Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit campak merupakan salah satu penyakit menular yang masih


menjadi masalah kesehatan di Indonesia, karena sering dilaporkan dibeberapa
daerah. Menurut data SKRT (1996) insiden campak pada balita sebesar
528/10.000. angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan tahun 1982 sebelum
program imunisasi campak dimulai, yaitu sebesar 8000/10.000 pada anak umur 1-
15 tahun. Imunisasi merupakan salah satu upaya terbaik untuk menurunkan
insiden campak cenderung turun pada semua golongan umur. Pada bayi kurang
dari 1 tahun dan anak umur 1-4 tahun terjadi penurunan cukup tajam, sedangkan
pada golongan umur 5-14 tahun relative lambat. Saat ini program pemberantasan
penyakit campak dalam tahap reduksi yaitu penurunan jumlah kasus dan
kematian akibat campak, menyusul tahap eliminasi dan akhirnya tahap eradikasi.
Diharapkan 10-15 tahun setelah tahap eliminasi, penyakit campak dapat
dieradikasi, karena satu-satunya pejamunya dalah manusia. Respon imun
memegang peranan penting dalam upaya mengatasi infeksi virus campak. Baik
respon yang timbul oleh infeksi campak alam maupun respon setelah imunisasi.

Program Pencegahan dan pemberantasan Campak di Indonesia pada saat


ini berada pada tahap reduksi dengan pengendalian dan pencegahan KLB. Hasil
pemeriksaan sample darah dan urine penderita campak pada saat KLB
menunjukkan Igm positip sekitar 70% – 100%. Insidens rate semua kelompok
umur dari laporan rutin Puskesmas dan Rumah Sakit selama tahun 1992 – 1998
cenderung menurun, terutama terjadi penurunan yang tajam pada kelompok umur
= 90%) dan merata disetiap desa masih merupakan strategi ampuh saat ini untuk
mencapai reduksi campak di Indonesia pada tahun 2000. CFR campak dari
Rumah Sakit maupun dari hasil penyelidikan KLB selama tahun 1997 – 1999
cenderung meningkat, kemungkinan hal ini terjadi berkaitan dengan dampak kiris
pangan dan gizi, namun masih perlu dikaji secara mendalam dan komprehensive.
Sidang WHO tahun 1988, menetapkan kesepakatan global untuk membasmi polio
atau Eradikasi Polio (Rapo), Eliminasi Tetanus Neonatorum (ETN) dan Reduksi

1
Campak (RECAM) pada tahun 2000. Beberapa negara seperti Amerika, Australia
dan beberapa negara lainnya telah memasuki tahap eliminasi campak. Pada
sidang CDC/PAHO/WHO tahun 1996 menyimpulkan bahwa campak
dimungkinkan untuk dieradikasi, karena satu-satunya pejamu (host) atau
reservoir campak hanya pada manusia dan adanya vaksin dengan potensi yang
cukup tinggi dengan effikasi vanksin 85%. Diperkirakan eradikasi akan dapat
dicapai 10 – 15 tahun setelah eliminasi. Program imunisasi campak di Indonesia
dimulai pada tahun 1982 dan masuk dalam pengembangan program imunisasi.
Pada tahun 1991, Indonesia dinyatakan telah mencapai UCI secara nasional.
Dengan keberhasilan Indonesia mencapai UCI tersebut memberikan dampak
positip terhadap kecenderungan penurunan insidens campak, khususnya pada
Balita dari 20.08/10.000 – 3,4/10.000 selama tahun 1992 – 1997 (ajustment data
rutin SST). Walaupun imunisasi campak telah mencapai UCI namun dibeberapa
daerah masih terjadi KLB campak, terutama di daerah dengan cakupan imunisasi
rendah atau daerah kantong.

B. Masalah
Dalam makalah ini kami akan membahas tentang penyakit campak dan
bagaimana pencegahan penyakit campak dengan imunisasi campak.
C. Tujuan

1. Tujuan umum

Tujuan umum dari makalah ini adalah memberikan gambaran bagaimana


pencegahan penyakit campak dengan imunisasi campak.

2. Tujuan khusus

Tujuan Khusus dari pembuatan makalah ini adalah

1. Untuk mengetahui definisi dari penyakit campak itu sendiri

2. Untuk mengetahui Etiologi penularan penyakit campak.

3. Untuk mengetahui cara pencegahan penularan penyakit campak dengan


imunisasi campak.

2
D. Metode Penelitian

Metode yang digunakan pada penyusunan makalah ini adalah Metode Studi
Literatur, dimana penyusun mengumpulkan data dari berbagai sumber seperti
internet, buku dan referensi lainnya.

E. Sistematika Penulisan

Dalam makalah ini terdapat empat BAB, yaitu BAB I, II, dan III. Dimana BAB
I merupakan Pendahuluan yang terdiri dari Latar Belakang, Identifikasi Masalah,
Tujuan Umum dan Khusus, Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan.
Kemudian BAB II merupakan Tinjauan Teori yang terdiri dari Penyakit Campak
dan Pencegahan dengan Imunisasi Campak, serta KIPI (Kejadian Ikutan Pasca
Imunisasi). Dan BAB III merupakan Penutup yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran.

