Anda di halaman 1dari 11

DAPATKAH PAJAK TANAH MENJADI ALAT

PENGENDALI ALIH GUNA LAHAN?:


STUDI HUBUNGAN PAJAK TANAH DENGAN ALIH
GUNA LAHAN DI KABUPATEN SLEMAN
Tesis
Untuk memenuhi sebagai persyaratan
mencapai derajat Sarjana S-2

Program Studi
Magister Perencanaan Kota dan Daerah

Diajukan oleh
Ratih Purnamasari
2012/342446/PTK/08581
Kepada
PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015

DAPATKAH PAJAK TANAH MENJADI


ALAT PENGENDALI ALIH GUNA
LAHAN?:
STUDI HUBUNGAN PAJAK TANAH
DENGAN ALIH GUNA LAHAN
DI KABUPATEN SLEMAN
RatihPurnamasari1,
LeksonoPrabuSubanu2,
RetnoWidodoDwiPramono3

Abstrak
Alih fungsi lahan pertanian di Aglomerasi
Sleman menunjukkan angka perkembangan yang
cukup tinggi sebesar 42 hektar selama tiga tahun
terkahir yakni tahun 2011-2013, yang terjadi pada
9 Desa di Aglomerasi Sleman. Faktor geografis
yakni berbatasan dengan Kota Yogyakarta dan
berada di dataran rendah mendorong terjadinya
alih fungsi lahan. Berangkat dari isu alih fungsi
lahan dan NJOP pertanian maka hipotesa dalam
penelitian adalah ada hubungan penetapan NJOP
dan Harga Transaksi dengan alih fungsi lahan
pertanian di Kabupaten Sleman.
Lokasi penelitian berada di Aglomerasi
Sleman yang terdiri dari lima kecamatan dan
sembilan desa yakni Kecamatan Depok: Desa
1Mahasiswapascasarjana Magister
Perencanaan Kota dan Daerah
UniversitasGadjahMada, Yogyakarta,
2015
2Dosen di Magister Perencanaan Kota
dan Daerah, UniversitasGadjahMada,
Yogyakarta
3Dosen di Magister Perencanaan Kota
dan Daerah, UniversitasGadjahMada,
Yogyakarta

Maguwoharjo, Condongcatur, Caturtunggal, dan


Maguwoharjo, Kecamatan Mlati: Desa Sinduadi
dan Sendangadi, Kecamatan Ngaglik: Desa
Sariharjo, Kecamatan Godean: Desa Sidoarum,
Kecamatan Gamping: Desa Trihanggo dan
Nogotirto. Pendekatan penelitian ini kuantitatif,
menggunakan analisis statistik Uji Korelasi
Pearson dan analisis Model Gravitasi Hansen.
Untuk menjelaskan tingkat perubahan penggunaan
lahan dilakukan teknik overlay peta guna lahan
Aglomerasi Sleman Tahun 2011-2013.
Masing-masing analisis bertujuan untuk
menjawab hipotesa dan rumusan masalah yakni
hubungan pajak tanah (NJOP dan Harga Transaksi)
dengan alih guna lahan pertanian, dan hubungan
perubahan lahan dengan letak kawasan khusus
(kampus dan pusat kota). Hasil penelitian akan
menjelaskan
dan
menggambarkan
tingkat
signifikan hubungan antar variabel, perkembangan
perubahan lahan dan besaran jarak (lokasi) dengan
pertambahan NJOP dan alih guna lahan.
Kata kunci: aglomerasi sleman, alih fungsi lahan,
lokasi, NJOP, UGM.

1. Pendahuluan
Konversi lahan pertanian terjadi secara
massive di Aglomerasi Sleman, selama tahun
2000 sampai 2010. Pemicunya adalah
pertumbuhan bisnis properti yang tumbuh
secara signifikan. Sayangnya, pertumbuhan
yang cepat dalam merespon tuntutan ini
urbanisasi di rumah-rumah pribadi dan ruang
hidup baru di dekat kota, memaksa beberapa
pemilik lahan untuk melepaskan lahan mereka
yang sebelumnya digunakan untuk bertani
kemudian
dikonversi
menjadi
daerah
komersial.
Dalam lima tahun terakhir saja, sudah ada
10 bangunan komersial (kondominium-Hotel,
apartemen, toko, mal dan rumah) dibangun di
atas tanah yang dulunya sawah. Maraknya alih
fungsi lahan pertanian disebabkan karena
harga per meter relatif lebih rendah

