Anda di halaman 1dari 15

FUNGSI MAHKAMAH AGUNG

1.FUNGSI PERADILAN
a. Sebagai Pengadilan Negara Tertinggi, Mahkamah Agung merupakan
pengadilan kasasi yang bertugas membina keseragaman dalam penerapan
hukum melalui putusan kasasi dan peninjauan kembali menjaga agar semua
hukum dan undang-undang diseluruh wilayah negara RI diterapkan secara adil,
tepat dan benar.
b. Disamping tugasnya sebagai Pengadilan Kasasi, Mahkamah Agung berwenang
memeriksa dan memutuskan pada tingkat pertama dan terakhir
semua sengketa tentang kewenangan mengadili.
-Permohonan peninjauan kembali putusan pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap (Pasal 28, 29,30,33 dan 34 Undang-undang Mahkamah
Agung No. 14 Tahun 1985)
-Semua sengketa yang timbul karena perampasan kapal asing dan muatannya
oleh kapal perang Republik Indonesia berdasarkan peraturan yang berlaku (Pasal
33 dan Pasal 78 Undang-undang Mahkamah Agung No 14 Tahun 1985)

c. Erat kaitannya dengan fungsi peradilan ialah hak uji materiil, yaitu wewenang
menguji/menilai secara materiil peraturan perundangan dibawah Undangundang tentang hal apakah suatu peraturan ditinjau dari isinya (materinya)
bertentangan dengan peraturan dari tingkat yang lebih tinggi (Pasal 31 Undangundang Mahkamah Agung Nomor 14 Tahun 1985).

2. FUNGSI PENGAWASAN
a. Mahkamah Agung melakukan pengawasan tertinggi terhadap jalannya
peradilan di semua lingkungan peradilan dengan tujuan agar peradilan yang
dilakukan Pengadilan-pengadilan diselenggarakan dengan seksama dan wajar
dengan berpedoman pada azas peradilan yang sederhana, cepat dan biaya
ringan, tanpa mengurangi kebebasan Hakim dalam memeriksa dan memutuskan
perkara (Pasal 4 dan Pasal 10 Undang-undang Ketentuan Pokok Kekuasaan
Nomor 14 Tahun 1970).
b. Mahkamah Agunbg juga melakukan pengawasan :
-Terhadap pekerjaan Pengadilan dan tingkah laku para Hakim dan perbuatan
Pejabat Pengadilan dalam menjalankan tugas yang berkaitan dengan
pelaksanaan tugas pokok Kekuasaan Kehakiman, yakni dalam hal menerima,
memeriksa, mengadili, dan menyelesaikan setiap perkara yang diajukan

kepadanya, dan meminta keterangan tentang hal-hal yang bersangkutan dengan


teknis peradilan serta memberi peringatan, teguran dan petunjuk yang
diperlukan tanpa mengurangi kebebasan Hakim (Pasal 32 Undang-undang
Mahkamah Agung Nomor 14 Tahun 1985).
-Terhadap Penasehat Hukum dan Notaris sepanjang yang menyangkut peradilan
(Pasal 36 Undang-undang Mahkamah Agung Nomor 14 Tahun 1985).

3. FUNGSI MENGATUR
a. Mahkamah Agung dapat mengatur lebih lanjut hal-hal yang diperlukan bagi
kelancaran penyelenggaraan peradilan apabila terdapat hal-hal yang belum
cukup diatur dalam Undang-undang tentang Mahkamah Agung sebagai
pelengkap untuk mengisi kekurangan atau kekosongan hukum yang diperlukan
bagi kelancaran penyelenggaraan peradilan (Pasal 27 Undang-undang No.14
Tahun 1970, Pasal 79 Undang-undang No.14 Tahun 1985).
b. Mahkamah Agung dapat membuat peraturan acara sendiri bilamana dianggap
perlu untuk mencukupi hukum acara yang sudah diatur Undang-undang.

