Anda di halaman 1dari 54

KOMPOSISI BOTANI PAKAN RUSA TIMOR

(Cervus timorensis) DI PENANGKARAN RUSA TIMOR DESA


SUMBERINGIN KAB. BLITAR

Laporan Penelitian

Oleh :
Indra Hartanto
NIM. 0310520039

JURUSAN NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2008
1

KOMPOSISI BOTANI PAKAN RUSA TIMOR


(Cervus timorensis) DI PENANGKARAN RUSA TIMOR DESA
SUMBERINGIN KAB. BLITAR

Laporan Penelitian

Laporan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Peternakan pada Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya

Oleh :
Indra Hartanto
NIM. 0310520039

JURUSAN NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG

2008
2

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ...........................................................................................

Halaman
i

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................
1.2 Rumusan Masalah .................................................................
1.3 Tujuan Penelitian ..................................................................
1.4 Manfaat Penelitian ................................................................
1.5 Kerangka Pikir ......................................................................
1.6 Hipotesis................................................................................

1
3
3
3
3
5

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Rusa timor (Cervus timorensis) ............................................
2.2 Pakan dan Konsumsi pakan rusa ..........................................
2.3 Hijauan pakan .......................................................................
2.4 Rumput Gajah (Pennisetum purpureum ) ............................
2.5 Mahoni (Swietenia mahagoni) ..............................................
2.6 Umbi KetelaPohon ................................................................
2.7 Pertambahan Bobot badan.....................................................
2.8 Komposisi Botani. .................................................................
III.

6
8
10
10
10
11
12
13

MATERI DAN METODE


3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................
3.2. Materi Penelitian ....................................................................
3.3. Metode Penelitian ..................................................................
3.4. Analisis Statistik ....................................................................
3.5. Variabel Penelitian .................................................................
3.6. Batasan Istilah ........................................................................

15
15
15
17
18
18

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Kandungan nutrisi pakan .......................................................
4.2. Komposisi Botani Pakan Rusa ...............................................
4.3. Konsumsi Nutrien Pakan .......................................................
4.4. Pertambahan Bobot Badan .....................................................

19
21
22
25

V.

KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan ...........................................................................
5.2. Saran.......................................................................................

28
28

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................

29

LAMPIRAN ...........................................................................................

31

RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama lengkap Indra Hartanto, merupakan putra kedua dari
dua bersaudara pasangan Bapak Muhri Suharsono dan Ibu Susrini. Penulis
dilahirkan di Blitar, Jawa Timur pada tanggal 8 Agustus 1984.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di Sekolah Dasar Negeri
Jatilengger 2, Kec. Ponggok, Blitar pada tahun 1997, kemudian melanjutkan
pendidikan di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri I Srengat dan
menyelesaikannya pada tahun 2000. Tahun 2003 penulis meyelesaikan
pendidikan Sekolah Menengah Umum Negeri I Kademangan. Melalui seleksi
Penjaringan Siswa Berprestasi (PSB), penulis melanjutkan pendidikan di Jurusan
Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang
pada tahun 2003.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, karunia dan
hidayah-Nya sehingga penulisan skripsi dengan judul KOMPOSISI BOTANI
PAKAN rusa timor (Cervus timorensis) DI PENANGKARAN rusa timor
Desa SUMBERINGIN KAB. BLITAR dapat terselesaikan dengan baik.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu penulis dalam pelaksanaan maupun penyusunan skripsi ini. Melalui
kesempatan ini saya sampaikan ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ir. H. Kusmartono selaku dosen pembimbing utama, yang
telah memberikan bimbingan dan pengarahan selama penelitian dan
penyusunan skripsi ini.
2. Bapak Ir. Mashudi, MAgr,Sc selaku dosen pembimbing pendamping yang
telah membantu dan membimbing hingga penulisan skripsi.
3. Bapak Ir.. Bambang Soejosopoetro, MS selaku dosen penguji, atas
bimbingan dan arahannya.
4. Bapak Ngatuwin atas bantuannya dalam pengurusan administrasi selama
penulis berada di Fakultas Peternakan Universtas Brawijaya Malang.
5. Bapak Ir. Amirul Ilman selaku kepala Administratur Perum Perhutani
Blitar yang telah memberikan izin penggunaan tempat di Penangkaran
rusa timor desa Sumberingin kab. Blitar
6. Bapak, Ibu dan Kakakku tercinta atas doa, nasehat, dukungan dan
semangat sehingga penulis mampu menyelesaikan pendidikan ini.

7. Nutritionist 03 dan 04 yang banyak memberikan semangat, dukungan,


bantuan dan doa, serta kenangannya selama ini.
8. Keluargaku di Griya Shanta B20, Feri, Agus, Anton, Adi, wahyu, Heru,
Hepy, Ari, Eko, Udin, Aji dan Ilham yang selalu memberikan saran,
dukungan dan semangat dalam menyelesaikan penulisan laporan
penelitian ini.
9. Toha, Danang, dan Wahib trims atas kerjasamanya yang baik selama
penelitian.
10. Teman teman di M P no.1, Anwar, Heri, Yoko, Agus. Terima kasih atas
saran, dukungan dan semangat dalam menyelesaikan penulisan laporan
penelitian ini.
11. Serta berbagai pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu yang
telah membantu hingga terselesaikannya skripsi ini.
Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat
bagi pengembangan ilmu peternakan serta masyarakat luas.
Malang, Februari 2009
Penulis

ABSTRACT

The Deer (Cervus Timorensis) of feed Botany Composition in


Penangkaran Rusa Sumberingin, Blitar
The research was conducted in Penangkaran Rusa Sumberingin, Blitar.
Co-owned by Perum Perhutani Unit II Jawa Timur KPH Blitar RPH Sumberingin
BKPH Rejotangan for 3 month started from 29 march until 9 may 2008.
The materials of this research were 16 head of deer. The aims of the
research were to know feed botany compositions , feed consumption, and their
effect on bodyweightgain of the deers. 16 deer were kept on paddock house
(2flock) and stable house (2 flock) which each house divided to two sub houses
based n sex.The forages were available for each deers during the two periods of
observation about 10 kgs for forages and 6 kgs for the others.
The result of this research showed that the feed botany compositions was
Pennisetum purpureum Mahogany, and Casava. Which the proportion of them
were 73,13%; 23,80%; and 3,06% respectively. The crude protein and crude fiber
intake of Pennisetum purpureum were 10.3% and 25.7%. The crude protein and
crude fiber intake of mahogany were 8.45% and 32%. The crude protein and
crude fiber intake of cassava were 4.1% and 33.1%.
Average feed consumption was 4,175 kg/head/day until 4,518
kg/head/day. Average daily bodyweightgain was 0,10 kg/head/day until 0,15
kg/head/day increased.
Key words: Deer, Botany compositions

RINGKASAN
Komposisi botani pakan rusa timor ( Cervus timorensis ) di Penangkaran
rusa Desa Sumberingin Kab. Blitar
Penelitian ini dilakukan di penangkaran rusa timor ( Cervus timorensis )
Desa Sumberingin kabupaten Blitar milik Perhutani Unit II Jawa Timur KPH
Blitar RPH Sumberingin BKPH Rejotangan selama 3 bulan dimulai pada 29
maret sampai dengan 9 mei 2008. sedangkan untuk analisa proksimat dilakukan di
laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas
Brawijaya.
Penelitian menggunakan 16 ekor rusa timor ( Cervus timorensis ) untuk
mengetahui komposisi botani, konsumsi,dan pengaruhnya terhadap pertambahan
bobot badan ternak yang dipelihara di dalam kandang umbaran yang terbagi
dalam 4 flok dan dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin. Parameter yang
diamati dalam penelitian ini adalah jenis hijauan pakan yang diberikan selama
penelitian, konsumsi hijauan pakan, dan pertambahan bobot badan ternak.
Dari hasil pengamatan diketahui komposisi dari hijauan pakan adalah
sebagai berikut: rumput gajah:73,1293%; daun mahoni: 23,80% dan umbi ketela
pohon 3,06%. Sedangkan konsumsi pakan diketahui untuk rumput gajah adalah
25,7% SK; 27,97 %BO; dan 23,7% BK. Daun mahoni 32% SK; 43,44 %BO; dan
23,45% BK. Umbi ketela pohon: 33,1% SK; 15,4 %BO; dan 23% BK.
Konsumsi pakan rusa dalam kandang umbaran 4,175 kg sampai dengan
4,518 kg., sedangkan pertambahan bobot badan rusa adalah 0,10kg/ekor/hari
sampai dengan 0,15 kg/ekor/hari.
Kata kunci : Rusa Timor, komposisi Botani

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Jenis fauna atau satwa liar telah banyak dimanfaatkan untuk berbagai
kepentingan seperti pemanfaatan berupa daging untuk kebutuhan protein hewani,
sebagai hewan peliharaan, obyek wisata serta sebagai hewan percobaan biomedis
dan obat-obatan. Banyak jenis satwa liar yang mempunyai potensi nilai ekonomis
atau komersil salah satunya rusa. Nilai ekonomis dari

rusa adalah dapat

dimanfaatkan sebagai penghasil daging, kulit, dan tanduk. Rusa di Indonesia yang
mempunyai peluang untuk dibudidayakan, terdiri dari beberapa jenis yaitu Cervus
timorensis yang mempunyai delapan sub spesies, Cervus unicolor dua sub spesies,
dan rusa totol (Axis-axis) yang merupakan jenis rusa dari India yang sekarang
berkembang baik di Istana Bogor. (Garsetiasih, 2004)
Rusa merupakan satwa yang sangat potensial untuk dikembangkan, karena
selain sebagai penghasil daging juga hasil ikutannya seperti tanduk dan kulit
mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Rusa merupakan satwa liar yang suka
hidup berkelompok, mudah beradaptasi dalam segala lingkungan dan cepat
berkembang biak serta efisien dalam penggunaan pakan. Rusa mempunyai potensi
produksi daging yang tinggi dengan keunggulan menghasilkan karkas sebesar 5658% dibandingkan dengan sapi yang hanya 51-55% dan domba 44-50% (Semiadi,
1998). Rusa merupakan hewan ruminansia yang memiliki cara makan grazzing
yaitu makan rumput di padang rumput dan browsing yaitu makan daun-daunan
semak di hutan, biji-bijian dan jamur yang tumbuh di bawah pohon. Di alam

10

bebas, makanan rusa sangat bervariasi. Makanan rusa lebih bervariasi dibanding
dengan ternak ruminansia domestik lainnya (Dradjat, 2002). Melihat dari potensi
dan karakteristik rusa makan, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pola
pemberian pakan pada rusa.
Rusa Timor (Cervus timorensis) merupakan satwa liar yang dilindungi dan
pengelolaannya ditangani oleh Direktorat Jenderal Pelestarian Hutan dan
Konservasi Alam, Departemen Kehutanan. Sumber daya hayati ini dikhawatirkan
akan punah mengingat banyaknya perburuan liar dan perusakan habitat.
Habitat penangkaran berbeda dengan habitat alami. Berdasarkan ciri
habitatnya, pada habitat penangkaran terdapat peningkatan nutrisi, bertambahnya
persaingan intraspesifik untuk memperoleh makanan, berkurangnya pemangsaan
oleh predator alami, berkurangnya penyakit dan parasit serta meningkatnya
kontak dengan manusia (Lelono, 2003).
Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pengembangan rusa
dengan teknik penangkaran rusa adalah pakan. Serupa dengan hewan lainnya, rusa
memerlukan pakan yang cukup, baik jumlah maupun mutu (Garsetiasih,
Heriyanto, Atmaja, 2003). Penelitian tentang sistem pemberian pakan perlu
dilakukan untuk mendapatkan hasil mengenai pola konsumsi pakan dan
pengaruhnya terhadap pertambahan bobot badan pada Rusa timor (Cervus
timorensis).

