Anda di halaman 1dari 4

Ruang Publik dan Tantangan Pengetahuan

Istilah Pops (Privately Owned Public Spaces) ini pertama kali saya temukan di laman
The Guardian Cities ditulis oleh Bradley L Garret (peneliti dari University of
Southampton). Garret, seorang akademisi di bidang geografi perkotaan melihat ada
perbedaan mencolok ketika mencari ruang publik di kota Los Angeles dan Phnom
Penh, Vietnam. Saat berada di Los Angeles, Garret bertanya ke salah seorang
kerabatnya yang bahasa Indonesianya kira-kira begini Di mana kita bisa
temukan ruang publik di LA? dan secara mengejutkan, temannya menjawab,
Apa, untuk kamu beli?
Respon ini dinilai agak sarkastis oleh Garret. Namun kemudian rekan Los Angelesnya itu menunjukkan artikel yang berisikan informasi tentang bagaimana kota bisnis
itu tengah menjual tanah beton-nya lalu kepada sistem privat untuk berbagai
kegiatan usaha, meskipun semuanya nampak terbuka bagi publik.
Pengalaman cukup berbeda dirasakannya ketika berada di Kota Phnom Penh,
Vietnam. Di sebuah stadion Nasional Phnom Penh ia mengamati kegiatan orangorang. Stadium Nasional Phnom Penh dilihatnya lebih hidup karena ada ribuan
orang di dalamnya, beraktivitas dan bebas. Ada berbagai macam lapisan
masyarakat berbaur untuk berolahraga, menjajakan makanan makanan, bermain
dengan anak-anak kecil, atau sekadar berjemur di bawah matahari pagi. Bagian
penting yang ditekankan Garret soal Stadium Phnom Penh adalah bahwa di tempat
yang di satu sisi tidak terawat itu, semua orang bebas beraktivitas, bergerak tanpa
dikontrol, tidak diatur/monitor ruang geraknya oleh cctv dan satpam, serta
melibatkan hampir semua jenis lapisan masyarakat untuk terlibat bebas di
dalamnya.
Di Indonesia, fenomena Ruang seolah-olah Publik padahal dimiliki Privat (Pops)
mungkinlah masih barang baru.
David Harvey, pakar Geografi dan Antropologi dari University of New York
menjelaskan bahwa Pops berwujud ruang terbuka, kebun kota dan atau taman yang
memang terlihat seperti ruang publik, padahal nyatanya tidak. Ruang-ruang seperti
ini terbuka bagi banyak orang, tetapi terbatas pada kalangan tertentu menurut
pengertian sang pengelola. Walupun masalah/isu ini menjadi pembahasan ilmiah
sembari kita makan siang di bangku taman privat, kenyataannya konsep Pops
memengaruhi seluruh penilaian secara personal dan kita tidak bisa mencegahnya,
tulis Harvey dalam laporannya.
Ya, kita mungkin pernah ingin memotret tempat yang kelihatannya sebagai ruang
publik tapi ternyata harus berurusan dengan satpam yang berjaga di sekitar area
tersebut. Dari pengalaman Garret kita bisa bertanya-bertanya, mengingat-ingat
kembali, apakah ruang publik di kota kita sudah menjadi ruang publik sebagaimana

