Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang mengandung minyak bumi
yang melimpah di dalamnya, dimana minyak bumi ini biasa diolah menjadi
bahan bakar minyak (BBM). Minyak bumi tersebut bersifat terbatas dan karena
asalnya dari fosil, maka membutuhkan waktu berjuta-juta tahun agar terbentuk
lagi. Akan tetapi, produksi dan pasokan global terhadap minyak bumi terus
meningkat setiap tahunnya. Oleh karena terjadi kelangkaan akibat eksplorasi
terhadap bahan bakar fosil tersebut secara terus menerus, hal ini memberikan
dampak pada harganya yang terus membumbung tinggi. Selain itu, penggunaan
bahan bakar fosil yang berlebih terutama di daerah perkotaan besar

telah

memberikan dampak kontribusi tinggi bagi kehidupan. Dimana, telah


menghasilkan emisi gas-gas seperti CO2, SO2, N2O dan SF6 di lapisan
luar atmosfer yang menghalangi transfer kembali sebagian panas matahari dari
permukaan bumi ke angkasa luar sehingga meningkatkan suhu atmosfer,
akibatnya lapisan ozon rusak dan menimbulkan efek rumah kaca (global
warming), sehingga tidak dipungkiri bahwa keadaan iklim di berbagai belahan
dunia bermuara pada situasi ketidakmenentuan, serta dapat menyebabkan
polusi udara dan mempunyai dampak negatif pada lingkungan maupun
kesehatan manusia.
Melihat kondisi tersebut, pemerintah telah mengeluarkan peraturan
Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan
Energi Nasional untuk mengembangkan sumber energi alternatif. Kebijakan
tersebut telah menetapkan sumber daya yang dapat diperbaharui yaitu
bahan bakar nabati sebagai pengganti BBM. Bahan bakar berbasis nabati
juga dapat

mengurangi pencemaran lingkungan, sehingga lebih ramah

lingkungan.
Bahan bakar berbasis nabati salah satu contohnya adalah bioetanol.
Bioetanol adalah etanol yang dihasilkan dari fermentasi sumber yang dapat

diperbaharui untuk bahan bakar serta merupakan etanol dari material berbahan
dasar biomassa. Bioetanol diproduksi dari berbagai bahan baku pati termasuk
jagung, bahan baku sukrosa seperti tebu serta

bahan lignoselulosa, serta

beberapa komoditas pertanian yang mengandung karbohidrat. Sumber


karbohidrat dapat diperoleh dari kultivasi tanaman sumber energi, tanaman
potensial yang tumbuh secara alami, maupun hasil limbah pertanian.
Salah satu limbah yang dapat digunakan adalah limbah kulit pisang. Kulit
pisang digunakan karena menurut data Direktorat Jendral Hortikultura,
produksi pisang pada tahun 2010 adalah sebanyak 5.755.073 ton. Pisangpisang ini sebagian besar dikonsumsi oleh dalam negeri. Besarnya konsumsi
ini menandakan tingginya kebutuhan masyarakat Indonesia akan buah dan
serat. Di sisi lain, hal ini menimbulkan dampak baru, yaitu banyaknya kulit
pisang.

Adapun

berat kulit pisang dari berat keseluruhan buah pisang

mencapai 30-40% dari total berat seluruh buah pisang. Kulit pisang
mengandung komponen yang bernilai, seperti karbohidrat, vitamin C, kalsium
dan nutrien lainnya. Berdasarkan sifat fisik dan kimianya, limbah kulit
pisang sangat berpotensi untuk digunakan sebagai sumber karbon dalam
pembuatan bioetanol.
1.2.

Rumusan masalah

1. Bagaimana cara-cara membuat bioetanol dari kulit pisang?


2. Faktor apa saja yang mempengaruhi proses fermentasi?
3. Berapa berat ragi yang optimal dalam proses fermentasi pembuatan
bioetanol?
1.3.
1.
2.
3.

Tujuan
Mengetahui cara-cara membuat bioetanol dari kulit pisang.
Faktor yang mempengaruhi proses fermentasi.
Berat ragi yang optimal dalam proses fermentasi pembuatan bioetanol.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Bioetanol
Bioetanol adalah cairan dari proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat
menggunakan

bantuan

mikroorganisme.

Digunakan

sebagai

antiseptik

(alkohol 70%), bahan minuman keras (bir, arak wishky), bahan bakar, bahan
0
mentah dalam beberapa industri kimia. Etanol memiliki titik didih 78,5 C.
Struktur kimia etanol adalah C2H5OH seperti pada gambar di bawah ini:

Bioetanol dapat diartikan sebagai salah satu biofuel yang hadir sebagai
bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan dan sifatnya terbarukan.
Bioetanol diartikan juga sebagai bahan kimia yang diproduksi dari bahan
pangan yang mengandung pati, seperti ubi kayu, ubi jalar, jagung, dan sagu.
Bioetanol merupakan bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat
menyerupai minyak premium (Khairani, 2007).
Tabel 1. Sifat-sifat fisik etanol.
Sifat Fisik
Titik beku
Titik didih normal
Temperatur kritik
Tekanan kritik

Nilai
0
-114,1 C
0
78,5 C
0
243,1 C
63 atm

Volum kritik

0,167 l/mol

20
Densitas. d
Indeks bias

0,7893

0
Viskositas, 20 C
Panas penguapan, pada titik

1,36143
1,17Cp
200,6 kalori/gram

didih normal
0
Panas pembakaran. 25 C

7092,9 kalori/gram

Flammable limit in air lower


Flash point

4,3% volum
0
0
21,11 C (70 F)
0
0,579 kalori/(g C)

Kalor spesifik

Pembuatan bioetanol dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :


1. Cara sintesis
Pada cara sintetis dilakukan reaksi kimia untuk mengubah bahan baku
menjadi alkohol, misalnya: dengan reaksi hidrasi etilena yang
merupakan hasil sampingan pada proses penyulingan minyak bumi.
Reaksi: C2H4 + H2O

C2H5OH

2. Cara fermentasi
Cara ini dilakukan dengan menggunakan aktivitas mikroba. Bahan
yang mengandung gula sederhana langsung dapat difermentasi, tetapi
bahan yang mengandung karbohidrat lain harus diubah terlebih dahulu
dengan jalan hidrolisis enzim menjadi gula sederhana yang siap
difermentasikan.
Reaksi: C6H12O6

Yeast S. Cerevisiae

2C2H5OH + 2CO2

Tapi dewasa ini produksi etanol melalui fermentasi makin


berkembang, hal ini disebabkan oleh:
a. Persediaan minyak bumi makin menipis, sehingga harga produk- produk
yang berasal dari minyak bumi menjadi meningkat.
b. Etanol yang dihasilkan secara fermentasi lebih aman bagi manusia
dibandingkan yang dihasilkan secara sintesis kimia.
Produk etanol diperdagangkan dalam beberapa jenis yang memiliki
kualitas dan penggunaan tertentu. Jenis-jenis produk etanol tersebut
diuraikan dibawah ini.
1. Etanol Teknis : Etanol jenis ini terutama digunakan untuk kepentingan
industri yaitu sebagai pelarut organik, bahan bakar dan sebagai bahan baku
4

atau bahan antara produksi berbagai senyawa organil lainnya. Etanol teknis
ini biasanya didenaturasi menggunakan (0,5-1)% piridin, dan diberi warna
memakai 0,05% metil violet.
2. Spiritus : Bahan ini biasanya digunakan sebagai bahan bakar untuk alat
pemanas ruangan dan untuk alat penerangan setelah didenaturasi dan diberi
warna.
3. Etanol Murni : Etanol jenis ini digunakan untuk kepentingan farmasi dan
konsumsi (minuman keras, dll)
4. Etanol Absolut : Bahan ini banyak digunakan dalam sejumlah besar obatobatan dan juga sebagai pelarut atau sebagai bahan antara di dalam
pembuatan senyawa-senyawa lain dalam skala laboratorium. Etanol absolut
yang didenaturasi banyak digunakan sebagai bahan bakar kendaraan.
Dalam dunia kimia, farmasi, dan kedokteran, etanol banyak digunakan,
diantaranya :
1. Sebagai pelarut sesudah air, alkohol merupakan pelarut yang paling
bermanfaat dalam farmasi. Digunakan

sebagai pelarut utama untuk

banyak senyawa organik.