11

1.2. Rumusan Masalah


Rumusan masalah yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah:
1. Bagaimana komposisi botani pakan Rusa Timor di Penangkaran Rusa
Timor Desa Sumberingin.
2. Bagaimana pengaruh pola pemberian pakan terhadap PBB rusa timor di
Penangkaran Rusa Timor Desa Sumberingin.
1.3.Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui komposisi botani pakan Rusa Timor di Penangkaran Rusa
Desa Sumberingin.
2. Mengetahui pengaruh perbedaan pola pemberian pakan terhadap
pertambahan bobot badan Rusa Timor.
1.4. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar dalam
pemberian pakan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan rusa, sehingga
diperoleh pertambahan bobot badan yang optimum.
1.5. Kerangka Pikir
Rusa (Cervus timorensis) merupakan satwa liar yang dilindungi dan
pengelolaannya ditangani oleh Direktorat Jenderal Pelestarian Hutan dan
Konservasi Alam, Departemen Kehutanan. Sumber daya hayati ini dikhawatirkan
akan punah mengingat banyaknya perburuan liar dan perusakan habitat.
Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pengembangan rusa
dengan teknik penangkaran rusa adalah pakan. Serupa dengan hewan lainnya, rusa

12

memerlukan pakan dalam jumlah cukup, baik jumlah maupun mutu (Garsetiasih,
Heriyanto, Atmaja, 2003).
Pakan adalah salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan
budidaya satwa. Untuk mencapai produksi yang tinggi, pemberian jumlah dan
komposisi pakan perlu mendapat perhatian agar kualitas dan kuantitas pakan yang
diberikan dapat memenuhi kebutuhan satwa yang dibudidayakan. Pemberian
pakan yang terlalu sedikit atau banyak akan merugikan, oleh karena itu, perlu
dipilih pakan yang murah tetapi mengandung nilai gizi yang baik. Penelitian
tentang sistem pemberian pakan perlu dilakukan untuk mendapatkan konsumsi
pakan yang efisien dan pertambahan bobot badan yang optimum pada Rusa Timor
(Cervus timorensis).
Perbaikan kualitas pakan dan efisiensi penggunaan pakan harus
ditingkatkan sehingga ternak mampu menampilkan produksi yang tinggi serta
keuntungan secara ekonomis. Pakan merupakan komponen habitat yang paling
nyata. Ketersediaannya berhubungan erat dengan perubahan musim, terutamadi
daerah temperate dan kutub. Tiap jenis satwa mempunyai kesukaan untuk
memilih pakannya. Hal ini berhubungan dengan palatabilitas dan selera (Dradjat,
2002).
Menurut Garsetiasih dan Takandjandji (2007), jumlah pakan yang
dibutuhkan oleh satwa ruminansia adalah 10% dari berat tubuhnya, kebutuhan
pakan rata-rata berat basah untuk rusa Timor dewasa dipenangkaran Kupang dan
Bogor adalah 5 kg per ekor dan di penangkaran Sumbawa 4,42 kg per ekor.
Pakan yang diberikan berupa hijauan unggul sebagai makanan pokok dan
konsentrat/penguat sebagai pakan tambahan. Hijauan unggul seperti Brachiaria

13

decumbens,king grass, Stylosanthes dan hijauan lainnya di berikan dengan dua


pola yaitu dipotong (cutting) dan digembalakan (Grazing) (Garsetiasih,
Heriyanto,Atmaja, 2003).
Selain diberi jenis rumput dan hijauan daun, rusa dipenangkaran diberikan
pula pakan tambahan dengan maksud untuk meningkatkan gizi dan tingkat
produksi serta reproduksi. Jenis rumput yang disukai rusa dipenangkaran adalah
Setaria dan Brachiaria decumbens. Sedangkan jenis hijauan legum adalah turi
(Sesbania glandiflora), lamtoro dan daun pilang ( Casia leucophloea) Garsetiasih
dan Takandjandji (2007). Rusa tropis dapat dikatakan menyukai hampir segala
bentuk hijauan, sehingga tidak terlalu sulit mencari pakan (Semiadi dan Nugraha,
2004).
1.6. Hipotesis
Adanya perbedaan pola pemberian pakan berpengaruh terhadap konsumsi
pakan dan pertambahan bobot badan Rusa Timor (Cervus timorensis).

14

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Rusa Timorensis (Cervus timorensis)


Indonesia memiliki kekayaan alam berupa 4 spesies rusa yang merupakan
hewan asli Indonesia. Rusa-rusa tersebut adalah Rusa Sambar (Cervus unicolor),
rusa Timor (Cervus timorensis), rusa Bawean (Axis kuhli) dan Muntjac
(Muntiacus muntjack). Taksonomi atau klasifikasi rusa Timorensis adalah sebagai
berikut:
Class

: Mammalia

Sub class

: Theria

Infra class

: Eutheria

Ordo

: Artiodactyla

Sub Ordo

: Ruminantia

Family

: Cervidae

Sub family

: Cervinnae

Genus

:Cervus

Species

: Cervus timorensis

Nama lokal

: Rusa/ Rusa Timor/ Mayung (Dradjat, 2002).

Rusa Timor merupakan rusa tropis ke dua terbesar setelah rusa Sambar.
Dibandingkan rusa tropis Indonesia lainnya, rusa Timor memiliki banyak
keunikan yaitu sebagai kelompok rusa yang mempunyai banyak anak jenis,
sebagai rusa dengan nama daerah yang cukup beragam dan sebagai rusa yang
paling luas tersebar di seluruh negeri. Berat badan antara 40-120 kg, tergantung

15

pada anak jenisnya. Pemberian nama lokal cukup beragam, tergantung pada
daerah asalnya. Di Pulau Jawa dikenal dengan rusa Jawa, di pulau Timor sebagai
rusa Timor, di Sulawesi bsebagai jonga dan di Kepulauan Maluku sebagai rusa
Maluku. Namun nama yang paling umum dipakai dalam bahasa nasional adalah
rusa Timor. Di luar negeri rusa timorensis disebut sebagai rusa deer (Semiadi dan
Nugraha, 2004).
Satwa rusa dicirikan dengan tubuhnya yang ditutupi bulu, dengan variasi
beberapa warna, menghasilkan susu, berdarah panas, jumlah jari yang genap,
empat buah jari pada setiap kakinya, berteracak (kuku, hoof) dan melakukan
pemamahan dalam proses makannya. Dari empat buah jari yang dimilikinya, dua
jari berada di daerah lateral, agak diatas dan mengecil (rudimenter) sehingga tidak
mencapai tanah, sedangkan dua jari lainnya menopang pada tanah (Semiadi,
2006).
Ciri-ciri rusa jantan ialah mempunyai ranggah. Ranggah penuh
mempunyai tiga ujung runcing, ranggah tumbuh pertama kali pada anak jantan
umur 8 bulan. Rusa jantan relatif lebih besar dibanding rusa betina, tinggi badan
91-102 cm dan berat badan 103-155 kg. Rusa yang dipelihara di penangkaran atau
di peternakan relatif lebih besar dibanding dengan rusa liar di hutan. Rusa liar di
hutan, berat badan rata-rata 60 kg sedangkan di peternakan dapat mencapai 90 kg.
Sedangkan rusa betina relatif lebih kecil di banding rusa jantan yaitu 45-50 kg
(Dradjat, 2002). Keberadaan ranggah merupakan ciri utama dari kelompok rusa
dan hanya dimiliki oleh pejantan. Ranggah merupakan jaringan tulang yang
tumbuh keluar dari anggota tubuh dan memiliki siklus tumbuh, mengeras dan
luruh secara berulang dan terus-menerus. Siklus pertumbuhan ranggah erat

16

kaitannya dengan siklus hormon reproduksi dan musim, sehingga secara tidak
langsung kondisi ranggah dalam keadaan keras berkorelasi kuat dengan keadaan
fisiologi reproduksi. Saat pertumbuhan ranggah berlangsung, akan diawali dengan
pertumbuhan tulang rawan (kartilago) yang memanjang dan diselimuti oleh
lapisan kulit tipis berbulu, yang disebut velvet. Ketika pertumbuhan ranggah
velvet telah mencapai puncaknya akan terjadi proses pengerasan jaringan
(kalsifikasi) yang dilanjutkan dengan proses pembentukan tulang (osifikasi).
2.2.Pakan dan Konsumsi Pakan Rusa
Penyebaran jenis rusa sangat luas dengan berbagai macam perbedaan
tempat dan kondisi lingkungan. Mempunyai dua sifat mendapatkan pakan hijauan
yang lebih banyak dan bevariasi dibandingkan dengan ruminansia yang sudah
dikembangkan (Soejosopoetro, 1986).
Rusa memerlukan penanganan yang disesuaikan dengan sifat ternak, yaitu
mudah terkejut, cepat bertindak dan daya lompat tinggi apabila merasa terganggu.
Penanganan rusa memerlukan kesabaran, tidak boleh melakukan paksaan karena
mudah stress. Penanganan dilakukan sore atau malam hari di dalam kandang
gelap agar rusa lebih tenang. Pakan yang diberikan berupa hijauan unggul sebagai
makanan pokok dan konsentrat/penguat sebagai pakan tambahan. Pada waktu
merumput rusa akan lebih dahulu memilih hijauan yang paling disukai disekitar
areal tersebut sampai batas tertentu kemudian akan kembali ketempat semula
memilih jenis hijauan lainnya. Dalam hal ini rusa lebih menyukai hijauan berdaun
lunak dan basah serta bagian yang muda seperti dari jenis legum/kacang-kacangan
dan rumput-rumputan (Wirdateti, Mansur, dan Kundarmasno, 2005).

