Anda di halaman 1dari 12

Indikasi dan Kontraindikasi Penggunaan Fluor

Menurut Donley (2003), meliputi :


A. Indikasi
1. pasien anak di bawah 5 tahun yang memiliki resiko karies sedang sampai tinggi
2. gigi dengan permukaan akar yang terbuka
3. gigi yang sensitif
4. anak-anak dengan kelainan motorik, sehingga sulit untuk membersihkan gigi
(contoh:Down syndrome)
5. pasien yang sedang dalam perawatan orthodontik
B. Kontraindikasi
1. pasien anak dengan resiko karies rendah
2. pasien yang tinggal di kawasan dengan air minum berfluor
3. ada kavitas besar yang terbuka

Indikasi dan kontra indikasi penggunaan mouthwash yang mengandung fluoride


adalah sebagai berikut :
Indikasi
Anak-anak berisiko karies di atas usia 6 tahun yang sudah bisa berkumur dan

meludah dengan baik


Pasien dengan alat ortodonti
Orang dewasa berisiko karies yang salivary flow rate-nya menurun karena obat-

obatan, penyakit atau radioterapi


Orang dewasa dengan akar gigi yang terbuka
Kontra indikasi
Anak-anak usia di bawah 6 tahun yang belum bisa berkumur dengan baik.

indikasi fluoride ( topical aplikasi ) adalah

pasien dengan karies resiko menengah dan tinggi terutama p

ada anak dibawah lima tahun

sebagai bahan desensitasi/mengurangi sensitifitas pada akar gigi yang terbuka

pasien yang mempunyai banyak lubang gigi dan cenderung terbentuk white spot
oleh karena hipokalsikasi atau kelainan perkembangan dalam geliginya.

pada anak yang lebih dari setahun masih menggunakan susu botol dan pada
anak yang tidak bisa tidur bila tidak minum susu botol

anak dengan breast feeding

anak yang mempunyai keterbelakangan mental

pasien yang harus mengkonsumsi medikasi yang mengandung kadar gula tinggi
kontra indikasi fluoride

pasien yang cukup konsumsi air minum yang mengandung fluoride atau daily
dietnya telah tercukupi kebutuhan fluoride nya
aplikasi fluoride di kedokteran gigi sebagai pencegahan
bentuk fluoride ini sebagai topikal aplikasi.
Salah satu bahan yang dipergunakan pada pedodontik atau kedokteran gigi anak
adalah fissure sealent.
Tooth mouse juga mengandung bahan fluoride.
Sekilas tentang tooth mouse bisa klik disini : Tooth mouse
bahan bacaan tambahan tentang fluoride silahkan klik disini : fluoride
oke, itu ringkasan sekilas jawaban pertanyaanmu, untuk selebihnya coba
dikembangkan sendiri. selama belajar...

Menurut American Dental Association (2006), kriteria risiko kejadian karies dapat dibagi
menjadi sebagai berikut :
Low caries risk
Pada semua umur, jika tidak terdapat kavitas yang baru terbentuk, baik berupa kavitas
primer maupun sekunder dalam 3 tahun terakhir dan tidak terdapat faktor risiko yang
meningkatkan kejadian karies.
Moderate caries risk
Anak usia di bawah 6 tahun
-

Tidak terdapat kavitas yang baru terbentuk baik berupa kavitas primes maupun
sekunder dalam 3 tahun terakhir namun memiliki paling tidak salah satu dari faktor