2. Sebagai bakterisida (pembasmi bakteri). Etanol 60-80% berkhasiat sebagai
bakterisida yang kuat dan cepat terhadap bakteri-bakteri.
3. Sebagai alkohol penggosok. Alkohol penggosok ini mengandung sekitar
70% v/v, dan sisanya air dan bahan lainnya. Digunakan sebagai rubefacient
pada pemakaian luar dan gosokkan untuk menghilangkan rasa sakit pada
pasien yang terbaring lama.
4. Sebagai germisida alat-alat.
5. Sebagai pembersih kulit sebelum injeksi
6. Sebagai substrat, senyawa intermediet, solven, dan pengendap.
A. Bahan baku bioetanol
Bahan baku pembuatan bioetanol ini dibagi menjadi tiga kelompok yaitu:
1. Bahan gula (glucose)
Gula merupakan bentuk bahan baku yang paling sederhana dengan rumus
kimia C6H12O6. Sebagai bahan baku bioetanol, glukosa dapat langsung
digunakan dalam proses peragian. Bahan - bahan yang

termasuk

dalam

kelompok ini antara lain nira tebu, nira sargum manis, nira kelapa, nira
aren, dan sari buah mete. Molasses sebagai hasil samping dari industri
pembuatan gula, lebih umum digunakan sebagai bahan baku industri etanol,
daripada diambil niranya. Keuntungan penggunaan nira gula dan molasses
dalam industri etanol yaitu tidak memerlukan proses pendahuluan karena
bentuk senyawa karbohidratnya sudah siap diubah oleh mikroorganisme.
2. Bahan berpati
Bahan - bahan yang termasuk kelompok ini adalah bahan - bahan yang
mengandung pati atau karbohidrat. Bahan - bahan tersbut antara lain tepung
-tepung ubi ganyong, sorgum biji, jagung, sagu, ubi kayu, ubi jalar, dan lain lain.
3. Bahan berselulosa (lignoselulosa)
Bahan berselulosa (lignoselulosa) artinya adalah bahan tanaman yang
mengandung selulosa (serat) yang banyak dihasilkan dari limbah pertanian,
antara lain kayu, jerami, batang pisang, dan lain- lain.
persediaannya

sejalan

dengan

persediaan

Bahan

ini

bahan baku berpati. Bahan

berselulosa ini juga merupakan bahan yang jarang digunakan dan cukup sulit
untuk dilakukan. Hal ini karena adanya lignin yang sulit dicerna sehingga
proses pembentukan glukosa menjadi lebih sulit. Bahan berselulosa ini sebelum
difermentasi harus diawali dengan proses persiapan yaitu penambahan selullase
yaitu mengubah selulosa menjadi bagian- bagian selulosa sederhana,
selanjutnya dihidrolisis menjadi glukosa atau langsung dihidrolisis dengan
menggunakan asam kuat menjadi satuan-satuan glukosa.

Gambar 1. Diagram alir tahap-tahap pembuatan bioetanol


B. Proses produksi bioetanol
Secara umum, terdapat tiga tahap pembuatan bioetanol mencangkup
tiga rangkaian proses, yaitu persiapan bahan baku, fermentasi dan
destilasi/pemurnian.
1. Persiapan bahan baku
Pada tahap ini, bahan baku berupa padatan harus dikonversi terlebih
dahulu menjadi larutan gula sebelum akhirnya difermentasi untuk menghasilkan
etanol, sedangkan bahan-bahan yang sudah dalam bentuk larutan gula (seperti
tebu dan molase) dapat langsung difermentasi. Bahan padatan dikenai
perlakuan pengecilan ukuran dan tahap pemasakan. Proses pengecilan ukuran
dapat dilakukan dengan menggiling bahan (singkong, sagu dan jagung)
sebelum memasuki tahap pemasakan.

Tahap pemasakan bahan meliputi proses liquifikasi dan sakarifikasi. Pada tahap
liquifikasi, bahan dikonversi menjadi gula melalui

proses

pemecahan

menjadi gula kompleks. Pada tahap liquifikasi dilakukan penambahan air


0
dan enzim -amilase. Proses ini dilakukan pada suhu 80-90 C. Berakhirnya
proses liquifikasi ditandai dengan parameter cairan seperti sup. Kemudian
dilanjutkan dengan tahap sakarifikasi. Sakarifikasi adalah proses pemecahan
gula kompleks menjadi gula sederhana. Tahap sakarifikasi dilakukan pada
suhu 50-600C.

Enzim

yang

ditambahkan

pada

tahap

ini

adalah

enzim glukoamilase. Pada tahap sakarifikasi akan terjadi pemecahan gula


kompleks menjadi gula sederhana.

(a)

(b)

Gambar 2. (a) proses likuifikasi; (b) proses sakarifikasi


2. Fermentasi etanol
Pada tahap ini terjadi proses pemecahan gula-gula sederhana menjadi
etanol dengan melibatkan enzim dan ragi pada suhu optimum. Proses
fermentasi ini menghasilkan etanol dan CO2 yang dilakukan pada suhu
0
27-32 C selama kurun waktu 3-7 hari. Keseluruhan proses membutuhkan
ketelitian agar bahan baku tidak terkontaminasi oleh mikroba lainnya.
Dengan kata lain, dari persiapan bahan baku, liquifikasi, sakarifikasi hingga
fermentasi harus pada kondisi bebas kontaminan. Selama proses fermentasi
akan menghasilkan cairan etanol dan CO2.

Hasil dari fermentasi berupa cairan mengandung etanol berkadar


rendah antara 7-12% (cairan beer). Pada kadar etanol maksimal 12% ragi
menjadi tidak aktif lagi, karena kelebihan alkohol akan berakibat racun
bagi ragi dan mematikan aktifitasnya.
3. Destilasi/pemurnian
Pada tahap ini dilakukan destilasi pada suhu di atas titik didih
0
etanol murni, yaitu pada kisaran 78-100 C. Produk yang dihasilkan
pada tahap ini memiliki kemurnian hingga 96%.
C. Pemanfaatan Limbah Bioetanol
Akhir proses penyulingan (destilasi) etanol menghasilkan limbah padat
dan limbah cair. Untuk meminimalisir efek terhadap pencemaran
lingkungan, maka dapat diproses menjadi lebih bermanfaat.
1. Limbah cair
Limbah cair bioetanol disebut juga vinasse a t a u stilage. Limbah
ini

dapat

terbentuk

pada

saat

proses

pencucian,

ekstraksi

pati(penggilingan) serta pada tahap destilasi. limbah cair bioetanol tidak


mengandung bahan beracun. Hal ini dikarenakan proses produksi
bioetanol berlangsung secara biologis (fermentasi dan enzimatis), tidak
b e r l a n gs un g s e c a r a kim i a wi . Li m b a h c a i r in i d a p a t
di gu n a k an u n tu k
penghasil

p e n yi r a m a n

kebun-kebun

tanaman

bioenergi (singkong, tebu dan jarak pagar), serta air minum

ternak.
2. Limbah padat
Limbah padat produksi bioetanol diperoleh dari ampas kulit pisang yang
tidak terpakai. Untuk limbah padat, dapat digunakan untuk pupuk organik
dan bahan biogas, komponen saus, dan industri obat nyamuk bakar.
Dengan

demikian,

bioetanol

yang

kita

produksi

tidak

membahayakan lingkungan sekitar.