17

Pakan untuk rusa selain dari rerumputan atau hijauan lainnya, sebagai
tambahannya dapat berupa konsentrat, sayur mayur, umbi-umbian atau limbah
pertanian. Rusa tropis dapat dikatakan menyukai hampir segala bentuk hijauan,
sehingga tidak terlalu sulit mencari pakan (Semiadi dan Nugraha, 2004).
Di peternakan, makanan rusa sangat bervariasi. Makanan yang dimakan
dan disukai dan dimakan sapi, kambing dan domba tentu disukai juga oleh rusa.
Makanan rusa lebih bervariasi dibanding dengan ternak ruminansia domestik
lainnya. Rusa membutuhakan minum dalam jumlah relatif banyak. Bila cuaca
kering dan udara panas, rusa membutuhkan minum sampai 0,5 galon/ ekor/ hari,
di samping itu bila udara panas rusa senang berkubang (Dradjat, 2002).
Pakan merupakan komponen habitat yang paling nyata. Ketersediaan
pakan berhubungan erat dengan perubahan musim terutama di daerah temperate
dan kutub. Tiap jenis satwa mempunyai kesukaan untuk memilih pakannya
diantaranya rumput gajah, merupakan jenis rumput yang mempunyai keunggulan
antara lain produksinya tinggi, tingkat pertumbuhannya tinggi, disukai oleh ternak
dan nilai gizinya juga tinggi (Bogdan, 1977).
Namun sebelum mendalami masalah kebutuhan pakan pada rusa, perlu
dipahami terlebih dahulu tentang unsur unsur penting dari suatu pakan. Secara
garis besar, pada setiap jenis pakan unsur nutrisi yang terkandung dapat dibagi
menjadi kelompok air, protein, lemak dan energi serta mineral dan vitamin. Air,
protein, lemak dan energi disebut sebagai unsur nutrisi makro karena tingkat
kebutuhannya yang besar. Sedangkan yang lainnya disebut sebagai unsur nutrisi
mikro karena tingkat kebutuhannya yang relatif lebih sedikit (Semiadi dan
Nugraha, 2004).

18

2.3 Hijauan pakan


2.3.1 Rumput Gajah
Rumput gajah sebagai salah satu makanan rusa memiliki ciri-ciri berumur
panjang, tumbuh vertikal membentuk rumpun, daun lebat, dan bisa mencapai
tinggi 2-2,5 m. Produksi rata-rata sekitar 250 ton/ha/tahun. Rumput ini baik
sebagai bahan silase, dan sebagai rumput potongan ataupun gembala, asal
pertumbuhannya bisa dipertahankan pendek-pendek. Selain itu, rumput gajah
pertumbuhannya sangat cepat dan waktu masih muda nilai gizinya cukup tinggi.
Itulah sebabnya maka dianjurkan untuk melakukan pemotongan pada saat
tanaman itu masih muda atau menjelang berbunga (Anonimus, 1983). Dengan
melihat keunggulan dan manfaat rumput gajah tersebut, maka hijauan ini sangat
baik untuk dibudidayakan di padang rumput guna untuk mencukupi kebutuhan
pakan hijauan.
Taksonomi dari rumput gajah menurut Rukmana (2005), yaitu:
Divisi

Trachyphyta

Sub Divisi

Angiospermae

Clasis

Monocotyledoneae

Ordo

Gramineae

Sub Family

Panicoideae

Genus

Pennisetum

Spesies

Pennisetum purpureum

2.3.2 Mahoni
Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq), merupakan tanaman yang berasal dari
keluarga meliaceae, tanaman ini tumbuh liar di hutan-hutan jati dan tempat-tempat

19

lain yang dekat dengan pantai. Ada juga yang ditanam di tepi-tepi jalan sebagai
pohon perindang. Tanaman asal India Barat ini dapat tumbuh subur di pasir
payau.
Taksonomi mahoni menurut (Anonimus, 2008), yaitu:
Divisi

: Spermatophyta

Sub divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Bangsa

: Rutales

Suku

: Meliaceae

Marga

: Swietenia

Jenis

: Swietenia mahagoni Jacq.

Nama umum

: Mahoni

2.3.3 Umbi Ketela Pohon


Rukmana (1997) mengklasifikasikan tanaman ketela pohon atau ubi
kayu sebagai berikut :
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Sub Divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledoneae

Ordo

: Euphorbiales

Famili

: Euphorbiaceae

Genus

: Manihot

Spesies

: Manihot utilissima, Pohl.; Manihot esculenta, Crantz sin.

20

Umbi ketela pohon termasuk tanaman penghasil karbohidrat. Tanaman ini


mempunyai daya adaptasi yang cukup luas, baik terhadap kondisi iklim yang
kurang baik, maupun lahan kurus dan kurang baik (Wargiono, 1986). Lingga
(1989) menambahkan bahwa ada beberapa sifat lebih yang dimiliki oleh umbi
ketela pohon yaitu dapat tumbuh di lahan kering dan kurang subur, daya tahan
terhadap penyakit relatif tinggi dan masa panen yang tidak diburu waktu.
Tanaman umbi ketela pohon toleran pada daerah panas. Tanaman ini
menghendaki iklim pada temperatur antara 25-29

C. pertumbuhan akan

terhambat pada temperatur 10 0C. Umbi ketela pohon menghendaki hujan pada
100 150 mm per tahun dan distribusinya merata (Onwueme, 1978). Tanaman
umbi ketela pohon dapat tumbuh sangat baik diantara 15 0LS dan 15 0LU
(Adiwarsato, 1980). Umbi ketela pohon merupakan tanaman hari pendek dengan
periode penyinaran optimum 12 jam (Grace, 1977).
Umbi ketela pohon dapat dipanen mulai umur 8-12 bulan dan semakin
panjang umurnya semakin tinggi produksinya, jika tanaman ini dipanen pada
umur 8 bulan menghasilkan 34 ton/ha, pada umur 10 bulan menghasilkan 47
ton/ha dan apabila dipanen umur 12 bulan menghasilkan 61 ton/ha (Ispandi dan
Isgiyanto, 2000).
2.4 Pertambahan Bobot Badan
Pertambahan bobot badan merupakan selisih antara bobot badan pada
penimbangan saat itu dengan bobot badan sebelumnya. Menurut Garsetiasih,
Heriyanto dan Atmaja (2003), pertumbuhan rusa perlu diketahui karena berperan
penting dalam menentukan jenis dan jumlah pakan yang akan diberikan.

21

Sedangkan komposisi botani diukur dengan menghitung frekuensi


pemberian jenis pakan hijuan tertentu yang dilakukan selama penelitian.
2.5 Botani
Botani merupakan salah satu bidang kajian dalam biologi yang
mengkhususkan

diri

dalam

mempelajari

aspek

biologi

tumbuh-

tumbuhan(Anonimous, 2008).
Mempelajari botani dianggap penting untuk lebih mengenal jenis
tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai makanan darurat (survival food) atau
obart-obatan. Selain itu dapat mengenal jenis tumbuh-tumbuhan yang harus
dijauhi karena beracun, atau dapat menganmcam keselamatan jiwa. Hal ini
penting karena di alam Tropis memiliki karakteristik yang berbeda dengan alam
Sub Tropis (Anonimous, 2008).
Daerah tropis memiliki karakteristik sebagai berikut : Keanekaragaman
species yang tinggi tetapi dalam satu species jumlah populasinya rendah. Artinnya
harus lebih banyak mengenal keanekaragaman species yang lebih banyak bila
dibandingkan dengan yang di Sub Tropis. Selain itu alam tropis dengan jumlah
populasi yang tidak terlalu banyak menyebabkan kita harus sedikit berusaha lebih
keras lagi guna memanfaatkannya. Yang terakhir cuaca alam tropis relatif stabil
dan perbedaan yang drastis dan ekstrim jarang ditemukan. (Anonimous, 2008).
Sedangkan dalam penelitian ini, komposisi botani diperoleh dari
perhitungan frekuensi konsumsi pakan pemberian dari jenis hijauan pakan yang
diberikan selama penelitian.

22

BAB III
MATERI DAN METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di penangkaran rusa desa Sumber Ringin milik
Perum Perhutani Unit II Jawa Timur KPH Blitar RPH Sumber Ringin BKPH Rejo
Tangan pada bulan Maret Mei 2008.
3.2. Materi Penelitian
Materi yang digunakan dalam penelitian adalah 16 ekor rusa yang terdiri
dari 8 ekor rusa jantan dewasa, 8 ekor rusa betina dewasa. Peralatan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan digital dan palungan.
3.3.Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah percobaan. Pengambilan sampel
dilakukan dengan cara random

sampling

dengan mempertimbangkan bobot

badan awal masing masing ternak.


Prosedur yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Masa Adaptasi
Sebelum dilakukan kegiatan penelitian terlebih dahulu dilakukan masa
adaptasi, yaitu masa pendahuluan sebelum dilakukan pengamatan dengan tujuan
agar ternak dapat beradaptasi pada pemeliharaan dalam kandang umbaran yang
ukurannya lebih kecil apabila dibandingkan dengan ukuran pada pemeliharaan
yang sebenarnya di Penangkaran. Selain itu, pada masa ini bertujuan agar ternak
terbiasa dekat dengan manusia sehingga tingkat stres pada ternak dapat dikurangi.
Masa adaptasi dilakukan 60 hari sampai ternak terbiasa pada pemeliharaan

23

didalam kandang umbaran dan siap untuk dilakukan kegiatan pengamatan. Proses
pengamatan dilakukan selama 1 ( satu ) bulan setelah masa adaptasi.
2. Pemeliharaan Rusa
16 ekor rusa dibagi menjadi 4 kelompok yaitu 4 ekor rusa jantan dewasa
dipelihara pada kandang paddock dengan pola pemberian pakan dipalungan (R1),
4 ekor rusa jantan dewasa dipelihara pada kandang paddock dengan sistem
pemberian pakan ditebar (R3), 4 ekor rusa betina dewasa dipelihara pada kandang
paddock dengan sistem pemberian pakan dipalungan (R2) dan 4 ekor rusa betina
dewasa dipelihara pada kandang

paddock

dengan sistem pemberian pakan

ditebar (R4).
3. Konsumsi Pakan
Jumlah konsumsi pakan dihitung dengan cara pengurangan jumlah pakan
yang diberikan dengan sisa pakan. Pengambilan data konsumsi pakan dilakukan
setiap hari pada pagi dan sore hari.
4. Penimbangan bobot badan
Penimbangan bobot badan dilakukan pada awal percobaan dan akhir
percobaan. Pertambahan bobot badan diperoleh dengan cara pengurangan bobot
badan akhir dengan bobot badan awal.
5. Komposisi botani
Meliputi jenis hijauan pakan yang diberikan sebagai pakan pemberian.
Penghitungan data jenis hijauan dilakukan setiap hari pada pagi dan sore hari
selama penelitian.