risiko karies
Usia di atas 6 tahun
- Terdapat 1 atau 2 kavitas yang baru terbentuk baik primer maupun sekunder
- Tidak terdapat kavitas yang baru terbentuk baik primer maupun sekunder tapi paling
tidak memiliki salah satu faktor risiko karies
High caries risk
Usia di bawah 6 tahun
- Terdapat lesi karies yang baru terbentuk bair primer maupun sekunder dalam 3 tahun
terakhir
- Memiliki beberapa faktor risiko karies
- Status sosioekonomi rendah
- Eksposur fluoride yang tidak cukup
- Xerostomia
Usia di atas 6 tahun
- Lebih dari 3 lesi karies yang baru terbentuk baik primer maupun sekunder dalam 3
tahun terakhir
- Memiliki beberapa faktor risiko yang meningkatkan terjadinya karies
- Eksposur fluoride yang tidak cukup
- Xerostomia
Sedangkan faktor risiko yang meningkatkan terjadinya karies menurut ADA (2006)
adalah sebagai berikut :
- Titer bakteri kariogenik tinggi
- Oral hygiene yang buruk
- Konsumsi susu botol lebih lama
- Defek enamel kongenital maupun didapat
- Abnormalitas genetik pada gigi
- Restorasi multisurface
- Pengguna obat-obatan atau alcohol
- Perawatan gigi yang ireguler
- Diet kariogenik
- Pasien ortodonti

Ada permukaan akar yang terbuka


Restorasi overhang atau open margin

Disabilitas mental dan fisik


B. Pemberian Fluor Secara Sistemik dan Topikal
a. Pemberian Fluor Sistemik
Fluoride sistemik adalah fluoride yang diperoleh tubuh melalui pencernaan dan ikut
membentuk struktur gigi. Fluoride sistemik juga memberikan perlindungan topikal
karenafluoride ada di dalam air liur yang terus membasahi gigi. Fluoride sistemik ini meliputi
fluoridasi air minum dan melalui pemberian makanan tambahan fluoride yang berbentuk
tablet, tetes atau tablet isap. Namun di sisi lain, para ahli sudah mengembangkan berbagai
metode penggunaan fluor, yang kemudian dibedakan menjadi metode perorangan dan
kolektif. Contoh penggunaan kolektif yaitu fluoridasi air minum (biasa kita peroleh dari air
kemasan) dan fluoridasi garam dapur (Heriyati dkk, 2010). Terdapat tiga cara pemberian
fluor secara sistemik, yaitu :
1. Fluoridasi air minum
Telah dibuktikan, apabila dalam air minum yang dikonsumsi oleh suatu daerah, atau
kota tertentu dibubuhi zat kimia fluor maka penduduk di situ akan terlindung dari karies gigi.
Pemberian fluor dalam air minum ini jumlahnya bervariasi antara 1-1,2 ppm (part per
million). Selain dapat mencegah karies, fluor juga mempunyai efek samping yang tidak baik
yaitu dengan adanya apa yang disebut mottled enamel pada mottled enamel gigi-gigi
kelihatan kecoklat-coklatan, berbintik-bintik permukaannya dan bila fluor yang masuk dalam
tubuh terlalu banyak, dapat menyebabkan gigi jadi rusak sekali (Heriyati, 2010).
Konsentrasi optimum fluorida yang dianjurkan dalam air minum adalah 0,71,2
ppm.18 Menurut penelitian Murray and Rugg-gun cit. Linanof bahwa fluoridasi air minum
dapat menurunkan karies 4050% pada gigi susu (Heriyati, 2010).
2. Pemberian fluor melalui makanan
Kadang-kadang makanan yang kita makan sudah mengandung fluor yang cukup
tinggi, hingga dengan makanan itu saja sudah mencegah terjadinya karies gigi. Jadi harus
diperhatikan bahwa sumber yang ada sehari-hari seperti di rumah, contohnya di dalam air
mineral, minuman ringan dan makanan sudah cukup mengandung fluoride. Karena itu
makanan fluoride harus diberikan dengan hati-hati. Makanan tambahan fluoride hanya
dianjurkan untuk mereka (terutama anak-anak) yang tinggal di daerah yang sumber airnya
rendah fluor atau tidak difluoridasi. Fluoride dapat berbahaya jika dikonsumsi secara
berlebihan. Apabila pemakaian fluoride tidak terkontrol dan tidak disiplin, maka tidak akan

