Anda di halaman 1dari 9

Hubungan Diplomatik Indonesia Jepang

A.Pendahuluan
1.Latar belakang
Indonesia dan Jepang merupakan dua negara yang mempunyai kaitan sejarah
cukup dekat.Tahun 1942-1945,Indonesia dijajah Jepang.Peristiwa tersebut membuat
ke 2 negara memiliki sebuah hubungan spesial.Hubungan tersebut sampai sekarang
masih terjaga.Tetapi satu hal yang membedakan hubungan Indo Jepang sekarang
dan dulu.Jika dulu Indonesia dijajah Jepang yang mau tak mau Indonesia harus
tunduk pada Jepang.Tetapi sekarang Indonesia telah memposisikan diri sebagai
negara yang sejajar dengan Jepang.lalu sampai manakah hubungan indonesia
jepang saat ini? .Dalam Makalah ini akan dijelaskansecara rinci prkembangan
hubungan diplomasi Indonesia Jepang
2.Tujuan
Melalui makalah ini,diharapkan kita akan semakin mengetahui bagaimana hubungan
diplomatik Indonesia dan Jepang.Kita juga akan mengetahui
3.Rumusan Masalah
1.Apakah pengertian dari Politik luar negeri dan hubungan diplomatik?
2.Apa dasar politik luar negeri Indonesia
3.Bagaimanakah Sejarah hubungan diplomatik Indonesia Jepang?
4.bagaimanakah kerjasama antara Indonesia Jepang terwujud?
5.Apa sajakah manfaat dari hubungan diplomasi Indonesia Jepang bagi Indonesia?

Bab II Isi

1.Pengertian Politik Luar Negeri Dan Diplomasi Bilaterall


Politik luar negeri suatu negara pada hakikatnya merupakan hasil perpaduan
dan refleksi dari kondisi dalam negeri yang dipengaruhi oleh perkembangan situasi
Internasional(1). Dalam arti luas, politik luar negeri adalah pola perilaku yang

digunakan oleh suatu Negara dalam hubungannya dengan negara-negara lain.


Politik luar negeri berhubungan dengan proses pembuatan keputusan untuk
mengikuti pilihan jalan tertentu.
Dari uraian di muka sesungguhnya dapat diketahui bahwa tujuan politik luar
negeri adalah untuk mewujudkan kepentingan nasional. Tujuan tersebut memuat
gambaran mengenai keadaan negara dimasa mendatang serta kondisi masa depan
yang diinginkan. Pelaksanaan politik luar negeri diawali oleh penetapan
kebijaksanaan dan keputusan dengan mempertimbangkan hal-hal yang didasarkan
pada faktor-faktor nasional sebagai faktor internal serta faktor-faktor internasional
sebagai faktor eksternal.
Dasar hukum pelaksanaan politik luar negeri Republik Indonesia
tergambarkan secara jelas di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea
I dan alinea IV. Alinea I menyatakan bahwa . kemerdekaan ialah hak segala
bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena
tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.
Selanjutnya pada alinea IV dinyatakan bahwa . dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial
.. Dari dua kutipan di atas, jelaslah bahwa politik luar negeri RI mempunyai
landasan atau dasar hukum yang sangat kuat, karena diatur di dalam Pembukaan
UUD 1945. Selain dalam pembukaan terdapat juga dalam beberapa pasal
contohnya pasal 11 ayat 1, 2,3; pasal 13 ayat 1,2,3 dan lain-lain.
2.Hubungan Diplomatik
Diplomasi berasal dari kata Yunani diploma, yang secara harfiah berarti
dilipat dua. Menurut tradisi Yunani kuno, diploma merupakan sertifikat kelulusan
dari suatu program studi, biasanya dilipat dua. Pada era Imperium Romawi, kata
diploma digunakan untuk mnggambarkan dokumen resmi perjalanan, seperti
paspor dan izin perjalanan di wilayah kerajaan, yang distempel pada dua lempengan
logam.