24

3.4.Analisa statistik
Data yang diperoleh berupa konsumsi pakan dan Pertambahan Bobot
Badan dianalisa dengan menggunakan analisis ragam. Apabila terjadi perbedaan
maka dilanjutkan dengan menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Menurut
Yitnosumarto (1993), persamaan analisis ragam adalah sebagai berikut:
Yij = + i +j + ij
i = 1,2,....,P
j = 1.2.,....r

Dengan:
Yij

i
ij
j
p
r

= Nilai pengamatan pada perlakuan ke-i ulangan ke-j


= Nilai tengah umum
= pengaruh perlakuan ke-i
= kesalahan (galat) percobaan pada perlakuan ke-i ulangan ke-j
= pengaruh kelompok ke-j
= banyknya perlakuan
= banyaknya kelompok atau ulangan

Apabila hasil analisa ragam perlakuan menunjukkan adanya pengaruh


beda nyata atau sangat nyata terhadap parameter maka dilanjutkan dengan uji
Beda Nyata Terkecil (BNT) sesuai dengan petunjuk Yitnosumarto (1993) sebagai
berikut:
BNT = t /2 (db galat) x

2KT galat
r

Keterangan:

= taraf uji

KT galat

= kuadrat tengah galat

= banyaknya ulangan

25

3.5. Variabel Penelitian


1. Komposisi botani, yaitu meliputi jenis pakan pemberian yang diberikan untuk
rusa disesuaikan dengan ketersediaan jenis pakan yang tersedia.
2. Konsumsi pakan, Konsumsi pakan adalah selisih pakan yang diberikan
dengan jumlah pakan yang tersisa.
3. Pertambahan bobot badan (PBB), Pertambahan Bobot Badan adalah selisih
antara bobot badan akhir dan bobot badan awal. Pengukuran dilakukan pada
awal penelitian dan pada akhir penelitian.
3.6. Batasan Istilah
1. Rusa Timor (Cervus timorensis) adalah salah satu jenis rusa yang hidup di
Indonesia.
2. Pertambahan Bobot Badan adalah selisih antara bobot badan akhir dan bobot
badan awal. Pengukuran dilakukan setiap 20 hari atau pada akhir masa
pengumpulan data setiap periode
3. Konsumsi pakan adalah selisih pakan yang diberikan dengan jumlah pakan
yang tersisa.
4. Botani adalah pengetahuan mengenai tumbuh tumbuhan.

26

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Kandungan nutrisi pakan


Kandungan nutrisi pakan hijauan berdasarkan analisa proksimat disajikan
dalam tabel 1.
Tabel 1. Analisa Proksimat bahan pakan hijauan di Laboratorium Nutrisi dan
Makanan Ternak Universitas Brawijaya
Rumput gajah
Mahoni
Umbi Ketela pohon

BK (%)

Abu(%)

PK(%)

SK(%)

LK(%)

BO(%)

23,70
23,45
23

29.85
8.25
3,7

10.3
8.45
4.1

25.7
32
33.1

0.99
1.68
2.3

27.97
43.44
15.4

Tabel 1 menunjukkan bahwa rumput gajah memiliki bahan kering 23,70


%, Abu 29.85 %, protein kasar 10.3 %, serat kasar 25.7%, lemak kasar 0.99%,
bahan organik 27.97 %. Sedangkan untuk mahoni memiliki bahan kering 23,45
%, Abu 8.25%, protein kasar 8.45 %, serat kasar 32% , lemak kasar 1.68 %,bahan
organik 43.44 % dan umbi ketela pohon memiliki bahan kering 23 %, Abu 3,7%,
protein kasar 4.1%,serat kasar 33.1%,lemak kasar 2.3%,bahan organik 15.4%.
Dari tabel tersebut diketahui bahwa rumput gajah merupakan bahan pakan
yang memiliki kandungan serat yang tinggi karena berdasarkan hasil analisa
proksimat diperoleh SK sebesar 25.7%. Mahoni merupakan bahan pakan dengan
sumber serat yang tinggi sebesar 32%. Sedangkan ketela mempunyai kandungan
serat yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan kandungan serat rumput gajah
dan mahoni yaitu sebesar 33.1%.
Menurut Hartadi, dkk, (1997) kandungan PK dan LK rumput gajah sebesar
9,10% dan 2,50%. Sedangkan menurut Setyorini (2006), rumput gajah pada umur

27

pemotongan 42 hari mengandung BK 22,58%, BO 86,65%, PK 9,48%, SK


34,73% dan LK 2,42%. Kandungan nutrisi rumput gajah selama penelitian lebih
tinggi bila dibandingkan dengan literatur PK 10.3 %. Hal ini disebabkan karena
rumput gajah yang diberikan sebagai pakan merupakan rumput gajah yang masih
muda dengan umur pemotongan yang tidak diketahui. Pemotongan rumput gajah
di lokasi penelitian dilakukan tidak melihat umur dari rumput gajah. Hal ini
dilakukan karena keterbatasan lahan di lokasi penelitian sehingga tidak
mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pakan untuk rusa. Sedangkan untuk
mencukupi kekurangan kebutuhan hijauan pakan, biasanya mengambil disekitar
areal lokasi penangkaran.
Mahoni adalah bahan pakan dengan kandungan serat kasar yang tinggi.
Kandungan nutrisi mahoni Selama penelitian adalah 32% . Mahoni diberikan
sebagai pakan tanbahan untuk rusa selain rumput gajah.
Berdasarkan hasil analisis proksimat umbi ketela pohon memiliki BK
23(%), Abu 3,7(%), PK 4.1(%), SK 33.1(%), LK 2.3(%), BO 15.4(%). Hal ini
berbeda dengan Hartadi dkk (1997) bahwa umbi ketela pohon beserta kulitnya
memiliki kandungan BK 35%, PK 4,6%, Abu 3,7%. Kandungan BK yang rendah
karena pada umbi ketela pohon diberikan dalam keadaan segar tanpa dilakukan
pelayuan sebelum diberikan sebagai pakan untuk rusa. Selain itu, umbi ketela
pohon diberikan untuk pakan rusa setelah dilakukan pencacahan. Proses
Pencacahan dilakukan untuk mempermudah rusa dalam mengkonsumsi umbi
ketela (Semiadi dan Nugraha, 2004).

28

4.2. Komposisi Botani Pakan Rusa


Komposisi botani pakan rusa berdasarkan kosumsi bahan kering hijauan
pakan pemberian selama penelitian (kg) disajikan pada tabel 2.
Tabel 2. Komposisi botani pakan rusa berdasarkan konsumsi BK (bahan kering)
hijauan pakan pemberian selama penelitian (kg)
Flok
1
Jantan
palungan

2
Betina
palungan

3
Jantan
tebar

4
Betina
tebar

Jenis Pakan
Rumput Gajah

BK/Flok (kg)
3.120

BK/Ekor (kg)
0.780

Komposisi (%)
73.115

Mahoni
Ketela
Total
Rumput Gajah

1.019
0.129
4.268
3.016

0.255
0.032
1.067
0.754

23.867
3.018
100
73.424

Mahoni
Ketela
Total
Rumput Gajah

0.963
0.129
4.107
2.954

0.241
0.032
1.027
0.739

23.447
3.129
100
73.178

Mahoni
Ketela
Total
Rumput Gajah

0.968
0.115
4.037
2.869

0.242
0.029
1.009
0.717

23.974
2.848
100
72.749

Mahoni
0.968
0.242
24.539
Ketela
0.107
0.027
2.712
Total
3.944
0.986
100
*Keterangan : Flok 1 (rusa jantan) dan Flok 2( rusa betina) pola pemberian pakan dipalungan
Flok 3 (rusa jantan) dan Flok 4 ( rusa betina) pola pemberian pakan
ditebar

Tabel 2 menunjukkan bahwa rumput gajah memiliki komposisi terbesar


sebagai hijauan pakan rusa, yaitu sebesar 73.115% pada flok 1 , pada flok 2
sebesar 73.424 % , pada flok 3 sebesar 73.178 % dan 72.749% pada flok4.
Sedangkan komposisi mahoni sebagai hijauan pakan untuk rusa pada flok 1
adalah 23.867%, pada flok 2 adalah 23.447 %, pada flok 3 adalah 23.97 %, pada
flok 4 adalah 24.539 %. Komposisi ketela sebagai pakan rusa adalah 3.018%
pada flok 1, pada flok 2 adalah 3.129 %, pada flok 3 2.848%, dan pada flok 4
adalah 2.712%.

29

Dari tabel tersebut berkaitan dengan penelitian komposisi botani, dapat


diketahui bahwa rumput gajah merupakan komposisi terbesar sebagai bahan
pakan rusa diikuti oleh mahoni dan ketela pada penyajian pakan secara ad-libitum
dengan pola pemberian pakan di palungan dan di tebar. Selain itu, rumput gajah
merupakan komposisi terbesar hijauan pakan pemberian baik

pada pola

pemberian dipalungan maupun ditebar


4.3. Konsumsi Nutrien pakan
Konsumsi pakan rusa berdasarkan konsumsi bahan kering, bahan organik
dan protein kasar (kg/ kgBB0.75/ekor/hari) selama penelitian disajikan pada tabel
3.
.Tabel 3. Rataan konsumsi pakan rusa dalam BK,BO,dan PK selama penelitian
(kg/kgBB0.75/ekor/hari)
0.75
Konsumsi (kg/kgBB /ekor/hari)
flok

BK
a

1 (jantan palungan)
2 (betina palungan)
3 (jantan tebar)
4 ( betina tebar)

Keterangan:

0,200 0,0019
0,375b0,0291
0,242a0,0118
0,350b0,0271

a-b

BO
0,152 0,0014
ab
0,345 0,0268
0,184a0,0090
0,267a0,0207
a

PK
0,0194a0,0002
0,1536b0,0119
0,0992b0,0048
0,0017a0,0001

superskpkrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan


perbedaan yang nyata (P<0,05).

