Anda di halaman 1dari 26

Air Sadah

Pernahkah anda memperhatikan dasar ketel yang selalu anda gunakan untuk memasak air?
Semakin lama dasar ketel tersebut akan semakin tebal. Mengapa? Kerak yang terbentuk pada
dasar ketel akan menyebabkan penghantaran panas terhambat, sehingga untuk memanaskan
air akan membutukan pemanasan yang lebih lama.
Kerak yang terbentuk pada dasar ketel disebabkan oleh air sadah. Air sadah adalah air yang
mengandung ion Ca2+ atau Mg2+. Air sadar bukan merupakan air yang berbahaya, karena
memang ion-ion tersebut dapat larut dalam air. Akan tetapi dengan kadar Ca2+ yang tinggi
akan menyebabkan air menjadi keruh.
Walaupun tidak berbahaya, ternyata air sadah dapat menyebabkan beberapa kerugian, antara
lain :
Sabun menjadi kurang berbuih. Hal ini terjadi karena ion Ca2+ atau Mg2+ dapat bereaksi
dengan sabun membentuk endapan.
Ca2+ (aq) + 2RCOONa (aq) > Ca(RCOO)2 (s) + 2Na+ (aq)
Dengan terbentuknya endapan, maka fungsi sabun sebagai pengikat kotoran menjadi kurang
atau bahkan tidak efektif. Sabun akan berbuih kembali setelah semua ion Ca2+ atau Mg2+
yang terdapat dalam air mengendap. Lain halnya dengan detergen, detergen tidak bereaksi
dengan ion Ca2+ atau Mg2+ sehingga detergen tidak terpengaruh oleh air sadah.
Air sadah dapat menyebabkan terbentuknya kerak pada dasar ketel yang selalu
digunakan untuk memanaskan air. Sehingga untuk memanaskan air tersebut diperlukan
pemanasan yang lebih lama. Hal ini merupakan pemborosan energi. Timbulnya kerak pada
pipa uap dapat menyebabkan penyumbatan sehingga dikhawatirkan pipa tersbut akan
meledak.
Air sadah digolongkan menjadi dua jenis, berdasarkan jenis anion yang diikat oleh kation
(Ca2+ atau Mg2+), yaitu air sadah sementara dan air sadah tetap.
Air sadah sementara
Air sadah sementara adalah air sadah yang mengandung ion bikarbonat (HCO3-), atau boleh
jadi air tersebut mengandung senyawa kalsium bikarbonat (Ca(HCO3)2) dan atau magnesium
bikarbonat (Mg(HCO3)2). Air yang mengandung ion atau senyawa-senyawa tersebut disebut
air sadah sementara karena kesadahannya dapat dihilangkan dengan pemanasan air, sehingga
air tersebut terbebas dari ion Ca2+ dan atau Mg2+. Dengan jalan pemanasan senyawasenyawa tersebut akan mengendap pada dasar ketel. Reaksi yang terjadi adalah : Ca(HCO3)2
(aq) > CaCO3 (s) + H2O (l) + CO2 (g)
Air sadah tetap
Air sadah tetap adalah air sadah yang mengadung anion selain ion bikarbonat, misalnya dapat
berupa ion Cl-, NO3- dan SO42-. Berarti senyawa yang terlarut boleh jadi berupa kalsium
klorida (CaCl2), kalsium nitrat (Ca(NO3)2), kalsium sulfat (CaSO4), magnesium klorida
(MgCl2), magnesium nitrat (Mg(NO3)2), dan magnesium sulfat (MgSO4). Air yang
mengandung senyawa-senyawa tersebut disebut air sadah tetap, karena kesadahannya tidak
bisa dihilangkan hanya dengan cara pemanasan. Untuk membebaskan air tersebut dari