Seiring dengan perjalanan waktu, arti dari diplomasi semakin berkembang lebar.
Diplomasi dilekatkan dengan dokumen resmi seperti perjanjian dengan suku bangsa
asing. Pada tahun 1700an Perancis menyebut lembaga dimana para pejabat
perwakilan bertugas dengan nama korps diplomatique. Pada era yang sama pula
kata diplomasi pertama kali diperkenalkan ke dalam bahasa Inggris oleh Edmund
Burke tepatnya tahun 1796, yang diserap dari bahasa Perancis diplomatie.

Untuk kebutuhan pengayaan akademik (academic enrichment), menarik jelasnya


mengutip beberapa referensi ilmiah. Dengan begitu kita dapat memperoleh
beberapa alternative sudut pandang dalam mendefinikan kata diplomasi secara
istilah. Walhasil, sebuah benang merah koklutif akan member cakupan makna kata
yang lebih otentik.

Secara sederhana, diplomasi dapat didefinisikan sebagai seni dan praktik negosiasi
antara wakil-wakil dari negara atau sekelompok negara. Istilah ini biasanya merujuk
pada diplomasi internasional, dimana hubungan internasional melalui perantasra
diplomat profesional terkait isu-isu perdamaian, perdagangan, perang, ekonomi dan
budaya. Begitu pula perjanjian internasional yang biasanya dinegosiasikan oleh para
diplomat sebelum disetujui oleh politisi nasional dalam negeri.

Encarta Microsoft Student 2008 mendefinisikan kata diplomasi sebagai managemen


komunikasi dan hubungan antar bangsa oleh anggota dan segenap aparatur
pemerintahan yang terlibat (the management of communication and relationships
between nations by members and employees of each nations government). Tidak
jauh berbeda dengan Advanced Oxford Dictionary 2003 yang mengartikan kata
diplomacy sebagai aktifitas mengelola hubungan antar Negara berbeda (the activity
of managing relations between different countries). Meski secara tehnis kamus
terkenal tersebut menambahkan bahwa diplomasi merupakan ketrampilan untuk
berurusan dengan orang lain dalam situasi sulit tanpa cara menyakiti maupun
offensive (skill in dealing with people in difficult situations without upsetting or
offending them).

Lebih jauh lagi, dari sudut pandang social informal, diplomasi dapat dikatakan
sebagai tenaga kerja dari kebijaksanaan strategis agar memperoleh keuntungan
atau untuk saling menemukan solusi dari sebuah permasalahan yang sedang
dihadapi sehingga dapat diterima oleh dua atau banyak pihak. Dan hal ini dilakukan
dengan cara halus, sopan, serta tanpa sikap konfrontatif.

2.Dasar Politik Luar negeri Indonesia


Politik luar negeri Indonesia memiliki landasan yang membaginya ke dalam tiga
kategori, yaitu landasan idiil, landasan konstitutsional, dan landasan operasional.
Landasan idiil politik luar negeri Indonesia, yaitu Pancasila. Pancasila dikenal
sebagai dasar negara bangsa Indonesia yang terdiri dari lima sila. Kelima sila
tersebut menjelaskan mengenai pedoman dasar bagi pelaksanaan kehidupan
berbangsa dan bernegara yang ideal dan mencakup seluruh sendi kehidupan
manusia (Alami, 2008: 28).

Landasan konstitusional politik luar negeri Indonesia, yaitu Undang-Undang Dasar


1945. Dalam UUD 1945 ini mengandung pasal-pasal yang mengatur kehidupan
berbangsa dan bernegara, serta menjelaskan mengenai garis-garis besar dalam
kebijakan luar negeri Indonesia. Terdapatnya hal semacam ini berfungsi sebagai
dalam pelaksanaan untuk mencapai kepentingan nasional Indonesia (Alami, 2008:
28). Sedangkan, landasan operasionalnya, yaitu bebas aktif. Pada pelaksanaan
landasan operasional ini mengalami perubahan karena menyesuaikan dengan
kepentingan nasional yang ingin dicapai. Selain itu, landasan operasional juga

mengalami perluasan makna karena politik luar negeri Indonesia yang mengalami
perkembangan selama enam dekade (Alami, 2008: 28-29).