Tabel 3 menunjukkan bahwa konsumsi bahan kering (BK), bahan organik


(BO), dan protein kasar (PK) tertinggi pada flok 2 yaitu rusa betina dengan pola
pemberian

pakan

palungan

yaitu

konsumsi

bahan

kering

0.375

kg/kgBB0.75/ekor/hari, bahan organik 0,345 kg/kgBB0.75/ekor/hari, dan protein


kasar sebesar 0.153 kg/kgBB0.75/ekor/hari kemudian diikuti flok 4 pada rusa
betina dengan pola pemberian pakan tebar yaitu rataan konsumsi bahan kering
0.350 kg/kgBB0.75/ekor/hari, bahan organik 0,267 kg/kgBB0.75/ekor/hari, dan
protein kasar 0.146 kg/kgBB0.75/ekor/hari. Konsumsi pada flok 1 yaitu bahan

30

kering 0.200 kg/kgBB0.75/ekor/hari, bahan organik 0,152 kg/kgBB0.75/ekor/hari,


dan protein kasar 0.0194 kg/kgBB0.75/ekor/hari. Sedangkan konsumsi pada flok 3
yaitu

bahan

kering

0.350

kg/kgBB0.75/ekor/hari,

bahan

organik

0,184

kg/kgBB0.75/ekor/hari, dan protein kasar 0.0992 kg/kgBB0.75/ekor/hari.


Untuk mengetahui pengaruh konsumsi pakan terhadap bahan kering (BK),
bahan organik (BO), dan protein kasar (PK) dilakukan analisis statistik.
Analisis statistik pada lampiran 5 menunjukkan bahwa bobot badan awal
memberikan pengaruh yang tidak nyata (P>0.05) terhadap Konsumsi bahan kering
(BK), sedangkan pada bahan organik (BO)( lampiran 6) memberikan pengaruh
yang sangat nyata (P < 0,01), dan protein kasar (PK) (lampiran 7) memberikan
pengaruh yang sangat nyata.. Keragaman konsumsi pakan disebabkan oleh aspek
individu, spesies, bangsa ternak, status fisiologis, kebutuhan energi, kualitas
pakan, kondisi lingkungan, kandungan PK dan palatabilitas pakan (Soebarinoto,
Chuzaemi dan Mashudi, 1991). Pada penelitian ini, tingkat efisiensi konsumsi
pakan pada pola pemberian pakan dengan menggunakan palungan tidak berbeda
dengan pola pemberian pakan ditebar. Menurut Church and Pond (1982) bahwa
besar kecilnya konsumsi salah satunya tergantung pada palatabilitas bahan pakan,
selain itu, menurut Tillman, dkk (1998) bahwa palatabilitas pakan umumnya
berasosiasi dengan kecernaan suatu pakan dimana palatabilitas pakan ditentukan
oleh rasa, bau dan warna bahan pakan tersebut.
Konsumsi pakan dapat dinyatakan dengan nilai relatif terhadap bobot
badan metabolis (BB0,75) dengan asumsi bahwa konsumsi adalah fungsi dari
kebutuhan metabolis. Jumlah pakan yang dikonsumsi seekor ternak sering juga
dinyatakan dalam % bobot badan (BB).

31

Menurut Garsetiasih dan Takandjandji (2007), bahwa jumlah pakan yang


dibutuhkan oleh satwa ruminansia adalah 10% dari berat tubuhnya, kebutuhan
pakan rata-rata berat basah untuk rusa timor dewasa di Penangkaran Kupang dan
Bogor adalah 5 kg per ekor dan di penangkaran Sumbawa 4,42 kg per ekor.
Pada

penelitian

ini,

jumlah

pakan

hijauan

yang

diberikan

10kg/pemberian/hari, baik untuk rumput gajah maupun mahoni. Sedangkan pada


pemberian umbi ketela pohon diberikan sebesar 6 kg. Pemberian pakan dilakukan
2 kali sehari. Konsentrat tidak digunakan sebagai pakan rusa. Hal ini disebabkan
pada pemeliharaan rusa di Penangkaran hanya menggunakan hijauan berupa
rumput gajah dan mahoni dengan pakan tambahan berupa umbi ketela pohon.
4.4 Pertambahan Bobot Badan
Data penimbangan bobot badan rusa timor selama penelitian (kg/ekor/hari)
di sajikan pada tabel 4
Tabel 4. Data penimbangan bobot badan rusa Timor selama penelitian
(kg/ekor/hari)
PBBH(kg/ekor/hari)
Flok
Awal
Akhir
PBB
1
Jantan
palungan

Rataan
2
Betina
palungan

Rataan
3
Jantan tebar

Rataan
4
Betina tebar

58

62

0,133

50
60
60
57
34

60
62
62
61,5
36

10
2
2
4,5
2

0,333
0,067
0,067
0,150
0,067

30
22
14
25
40
44
30
56
42,5
34
34
22

36
26
16
28,5
47
48
32
58
46,25
36
42
24

6
4
2
3,5
7
4
2
2
3,75
2
8
2

0,200
0,133
0,067
0,117
0,233
0,133
0,067
0,067
0,125
0,067
0,267
0,067

32

16,
16
0
0
Rataan
26,5
29,5
3
0,100
Keterangan: PBB: pertambahan bobot badan; PBBH: pertambahan bobot badan harian
(kg/ekor/hari)

Tabel 4 menunjukkan pertambahan bobot badan harian tertinggi pada flok


1 jantan palungan 0.150 kg/ekor/hari diikuti flok 3 jantan tebar 0.125 kg/ekor/hari.
Pertambahan bobot badan harian terendah terjadi pada flok 4 yaitu
0.100kg/ekor/hari. Untuk mengetahui pertambahan bobot badan dilakukan dua
kali penimbangan yaitu pada awal penelitian dilakukan penimbangan I dan pada
akhir penelitian dilakukan penimbangan II.
Menurut Garsetiasih, Heriyanto dan Atmaja (2003), pertumbuhan rusa
perlu diketahui karena berperan penting dalam menentukan jenis dan jumlah
pakan yang akan diberikan.
Pertambahan bobot badan merupakan salah satu bentuk manifestasi dari
adanya pertumbuhan pada seekor ternak. Pertumbuhan terjadi karena adanya
penambahan jumlah sel atau hyperplasia yang selanjutnya diikuti oleh proses
penambahan ukuran hypertrophy (Anggorodi, 1979; Edey, 1983; Payne, 1998).
Data bobot badan rusa timor dan nilai pertambahan bobot badan selama
penelitian disajikan pada tabel 5.
Tabel 5. Bobot badan rusa timor dan nilai pertambahan bobot badan
selama penelitian
.Tabel 5. Rata-Rata Bobot Badan rusa timor dan nilai PBBH selama penelitian
Rataan BB
PBB(kg)
N
PBBH/kg/ekor/hari
flok
Akhir
Awal
1
4
0.15a 0,126
57,00
61,50
4,50
4
2
0,12a 0,064
25,00
28,50
3.50
4
0,13a 0,079
3
42,50
46,250
3,750
4
0,10a 0,115
4
26,50
29,500
3,000
keterangan: a superskrip yang sama pada kolom yang sama menunjukkan
perbedaan yang tidak nyata (P>0,05).
N: jumlah ternak pada tiap flok adalah 4 ekor

33

Hasil analisis peragam menunjukkan bahwa BB awal ternak tidak


berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan ternak. Dari hasil analisis ragam
menunjukkan bahwa BBawal ternak memberikan pengaruh yang tidak nyata
(P>0,05) terhadap pertambahan bobot badan ternak. Dari tabel 5.dapat diketahui
bahwa pertambahan bobot badan harian tertinggi pada flok 1 rusa jantan dengan
pola pemberian pakan dipalungan. Diikuti pada flok 3 rusa jantan dengan pola
pemberian pakan ditebar. Berdasarkan hal tersebut dapat dijelaskan bahwa
perbedaan pola pemberian pakan berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan
harian rusa timor selama penelitian. Hal ini sesuai dengan NRC (1996) yang
menyatakan bahwa peningkatan kecernaan bahan pakan akan berkorelasi positif
terhadap peningkatan PBB ternak, selain itu dapat mempengaruhi produksi ternak.
Menurut Parakkasi (1999) dalam Wahyudhi (2009), bahwa pertumbuhan
seekor ternak sejak awal terjadinya pembuahan sampai mencapai dewasa tubuh
digambarkan sebagai kurva berbentuk seperti huruf S (sigmoid). Kurva ini
menunjukkan pertumbuhan saat pembuahan berlangsung lambat, kemudian
menjadi agak cepat pada saat menjelang kelahiran, sesudah pedet lahir
pertumbuhan menjadi semakin cepat hingga usai penyapihan. Usia penyapihan
hingga usia pubertas laju pertumbuhan masih bertahan pesat, akan tetapi dari usia
pubertas hingga usia jual laju pertumbuhan semakin turun hingga akhirnya
berhenti. Sehingga dalam penelitian ini tidak terjadi signifikasi pertambahan
bobot badan karena umur ternak yang digunakan sudah mencapai 2 tahun dan
pada tahap pertumbuhan yang maksimal namun masih dapat berkembang relatif
sedikit.

34

Brody (1945) dalam Wahyudhi (2009), menyatakan bahwa pertumbuhan


dapat diukur dengan tiga cara, yakni: (1) laju pertumbuhan kumulatif (cumulative
growth rate), (2) laju pertumbuhan relative (relative growth rate) dan (3) laju
pertumbuhan absolut (absolute growth rate). Pada pertumbuhan terdapat dua fase,
yaitu: self accelerating phase, dimana kecepatan tumbuh meningkat, dan self
inhibiting phase dimana pertambahan bobot badan per unit waktu turun sampai
pertambahan bobot badan tersebut menjadi nol dan dalam keadaan ini bobot
badan dewasa telah tercapai. Titik antara kedua fase ini disebut titik balik
(inflection point).

35

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa:
1. Komposisi botani pakan pemberian di penangkaran Rusa Timor milik
Perum Perhutani Unit II Jawa Timur KPH Blitar RPH Sumber Ringin
BKPH Rejo Tangan.berdasarkan komposisi terbesar berupa rumput gajah
73.115% pada flok 1 , pada flok 2 sebesar 73.424 % , pada flok 3 sebesar
73.178 %, dan 72.749% pada flok4 diikuti mahoni pada flok 1 adalah
23.867%, pada flok 2 adalah 23.447 %, pada flok 3 adalah 23.97 %, dan
pada flok 4 adalah 24.539 %. Sedangkan komposisi botani pakan untuk
umbi ketela pohon 3.018% pada flok 1, pada flok 2 adalah 3.129 %, pada
flok 3 2.848%, dan pada flok 4 adalah 2.712%.
2. Pola pemberian pakan yang berbeda berpengaruh terhadap nilai PBB dan
memberikan pengaruh terhadap konsumsi pakan.