3
BAB II
TINJAUAN TEORI

Penyakit Campak
Definisi
Penyakit Campak adalah satu penyakit berjangkit. Campak (Rubeola, Campak
9 hari) atau dikenal dengan sebutan Gabagen (dalam bahasa Jawa); atau Keremut
(dalam bahasa Banjar). Dalam istilah medisnya disebut juga dengan Morbili,
Measles.
Campak adalah suatu infeksi virus yang sangat menular, yang ditandai dengan
demam, lemas, batuk, konjungtivis (peradangan selaput ikat mata/ konjungtiva)
dan bintik merah dikulit (ruam kulit).

Gambar. 1: Anak yang Terkena Campak (sumber klikpdpi.com)

1. Etiologi
Campak, rubeola, atau measles Adalah penyakit infeksi yang sangat mudah
menular atau infeksius sejak awal masa prodromal, yaitu kurang lebih 4 hari
pertama sejak munculnya ruam. Campak disebabkan oleh paramiksovirus ( virus
campak). Virus ini terdapat dalam darah dan sekret (cairan) nasofaring (jaringan
antara tenggorokan dan hidung) pada masa gejala awal (prodromal) hingga 24 jam
setelah timbulnya bercak merah di kulit dan selaput lendir. Virus dalam jumlah
sedikit saja dapat menyebabkan infeksi pada individu yang rentan. Penyakit

4
campak sangat infeksius selama masa prodromal yang ditandai dengan demam,
malaise, mata merah, pilek dan trakeobronktis dengan manifestasi batuk. Infeksi
campak pertama kali terjadi pada epitalium saluran pernafasan dari nasofaring,
kongjungtiva, dengan penyebaran ke daerah limfa. Viremia primer tejadi 2-3 hari
setelah individu terpapar virus campak,diikuti viremia sekunder 3-4 hari kemudian.
Viremia sekunder menyebabkan infeksi dan relikasi virus lebih lanjut pada kulit
kongjungtiva, saluran pernafasan dan organ lainnya. Replikasi virus memerlukan
watu 24 jam. Jumlah virus dalam darah mencapai pncaknya pada hari 11-14
setelah trpapar dan emudian menurun cepat 2-3 hari kemudian.
2. Karakteristik Virus Campak
Virus campak atau morbili adalah virus RNA anggota family
paramyxoviridae. Secara morfologi tidak dapat dibedakan dengan virus anggota
family paramyxoviridae. Virus campak trdiri atas nukleokapsid berbentuk heliks
yang dikelilingi oleh selubung virus. Sifat infeksius virus c ampak ditunjukkan
dengan tingginya sensitivitas dan aktivitas hemolitiknya.
.
3. Tanda dan Gejala
a. Tanda-Tanda Penyakit Campak
Tanda khas penyakit campak adalah adanya Koplik spots (kemerahan
dengan putih di tengah) di selaput lendir pipi yang tampak 1-2 hari sebelum
timbulnya rash. Rash adalah kemerahan kulit yang biasanya muncul pada hari
ke 14 setelah terpapar, kemudian menyebar dari kepala ke anggota badan
selama 3-4 hari. Setelah 3-4 hari rash akan menghilang meninggalkan noda
kehitaman. Rash merupakan manifestasi reaksi hipersensitivitas yang tidak
akan terlihat pada orang yang mengalami penekanan sistem imunitas seluler.
Sel yang terinfeksi virus campak mampu berfusi membentuk sel raksasa
multinuklear (multinuclear giant cells), yang merupakan tanda patologis
infeksi virus campak.
b. Gejala – Gejala
Gejala mulai timbul dalam waktu 7-14 hari setelah terinfeksi, yaitu
berupa: - Panas badan - nyeri tenggorokan - hidung meler ( Coryza ) - batuk
( Cough ) - Bercak Koplik - nyeri otot - mata merah ( conjuctivitis ), 2-4 hari
kemudian muncul bintik putih kecil di mulut bagian dalam (bintik Koplik).
Ruam (kemerahan di kulit) yang terasa agak gatal muncul 3-5 hari setelah
5
timbulnya gejala diatas. Ruam ini bisa berbentuk makula (ruam kemerahan
yang mendatar) maupun papula (ruam kemerahan yang menonjol). Pada
awalnya ruam tampak di wajah, yaitu di depan dan di bawah telinga serta di
leher sebelah samping. Dalam waktu 1-2 hari, ruam menyebar ke batang
tubuh, lengan dan tungkai, sedangkan ruam di wajah mulai memudar.
Pada puncak penyakit, penderita merasa sangat sakit, ruamnya meluas
serta suhu tubuhnya mencapai 40° Celsius. 3-5 hari kemudian suhu tubuhnya
turun, penderita mulai merasa baik dan ruam yang tersisa segera menghilang.
Demam, kecapaian, pilek, batuk dan mata yang radang dan merah selama
beberapa hari diikuti dengan ruam jerawat merah yang mulai pada muka dan
merebak ke tubuh dan ada selama 4 hari hingga 7 hari.