kesadahan, harus dilakukan dengan cara kimia, yaitu dengan mereaksikan air tersebut dengan
zat-zat kimia tertentu. Pereaksi yang digunakan adalah larutan karbonat, yaitu Na2CO3 (aq)
atau K2CO3 (aq). Penambahan larutan karbonat dimaksudkan untuk mengendapkan ion
Ca2+ dan atau Mg2+.
CaCl2 (aq) + Na2CO3 (aq) > CaCO3 (s) + 2NaCl (aq)
Mg(NO3)2 (aq) + K2CO3 (aq) > MgCO3 (s) + 2KNO3 (aq)
Dengan terbentuknya endapan CaCO3 atau MgCO3 berarti air tersebut telah terbebas dari ion
Ca2+ atau Mg2+ atau dengan kata lain air tersebut telah terbebas dari kesadahan.
Pada industri yang menggunakan ketel uap, air yang digunakan harus terbebas dari
kesadahan. Proses penghilangan kesadahan air yang sering dilakukan pada industri-industri
adalah melalui penyaringan dengan menggunakan zat-zat sebagai berikut :
1. Resin pengikat kation dan anion.
Kesadahan ini umumnya dihilangkan menggunakan resin penukar ion. Resin pelunak
air komersial dapat digunakan dalam skala kecil, meskipun demikian tidak efektif digunakan
untuk sekala besar. Resin adalah zat yang punya pori yang besar dan bersifat sebagai penukar
ion yang berasal dari polysterol, atau polyakrilat yang berbentuk granular atau bola kecil
dimana mempunyai struktur dasar yang bergabung dengan grup fungsional kationik, non
ionik/anionik atau asam. Sering kali resin dipakai untuk menghilangkan molekul yang besar
dari air misalnya asam humus, liqnin, asam sulfonat. Untuk regenerasi dipakai garam alkali
atau larutan natrium hidroksida, bisa juga dengan asam klorida jika dipakai resin dengan sifat
asam. Dalam regenerasi itu dihasilkan eluen yang mengandung organik dengan konsentrasi
tinggi. Untuk proses air minum sampai sekarang hunya dipakai resin dengan sifat anionik.
Resin penukar ion sintetis merupakan suatu polimer yang terdiri dari dua bagian yaitu
struktur fungsional dan matrik resin yang sukar larut. Resin penukar ion ini dibuat melalui
kondensasi phenol dengan formaldehid yang kemudian diikuti dengan reaksi sulfonasi untuk
memperoleh resin penukar ion asam kuat.
Sedangkan untuk resin penukar ion basa kuat diperoleh dengan mengkondensasikan
phenilendiamine dengan formaldehid dan telah ditunjukkan bahwa baik resin penukar kation
dan resin penukar anion hasil sintesis ini dapat digunakan untuk memisahkan atau mengambil
garam garam.
Pada umumnya senyawa yang digunakan untuk kerangka dasar resin penukar ion
asam kuat dan basa kuat adalah senyawa polimer stiren divinilbenzena. Ikatan kimia pada
polimer ini amat kuat sehingga tidak mudah larut dalam keasaman dan sifat basa yang tinggi
dan tetap stabil pada suhu diatas 150oC.
Polimer ini dibuat dengan mereaksikan stiren dengan divinilbenzena, setelah
terbentuk kerangka resin penukar ion maka akan digunakan untuk menempelnya gugus ion
yang akan dipertukarkan.
Resin penukar kation dibuat dengan cara mereaksikan senyawa dasar tersebut dengan
gugus ion yang dapat menghasilkan (melepaskan) ion positif. Gugus ion yang biasa dipakai
pada resin penukar kation asam kuat adalah gugus sulfonat dan cara pembuatannya dengan
sulfonasi polimer polistyren divinilbenzena (matrik resin).

Resin penukar on yang direaksikan dengan gugus ion yang dapat melepaskan ion
negatif diperoleh resin penukar anion. Resin penukar anion dibuat dengan matrik yang sama
dengan resin penukar kation tetapi gugus ion yang dimasukkan harus bisa melepas ion
negatif, misalnya N (CH3)3+ atau gugus lain atau dengan kata lain setelah terbentuk
kopolimer styren divinilbenzena (DVB), maka diaminasi kemudian diklorometilasikan untuk
memperoleh resin penukar anion.
Gugus ion dalam penukar ion merupakan gugus yang hidrofilik (larut dalam air). Ion
yang terlarut dalam air adalah ion ion yang dipertukarkan karena gugus ini melekat pada
polimer, maka ia dapat menarik seluruh molekul polimer dalam air, maka polimer resin ini
diikat dengan ikatan silang (cross linked) dengan molekul polimer lainnya, akibatnya akan
mengembang dalam air.
Mekanisme pertukaran ion dalam resin meskipun non kristalisasi adalah sangat mirip
dengan pertukaran ion- ion kisi kristal. Pertukaran ion dengan resin ini terjadi pada
keseluruhan struktur gel dari resin dan tidak hanya terbatas pada efek permukaan. Pada resin
penukar anion, pertukaran terjadi akibat absorbsi kovalen yang asam. Jika penukar anion
tersebut adalah poliamin, kandungan amina resin tersebut adalah ukuran kapasitas total
pertukaran.
Dalam proses pertukaran ion apabila elektrolit terjadi kontak langsung dengan resin
penukar ion akan terjadi pertukaran secara stokiometri yaitu sejumlah ion ion yang
dipertukarkan dengan ion ion yang muatannya sama akan dipertukarkan dengan ion ion
yang muatannya sama pula dengan jumlah yang sebanding.
Material penukar ion yang utama berbentuk butiran atau granular dengan struktur dari
molekul yang panjang (hasil co-polimerisasi), dengan memasukkan grup fungsional dari
asam sulfonat, ion karboksil. Senyawa ini akan bergabung dengan ion pasangan seperti Na+,
OH atau H+. Senyawa ini merupakan struktur yang porous. Senyawa ini merupakan penukar
ion positif (kationik) untuk menukar ion dengan muatan elektrolit yang sama (positif)
demikian sebaliknya penukar ion negatif (anionik) untuk menukar anion yang terdapat di
dalam air yang diproses di dalam unit Ion Exchanger.
Proses pergantian ion bisa reversible (dapat balik), artinya material penukar ion
dapat diregenerasi. Sebagai contoh untuk proses regenerasi material penukar kationik bentuk
Na+ dapat diregenerasi dengan larutan NaCl pekat, bentuk H+ diregenerasi dengan larutan HCl
sedangkan material penukar anionik bentuk OH dapat diregenerasi dengan larutan NaOH
(lihat buku panduan dari pabrik yang menjual material ini).
Regenerasi adalah suatu peremajaan, penginfeksian dengan kekuatan baru terhadap
resin penukar ion yang telah habis saat kerjanya atau telah terbebani, telah jenuh. Regenerasi
penukaran ion dapat dilakukan dengan mudah karena pertukaran ion merupakan suatu proses
yang reversibel yang perlu diusahakan hanyalah agar pada regenerasi berlangsung reaksi
dalam arah yang berkebalikan dari pertukaran ion.
2. Menggunakan Zeolit.
Zeolit memiliki rumus kimia Na2(Al2SiO3O10).2H2O atau K2(Al2SiO3O10).2H2O. zeolit
mempunyai struktur tiga dimensi yang memiliki pori-pori yang dapat dikewati air. Ion Ca2+
dan Mg2+ akan ditukar dengan ion Na+ dan K+ dari zeolit, sehingga air tersebut terbebas
dari kesadahan.
Cara paling mudah untuk mengetahui air yang selalu anda gunakan adalah air sadar atau
bukan dengan menggunakan sabun. Ketika air yang anda gunakan adalah air sadah, maka