dibandingkan jenis penggunaan lahan yang


lain. Konversi lahan pertanian ini terjadi
hampir seluruh bagian dari Sleman, yang
berada di dekat perbatasan kota, sehingga
memicu peningkatan pajak tanah dan harga
transaksi.
Nilai pajak pada tanah yang terletak di
daerah strategis (pusat kota dan dekat Kampus
UGM) berkisar di atas Rp.1.000.000 m /
tahun. Pemerintah telah mengeluarkan
kebijakan yakni Perda Nomor 11 Tahun 2012
(PBB Perkotaan Dan Pedesaan), berupa
regulasi untuk mengendalikan alih fungsi
lahan pertanian sebesar 21,113 hektar.
Melalui Peraturan Daerah Kabupaten
Sleman No.11 Tahun 2012 Tentang PBB
Perkotaan dan Pedesaan, disimpulkan hal-hal
sebagai berikut:
a

Lahan pertanian berkelanjutan sebesar


0,01%
b Lahan pertanian non berkelanjutan
sebesar:
lahan dengan luas sampai 1.000 m
sebesar 0.01%
lahan pertanian dengan luas sampai 2.000
m sampai 5.000 m sebesar 0.02%
lahan pertanian dengan luas lebih 5.000
m sebesar 0.03%
Upaya pemerintah Kabupaten Sleman
mempertahankan lahan pertanian yakni
dengan membebankan pajak cukup ringan
bagi petani berdasarkan Peraturan Daerah
Kabupaten Sleman No.11 Tahun 2012.
Keringanan tarif PBB bertujuan untuk
melindungi petani dari beban pajak yang
tinggi atas lahan pertaniannya.
Kontradiksi muncul karena kebijakan lain
pemerintah daerah adalah mengejar target
untuk meningkatkan pendapatan pajak yang
berasal darikawasan komersial dan properti.

Ketika lahan pertanian terus tergerus


pertumbuhan yang cepat dari bangunan
komersial,
secara
bersamaan
semakin
meningkatkan nilai ekonomis lahan pertanian
yang ada disekitarnya. Ini adalah bentuk
ketidakadilan pajak karena petani miskin harus
membayar pajak dari sebelumnya hanya
karena perumahan dan baru toko yang
dibangun di sekitar tanah pertanian mereka.
Berdasarkan masalah di atas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah:
a

Bagaimana konversi lahan di


aglomerasi Sleman selama 20102013?
Bagaimana hubungan antara pajak
tanah dan konversi lahan di
Aglomerasi Sleman?

c
2. Literatur
Faktor ekonomi yang dijelaskan
(Isa:2007) mengemukakan bahwa tingginya
land rent yang diperoleh aktivitas sektor
non-pertanian
dibandingkan
sektor
pertanian. Rendahnya insentif untuk
berusaha tani disebabkan oleh tingginya
biaya produksi, sementara harga hasil
pertanian relatif rendah dan berfluktuasi.
Selain itu, karena faktor kebutuhan keluarga
petani yang terdesak oleh kebutuhan modal
usaha atau keperluan keluarga lainnya
(pendidikan, mencari pekerjaan nonpertanian,
atau
lainnya),
seringkali
membuat petani tidak mempunyai pilihan
selain menjual sebagian lahan pertaniannya.
Dalam rencana pemanfaatan lahan,
Jayadinata (1999) menjelaskan bahwa
intrumen pengawasan pemanfataan lahan
dapat dilakukan dengan kebijaksanaan
pertanahan. Kesatuan informasi mengenai

pertanahan yang terorganisasi secara


sistematis untuk menunjang kebutuhan
perencanaan pemanfaatan, penggunaan,
pengembangan,
pengendalian
dan
pengawasan pembangunan lahan serta
penetapan status hak tanah.
Upaya sistem pertanahan yang dapat
dilakukan untuk mengurangi bentuk alih
fungsi lahan karena perilaku spekulan lahan
dapat dilakukan dengan cara Law
Enforcement yakni penetapan peraturan
perundangan yang membatasi penguasaaan
pemilikan tanah melampaui batas adanya
keharusan
mendaftarkan
seluruh
penguasaan
dan
pemilikan
tanah
perorangan atau badan hukum. Bila ternyata
di kemudian hari terdapat manipulasi data
penguasaan/pemilikan
maka
dapat
dilakukan pencabutan hak atas tanah
tersebut dan disita untuk negara (Soehadi,
1993:5).
Sebagai gambaran,berikut kerangka
teori dalam penelitian alih fungsi lahan
di Aglomerasi Sleman:
Gambar 1. Kerangka Penelitian