D. Kelebihan Bioetanol
Adapun kelebihan Bioetanol adalah sebagai berikut:
1. Bioetanol mengandung 35% oksigen, sehingga dapat meningkatkan
efisiensi pembakaran dan mengurangi emisi gas rumah kaca.
2. Bioetanol memiliki nilai oktan yang lebih tinggi, sehingga dapat
menggantikan fungsi bahan aditif.
3. Bioetanol memiliki nilai oktan 96-113, sedangkan nilai oktan bensin
hanya 85-96.
4. Bioetanol bersifat ramah lingkungan, karena gas buangnya rendah
terhadapa senyawa-senyawa yang berpotensi sebagai polutan, seperti
Karbonmonoksida, Nitrogen Oksida, dan gas-gas rumah kaca.
5. Bioetanol mudah terurai dan aman karena tak mencemari air.
6. Bioetanol dapat diperbaharui dan proses produksinya relatif lebih
sederhana dibandingkan dengan proses produksi bensin.
7. Bioetanol aman digunakan sebagai bahan bakar, titik nyala etanol
tiga kali lebih tinggi dibandingkan bensin.
2.2.

Tanaman Pisang
Pisang disebut sebagai tanaman holtikultura. Pengembangannya hingga saat ini
masih diusahakan oleh masyarakat hanya sebagai pengisi tanah pekarangan
rumah ataupun pada pematang-pematang sawah dan tegalan. Tanaman pisang,
terutama pisang kepok yang dibudidayakan secara intensif dengan menerapkan
teknologi yang benar dapat memberikan keuntungan yang tinggi dan mampu
bersaing dengan tanaman lain

Gambar 3. Pisang Kepok

10

Pisang Kepok diklasifikasi berdasarkan taksonomi tumbuhan sebagai


berikut:
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Sub Divisi

: Angiosperma

Kelas

Monocotyledonae Ordo
: Zingiberales Famili

Musaceae

A.

Genus

: Musa

Spesies

: Musa paradisiaca. L

Nama Lokal

: Pisang Kepok

Sejarah Singkat
Pisang adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari
kawasan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Pisang dengan nama
Latin Musa paradisiaca. L merupakan jenis buah-buahan tropis yang
sangat banyak dihasilkan di indonesia Tanaman ini kemudian menyebar
ke Afrika (Madagaskar), Amerika Selatan dan Tengah. Di Jawa Barat,
pisang disebut dengan Cau, di Jawa Tengah dan Jawa Timur dinamakan
gedang. Hampir di setiap tempat dapat dengan mudah ditemukan
tanaman pisang. Pusat produksi pisang di Jawa Barat adalah Cianjur,
Sukabumi dan daerah sekitar Cirebon. Tanaman pisang dapat
tumbuh di tanah yang kaya humus, tanah yang mengandung kapur dan
tanah berat. Di daerah- daerah tropis yang basah, pisang akan tumbuh
dengan baik. Tetapi pisang akan tumbuh dengan baik bila di daerahdaerah yang memiliki iklim lembab dan panas yang merata, artinya
perubahan panas yang tidak menyolok. Suhu optimum untuk
0
0
pertumbuhan adalah sekitar 27 C dan suhu maksimum 38 C.

B.

Penggolongan Pisang

11

Penggolongan pisang antara lain pisang yang dimakan secara


langsung, pisang yang dimakan setelah diolah terlebih dahulu, pisang
yang dapat dimakan secara langsung maupun setelah dimasak terlebih
dahulu dan pisang yang dapat dimakan ketika masih muda. Contoh
macam-macam pisang yang kita konsumsi yaitu pisang kepok, pisang
susu, pisang raja, pisang ambon, pisang emas, pisang kapas, pisang
klutuk dan lain-lain.
Varietas-varietas pisang di seluruh dunia yang ditanam dapat
dibagi dalam empat golongan besar, yaitu:
a. Pisang yang dimakan buahnya setelah ranum, misalnya Pisang
Ambon, Pisang Susu, Pisang Raja, Pisang Cavendish, Pisang
Barangan dan Pisang Mas.
b. Pisang yang dimakan setelah

direbus

atau

digoreng,

misalnya Pisang Nangka, Pisang Tanduk dan Pisang Kepok.


c. Pisang yang berbiji biasanya dimanfaatkan daunnya,
misalnya Pisang Klutuk.
d. Pisang yang diambil seratnya, misalnya Pisang Manila.
C.

Kandungan dan Manfaat pisang


Pada umumnya, buah pisang memiliki dua bagian, yaitu kulit
pisang dan daging buah pisang. Daging buah pisang itulah yang biasa
dikonsumsi oleh manusia, sedangkan kulit pisang biasa disebut sebagai
limbah buah pisang. Tanaman pisang yang utuh memiliki bagianbagian yang penting diantaranya daun, buah, batang, jantung dan kulit
pisang.
Ba gi a n - b a gi a n t e r s eb u t m em il ik i b e r b aga i m a c a
m m a n f a at , d i a nt a r a n ya :
1. B u a h

pisang sebagai sumber berbagai macam mineral dan

vitamin yang bermanfaat bagi manusia. Kandungan mineral dan


vitamin yang berperan antara lain kalium, magnesium, fosfor, besi,
vitamin C dan B kompleks yang aktif sebagai neuro transmitter
dalam kelancaran fungsi otak. Gula pisang merupakan gula buah,

12

yaitu terdiri dari fruktosa yang mempunyai indeks glikemik lebih


rendah dibandingkan glukosa.
2. Daun pisang biasa digunakan sebagai pembungkus bahan makanan,
karena dengan membungkus makanan d e n ga n

m e n ggu n

a k a n d a un p is a ng a k a n m e n am b a h c it a r a s a d a l a
m

m ak a n an

tersebut contoh bahan makanan yang sering

menggunakan daun pisang sebagai pembungkus adalah tempe. Daundaun yang sudah tua dan robek-robek bisa digunakan untuk pakan
kambing, kerbau atau sapi karena banyak mengandung unsur yang
diperlukan oleh tubuh hewan. Bila jumlah daun pisang seperti itu
berlebihan bisa pula dibuat kompos.
3. Batang pisang dapat digunakan sebagai bahan dasar kertas daur
ulang, dan digunakan sebagai bahan untuk pakan ternak.
4. Bunga pisang atau lebih dikenal dengan jantung pisang karena
bentuknya seperti jantung memiliki kandungan lemak, protein,
karbohidrat, dan vitamin yang tinggi sehingga sangat baik untuk
sayuran. Selain dibuat sayur, bunga pisang ini dapat pula dibuat
manisan, acar maupun lalapan.
5. Kulit buah pisang yang dulunya hanya digunakan sebagai pakan
ternak kini bisa dimanfaatkan untuk keperluan manusia, misalnya
diolah menjadi nata dan alkohol (etanol). Di samping itu kulit buah
pisang tersebut umumnya tebal dan hampir mencapai 41% bagian
dari buah pisang.
6. Bonggol Pisang terutama bonggol yang masih muda dapat
dimanfaatkan untuk sayur.
D.

Kulit Pisang Kepok (Musa paradisiaca. L)


Pengolahan dari pisang ini akan menghasilkan limbah padat yaitu
berupa kulit pisang, dimana kulit-kulit pisang ini biasanya hanya
digunakan sebagai makanan ternak. Sisa pengolahan ini masih dapat
diekstrak dan dimanfaatkan untuk menghasilkan produk-produk yang
berguna, misalnya cuka, dan nata.

13

Gambar 4. Kulit Pisang Kepok


Kulit
pisang

pisang

mengandung

karbohidrat,

sehingga

kulit

dapat digunakan untuk menghasilkan etanol. Kandungan

karbohidrat kulit pisang sebanyak 18,50% dalam 100 g kulit pisang.


Pembuatan etanol dari bahan baku kulit pisang secara fermentasi dapat
dijadikan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan etanol yang
semakin bertambah karena semakin banyaknya industri makanan dan
minuman, rumah sakit, pabrik-pabrik farmasi dan kimia, sekolah
farmasi, biologi, kedokteran, dan untuk BBM.

Tabel 2. Komposisi Kimia Kandungan Kulit Pisang dalam 100 g


kulit pisang
Unsur
Air
Karbohidrat
Lemak
Protein
Kalsium
Pospor
Besi
Vitamin B
Vitamin C
2.3.