Landasan operasional politik luar negeri Indonesia mengalami perubahan dan dapat
dilihat dengan adanya perbedaan dalam memahami landasan operasional pada
setiap masanya, misalnya pada masa Orde Lama dan Orde Baru. Pertama, masa
Orde Lama dijelaskan bahwa landasan operasional politik luar negeri Indonesia
adalah bebas aktif. Hal ini dapat dilihat dalam maklumat dan pidato-pidato Presiden
Soekarno. Selain itu, pada dasawarsa 1950-an menjelaskan bahwa landasan
operasional mengalami perluasan makna. Perluasan makna tersebut diyatakan oleh
Presiden Soekarno dalam pidatonya yang berjudul Jalannya Revolusi, maksud
dalam pidato tersebut, yaitu mengenai prinsip bebas aktif yang dicerminkan dengan
adanya hubungan ekonomi dengan luar negeri. Sedangkan, masa Orde Baru
dijelaskan bahwa landasan operasional politik luar negeri Indonesia semakin
dipertegas dengan adanya peraturan formal. Penegasan yang diwujudkan melalui
Ketetapan MPRS No. XII/MPRS/1965 tanggal 5 Juli 1966, Ketetapan MPR tanggal
22 Maret 1973, petunjuk Presiden 11 April 1973, petunjuk bulanan Presiden sebagai
Presiden sebagai ketua Dewan Stabilisasi Politik dan Keamanan, dan keputusankeputusan Menteri Luar Negeri, serta dalam TAP MPR tentang Garis-Garis Besar
Haluan Negara (GBHN). Selain itu, landasan operasional pasca Orde Baru
dijelaskan bahwa mengalami perubahan pemerintahan secara cepat. Hal ini dapat
dilihat dengan adanya dua kabinet yang memerintah pada masa pemerintahan
pasca Orde Baru, yaitu kabinet Kabinet Gotong Royong dan Kabinet Indonesia
Bersatu (Alami, 2008: 28-34).

Pada
masa
pemerintahan
Kabinet
Gotong
Royong
(2001-2004)
mengoperasionalkan politik luar negeri Indonesia melalui Ketetapan MPR No.
IV/MPR/1999 tanggal 19 Oktober 1999 tentang GBHN dalam rangka mewujudkan
tujuan nasional periode 1999-2004, UU No.37 tahun 1999 tentang Hubungan Luar
Negeri, UU No. 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional, dan Perubahan
UUD 1945. Pada Ketetapan MPR No. IV/MPR/1999 melatarbelakangi karena
adanya krisis ekonomi dan krisis nasional pada tahun 1997. Pada UU No. 37 tahun
1999 menekankan pada aspek penyelenggaraan hubungan luar negeri dan politik
luar negeri. Hal ini dapat dilihat dalam politik bebas aktif luar negeri bebas aktif untuk
kepentingan nasional, mengatur keterlibatan pihak-pihak dalam lembaga negara dan
lembaga pemerintah dalam penyelenggaraan hubungan luar negeri dan
pelaksanaan politik luar negeri. Sedangkan, UU No. 24 tahun 2000 menekankan
pada pentingnya menciptakan suatu kepastian hukum dalam perjanjian internasional
(Alami, 2008: 34-37).

Pada
masa
pemerintahan
Kabinet
Indonesia
Bersatu
(2004-2009)
mengoperasionalkan politik luar negerinya ke dalam tiga program utama, yaitu
pemantapan politik luar negeri dan optimalisasi diplomasi Indonesia dalam
penyelenggaraan hubungan luar negeri dan pelaksanaan luar negeri, peningkatan