4. Cara Penularan
Penularan terjadi melalui percikan ludah dari hidung, mulut maupun
tenggorokan penderita campak (air borne disease). Masa inkubasi adalah 10-
14 hari sebelum gejala muncul. Cara penularan melalui droplet dan kontak,
yakni karena menghirup percikan ludah (droplet) dari hidung, mulut maupun
tenggorokan penderita morbili/campak. Artinya, seseorang dapat tertular
Campak bila menghirup virus morbili, bisa di tempat umum, di kendaraan atau
di mana saja. Penderita bisa menularkan infeksi ini dalam waktu 2-4 hari
sebelum rimbulnya ruam kulit dan selama ruam kulit ada. Masa inkubasi
adalah 10-14 hari sebelum gejala muncul. Sebelum vaksinasi campak
digunakan secara meluas, wabah campak terjadi setiap 2-3 tahun, terutama
pada anak-anak usia pra-sekolah dan anak-anak SD. Jika seseorang pernah
menderita campak, maka seumur hidupnya dia akan kebal terhadap penyakit
ini. Kekebalan terhadap campak diperoleh setelah vaksinasi, infeksi aktif dan
kekebalan pasif pada seorang bayi yang lahir ibu yang telah kebal
(berlangsung selama 1 tahun).
Orang-orang yang rentan terhadap campak adalah:
• bayi berumur lebih dari 1 tahun
• bayi yang tidak mendapatkan imunisasi
• remaja dan dewasa muda yang belum mendapatkan imunisasi kedua.

5. Komplikasi
6
Pada anak yang sehat dan gizinya cukup, campak jarang berakibat serius.
Beberapa komplikasi yang bisa menyertai campak:
1. Infeksi bakteri : Pneumonia dan Infeksi telinga tengah
2. Kadang terjadi trombositopenia (penurunan jumlah trombosit),
sehingga pendeita mudah memar dan mudah mengalami perdarahan
3. Ensefalitis (inteksi otak) terjadi pada 1 dari 1,000-2.000 kasus.

B. Pencegahan dengan Imunisasi Campak


1. Definisi
Imunisasi adalah pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit
tertentu. Vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah
suatu penyakit. Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi.
Antibodi ini berfungsi melindungi terhadap penyakit. Vaksin tidak hanya
menjaga agar anak tetap sehat, tetapi juga membantu membasmi penyakit
yang serius yang timbul pada masa kanak-kanak. Vaksin secara umum cukup
aman. Keuntungan perlindungan yang diberikan vaksin jauh lebih besar
daripada efek samping yang mungkin timbul. Dengan adanya vaksin maka
banyak penyakit masa kanak-kanak yang serius, yang sekarang ini sudah
jarang ditemukan.
Imunisasi campak efektif untuk memberi kekebalan terhadap penyakit
campak sampai seumur hidup. Penyakit campak yang disebabkan oleh virus
yang ganas ini dapat dicegah jika seseorang mendapatkan imunisasi campak,
minimal dua kali yakni semasa usia 6 bulan - 59 bulan dan masa SD (6 - 12
tahun).
Upaya imunisasi campak tambahan yang dilakukan bersama dengan
imunisasi rutin terbukti dapat menurunkan kematian karena penyakit campak
sampai 48%. Tanpa imunisasi, penyakit ini dapat menyerang setiap anak, dan
mampu menyebabkan cacat dan kematian karena komplikasinya seperti
radang paru (pneumonia); diare, radang telinga (otitis media) dan radang otak
(ensefalitis) terutama pada anak dengan gizi buruk. Hingga kini penyakit
campak masih menjadi penyebab utama kematian anak di bawah umur 1 tahun
dan Balita umur 1 - 4 tahun di Indonesia. Diperkirakan lebih dari 30.000
anak/tahun meninggal karena komplikasi campak. Selain itu, campak
berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) atau wabah. Imunisasi

7
adalah jalan utama untuk mencegah dan menurunkan angka kematian anak-
anak akibat campak.
Imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi aktif
adalah pemberian kuman atau racun kuman yang sudah dilemahkan atau
dimatikan dengan tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi antibodi
sendiri. Contohnya adalah imunisasi polio atau campak. Sedangkan imunisasi
pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi, sehingga kadar antibodi dalam
tubuh meningkat. Contohnya adalah penyuntikan ATS (Anti Tetanus Serum)
pada orang yang mengalami luka kecelakaan. Contoh lain adalah yang
terdapat pada bayi yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagai
jenis antibodi dari ibunya melalui darah placenta selama masa kandungan,
misalnya antibodi terhadap campak.