mencapai sasaran dan dapat menyebabkan kerusakan gigi. Contohnya adalah fluorosis.
(Heriyati, 2010).
3. Pemberian fluor dalam bentuk obat-obatan
Pemberian fluor dapat juga dilakukan dengan tablet, baik itu dikombinasikan dengan
vitamin-vitamin lain maupun dengan tablet tersendiri. Pemberian tablet fluor disarankan pada
anak yang berisiko karies tinggi dengan air minum yang tidak mempunyai konsentrasi fluor
yang optimal (2,2 mg NaF, yang akan menghasilkan fluor sebesar 1 mg per hari). Tablet fluor
dapat diberikan sejak bayi berumur 2 minggu hingga anak 16 tahun. Umur 2 minggu-2 tahun
biasanya diberikan dosis 0,25 mg, 2-3 tahun diberikan 0,5 mg, dan 3-16 tahun sebanyak 1 mg
(Heriyati, 2010).
b. Pemberian Fluor Secara Topikal
Menurut Angela (2005) yang dikutip oleh Heriyati dkk (2010), tujuan penggunaan
fluor adalah untuk melindungi gigi dari karies, fluor bekerja dengan cara menghambat
metabolisme bakteri plak yang dapat memfermentasi karbohidrat melalui perubahan hidroksil
apatit pada enamel menjadi fluor apatit yang lebih stabil dan lebih tahan terhadap pelarutan
asam. Reaksi kimia : Ca10(PO4)6(OH)2+F Ca10(PO4)6(OHF) menghasilkan enamel
yang lebih tahan asam sehingga dapat menghambat proses demineralisasi dan meningkatkan
remineralisasi. Remineralisasi adalah proses perbaikan kristal hidroksiapatit dengan cara
penempatan mineral anorganik pada permukaan gigi yang telah kehilangan mineral tersebut.
Demineralisasi adalah proses pelarutan kristal hidroksiapatit email gigi, yang terutama
disusun oleh mineral anorganik yaitu kalsium dan fosfat, karena penurunan pH plak sampai
mencapai pH kritis (pH 5) oleh bakteri yang menghasilkan asam (Heriyati dkk, 2010).
Penggunaan fluor sebagai bahan topikal aplikasi telah dilakukan sejak lama dan telah
terbukti menghambat pembentukan asam dan pertumbuhan mikroorganisme sehingg
menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam mempertahankan permukaan gigi dari
proses karies. Penggunaan fluor secara topikal untuk gigi yang sudah erupsi, dilakukan
dengan beberapa cara(Heriyati dkk, 2010):
1. Topikal aplikasi yang mengandung fluor
2. Kumur-kumur dengan larutan yang mengandung fluor
3. Menyikat gigi dengan pasta yang mengandung fluor

C. Jenis-jenis Topikal Aplikasi Fluor

a. Topikal Aplikasi yang Mengandung Fluor


Acidulated phosphate fluoride gel (APF)
APF terdiri dari dua bentuk sediaan, yaitu high-strength gel (12300 ppm) yang
diaplikasikan oleh dokter gigi dan low-strength gel (1000 5000 ppm) yang dapat
diaplikasikan sendiri oleh pasien di rumah. Gel dapat ditambahkan pada pasta gigi yang
digunakan sehari-hari (Ireland, 2006).
Indikasi penggunaakn APF adalah sebagai berikut (El-Samarrai, 2011) :
- Pasien dengan rampan karies
- Pasien xerostomia
- Pasien dengan gigi sensitive karena penggunaan (abrasi, atrisi, erosi) atau karena akar
-

yang terbuka
Karies akar
Karena toksisitas gel dengan kandungan fluoride yang banyak cukup tinggi,

berikut rekomendasi untuk penggunaan high-strength gel (Ireland, 2006) :


