Anda di halaman 1dari 11

Sistem Penambangan Nikel

Sumberdaya (resouces) dan cadangan (reserve) nikel umumnya keterdapatannya di alam


terletak tidak terlalu dalam dari permukaan. Oleh karena itu, sistem penambangan yang yang
biasa digunakan pada penambangan nikel di indonesia adalah dengan sistem tambang terbuka
seperti sistem open cast atau sistem open pit. Pada kedua sistem tersebut terdiri beberapa
tahapan, antara lain.
1. Land Clearing
Proses land clearing merupakan proses awal sebelum penggalian mareial bijih nikel
dilakukan. Pada proses ini, vegetasi yang terdapat diatas cadangan nikel dibersihkan terlebih
dahulu untuk memudahkan pembongkaran dan penggalian material tanah penutup dan bijih
nikel yang akan dilakukan kemudian.

2. Top Soiling
Top soiling merupakan tahapan selanjutnya yang akan dilakukan setelah tahap land
clearing telah selesai dilakukan. Pada tahap ini, lapisan tanah pucuk (top soil) yang
mengandung humus dan unsur hara yang penting untuk kesuburan tanah dikupas, diangkut
lalu ditimbun pada suatu lokasi khusus (dipisahkan dari mateial tanah penutup/overburden)
yang telah dipersiapkan untuk menimbun tanah pucuk ini (top soil bank). Hal ini dilakukan
dengan harapan kondisi dan komposisi tanak pucuk tersebut tidak berubah dan dapat

digunakan kembali ketika proses reklamasi dan revegetasi dilakukan setelah operasi
penambangan selesai dilakukan.

3. Pengupasan dan pengangkutan tanah penutup (Overburden)


Tahapan ini dilakukan bila tahapan land clearing dan top soiling telah selesai dilakukan.
Endapan cadangan timah (saprolit dan limonit) biasanya terletak dibawah lapisan tanah yang
tidak mengandung atau memiliki kadar nikel yang rendah. Sehingga untuk menambangnya

diperlukan pengupasan dan pengangkutan lapisan tanah penutup (overburden) terlebih


dahulu. Proses ini akan menggunakan kombinasi peralatan tambang berupa back hoe dan
dump truck. Tanah penutup yang telah dikupas tersebut kemudian akan ditimbun pada lokasi
penimbunan (disposal area).

4. Pengupasan dan pengangkutan bijih nikel


Setelah pengupasan lapisan tanah penutup selesai dilakukan, maka penambangan nijih
nikel (saprolit dan limonit) dapat dilakukan. Tahapan penambangan ini dikakukan dengan
dengan mengunakan kombinasi peralatan back hoe dan dump truck. Bijih nikel yang telah
ditambang kemudian akan diangkut ke stock pile untuk di timbun sementara pada lokasi
tambang, atau langsung menuju lokasi pabrik pengolahan maupun dikirim ke pelabuhan
untuk dikirim ke lokasi yang telah ditentukan.

5. Penimbunan
Kegiatan penambangan akan menghasilkan perubahan bentuk muka bumi jika yang
berupa cekungan-cekungan pada bekas lokasi penambangan. Oleh karena itu, perusahaan
tambnagn memiliki kewajiban untuk melakukan kegiatan penimbunan pada lokasi bekas
tambang sehingga berubahan bentang alam yang terjadi dapat diminimalisasi. Kegiatan
penimbunan menggunakan kombinasi peralatan back hoe dan bulldozer.

6. Pengangkutan
Setelah ditambang, mateial bijih nikel selanjutnya akan diangkut menuju lokasi
pengolahan untuk diolah untuk menghasilkan bahan olahan nikel maupun pelabuhan untuk
dikirm menuju pihak pembeli. Proses pengangkutan bijih nikel maupun bahan olahan nikel
menggunakan kombinasi peralatan dump truck dan kapal tongkang (tug boat)