sabun akan sukar berbiuh, kalaupun berbuih, berbuihnya sedikit. Kemudian untuk
mengetahui jenis kesadahan air adalah dengan pemanasan. Jika ternyata setelah dilakukan
pemanasan, sabun tetap sukar berbuih, berarti air yang anda gunakan adalah air sadah tetap.
Untuk menghilangkan kesadahan sementara ataupun kesadahan tetap pada air yang anda
gunakan di rumah dapat dilakukan dengan menggunakan zeolit. Anda cukup menyediakan
tong yang dapat menampung zeolit. Pada dasar tong sudah dibuat keran. Air yang akan anda
gunakan dilewatkan pada zeolit terlebih dahulu. Air yang telah dilewatkan pada zeolit dapat
anda gunakan untuk keperluan rumah tangga, spserti mencuci, mandi dan keperluan masak.
Zeolit memiliki kapasitas untuk menukar ion, artinya anda tidak dapat menggunakan zeolit
yang sama selamanya. Sehingga pada rentang waktu tertentu anda harus menggantinya.

http://kimiadahsyat.blogspot.com/2009/06/air-sadah.html

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktikum Kimia Analisa Modul Analisa
Air dengan sebaik-baiknya dan tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan laporan ini adalah sebagai syarat untuk
menyelesaikan Praktikum Kimia Analisa dan agar dapat mengikuti praktikumpraktikum selanjutnya yang ada di Departemen Teknik Kimia. Selain itu
pembuatan Laporan Praktikum Kimia Analisa ini adalah sebagai bukti hasil dari
percobaan-percobaan yang dilakukan saat praktikum, dan untuk melengkapi
tugas dari Praktikum Kimia Analisa.
Penulisan laporan ini didasarkan pada hasil percobaan yang dilakukan selama
praktikum serta literatur-literatur yang ada baik dari buku maupun sumber
lainnya.
Dengan ini, praktikan juga menyampaikan terima kasih kepada :
1. Orang tua yang telah memberikan dukungan baik materil maupun spiritual.
2. Kepala Laboratorium Kimia Analisa, Ibu Maulida, ST, MSc..
3. Asisten-asisten Laboratorium Kimia Analisa, terutama asisten yang menangani
modul ini.
4. Rekan-rekan mahasiswa seangkatan, secara istimewa Kelompok II yang
membantu praktikan dalam pelaksanaan praktikum dan dalam penulisan laporan
ini.
Laporan ini merupakan tulisan yang dibuat berdasarkan percobaan yang telah
dilakukan. Tentu ada kelemahan dalam teknik pelaksanaan maupun dalam tata
penulisan laporan ini. Maka saran-saran dari pembaca dibutuhkan dalam tujuan
menemukan refleksi untuk peningkatan mutu dari laporan serupa di masa
mendatang. Akhir kata, selamat membaca dan terima kasih.
Medan, 1 September 2009
Penulis,
Dedy Anwar

BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Analsia air termasuk ke dalam kimia analisa kuantitatif karena menentukan
kadar suatu zat dalam campuran zat-zat lain. Prinsip analisa air yang digunakan
adalah prinsip titrasi dan metode yang digunakan adalah metode indikator warna
dan secara umum termasuk ke dalam analisa volumetrik.
Air yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari tidak pernah ditemukan dalam
keadaan murni. Biasanya air tersebut mengandung zat-zat kimia dalam kadar
tertentu, baik zat-zat kimia anorganik maupun zat-zat kimia organik. Apabila
kandungan zat-zat kimia tersebut terlalu banyak jumlahnya didalam air, air

tersebut dapat menjadi sumber bencana yang dapat merugikan kelangsungan


hidup semua makhluk sekitarnya. Kini dengan adanya pencemaran-pencemaran
air oleh pabrik maupun rumah tangga, kandungan zat-zat kimia di dalam air
semakin meningkat dan pada akhirnya kualitas air tersebut menurun. Oleh
karena itu, diperlukan analisa air untuk menentukan dan menghitung zat-zat
kimia yang terkandung di dalam air sehingga dapat diketahui air tersebut
membahayakan kesehatan, layak tidaknya dikonsumsi maupun sudah tercemar
atau belum (anonim, 2009).
1.2Rumusan Masalah
Perumusan masalah pada percobaan analisa air adalah bagaimana cara
menentukan alkalinitas air.
1.3Tujuan
Tujuan percobaan analisa air, antara lain:
1.Mempelajari beberapa cara penganalisaan air.
2.Mengetahui standar kualitas air minum menurut Peraturan Menteri Kesehatan
Indonesia
3.Mengetahui cara-cara pengambilan sampel untuk penganalisaan air.