Komposisis
69,80%
18,50%
2,11%
0,32%
715mg/100gr
117mg/100gr
0,6mg/100gr
0,12mg/100gr
17,5mg/100gr

Karbohidrat

14

Karbohidrat merupakan sumber kalori utama bagi hampir seluruh


penduduk dunia,
berkembang.

khususnya

bagi

negara

yang

sedang

Walaupun jumlah kalori yang dapat dihasilkan oleh 1 gram

karbohidrat hanya 4 Kal (kkal) bila


Karbohidrat

penduduk

juga

merupakan

dibandingkan

protein

dan

lemak.

senyawa organik yang terdiri dari karbon,

hidrogen dan oksigen yang terdapat di alam.


Karbohidrat

mempunyai

peranan

penting

dalam

menentukan

karakteristik bahan makanan, misalnya rasa, warna, tekstur, dan lain-lain.


Sedangkan dalam tubuh, karbohidrat berguna untuk mencegah timbulnya
pemecahan protein tubuh yang berlebihan, kehilangan mineral, dan berguna
untuk membantu metabolisme lemak dan protein. Pada tanaman, karbohidrat
dibentuk dari reaksi CO2 dan H2O dengan bantuan sinar matahari melalui
proses fotosintesis dalam sel tanaman yang berklorofil.
Reaksi fotosintesisi:
CO2

H2O

sinar

(C6H12O6)n

matahari

O2

(Karbohidrat)

Karbohidrat disebut juga sakarida (Latin: saccharon = gula). Berdasarkan


jumlah molekul sakarida pembentuknya, karbohidrat dibedakan menjadi
monosakarida, disakarida dan polisakarida.
1. Monosakarida
Monosakarida

dikenal

dengan

gula

sederhana

yang

tidak

dapat

dihidrolisis lagi menjadi bagian yang lebih kecil. Monosakarida mengandung


lebih dari satu gugus hidroksil yaitu polihidroksil aldehid dan polihidroksil
keton. Contoh golongan aldehid yaitu glukosa, galaktosa dan ribosa, sedangkan
golongan keton yaitu fruktosa.

15

Gambar 5. Monosakarida
2. Disakarida
Disakarida merupakan senyawa karbohidrat yang tersusun oleh dua molekul
monosakarida. Contoh disakarida yaitu maltosa, laktosa dan sukrosa.
Maltosa merupakan disakarida utama yang diperoleh dari hidrolisis pati yang
tersusun oleh dua molekul glukosa. Laktosa merupakan gula susu yang tersusun
oleh molekul glukosa dan galaktosa. Sukrosa merupakan gula pasir yang
banyak terdapat dalam tebu yang tersusun oleh molekul glukosa dan fruktosa.

(a) Maltosa

(b) Laktosa

(c) Sukrosa
Gambar 6. Disakarida
3. Oligosakarida
Oligosakarida merupakan senyawa karbohidrat yang tersusun oleh 2 sampai
10

molekul

monosakarida dan

biasanya bersifat

larut

dalam

air.

Olisakarida terdiri dari dua molekul disebut disakarida, dan bila tiga disebut
triosa, bila sukrosa terdiri dari molekul glukosa dan fruktosa, serta laktosa
terdiri dari glukosa dan galaktosa.

16

Sukrosa adalah oligosakarida yang mempunyai peran penting dalam


pengolahan makanan dan banyak terdapat pada tebu, bit, siwalan dan kelapa
kopyor. Oligosakarida dapat diperoleh dari hidrolisis polisakarida dengan
bantuan enzim tertentu atau hidrolisis dengan bantuan asam.
4. Polisakarida
Polisakarida merupakan senyawa karbohidrat yang tersusun oleh banyak
molekul monosakarida. Contoh polisakarida yaitu selulosa, pati, dan kitin.
2.4.

Pati
Pati adalah salah satu jenis polisakarida yang amat luas tersebar di alam. Bagi
tanaman, pati merupakan cadangan makanan yang terdapat pada biji (jagung,
padi, gandum sorgum dan lain-lain), batang (aren, sagu dan lain-lain) serta
umbi (singkong, ubi jalar, kentang dan lain-lain). Pati telah lama digunakan
orang, baik sebagai bahan makanan maupun bahan tambahan farmasi.
Banyaknya kandungan pati pada tanaman tergantung pada asal pati tersebut,
misalnya pati yang berasal dari biji beras mengandung pati 50-60% dan pati
yang berasal dari umbi singkong mengandung pati 80%.
Pati dapat dipisahkan menjadi dua fraksi utama berdasarkan
kelarutan dengan air panas, yaitu amilosa dan amilopektin.
1.

Amilosa

Amilosa merupakan komponen pati yang mempunyai 70-350 unit glukosa


yang berikatan membentuk rantai lurus dan larut dalam air. Umumnya
amilosa menyusun pati 17-21% terdiri dari satuan glukosa yang bergabung
melalui ikatan -(1,4) D- glukosa. Molekul amilosa membentuk spiral
disekitar molekul I2. Timbul warna biru tua dari antaraksi antara keduanya.
Warna ini merupakan dasar uji iod untuk pati.

17

Gambar 7. Struktur Amilosa


2.

Amilopektin

Amilopektin

merupakan

komponen

pati

yang

mempunyai

rantai

cabang, terdiri dari 100.000 satuan glukosa yang bergabung melalui ikatan (1,4) D- glukosa dan -(1,6) D- glukosa. Amilopektin tidak larut dalam air
tetapi larut dalam pelarut organik seperti butanol.

Gambar 8. Struktur amilopektin


A. Hidrolisis Pati
Hidrolisis adalah suatu proses antara reaktan dengan air agar suatu senyawa
pecah terurai.
Reaksi Hidrolisis: (C6H12O6)n + nH2O
Pati

Air

Amilase

nC6H12O6

Glukoamilase

Glukosa

Proses hidrolisis pati pati dapat dipecah menjadi unit-unit yang lebih kecil
dengan memotong ikatan-ikatan glikosidik.

Salah satu enzim yang dapat

memotong ikatan tersebut adalah enzim -amilase dan enzim glukoamilase


yang bekerja secara simultan. Enzim -amilase terdapat pada tanaman,
jaringan mamalia, jaringan mikroba. -amilase tersebut dalam bentuk

18

murni dapat diperoleh dari berbagai sumber, misalnya dari malt (barley), air
liur manusia dan pankreas. Enzim -amilase dapat juga diisolasi dari
beberapa jenis mikroba yakni jenis Aspergilus dan Bacillus. Sementara
glukoamilase dapat dihasilkan oleh jaringan hewan terutama oleh mikroba
jamur. Jamur yang dapat memproduksi glukoamilase antara lain adalah dari
golongan Aspergillus, Rhizopus delemar, Rhizopus tinkinensis dan lain-lain.
Dalam produksi etanol dari biomassa, proses hidrolisis dapat dilakukan
dengan

dua

cara

yaitu

hidrolisis

asam

(acid

hydrolysis)

dan

hidrolisis menggunakan enzim (enzymatic hydrolysis) pada suhu, pH, dan


waktu reaksi tertentu sehingga menghasilkan glukosa.
Hidrolisis menggunakan asam merupakan metode hidrolisis secara
konvensional dimana asam yang biasa digunakan adalah asam sulfat (H2SO4)
dan asam

klorida

lingkungan

(HCl).