TAHAPAN PENGOLAHAN BIJIH NIKEL

TEKNOLOGI PENGOLAHAN BIJIH NIKEL


Secara umum teknologi pengolahan bijih bikel untuk menjadi bahan olahan nikel dapat
dibagi menjadi dua macam yang terdiri dari Pirometalurgi dan Hidrometalurgi, yang
dijelaskan sebagai berikut :
1. Pirometalurgi
Proses pengolahan bijih nikel dengan menggunakan teknologi pengolahan pirometalurgi
yaitu proses ekstraksi bijih nikel dengan menggunakan suhu tinggi. Biasanya teknologi ini
digunakan untuk kriteria bijih dengan kadar nikel yang tinggi (kadar Ni > 1,5 %). Hasil akhir
pengolahan dengan menggunkan teknologi ini berupa ferronikel dalam bentuk ingot atau
granular nikel matte.
2. Hidrometalurgi
Proses pengolahan bijih nikel dengan menggunakan teknologi hidrometalurgi adalah
proses ekstraksi bijih nikel dengan menggunakan proses pelindian (leaching) dengan
menggunakan reagent-reagent tertentu. Teknologi ini biasanya digunakan untuk pengelohan
bijih nikel dengan kadar rendah. Hasil akhir pengolahan ini berupa nikel (Ni).

DIAGRAM ALIR PENGOLAHAN BIJIH NIKEL

1. Metode Pirometalurgi
Diagram alir pengolahan bijih nikel dengan metode pirometalurgi dapat dilihat pada
skema sebagai berikut ini :

Dari Skematika Tahapan proses pengolahan bijih nikel laterite cara pirometalurgi di atas
dapat dilihat secara umum:

Proses Pengeringan/Drying
Proses pengeringan merupakan tahap awal pengolahan bijih nikel dan dilakukan dengan

menggunakan rotary dryer. Sebagai sumber panas digunakan bahan bakar yang umumnya
minyak residu. Bahan bakar disemprotkan dari arah ujung dan samping dapur pengering.
Pada tahap ini, bijih nikel yang awalnya memiliki kadar air sekitar 35 persen, setelah
dikeringkan kadar airnya menjadi sekitar 20 persen. Setelah pengeringan, bijih nikel dikirim
dan simpan di dalam gudang.

Proses Reduksi/Reduction
Setelah mengalami pengeringan dengan kadar air 20 persen, kemudian bijih nikel

diumpan ke dalam rotary kiln untuk direduksi. Pada tahap awal, kadar air bijih nikel akan
berkurang menjadi nol persen. Kemudian bijih nikel akan mengalami proses reduksi. Proses
reduksi akan mengkonversi bijih nikel oksida menjadi logam nikel dan logam besi. Bahan
reduktor atau pereduksi adalah gas CO dan H2 (gas hidrogen). Gas reduktor ini dihasilkan
dari pembakaran tidak sempurna minyak residu. Pada tahap ini ditambahkan juga batubara
dan diakhir proses ditambahkan sulphur cair.
Produk tahap ini biasa disebut dengan calcine/kalsin. Kalsin yang dihasilkan kemudian
dibawa ke proses berikutnya yaitu proses peleburan dilakukan dalam electric arc furnace,
EAF atau tungku busur listrik.

Proses Peleburan/Smelting
Pada tahap ini, calcine akan dilebur di dalam tungku lebur yaitu electric arc furnace.

Kalsin dilebur menjadi matte yang memiliki kualitas tertentu. Selain nikel matte, pada tahap
ini juga dihasilkan slag/pengotor. Tahap ini menghasilkan Nikel matte yang mengandung
nikel sekitar 27 persen. Matte cair ditampung dalam ladle untuk selanjutnya ditransfer
menuju converter.

Proses Converting/Pemurnian
Proses converting adalah proses peningkatan kadar nikel dalam matte cair yang

dihasilkan dari dapur listrik EAF. Kadar nikel naik setelah proses converting, sedangkan
kadar besi dalam matte cair turun. Jadi, proses converting merupakan proses pemurnian nikel
matte cair. Converting dilakukan dalam Top Blown Kaldo Type Rotary Converter (TBRC)
atau dalam Pierce Smith Converter. Pada tahap ini, kadar nikel dalam matte cair ditingkatkan
sehingga mencapai kadar nikel sekitar 78 persen. Sedangkan kadar besi menjdai 0,7 persen.
Proses pemurnian dilakukan dengan menambahkan udara dan silika sebagai fluks, bahan
imbuh.

Proses Granulasi/Granulating
Proses granulasi merupakan tahapan akhir dari pengolahan bijih nikel menjadi matte.