1.4Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh pada percobaan ini antara lain dapat mengetahui
cara menganalisa air, Dan dapat menentukan kadar alkalinity air, serta dapat
menganalisa kualitas sampel air yang diuji.
1.5Ruang Lingkup
Percobaan analisa air dilakukan di Laboratorium Kimia Analisa Departemen
Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara dengan keadaan
ruangan bersuhu 30oC dan tekanan udara 760 mmHg.
Bahan-bahan yang digunakan antara lain air sungai Kenanga Raya, Medan, air
minum kemasan Aqua indikator metil jingga, dan H2SO4 0,02 N. Peralatanperalatan yang digunakan antara lain buret, statif, erlenmeyer, gelas ukur,
beaker glass, corong, dan pipet tetes.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Sampel
Air merupakan senyawa kimia yang paling aman dan paling dibutuhkan seluruh
makhluk hidup karena tanpa air, makhluk hidup tidak akan dapat bertahan
hidup. Ilmu yang mempelajari tentang kandungan, sifat-sifat, proses
penyebaran, dan kebiasaan alami air dikenal dengan hidrologi. Hidrologi
merupakan induk ilmu untuk percabangan teknik sipil, dan hidrologi mempelajari
masalah persediaan air dan penyaluran kotoran, sistem pengaliran air dan
irigasi, peraturan navigasi dan sungai, dan pengendalian banjir dan tenaga air
(anonim, 2009).
2.1.1 Air Sungai (Kenaga Raya)
Sungai merupakan jalan air alami mengalir menuju samudera, danau, Laut atau
ke sungai yang lain. Pada beberapa kasus sebuah sungai secara sederhana
mengalir meresap kedalam tanah sebelum menemukan badan air lainya. Dengan
melalui sungai adalah cara yang biasa bagi air hujan yang turun di daratan untuk
mengalir ke laut atau tampungan air yang besar seperti danau .
Sungai merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologis. Air dalam sundai
umumnya terkumpul dari presipitasi seperti hujan, embun, mata air, limpasan
bawah tanah, dan dibeberapa negara tertentu air sungai juga berasal dari
lelehan Es/salju. Selain itu air juga mengalirkan sidimen dan polutan
(Anonim.2009).
Sungai Kenanga Raya terletak di daerah Tanjung Mulia kota Medan. Sungai yang
berada di tengah tengah kota Medan ini memiliki kondisi yang sangat
mengkhawatirkan sekali. Ketika praktikan mengampil sampel kesana. Ketika itu
sungai dalam kondisi normal, artinya airnya tidak pasang, tidak surut dan tidak
keruh, sebenarnya airnya tidak jernih akibat banyaknya sampah dan aliran
limbah rumah tangga ke sungai.
2.1.2 Air Minum Kemasan (Aqua)

Air minum kemasan atau dengan istilah AMDK (Air Minum Dalam Kemasan),
merupakan air minum yang siap di konsumsi secara langsung tanpa harus
melalui proses pemanasan terlebih dahulu.
Air minum dalam kemasan merupakan air yang dikemas dalam berbagai bentuk
wadah 19 ltr atau 5 galon , 1500 ml / 600 ml ( bottle), 240 ml /220 ml (cup).
Air kemasan diproses dalam beberapa tahap baik menggunakan proses
pemurnian air (Reverse Osmosis / Tanpa Mineral) maupun proses biasa Water
treatment processing (Mineral), dimana sumber air yang digunakan untuk Air
kemasan mineral berasal dari mata air pengunungan, Untuk Air kemasan Non
mineral biasanya dapat juga digunakan dengan sumber mata air tanah / mata air
pengunungan (anonim,2009).
Air Aqua telah melewati proses pemurnian secara alami selama perjalanannya
dari pegunungan hingga mencapai sumber mata air bawah tanah. Sepanjang
perjalanannya ini, air menyerap mineral dan menjaga keseimbangannya
sebagaimana di sumber mata air asalnya, yang merupakan mineral penting bagi
kesehatan tubuh.
Sumber mata air yang dipilih tidaklah sembarangan. Aqua berasal dari sumber
mata air terpilih yang mewakili sebagian dari sumber mata air alami terbaik di
Indonesia. Menemukan mata air yang sesuai kriteria Aqua bukanlah pekerjaan
mudah. Pada saat menemukan sumber mata air alami, harus dipastikan bahwa
setiap sumber mata air pegunungan harus memenuhi 9 poin kriteria yang
kemudian melewati 5 tahap proses seleksi yang ketat sebelum akhirnya dapat
dijadikan sumber mata air untuk Aqua (anonim, 2009).
2.2 Alkalinitas
Alkalinitas adalah suatu parameter kimia perairan yang menunjukan jumlah ion
carbonat dan bicarbonat yang mengikat logam golongan alkali tanah pada
perairan tawar. Nilai ini menggambarkan kapasitas air untuk menetralkan asam,
atau biasa juga diartikan sebagai kapasitas penyangga (buffer capacity)
terhadap perubahan pH. Perairan.mengandung alkalinitas 20 ppm
menunjukkan bahwa perairan tersebut relatif stabil terhadap perubahan
asam/basa sehingga kapasitas buffer atau basa lebih stabil. Selain bergantung
pada pH, alkalinitas juga dipengaruhi oleh komposisi mineral, suhu, dan
kekuatan ion. Nilai alkalinitas alami tidak pernah melebihi 500 mg/liter CaCO3.
Perairan dengan nilai alkalinitas yang terlalu tinggi tidak terlalu disukai oleh
organisme akuatik karena biasanya diikuti dengan nilai kesadahan yang tinggi
atau kadar garam natrium yang tinggi (Anonim 2009).
Tabel 2.1 Kualitas air berdasarkan alkalinitas (Swingle, 1968)
Alkalinitas (mg/l)
Kondisi perairan
0 10
Tidak dapat dimanfaatkan
10 50
Alkalinitas rendah, kematian mungkin terjadi, CO2 rendah, pH bervariasi, dan
perairan kurang produktif
50 200
Alkalinitas sedang, pH bervariasi, CO2 sedang, produktivitas sedang