Namun

metode

ini

kurang

ramah

dan pemotongan rantai pati oleh asam lebih tidak teratur

dibandingkan dengan hasil pemotongan rantai pati oleh enzim. Hasil


pemotongan oleh asam adalah campuran dekstrin, maltosa dan glukosa.
Kelemahan proses asam umumnya ialah hasil glukosa rendah, biaya
pemurnian tinggi, resiko kerusakan tinggi dan dapat menimbulkan korosi pada
sistem proses.
Sementara enzim bekerja secara spesifik sehingga hasil hidrolisis
dapat dikendalikan. Secara garis besar proses hidrolisis menggunakan
enzim ini bertujuan untuk memecah polisakarida yang terkandung dalam
biomassa menjadi monomer-monomernya. Enzim yang digunakan harus
sesuai dengan polisakarida yang akan dihidrolisis. Untuk komponen pati pada
proses hidrolisis enzim yang dapat

digunakan

glukoamilas. Umumnya enzim - amilase

adalah

memotong

-amilase
ikatan

dan

dibagian

tengah rantai sehingga menurunkan kemampuan pati mengikat zat warna


iodium. Hidrolisis dengan enzim -amilase menyebabkan

pati

terurai

menjadi molekul-molekul yang lebih kecil yakni maltosa dan maltotriosa


atau disebut dekstrin. Enzim glukoamilase kemudian berperan dalam proses

19

selanjutnya. Maltosa dan maltotriosa tersebut akan dihidrolisis kemudian


menjadi glukosa.
Sedangkan untuk memecah komponen selulasa dan hemiselulosa
diperlukan enzim yang spesifik. Untuk menghidrolisis selulosa diperlukan
enzim selulase. Namun, proses hidrolisis tidak semuanya terjadi secara
sempurna, karena sebagian dari hidrolisis selulosa menjadi selobiosa yang
merupakan bentuk dari disakarida yang dikenal sebagai hidrolisis parsial.
Oleh

karena

itu,

diperlukan

enzim selobiase

untuk

menghidrolisis

selobiosa tersebut. Sedangkan hemiselulosa dimana kandungan utamanya


adalah xylan. Dapat dihidrolisis dengan menggunakan enzim xylanase. Oleh
karena itu digunakan kombinasi dari ketiga enzim tersebut yaitu selulase,
selobiase, dan xylanase.
Hidrolisis enzim memiliki beberapa keuntungan, yaitu hasilnya lebih
ramah lingkungan, kondisi prosesnya dapat dikontrol, biaya pemurnian lebih
murah, dan tidak menghasilkan produk sampingan.
B. Faktor-faktor yang mempengaruhi hidrolisis pati
Faktor-faktor yang berpengaruh pada hidrolisis pati antara lain :
a. Suhu
Dari kinetika reaksi, semakin tinggi suhu reaksi makin cepat pula jalannya
reaksi. Tetapi apabila proses berlangsung pada suhu yang tinggi, konversi
akan menurun. Hal ini disebabkan adanya glukosa yang pecah menjadi
arang.
b. Waktu
Semakin lama waktu hidrolisis, konversi yang dicapai semakin besar
dan pada batas waktu tertentu akan diperoleh konversi yang relatif baik
dan apabila waktu tersebut diperpanjang, pertambahan konversi kecil
sekali.
c. Pencampuran pereaksi

20

Karena pati tidak larut dalam air maka pengadukan perlu diadakan agar
persentuhan butir-butir pati dan air dapat berlangsung dengan baik.
d. Konsentrasi katalisator
Penambahan katalisator bertujuan memperbesar kecepatan reaksi. Jadi
semakin banyak jumlah katalisator yang dipakai makin cepat reaksi
hidrolisis. Dalam waktu tertentu pati yang berubah menjadi glukosa
juga meningkat.
e. Kadar suspensi pati
Perbandingan antara air dan pati yang tepat akan membuat reaksi
hidrolisis berjalan cepat.
2.5.

Fermentasi
Fermentasi berasal dari kata latin fervere yang berarti mendidih yang
menunjukkan adanya aktivitas dari yeast pada ekstrak buah-buahan atau
biji-bijian.

Gambar 9. Proses fermentasi


Fenomena kelihatan seperti mendidih ini disebabkan karena terbentuknya
gelembung-gelembung
(biodegradasi) secara
Sedangkan

gas

CO2

anaerobik

dari

yang
gula

diakibatkan
yang

ada

katabolisme

dalam

ekstrak.

dalam mikrobiologi industri fermentasi diartikan sebagai suatu

proses untuk mengubah bahan baku menjadi suatu produk oleh mikroba.
Fermentasi etanol dapat dilakukan oleh ragi dan beberapa jenis bakteri. Ragi
yang sering berperan adalah dari golongan Saccharomyces yakni S. cerevisiae,

21

S.

ellipsoideus,

S.

carlsbergensis,

S.

fragilis,

S.

uvarum

dan

Schizosaccaromyches pombe. Sementara itu dari golongan bakteri yang dapat


digunakan untuk menghasilkan etanol adalah dari jenis Zymomonas,
Clostridium, Escerichia coli dan Spirocheata. Namun, Pada umumnya
fermentasi etanol sering digunakan ragi Saccharomyces cerevisiae.
Setiap golongan ragi dan bakteri bekerja spesifik pada setiap fermentasi
etanol sehingga perlu dicari strain mikroorganisme yang mempunyai sifat
lebih baik untuk meningkatkan produktifitas etanol. Sifat-sifat yang perlu
diperhatikan adalah:
1. Laju pertumbuhan dan laju fermentasi yang cepat
2. Perolehan etanol yang tinggi
3. Toleran terhadap etanol dan glukosa
4. Osmotolerance
5. Tahan terhadap temperatur yang tinggi
6. Sifat-sifat fisik
Langkah-langkah dasar yang dijumpai dalam proses fermentasi
secara umum tanpa memperhatikan jenis fermentasi adalah:
1. Pembuatan medium yang akan dipakai dalam pengembangan
inokulum dan dalam produksi di fermentor.
2. Sterilisasi medium, fermentor dan peralatan tambahan.
3. Produksi aktif kultur murni dalam jumlah yang cukup untuk
inokulasi dalam tangki produksi.
4. Menumbuhkan organisme di dalam fermentor di bawah kondisi
optimum untuk pembentukan produk.
5. Pemisahan dan pemurnian produk.
Fermentasi etanol merupakan proses feedback inhibition. Sel-sel ragi
dibatasi oleh toleransi, suhu dan tekanan osmotik dalam medium
fermentasi. Ketika etanol terakumulasi cukup banyak di dalam medium,
maka pertumbuhan sel khamir akan terhambat, sehingga sel akhirnya mati.
Meningkatnya konsentrasi etanol di dalam medium juga menyebabkan
struktur membran sel berubah. Toksisitas terhadap etanol mempengaruhi sel
melalui perubahan pada membran fosfolipid dan melemahkan struktur
22

membran. Hal tersebut mengakibatkan isi sel merembes keluar dan


kemampuan fermentasi sel menjadi rusak.
Ada 6 fase yang dilalui oleh mikroorganisme dalam fermentasi, yaitu:
1. Fase Permulaan (Initial Phase)
Pada fase ini, ragi baru menyesuaikan diri dengan lingkungan baru,
bermacam-macam enzim dan zat perantara dibentuk sehingga
keadaannya memungkinkan terjadinya pertumbuhan lebih lanjut.
Sel-sel mulai membesar tapi belum membelah diri.
2. Fase Pertumbuhan Yang Dipercepat (Phase of Accelerated Growth)
Pada fase ini, ragi mulai membelah diri, tetapi waktu generasinya
masih panjang. Fase pertumbuhan yang dipercepat bersama-sama
dengan fase permulaan sering disebut Lag Phase atau Phase of
Adjustment.
3. Fase Pertumbuhan Logaritma atau Fase Eksponensial (Logaritmic
Phase atau Exponentia Phase)
Pada fase ini kecepatan pembelahan paling tinggi, waktu
generasinya pendek dan konstan. Selama fase ini metabolisme paling
pesat.