Source: Land theories compilation, 2013

3. Metode Analisis
Pendekatan dalam penelitian ini
dilakukan melalui pendekatan deduktif
kuantitatif dan kualitatif. Metode
campuran
(Mixed
method)
yang
dimaksud adalah berupa penggabungan
teknik analisis data baik secara
kuantitatif dan kualitatif agar diperoleh
validasi dan data
analisa yang komprehensif atas masalah
penelitian (Creswell, 2012).
Lokasi
penelitian
berada
di
Aglomerasi Perkotaan Sleman yang
terdiri dari Kecamatan Depok (Desa
Maguwoharjo, Desa Condongcatur, Desa
Caturtunggal), Kecamatan Mlati (Desa
Sendangadi dan Desa Sinduadi),
Kecamatan Ngaglik (Desa Sariharjo),
Kecamatan Godean (Desa Sidoarum)
dan
Kecamatan
Gamping
(Desa
Trihanggo dan Desa Nogotirito).
Teknik pengambilan sampel (cluster
sampling) lokasi dilakukan dengan
tahapan berikut ini:
1. Melakukan overlay peta guna lahan
aglomerasi Sleman tahun 2011 dan
2013.
2. Menentukan persil sawah yang
beralih fungsi menjadi sentra niaga,
perumahan
dan
apartemen.
Pertimbangannya karena alih fungsi
sawah ke sektor niaga cenderung
lebih cepat mempengaruhi harga
tanah dan sawah sekitarnya.
3. Lokasi persil terpilih kemudian
disesuaikan dengan peta blok tanah

Dispenda Sleman untuk mengetahui


besaran harga transaksi dan NJOP di
persil tersebut.
Metode analisis yang digunakan
dalam penelitian ini disesuaikan
berdasarkan rumusan masalah yang akan
diteliti. Terdapat dua metode analisis
penelitian yang digunakan yaitu analisis
kuantitatif dengan GIS dan SPSS serta
deskripsi
terhadap
hasil
analisis
kuantitatif.
Analisis Kuantitatif
1. Analisis Perubahan Penggunaan
Lahan
Analisis
alih
fungsi
lahan
menggunakan metode overlay peta
penggunaan lahan pada tahun 2011 dan
tahun 2013 dengan menggunakan citra
Google Earth dan peta penggunaan lahan
tahun 2013 yang diperoleh dari DPPD
Kabupaten Sleman. Teknik super
impose/overlay peta akan menunjukkan
blok-blok lahan yang mengalami
perubahan peruntukan dari sawah
menjadi blok non-pertanian. Untuk
menghasilkan peta perubahan lahan,
software yang digunakan adalah Arcgis
10.1 yang dilakukan oleh peneliti sendiri
lalu melakukan survei lapangan untuk
memastikan perubahan lahan yang
digambarkan dalam hasil overlay peta
guna lahan.
2. AnalisisHubungan NJOP Terhadap
Alih Fungsi Lahan Pertanian
Analisis ini menggunakan software
SPPS 17 dengan metode analisis uji

Korelasi Pearson Product Momen.


Analisis uji korelasi bertujuan untuk
menjelaskan hubungan NJOP dan alih
fungsi lahan pertanian di Sleman.
3. Analisis Daya Tarik Kawasan
Kampus Terhadap Alih Fungsi
Lahan Pertanian
Teknik analisis yang digunakan
adalah teori Gravitasi, yang akan
menunjukkan dan menjelaskan daya
tarik kawasan kampus dan pusat kota
terhadap alih fungsi lahan di Aglomerasi
Sleman dalam radius tertentu.
Rumus:
D1
(d 1.1) D=
Luas
d=

4. Temuan Penelitian
Melalui serangkaian penelitian dan
uji analisis untuk penelitian NJOP dan
perubahan lahan pertanian di Aglomerasi
Sleman dapat dijelaskan sebagai berikut:
Terdapat korelasi NJOP dan Harga
transaksi dengan alih guna lahan
pertanian di tiga kecamatan, yakni
Kecamatan Depok, Kecamatan Mlati,
dan Kecamatan Ngaglik. Pergeseran dan
pemusatan pasar bisnis properti menjadi
daya
tarik
yang
mempengaruhi
perubahan NJOP. Permintaan unit rumah
kos dan apartemen yang tinggi di
kawasan pusat-pusat kampus memberi
peluang kepada pengembang untuk

membeli sawah yang akan dibanguni


unit apartemen atau rumah kos.