>500
pH stabil, produktivitas rendah, ikan terancam

2.3 Kesadahan Air


Kesadahan pada air mungkin disebabkan oleh adanya satu atau lebih ion. Ini
termasuk hidroksida, karbonat, dan bikarbonat. Ion hidroksida selalu ada di
dalam air, walaupun terkadang konsentrasinya sangat kecil. Tetapi, hidroksida
dengan konsentrasi tinggi di saluran air alami dianggap tidak biasa, kecuali
setelah melewati penapisan jenis tertentu. Jumlah karbonat yang kecil ditemukan
pada saluran air alami di tempat tertentu, sangat jarang melebihi 3 atau 4
grain/gallon. Mereka juga dapat ditemukan di air setelah penapisan, seperti
pelembut lime soda ash. Bikarbonat adalah sumber yang paling umum penyebab
alkalinitas. Hampir semua saluran alami memiliki jumlah yang dapat dihitung,
dari 0 sampai sekitar 50 grain/gallon.
Alkalinitas. Alkalinitas dari air bisa didefinisikan sebagai kapasitasnya terhadap
asam netral. Zat alkali di dalam air termasuk hidroksida. Alkalinitas dapat
dideteksi oleh rasanya yang asam dan mereka menyebabkan kertas litmus
merah menjadi biru (pH test paper). Konsentrasi Fosfat dan Silika jarang
ditemukan di saluran alami rumah. Senyawa yang mengandung ion ini dapat
digunakan dalam proses penapisan air yang bervariasi. Konsentrasi alkalinitas
menengah
diinginkan oleh hampir semua sumber air untuk menyeimbangkan antara efek
korosif dan asam. (anonim,2009)
Tetapi, jumlah yang berlebihan menyebabkan beberapa masalah. Ion ini tentu
bebas berada di air, tetapi mereka ada di kation, seperti kalsium, magnesium,
dan natrium. Anda mungkin tidak akan memperhatikan kondisi alkali karena ion
bikarbonat, kecuali ada dalam jumlah yang besar. Sebaliknya, anda harus siap
mendeteksi alkalinitas walaupun memiliki jumlah karbonat dan ion hidroksida
yang sangat kecil.
Air dengan alkali tinggi memiliki rasa seperi soda. Peraturan EPA membatasi
alkalinitas dalam total padatan terlarut (500 ppm) dan beberapa lebih dibatasi
oleh pH. Alkali yang memiliki kandungan mineral tinggi juga menyebabkan
pengeringan yang berlebihan terhadap kulit karena pada faktanya, mereka
menghilangkan kelembaban pada kulit. Masalah pada alkalinitas dapat
dihilangkan oleh reverse osmosis bersama dengan total padatan terlarutnya.
Metode lain juga dapat menghilangkan alkalinitas, namun metode tersebut tidak
cocok digunakan untuk
perumahan dibandingkan jika menggunakan reverse osmosis. Metode ini adalah
distilasi dan deionisasi. Beberapa metode lain juga dapat menghilangkan
alkalinitas, namun metode ini tidak baik digunakan di rumah. Metode tersebut
adalah :
1.Penghilang padatan dengan lime soda ash. Pada saat yang sama, proses ini
akan mem-persipirasi jumlah yang seimbang dari alkalinitas. Pelembutan dengan
lime biasanya dilarang digunakan oleh industri dan penerapan dalam skala besar
lainnya. Pelembutan lime akan mengurangi total alkalinitas, pelembutan lime

mengubah HCO3 menjadi C03, ion alkalinitas yang lebih kuat.