2. Jenis Imunisasi Campak


Vaksin Campak Kering
a. Deskripsi
Vaksin campak merupakan vaksin virus hidup yang dilemahkan.
Setiap dosis (0,5 ml) mengandung tidak kurang dari 1000 infective unit
virus strain CAM 70, dan tidak lebih dari 100 mcg residu kanamycin
dan 30 mcg residu erythromycin. Vaksin ini berbentuk vaksin beku
kering yang harus dilarutkan hanya dengan pelarut steril yang tersedia
secara terpisah untuk tujuan tersebut. Vaksin ini telah memenuhi
persyaratan WHO untuk vaksin campak.
Jumlah pemberian imunisasi campak diberikan sebanyak 2 kali; 1
kali di usia 9 bulan, 1 kali di usia 6 tahun. Dianjurkan, pemberian
campak ke-1 sesuai jadwal. Selain karena antibodi dari ibu sudah
menurun di usia 9 bulan, penyakit campak umumnya menyerang anak
usia balita. Jika sampai 12 bulan belum mendapatkan imunisasi campak,
maka pada usia 12 bulan harus diimunisasi MMR (Measles Mump
Rubella).
b. Indikasi
Untuk Imunisasi aktif terhadap penyakit campak.
c. Komposisi
Tiap dosis vaksin yang sudah dilarutkan mengandung :
8
1. Virus Campak >= 1.000 CCID50
2. Kanamycin sulfat <= 100 mcg
3. Erithromycin <= 30 mcg
d. Dosis dan Cara Pemberian
Imunisasi campak terdiri dari dosis 0,5 ml yang disuntikkan secara
Subkutan, lebih baik pada lengan atas. Pada setiap penyuntikan harus
menggunakan jarum dan syringe yang steril. Vaksin yang telah
dilarutkan hanya dapat digunakan pada hari itu juga (maksimum untuk 8
jam) dan itupun berlaku hanya jika vaksin selama waktu tersebut
disimpan pada suhu 2°-8°C serta terlindung dari sinar matahari. Pelarut
harus disimpan pada suhu sejuk sebelum digunakan. Satu dosis vaksin
campak cukup untuk membentuk kekebalan terhadap infeksi.Di negara-
negara dengan angka kejadian dan kematian karena penyakit campak
tinggi pada tahun pertama setelah kelahiran, maka dianjurkan imunisasi
terhadap campak dilakukan sedini mungkin setelah usia 9 bulan (270
hari). Di negara-negara yang kasus campaknya sedikit, maka imunisasi
boleh dilakukan lebih dari usia tersebut. Vaksin campak tetap aman dan
efektif jika diberikan bersamaan dengan vaksin-vaksin DT, Td, TT,
BCG, Polio, (OPV dan IPV), Hepatitis B, dan Yellow Fever.
Tata Cara Pemberian Imunisasi Campak

Imunisasi campak dilakukan dengan menggunakan alat suntik sekali


pakai (autodestruct syringe). Penggunaan alat suntik tersebut dimaksudkan
untuk menghindari penularan penyakit HIV/AIDS dan Hepatitis B.

Dengan cara :
1. Vaksin Campak dilarutkan dulu sebelum saat
pelayanan akan dimulai.
2. Buka tutup torak dan tutup jarum.
3. Tusukkan jarum tersebut ke vial vaksin. Pastikan
ujung jarum selalu berada didalam cairan vaksin, jauh dibawah
permukaan cairan vaksin, sehingga tidak ada udara yang masuk
kedalam semprit.

9
4. Tarik torak perlahan-lahan agar cairan vaksin masuk
kedalam semprit, sampai torak terkunci secara otomatis, torak tidak
dapat ditarik lagi.
5. Cabut jarum dari vial, keluarkan udara yang tersisa
dengan cara mengetuk alat suntik dan mendorong torak sampai pada
skala 0,5 cc.
6. Bersihkan kulit dengan air hangat, kemudian suntikan
vaksin secara intramuskular (lakukan aspirasi sebelumnya untuk
memastikan apakah jarum tidak menembus pembuluh darah). Alat
suntik yang telah dipakai langsung dibuang kedalam insinerator tanpa
penutup jarum dan penutup torak.

Untuk menghindari resiko tertusuk jarum, petugas kesehatan tidak


boleh memasang kembali penutup jarum.

Insinerator berisi alat suntik bekas pakai dibawa kembali ke Puskesmas


dan kemudian setelah penuh, baru dipakai.

Perhatian !
Alat suntik ini bersifat sekali pakai (autodestruct), maka torak tidak boleh
ditarik sebelum jarum tersebut ditusukkan kedalam vial vaksin. Torak yang
sudah ditarik sebelum diisi vaksin tidak akan dapat digunakan lagi.

7. Vaksin campak yang telah dilarutkan hanya bertahan 3


jam, setelah lewat waktu tersebut tidak boleh dipakai lagi.
8. Lokasi penyuntikan sebaiknya paha anak, tekhnis
penyuntikan sesuai juknis imunisasi.

e. Efek Samping
Hingga 15 % pasien dapat mengalami demam ringan dan
kemerahan selama 3 hari yang dapat terjadi 8 - 12 hari setelah vaksinasi.