4. FUNGSI NASEHAT
a. Mahkamah Agung memberikan nasihat-nasihat atau pertimbanganpertimbangan dalam bidang hukum kepada Lembaga Tinggi Negara lain (Pasal
37 Undang-undang Mahkamah Agung No.14 Tahun 1985). Mahkamah Agung
memberikan nasihat kepada Presiden selaku Kepala Negara dalam rangka
pemberian atau penolakan grasi (Pasal 35 Undang-undang Mahkamah Agung
No.14 Tahun 1985). Selanjutnya Perubahan Pertama Undang-undang Dasar
Negara RI Tahun 1945 Pasal 14 Ayat (1), Mahkamah Agung diberikan
kewenangan untuk memberikan pertimbangan kepada Presiden selaku Kepala
Negara selain grasi juga rehabilitasi. Namun demikian, dalam memberikan
pertimbangan hukum mengenai rehabilitasi sampai saat ini belum ada peraturan
perundang-undangan yang mengatur pelaksanaannya.
b. Mahkamah Agung berwenang meminta keterangan dari dan memberi
petunjuk kepada pengadilan disemua lingkunga peradilan dalam rangka
pelaksanaan ketentuan Pasal 25 Undang-undang No.14 Tahun 1970 tentang
Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. (Pasal 38 Undang-undang
No.14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung).

5. FUNGSI ADMINISTRATIF
a. Badan-badan Peradilan (Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer
dan Peradilan Tata Usaha Negara) sebagaimana dimaksud Pasal 10 Ayat (1)
Undang-undang No.14 Tahun 1970 secara organisatoris, administrative dan

finansial sampai saat ini masih berada dibawah Departemen yang bersangkutan,
walaupun menurut Pasal 11 (1) Undang-undang Nomor 35 Tahun 1999 sudah
dialihkan dibawah kekuasaan Mahkamah Agung.
b.Mahkamah Agung berwenang mengatur tugas serta tanggung jawab, susunan
organisasi dan tata kerja Kepaniteraan Pengadilan (Undang-undang No. 35 Tahun
1999 tentang Perubahan Atas Undang-undang No.14 Tahun 1970 tentang
Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman).

6. FUNGSI LAIN-LAIN
Selain tugas pokok untuk menerima, memeriksa dan mengadili serta
menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya, berdasar Pasal 2 ayat
(2) Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 serta Pasal 38 Undang-undang Nomor
14 Tahun 1985, Mahkamah Agung dapat diserahi tugas dan kewenangan lain
berdasarkan Undang-undang.

Fungsi dan Wewenang Komisi Yudisial


Dalam Undang-Undang No 22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial digunakan
istilah wewenang dan tugas, tidak dijabarkan tentang fungsi Komisi Yudisial.
Dalam Pasal 24B Undang-Undang Dasar 1945 digunakan Istilah wewenang
untuk menunjuk fugsi yang harus dilakukan oleh Komisi Yudisial. Wewenang
(bevoegdheid) mengandung pengertian tugas (plichten) dan hak (rechten)

Berefleksi dari kelemahan perekrutan hakim agung pada masa orde lama, orde
baru dan pada awal reformasi maka didalam pasal 24 A ayat (3) UUD 1945
dikatakan sebagai berikut : Calon hakim angung diusulkan Komisi Yudisial
kepada Dewan Pewakilan Rakyat untuk mendapatkan persetujuan dan
selanjutnya ditetapkan sebagai hakim angung oleh Presiden.

Sementara itu, didalam ketentan Pasal 8 undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004


tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah
Agung sisebutkan sebagai berikut:
1. Hakim agung diangkat oleh presiden dari nama calon yang diajukan oleh
Dewan Perwakilan Rakyat.
2. Calon hakim agung sebagai mana dimaksud pada ayat (1) dipilih Dewan
Perwakilan Rakyat dari nama calon yang diusulkan oleh Komisi Yudisial.

3. Pemilihan calon hakim agung sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan
paling lama 14 (empat belas) hari sidang sejak nama calon diterima Dewan
Perwakilan Rakyat.
4. Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah Agung dipilih dari dan oleh hakim agung
yang diangkat oleh presiden.
5. Ketua Muda Mahkamah Angung dianggkat oleh Presiden diantara hakim
angung yang diajukan oleh ketua Mahkamah Angung.
6. Keputusan Presiden mengenai pengangkatan Hakim Agung, Ketua dan Wakil
Ketua Muda Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (4)
dan ayat (5) ditetapkan dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja
sejak pengajuan calon diterima presiden.