2.Anion resin yang diregenerasi oleh natrium klorida menghilangkan semua
anion (karbonat, bikarbonat, sulfat, dan nitrat). Ia mengganti anion dengan
persamaan kimia yang seimbang terhadap ion klorida. Kerugian dari proses ini
adalah hampir semua dari kasus menghasilkan
konsentrasi ion klorida yang tinggi. Pada titik kejenuhan, resin memiliki
kecenderungan untuk mengeluarkan kembali konsentrasi tinggi yang dibawa
anion termasuk nitrat. Untuk pemakaian
perumahan, hasil seperti ini tentu tidak diinginkan karena alkalinitas asli.
3.Pemberian asam mineral akan menetralisir alkalinitas air. Asam hidroklorin,
asam sulfur, atau kombinasi dari keduanya dapat digunakan. Proses ini
mengubah bikarbonat dan karbonat
menjadi asam karbon. Pada titik ini, dianjurkan untuk melakukan beberapa
metode untuk mengeluarkan gas karbondioksida keluar ke atmosfer. Kerugian
dari teknik ini jelas. Diperlukan kontrol yang presisi dalam proses dan kehatihatian dalam menangani asam yang pekat (Anonim,2009).
2.4 Analisa Umum pada Air
Air merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, khususnya air minum Tetapi
ketersediaan air minum yang memenuhi syarat semakin sulit dipenuhi, terlebih
lagi daerah-daerah resapan air yang telah dirubah menjadi pemukiman
penduduk, limbah-limbah industri yang mencemari sungai-sungai, semakin
mempersulit masyarakat untuk mendapatkan air yang layak untuk di minum.
Definisi air minum
Di dalam Keputusan Menteri Kesehatan No. 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang
Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum, disebutkan bahwa air Minum
adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang
memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung di minum.
Persyaratan air minum
Walaupun air dari sumber alam dapat diminum oleh manusia, tetapi terdapat
resiko kalau air ini telah tercemar oleh bakteri (misalnya Escherichia coli) atau
zat-zat berbahaya. Walaupun bakteri dapat dibunuh dengan memasak air hingga
100 C, tetapi banyak zat berbahaya, terutama logam, tidak dapat dihilangkan
dengan cara mendidihkan air.
Jadi, air yang akan digunakan untuk air minum tidak bisa sembarang air,
misalnya di rumah anda, sumber air berasal dari air tanah, yang diambil dengan
menggunakan jetpump, meskipun secara kasat mata tampak jernih, tetapi
belum tentu memenuhi syarat, karena kondisi lingkungan disekitarnya akan
sangat menentukan kualitas air tersebut. Untuk memastikan apakah air tanah
yang ada di rumah anda memenuhi syarat untuk di minum atau tidak, sebaiknya
anda membawa sampel air tersebut ke laboratorium pengujian seperti
Sucofindo, atau lab-lab swasta lain yang banyak menjual jasa untuk pemeriksaan
air, tapi cek juga, apakah lab yang akan anda gunakan sudah terakreditasi atau
belum. Ini untuk menjamin akurasi hasil pemeriksaan. Jika lab-nya sudah
terakreditasi, maka validitas hasil pengujian tentunya lebih terpercaya.
Syarat air minum tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.

907/MENKES/SK/VII/2002.. Persyaratan kualitas air minum meliputi persyaratan


bakteriologis, kimiawi, dan fisik. Menurut departemen kesehatan, syarat-syarat
air minum adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, tidak mengandung
logam berat dan bakteri patogen seperti E. Coli.. Untuk lebih detil mengetahui
rincian syarat air minum, anda dapat melihatnya dalam Kepmenkes tersebut
(anonim,2009).
Syarat tidak berbau, tidak berasa, tidak berwarna
Artinya jika air yang akan anda gunakan memiliki bau, rasa atau warna, berarti
air tersebut telah tercemar.
Syarat tidak mengandung logam berat
Ion logam berat dapat mendenaturasi protein, disamping itu logam berat dapat
bereaksi dengan gugus fungsi lainnya dalam biomolekul. Karena sebagian akan
tertimbun di berbagai organ terutama saluran cerna, hati dan ginjal, maka
organ-organ inilah yang terutama dirusak
Syarat tidak mengandung bakteri pathogen
Bakteri patogen yang tercantum dalam Kepmenkes yaitu Escherichia colli,
Clostridium perfringens, Salmonella. Bakteri patogen tersebut dapat membentuk
toksin (racun) setelah periode laten yang singkat yaitu beberpa jam, dapat
menyebabkan muntaber (anonim, 2009).
2.5 Standar Baku Mutu Air
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1405/menkes/sk/xi/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja
Perkantoran dan industri terdapat pengertian mengenai Air Bersih yaitu air yang
dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi
persyaratan kesehatan air bersih sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku dan dapatdiminum apabila dimasak (anonim,2009).
Berikut baku mutu untuk kriteria air berdasarkan Kep.Men Lingkunagn Hidup :
2.5.1 Air Bersih
Mengingat betapa pentingnya air bersih untuk kebutuhan manusia, maka
kualitas air tersebut harus memenuhi persyaratan, yaitu :
Tabel 2.2 Syarat Baku Mutu Air bersih
No.
Parameter
Satuan
Kadar Makasimum
Keterangan
A.Fisika
1
Bau
Tidak Berbau
2
Jumlah zat padat terlarut (TDS)
mg/L
1000

3
Kekeruhan
Skala NTU
5
4
Rasa
Tidak Berasa
5
Suhu
0C
Suhu Udara 3C
6
Warna
Skala TCU
15
B. Kimia
a. Kimia Anorganik
1
Air Raksa
mg/L
0,001
2
Arsan
mg/L
0,05
3
Besi
mg/L
1,0
4
Fluorida
mg/L
1,5
5
Kadmium
mg/L
0,005

6
Kesadahan (CaCO3)
mg/L
500
7
Klorida
mg/L
600
8
Kronium, valensi 6
mg/L
0,05
9
Mangan
mg/L
0,5
10
Nitrat, sebagai N
mg/L
10
11
Nitrit, sebagai N
mg/L
1,0
12
pH
mg/L
0,05
13
Salenium
mg/L
0,01
14
Seng
mg/L
15
15

Sianida
mg/L
0,1
16
Sulfat
mg/L
400
17
Timbal
mg/L
0,05
b. Kimia Organik
1
Aldrin
mg/L
0,0007
2
Benzen
mg/L
0,01
3
Benzo (a) pyrene
mg/L
0,00001
4
Chloroform
(total isomer)
mg/L
0,007
5
Chloroform
mg/L
0,03
6
2,4-D
mg/L
0,10
7

DDT
mg/L
0,03
8
Detergen
mg/L
0,5
9
1,2-DiCloroethene
mg/L
0,01
10
1,1-Dicloroethene
mg/L
0,0003
11
Heptachlor dan Heptachlor epoxide
mg/L
0,003
12
Hexachlorobenzene
mg/L
0,00001
13
Gamma-HCH (Lindane)
mg/L
0,004
14
Methoxychlor
mg/L
0,10
15
PentaChloropenol
mg/L
0,01
16
Pestisida total
mg/L