4. Fase Pertumbuhan Yang Mulai Terhambat (Phase of


Negative Accelerated Growth)
Setelah melalui fase logaritma, kecepatan pembelahan akan
berkurang dan jumlah ragi yang mati bertambah banyak. Hal ini
disebabkan karena makin berkurangnya nutrient dan mulai terjadinya
penimbunan racun sebagai hasil kegiatan metabolisme.
5. Fase Stasioner Maksimum (Maximum Stationery Phase)
Adanya penurunan kadar nutrien dan meningkatnya penimbunan zatzat racun yang menghambat kecepatan pembelahan menjadi semakin
23

meningkat. Selain itu jumlah ragi yang mati juga meningkat. Pada
fase ini jumlah ragi yang dihasilkan sama dengan jumlah ragi yang
mati sehingga jumlah sel yang hidup menjadi konstan.
6. Fase Kematian Yang Dipercepat dan Fase Kematian
Logaritma (Logaritmic Death Phase)
Kedua fase ini biasanya dinyatakan sebagai satu fase yang disebut
fase menurun. Pada fase ini kecepatan kematian terus meningkat,
sedangkan kecepatan pembelahannya menjadi nol. Setelah sampai ke
fase kematian, logaritma kecepatan kematian mencapai maksimal
dan jumlah sel menurun dengan cepat.
Keenam fase ini digambarkan sebagai berikut:

Gambar 10. Fase Fermentasi

24

Berdasarkan atas bahan baku/substrat yang digunakan dalam


proses fermentasi dapat dibagi dalam dua bagian yaitu:
1. Proses

fermentasi

permukaan

(surface

fermentation

atau

solid

fermentation), contohnya pada pembuatan tempe. Proses fermentasi


permuakaan dilakukan pada substrat yang berbentuk padat.
2. Proses fermentasi bawah

permukaan

(submerged

fermentation),

contohnya pada pembuatan minuman. Proses fermentasi bawah


permukaan dilakukan pada substrat cair.
Fermentasi berdasarkan kebutuhan O2, dapat dibedakan menjadi
dua, yaitu:
1. Fermentasi aerob (proses respirasi), yaitu fermentasi yang disertai
dengan pengambilan oksigen. Semua organisme untuk hidupnya
memerlukan sumber energi yang diperoleh dari hasil metabolisme bahan
pangan, dimana
paling

organisme

itu

berada.

Bahan

energi

yang

banyak digunakan mikroorganisme untuk tumbuh adalah

glukosa. Adanya oksigen maka mikroorganisme dapat mencerna


glukosa menghasilkan air, karbondioksida dan sejumlah besar energi.
Contoh: fermentasi asam cuka, asam nitrat, dan sebagainya.
2. Fermentasi anaerob, yaitu fermentasi yang tidak membutuhkan adanya
oksigen.

Beberapa

mikroorganisme

dapat

mencerna

bahan

energinya tanpa adanya oksigen. Jadi hanya sebagian bahan energi


itu

dipecah,

yang

dihasilkan

adalah

sebagian

dari

energi,

karbondioksida dan air, termasuk sejumlah asam laktat, asetat, etanol,


asam volatile, alkohol dan ester. Biasanya dalam fermentasi ini
menggunakan mikroba yeast, jamur dan bakteri.

25

Fermentasi etanol berlangsung secara anaerob (tanpa oksigen) dengan


bantuan enzim yang dihasilkan oleh Saccharomyces cerevisiae. Secara garis
besar fermentasi karbohidrat dapat dibagi menjadi 2 tahap yaitu:
1. Pemecahan karbohidrat (pati) menjadi gula pereduksi
Pemecahan karbohidrat menjadi gula pereduksi dibantu oleh enzim
diastase ( amilase dan glukoamilase), seperti yang terlihat pada
reaksi berikut:
2(C6H10O6)n + nH2O

-amilase

Pati

nC12H22O11
maltosa

C12H22O11

glukoamilase

C6H12O
6

2. Perubahan gula pereduksi menjadi etanol


Perubahan gula pereduksi menjadi etanol dilakukan oleh enzim zymase,
yaitu enzim kompleks yang terkandung dalam ragi. Reaksinya adalah
sebagai berikut:
C6H12O6

zymase

2CH3CH2OH (l) + 2CO2(g)

Faktor-faktor yang mempengaruhi fermentasi etanol, sebagai berikut:


a.

Temperatur
Fermentasi etanol sebagai eksi enzimatik akan berlangsung dengan

0
baik antara temperatur 24 30 C, sebab pada temperatur tersebut enzim
yang

dihasilkan

oleh

mikroba

Saccharomyces

cereviceae

dapat

melangsungkan aktifitasnya dengan baik. Di atas temperatur tersebut

26

aktifitas enzim yang dihasilkan akan menurun karena mengalami


0
denaturasi. Sedangkan dibawah temperatur 24 C reaksi fermentasi etanol
akan berlangsung lambat.
b.

pH
Aktifitas enzim sangat dipengaruhi oleh pH dari medium fermentasi.

Aktifitas enzim terletak pada trayek pH tertentu dan mempunyai pH


optimal. Di luar pH optimal, enzim akan bekerja lebih lambat. Untuk enzim
yang melangsungkan fermentasi etanol, pH optimalnya adalah 4,5.
c.

Oksigen
Oksigen pada proses fermentasi harus diatur sebaik mungkin untuk

memperbanyak atau menghambat pertumbuhan mikroba tertentu. Misalnya,


Saccharomyces cereviceae yang menghasilkan etanol dari gula akan lebih
baik dalam keadaan anaerobik. Setiap mikroba membutuhkan oksigen yang
berbeda jumlahnya untuk pertumbuhan atau membentuk sel-sel baru dan
untuk fermentasi. Seperti misalnya Saccharomyces cereviceae akan tumbuh
lebih baik pada keadaan aerobik tetapi bila melakukan terhadap gula jauh
lebih cepat dalam keadaan anaerobik.
d.

Konsentrasi Gula (substrat) dan Konsentrasi Enzim


Untuk mendapatkan hasil etanol yang optimal, diperlukan konsentrasi

enzim tertentu untuk mengubah semua substrat menjadi produk. Hal ini
berarti jumlah etanol optimal yang dihasilkan bergantung pada konsentrasi
gula (substrat) yang akan diubah oleh enzim. Konsentrasi gula yang
diperlukan untuk fermentasi adalah 10 sampai 18 %. Apabila konsentrasi
gula terlalu tinggi maka proses fermentasi akan berjalan lambat.
e.

Jenis Mikroba

27

Setiap jenis fermentasi mempergunakan mikroba dengan jenis yang


berbeda. Sebagai contoh dalam fermentasi etanol yang digunakan adalah
mikroba jenis Saccharomyces cereviceae.

2.6.

Ragi
Ragi adalah suatu inokulum atau starter yang digunakan untuk melakukan
fermentasi dalam produk tertentu. Ragi juga merupakan uniselular yang
beberapa jenis spesiesnya umum untuk membuat roti, fermentasi minuman
alkohol, dan bahkan digunakan percobaan sel bahan bakar, memiliki ukuran
antara 5-20 mikron, berukuran 5 sampai 10 kali lebih besar dari bakteri. Beberapa
jenis ragi membentuk kapsul di sebelah luar seperti bakteri. Ragi dapat tumbuh
dalam media padat dan cair dengan cara yang sama seperti bakteri. Pembelahan
sel ragi terjadi secara aseksual dengan pembentukan tunas. Kebanyakan ragi
merupakan anggota divisi Ascomycota, walaupun ada juga yang digolongkan
dengan Basidiomycota.
Pada keadaan aerob, ragi akan berkembang biak untuk memperbanyak diri.
Dalam lingkungan yang terisolasi dengan udara, ragi dapat memfermentasi
karbohidrat menjadi etanol. Ragi tidak memiliki klorofil sendiri maka mikroba ini
tidak dapat melakukan fotosintesis sehingga harus mendapatkan makanannya dari
bahan-bahan organik. Meskipun ragi memilki ciri morfologi, bentuk dan ukuran
serta cara perkembangbiakan yang berbeda dengan kapang dan bakteri, namun
mereka memilki persamaan yaitu dapat menghasilkan enzim.
Ragi terdiri dari beberapa jenis diantaranya ragi roti (Saccharomyces sp) dan
ragi tape ( Saccharomyces sp dan beberapa mikroorganisme lain). Umumnya
fermentasi dapat memberikan hasil yang memuaskan bila khamir yang digunakan
berasal dari ragi roti (Saccharomyces sp).
Pada umumnya, ragi roti berbentuk butiran dan ragi tape berbentuk padatan
bulat pipih berwarna putih. Ragi roti dan ragi tape mengandung khamir yang
sama, yaitu Saccharomyces cerevisiae. Bedanya, ragi tape dibuat dengan