10
Terjadinya Encephalitis setelah vaksinasi pernah dilaporkan yaitu
dengan perbandingan 1 kasus per 1 juta dosis yang diberikan.
f. Kontraindikasi
Terdapat beberapa kontraindikasi yang berkaitan dengan pemberian
vaksin campak. Walaupun berlawanan penting untuk mengimunisasi
anak yang mengalami malnutrisi. Demam ringan, infeksi ringan pada
saluran nafas atau diare, dan beberapa penyakit ringan lainnya jangan
dikategorikan sebagai kontraindikasi. Kontraindikasi terjadi bagi
individu yang diketahui alergi berat terhadap kanamycin dan
erithromycin. Karena efek vaksin virus campak hidup terhadap janin
belum diketahui, maka wanita hamil termasuk kontraindikasi.
Individu Pengidap Virus HIV (HUMAN IMMUNODEFFICIENCY
VIRUS). Vaksin Campak kontraindikasi terhadap individu-individu
yang mengidap penyakit immune deficiency atau individu yang diduga
menderita gangguan respon imun karena leukimia, lymphoma atau
generalized malignancy. Bagaimanapun penderita HIV, baik yang
disertai gejala ataupun tanpa gejala harus diimunisasi vaksin campak
sesuai jadual yang ditentukan.
g. Penyimpanan dan Daluarsa
Vaksin Campak beku-kering harus disimpan pada suhu dibawah 8
°C (kalau memungkinkan di bawah 0 °C) sampai ketika vaksin akan
digunakan. Tingkat stabilitas akan lebih baik jika vaksin (bukan pelarut)
disimpan pada suhu -20 °C. Pelarut tidak boleh dibekukan tetapi
disimpan pada kondisi sejuk sampai dengan ketika akan digunakan.
Vaksin harus terlindung dari sinar matahari.
Daluarsa : 2 tahun
h. Kemasan
Vaksin tersedia dalam kemasan vial 10 dosis + 5 ml pelarut dalam
ampul.

3. Gambar Vaksin Campak

11
C. KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi)
a. Definisi KIPI
Menurut Komite Nasional Pengkajian dan Penaggulangan KIPI (KN
PP KIPI), KIPI adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi
dalam masa 1 bulan setelah imunisasi. Pada keadaan tertentu lama
pengamatan KIPI dapat mencapai masa 42 hari (arthritis kronik pasca
vaksinasi rubella), atau bahkan 42 hari (infeksi virus campak vaccine-
strain pada pasien imunodefisiensi pasca vaksinasi campak, dan polio
paralitik serta infeksi virus polio vaccine-strain pada resipien non
imunodefisiensi atau resipien imunodefisiensi pasca vaksinasi polio).
Pada umumnya reaksi terhadap obat dan vaksin dapat merupakan
reaksi simpang (adverse events), atau kejadian lain yang bukan terjadi
akibat efek langsung vaksin. Reaksi simpang vaksin antara lain dapat
berupa efek farmakologi, efek samping (side-effects), interaksi obat,
intoleransi, reaksi idoisinkrasi, dan reaksi alergi yang umumnya secara
klinis sulit dibedakan.efek farmakologi, efek samping, serta reaksi

12
idiosinkrasi umumnya terjadi karena potensi vaksin sendiri, sedangkan
reaksi alergi merupakan kepekaan seseorang terhadap unsure vaksin
dengan latar belakang genetic. Reaksi alergi dapat terjadi terhadap protein
telur (vaksin campak, gondong, influenza, dan demam kuning), antibiotik,
bahan preservatif (neomisin, merkuri), atau unsure lain yang terkandung
dalam vaksin.
Kejadian yang bukan disebabkan efek langsung vaksin dapat terjadi
karena kesalahan teknik pembuatan, pengadaan dan distribusi serta
penyimpanan vaksin, kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan
imunisasi, atau semata-mata kejadian yang timbul secara kebetulan. Sesuai
telaah laporan KIPI oleh Vaccine Safety Committee, Institute of Medicine
(IOM) USA menyatakan bahwa sebagian besar KIPI terjadi karena
kebetulan saja. Kejadian yang memang akibat imunisasi tersering adalah
akibat kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan (pragmatic errors).