kerjasama internasional yang bertujuan memanfaatkan secara optimal berbagai


peluang dalam diplomasi dan kerjasama internasional, dan penegasan komitmen
perdamaian dunia yang dilakukan dalam rangka membangun dan mengembangkan
semangat multilateralisme dalam memecahkan berbagai persoalan keamanan
internasional (Alami, 2008: 34-40). Dalam melakukan upaya agar Indonesia diakui
secara internasional, Indonesia melakukan diplomasi. Namun, dalam pelaksanaan
tersebut perjuangan Indonesia tidak mudah karena selain jalur diplomasi yang
ditempuh, Indonesia juga melalui perjuangan fisik bersenjata. Bukan hanya itu saja
yang menyebabkan Indonesia susah dalam mendapatkan pengakuan internasional,
hal ini juga diakibatkan dari adanya perkembangan politik internasional yang pada
saat itu sedang tidak mendukung. Politik internasional pada masa itu mengalami
adanya persaingan tajam yang terjadi antara blok barat dengan blok timur.
Persaingan yang terjadi ini kemudian mempersulit posisi Indonesia dalam berpihak.
Namun, sebagai jawabannya Indonesia tidak memilih salah satu dari kedua blok
tersebut (Alami, 2008: 40-41).

Tidak memilih di antara kedua blok tersebut menyebabkan pilihan dalam politik luar
negeri Indonesia itu bebas dan aktif. Bebas dalam artian ini, yaitu tidak berpihak
pada blok-blok yang ada dengan bersikap netral dan memiliki cara tersendiri dalam
mengatasi persoalan internasional. Namun, dalam hal ini Indonesia tidak dapat
dikatakan sebagai negara yang netral posisinya. Sikap netral yang dimaksud ini
adalah sikap netral yang anti sosial, namun sikap ini tidak sesuai dengan yang
dilakukan Indonesia karena Indonesia menjadi anggota PBB (Hatta, 1953: 12). Hal
ini kemudian ditegaskan oleh Hatta karena Indonesia tidak dihadapkan pada suatu
pilihan dalam hubungan negara-negara yang sedang berperang, melainkan
Indonesia mengambil sikap tersebut untuk memperkokoh dan memperjuangkan
perdamaian (Alami, 2008: 43-44). Sedangkan, aktif dalam artiannya menjelaskan
mengenai adanya partisipasi Indonesia dalam menjaga perdamaian dan meredakan
ketegangan yang terjadi diantara kedua blok tersebut. Politik luar negeri Indonesia
yang berdasarkan prinsip bebas aktif ini juga tercantum dalam Pembukaan UndangUndang Dasar 1945 alinea keempat. Dalam alinea tersebut dijelaskan bahwa
Indonesia menentang segala bentuk penjajahan dan ikur melaksanakan ketertiban
dunia (Alami, 2008: 44-45).
3.Sejarah Hubungan diplomatik Indonesia Jepang
Hubungan Bilateral kedua negara dibuka pada bulan 20 Januari 1958 dengan
Penandatanganan Perjanjian Perdamaian antara Jepang dan Republik Indonesia.
Pada tahun yang sama ditandatangani pula Perjanjian Pampasan Perang.
Jepang merupakan salah satu negara maju di Asia yang senantiasa
diperhitungkan dalam menentukan strategi politik, keamanan maupun ekonomi di
kawasan Asia dan Pasifik. Posisi strategis Jepang tersebut selanjutnya telah
mendorong Indonesia untuk menempatkan Jepang sebagai salah satu mitra penting
dalam mewujudkan kepentingan nasional Indonesia di berbagai bidang kehidupan,
baik untuk program pembangunan nasional maupun keikutsertaannya dalam

menjaga ketertiban dunia sesuai Pembukaan UUD 1945 melalui berbagai kerjasama
bilateral, regional dan multilateral.

Dalam suasana berkembangnya gejala disintegrasi bangsa dalam beberapa tahun


terakhir ini, Jepang memberikan komitmen dan dukungan terbaiknya kepada
Indonesia dalam ikut menjaga dan memelihara keutuhan integritas teritorial dan
kesatuan wilayah negara RI. Meskipun demikian, Jepang juga merasa prihatin dan
berharap banyak kepada Indonesia agar dapat menyelesaikan sejumlah
permasalahan di dalam negerinya secepat mungkin dengan baik, terutama dalam
masalah Aceh dan Irian Jaya, dengan sepenuhnya memperhatikan penghormatan
kepada hak asasi manusia.

