Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN KEGIATAN

LAPORAN KEGIATAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT


NELAYAN DI KABUPATEN PANGKEP

Daftar Isi
1

LAPORAN KEGIATAN
Halaman

BAB I PENDAHULUAN.........................................................2
1.1. Latar Belakang.......................................................................2
1.1.1. Latar Belakang..................................................................2
1.1.2. Maksud dan Tujuan............................................................3
1.1.3. Waktu Pelaksanaan...........................................................4
BAB II TAHAP PERSIAPAN...................................................5
2.1 Persiapan...............................................................................5
2.1.1 Penentuan Lokasi..............................................................5
2.1.2 Inventarisasi Potensi..........................................................5
2.1.3 Analisis Potensi..................................................................5
BAB III Pelaksanaan..........................................................7
3.1 Pelaksanaan Kegiatan............................................................7
3.1.1 Fasilitas Ke Dinas dengan Pemangku Kepentingan............7
3.1.2 Pelaksanaan......................................................................7
3.1.3 Hambatan.........................................................................8
BAB IV Penutup...............................................................10
4.1 Kesimpulan dan Saran..........................................................10
4.1.1 Kesimpulan......................................................................10
4.1.2 Saran............................................................................... 10

LAPORAN KEGIATAN

BAB I PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang

1.1.1. Latar Belakang


Legalisasi aset merupakan salah satu di antara Program Strategis Badan
Pertanahan Nasional yang meliputi: Redistribusi Tanah (termasuk dalam
program pelaksanaan Reforma Agraria), Penertiban Tanah Terlantar,
Percepatan Penanganan Kasus Pertanahan dan Optimalisasi Pelaksanaan
Larasita. Legalisasi aset bertujuan untuk memberikan kepastian hukum
dan jaminan atas bidang-bidang tanah yang dimiliki oleh masyarakat,
badan hukum publik maupun badan hukum swasta yang diselenggarakan
melalui pendaftaran tanah atau sertipikasi tanah baik dengan
menggunakan sumber dana publik maupun sumber dana Penerimaan
Negara Bukan Pajak (PNBP).
Dalam hal ini, BPN tidak hanya memberi pelayanan untuk sertifikasi
tanah, tetapi juga memberdayakan masyarakat agar lebih sejahtera
dengan program-program yang pro rakyat. Guna mewujudkan pelayanan
publik yang semakin baik, maka BPN RI membuat pokja lintas sektor
dengan Kementerian Perikanan dan Kelautan untuk meningkatkan
pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan sertifikasi hak atas tanah,
pendampingan dan bimbingan dari kementerian terkait bagi penerima
sertipikat untuk mendapatkan akses-akses lainnya.
Upaya yang dilakukan BPN-RI terkait legalisasi asset untuk
pemberdayaan masyarakat nelayan pada dasarnya telah menerapkan
prinsip-prinsip
pembangunan
berkelanjutan.
Penerapan
prinsip
pembangunan berkelanjutan mensyaratkan setiap daerah pedesaan lebih
mengandalkan sumber daya alam yang terbaharui (renewable natural
resources) sebagai sumber pertumbuhan (Adisasmita, 2006).
Agar dapat berjalan dengan baik, pelaksanaan reforma agraria harus
melibatkan seluruh pihak, tidak hanya pemerintah (pusat dan daerah)
tetapi juga swasta dan lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta
masyarakat penerima tanah (nelayan dan petani tanpa tanah). Masingmasing pihak mempunyai peran tersendiri, tetapi tetap membutuhkan
suatu koordinasi yang baik.
Secara umum, pembagian peran yang terjadi adalah: BPN berperan
dalam proses asset reform (redistribusi dan legalisasi tanah). Ada
3