Gambar 5.30 Grafik Perkembangan NJOP


di Aglomerasi Sleman

Sumber: Hasil analisis, data NJOP dan


jarak persil ke pusat kota dan UGM, 2015

Titik-titik persil seperti Babarsari,


Ambarrukmo dan Seturan, Pogung, Jaten
(Mlati), dan Palagan (Ngaglik) memberi
kontribusi besar terhadap perubahan
lahan karena kedekatannya dengan
pusat-pusat
pendidikan,
kawasan
pemukiman mahasiswa, dan kawasan
belanja keluarga. Meskipun harga jual
lahan meningkat tajam, permintaan akan
unit rumah kos dan apartemen tetap
tinggi mengikuti tingkat pertumbuhan
penduduk dan pertambahan mahasiswa.
Akan tetapi, meskipun di tiga
kecamatan di atas terlihat jelas korelasi
NJOP dan Harga Jual Lahan dengan
besaran alih fungsi lahan, hal ini tidak
terjadi secara absolut di dua kecamatan
lainnya, yakni Godean dan Gamping. Di
Godean misalnya, besaran alih fungsi
lahan kebanyakan tidak dipengaruhi oleh
tingginya permintaan atau karena unsur

kedekatannya
dengan
pusat-pusat
pendidikan atau kawasan belanja.
Tidak ada kampus besar atau pusat
perbelanjaan yang memicu lonjakan jumlah
penduduk.
Meski
begitu,
beberapa
pengembang tetap menyasar Godean
sebagai lokasi pembangunan rumah-rumah
sewa, perumahan KPR, dan ruko.
Sementara di Gamping, terjadinya alih
fungsi lahan pertanian tidak banyak dipicu
oleh lonjakan harga tanah, meskipun
kecamatan ini berbatasan dengan beberapa
kampus cukup besar seperti UMY dan BSI.
Besaran alih fungsi lahan di dua kecamatan
ini tetap dipengaruhi oleh perubahan NJOP,
tetapi pertambahannya tidak cukup untuk
mengimbangi perubahan yang terjadi di tiga
kecamatan lainnya di atas.
Dalam praktiknya, banyaknya pilihan
lahan di Godean dan Gamping mengurangi
urgensinya dibandingkan dengan kawasankawasan yang lahannya lebih sedikit. Di
dua kecamatan ini, terjadinya alih fungsi
lahan didasari oleh proyeksi pertumbuhan
penduduk, dan proyeksi pertumbuhan
kawasan bisnis di masa yang akan datang.
Jadi meskipun NJOP di masa sekarang
tidak lebih tinggi dari kawasan lain,
pengembang tetap mengokupasi lahan di
Godean dan Gamping dengan asumsi
bahwa kawasan ini akan tumbuh sebagai
pusat pemukiman dan pusat bisnis dalam
tahun-tahun mendatang, ataupun proyeksi
pembangunan
infrastruktur
penting
melewati kawasan-kawasan tersebut.
5. Pembahasaan

NJOP selalu mengikuti perubahan


lahan khususnya sawah yang terletak di
daerah perkotaan, tapi sebaliknya khusus
untuk sawah di pedesaan (Sleman Utara)
NJOP tidak selalu mengikuti perubahan
lahan
melainkan
menjadi
pemicu
melonjaknya
harga
sawah
akibat
penguasaan lahan oleh spekulan dan
pengembang. Kasus yang kedua ini terjadi
di sawah pedesaan khususnya di bagian
utara Kecamatan Mlati, karena harga sawah
di daerah ini tergolong masih rendah
sehingga terjadi penguasaan sawah dalam
jumlah besar.
Dalam praktik di lapangan, nilai sawah
dari taksiran pasar lahan menyebabkan
harganya terus melambung tinggi. Kondisi
ini menyebabkan tingginya permintaan
tanah pada kawasan strategis untuk
kepentingan pembangunan sektor niaga
sehingga NJOP mengikuti perubahan
ekonomi kawasan tersebut. Informasi harga
lahan belum menjadi alat kontrol dalam
pengendalian pemanfaatan ruang, tapi
sebaliknya informasi harga tanah justru
menjadi alat bagi spekulan lahan untuk
menguasai sawah berpajak rendah dalam
jumlah besar dan dijadikan komoditi
dagang tanah berdasarkan pertumbuhan
investasi jangka panjang.
Sejalan dengan temuan ini, Nasucha
(1995:228) menjelaskan jika nilai tanah di
daerah yang intensitas kegiatannya tinggi
cenderung
meningkat
berkali
lipat.
Penyebabnya adalah kurangnya informasi
mengenai tata guna tanah dan informasi
nilai tanah yang diatur dan dikeluarkan oleh
pemerintah. Kepastian informasi diperlukan
baik dalam bentuk regulasi dan pemetaan