- Gunakan tidak lebih dari 2 ml gel
- Pasien diminta duduk tegak dengan kepala ditundukkan
- Gunakan aspirator atau saliva ejector
- Instruksikan pasien untuk meludah selama 30 menit setelah prosedur dan ikuti
-

petunjuk pabrik
Jangan berikan pada pasien usia di bawah 6 tahun karena ada risiko tertelan
Instruksikan pasien untuk tidak makan, berkumur, dan minum selama 30 menit
setelah prosedur
Fluoride Varnish
Varnish fluoride mengandung konsentrasi fluor yang sangat tinggi. Jenis varnish

yang paling umum digunakan adalah Duraphat (22600 ppm) yang mengandung sodium
fluoride dan fluor protector. Pada penggunaan varnish, terdapat risiko toksisitas yang tinggi
karena itu fluor varnish harus diaplikasikan dengan hati-hati. Aplikasi fluor varnish dapat
diberikan secara rutin setiap 3 6 bulan (Ireland, 2006).
Indikasi dan kontra indikasi fluor varnish adalah sebagai berikut :
o Orang dewasa yang berisiko karies yang tidak bisa dan tidak mau
menggunakan obat kumur mengandung fluor
o Pasien dengan alat ortodonti dan gigi tiruan sebagian
o Anak-anak di atas 6 tahun dan orang dewasa yang mengalami perubahan pola
makan yang dapat meningkatkan risiko karies karena penyakit, pekerjaan atau
lingkungannya
o Aplikasi pada lesi awal karies dengan harapan menghentikan proses
pembentukan karies dan melindungi permukaan akar yang terbuka
Kontra indikasi
o Anak usia di bawah 6 tahun
b. Pasta gigi mengandung fluor

Pasta gigi mengandung fluoride telah digunakan secara umum sejak tahun 1970
(Ireland, 2006). Kandungan fluoride pada pasta gigi berkisar antara 525 1450 ppm.
Kandungan fluoride dalam pasta gigi dapat menurun seiring dengan lamanya masa
penyimpanan pasta gigi (El-Samarrai, 2011).
Saat menyikat gigi, akan terjadi retensi antara fluoride dengan dengan cairan rongga
mulut dan plak. Ion-ion fluor dilepaskan secara bertahap pada saliva dan dapat
mempertahankan derajat perlindungan terhadap karies. Peningkatan frekuensi menyikat gigi
akan meningkatkan keuntungan dari pemakaian fluoride (El-Samarrai,2011)
c. Obat kumur mengandung fluor
Obat kumur mengandung fluor dapat digunakan setiap hari atau setiap minggu.
Kandungan fluor dalam obat kumur berkisar antara 225 ppm atau 900 ppm. Intruksikan
pasien untuk tidak menggunakan obat kumur dengan fluor bersamaan dengan penggunaan
pasta gigi mengandung fluor. Pasien yang menggunakan perawatan ortodonti disarankan
untuk menggunakan obat kumur mengandung fluor untuk meminimalisir risiko
demineralisasi dan terbentuknya white spot lesion pada margin piranti ortodonti (Ireland,
2006).
Indikasi dan kontra indikasi penggunaan mouthwash yang mengandung fluoride
adalah sebagai berikut :
Indikasi
Anak-anak berisiko karies di atas usia 6 tahun yang sudah bisa berkumur dan

meludah dengan baik


Pasien dengan alat ortodonti
Orang dewasa berisiko karies yang salivary flow rate-nya menurun karena obat-

obatan, penyakit atau radioterapi


Orang dewasa dengan akar gigi yang terbuka
Kontra indikasi
Anak-anak usia di bawah 6 tahun yang belum bisa berkumur dengan baik.

MANFAAT FLUORIDA
PRA ERUPSI
- Selama pembentukan gigi, fluorida melindungi enamel dari pengurangan sejumlah matriks
yang dibentuk
- Pembentukan enamel yang lebih baik dg kristal yang lebih resisten thd asam