mestinya atau ternyata itu hanya ruang yang berisi sekelompok orang dengan
gerak dan aktivitas terbatas karena desainnya cenderung kaku?
Ruang Publik Sepengetahuan Kita
Di Indonesia, desain pengembangan ruang publik yang nampak sangat tertata. Di
banyak kota, pemerintah-pemerintah daerah setempat berlomba membangun
ruang-ruang interaksi publik mengikuti tren positif beberapa kota pendahulu yang
berhasil, semisal Bandung, Surabaya, dan Malang. Ruang bersih dan teratur
biasanya di bangun dalam satu kawasan kota mandiri (kota satelit). Disana tempattempat seperti ini memang terlihat ramai, menarik perhatian banyak kepentingan
kembali berbaur di atas rumput di antara gedung-gedung beton nan menjulang
tinggi.
Tetapi apakah tempat ini benar-benar bisa digunakan oleh semua orang?
Persoalannya, bagian mana kita menyebut fasilitas ini sebagai ruang publik?
Bagaimana kita membedakan bahwa, katakan saja, saat berada di sebuah taman di
bawah jalan layang, dengan stiker reklame sebuah perusahaan telekomunikasi
terpampang di bangku-bangkunya, atau melingkupi atap-atapnya, atau di prasasti
peresmiannya, apakah itu masih tetap disebut ruang publik? Ataukah justru ruang
seolah-olah publik (Pops)?
Yogyakarta yang dikenal sebagai kota paling atraktif memang masih beruntung
karena memiliki ruang publik seperti Alun-alun Utara, Alun-alun Selatan, kilometer
nol dan kawasan Grha Sabha Pramana UGM. Setidaknya saya masih bisa merasakan
dinamika, kebersamaan, keberagaman ketika berada di tiga tempat itu. Khusus di
Grha Sabha Pramana, setiap sore hari kawasan ini selalu ramai didatangi anak-anak
sekolah tingkat SMA untuk kegiatan ekstrakurikuler hingga rapat kelompok. Selain
itu, GSP juga cukup ramah untuk hewan peliharaan. Orang-orang muda trendi
sampai sosialita ramai-ramai dog-walking sembari menikmati keramaian jauh dari
polusi pekat. Keriuhan bercampur-campur seperti ini mulai sulit ditemukan sejak
Yogyakarta diserbu pembangunan hotel dan apartemen di blok-blok kota.
Tapi, tentu tidak semua kota memiliki ruang publik seterbuka Alun-alun Selatan,
Utara dan kawasan Graha Sabha Pramana UGM.
Dan banyak ruang publik di kota-kota besar yang di desain agar seperti ruang
publik, tapi sebenarnya bukan ruang publik. Di Surabaya, dan Jakarta, banyak
orang merelakan uangnya hanya untuk membeli hak menikmati tempat-tempat
yang dinamakan theme park, open garden, restoran menghadap pantai, rooftop
garden, dan sebagainya. Mudah kita temukan ruang terbuka yang bisa
menampung ribuan orang, namun dikelilingi oleh pagar dan pos satpam
berpengamanan dua puluh empat jam. Ataupun jika tidak, pengunjung harus
membeli makanan dan minuman seharga tertentu hanya untuk menikmati
pemandangan gunung tertentu yang sejatinya berada jauh di luar kawasan si
pemilik.

Orang Indonesia cenderung senang dengan keramaian-keramaian modern, bersih,


dekat dengan teknologi dan memberi kebebasan untuk berinteraksi secara privat
meskipun di ruang publik. Kecenderungan ini juga yang membuat kita sulit
mendefinisikan pengalaman menikmati ruang terbuka, apakah kita berada di ruang
terbuka publik atau di ruang milik privat. Orang Indonesia kerap merasa tidak perlu
mempermasalahkan apakah ruang ini dan ruang itu privat atau publik. Selama
bebas berekspresi dan berbiaya murah, pasti menyenangkan.
Di Yogya semua orang kenal Plaza Ambarukmo. Tempat ini menyenangkan, dengan
ruang belanja yang luas dan sistem kelola parkir yang memadai. Tapi yang paling
menarik dari Amplaz adalah taman kecilnya di depan, persis di dekat pedestrian
jalan. Di jam-jam belanja banyak orang bersantai di bangku-bangku taman sembari
menikmati donat di bawah lampu-lampunya. Setelah mal tutup, taman ini masih
favorit bagi orang-orang muda, bercengkerama, dan menghabiskan waktu. Para
pekerja mal, biasa menggunakan taman ini sebagai tempat istirahat sejenak
menunggu jemputan, sambil menikmati wedang ronde. Orang-orang bebas singgah
untuk sekadar mengobrol dan bisa memarkir kendaraannya di jasa parkir yang juga
melayani pengunjung mal. Bentuk interaksi seperti ini walaupun menggunakan
ruang privat, ternyata sangat bernuansa publik. Masyarakat boleh memandang
taman Amplaz sebagai ruang publik dari segi kebebasan yang mereka peroleh,
meskipun pada kenyataannya Amplaz tetaplah ruang privat.