Dalam ketentuan yang terdapat didalam Pasal 24 A ayat (3) UUD 1945 tersebut
menyuratkan bahwa Komisi Yudisial telah mengambil alih fungsi-fungsi yang
selama ini diperankan oleh MA, Pemerintah dan DPR sebagaimaan siatur dalam
Pasal 8 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung.
Sedangkan DPR mengantikan peran presiden sebagai pihak yang kepadanya
diajukan calon Hakim Agung. Presiden hanya sebagai pihak yang mengangkat
hakim agung dalam kedudukannya sebagai Kepala Negara.

Menindak lanjuti pengalihan fungsi-fungsi pengusulan calon hakim agung yang


selama ini diperankan MA, DPR dan Pemerintah kepada komisi yudisail dan
dalam Undang-Undang No 22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial digunakan
istilah wewenang dan tugas, tidak dijabarkan tentang fungsi Komisi Yudisial.
Dalam Pasal 24B Undang-Undang Dasar 1945 digunakan Istilah wewenang
untuk menunjuk fugsi yang harus dilakukan oleh Komisi Yudisial. Wewenang
(bevoegdheid) mengandung pengertian tugas (plichten) dan hak (rechten). Tugas
dan Kewenangan tersebut diatur dalam Pasal 14 UU No 22 Tahun 2004 Tenang
Komisi Yudisial meneruskan bahwa;
(1) Dalam melaksanakan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13
huruf a, Komisi Yudisial mempenyai tugas:
a. Melakukan pendaftaran calon Hakim Agung;
b. Melakukan seleksi terhadap hakim Agung;
c. Menetapkan calon Hakim Agung; dan
d. Mengajukan calon Hakim Agung ke DPR,

(1) Dalam hal berakhir masa jabatan Hakim Agung , Mahkamah Agung
Menyampaikan kepada Komisi Yudisial daftar nama Hakim Agung yang

bersangkutan, dalam jangka waktu paling lambat 6 (enam) bulan sebelum


berahirnya jabatan tesebut.
(2) Pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakuakan dalam
jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan, sejak Komisi Yudisial menerima
pemberitahuan dari Mahkamah agung mengenai lowongan Hakim Agung.
Selanjutnya, Pasal 16 UU No 22 Tahun 2004 menyebutkan :
(1) Pengajuan calon Hakim Agung kepada Komisi Yudisial harus memperhatikan
persyaratan untuk dapat diangkat sebagai Hakim Agung sebagaimana diatur
dalam peraturan perundang-undangan.
(2) Selain Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pengajuan calon
Hakim Agung memenuhi persyaratan administrasi dengan menyerahkan
sekurang-kurangnya :
a. Daftar riwayat hidup, termasuk riwayat pekerjaan;
b. Ijazah asli atau yang telah dilegalisasi;
c. Surat keterangan sehat jasmani dan rohani dari dokter rumah sakit
pemerintah;
d. Daftar harta kekayaan serta sumber penghasilan calon;
e. Nomor pokok wajib pajak

Dalam UU No 22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial ini juga diatur mengenai
keterlibatan masyarakat dalam proses perekrutan Hakim Agung, hal tesebut
terlahir dikarenakan evaluasi dari sistem rekrutmen hakim pada masa Orde Baru
yang berlandaskan yang berdasarkan pada UU No 14 Tahun 1985 yang
memperlihatkan beberapa kelemahan, diantaranya :
1 Tidak ada perameter yang obyektif untuk mengukur kualitas dan integritas
calon hakim agung.
2 Adanya indikasi praktik droping nama, dimana hakim agung akan memberikan
nama kepada Mahkamah agung dengan harapan Ketua Mahkamah Agung
memberikan perhatian kepada kandidat dan memasukkan namanya dalam
daftar; dan
3 Adanya indikasi jaringan, pertemanan, hubungan keluarga, dan sebagainya
yang menyebabkan pemilihan tidak dilakuakn secara obyektif.