- Pemberian yang optimal, kristal lebih besar, kandunga karbonat lebih rendah kelarutan thd
asam berkurang
- Pengurangan jumlah & ukuran daerah yang menyebabkan akumulasi makanan & plak
PASCA ERUPSI
- Fluoroapatit Menurunkan Kelarutan Enamel Dalam Asam
- Fluoroapatit lebih padat & membtk kristal sedangdaerah permukaan yg bereaksi dg asam
lebih
sedikit
- Pembentukan kalsium fluorida pada permukaan kristal (lapisan pelindung karena sedikit
larut
dalam asam)
- Fluoride menggantikan ion karbonat dalam struktur apatit. Kristal apatit dg karbonat rendah
lebih stabil & kurang larut dibanding karbonat tinggi
- Adanya fluoride dlm saliva meningkatkan remineralisasi, shg merangsang perbaikan /
penghentian lesi karies awal
- Fluoride menghambat banyak sistem enzim. Hambatan thd enzim yg terlibat dlm
pembentukan
asam serta pengangkutan & penyimpanan glukosa dlm streptokokus oral dan juga membatasi
penyediaan bahan cadangan utk pembuatan asam dlm sintesa polisakarida
A. Pemberian Fluor Secara Sistemik
Fluoride sistemik adalah fluoride yang diperoleh tubuh melalui pencernaan dan ikut
membentuk struktur gigi. Fluoride sistemik juga memberikan perlindungan topikal karena
fluoride ada di dalam air liur yang terus membasahi gigi. Fluoride sistemik ini meliputi
fluoridasi
air minum dan melalui pemberian makanan tambahan fluoride yang berbentuk tablet, tetes
atau
tablet isap. Namun di sisi lain, para ahli sudah mengembangkan berbagai metode penggunaan
fluor, yang kemudian dibedakan menjadi metode perorangan dan kolektif. Contoh
penggunaan
kolektif yaitu fluoridasi air minum (biasa kita peroleh dari air kemasan) dan fluoridasi garam
dapur (Ars creation, 2010). Terdapat tiga cara pemberian fluor secara sistemik, yaitu :
1. Fluoridasi air minum
Telah dibuktikan, apabila dalam air minum yang dikonsumsi oleh suatu daerah,
atau kota tertentu dibubuhi zat kimia fluor maka penduduk di situ akan terlindung dari

karies gigi. Pemberian fluor dalam air minum ini jumlahnya bervariasi antara 1-1,2 ppm
(part per million). Selain dapat mencegah karies, fluor juga mempunyai efek samping
yang tidak baik yaitu dengan adanya apa yang disebut mottled enamel pada mottled
enamel gigi-gigi kelihatan kecoklat-coklatan, berbintik-bintik permukaannya dan bila
fluor yang masuk dalam tubuh terlalu banyak, dapat menyebabkan gigi jadi rusak sekali
(Zelvya P.R.D, 2003).
Konsentrasi optimum fluorida yang dianjurkan dalam air minum adalah 0,71,2
ppm.18 Menurut penelitian Murray and Rugg-gun cit. Linanof bahwa fluoridasi air
minum dapat menurunkan karies 4050% pada gigi susu (Ami Angela, 2005).
Gambar 1. Fluoridasi pada air minum publik (Charleshamel, 2008)
Gambar 2. Fluorosis (Charleshamel, 2008)
2. Pemberian fluor melalui makanan
Kadang-kadang makanan yang kita makan sudah mengandung fluor yang cukup
tinggi, hingga dengan makanan itu saja sudah mencegah terjadinya karies gigi. Jadi harus
diperhatikan bahwa sumber yang ada sehari-hari seperti di rumah, contohnya di dalam air
mineral, minuman ringan dan makanan sudah cukup mengandung fluoride. Karena itu
makanan fluoride harus diberikan dengan hati-hati. Makanan tambahan fluoride hanya
dianjurkan untuk mereka (terutama anak-anak) yang tinggal di daerah yang sumber
airnya rendah fluor atau tidak difluoridasi. Fluoride dapat berbahaya jika dikonsumsi
secara berlebihan. Apabila pemakaian fluoride tidak terkontrol dan tidak disiplin, maka
tidak akan mencapai sasaran dan dapat menyebabkan kerusakan gigi. Contohnya adalah
fluorosis. (Ars creation, 2010).
Gb.3 Fluoride Master Whole House Fluoride Water Filtration System, 2010
3. Pemberian fluor dalam bentuk obat-obatan
Pemberian fluor dapat juga dilakukan dengan tablet, baik itu dikombinasikan
dengan vitamin-vitamin lain maupun dengan tablet tersendiri. Pemberian tablet fluor
disarankan pada anak yang berisiko karies tinggi dengan air minum yang tidak
mempunyai konsentrasi fluor yang optimal (2,2 mg NaF, yang akan menghasilkan fluor
sebesar 1 mg per hari) (Ami Angela, 2005).
Tablet fluor dapat diberikan sejak bayi berumur 2 minggu hingga anak 16 tahun.
Umur 2 minggu-2 tahun biasanya diberikan dosis 0,25 mg, 2-3 tahun diberikan 0,5 mg,
dan 3-16 tahun sebanyak 1 mg (Nova, 2010).
B. Penggunaan Fluor Secara Topikal
Menurut Angela (2005), tujuan penggunaan fluor adalah untuk melindungi gigi dari