Etiologi
Tidak semua kejadian KIPI disebabkan oleh imunisasi karena sebagian
besar ternyata tidak ada hubungannya dengan imunisasi. Oleh karena itu unutk
menentukan KIPI diperlukan keterangan mengenai:
Besar frekuensi kejadian KIPI pada pemberian vaksin tertentu
Sifat kelainan tersebut lokal atau sistemik
Derajat sakit resipien
Apakah penyebab dapat dipastikan, diduga, atau tidak terbukti
Apakah dapat disimpulkan bahwa KIPI berhubungan dengan vaksin, kesalahan
produksi, atau kesalahan prosedur
KN PP KIPI membagi penyebab KIPI menjadi 5 kelompok faktor etiologi
menurut klasifikasi lapangan WHO Western Pacific (1999), yaitu:
1. Kesalahan program/teknik pelaksanaan (programmic errors)

Sebagian kasus KIPI berhubungan dengan masalah program dan


teknik pelaksanaan imunisasi yang meliputi kesalahan program
penyimpanan, pengelolaan, dan tata laksana pemberian vaksin. Kesalahan
tersebut dapat terjadi pada berbagai tingkatan prosedur imunisasi,
misalnya:

13
a. Dosis antigen (terlalu banyak)
b. Lokasi dan cara menyuntik
c. Sterilisasi semprit dan jarum suntik
d. Jarum bekas pakai
e. Tindakan aseptik dan antiseptik
f. Kontaminasi vaksin dan perlatan suntik
g. Penyimpanan vaksin
h. Pemakaian sisa vaksin
i. Jenis dan jumlah pelarut vaksin
j. Tidak memperhatikan petunjuk produsen

Kecurigaan terhadap kesalahan tata laksana perlu diperhatikan


apabila terdapat kecenderungan kasus KIPI berulang pada petugas yang
sama.

2. Reaksi suntikan

Semua gejala klinis yang terjadi akibat trauma tusuk jarum suntik baik
langsung maupun tidak langsung harus dicatat sebagai reaksi KIPI. Reaksi
suntikan langsung misalnya rasa sakit, bengkak dan kemerahan pada
tempat suntikan, sedangkan reaksi suntikan tidak langsung misalnya rasa
takut, pusing, mual, sampai sinkope.

3. Induksi vaksin (reaksi vaksin)

Gejala KIPI yang disebabkan induksi vaksin umumnya sudah dapat


diprediksi terlebih dahulu karena merupakan reaksi simpang vaksin dan
secara klinis biasanya ringan. Walaupun demikian dapat saja terjadi gejala
klinis hebat seperti reaksi anafilaksis sistemik dengan resiko kematian.
Reaksi simpang ini sudah teridentifikasi dengan baik dan tercantum dalam
petunjuk pemakaian tertulis oleh produsen sebagai indikasi kontra,
indikasi khusus, perhatian khusus, atauberbagai tindakan dan perhatian
spesifik lainnya termasuk kemungkinan interaksi obat atau vaksin lain.
Petunjuk ini harus diperhatikan dan ditanggapi dengan baik oleh
pelaksana imunisasi.

14
4. Faktor kebetulan (koinsiden)

Seperti telah disebutkan di atas maka kejadian yang timbul ini terjadi
secara kebetulan saja setelah diimunisasi. Indicator faktor kebetulan ini
ditandai dengan ditemukannya kejadian yang sama disaat bersamaan pada
kelompok populasi setempat dengan karakterisitik serupa tetapi tidak
mendapatkan imunisasi.

5. Penyebab tidak diketahui

Bila kejadian atau masalah yang dilaporkan belum dapat dikelompokkan


kedalam salah satu penyebab maka untuk sementara dimasukkan kedalam
kelompok ini sambil menunggu informasi lebih lanjut. Biasanya denagn
kelengkapan informasi tersebut akan dapat ditentukan kelompok
penyebab KIPI.

Gejala Klinis KIPI

Gejala klinis KIPI dapat timbul secara cepat maupun lambat dan dapat dibagi
menjadi gejala lokal, sistemik, reaksi susunan saraf pusat, serta reaksi lainnya.
Pada umumnya makin cepat KIPI terjadi makin cepat gejalanya.

Reaksi KIPI Gejala KIPI


Lokal Abses pada tempat suntikan

Limfadenitis

Reaksi lokal lain yang berat, misalnya


selulitis, BCG-it is
SSP Kelumpuhan akut

Ensefalopati

Ensefalitis

Meningitis

Kejang

15
Lain-lain Reaksi alergi: urtikaria, dermatitis, edema

Reaksi anafilaksis

Syok anafilaksis

Artralgia

Demam tinggi >38,5°C

Episode hipotensif-hiporesponsif

Osteomielitis

Menangis menjerit yang terus menerus


(3jam)

Sindrom syok septik

Dikutip dari RT Chen, 1999

Mengingat tidak ada satupun jenis vaksin yang aman tanpa efek samping, maka
apabila seorang anak telah mendapatkan imunisasi perlu diobsevasi beberapa
saat, sehingga dipastikan tidak terjadi KIPI (reaksi cepat). Berapa lama observasi
sebenarnya sulit ditentukan, tetapi pada umumnya setelah pemberian setiap jenis
imunisasi harus dilakukan observasi selama 15 menit.untuk menghindarkan
kerancuan maka gejala klinis yang dianggap sebagai KIPI dibatasi dalam jangka
waktu tertentu timbulnya gejala klinis.