Sejak bergulirnya proses reformasi dan demokratisasi, Indonesia merasakan Jepang


menunjukkan keinginan untuk membantu pulihnya stabilitas politik dan bergeraknya
kembali roda perekonomian Indonesia. Dalam kaitan ini juga Indonesia menghargai
komitmen dan dukungan Jepang dalam ikut menjaga dan memelihara keutuhan
integritas teritorial dan wilayah kesatuan negara Republik Indonesia dari segala
bentuk gejala disintegrasibangsa

3.Bentuk Kerjasama Indonesia Jepang


Government to Government

Bentuk diplomasi bilateral yang dilakukan oleh government to government yaitu


adanya pertukaran duta besar dimana perwakilan Duta besar Indonesia berada di
Jepang, dan begitu juga sebaliknya yaitu perwakilan yaitu duta besar jepang yang
berada di Indonesia. Tak hanya itu saja, banyaknya kunjungan-kunjungan yang
dilakukan antara pemerintahan Indonesia dan pemerintah jepang.

Business and Funding

Dalam kerjasama bisnis, disini dapat di contohkan kerjasama indo-jepang dibidang


ekonomi perdagangan, investasi dan pinjaman. Bagi Indonesia, jepang merupakan
Negara mitra dagang terbesar dalam hal ekspor-impor Indonesia. Seperti banyaknya
produk-produk buatan jepang yang terpasar di Indonesia, seperti mobil, motor, alat-

alat elektronik, makanan, dll. Sedangkan jepang mengimpor barang-barang hasil


sumber daya alam seperti holtikultura, hasil tambang, minyak, dll.

Tak hanya itu saja, indo-jepang jg melakukan kerjasama yaitu peminjaman uang,
yang mana jepang banyak memberikan pinjaman uang kepada Indonesia guna
untuk perbaikan ekonomi Indonesia dan pembangunan infrastuktur Indonesia. Indojepang juga melakukan kerjasama di bidang investasi. Jepang merupakan salah
satu Negara yang mempunyai investasi terbesar di Indonesia, contohnya banyak
didirikan perusahaan jepang di Indonesia yang mana tenaga kerjanya adalah warga
Indonesia. Oleh karena itu, jepang termasuk salah satu Negara pensuplai lapangan
kerja di Indonesia.

Private Citizen

pada elemen ini dapat dicontohkan kerjasama antara Indonesia dan jepang dalam
bidang politik. Pada kerjasama ini Jepang dan Indonesia sama-sama saling
memberikan retribusi politik. Jepang mempunyai kekuatan politik dimata dunia
khususnya di wilayah Asia. Sebenarnya kekuatan ekonomi Jepang itulah yang
menjadi kekuatan politiknya. Inilah yang membuat ketergantungan Indonesia
terhadap bantuan Jepang, dimana Jepang sering memberikan bantuan ekonomi
terhadap Indonesia. Hal ini menggambarkan bahwa penerapan politi Indonesia
kurang maksimal, namun meskipun demikian Jepang masih memuji politik luar
negeri yang dilakukan Indonesia terhadap jepang karena menurut Jepang hal ini
juga menguntungkan bagi Indonesia dalam sektor perdagangan. Sehingga hal ini
juga dapat memperikan perkembangan, perbaikan dan kemajuan bagi Indonesia.

Research, Training, and Education

Tidak hanya kerjasama dibidang ekonomi saja, indo-jepang juga melakukan


kerjasama di bidang social budaya. Contohnya adanya pelatihan yang diberikan
jepang kepada Indonesia yaitu dalam 3 bidang yakni masalah kesehatan, pertanian
dan tranportasi. Selain itu, adanya kerjasama di bidang pendidikan dan budaya.
Upaya kerjasama dibidang pendidikan ini dipicu oleh tingkat penerimaan dan
pengaplikasian pendidikan yang masih rendah di Indonesia, sehingga indo-jepang
melakukan pertukaran pelajar, yang mana banyak warga Indonesia yang bersekolah
disana dan begitu jg sebaliknya. Banyak juga tenaga pengajar jepang yang berada
dan mengajar di sekolah-sekolah di Indonesia.
Pemerintah jepang menyelenggarakan progam beasiswa yang disebut
dengan monbukagakusho bagi pelajar dan mahasiswa indonesia.Mahasiswa
Indonesia yang belajar di Jepang melalui progam ini tercatat sebanyak 469
orang,sekitar 47,23 % dari total jumlah mahasiswa Indonesia di Jepang.selain