karies, fluor bekerja dengan cara menghambat metabolisme bakteri plak yang dapat
memfermentasi karbohidrat melalui perubahan hidroksil apatit pada enamel menjadi fluor
apatit
yang lebih stabil dan lebih tahan terhadap pelarutan asam. Reaksi kimia :
Ca10(PO4)6(OH)2+F
Ca10(PO4)6(OHF) menghasilkan enamel yang lebih tahan asam sehingga dapat menghambat
proses demineralisasi dan meningkatkan remineralisasi.
Remineralisasi adalah proses perbaikan kristal hidroksiapatit dengan cara penempatan
mineral anorganik pada permukaan gigi yang telah kehilangan mineral tersebut (Kidd dan
Bechal, 1991). Demineralisasi adalah proses pelarutan kristal hidroksiapatit email gigi, yang
terutama disusun oleh mineral anorganik yaitu kalsium dan fosfat, karena penurunan pH plak
sampai mencapai pH kritis (pH 5) oleh bakteri yang menghasilkan asam (Rosen, 1991;
Wolinsky, 1994).
Penggunaan fluor sebagai bahan topikal aplikasi telah dilakukan sejak lama dan telah terbukti
menghambat pembentukan asam dan pertumbuhan mikroorganisme sehingga menghasilkan
peningkatan yang signifikan dalam mempertahankan permukaan gigi dari proses karies.
Penggunaan fluor secara topikal untuk gigi yang sudah erupsi, dilakukan dengan beberapa
cara
(Yanti, 2002):
1. Topikal aplikasi yang mengandung fluor
2. Kumur-kumur dengan larutan yang mengandung fluor
3. Menyikat gigi dengan pasta yang mengandung fluor
1. Topikal Aplikasi
Yang dimaksud dengan topikal aplikasi fluor adalah pengolesan langsung fluor
pada enamel. Setelah gigi dioleskan fluor lalu dibiarkan kering selama 5 menit, dan
selama 1 jam tidak boleh makan, minum atau berkumur (Lubis, 2001).
Gb. 4 Topikal Aplikasi Fluor(2008) Gb. 5 Fluor Gel (2008)
Sediaan fluor dibuat dalam berbagai bentuk yaitu NaF, SnF, APF yang
memakainya diulaskan pada permukaan gigi dan pemberian varnish fluor. NaF
digunakan pertama kali sebagai bahan pencegah karies. NaF merupakan salah satu yg
sering digunakan karena dapat disimpan untuk waktu yang agak lama, memiliki rasa
yang cukup baik, tidak mewarnai gigi serta tidak mengiritasi gingiva. Senyawa ini
dianjurkan penggunaannnya dengan konsentrasi 2%, dilarutkan dalam bentuk bubuk 0,2
gram dengan air destilasi 10 ml (Yanti, 2002).

