Anda di halaman 1dari 4

Pemodelan Daya Harmonik listrik 3 fasa dengan Multisim

I. Tujuan
Menjelaskan teori dasar (prinsip-prinsip) pengukur daya harmonik
Mengukur fase daya listrik dengan Watt meter
II. Teori Dasar
A. Harmonik
Harmonik adalah gejala pembentukan gelombang sinusoidal dengan frekuensi yang
merupakan perkalian bilangan bulat dengan frekuensi dasarnya. Bila terjadi superposisi
antara gelombang frekuensi dasar dengan gelombang frekuensi harmonik maka
terbentuklah gelombang yang terdistorsi sehingga bentuk gelombang tidak lagi
sinusoidal. Pembentukan gelombang non-sinusoidal hasil distorsi harmonik dapat dilihat
pada gambar berikut:

Gambar 1. Gelombang sinusoidal.


B. Wattmeter tiga fasa
Alat yang digunakan untuk mengukur daya adalah wattmeter. Wattmeter terbagi
dua yaitu wattmeter AC dan wattmeter DC. Untuk wattmeter AC terbagi dua lagi yaitu
wattmeter single phase dan wattmeter poly phase. Salah satu tipe wattmeter AC yang
sering digunakan adalah wattmeter tipe elektrodinamometer.

Pengukuran daya dalam suatu sistem fasa banyak, memerlukan pemakaian dua
atau lebih wattmeter. Kemudian daya nyata total diperoleh dengan menjumlahkan
pembacaan masing-masing wattmeter secara aljabar. Teorema Blondel menyatakan
bahwa daya nyata dapat diukur dengan mengurangi satu elemen wattmeter dan sejumlah
kawat-kawat dalam setiap fasa banyak, dengan persyaratan bahwa satu kawat dapat
dibuat common terhadap semua rangkaian potensial.

Gambar 5. Konfigurasi wattmeter


Gambar 5 menunjukkan sambungan dua wattmeter untuk pengukuran konsumsi daya
oleh sebuah beban tiga fasa yang setimbang yang dihubungkan secara delta. Kumparan
arus wattmeter 1 dihubungkan dalam jaringan A, dan kumparan tegangan dihubungkan
antara (jala-jala, line) A dan C. Kumparan arus wattmeter 2 dihubungkan dalam jaringan
B , dan kumparan tegangannya antara jaringan B dan C. Daya total yang dipakai oleh
beban setimbang tiga fasa sama dengan penjumlahan aljabar dari kedua pembacaan
wattmeter.
III. Daftar Alat
1.
2.
3.
4.
5.

Sumber daya 3 phasa


2 Wattmeter
3 resistor = 2 ohm , 1 resistor 20 ohm , dan 1 resistor 40 ohm.
1 Multimeter
Osiloskop

IV. Prosedur Percobaan


Percobaan 1 . Rangkaian Star-Delta
1

Gambar 8. Rangkaian star-delta dengan beban simetris

Gambar 9. Rangkaian star-delta dengan beban asimetris


1. Buat rangkaian percobaan 1 dengan R7= R8 = R9 = 2 ohm (simetris) seperti pada
gambar 8.
2. Ukur besar daya, arus saluran (IL ), arus fase (
tegangan fase (

, tegangan saluran (VL), dan

) pada resistor tiga fasa dengan menggunakan wattmeter.

3. Catat tegangan puncak setiap fase berdasarkan hasil dari osiloskop.


4. Ganti resistor dengan nilai R7 = 2 ohm, R8 = 20 ohm, dan R9 = 40 ohm seperti pada
gambar 9.
5. Ulangi langkah 2 dan 3.

Percobaan 2. Rangkaian Star-Star

Gambar 10. Rangkaian star-star beban simetris

Gambar 11. Rangkaian star-star beban asimetris


1. Buat rangkaian percobaan 1 dengan R1 = R2 = R3 = 2 ohm (simetris) seperti pada
gambar 10..
2. Ukur besar daya, arus saluran (IL ), arus fase (
tegangan fase (

, tegangan saluran (VL), dan

) pada resistor tiga fasa dengan menggunakan wattmeter.

3. Catat tegangan puncak setiap fase berdasarkan hasil dari osiloskop.


4. Ganti resistor dengan nilai R1 = 2 ohm, R2 = 20 ohm, dan R3 = 40 ohm seperti pada
gambar 11.
5. Ulangi langkah 2 dan 3.