0,10
17
2,4,6-trichloropenol
mg/L
0,01
18
Zat organik (KmnO4)
mg/L
10
c. Mikrobiologik
1
Total Koliform (MPN)
Jumlah per 100 ml
0
Bukan Air pipaan
2
Koliform tinja belum diperiksa
Jumlah per 100 ml
0
Bukan Air pipaan
d. Radio Aktivitas
1
Aktivitas Alpha (Gross Alpha activity)
Bg/L
0,1
2
Aktivitas Beta (Gross Beta activity)
Bg/L
1,0

Keterangan :
mg = miligram
ml = milliliter
L = Liter
Bg = Beguerel
NTU = Nepnelometrik Turbidity Units
TCU = True Colour Units
Logam berat merupakan logam terlarut
2.5.2 Air Minum
Mengingat betapa pentingnya air minum untuk kebutuhan manusia, maka
kualitas air tersebut harus memenuhi persyaratan, yaitu :

Tabel 2.3 Syarat Baku Mutu Air Minum


No.
Parameter
Satuan
Kadar Makasimum
Keterangan
A.Fisika
1
Bau
Tidak Berbau
2
Jumlah zat padat terlarut (TDS)
mg/L
1000
3
Kekeruhan
Skala NTU
5
4
Rasa
Tidak Berasa
5
Suhu
0C
Suhu Udara 3C
6
Warna
Skala TCU
15
B. Kimia
a. Kimia Anorganik
1
Air Raksa
mg/L
0,001
2
Aluminium
mg/L

0,2
3
Arsan
mg/L
0,05
4
Bakium
mg/L
1,0
5
Besi
mg/L
0,3
6
Fluorida
mg/L
1,5
7
Kadmium
mg/L
0,005
8
Kesadahan (CaCO3)
mg/L
500
9
Klorida
mg/L
250
10
Kronium, valensi 6
mg/L
0,05
11
Mangan
mg/L
0,1

12
Natrium
mg/L
200
13
Nitrat, sebagai N
mg/L
10
14
Nitrit, sebagai N
mg/L
1,0
15
Perak
mg/L
0,05
16
Salenium
mg/L
0,01
17
Seng
mg/L
5,0
18
Sianida
mg/L
0,1
19
Sulfat
mg/L
400
20
Sulfida (sebagai H2S)
mg/L
0,05
21
Tembaga

mg/L
1,0
22
Timbal
mg/L
0,05
b. Kimia Organik
1
Aldrin
mg/L
0,0007
2
Benzen
mg/L
0,01
3
Benzo (a) pyrene
mg/L
0,00001
4
Chloroform
(total isomer)
mg/L
0,0003
5
Chloroform
mg/L
0,03
6
2,4-D
mg/L
0,10
7
DDT
mg/L
0,03
8
Detergen

mg/L
0,05
9
1,2-DiCloroethene
mg/L
0,01
10
1,1-Dicloroethene
mg/L
0,0003
11
Heptachlor dan Heptachlor epoxide
mg/L
0,003
12
Hexachlorobenzene
mg/L
0,00001
13
Gamma-HCH (Lindane)
mg/L
0,004
14
Methoxychlor
mg/L
0,03
15
PentaChloropenol
mg/L
0,01
16
Pestisida total
mg/L
0,10
17
2,4,6-trichloropenol
mg/L
0,01

18
Zat organik (KmnO4)
mg/L
10
c. Mikrobiologik
1
Koliform Tinja
Jumlah per 100 ml
0
2
Total Koliform
Jumlah per 100 ml
0
95% dari Sampel yang diperiksa selama setahun kadang boleh ada 3 per 100 ml
sampel air. Tetapi tidak berturut-turut
d. Radio Aktivitas
1
Aktivitas Alpha (Gross Alpha activity)
Bg/L
0,1

Keterangan :
mg = miligram
ml = milliliter
L = Liter
Bg = Beguerel
NTU = Nepnelometrik Turbidity Units
TCU = True Colour Units
Logam berat merupakan logam terlarut
2.5.3 Limbah Cair
Mengingat betapa pentingnya air. Air limbah yang dizinkan untuk dibuang ke
alam dengan persyaratan, yaitu :
BAKU MUTU AIR LIMBAH DOMESTIK
Tabel 2.4 Syarat Baku Mutu Air Limbah
Parameter
Satuan
Kadar Maksimum
Ph
6-9
BOD