konfigurasi harga tanah setiap daerah agar


nilai tanah dapat dikendalikan.
Pajak tanah dalam kasus alih guna
lahan di aglomerasi Sleman memiliki dua
ciri yakni 1) investasi sekarang dan 2)
investasi kemudian. Proses alih guna lahan
untuk kepentingan yang pertama akan
memanfaatkan kesempatan menjual tanah
untuk
penawaran
harga
tertinggi.
Sedangkan ciri yang kedua, akan
memanfaatkan kesempatan menjual tanah
pada saat harga tanah melambung tinggi.
Jadi perbedaannya terlihat cukup jelas,
melepas tanah dengan harga tinggi dan
menjual tanah pada saat harga melonjak
tinggi.
Alih guna lahan untuk ciri kedua telah
terjadi saat ini, dimana harga lahan
melonjak tinggi sedangkan jumlah sawah
yang telah dikeringkan masih terbatas.
Itulah alasan yang menyebabkan tingkat
alih fungsi lahan selama kurun waktu 20112013 tidak sebanyak tahun 2006-2010,
karena alih fungsi lahan dalam jumlah besar
telah terjadi di tahun 2006-2010 (investasi
sekarang). Sedangkan yang terjadi di tahun
2011-2013 merupakan gabungan investasi
sekarang dan investasi nanti, yang
menyebabkan harga lahan melonjak tinggi.
Ciri selanjutnya yang merupakan
dampak dari model investasi sekarang dan
nanti dalam pola ruang adalah ciri
sentripetal dan sentrifugal. Ciri sentripetal
ini menunjukkan alih guna lahan pertanian
di dalam/mendekati pusat kota, contohnya
yang terjadi di Desa Caturtunggal dan
Sinduadi. Sendangkan ciri sentrifugal
dimana perubahan lahan terjadi di pinggiran

kota
terjadi
Desa
Sinduadi
dan
Maguwoharjo.
Kesulitan mengakses informasi harga
tanah berdampak pada kebijkaan rencana
tata ruang. Sinkronisasi data nilai tanah
dengan rencana tata ruang berperan penting
dalam mengatur setiap jengkal pemanfaatan
tanah, dan yang paling utama dapat
meminimalisir tindak spekulan lahan.
Bagan berikut ini menjelaskan rangkuman
temuan lapangan hubungan pajak tanah
dengan alih guna lahan di Aglomerasi
Perkotaan Sleman:
Gambar 5.1 Temuan Penelitian dan
Diskusi Teoritik

Sumber: Hasil analisis dan studi literatur, 2015

Peraturan zonasi dapat mencegah


spekulan dan makelar tanah agar tidak
leluasa mengendalikan harga tanah, karena
pajak tanah yang ditetapkan pemerintah
sejalan dengan zonasi fungsi kawasan
dalam RDTR. Namun dalam praktiknya
terlihat jika pengendalian tata ruang untuk
perkotaan sangat sulit dikendalikan
terutama setelah diterbitkannya kebijakan
DPPD tentang batas konversi lahan sebesar
100 ha/tahun.