Untuk itu pelibatan masyarakat dalam proses rekruitmen Hakim Agung dalam UU
No 22 tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial diatur dalam pasal 17 ayat (3) yang
menyebutkan :

Masyarakat berhak memberikan informasi atau pendapat terhadap calon Hakim


Agung dalam jangka waktu 30 (tigapuluh) hari terhitung sejak pengumuman
sebagaimana diatur ayat (2)

Selanjutnya, dalam ayat (4) disebutkan :


Komisi Yudisial melakukan penelitian atas informasi atau pendapat masyarakat
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga
puluh) hari terhitung sejak pemberian informasi atau pendapat berakhir.
Kemudian Pasal 18 mengatur:
(1) Komisi Yudisial menyelenggarakan seleksi terhadap kualitas dan kebribadian
calon Hakim Agung yang telah memenuhi persyaratan administratif berdasrkan
atandar yang telah ditetapkan.
(2) Komisi Yudisial mewajibkan calon Hakim Agung menyusun karya Ilmiah
dengan topik yang telah ditentukan.
(3) Karya ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sudah diterima Komisi
Yudisial, dalam jangka waktu palinglama 10 (sepuluh) hari sebelum seleksi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan.
(3) Seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terbuka
dalam jangka waktu lama 20 (dua puluh) hari.
(4) Dalam jangka waktu paling lambat 15 (lima belas) hari terhitung sejak seleksi
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berakhir, Komisi Yudisial menetapkan dan
mengajukan 3 (tiga) orang nama calon Hakim Agung kepada DPR untuk setiap 1
(satu) lowongan Hakim Agung, dengan tembusan disampaikan kepada Presiden.
Tahapan selanjutnya dari proses rekruitmen hakim agung adalah wewenang dari
DPR memilih hakim agung berdasarkan daftar nama yang diajukan Komisi
Yudisial, hal tersebut diatur dalam pasal 19 UU No 22 tahun 2004 tentang Komisi
Yudisial, dalam pasal tersebut menyatakan:
(1) DPR telah menetapkan calon Hakim Agung untuk diajuakan kepada presiden
dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak diterima nama calon
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (5)
(2) Keputusan Presiden mengenai pengankatan Hakim Agung ditetapkan dalam
jangkawaktu palinglama 14 (empat belas) harisejak Presiden menerima nama
calon yang diajukan DPR.
(3) Dalam jangkawaktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilampaui tanpa
ada penetapan, Presiden yang berwenang mengngagkat Hakim Agung dari calon
yang diajukan Komisi Yudisial sebagaimana dimaksud dalam pasal 18 ayat (5).

Dalam hal ini usulan nama yang diajukan Komisi Yudisial bersifat mengikat,
artinya DPR wajib dan hanya dapat memilih bakal calon diantara daftar nama
calon hakim agung yang diajukan oleh Komisi Yudisial.

FUNGSI MAHKAMA KONSTITUSIONAL


Fungsi dan peran utama MK adalah adalah menjaga konstitusi guna tegaknya
prinsip konstitusionalitas hukum. Demikian halnya yang melandasi negaranegara yang mengakomodir pembentukan MK[1] dalam sistem
ketatanegaraannya. Dalam rangka menjaga konstitusi, fungsi pengujian undangundang itu tidak dapat lagi dihindari penerapannya dalam ketatanegaraan
Indonesia sebab UUD 1945 menegaskan bahwa anutan sistem bukan lagi
supremasi parlemen melainkan supremasi konstitusi.
Bahkan, ini juga terjadi di negara-negara lain yang sebelumnya menganut sistem
supremasi parlemen dan kemudian berubah menjadi negara demokrasi. MK
dibentuk dengan fungsi untuk menjamin tidak akan ada lagi produk hukum yang
keluar dari koridor konstitusi sehingga hak-hak konstitusional warga terjaga dan
konstitusi itu sendiri terkawal konstitusionalitasnya.
Untuk menguji apakah suatu undang-undang bertentangan atau tidak dengan
konstitusi, mekanisme yang disepakati adalah judicial review[2]yang menjadi
kewenangan MK. Jika suatu undang-undang atau salah satu bagian daripadanya
dinyatakan terbukti tidak selaras dengan konstitusi, maka produk hukum itu
akan dibatalkan MK. Sehingga semua produk hukum harus mengacu dan tak
bolehbertentangan dengan konstitusi. Melalu kewenangan judicial review ini, MK
menjalankan fungsinya mengawal agar tidak lagi terdapat ketentuan hukum
yang keluar dari koridor konstitusi.