Lantas, Bagaimana membedakan ruang publik dan ruang


seolah-olah publik?
Sebetulnya pembahasan ruang publik sudah banyak dikaji, Lawson (2011:11 dalam)
berpendapat bahwa ruang publik tidak memiliki unsur-unsur privat, karena yang
diutamakan adalah fungsi-fungsi publik dan interaksi, ini yang membedakannya
dengan ruang privat yang tidak memiliki interaksi. Mendesain ruang publik tidaklah
mudah dan bisa sia-sia saja jika tidak bisa menarik orang ke sana. Ada 6 dari 11
elemen yang menandakan bagaimana ruang dapat berfungsi sebagai ruang publik
(Project Public Spaces).
1. The community is expert
Bagian penting dari ruang publik adalah ketika banyak komunitas yang
mengeksplor kemampuan dan keahlian mereka di tempat ini. Biasanya
komunitas lahir dari ide dan misi sekelompok orang yang mengusung kreativitas
baik dalam bidang seni, dan lingkungan. Dari pengalaman komunitas, kita bisa
mendapat gambaran dan padangan baru tentang keadaan disekeliling yang
seringkali diabaikan.
2. Create place, not design
Ruang publik tidak hanya soal desain yang bagus dan futuristik tapi bagaimana
orang merasa nyaman berada di dalamnya. Desain pedestrian sebaiknya tidak
kaku agar terjalin interaksi dengan orang-orang di sekitar.
3. Have a vision

Bagian penting lainnya dari ruang publik adalah ide tentang merencanakan
aktivitas atau kegiatan yang melibatkan semua orang, nyaman untuk semua,
dan menjadi tempat utama yang selalu dicari orang.
4. Start with the Petunias: Lighter, Quicker, Cheaper
Kompleksitas dan keberagaman di dalam ruang publik dirasakan ketika kita
sendiri tidak punya ekspektasi tentang kegiatan apa yang akan kita lakukan
disana. Fitur-fitur fisik yang dibuat tidak harus permanen, bisa dibuat sistem
konstruksi temporer sehingga setiap tiga bulan sekali fitur fisik (bangku taman,
ornamen, patung kreas, warna trotoar) menampilkan desain baru.
5. Triangulate
Desain fitur fisik didesain berdekat-dekatan dengan fungsi kegiatan yang lain,
misalnya taman baca anak-anak sebaiknya berdekatan dengan playground
sehingga ada proses trianggulasi (kegiatan ganda yang saling berkaitan) di
dalamnya. Contoh lain misalnya, di dekat bangku taman terdapat stand pembuat
kopi dengan kursi dan meja terbuka tidak diberi sekat-sekat ruang.

Bagaimana Pemerintah Kota Menginisiasi Ruang Publik


Banyak cara bisa dilakukan pemerintah kota untuk mengembangkan ruang publik
kota tanpa menghabiskan anggaran besar yang biasanya habis digunakan untuk
membangun desain mahal. Fitur fisik di ruang publik tidak perlu kaku karena
keberagaman kegiatan di dalamnya. Banyak contoh yang bisa kita lihat tentang
ruang publik yang sudah di desain bagus ternyata tidak ramai dikunjungi orang, dan
tidak menjadi ikon kota. Sebaliknya, kawasan publik yang minim fitur-fitur desain
futuristik justru lebih dipilih orang-orang. Hakekatnya ruang publik berarti ada
banyak tipe orang di sana. Kita tidak bisa mengatur fitur apa yang paling tepat
untuk mengakomodasi kebutuhan semua orang, karena akan membatasi ruang
gerak dan interaksi diantara pengunjungnya.
Pemerintah kota kita juga harus menjamin ketika membangun ruang publik,
pemerintah benar-benar menjamin ruang tersebut sebagai ruang publik yakni bebas
dari privatisasi iklan. Sadar atau tidak, jika diperhatikan terkadang di dalam ruang
publik ada fitur-fitur bangunan yang disusupi iklan sponsor tertentu. Jika pun
fasilitas publik bersponsor sah-sah saja sebagai solusi kerja sama antar elemen,
unsur di suatu daerah menghubungkan bisnis dengan kepentingan masyarakat,
hendaknya dipasang tidak terlalu mencolok apalagi sampai mengganggu
kenyamanan orang-orang yang mencari ketenangan dari keriuhan kota. Karena
sejatinya, ruang publik bisa terasa sangat personal bagi seseorang, atau menjadi
tempat pelarian ketika orang menyingkir sejenak dari semua dinamika dan
kesibukan kota yang terus tumbuh.
***