Jenis Vaksin Gejala Klinis KIPI Saat timbul KIPI


Toksoid Tetanus (DPT, Syok anafilaksis 4 jam
DT, TT)
Neuritis brakhial 2-18 hari

Komplikasi akut termasuk kecacatan dan tidak tercatat


kematian

16
Pertusis whole cell Syok anafilaksis 4 jam
(DPwT)
Ensefalopati 72 jam

Komplikasi akut termasuk kecacatan dan tidak tercatat


kematian
Campak Syok anafilaksis 4 jam

Ensefalopati 5-15 hari

Komplikasi akut termasuk kecacatan dan tidak tercatat


kematian

Trombositopenia 7-30 hari

Klinis campak pada resipien 6 bulan


imunokompromais
tidak tercatat
Komplikasi akut termasuk kecacatan
dan kematian
Polio hidup (OPV) Polio paralisis 30 hari

Polio paralisis pada resipien 6 bulan


imunokompromais

Komplikasi akut termasuk kecacatan dan


kematian
Hepatitis B Syok anafilaksis 4 jam

Komplikasi akut termasuk kecacatan dan tidak tercatat


kematian
BCG BCG-itis 4-6 minggu

Dikutip dengan modifikasi dari RT Chen, 1999

a. Angka Kejadian KIPI

KIPI yang paling serius terjadi pada anak adalah reaksi anafilaksis. Angka
kejadian reaksi anafilaktoid diperkirakan 2 dalam 100.000 dosis DPT, tetapi yang

17
benar-benar reaksi anafilaksis hanya 1-3 kasus diantara 1 juta dosis. Anak yang
lebih besar dan orang dewasa lebih banyak mengalami sinkope, segera atau
lambat. Episode hipotonik/hiporesponsif juga tidak jarang terjadi, secara umum
dapat terjadi 4-24 jam setelah imunisasi.

Imunisasi Pada Kelompok Resiko

Untuk mengurangi resiko timbulnya KIPI maka harus diperhatikan apakah


resipien termasuk dalam kelompok resiko. Yang dimaksud dengan kelompok
resiko adalah:

1. Anak yang mendapat reaksi simpang pada imunisasi terdahulu

Hal ini harus segera dilaporkan kepada Pokja KIPI setempat dan KN PP KIPI
dengan mempergunakan formulir pelaporan yang telah tersedia untuk
penanganan segera

2. Bayi berat lahir rendah

Pada dasarnya jadwal imunisasi bayi kurang bulan sama dengan bayi cukup
bulan. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada bayi kurang bulan adalah:

a) Titer imunitas pasif melalui transmisi maternal lebih rendah dar pada
bayi cukup bulab

b) Apabila berat badan bayi sangat kecil (<1000 gram) imunisasi ditunda
dan diberikan setelah bayi mencapai berat 2000 gram atau berumur 2
bulan; imunisasi hepatitis B diberikan pada umur 2 bulan atau lebih
kecuali bila ibu mengandung HbsAg

c) Apabila bayi masih dirawat setelah umur 2 bulan, maka vaksin polio
yang diberikan adalah suntikan IPV bila vaksin tersedia, sehingga tidak
menyebabkan penyebaaran virus polio melaui tinja

3. Pasien imunokompromais

Keadaan imunokompromais dapat terjadi sebagai akibat penyakit dasar atau


sebagai akibat pengobatan imunosupresan (kemoterapi, kortikosteroid jangka

18
panjang). Jenis vaksin hidup merupakan indikasi kontra untuk pasien
imunokompromais dapat diberikan IVP bila vaksin tersedia. Imunisasi tetap
diberikan pada pengobatan kortikosteroid dosis kecil dan pemberian dalam
waktu pendek. Tetapi imunisasi harus ditunda pada anak dengan pengobatan
kortikosteroid sistemik dosis 2 mg/kg berat badan/hari atau prednison 20 mg/
kg berat badan/hari selama 14 hari. Imunisasi dapat diberikan setelah 1 bulan
pengobatan kortikosteroid dihentikan atau 3 bulan setelah pemberian
kemoterapi selesai.

4. Pada resipien yang mendapatkan human immunoglobulin

Imunisasi virus hidup diberikan setelah 3 bulan pengobatan utnuk


menghindarkan hambatan pembentukan respons imun.

Indikasi Kontra dan Perhatian Khusus Untuk Imunisasi

Pada umumnya tidak terdapat indikasi kontra imunisasi untuk individu


sehat kecuali untuk kelompok resiko. Pada setiap sediaan vaksin selalu terdapat
petunjuk dari produsen yang mencantumkan indikasi kontra serta perhatian
khusus terhadap vaksin. Petunjuk ini harus dibaca oleh setiap pelaksana
vaksinasi. (cfs/pedoman tata laksana medik KIPI bagi petugas kesehatan)