Fungsi lanjutan selain judicial review, yaitu (1) memutus sengketa antarlembaga
negara, (2) memutus pembubaran partai politik, dan (3) memutus sengketa hasil
pemilu. Fungsi lanjutan semacam itu memungkinkan tersedianya mekanisme
untuk memutuskan berbagai persengketaan (antar lembaga negara) yang tidak
dapat diselesaikan melalui proses peradilan biasa, seperti sengketa hasil pemilu,
dan tuntutan pembubaran sesuatu partai politik. Perkara-perkara semacam itu
erat dengan hak dan kebebasan para warga negara dalam dinamika sistem
politik demokratis yang dijamin oleh UUD. Karena itu, fungsi-fungsi penyelesaian
atas hasil pemilihan umum dan pembubaran partai politik dikaitkan dengan
kewenangan MK Fungsi dan peran MK di Indonesia telah dilembagakan dalam
Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 yang menentukan bahwa MK mempunyai empat
kewenangan konstitusional (conctitutionally entrusted powers) dan satu
kewajiban konstitusional (constitusional obligation). Ketentuan itu dipertegas
dalam Pasal 10 ayat (1) huruf a sampai dengan d Undang-Undang Nomor 24
tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Empat kewenangan MK adalah:
Menguji undang-undang terhadap UUD 1945.
Memutus sengketa kewenangan antar lembaga negara yang kewenangannya
diberikan oleh UUD 1945.
Memutus pembubaran partai politik.
Memutus perselisihan tentang hasil pemilu.
Sementara, berdasarkan Pasal 7 ayat (1) sampai dengan (5) dan Pasal 24 C ayat
(2) UUD 1945 yang ditegaskan dalam Pasal 10 ayat (2) UU Nomor 24 Tahun
2003, kewajiban MK adalah memberi keputusan atas pendapat DPR bahwa
Presiden dan atau Wakil Presiden telah melakukan pelanggaran hukum, atau
perbuatan tercela, atau tidak memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil
Presiden sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945.

[1] Tidak semua negara menyebut lembaga baru itu dengan istilah MK. Prancis
misalnya menyebut dengan Dewan Konstitusi (Counseil Constitutionnel), Belgia
menyebutnya Arbitrase Konstitusional (Constitusional Arbitrage) karena lembaga
ini dianggap bukan pengadilan dalam arti yang lazim karena itu, para
anggotanya juga tidak disebut hakim. Persamaan dari ke-78 negara itu adalah
pada MK yang dilembagakan tersendiri di luar MA.

[2] Judicial review merupakan hak uji (toetsingrechts) baik materiil maupun
formil yang diberikan kepada hakim atau lembaga peradilan untuk menguji
kesahihan dan daya laku produk-produk hukum yang dihasilkan oleh eksekutif
legislatif maupun yudikatif di hadapan peraturan perundangan yang lebih tinggi
derajat dan hierarkinya. Pengujian biasanya dilakukan terhadap norma hukum
secara a posteriori, kalau dilakukan secara a prioridisebut judicial
previewsebagaimana misalnya dipraktekkan oleh Counseil Constitusional (Dewan

Konstitusi) di Prancis.Judicial review bekerja atas dasar adanya peraturan


perundang-undangan yang tersusun hierarkis.

Fungsi Pengadilan Tinggi


Adapun tugas pokok dan fungsi sesuai dengan struktur organisasi di atas adalah
sebagai berikut:
1. Ketua dan Wakil Ketua (Pimpinan Pengadilan Tinggi):

Ketua mengatur pembagian tugas para Hakim, membagikan berkas


perkara dan surat-surat lain yang berhubungan dengan perkara yang
diajukan kepada Majelis Hakim untuk diselesaikan.
Mengadakan pengawasan dan pelaksanaan tugas dan tingkah laku Hakim,
Panitera/Sekretaris, pejabat Struktural lainnya dan fungsional, serta
perangkat administrasi peradilan di daerah hukumnya.
Menjaga agar penyelenggaraan peradilan terselenggara dengan wajar dan
seksama.