Melalui RDTR, pemerintah dapat


memberikan kepastian informasi yang
mudah bagi masyarakat mengenai tata guna
dan rencana pemanfaatan lahan di
perkotaan. Persoalan PBB yang tinggi.
6. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan pada
Bab V Penetapan Instrumen Pajak
Terhadap Alih Fungsi Lahan Pertanian di
Aglomerasi Sleman dapat disimpulkan
temuan sebagai berikut:
Perubahan besar NJOP pada persil sawah
di sebagian desa Aglomerasi Sleman oleh
DISPENDA menunjukkan jika harga ril
transaksi sawah lebih rendah dibandingkan
dengan harga transaksi pekarangan. Alih
fungsi sawah berada di lokasi strategis,
berada di jalur Ring-Road Utara, Jalan
Magelang, sekitar kawasan Kampus UGM,
Bandara dan pusat kota Yogyakarta.
Pertambahan NJOP menunjukkan adanya
kecenderungan mengikuti jenis alih guna
lahan yang berada di sekitar lahan pertanian.
Sehingga dari temuan tersebut dapat
disimpulkan bahwa pajak tanah belum
menjadi representasi alat pengendali
perubahan lahan, khususnya pada sawah di
daerah pedesaan.
7. Daftar Pustaka
Alonso, J. F. (1975). Regional Policy, Reading In
Theory And Aplication. Massachusetts: MIT
Press.
Bourne, L. (1981). The Geography Of Housing.
London: Edward Arnold Ltd.
Butler S.J, L. R. (2009). Quantifiying The Impact Of
Land Use Change To European Farmland.
ELSEVIER, 349-350.
Cahyono, B. T. (1982). Ekonomi Pertanahan.
Yogyakarta: Liberty.
Christiana, S. S. (1993). Peranan Pajak Bumi Dan
Bangunan Dalam Peningkatan Pendapatan Asli

Daerah Kabupaten Dati II Sleman. Fakultas


Ekonomi UGM (p. 28). Yogyakarta: UGM.
Colby, C. (1959). Centrifugal and Centripetal
Forces in Urban Geography. Chicago:
University of Chicago.
Doxiadis, C. (1968). Eksistics An Introduction To
The Science Of Human Settlements. London:
Island Press.
Drs.Sohadi. (1993). Beberapa Aspek Ekonomi
Dalam
Pembatasan
Penguasaan
dan
Pemilikan Tanah Perkotaan. Yogyakarta:
Kerjasama Fakultas Hukum UGM dan Badan
Pertanahan Nasional.
Ginting, E. (2008). Implementabilitas Rencana
Detail Tata Ruang (RDTRK) Kawasan
Aglomerasi Sleman Pada Penggunaan Lahan
Pertanian
dan
Faktor-Faktor
Yang
Mempengaruhinya. Sleman: UGM.
Harini, R. (2012). Yogyakarta: UGM.
Henderson, J. (2009). The Effect Residential Land
Market Regulation. New York: Springer.
Isa, I. (2006). Strategi Pengendalian Alih Fungsi
Lahan Pertanian. Balitbang. Bogor.
Jayadinata, J. T. (1999). Tata Guna Tanah Dalam
Perencanaan Pedesaan, Perkotaan dan
Wilayah. Bandung: ITB.
Krueckeberg, D. A. (1976). Urban Planning
Analysis: Methods And Models. New York:
John Wiley and Sons, Inc.

Maryatun, E. (2005). Efektifitas Perizinan Sebagai


Salah
Satu
Instrumen
Pengendalian
Pemanfaatan Ruang. Sleman: UGM.
Moleong, L. (2000). Metodologi Penelitian.
Bandung: PT.Remaja Posadakarya.
Nasucha, C. (1995). Politik Ekonomi Pertanahan.
Jakarta: Megapoin.
Obeng, F. O. (2013). Urban Property Taxation,
Revenue Generation And Redistribution In A
Frontier Oil City. ELSEVIER, 58.
Sutaryono. (2012). Marjinalisasi Petani di
D.I.Yogyakarta:
Acuan
Khusus
Pada
Kontestasi Lahan Pertanian di Pedesaan.
Yogyakarta: UGM.
Tarigan, R. (2005). Perencanaan Pembangunan
Wilayah. Jakarta: Bumi Aksara.
Webster, N. (1996). Webster's Third New
International Dictionary Springfield. Meriam
Company Publisher.
Yunus, H. S. (2000). Struktur Tata Ruang Kota.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Yunus, H. S. (2001). Perubahan Pemanfaatan
Lahan Di Daerah Pinggiran Kota Yogyakarta.
Yogyakarta: UGM.
Zulkaidi, D. (2002). Pemikiran dan Praktik
Perencanaan Dalam Era Transformasi
Indonesia. Bandung: Departemen Teknik
Planologi.