5.2. Saran
Meskipun dapat meningkatkan nilai PBB, namun belum dapat dikatakan
optimal sehingga diharapkan adanya peningkatan kualitas pakan untuk rusa agar
didapatkan hasil yang optimal demi kesuksesan pemeliharaan rusa terutama pada
pemeliharaan yang intensif dalam kandang.

36

DAFTAR PUSTAKA

Adiwarsato. 1980. Bercocok Tanam Ubi-ubian. Fakultas Pertanian. Universitas


Brawijaya. Malang.
Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia Pustaka Umum.
Jakarta.
Anonimus, 2007.Sweitenia Mahogany. Diupdate dari Danida Forest Seed Centre
Dan Diterjemahkan Oleh Ifsp Staff Penulis: Dorthe Jker, Dfsc.
BPTH Sulawesi Budidaya Mahoni.htm pada 9 juli 2008
Anonimous. 2007. Penangkaran Rusa Di Api-Api Sebagai Ternak Unggulan Di
Kalimantan Timur. Dinas Peternakan Propinsi Kalimantan Timur,
UPTD BPIB Api-Api. Kalimantan Timur.
Anonimous,2008 Botani http://id.wikimedia.org/wiki/Botani diupdate pada 9 juli
2008
AOAC. 1980. Official Methode of Analisis of the Association of the Official
Agricultural Chemists. 9 th Ed. Po Box 540 Bennjamin Franklin.
Washington DC.
Arora, S. 1989. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Penerj. Retno Muwarni.
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Askar, S., M, Djailani., Abdurrahman., N, Marlina., M, Suparman., N, Supriatna
dan Haryono. 1984. Prosedur Analisis Proksimat. Balai Penelitian
Ternak. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. DEPTAN.
Bogor.
Bogdan, V.A. 1977. Tropical Pasture and Fodder Plants Grasses and Legume.
Longman Inc. London and New York
Church, D. C. and W. G. Pond. 1982. Basic Animal Nutrition and Feeding.
Second Ed. John Wiley and Sons. Portland.
Chuzaemi, S dan Hartutik. 1990. Ilmu Makanan Ternak Khusus. Fakultas
Peternakan. Universitas Brawijaya.
Dradjat, A. S. 2002. Satwa Harapan Rusa Indonesia. Mataram University Press.
Mataram
Garsetiasih R., N.M. Heriyanto, dan Jaya Atmaja. 2003. Pemanfaatan Dedak Padi
sebagai Pakan Tambahan Rusa. Puslitbang Hutan dan Konservasi
Alam. Bogor. Buletin Plasma Nutfah Vol.9 No.2 Th.2003.
Garsetiasih, R. 1988. Daya cerna rumput dan campurannya dengan daun
beringin, daun kabesak, dan daun turi sebagai pakan rusa (Cervus
timorensis). Buletin Santalum No. 3.
__________ Dan Takandjandji 2007. Model Penangkaran Rusa. Prosiding hasilhasil
penelitian.
http://www.dephut.go.id/files/Garsetiasih_Mariana.pdf di update
pada 9 juli 2008.
Garsetiasih, R.. 2004 Daya cerna jagung dan rumput sebagai pakan Rusa
(Cervus timorensis).
http://indoplasma.or.id/publikasi/buletin_pn/pdf/buletin_pn_13_2_2
007_88-92_garsetiasih.pdf di update pada 9 juli 2008.

37

Grace, M. R. 1977. Cassava Processing. FAO Plant Production and Protection.


Rome.
Ispandi, A dan Isgiyanto. 2000. Sistem Produksi Ubi Kayu Di Lahan Kering
Tanah Alfisol Mendukung Agroindustri. Badan Litbang. Malang.
Lelono.A. 2003. Pola Aktivitas Harian Individual Rusa (Cervus timorensis)
dalam Penangkaran. Jurnal ILMU DASAR, Vol.4 No.1, 2003: 4853
Lingga, P. 1989. Bertanam Umbi-umbian. Penebar Swadaya. Jakarta.
NRC 1996. Nutrient Requirement of Dairy Cattle. National Academy Press.
Washington DC
Onwueme, I. C. 1978. The Propical Tuber Crops. University of Ife. Nigeria.
Rukmana, R. 1997. Ubi Kayu, Budi Daya dan Pasca Panen. Kanisius.
Yogyakarta
Rukmana, R. 2005. Rumput Unggul Hijauan Makanan Ternak. Kanisius.
Yogyakarta.
Semiadi,G.1998. Biologi Rusa Tropis.LIPI. Cibinong
__________ 2006 Biologi Rusa Tropis.LIPI. Cibinong
Semiadi, G. Dan Nugraha, R. T. P. 2004. Panduan Pemeliharaan Rusa Tropis.
Puslit Biologi LIPI. Bogor.
Setyorini, I. K. 2006. Suplementasi Silase Hijauan Ketela Pohon Pada Rumput
Gajah Terhadap Kecernaan Pada Domba. Skripsi. Jurusan Nutrisi
dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya.
Malang.
Soebarinoto, S. Chuzaemi dan Mashudi. 1991. Ilmu Gizi Ruminansia. LUW.
Universitas Brawijaya. Animal Husbandry Project. Malang.
Soejosopoetro, B. 2001. Reproduction Behavior of Timorensis Deer
(Cervus timorensis) by Ex-situ Rearing at Blitar Regency. Jurnal
Tropika, Vol. 2 : 83-94, Tahun 2001
Soejosopoetro, B. 1986. Pengaruh Pemisahan Kelompok Terhadap Bobot Badan
dan Aktivitas Rusa Bawean (Axis kuhlii). Laporan. Fapet Unibraw.
Malang.
Tillman,A.D,.H.Hartadi,S. Reksohadiprodjo. 1998.Ilmu Makanan Ternak Dasar.
Gadjah Mada University press. Yogyakarta.
Wahyudhi, A.2008. Pengaruh subtitusi silase isi rumen dalam ransum terhadap
RIB Eye Area dan presentase karkas pada sapi potong peranakan
Ongole (PO). Jurusan Nutrisi Dan Makanan Ternak Fakultas
Peternakan Universitas Brawijaya Malang,
Wargiono. 1986. Budi Daya Ubi Kayu. Yayasan Obor Indonesia. Bogor.
Wirdateti, Mansur, M. Dan Kundarmasno, A. 2005. Pengamatan Tingkah Laku
Rusa Timor (Cervus timorensis) di PT. Kuala Tembaga, Desa
Aertembaga, Bitung, Sulawesi Utara. Jurnal Tropika, Vol. 7, No. 2,
Mei, 2005 : 121-126
Yitnosumarto, S. 1993. Percobaan Perancangan, Analisis dan Interprestasinya.
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

38

Lampiran

Lampiran 1. Data bobot badan rusa timor selama penelitian (kg)


flok
1

Rataan
2

Rataan
3

Rataan
4

Rataan

BB Awal(kg)
58,000
50,000
60,000
60,000
57,000
34,000
30,000
22,000
14,000
25,000
40,000
44,000
30,000
56,000
42,500
34,000
34,000
22,000
16,000
26,500

BB Akhir(kg)
62,000
60,000
62,000
62,000
61,500
36,000
36,000
26,000
16,000
28,500
47,000
48,000
32,000
58,000
46,250
36,000
42,000
24,000
16,000
29,500

PBB (kg/ekor)
4,000
10,000
2,000
2,000
4,500
2,000
6,000
4,000
2,000
3,500
7,000
4,000
2,000
2,000
3,750
2,000
8,000
2,000
0,000
3,000

PBBH(kg/ekor/hari)
0,133
0,333
0,067
0,067
0,150
0,067
0,200
0,133
0,067
0,117
0,233
0,133
0,067
0,067
0,125
0,067
0,267
0,067
0,000
0,100

Lampiran 2. Komposisi BO dan PK pakan selama penelitian


Flok

Jenis Pakan

Rumput Gajah
Mahoni
Ketela
Total
Rumput Gajah
Mahoni
Ketela
Total
Rumput Gajah
Mahoni
Ketela
Total
Rumput Gajah
Mahoni
Ketela
Total

Konsumsi Pakan (kg/ekor)


BO/Ekor
PK/flok
1,356
3,292
0,367
1,086
0,051
0,140
1,774
4,518
1,311
3,181
0,347
1,027
0,051
0,140
1,708
4,348
1,284
3,116
0,349
1,032
0,046
0,125
1,678
4,273
1,247
3,027
0,349
1,032
0,042
0,116
1,638
4,175

BO/Flok
13,166
4,344
0,560
18,070
12,725
4,107
0,559
17,390
12,466
4,128
0,500
17,093
12,108
4,128
0,465
16,700

39

PK/ekor
0,339
0,092
0,013
0,444
0,328
0,087
0,013
0,427
0,321
0,087
0,011
0,420
0,312
0,087
0,011
0,410

Lampiran 3. Komposisi botani pakan rusa berdasarkan konsumsi BK (bahan


kering)
hijauan pakan pemberian selama penelitian (kg)
flok
1
Jantan
palungan

2
Betina
palungan

3
Jantan
tebar

4
Betina
tebar

Jenis Pakan
Rumput Gajah

BK/Flok (kg)
3.120

BK/Ekor (kg)
0.780

Komposisi (%)
73.115

Mahoni
Ketela
total
Rumput Gajah

1.019
0.129
4.268
3.016

0.255
0.032
1.067
0.754

23.867
3.018
100
73.424

Mahoni
Ketela
total
Rumput Gajah

0.963
0.129
4.107
2.954

0.241
0.032
1.027
0.739

23.447
3.129
100
73.178

Mahoni
Ketela
total
Rumput Gajah

0.968
0.115
4.037
2.869

0.242
0.029
1.009
0.717

23.974
2.848
100
72.749

Mahoni
0.968
0.242
24.539
Ketela
0.107
0.027
2.712
total
3.944
0.986
100
*Keterangan : Flok 1 (rusa jantan) dan Flok 2( rusa betina) pola pemberian pakan dipalungan
Flok 3 (rusa jantan) dan Flok 4 ( rusa betina) pola pemberian pakan
ditebar