2. Majelis Hakim:
Melaksanakan tugas kekuasaan kehakiman di daerah hukumnya

3. Panitera/Sekretaris;

Panitera bertugas menyelenggarakan administrasi perkara, dan mengatur


tugas Wakil Panitera, para Panitera Muda, Panitera pengganti, serta
seluruh pelaksana di bagian teknis Pengadilan Tinggi.
Panitera, Wakil panitera, Panitera Muda dan Panitera pengganti bertugas
membantu Hakim dengan mengikuti dan mencatat jalannya persidangan.
Panitera membuat daftar perkara perkara perdata dan pidana yang
diterima di kepaniteraan.
Panitera membuat salinan putusan menurut ketentuan undang-undang
yang berlaku
Panitera bertanggung jawab atas pengurusan berkas perkara, putusan,
dokumen, akta, buku daftar, biaya perkara, uang titipan pihak ketiga,
surat-surat berharga, barang bukti, dan surat-surat lainnya yang disimpan
di kepaniteraan.
Sekretaris bertugas menyelenggarakan administrasi umum, mengatur
tugas Wakil Sekretaris, para Kepala Sub Bagian, Pejabat administrasi
umum, serta seluruh pelaksana di bagian kesekretariatan Pengadilan
Tinggi.
Sekretaris selaku Pengguna Anggaran (Kuasa pengguna Anggaran)
bertanggung jawab atas penggunaan anggaran.

Sekretaris selaku Pengguna barang (Kuasa Pengguna Barang)


bertanggung jawab atas keberadaan dan pemanfaatan barang milik
negara (BMN).

4. Wakil Sekretaris :
Membantu Sekretaris dalam melaksanakan tugas di bidang administrasi
umum/kesekretariatan dan mengkoordinir tugas-tugas Kepala Sub Bagian
Umum, Kepegawaian dan Keuangan.

5. Wakil Panitera

Membantu Panitera didalam membina dan mengawasi pelaksanaan tugastugas administrasi perkara.
Membantu Hakim dengan mengikuti dan mencatat jalannya sidang
pengadilan, serta membuat berita acara persidangan samapai pada
penjilidan berkas perkara.
Melaksanakan tugas panitera apabila panitera berhalangan.
Melaksanakan tugas yang didelegasikan kepadanya.

6. Panitera Muda Perdata:

Membantu hakim dengan mengikuti dan mencatat jalannya sidang


pengadilan.
Melaksanakan administrasi perkara, mempersiapkan persidangan perkara,
menyimpan berkas perkara yang masih berjalan dan urusan lain yang
berhubungan dengaan masalah perkara perdata.
Memberi nomor register pada setiap perkara yang diterima di
Kepaniteraan Perdata.
Mencatat setiap perkara yang diterima kedalam buku daftar disertai
catatan singkat tentang isinya.
Menyerahkan salinan putusan kepada para pihak yang berperkara bila
diminta.
Menyiapkan berkas perkara yang dimohonkan banding, kasasi atau
peninjauan kembali.
Menyerahkan arsip berkas in aktif perkara kepada Panitera Muda Hukum.

7. Panitera Muda Pidana:

Membantu hakim dengan mengikuti dan mencatat jalannya sidang


pengadilan.

Melaksanakan administrasi perkara mempersiapkan persidangan perkara,


menyimpan berkas perkara yang masih berjalan dan urusan lain yang
berhubungan dengan masalah perkara pidana.
Memberi nomor register pada setiap perkara yang diterima di
kepaniteraan.
Memberi nomor register pada setiap perkara dengan acara singkat yang
telah diputus hakim atau diundurkan hari persidangannya.
Mencatat setiap perkara yang diterima kedalam buku daftar disertai
catatan singkat tentang isinya.
Menyerahkan salinan putusan kepada Jaksa, terdakwa atau kuasanya
serta Lembaga Pemasyarakatan apabila terdakwa ditahan.

8. Panitera Muda Hukum:

Membantu hakim dengan mengikuti dan mencatat jalannya sidang


pengadilan.
Mengumpulkan, mengolah dan mengkaji data, menyajikan statistik
perkara, menyusun laporan perkara, menyimpan arsip berkas perkara
atau permohonan grasi dan tugas lain yang diberikan berdasarkan
peraturan yang berlaku.