Matte cair dari proses converting ditransfer menggunakan ladle ke lokasi proses granulasi.

Pada proses ganulasi, matte cair disemprot dengan air bertekanan tertentu. Matte cair
membeku dalam bentuk granul-granul atau partikel-partikel kecil.

2. Metode hidrometalurgi
Pengolahan bijih nikel dengan menggunakan metode hidrometalurgi dapat dilihaat pada
skema berikut :

Dari skema tahapan proses pengolahan bijih nikel dengan cara hidrometalurgi dapat kita
lihat secara umum sebagai berikut :

Persiapan Bijih dan Pelindihan Atmosfirik


Bijih limonit dan saprolit ditambang secara bersama-sama, dan kemudian dicampur

dengan air laut untuk menghasilkan bubur bijih. Bubur bijih tersebut kemudian dilindih
dengan asam sulfat untuk melarutkan logam nikel dan kobalt secara selektif dari besi,
pengotor utama yang tertinggal dalam padatan. Langkah pelindihan ini berada pada
menggunakan tekanan atmosferik dan temperatur sektiar 100oC. Tekanan tinggi tidak
digunakan untuk menghindari tantangan teknologi yang terkait.

Netralisasi dan pemisahan padatan/cairan


Sebagian besar pengotor kemudian diendapkan sebagai padatan dengan menambahkan

cairan kapur pada lindihan. Ini disebut netralisasi utama. Pengotor padat yang telah
diendapkan kemudian dipisahkan dari cairan yang berisi nikel dan kobalt, sebelum dicuci
dengan air, dinetralkan dengan cairan kapur dan disaring. Padatan yang dihasilkan, disebut
residu besi, merupakan residu proses utama.

Ekstraksi bahan pelarut (SX) dan perolehan logam


SX adalah sebuah proses dimana bahan ekstraksi organik dapat memisahkan semua

kobalt dan mangan, dalam aliran cairan yang 20 kali lebih kecil. Mereka dapat dipisahkan
dari aliran cairan utama yang mengandung nikel, kemudian diendapkan dengan
menambahkan abu soda. Hasil produk berwarna hijau yang disebut hydroxy-nickel carbonate
dikeringkan sebelum dikemas untuk diekspor ke pasar dunia. kobalt diendapkan dari aliran
yang lebih kecil seperti sulfida kobalt dengan menambahkan sulfida sodium. Ini adalah
produk komersial kedua yang juga dikemas untuk ekspor. Sisa Mangan diendapkan dengan
manambahkan kapur dan membentuk sisa padatan kedua dari proses tersebut.

Pengolahan residu cair


Semua residu cair yang dihasilkan oleh proses tersebut kemudian dinetralkan dengan

kapur untuk mendapatkan kembali sebagian besar sisa logam terlarut. Dalam residu cair sisa
tersebut, semua logam dan garam yang terlarut masih berada pada tingkatan yang memenuhi
standar peraturan di Indonesia dan praktik-praktik terbaik dalam industri-industri
internasional serta aman untuk dikembalikan ke laut. Garam ion dalam residu cair tersebut
secara alamiah telah ada dalam air laut (sodium, mangan, klorida, dan sulfat).

Pengolahan residu padat


Proses hidrometalurgi menghasilkan dua residu padat: residu besi dan mangan. Kedunya

stabil. Mereka akan ditransportasikan dengan cara konvensional (truk, konveyor) dan
disimpan secara terpisah dalam Fasilitas Penyimpanan Residu, yang dirancang dan dikelola
sesuai dengan peraturan lingkungan Indonesia dan internasional.

Produk Akhir
Dalam kondisi kering, produk nikel mengandung 43-45% nikel. Sulfida kobalt

mengandung sekitar 55% kobalt (saat kering).


PRODUK OLAHAN NIKEL

Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa teknologi pengolahan bijih nikel dapat dibagi
menjadi dua macam teknologi yang mempunyai produk akhir yang berbeda-beda. Produk
olahan dari bijih nikel yang umumnya dihasilkan diindonesia adalah sebagai berikut.
1. Ferronikel (menggunakan teknologi pirometalurgi)
2. Nikel Matte (menggunakan teknologi pirometalurgi)
3. Nikel (menggunakan teknologi hidrometalurgi)