LAPORAN KEGIATAN
kalanya pihak swasta berperan dalam proses asset reform, yakni ketika
memberikan tanah mereka untuk diredistribusikan. Pemerintah Daerah
dan LSM lebih banyak berperan dalam access reform, walaupun dalam
lingkup kegiatan yang berbeda.
Pemerintah Daerah berperan dalam pemberian modal serta peningkatan
kapasitas dan keahlian dalam rangka membuka akses ekonomi bagi
nelayan dan petani penerima tanah. LSM berperan dalam
pengorganisasian dan peningkatann kapasitas nelayan dan petani,
sehingga mereka mampu mengelola modal yang akan mereka terima
bersamaan dengan pemberian tanah.
Dalam skala yang lebih kecil pelaksanaan pembangunan masyarakat
nelayan dan petani dapat diselenggarakan oleh Lembaga Swadaya
Masyarakat. Pelibatan LSM dan masyarakat secara langsung pada
program pembangunan masyarakat dapat dikatakan sebagai strategi
penerapan community development yang terintegerasi.
Pembangunan masyarakat dalam kegiatan legalisasi asset digunakan
sebagai pendekatan dalam menjalin proses kerjasama dengan
masyarakat dalam rangka meningkatkan motivasi, percaya diri, skill dan
kemampuan identifikasi kebutuhan. Dengan demikian, dalam jangka
panjang masyarakat dapat mengelola proses pembangunan pada tingkat
komunitas secara lebih mandiri ( (Soetomo, 2006)).
1.1.2. Maksud dan Tujuan
Maksud dari kegiatan ini adalah penyusunan acuan dasar dan
pengarusutamaan prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat nelayan
pada proses legalisasi asset BPN Kabupaten Pangkep.
Tujuan dari kajian ini adalah memberikan kontribusi terhadap proses
legaslisasi asset agar pemberdayaan masyarakat yang dilakukan
berorientasi pada pembangunan berkelanjutan, rinciannya antara lain:
a. mengidentifikasi apakah program legalisasi asset yang tertuang
dalam Draft . Kabupaten Pangkep telah memiliki asas
keterkaitan, keseimbangan, dan asas keadilan.
b. mengidentifikasi perkembangan kesejahteraan masyarakat yang
mendapatkan pelayanan pemberdayaan masyarakat hasil dari
kegiatan legalisasi asset.

LAPORAN KEGIATAN
1.1.3. Waktu Pelaksanaan
Adapun rencana jadwal pelaksanaan pekerjaan legalisasi asset nelayan di
Kabupaten Pangkep adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Legalisasi Asset Nelayan di Kabupaten


Pangkep
No.

Uraian Kegiatan
I

1.
a.
b.
c.
d.
e
f
g
h
2.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
3.
a.
b.
c.
d
e
f.

Persiapan Pekerjaan
Pengumpulan data sekunder
Evaluasi data sekunder
Penyiapan personil
Penyiapan peta dasar
Penyiapan kuisioner
Penyiapan perijinan
Penjadwalan pekerjaan dan personil
Survey lokasi
Pelaksanaan Pekerjaan
Survey Lapangan (wawancara)

Pelaporan

Dokumentasi Kegiatan
Pengolahan dan analisis data
Kompilasi Data

Pelaksanaan Bulan keBulan I


Bulan II
II
III
IV
I
II
III

IV

LAPORAN KEGIATAN

BAB II TAHAP PERSIAPAN

2.1 Persiapan
2.1.1 Penentuan Lokasi
Cakupan wilayah studi pemberdayaan masyarakat hasil kegiatan
legalisasi asset di Kabupaten Pangkep adalah seluruh wilayah pesisir
Kabupaten Kabupaten Pangkep.
2.1.2 Inventarisasi Potensi
Inventarisasi potensi dilakukan dengan melibatkan masyarakat melalui
sistem Participatory Rural Appraisal. Inventarisasi hanya bias dilakukan
oleh masyarakat nelayan yang berlaku sebagai penerima program,
sedangkan pemerintah dalam hal ini BPN dan Dinas Perikanan bertindak
sebagai
fasilitator.
Kegiatan
inventarisasi
dengan
pendekatan
Participatory Rural Appraisal dilakukan melalui kegiatan FGD (Focus
Group Discussion) dan pemetaan wilayah partisipatif sederhana yang
dikerjakan oleh masyakat nelayan. Cara ini ditempuh agar kegiatan
inventarisasi potensi wilayah pesisir dilakukan oleh nelayan sendiri
karena mereka yang paling tahu kondisi dan potensi wilayahnya. Dengan
demikian
program
pemberdayaan
masyarakat
yang
diberikan
pemerintah berjalan dengan baik sesuai dengan target yang ingin
dicapai.
2.1.3 Analisis Potensi
Analisis potensi dapat dilakukan dengan menggunakan metode
partisipatoris. Metode partisipatoris merupakan proses pengumpulan
data dan responden. Pertanyaan yang diajukan biasanya tidak dirancang
secara baku melainkan hanya garis besarnya saja. Topik-topik
pertanyaan bahkan dapat muncul dan berkembang berdasarkan proses
Tanya jawab dengan responden ( (Suharto, 2009)). Terdapat beberapa
teknik yang dapat digunakan dalam menganalisis potensi wilayah
perikanan untuk legalisasi asset di Kabupaten Pangkep:

LAPORAN KEGIATAN

a. Participatory
Research
and
Action/Participatory
Rural
Appraisal
PRA fokus pada proses pertukaran informasi dan pembelajaran antara
pengumpul data dan responden. Metode ini biasanya menggunakan
teknik-teknik visual (pemetaan partisipatif yang dilakukan oleh
masyarakat untuk memetakan potensi wilayahnya) sebagai alat
penunjuk pendataan sehingga memudahkan masyarakat biasa (buta
huruf) untuk berpartisipasi (Suharto, 1997;2002;Hikmat, 2001).
b. Stakeholder Analysis
Analisis terhadap para peserta dan pengurus, anggota suatu program,
proyek pembangunan mengenai isu-isu yang terjadi di lingkungannya
seperti, relasi kekuasaan, pengaruh, dan kepentingan berbagai pihak
yang terlibat dalam suatu kegiatan (Suharto, 2009:92).
c. Beneficiary Assesment
Pengidentifikasian masalah sosial yang melibatkan konsultasi secara
sistematis dengan para penerima pelayanan pemberdayaan
masyarakat.
Tujuan
utama
pendekatan
ini
adalah
untuk
mengidentifikasi hambatan-hambatan partisipasi, merancang inisiasi
pembangunan, dan menerima masukan guna memperbaharui sistem
dan kualitas pelayanan dan kegiatan pembangunan.

LAPORAN KEGIATAN

BAB III Pelaksanaan

3.1 Pelaksanaan Kegiatan


3.1.1 Fasilitas Ke Dinas dengan Pemangku Kepentingan
Data dan fasilitas yang dapat disediakan oleh dinas dan dapat digunakan
sebagai referensi adalah :
a. Dinas Perikanan dan Kelautan membantu memfasilitasi untuk
pengumpulan data dan informasi yang diperlukan serta memfasilitasi
mengundang SKPD/intansi terkait lainnya dan stakeholder serta
kelompok kelompok pemangku kepentingan lainnya.
b. Hasil penelitian atau studi terdahulu dari pekerjaan ini, seperti :
Draft RTRW Kabupaten Pangkep
Laporan RTRW Provinsi Sulawesi Selatan dan Rencana
Pengelolaan Pesisir dan Pulau-pulau kecil
Laporan dan studi lingkungan dan zona pemanfaataan kawasan
pesisir yang dilakukan sebelumnya.
c. Fasilitas : Ruangan kantor untuk presentasi laporan, LCD/viewer,
papan tulis dan ijin penelitian.
3.1.2 Pelaksanaan
Tahapan pelaksanaan pekerjaan meliputi kegiatan yang bertujuan untuk
mengumpulkan data-data primer terkait dengan lingkup pekerjaan yang
dilakukan. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain adalah :
1. Identifikasi wilayah kajian
Identifikasi wilayah meliputi cakupan administrasi, letak dan luas,
serta kondisi lingkungan dari wilayah penelitian
2. Pelingkupan isu-isu strategis dan pengumpulan baseline data