9. Panitera Pengganti:
Membantu hakim dengan mengikuti dan mencatat jalannya sidang pengadilan.
Membantu hakim dalam hal :
1) Perkara Perdata :
a. Membuat penetapan hari sidang.
b. Membuat berita acara persidangan yang harus selesai sebelum
sidang berikutnya.
c. Mengetik keputusan.

2) Perkara Pidana :
a. Membuat penetapan hari sidang;
b. Membuat penetapan terdakwa tetap ditahan, dikeluarkan dari
tahanan atau dirubah jenis penahanannya;

c. Membuat berita acara persidangan yang harus selesai sebelum


sidang berikutnya;
d. Melaporkan barang bukti kepada panitera;
e. Mengetik putusan.
f. Melaporkan kepada Panitera Muda bersangkutan berkenaan dengan
penundaan hari-hari sidang, perkara yang sudah putus berikut amar
putusannya.
g. Menyerahkan berkas perkara kepada panitera muda bersangkutan
bila telah selesai diminutasikan.

10. Bagian Keuangan:

Meneliti berkas tagihan pemeliharaan alat perlengkapan kantor, gedung


kantor dan biaya langganan telepon, listrik dan air bersih untuk
mendapatkan penyelesaian pembayaran.
Membuat daftar gaji/lembur dan rapel pegawai sebagai bahan untuk
melakukan pembayaran gaji/lembur dan rapel.
Melakukan pembayaran gaji pegawai sesuai dengan daftar gaji .
Mempersiapkan dan menyelenggarakan pengurusan perjalanan dinas
dalam rangka kelancaran tugas.
Mengkoordinasikan penyusunan daftar usulan kegiatan sebagai bahan
penyediaan dana kegiatan.
Melakukan pencairan berdasarkan SPM yang diterima.
Melakukan pembayaran atas tagihan beban anggaran belanja rutin.
Melaksanakan pemotongan pajak pada setiap pengeluaran sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
Memeriksa dan meneliti surat pertanggungjawaban penggunaan anggaran
rutin sesuai dengan bukti-bukti pengeluarannya.
Menyelenggarakan pembukuan atas SPJ ke dalam buku kas umum atau
buku-buku pembantu lainnya untuk dilakukan perhitungan dan verifikasi
dengan mengetahui perkembangan realisasi anggaran yang telah
disediakan.
Sebagai koordinator wilayah dalam pelaporan Sistem Akutansi Instansi
Pemerintah (SIAP) dan pelaporan keuangan lainnya untuk dilaporkan ke
Mahkamah Agung RI.

11. Bagian Kepegawaian:

Menyusun Surat Keputusan pengangkatan sebagai PNS untuk Gol. II.


Menyusun Surat Keputusan kenaikan pangkat untuk Gol. III/c kebawah.
Membuat usul pemberian kartu pegawai bagi CAPEG yang telah diangkat
Pegawai Negeri Sipil.

Menganalisa data kepegawaian untuk menyiapkan DUK pegawai negeri.


Menyiapkan surat permintaan pengujian kesehatan bagi calon PNS kepada
Dokter penguji kesehatan atau tim penguji kesehatan bagi calon pegawai
yang akan diangkat menjadi pegawai negeri sipil.
Menyiapkan penyelenggaraan Sumpah PNS dan sumpah serta pelantikan
jabatan.
Melaksanakan pengusulan kenaikan pangkat.
Melakukan pengusulan pengangkatan dalam jabatan struktural
Melaksanakan pengusulan pemindahan pegawai.
Mengusulkan pemberhentian dan pemensiunan.
Menyusun DUK pegawai dalam lingkungan Pengadilan Tinggi.
Mempersiapkan bahan dan mencatat seluruh hasil untuk rapat
Baperjakat.