28

penambahan bahan-bahan seperti laos, bawang putih, tebu, ubi kayu dan jeruk nipis,
sehingga tidak hanya khamir saja yang dapat tumbuh tetapi ada mikroorganisme
lain yaitu campuran populasi terhadap spesies-spesies dari genus Aspergilus,
Saccharomyces, Candida dan Hansenulla, serta bakteri Acetobacter. Pada ragi
tape terdapat 4 macam isolat mikroba, yaitu dua isolat kapang dari genus Rhizopus
dan dua isolat khamir dari genus Saccharomyces dan Schizosaccharomyces.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kehidupan ragi adalah sebagai
berikut:
a. Media
Pada umumnya bahan dasar yang mengandung senyawa organik
terutama glukosa dan pati dapat digunakan sebagai substrat dalam proses
fermentasi bioetanol.
b. Nutrisi (Zat gizi)
Dalam kegiatannya khamir memerlukan penambahan nutrisi untuk
pertumbuhan dan perkembangbiakan, yaitu:
1) Unsur C, ada faktor karbohidrat.
2) Unsur N, dengan penambahan pupuk yang mengandung nitrogen,
misalnya ZA, urea, ammonia dan sebagainya
3) Unsur P, dengan penambahan pupuk Fospat, misalnya NPK, TSP,
DSP dan sebagainya.
4) Mineral-mineral (kalium, sulfur, besi dan tembaga)
5) Vitamin-vitamin
c. Keasaman (pH)
Untuk fermentasi alkohol, khamir memerlukan media dengan suasana asam,
yaitu antara pH 4,5-5,00. Pengaturan pH dapat dilakukan dengan
penambahan Asam Sulfat jika substratnya alkalis atau dengan Natrium
Bikarbonat jika substratnya asam.
d. Suhu
0
Suhu optimum untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan adalah 28 C0
30 C. Pada waktu fermentasi terjadi kenaikan panas, karena reaksinya
29

eksoterm. Untuk mencegah agar suhu fermentasi tidak naik, perlu


0 0
pendinginan agar dipertahankan tetap 26 -30 C.
e. Udara (O2)
Fermentasi alkohol berlangsung secara anaerob (tanpa udara). Namun
demikian udara diperlukan pada proses pembibitan sebelum fermentasi
untuk perkembangbiakan khamir tersebut.
2.7.
Saccharomyces cerevisiae
Saccharomyces cerevisiae memliki sel berbentuk ellipsoid atau silinder. Ukuran
sel antara 5-20 mikron, biasanya 5-10 kali lebih besar dari ukuran bakteri dan
merupakan mikroorganisme bersel tunggal, tidak bergerak sehingga tidak
memiliki

struktur

tambahan

di

bagian

luarnya

seperti

flagella.

Saccharomyces cerevisiae bersifat nonpatogenik dan nontoksik, sehingga sejak


dahulu banyak digunakan dalam berbagai proses fermentasi seperti pembuatan
roti, asam laktat, dan alkohol.

Gambar 11. Saccharomyces cerevisiae

Klasifikasi ilmiah Saccharomyces cerevisiae sebagai berikut:


Kingdom

: Fungi

Filum
Kelas
Ordo
Genus
Spesies

: Ascomycota
: Saccharomycetes
: Saccharomycetales
: Saccharomyces
: Saccharomyces cerevisiae

30

Saccharomyces

cerevisiae

mampu

memfermentasi

sejumlah

gula,

diantaranya sukrosa, glukosa, fruktosa, galaktosa, mannosa, maltosa dan


maltotriosa. Saccharomyces cerevisiae merupakan mikroba yang paling banyak
digunakan pada fermentasi alkohol karena dapat berproduksi tinggi, tahan
terhadap kadar alkohol yang tinggi, tahan terhadap kadar gula yang tinggi
0
dan tetap aktif melakukan aktivitasnya pada suhu 4 32 C. Di dalam
Sacharomyces cerevisiae mengandung enzim zymase yang mengubah glukosa
menjadi etanol.
2.8.

Destilasi
Hasil fermentasi merupakan campuran dari berbagai macam zat,

diantaranya yaitu sisa-sisa bahan dasar, air, biomassa dan etanol sebagai produk.
Untuk mendapatkan hasil produk yang lebih baik maka harus dilakukan
proses pemurnian hasil dengan menggunakan alat destilasi.
Destilasi sering digunakan untuk memurnikan senyawa-senyawa yang
mempunyai titik didih yang berbeda. Senyawa dalam bentuk cair dipanaskan,
dan pada saat titik didih senyawa dengan titik didih lebih rendah tercapai,
uapnya akan diembunkan (dikondensasikan) dan dikumpulkan. Pengembunan
terjadi

dengan

mengalirkan

uap

ke

tabung

pendingin. Contohnya

memisahkan campuran air dan alkohol. Titik didih air dan alkohol masing0
0
masing 100 C dan 78 C. Jika campuran dipanaskan (dalam labu destilasi) dan
0
suhu diatur sekitar 78 C, maka alkohol akan menguap sedikit demi sedikit.
Uap itu mengembun dalam pendingin dan akhirnya didapat cairan alkohol
murni.

31

Gambar 12. Serangkaian alat destilasi sederhana.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.

Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : panci, kompor,
blender, wadah fermentasi, gelas ukur 100 ml, pipet volume 10 ml, Erlenmeyer
250 ml, Alkoholmeter, pH meter, timbangan analitik dan seperangkat alat destilasi.

32

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: air, kulit


pisang kepok, ragi (Saccharomyces cerevisiae), enzim alfa amilase dan enzim
glukoamilase.
3.2. Prosedur kerja
A.

Pengolahan sampel
Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah limbah
kulit pisang kepok, masing-masing dengan berat 1 Kg untuk setiap perlakuan.
Sebelum diolah, kulit pisang terlebih dahulu dibersihkan kemudian dipotongpotong kecil-kecil. Selanjutnya kulit pisang tadi dihaluskan di dalam blender
dengan penambahan 1,5 liter air . Kulit pisang tersebut direbus pada
0
0
suhu 100 C selama 30 menit . Pada suhu 90 C tambahkan 3 ml enzim
amilase.
Selanjutnya

bahan

didinginkan

hingga

suhu

menjadi

0
50-60 C,

kemudian ditambahkan 3 ml enzim glukoamilase . Aduk rebusan sampai


mengental. Setelah dingin sampel ditambahkan ragi, lalu di masukkan ke
dalam wadah fermentasi .
B.

Fermentasi Etanol
Fermentasi etanol dilakukan secara anaerob (tanpa oksigen) dengan
menggunakan wadah fermentasi sederhana.

C. Analisis berat ragi untuk pembentukan etanol


Penentuan berat ragi optimal dengan waktu fermentasi 4 hari.
Masing- masing 1 Kg sampel dimasukkan ke dalam wadah fermentasi,
ke dalam masing-masing wadah fermentasi ditambahkan ragi optimal
sebanyak 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 gram. Fermentasi dilakukan selama 4 hari.

33

Masing-masing hasil fermentasi ditentukan kadar alkohol menggunakan alat


alkoholmeter. Dari hasil pengamatan
menghasilkan kadar

etanol

diperoleh

kadar

ragi

yang

optimal. Kadar ragi optimal ini digunakan

kembali untuk fermentasi selanjutnya.


D.

