganggap bahwa hal itu terjadi pada permulaan islam ketika kucing itu dianggap najis
kemudian ketika liur kucing itu diangga suci maka harganya boleh diambil, dan tidak satu pun dari
kedua pendapat itu yang memiliki dalil yang jelas.
Ibnul Qoyyim meyakini akan keharaman penjualannya didalam Zaad al Maad dan
mengatakan,Demikianlah fatwa Abu Hurairoh yang juga pendapat Thawus, Mujahid bin Zaid,
seluruh ahli Zhahir dan salah satu riwayat dari Ahmad, serta pendapat yang dipilih oleh Abu Bakar,
dan inilah pendapat yang benar berdasarkan hadits yang shahih dan tidak adanya pertentangan
didalamnya mewajibkan untuk berpendapat seperti ini.
Ibnul Mundziriy berkata,Sesugguhnya terdapat riwayat dari Nabi saw tentang larangan dari
menjualnya dan penjualannnya adalah kebatilan dan jika (tidak ada larangan) maka boleh. Dan
dia telah mengetahui bahwa hadits tersebut adalah betul maka seharusnya madzhab Ibnul Mundzir
mengharamkan penjualannya [6].
Itulah beberapa dalil yang menjelaskan jual beli kucing dan anjing. Jadi, hadits-hadits di atas
menunjukkan terlarangnya jual beli anjing dan kucing, sehingga hasil penjualannya tidak halal.
Apakah Seluruh Jenis Anjing dan Kucing Termasuk Larangan Di Atas?
Memang ada perselisihan pendapat dalam masalah ini. Sebagian ulama membolehkan hasil
penjualan anjing yang memiliki kegunaan seperti anjing yang digunakan untuk berburu, menjaga
hewan ternak dan menjaga tanaman. Namun sebagian ulama melarang secara mutlak hal ini
berdasarkan hadits-hadits yang telah disebutkan di atas.
Begitu juga dengan kucing, sebagian ulama memperbolehkan jual beli hewan ini karena adanya
kegunaan untuk memburu tikus, serangga, cecak, kecoak, dan lainnya. Namun berdasarkan haditshadits di atas di atas ulama lain semacam Ibnul Qayyim dalam Zaadul Maad melarang secara
mutlak penjualan kucing.
Jadi, anjing dan kucing tidak boleh diperjual belikan. hewan ini bisa diperoleh dengan jalan lain
semacam melalui pemberian secara cuma-cuma, tanpa melalui proses jual beli.
isi Artikel secara umum : Cara Mencetak kucing juara
C. HUKUM MEMELIHARA KUCING ATAU ANJING
Islam adalah agama yang mencintai kebersihan sehingga mengingatkan bahayanya memiliki
anjing, bahkan melarang memelihara anjing kecuali untuk kepentingan penjagaan keamanan atau
pertanian. Tidak sedikit nash hadits yang menyatakan bahwa malaikat rahmat tidak akan
memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan pahala pemilik anjing akan susut atau
berkurang.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda (yang artinya) : Malaikat tidak akan
memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing , juga tidak memasuki rumah yang didalamnya
terdapat gambar (patung) [Hadits sahih ditakhrij oleh Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi,
Nasa'i dan Ibnu Majah yang semuanya dari Abu Thalhah Radhiyallahu 'anhu [7].
Rasulullah bersabda (yang artinya) : Sesungguhnya malaikat (rahmat) tidak akan memasuki
rumah yang didalamnya terdapat anjing [Hadits sahih ditakhrij oleh Thabrani dan Imam
Dhiyauddin dari Abu Umamah Radhiyallahu 'anhu.
Rasulullah bersabda (yang artinya) : Sesungguhnya malaikat tidak akan memasuki rumah yang
didalamnya terdapat anjing dan gambar (patung) [Hadits sahih ditakhrij oleh Ibnu Majah .
Ibnu Hajar berkata : Ungkapan malaikat tidak akan memasuki. menunjukkan malaikat secara
umum (malaikat rahmat, malaikat hafazah, dan malaikat lainnya). Tetapi, pendapat lain
mengatakan : Kecuali malaikat hafazah, mereka tetap memasuki rumah setiap orang karena
tugas mereka adalah mendampingi manusia sehingga tidak pernah berpisah sedetikpun dengan
manusia. Pendapat tersebut dikemukakan oleh Ibnu Wadhdhah, Imam Al-Khaththabi, dan yang
lainnya.
Sementara itu, mengenai hukum yang berkaitan dengan hasil jual beli anjing (harga
anjing), terdapat beberapa nash yang mengharamkan, diantaranya adalah sebagai berikut. Abi
Juhaifah Radhiyallahu anhu mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah
melarang hasil yang diperoleh dari jual beli anjing, darah, dan usaha pelacuran [Hadits shahih
ditakhrijkan oleh Bukhari juga ditakhrijkan dalam Ahaditsul Buyu' oleh Imam ay-Thayalisi, Imam
Ahmad, juga oleh Baihaqi [8].
KESIMPULAN
Pengertian Menurut etimologi, jual beli adalah pertukaran sesuatu dengan sesuatu (yang lain).

Kata lain dari jual beli adalah al-bai, asy-syira, al- mubadah, dan at-tijarah, Menurut ulama
Hanafiyah: Jual beli adalah pertukaran harta (benda) dengan harta berdasarkan cara khusus (yang
dibolehkan
Hukum menjual belikan anjing dan kucing adalah haram berdasarkan dalil hadits Nabi SAW dan
kaidah fiqih (al-qawaid al-kulliyah). Dalil hadits Nabi SAW, diriwayatkan dari sahabat Jabir bin
Abdillah RA bahwasanya Nabi SAW telah melarang memakan kucing dan melarang pula memakan
dan menafkahi keluarga hasil dari penjualan anjing dan kucing.
Islam adalah agama yang mencintai kebersihan sehingga mengingatkan bahayanya memiliki
anjing, bahkan melarang memelihara anjing kecuali untuk kepentingan penjagaan keamanan atau
pertanian. Bahkan malaikat rahmat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat
anjing , sedangkan memelihara kucing dalam islam diperbolehkan.
DAFTAR PUSTAKA
AL-Quraan Al Karim
Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal bin As Sayid Salim, Al Maktabah At Taufiqiyah
Sifat Perniagaan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Muhammad Arifin Badri, MA., Pustaka Darul
Ilmi Fathul Bari, Ibnu Hajar, Dar Al Marifah Beirut
(Sumber :http://alilmu-online.blogspot.com/2009/12/syariah-islam-hukum-jual-eli-kucing.html)
Hukum Jual Beli Kucing Adalah Haram (Sumber
http://rahma02.wordpress.com/2007/10/09/hukum-jual-beli-kucing/ dan
http://mujimanjawa.blogspot.com/2012/04/hukum-jual-beli-anjing-dan-kucing.html)
SARAN
Adapun manfaat yang kita dapat ambil dari penulisan makalah ini adalah, kita bisa mengetahui
bahwa sanya menjual belikan kucing maupun anjing apapun tujuannya, baik untuk menjaga rumah
atau keamanan itu tidak lah baik, selain itu juga anjing memiliki najis yang apabila terkena kulit
maka harus di basuh dengan cara yang sesuai dengan syariat islam, oleh karena itu bagi rekan
rekan yang ingin berniat menjual belikan binatang tersebut lebih baik pikir dahulu manfaat dan
mudharatnya bagi kita sebagai ummat muslim.