12. Bagian Umum

Mendistribusikanan pengelolaan arus surat masuk dengan sistem kartu


kendali untuk memperlancar penerimaan informasi.
Membuat Laporan Bulanan dan membuat laporan Inventaris setiap per
semester dan Laporan Tahunan
Pengiriman surat keluar untuk memperlancar penyampaian informasi.
Mengklasifikasikan arsip dilingkungan pengadilan negeri.
Menyelenggarakan urusan kearsipan dengan mengatur kegiatan
penyediaan, pelayanan peminjaman, penyimpanan dan pemeliharaan
arsip surat-surat dan kantor.
Menyelenggarakan pemeliharaan kendaraan dinas agar selalu dalam
keadaan siap untuk digunakan.
Menyelenggarakan administrasi biaya pemeliharaan kendaraan dinas
sebagai bahan pertanggungjawaban penggunaan kendaraan dinas.
Menyelenggarakan pemeliharaan alat perlengkapan kantor, gedung kantor
dan rumah dinas sesuai dengan rencana dan anggaran yang telah
ditetapkan.
Menyelenggarakan pemeliharaan pemakaian telepon, listrik, air bersih dan
kebersihan ruangan agar dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Fungsi Pengadilan Tinggi Agama


Untuk melaksanakan tugas-tugas pokoknya, Pengadilan Agama mempunyai
fungsi sebagai berikut :

Memberikan pelayanan Tekhnis Yustisial dan Administrasi Kepaniteraan


bagi perkara Tingkat Pertama serta Penyitaan dan Eksekusi;
Memberikan pelayanan di bidang Administrasi Perkara banding, Kasasi,
dan Peninjauan Kembali serta Administrasi Peradilan lainnya;
Memberikan pelayanan administrasi umum pada semua unsur di
Lingkungan Pengadilan Agama;
Memberikan Keterangan, pertimbangan dan nasehat tentang Hukum Islam
pada Instansi Pemerintah di daerah hukumnya, apabila diminta
sebagaimana diatur dalam Pasal 52 Undang-Undang Nomor 50 Tahun
2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989
tentang Peradilan Agama;
Memberikan pelayanan penyelesaian permohonan pertolongan pembagian
harta peninggalan diluar sengke
ta antara orang-orang yang beragama Islam yang dilakukan berdasarkan
hukum Islam sebagaimana diatur dalam Pasal 107 ayat (2) UndangUndang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama
Waarmerking Akta Keahliwarisan di bawah tangan untuk pengambilan
deposito / tabungan, pensiunan dan sebagainya;
Melaksanakan tugas - tugas pelayanan lainnya seperti penyuluhan hukum,
memberikan pertimbangan hukum agama, pelayanan riset / penelitian dan
sebagainya.

FUNGSI PERADILAN MILITER


Peradilan militer adalah bagian dari kekuasaan kehakiman untu menegakan
hukum dan keadilan dengan memperhatikan menjungjung fungsi-fungsi untuk
menjaga stabilitas negara.
Adapun tujuan dari peradilan militer tersebut adalah mencari kebenaran materiil
demi tegaknya hukum dan keadilan di kalangan prajurit militer bila terjadi
pelanggaran hukum.
Fungsi peradilan militer diantaranya :

a. bertugas dan berwenang menjatuhkan sanksi dari aparat yang ditunjuk jika
terjadi pelanggaran hukum disiplin prajurit ( undang-undang no.26 tahun 1997)
b. memeriksa, mengadili, dan memutus terhadap setiap pelanggaran oleh
prajurit dalam lingkup kewenangan pengadilan militer( undang-undang No.31
tahun 1997)
melihat dua fungsi peradilan militer maka dapat disimpulkan adanya dualisme
penyelesaian pelanggaran hukum dalam peradilan militer, yaitu melalui undangundang No 26 tahun 1997 dan undang-undang no 31 tahun 1997.

FUNGSI PENGADILAN TATA USAHA NEGARA


Fungsi Peradilan Tata Usaha Negara adalah sebagai sarana untuk menyelesaikan
konflikyang timbul antara pemerintah (Badan/Pejabat TUN) dengan rakyat (orang
perorang/badan hukum perdata). Konflik disini adalah sengketa tata usaha
negara akibat dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara. Untuk lebih
mendalami urgensi eksistensi Peradilan Tata Usaha Negara dilihat dari tujuan
dan fungsinya dapat dilihat dari beberapa pendekatan, yaitu pendekatan dari
segi filsafat, segi teori, segi historis dan segi sistem terhadap peradilan
administrasi.