Pemurnian Etanol
Sebelum
alkoholmeter,

dilakukan
hasil

pengukuran

fermentasi

kadar

dimurnikan

etanol
terlebih

dengan
dahulu

alat

dengan

menggunakan alat destilasi. Proses destilasi dimulai dengan mempersiapkan


rangkaian alat destilasi, kemudian hasil fermentasi dimasukkan ke dalam labu
0
destilasi. Destilasi berlangsung pada suhu 78-80 C. Destilat yang diperoleh
berupa etanol yang nantinya akan dianalisa dengan alkoholmeter.
E.

Penentuan Konsentrasi Etanol


Konsentrasi etanol ditentukan dengan menggunakan alat alkoholmeter.
Sebanyak

100

ml

destilat

dimasukkan ke

dalam

gelas

ukur.

Alkoholmeter dicelupkan ke dalam gelas ukur dan di catat angka pada


alkoholmeter yang menunjukkan persentase etanol.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.

Hasil

34

Dari hasil analisis berat ragi optimal yang dilakukan menggunakan ragi
Saccharomyces cerevisiae terhadap konsentrasi etanol dari hasil fermentasi dapat
dilihat pada tabel 3 dan grafik di bawah ini.
Tabel 3. Kadar etanol terhadap variabel kadar ragi (Fermentasi 1 kg Kulit
Pisang dengan waktu fermentasi 4 hari)
Kadar ragi

pH sebelum

pH sesudah

Kadar etanol

(gram)
1
2
3
4
5
6

fermentasi
4,5
4,5
4,5
4,5
4,5
4,5

fermentasi
4,5
4,5
4,5
4,5
4,4
4,4

(%)
7%
8%
9%
12%
8%
6%

Grafik dibawah ini memperlihatkan adanya hubungan antara berat ragi


yang digunakan pada waktu fermentasi terhadap kadar etanol yang dihasilkan.
Kadar etanol semakin meningkat dengan penambahan ragi sampai batas optimal.
Namun penambahan ragi selanjutnya menurunkan kadar etanol yang dihasilkan,
yaitu berat ragi 5 gram menghasilkan etanol sebesar 8%. Kadar etanol optimal
diperoleh pada penambahan berat ragi 4 gram, yaitu 12%.

35

Gambar 13. Hubungan antara kadar ragi terhadap kadar etanol yang dihasilkan.
4.2.Pembahasan
A. Tahapan Pembuatan Bioetanol
Tahap pemasakan bahan merupakan tahap awal pada proses pembuatan
bioetanol. Pada tahap ini meliputi proses liquifikasi dan sakarifikasi. Pada tahap
liquifikasi atau hidrolisis enzim, bahan dikonversi menjadi gula melalui
proses pemecahan menjadi gula kompleks. Proses ini dilakukan dengan
0
penambahan air dan enzim - amilase pada suhu 90 C. Kemudian dilanjutkan
0
dengan tahap sakarifikasi pada suhu 50-60 C. Adapun enzim yang
ditambahkan pada tahap ini adalah enzim glukoamilase. Pada tahap ini akan
terjadi pemecahan gula kompleks menjadi gula sederhana.

36

Adapun mekanisme reaksinya adalah sebagai berikut:


2(C6H10O6)n + nH2O

-amilase

Pati
C12H22O11

nC12H22O11
maltosa

glukoamilase

maltosa

C6H12O6
glukosa

Proses fermentasi merupakan tahap selanjutnya setelah melalui tahap


pemasakan bahan baku. Pada tahap ini terjadi proses pemecahan gulagula sederhana menjadi etanol dengan melibatkan enzim yang dihasilkan
oleh ragi sebagai biokatalisator. Proses fermentasi ini menghasilkan etanol
0
dan CO2 yang dilakukan pada suhu 30 C selama 4 hari.
Keseluruhan proses membutuhkan ketelitian agar bahan baku tidak
terkontaminasi oleh mikroba lainnya. Dengan kata lain, dari persiapan
bahan baku, liquifikasi, sakarifikasi hingga fermentasi harus pada kondisi
bebas kontaminan.
Adapun mekanisme reaksinya adalah sebagai berikut:
C6H12

zymase

2CH3CH2OH (l) + 2CO2 (g)

B. Analisis Ragi Optimal


Analisis berat ragi optimal dilakukan dengan menggunakan 6 macam
variasi yaitu 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 gram dengan kadar etanol yang
dihasilkan berturut- turut adalah 7%, 8%, 9%, 12%, 8%, dan 6%. Hasil ini
menunjukkan bahwa penambahan ragi akan mempengaruhi kadar etanol
yang dihasilkan, dimana kadar etanol yang optimal 12% diperoleh pada
penambahan ragi 4 gram dengan waktu fermentasi 4 hari.
Secara umum meningkatnya pemakaian ragi akan meningkatkan
kadar etanol yang dihasilkan. Hal ini terjadi karena semakin banyak ragi
yang digunakan dalam medium fermentasi pada batas tertentu, maka
semakin banyak pula enzim yang dihasilkan sebagai biokatalisator yang
berfungsi mengubah gula menjadi etanol. Hal ini dikarenakan ragi
37

mengalami

suatu

fase pertumbuhan dimana saat ragi mengalami

perkembangbiakan dengan kecepatan pembelahan paling tinggi. Selama fase


pertumbuhan ini, metabolisme paling pesat akibatnya substrat yang
terkonversi menjadi gula juga semakin banyak.
Namun pada pemakaian ragi 5 gram dan 6 gram terjadi penurunan kadar
etanol berturut-turut yaitu 8% dan 6%. Hal ini disebabkan karena ragi yang
terlalu

banyak

menyebabkan kondisi

yang

tidak

optimum untuk

mengkonversi gula substrat (gula) menjadi produk. Ini dikarenakan


mikroorganisme membutuhkan sebagian substrat untuk perkembangbiakan,
namun jumlah ragi yang ada lebih banyak, sedangkan jumlah substrat
sedikit, akibatnya kecepatan kematian ragi terus meningkat. Hal inilah
yang menyebabkan kadar etanol menjadi turun.

38

BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1. Cara membuat bioetanol dengan metode fermentasi dilakukan dengan beberapa
tahapan yaitu, tahap pemasakan bahan, liquifikasi, sakarifikasi, dan tahap
fermentasi.
2. Jumlah ragi yang ditambahkan dalam fermentasi bioethanol mempengaruhi
banyaknya kadar ethanol yang dihasilkan.
3. Berat ragi yang optimal dalam pembuatan bioetanol adalah 4 gram dengan kadar
etanol 12%.

DAFTAR PUSTAKA

39

Dilapanga, Shinta, dkk., 2014. Pemanfaatan Kulit Pisang Menjadi Etanol dengan
cara Hidrolisis dan Fermentasi menggunakan Sacharomyces Cerevisiae.
Gorontalo : Universitas Negeri Gorontalo.
Ramdani, Mohamad.2012. Pembuatan Bioetanol Dari Limbah Pisang (Musaceae)
Dengan

Proses

Hidrolisasi

Dan

Fermentasi,

online

(http://mohamadramdani93.blogspot.co.id/2012/12/pembuatan-bioetanol-darilimbah-pisang.html, diunduh tanggal 22 Oktober 2015).


Retno, Dyah Tri., Wasir Nuri. 2011. Pembuatan Bioetanol dari Kulit Pisang.
Yogyakarta : FTI UPN.
S. Apriliani, Asteria., Franky Agustinus. 2013. Pembuatan Etanol Dari Kulit Pisang
Secara Fermentasi. Semarang : Universitas Diponegoro.
Setiawati, Diah Restu, dkk., 2012. Proses Pembuatan Bioetanol dari Kulit Pisang.
Palembang : Universitas Sriwijaya.
Sukowati, Asih, 2014. Pembuatan Bioetanol dari Kulit Pisang dengan Hidrolisis
Asam Sulfat. Lampung : Universitas Lampung.
Zahara, 2012. Optimalisasi Penggunaan Ragi (Saccharomyces Cerevisiae) Dalam
Pembuatan Bioetanol Dari Limbah Kulit Pisang Kepok (Musa Paradisiaca. L)
Dengan Menggunakan Metode Hidrolisis Enzim. Riau : Universitas Islam
Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Pekan Baru.

40