mg/L
100
TSS
mg/L
100
Minyak dan Lemak
mg/L
10

2.6 Aplikasi Analisa Air dalam Industri


Salah satu aplikasi atau penerapan dari Analisa Air ini adalah pada proses
pengolahan air perkotaan. Pengolahan air perkotaan menggunakan proses soda
dingin. Dengan menggunakan proses ini, kesadahan air dapat diturunkan sampai
35 ppm jika cukup peluang diberikan untuk berlangsungnya pengendapan.
Salah satu cara yang digunakan untuk mengatasi keadaan lewat-jenuh
(supersaturasi) dalam proses gamping dingin soda ialah dengan mengkontakkan
lumpur yang diendapkan sebelumnya. Bila lumpur ini dikenakan pada air yang
belum diolah dan bahan kimia permukaannya, atau benih akan membantu
terjadinya pengendapan. Hasilnya berupa reaksi yang lebih cepat dan lebih
lengkap yang menghasilkan partikel yang lebih besar dan lebih mudah menguap.
Peralatan yang dikembangkan untuk kontak ini, dibuat oleh Infileo, Inc, yang
dinamakan Accelerator. Permutit Spaulding Precipitator mempunyai dua
kompartemen, satu untuk mencampur dan mengaduk air mentah dengan bahanbahan kimia pelunak dan lumpur yang sudah terbentuk sebelumnya, dan satu
lagi untuk mengendapkan dan menyaring air yang telah dilunakkan pada waktu
mengalir ke atas melalui liputan lumpur yang tersuspensi. Mesin seperti ini dapat
mempersingkat sedimentasi dari 4 jam menjadi kurang dari 1 jam dan biasanya
juga mengurangi pemakaian bahan kimia. (anonim,2009)
Kekuatan utama tehadap proses gamping dingin soda ialah besarnya volume
lumpur basah yang terbentuk. Pembuangan lumpur ini merupakan masalah dan
biayanya mahal. Permutit Spicator menggunakan presipitasi (pengendapan)
sebagai katalis. Hal ini dapat mengurangi volume dan kandungan sisa air lumpur.
Volumenya tinggi 12 persen dari proses yang konvensional dan limbah padat
yang dihasilkan hampir mempunyai pasir basah saja.
Gambar 2.1. Flowsheet Pengolahan Air Perkotaan
Deskripsi prosesnya sebagai berikut air umpan dengan kesadahan 376 ppm
diaerasi kemudian disalurkan ke pelunak klasifikator bersama dengan
alumunium sulfat, hidrat gamping, dan karbon aktif sehingga menghasilkan
pengendapan. Air itu selanjutnya diproses di bak rekarbonasi yang hasilkan akan
disalurkan ke filter pasir lalu dikloroinasi dengan kloroinator yang akhirnya
menghasilkan air yang memiliki kesadahan sebesar 77 ppm. (anonim,2009)

BAB III

METODE PRAKTIKUM
3.1 Bahan
3.1.1. H2SO4 (Asam Sulfat)
a.Sifat fisika
Berat molekul : 98,08 gr/mol
Titik didih : 3400C
Titik lebur : 100C
Densitas relative : 1,8 gr/cm3
Tidak berbau
Tidak berwarna
b.Sifat kimia
Merupakan cairan yang higroskopis
Merupakan asam kuat
Bersifat korosif pada logam
Saat pemanasan, terbentuk uap beracun (SOn)
Merupakan asam bervalensi dua
Terurai dengan 95% etil alcohol
Dapat menimbulkan hujan asam : 2SO2 + O2 2SO3
SO3 + H2O H2SO4
3.1.2. Air (H2O)
a.Sifat fisika
Berat molekul : 18,016 gr/mol
Titik didih : 1000C
Titik lebur : 00C
Densitas bentuk cairan : 1 gr / cm3
Densitas bentuk es : 0.915 gr / cm3
Tidak berwarna
Bentuk kristal heksagonal
b.Sifat kimia
pH saat keadaan murni 7
Larut dalam 95% etil alcohol
Larut dalam etil eter
Pelarut yang baik
Bukan merupakan zat pengoksidasi kuat
Lebih bersifat reduktor daripada oksidator
Reaksi dengan logam besi menghasilkan Fe3O4
3Fe + 4H2O Fe3O4 + 4H2
3.1.3. Metil Jingga
a.Sifat fisika
Berat molekul : 372,33 gr/mol
Berbentuk bubuk berwarna merah atau kuning orange
Pada suhu kamar berbentuk larutan
Rumus molekul : (CH3)2NC6H4N2C6H4SO3Na
Spesifik garvitasi : 1

Tidak berbau
b.Sifat kimia
Trayek pH 3,1 4,4
Berwarna merah dalam asam
Stabil saat penggunaan maupun penyimpanan
Tidak menguap pada suhu 70 F
Terurai menghasilkan Cox, NOx, dan Sox
Larut dalam air
3.2 Alat
3.2.1 Nama Alat
1. Statif,
Fungsi : sebagai penjepit buret
2. Buret,
Fungsi : sebagai alat pentiter
3. Erlenmeyer,
Fungsi : sebagai wadah larutan yang akan dititrasi
4. Gelas ukur,
Fungsi : sebagai penakar volume yang akan digunakan
5. Beaker Gelas,
Fungsi : sebagai penakar larutan yang akan digunakansebagai wadah larutan
6. Corong kaca,
fungsi : untuk menuang larutan ke alat bermulut kecil
7. Pipet tetes,
Fungsi : untuk mengmbil larutan dalam jumlah sedikit
3.2.2 Gambar Peralatan

Statif Gelas ukur Beaker Glass

Pipet tetes Erlen meyer corong

Buret
Gambar 3.1 Peralatan Analisa Air

3.3 Prosedur Praktikum


Analisa Alkalinitas
1.100 ml larutan sampel dimasukkan ke erlenmeyer
2.3 tetes metil orange ditambahkan ke larutan
3.Larutan dititrasi dengan H2SO4 0,02 N hingga larutan berwarna orange
4.Volume H2SO4 0,02 N hingga larutan berwarna orange
5.Kadar alkalinity dihitung dengan rumus:
V H2SO4 x N H2SO4
Alkalinitas (mg CaCO3/L) = ---------------------- x 1000 x 50,4
Volume sample