LAPORAN KEGIATAN
Pelingkupan isu strategis dan pengumpulan baseline data dilakukan
dengan diskusi kelompok terarah yang dilaksanakan bersama-sama
dengan seluruh stakeholder yang terkait dengan kegiatan
pemberdayaan masyarakat nelayan Kabupaten Pangkep. Dalam
kegiatan ini dilakukan pengorganisasian isu-isu pemberdayaan
masyarakat pesisir (nelayan) yang kemudian memprioritaskan isu
pembangunan yang menjadi isu strategis dalam legalisasi asset oleh
BPN RI Kabupaten Pangkep.
3. Observasi lapangan
Hasil dari pelingkupan isu-isu strategis, dan baseline data pesisir dan
nelayan Kabupaten Pangkep direkap dan kemdian dilakukan observasi
lapangan sebagai bentuk verifikasi dari hasil pelingkupan. Observasi
lapangan dilaksanakan guna mendapatkan informasi tentang isu
strategis pengelolaan wilayah pesisir di lapangan dan di masyarakat.
4. Identifikasi dampak penting dari isu-isu kebijakan rencana
penataan ruang
Hasil pelingkupan, baseline data, dan hasil observasi lapangan
digunakan dalam proses identifikasi dampak penting dari masingmasing kebijakan. Identifikasi dampak penting (pemberdayaan
masyarakat) meliputi dampak pada lingkungan fisik, biotik, dan sosial
ekonomi.
5. Pelaporan
Seluruh proses penyusunan laporan kegiatan pemberdayaan
masyarakat atas kegiatan legalisasi asset di Kabupaten Pangkep
dirangkum dan disusun dalam bentuk laporan yang disusun secara
sistematis sesuai dengan kaidah penulisan ilmiah.
3.1.3 Hambatan
Kegiatan pemberdayaan masyarakat tidak lepas dari hambatan, yakni

hasil kegiatan di lapangan cenderung tidak menunjukkan keberhasilan


dari program pemberdayaan. Hal seperti ini terjadi karena
pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kapasitasnya cenderung
berorientasi karitas (charity strategy) dan bersifat patronizing dan
protektif. Orientasi seperti ini mengakibatkan masyarakat semakin
tergantung pada pihak luar yakni birokrasi dalam hal ini BPN dan Dinas
Perikanan Kelautan Kabupaten Pangkep, sehingga kurang mendorong
kapasitas untuk mengembangkan diri secara mandiri (dikutip dan
digubah sebagian, Tjokrowinoto, 1996 dalam Soetomo, 2006:361).
Hambatan-hambatan yang sekiranya terdapat pada pelaksanaan
kegiatan pemberdayaan nelayan adalah sebagai berikut:
9

LAPORAN KEGIATAN
a. Kekurangan sumber daya dan biaya
Program-program yang didesain, dibiayai dan dikelola secara
sentralistis terkadang memerlukan biaya yang amat mahal untuk
berhasil.
Seringkali
melebihi
kemampuan
birokrasi
untuk
menanggungnya. Program pemberdayaan harus melaksanakan
manajemen birokrasi yang tegar dan tidak lentur, sebaliknya
masyarakat harus menyesuaikan diri terhadap apa yang akan
diberikan oleh birokrasi.
b. Organisasi dan Manajemen
Walaupun pada level konsep, penanganan kesejahteraan sosial
melalui berbagai bentuk cukup baik, tetapi apabila organisasi dan
administrasi pelaksanaannya kurang baik akan diperoleh hasil yang
kurang baik.
c. Kemampuan Menjangkau Sumber Masalah Pada Level Sistem
Berbicara tentang efektivitas program, maka persoalannya menjadi
bertambah komplek apabila diingat bahwa sumber masalah yang
hendak dipecahkan tidak hanya berasal dari kondisi sebagai
penyandang masalah, melainkan juga dapat berasal dari level sistem.
Oleh sebab itu, betapapun usaha untuk selalu memperbaiki dan
menyempurnakan pendekatan dalam pemecahan sosial, tetapi
efektivitasnya masih belum optimal sepanjang sekadar melihat
persoalan dan latar belakangnya dari sisi penyandang masalah.

10

LAPORAN KEGIATAN

BAB IV Penutup

4.1 Kesimpulan dan Saran


4.1.1 Kesimpulan
4.1.2 Saran

11

LAPORAN KEGIATAN

Daftar Pustaka

Adisasmita, R. (2006). Membangun Desa Partisipatif. Yogyakarta: Graha ilmu.


Soetomo. (2006). Strategi Pembangunan Masyarakat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suharto, E. (2009). Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. Bandung:
Refika Aditama.

12