Lampiran 4. konsumsi pakan dalam BK, BO, dan PK pada rusa selama penelitian
(kg/kgBB 0,75/ekor/hari)
konsumsi
flok
BK
BO
PK

1
jantan palungan

2
betina palungan

3
jantan tebar

0,049
0,053
0,049
0,049
0,200
0,071
0,075
0,095
0,135
0,375
0,060
0,057
0,077
0,049
0,242

0,210
0,224
0,207
0,207
0,847
0,302
0,316
0,401
0,570
1,589
0,252
0,242
0,325
0,206
1,025

40

0,021
0,022
0,020
0,020
0,083
0,030
0,031
0,039
0,056
0,156
0,025
0,024
0,032
0,020
0,101

0,069
0,064
0,094
0,123
0,350

4
betina tebar

0,290
0,273
0,398
0,522
1,482

0,028
0,027
0,039
0,051
0,146

Lampiran 5. Analisis peragam bobot badan awal rusa timor (x,kg) terhadap
konsumsi bahan kering(BK) (kg/kgBB0.75/ekor/hari)
P1

ULANGAN

X
58,00
50,00
60,00
60,00
228,00
57,00
4,76

1
2
3
4
TOTAL
RATAAN
SD

P2
Y
0,049
0,053
0,049
0,049
0,20
0,05
0,0019

P1

X
34,00
30,00
22,00
14,00
100,00
25,00
8,87

Y
0,071
0,075
0,095
0,135
0,38
0,09
0,029

X
40,00
44,00
30,00
56,00
170,00
42,50
10,75

P2

P4
Y
0,060
0,057
0,077
0,049
0,24
0,06
0,012

X
34,00
34,00
22,00
16,00
106,00
26,50
9,00

P3

Y
0,069
0,064
0,094
0,123
0,35
0,09
0,027

P4

3364,00

0,002449

1156,00

0,00509

1600,00

0,0035

1156,00

0,0047

2500,00

0,002791

900,00

0,00556

1936,00

0,0033

1156,00

0,0042

3600,00

0,002389

484,00

0,00897

900,00

0,0059

484,00

0,0088

3600,00

0,002389

196,00

0,01816

3136,00

0,0024

256,00

0,0152

13064,00

452,58

2736,00

483,39

7572,00

467,89

3052,00

463,26

XX
FK
JK Total
JK
Perlakuan
JK Galat
Analisis
Peragam
SK

P3

22801
3623,00

XY
44,08111
6466,78

YY
0,085222
1867,03

2729
894,00

-20,6625
6487,44

0,262869
1866,77

Sebelum dikoreksi

41

KT

F.Hit

F 0,05

F0,01

db

XX

XY

YY

Total

15

22801,00

44,08

0,09

Perlakuan

2729

-20,6625

0,262869

Galat

12

894,00

6487,44

1866,77

Regresi

JK.Reg

47077,065

47077,06

Galat disesuaikan

11

1,58

0,143661

Regresi(Perlk + Galat)

Perlk. + Galat Disesuaikan

15

Perlk. (disesuaikan)

611757,88
609890,85
609892,43

152473,1

3,0516E-06

4,84

9,65

1061339,684

3,26

5,41

Kesimpulan
Bobot badan awal rusa memberikan pengaruh yang tidak nyata (P>0.05) terhadap Konsumsi BK

Analisis Ragam
Ulangan
P1
1
2
3
4

P2
0,049
0,071
0,053
0,075
0,049
0,095
0,049
0,135
0,20
0,38

FK
0,08522188466616
JK T
0,0105
JK P
0,005316531
JK G
0,0052

SK
db
JK
Perlakuan
3 0,262869
Galat
12
1,6969
Total
15

P3

P4
0,060
0,057
0,077
0,049
0,24

0,069
0,064
0,094
0,123
0,35

1,17

KT
Fhit
F0.05 F0.01
0,005317 0,6196538
3,49
5,86
0,0052

Kesimpulan Fhit<F0.05
Pakan perlakuan memberikan pengaruh yang tidak nyata (P > 0.05) terhadap
konsumsi BK

Lampiran 6. Analisis peragam bobot badan awal rusa timor (x,kg) terhadap
konsumsi bahan organik (BO) (kg/kgBB0.75/ekor/hari)
P1

ULANGAN
X

P2
Y

P3
Y

P4
Y

58,00

0,210

34,00

0,302

40,00

0,252

34,00

0,290

50,00

0,224

30,00

0,316

44,00

0,242

34,00

0,273

42

60,00

0,207

22,00

0,401

30,00

0,325

22,00

0,398

60,00

0,207

14,00

0,570

56,00

0,206

16,00

0,522

TOTAL

228,00

0,85

100,00

1,59

170,00

1,03

106,00

1,48

RATAAN

57,00

0,21

25,00

0,40

42,50

0,26

26,50

0,37

SD

4,76

0,0080

8,87

0,123

10,75

0,050

9,00

0,115

P1

P2

P3

P4

3364,00

0,043911

1156,00

0,09130

1600,00

0,0636

1156,00

0,0842

2500,00

0,050033

900,00

0,09973

1936,00

0,0585

1156,00

0,0744

3600,00

0,042835

484,00

0,16079

900,00

0,1058

484,00

0,1580

3600,00

0,042835

196,00

0,32542

3136,00

0,0424

256,00

0,2724

13064,00

452,58

2736,00

483,39

7572,00

467,89

3052,00

463,26

XX

XY

YY

22801

186,647

1,527876

JK Total
JK
Perlakuan

3623,00

6324,21

1865,59

2729

-20,6625

0,262869

JK Galat
Analisis
Peragam

894,00

6344,88

1865,33

FK

Sebelum dikoreksi

SK

KT

F.Hit

F
0,05

F0,0

3,1903E-06

4,84

9,65

970804,9832

3,26

5,4

Total

db
15

XX
22801,00

XY
186,65

YY
1,53

Perlakuan

2729

-20,6625

0,262869

Galat

12

894,00

6344,88

1865,33

Regresi

JK.Reg

45030,699

45030,7

Galat disesuaikan

11

1,58

0,143661

Regresi(Perlk + Galat)
Perlk. + Galat
Disesuaikan

1
15

Perlk. (disesuaikan)

559731,22
557865,63
557867,21

139466,8

Kesimpulan

BB awal rusa memberikan pengaruh yang tidak nyata (P>0.05) terhadap Konsumsi BO

Analisis Ragam
Ulangan

P1

P2

P3

43

P4

1
2
3
4

FK
JK T
JK P
JK G

0,210
0,224
0,207
0,207

0,302
0,316
0,401
0,570

0,252
0,242
0,325
0,206

0,290
0,273
0,398
0,522

0,85

1,59

1,03

1,48

JK
0,26286
9
1,6969

KT
0,09527
6
0,0930

4,94

1,52787584429262
0,1883
0,095276261
0,0930

SK
Perlakua
n
Galat
Total

db

Fhit < F0,05

3
12
15

Fhit
0,619653
8

F0.05

F0.01

3,49

5,86

pakanperlakuantidakberpengaruhnyata(P>0.05)terhadapkonsumsiBO

Lampiran 7. Analisis peragam bobot badan awal rusa timor (x,kg) terhadap
konsumsi Protein Kasar (PK) (kg/kgBB0.75/ekor/hari)
P1

ULANGAN

P2

P3

P4

58,00

0,021

34,00

0,030

40,00

0,025

34,00

0,028

50,00

0,022

30,00

0,031

44,00

0,024

34,00

0,027

60,00

0,020

22,00

0,039

30,00

0,032

22,00

0,039

60,00

0,020

14,00

0,056

56,00

0,020

16,00

0,051

TOTAL

228,00

0,08

100,00

0,16

170,00

0,10

106,00

0,15

RATAAN

57,00

0,02

25,00

0,04

42,50

0,03

26,50

0,04

SD

4,76

0,0008

8,87

0,012

10,75

0,005

9,00

0,011

P1

P2

P3

P4

3364,00

0,000423

1156,00

0,00088

1600,00

0,0006

1156,00

0,0008

2500,00

0,000482

900,00

0,00096

1936,00

0,0006

1156,00

0,0007

3600,00

0,000413

484,00

0,00155

900,00

0,0010

484,00

0,0015

44

3600,00

0,000413

196,00

0,00314

3136,00

0,0004

256,00

0,0026

13064,00

452,58

2736,00

483,39

7572,00

467,89

3052,00

463,26

XX
FK
JK Total
JK
Perlakuan
JK Galat

XY

YY

22801
3623,00

18,33224
6492,53

0,014739
1867,11

2729
894,00

-20,6625
6513,19

0,262869
1866,84

Analisis peragam
Sebelum dikoreksi

SK

KT

F.Hit

F
0,05

F0,01

3,0275E-06

4,84

9,65

3,26

5,41

db

XX

XY

YY

Total

15

22801,00

18,33

0,01

Perlakuan

2729

-20,6625

0,262869

Galat

12

894,00

6513,19

1866,84

Regresi

JK.Reg

47451,507

47451,51

Galat disesuaikan
Regresi(Perlk +
Galat)
Perlk. + Galat
Disesuaikan

11

1,58

0,143661

621527,88
619660,77
619662,35

15

Perlk. (disesuaikan)
4
154915,6 1078341,388
Fhit < F 0.05
Bobot badan awal rusa tidak berpengaruh nyata (P>0.05) terhadap konsumsi PK

Analisis Ragam
Ulangan

P1
1
2
3
4

FK
JK T
JK P
JK G

P2

P3

P4

0,021
0,022
0,020
0,020

0,030
0,031
0,039
0,056

0,025
0,024
0,032
0,020

0,028
0,027
0,039
0,051

0,08

0,16

0,10

0,15

0,01473930638594
0,0018
0,000918341
0,0009

45

0,49

SK

db

Perlakuan
Galat
Total
Fhit < F0,05

3
12
15

JK

KT

Fhit

F0.05

0,262869
1,6969

0,000918
0,0009

1,0232728

F0.01

3,49

5,86

pakanperlakuantidakberpengaruhnyata(P>0.05)terhadapkonsumsiPK

Lampiran 8. Analisis peragam bobot badan awal rusa timor (x,kg) terhadap
pertambahan bobot badan harian (PBBH) ((kg/ekor/hari)
P1