itu,kerjasama internasional di bidang pendidikan dengan jepang juga disokong


dengan progam beasiswa OECF atau STAID,yang dana pendidikanya dibiayai oleh
pemerintah Indonesia sendiri.
Tidak hanya progam beasiswa,progam kerjasama internasional Indonesia Jepang di
bidang pendidikan juga berupa bantuan dana untuk pembangunan sarana dan
prasarana pendidikan.Dana ini disalurkan melalui sebuah badan kerjasama
internasional jepang yang disebut JICA(japan international cooperation agency)

Di bidang kebudayaan, Indonesia memperkenalkan berbagai macam budaya


Indonesia dan juga menjaga citra baik Indonesia. Seperti halnya adanya festival tari
yang diadakan di Jepang yang turut membawa penari Indonesia untuk menunjukkan
kebolehannya di Negara Jepang dan Jepang pun sangat menukai budaya Indonesia
karena keberagamannya tersebut. Tak hanya itu saja, akhir-akhir ini banyak budaya
jepang yang masuk di Indonesia seperti halnya model-model pakaian jepang, style
rambut dan harajuku yang disukai oleh kebnyakan anak muda di Indonesia, serta
adanya atau banyak lembaga-lembaga pendidikan yang menyediakan kursus
bahasa jepang. Inilah bukti dan bentuk-bentuk kerjasama yang dilakukan IndonesiaJepang dalam bidang sosial budaya.

Dari berbagai contoh-contoh hubungan diplomasi Indonesia-Jepang, disini dapat kita


lihat bahwa hubungan bilateral antar Indonesia dan Jepang itu terjalin sangat baik.
Dimana banyak terjadi hubungan diplomasi dan kerjasama-kerjasama yang
dilakukan oleh jepang dan Indonesia dalam semua aspek bidang. Sehingga dapat
kita katakan bahwa diplomasi Indonesia-Jepang ini terlihat telah berhasil.
Ekonomi
Selama lima dekade terakhir,Indonesia Jepang telah menjalin hubungan diplomatik
di bidang ekonomi.Sejak menandatangani perjanjian perdamaian pada tanggal 20
Januari 1958 di jakarta,kedua negara mengawali hubungan ekonomi dengan
kesepakatan damai pembayaran ganti rugi akibat perang.Perjanjian damai membuat
Jepang harus memberikan ganti rugi akibat perang.perjanjian damai membuat
jepang harus memberikan ganti rugi kepada Indonesia sebesar USS 222,08
JUTA.Selain itu perjanjian tersebut juga mensyaratkan Jepang harus menghapus
hutang Indonesia sebelumnya sejumplah USS 176,92 Juta,diikuti dengan bantuan
ekonomi sebesar USS 400 juta(4).
Hubungan ekonomi dan perdagangan bilateral dengan Jepang di dasari oleh
Treaty on Amity Relations and Commerce yang ditandatangani di Tokyo pada
tanggal 1 Juli 1961.Indonesia diwakili oleh Menteri luar negeri , Dr.H
Soebandrio.Persetujuan lainya adalah :Treaty on air Service 23 januari
1962;Agrement in scinece and technology Cooperation 12 Januari 1981;dan
Agreement on the Avoidance of doubl taxation 3 maret 1982(5)
Komitmen Jepang ini di buktikan dengan memberikan bantuan pemulihan
ekonomi memainkan peran kunci dalam mengatur penjadwalan kembali hutang

hutang Indonesia melalui IGGI dan mengambil bagian penting dalam pembangunan
ekonomi di indonesia melalui paket ODA(Official Development Assistance).Selama
periode 1967-1980,Jepang merupakan investor terbesr di sektor sektor non energi di
Indonesia dalam pemulihan ekonomi dan menguasai 41 % investasi modal asing
yang telah disetujui oleh pemerintah Indonesia,