Sekarang SnF jarang digunakan karena menimbulkan banyak kesukaran, misalnya


rasa tidak enak sebagai suatu zat astringent dan kecenderungannya mengubah warna gigi
karena beraksinya ion Sn dengan sulfida dari makanan, serta mengiritasi gingiva. SnF
juga akan segera dihidrolisa sehingga harus selalu memakai sediaan yang masih baru
(Kidd dan Bechal, 1991). Konsentrasi senyawa ini yang dianjurkan adalah 8%.
Konsentrasi ini diperoleh dengan melarutkan bubuk SnF2 0,8 gramdengan air destilasi 10
ml. Larutan ini sedikit asam dengan pH 2,4-2,8.
APF lebih sering digunakan karena memiliki sifat yang stabil, tersedia dalam
bermacam-macam rasa, tidak menyebabkan pewarnaan pada gigi dan tidak mengiritasi
gingiva. Bahan ini tersedia dalam bentuk larutan atau gel, siap pakai, merupakan bahan
topikal aplikasi yang banyak di pasaran dan dijual bebas. APF dalam bentuk gel sering
mempunyai tambahan rasaseperti rasa jeruk, anggur dan jeruk nipis (Yanti, 2002).
APF (10)(%)(1000) ppm
1.1% 10,000
1.23% 12,300
NaF (4.5)(%)(1000) ppm
0.05% 225
0.20% 900
0.44% 1,980
1.0 % 4,500
1.1% 4,950
2.0% 9,000
5.0% 22,500
SnF2 (2.4)(%)(1000) ppm
0.40% 960
0.63% 1,512
Tabel 1. Konversi Kandungan Fluor
Gb 6 dan 7. Fluor Topical Aplication Tray (2009)
Pemberian varnish fluor dianjurkan bila penggunaan pasta gigi mengandung fluor,
tablet fluor dan obat kumur tidak cukup untuk mencegah atau menghambat
perkembangan karies. Pemberian varnish fluor diberikan setiap empat atau enam bulan
sekali pada anak yang mempunyai resiko karies tinggi. Salah satu varnish fluor adalah
duraphat (colgate oral care) merupakan larutan alkohol varnis alami yang berisi 50 mg
NaF/ml (2,5 % sampai kira-kira 25.000 ppm fluor). Varnish dilakukan pada anak-anak

umur 6 tahun ke atas karena anak dibawah umur 6 tahun belum dapat menelan ludah
dengan baik sehingga dikhawatirkan varnish dapat tertelan dan dapat menyebabkan
fluorosis enamel (Angela, 2005).
Gb 8. Fluor Varnish Gb 9. Gambaran ikatan Fluor dan Email
(www.scielo.br/scielo.php)
2. Pasta gigi fluor
Penyikatan gigi dua kali sehari dengan menggunakan pasta gigi yang
mengandung fluor terbukti dapat menurunkan karies (Angela, 2005). Akan tetapi
pemakaiannya pada anak pra sekolah harus diawasi karena pada umunya mereka masih
belum mampu berkumur dengan baik sehingga sebagian pasta giginya bisa tertelan.
Kebanyakan pasta gigi yang kini terdapat di pasaran mengandung kira-kira 1 mg F/g ( 1
gram setara dengan 12 mm pasta gigi pada sikat gigi) (Kidd dan Bechal, 1991).
3. Obat kumur dengan fluor
Obat kumur yang mengandung fluor dapat menurunkan karies sebanyak 20-50%.
Penggunaan obat kumur disarankan untuk anak yang berisiko karies tinggi atau selama
terjadi kenaikan karies (Angela, 2005). Berkumur fluor diindikasikan untuk anak yang
berumur diatas enam tahun karena telah mampu berkumur dengan baik dan orang dewasa
yang mudah terserang karies, serta bagi pasien-pasien yang memakai alat ortho (Kidd dan
Bechal, 1991).
Gb 10. Obat Kumur dengan Fluor
(www.dentist.net/colgate-phos-flur.asp)
Efek fluor secara topikal
Ada beberapa pendapat mengenai efek aplikasi fluor secara topikal dalam
menghambat karies gigi yaitu enamel menjadi lebih tahan terhadap demineralisasi asam,
dapat memacu proses remineralisasi pada permukaan enamel, menghambat sistem enzim
mikrobiologi yang merubahkarbohidrat menjadi asam dalam plak gigi dan adanya efek
bakteriostatik yang menghambat kolonisasi bakteri pada permukaan gigi (Lubis, 2001).
Gambar 11. Mekanisme Kerja Fluor pada Gigi
(www.weiselfamilydentistry.com)