ULANGAN

P2

P3

P4

58,00
50,00
60,00
60,00

0,13
0,33
0,07
0,07

34,00
30,00
22,00
14,00

0,07
0,20
0,13
0,07

40,00
44,00
30,00
56,00

0,23
0,13
0,07
0,07

34,00
34,00
22,00
16,00

0,07
0,27
0,07
0,00

TOTAL

228,00

0,60

100,00

0,47

170,00

0,50

106,00

0,41

RATAAN

57,00

0,15

25,00

0,12

42,50

0,13

26,50

0,10

SD

4,76

0,12

8,87

0,06

10,75

0,08

9,00

0,12

1
2
3

P1

P2

3364,00
2500,00
3600,00
3600,00

0,0169 1156,00
0,1089 900,00
0,0049 484,00
0,0049 196,00

13064,00

0,14

2736,00

XX
22801
3623,00

FK
JK Total
JK
Perlakuan
JK Galat

2729
894,00

P3

P4

0,00490
0,04000
0,01690
0,00490

1600,00
1936,00
900,00
3136,00

0,053
0,017
0,005
0,005

1156,00
1156,00
484,00
256,00

0,00490
0,07290
0,00490
0,00

0,07

7572,00

0,08

3052,00

0,08

XY
74,745
3,96

3,32
0,64

YY
0,245025
0,12
0,004725
0,11

Analisis peragam
SK
Total

Regresi

KT

F.Hit

F
0,05

F0,01

db

XX

XY

YY

15

3623,00

3,96

0,12

2729

3,32

0,004725

12

894,00

0,64

0,11

JK.Reg

0,000451

0,000451

23,05789

4,84

9,65

Perlakuan
Galat

Sebelumdikoreksi

46

Galatdisesuaikan

11

0,11

0,0104

Regresi(Perlk+Galat)

3,64E06

Perlk.+GalatDisesuaikan

15

0,12

Perlk.(disesuaikan)

0,01

0,001293

0,124338

3,26

5,41

Kesimpulan

BBawalrusamemberikanpengaruhyangtidaknyata(P>0.05)terhadapPBBHkg/ekor/hari

AnalisisRagam

Ulangan
P1
P2
1 0,13
2 0,33
3 0,07
4 0,07

0,60
FK
JKT
JKP
JKG

P3
0,07
0,20
0,13
0,07
0,47

P4
0,23
0,13
0,07
0,07
0,50

0,07
0,27
0,07
0,00
0,41

1,98

0,245025
0,1196
0,004725
0,1149

SK
db
JK
KT
Fhit
F0.05
F0.01

Perlakuan
3 0,004725 0,001575 0,164562
3,49
5,86

Galat
12
0,1149 0,009571

Total
15

Fhit < F0,05

perlakuanmemberikanpengaruhyangtidaknyata(P>0.05)terhadapPBBH(kg/ekor/hari)

Lampiran 9. Penetapan kadar bahan kering atau BK (AOAC, 1980)


Prinsip :

47

Dengan pemanasan pada suhu 105C, air yang terkandung dalam suatu
bahan pakan akan menguap seluruhnya. Bahan yang tertinggal setelah penguapan
air disebut bahan kering.
Alat-alat :
1. Cawan porselin
2. Oven 105oC
3. Eksikator
4. Penjepit
5. Timbangan
Cara kerja :
1. Cawan porselin dimasukkan kedalam oven 105oC selama 1 jam
2. Cawan diambil, dimasukkan eksikator(dengan tang penjepit) selama 1 jam
3. Cawan porselin ditimbang dengan teliti (A g)
4. Sampel 3-5 gram dimasukkan cawan, ditimbang kembali (B g), kemudian
cawan yang berisi sampel dimasukkan ke dalam oven 105oC sampai
beratnya konstan.
5. Cawan diambil dengan tang penjepit dan dimasukkan ke dalam eksikator
selama 1 jam, kemudian ditimbang beratnya (C g)
Perhitungan :
Kadar BK =

CA
x 100%
BA

Keterangan :
A = Berat cawan porselin (g)
B = Berat cawan porselin + sampel (g) sebelum di oven
C = Berat cawan porselin + sampel setelah di oven 105oC
Lampiran 10. Penetapan kadar bahan organik atau BO (AOAC, 1980)
Prinsip :

48

Dengan pemanasan pada suhu 550-600C semua bahan organik akan


terbakar. Bahan anorganik yang tidak terbakar disebut abu.
Alat-alat :
1. Cawan porselin
2. Tanur 550-600oC
3. Eksikator
4. Penjepit
5. Timbangan analitis
Cara kerja :
1. Cawan porselin dan sampel dari BK oven dimasukkan ke dalam tanur
sampai berwarna putih (C g)
2. Cawan porselin diambil dan dimasukkan ke dalam eksikator dan
didiamkan selama 1 jam, kemudian ditimbang (D g).

Perhitungan :
Kadar Abu =

DA
x 100%
CA

Kadar BO = 100% - % abu dalam BK


Keterangan :
A = Berat cawan porselin (g)
B = Berat cawan porselin + sampel dari BK oven 105oC (g)
C = Berat cawan porselin + sampel setelah dimasukkan ke dalam tanur 550600oC
Lampiran 11. Penetapan kadar Protein Kasar atau PK (Askar dkk, 1984)
Prinsip :

49

Asam sulfat pekat dengan katalisator dapat memecah ikatan N organik


dalam bahan pakan menjadi ammonium sulfat, kecuali ikatan NN; NO; dan NO2..
Ammonium sulfat dalam suasana basa melepaskan NH3 kemudian disuling. Hasil
sulingan ditampung dalam beaker glass yang berisi asam borat yang diberi
indikator campuran dan dititrasi dengan KH(IO3)2 0,01 N sampai warna berubah.
Alat-alat:
1. Kertas minyak untuk menimbang sampel
2. Labu kjeldahl
3. Dispenser 5 cc-10 cc
4. Gelas ukur
5. Pemanas listrik untuk destruksi
6. Labu erlenmeyer

7. Alat destilasi Markham steel


8. Pipet
9. Buret mikro
Bahan kimia:
1. H2SO4 pekat
2. Katalisator tablet
3. Larutan NaOH 40% (400 g NaOH dilarutkan dalam aquades yang telah
dididihkan hingga volumenya 1000 ml)
4. Larutan asam borat 2% (20 g asam borat dilarutkan dalam aquades hingga
volumenya 1000 ml)
5. Larutan standar KH(IO3)2 0,01 N, (3,8992 g KH(IO3)2 dilarutkan dalam
aquades hingga volumenya 1000 ml)

50

Cara kerja:
1. Sampel ditimbang pada kertas minyak lebih kurang 250 mg (a mg)
kemudian dimasukkan ke dalam labu kjeldahl
2. Ditambahkan campuran selenium 0,5-1,0 g, H2SO4 pekat 10 ml dan
didestruksi di atas pemanas listrik sampai cairan hijau jernih terbentuk
3. Didinginkan dan diencerkan dengan aquades sampai tanda garis
(Pengenceran c kali)
4. Larutan dipipet sebanyak 5 ml, dimasukkan ke dalam alat destilasi

Markham Steel, kemudian ditambahkan larutan NaOH 40% sebanyak 10


ml
5. NH3 yang dibebaskan ditampung dalam larutan asam borat 2% yang diberi
beberapa tetes indikator bromoresol green dan sindurmetil
6. Setelah diperoleh destilat sebanyak 50 ml, destilasi dihentikan
7. Kemudian dititrasi dengan larutan standar KH(IO3)2 0,01 N sampai terjadi
perubahan warna (b ml) dari hijau menjadi merah muda keunguan
8. Dikerjakan penetapan blanko (d = ml KH(IO3)2 yang dibutuhkan
Perhitungan:
Kadar protein kasar = (b-d) x 0,01x 14 x c x 6,25 x 100%
a
Keterangan:
a = Berat sampel (g)
b = Volume KH(IO3)2 0,01 N untuk titrasi (ml)
c = Jumlah pengenceran dengan aquades
d = Volume KH(IO3)2 0,01 N untuk titrasi blanko (ml)
Berat atom N = 14
6,25 = Dalam 100% protein mengandung 16% N (100:16)
Lampiran 12. Penetapan kadar Serat Kasar atau SK (Askar dkk, 1984)
Prinsip :

51

Serat kasar merupakan senyawa yang tidak larut jika direbus dalam larutan
H2SO4 dan NaOH. H2SO4 akan menguraikan senyawa N dalam bahan pakan dan
NaOH akan menguraikan senyawa lemak. Sisa bahan pakan yang tidak tercerna
setelah proses perebusan kemudian ditimbang dan diabukan. Perbedaan berat
residu pertama dan berat residu setelah diabukan menunjukkan jumlah serat yang
terdapat dalam suatu bahan pakan.
Alat-alat:
1. Gelas piala 400 cc
2. Kertas saring No. 41
3. Kaca arloji (pinggan porselin) untuk penutup piala, atau dengan pendingin
yang ukurannya sesuai dengan mulut gelas piala
4. Pemanas listrik

5. Corong buchner
6. Pompa vakum
7. Cawan porselin
8. Oven
9. Tanur
10. Desikator
11. Penjepit
Bahan kimia:
1. Larutan asam sulfat 0,3 N
2. Larutan natrium hidroksida 1,5 N
3. Aquades
4. Aseton

52

Cara kerja:
1. 1,0 g sampel ditimbang (a g), dimasukkan ke dalam gelas piala, kemudian
ditambahkan 50 ml asam sulfat 0,3 N dan dididihkan selama 30 menit
2. Ke dalam gelas piala ditambahkan 50 ml NaOH 1,5 N dan dididihkan
selama 30 menit
3. Kertas saring No. 41 dikeringkan dalam oven 105 C, kemudian setelah
dingin ditimbang (b g)
4. Campuran yang telah dididihkan disaring dan kertas saring dalam corong

buchner yang telah dihubungkan dengan pompa vakum


5. Selanjutnya serat dicuci dengan:

50 ml H2O panas

50 ml H2SO4 panas

50 ml H2O panas

25 ml aseton

6. Kertas saring bersama-sama dengan seratnya dimasukkan ke dalam cawan


yang bersih dan kering, kemudian dikeringkan dalam oven 105 C selama
1-2 jam (beratnya konstan). Kemudian didinginkan dalam desikator dan
ditimbang (c g)
7. Cawan bersama isinya diabukan pada suhu 600 C, setelah diperoleh abu
yang bersih (bebas karbon) ditimbang kembali (d g)
8. Kandungan serat kasar merupakan kehilangan berat sesudah pengabuan

Perhitungan:
Kadar SK = c - d - b x 100%
a
53

Keterangan:
a = Berat sampel (g)
b = Berat kertas saring setelah dioven 105C (g)
c = Berat sampel + kertas saring setelah dioven 105C (g)
d = Berat sampel setelah dimasukkan ke dalam tanur 600C(g)

54