19
JADWAL IMUNISASI 2008
REKOMENDASI IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA (IDAI) PERIODE
2008

UMUR PEMBERIAN VAKSINASI


JENIS BULAN TAHUN
VAKSIN
LH
1 2 3 4 5 6 9 12 15 18 2 3 5 6 10 12
R
PROGRAM PENGEMBANGAN IMUNISASI (PPI diwajibkan)
BCG
HEPATITIS B 1 2 3
POLIO 0 1 2 3 4 5
DTP 1 2 3 4 5 6
CAMPAK 1 2
PROGRAM IMUNISASI NON-PPI (dianjurkan)
Hib 1 2 3 4
PNEUMOKOKUS
1 2 3 4
(PCV)
INFLUENZA DIBERIKAN SETAHUN SEKALI
MMR 1 2
TIFOID ULANGAN TIAP 3 TAHUN
2x INTERVAL 6 - 12
HEPATITIS A
BULAN
VARISELA
HPV

20
Keterangan Jadwal Imunisasi Periode 2008
Vaksin Vaksin Keterangan
Keterangan Hib Diberikan mulai umur 2 bulan
dengan interval 2 bulan.
BCG Diberikan sejak lahir. Apabila
Diberikan terpisah atau
umur > 3 bulan harus
kombinasi.
dilakukan uji tuberkulin
terlebih dulu, BCG diberikan Pneumokokus Pada anak yang belum
apabila uji tuberkulin negatif. ( PCV ) mendapat PCV pada umur > 1
tahun PCV diberikan dua kali
Hepatitis B HB diberikan dalam waktu 12
dengan interval 2 bulan. Pada
jam setelah lahir, dilanjutkan
umur 2 - 5 tahun PCV
pada umur 1 dan 3-6 bulan.
diberikan satu kali.
Interval dosis minimal 4
minggu. Influenza Umur < 8 tahun yang
mendapat vaksin influenza
Polio Polio-0 diberikan saat
trivalen (TIV) pertama kalinya
kunjungan pertama. Untuk
harus mendapat 2 dosis
bayi yang lahir di RB/RS OPV
dengan interval minimal 4
diberikan saat bayi
minggu.
dipulangkan (untuk
menghindari transmisi virus MMR MMR dapat diberikan pada
vaksin kepada bayi lain). umur 12 bulan, apabila belum
mendapat campak 9 bulan.
DTP Diberikan pada umur ³ 6
Umur 6 tahun diberikan untuk
minggu, DTwP atau DTaP
ulangan MMR maupun catch-
atau secara kombinasi dengan
up immunization.
Hep B program BIAS SD
kelas VI. atau Hib. Ulangan Tifoid Tifoid polisakarida injeksi
DTP umur diberikan pada umur ³ 2 tahun,
diulang setiap 3 tahun.
Campak Campak-1 umur 9
bulan,campak-2 diberikan Hepatitis A Hepatitis A diberikan pada
pada program BIAS pada SD umur > 2 tahun, dua kali
kl 1, umur 6 tahun. dengan interval 6-12 bulan.
HPV Vaksin HPV diberikan pada
umur >10 tahun dengan
jadwal 0, (1-2) dan 6 bulan
Sumber : Buku Pedoman Imunisasi Di
Indonesia –
21
IDAI Edisi III, 2008

BAB III
STUDI KASUS

A. Contoh Kasus

22
23
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Penyakit campak disebabkan oleh virus morbilli. Tanda khasnya berupa
Koplik spot di selaput lendir pipi, dan rash kulit yang muncul pada hari ke 14
setelah terpapar virus campak. Imunisasi campak efektif untuk memberi
kekebalan terhadap penyakit campak sampai seumur hidup.
Penyakit campak yang disebabkan oleh virus yang ganas ini dapat
dicegah jika seseorang mendapatkan imunisasi campak. Jumlah pemberian
imunisasi campak diberikan sebanyak 2 kali; 1 kali di usia 9 bulan, 1 kali
di usia 6 tahun. Dianjurkan, pemberian campak ke-1 sesuai jadwal. Selain
karena antibodi dari ibu sudah menurun di usia 9 bulan, penyakit campak
umumnya menyerang anak usia balita. Jika sampai 12 bulan belum
mendapatkan imunisasi campak, maka pada usia 12 bulan harus
diimunisasi MMR (Measles Mump Rubella).
Imunisasi campak terdiri dari dosis 0,5 ml yang disuntikkan secara
Subkutan, lebih baik pada lengan atas. Pada setiap penyuntikan harus
menggunakan jarum dan syringe yang steril.

B. Saran

Untuk mencegah terjadinya penyakit campak sebaiknya ibu harus


memberikan vaksin campak sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan agar
tidak terjadi penularan penyakit campak dan Sebaiknya jika ada satu orang
anak terkena campak, maka anak lain dianjurkan untuk tidak berdekatan
dengannya. Karena virusnya yang keluar melalui napas atau semburan ludah
(droplet) bisa terisap lewat hidung atau mulut dan akan menulari anak lain

24
DAFTAR PUSTAKA

Flexner, C. 1998. HIV-Protease Inhibitor. N. Engl. J.Med. 338:1281-1293


Patrick, A.K. & Potts, K.E. 1998. Protease Inhibitors as Antiviral Agents.
Clin. Microbiol. Rev. 11: 614-627.

25