Anda di halaman 1dari 23

KESELAMATAN LALU LINTAS

1. Kejadian Kecelakaan
Tingginya jumlah kecelakaan melatarbelakangi lahirnya Undangundang Nomor 14 tahun 1992. Berkaitan dengan hal tersebut, berbagai
program penanganan kecelakaan lalu lintas di jalan telah dilaksanakan
oleh berbagai instansi baik pemerintah maupun swasta, melalui kegiatankegiatan antara lain penegakan hukum, perekayasaan baik sarana
maupun prasarananya, pendidikan dan penyuluhan, informasi baik melaui
media cetak maupun elektronik, dan kegiatan penelitian.
Upaya-upaya yang berkaitan dalam rangka penanganan kecelakaan
lalu lintas jalan pada berikutnya dapat dikelompokkan dalam 3 tahapan
yaitu sebelum kejadian, pada waktu kejadian dan sesudah kejadian.
a. Tahapan sebelum kejadian:
Pada umumnya kejadian kecelakaan lalu lintas tidak dapat
diprediksi sejak dini, namun perlu kiranya semua pihak baik instansi
pemerintah maupun swasta serta pengguna jalan perlu
mengantisipasi guna mencegah terjadinya kecelakaan yang tidak
diinginkan. Dari sudut pemakai jalan upaya yang dapat dilakukan
adalah meningkatkan kesadaran hukum dan sopan santun dalam
berlalu lintas. Di samping itu kendaraan yang digunakan haruslah
memenuhi persyaratan layak jalan.
b. Tahapan pada waktu kejadian:
Penanganan pada waktu kejadian kecelakaan merupakan bagian
yang penting yang perlu mendapat perhatian. Di sini dituntut
kesigapan aparat baik dari kepolisian maupun dari kesehatan
(rumah sakit/ambulance) untuk mencapai lokasi kejadian tepat pada
waktunya guna menangani dampak yang terjadi dari kejadian
kecelakaan lalu lintas.
c. Tahapan sesudah kejadian:
Dalam penanganan kejadian kecelakaan, diperlukan kejelian
aparat/instansi yang berwenang untuk meneliti/melihat sebabsebab kejadian agar dapat disusun suatu rencana perbaikan
(remedial measures) guna mencegah terulangnya kejadian-kejadian
berikutnya. Untuk itu perlu didukung dengan data dan informasi
yang lengkap perihal kejadian kecelakaan.
Hasil yang konkrit dan maksimal terhadap beberapa hal pokok
pembahasan yang berkaitan dengan keselamatan lalu lintas jalan adalah:
1. Sistem informasi kecelakaan
Di dalam pengelolaan sistem informasi kecelakaan lalu lintas jalan,
agar dapat dirumuskan secara jelas, baik yang menyangkut tentang
sistem pandataan, pelaporan, maupun kejelasan wewenang dan tanggung
jawab dari masing-masing instansi yang terlibat di dalam pengelolaan
sistem informasi, sehingga dapat mempermudah dan memperlancar di
dalam penanganan penaggulangan keselamatan.

2. Pendidikan
Untuk hal yang berkaitan dengan aspek pendidikan, kiranya dapat
dirumuskan suatu metode yang tepat sehingga lebih berdaya guna dan
berhasil guna di dalam menumbuh kembangkan kesadaran masyarakat
pemakai jalan, agar mampu menyentuh segala lapisan masyarakat yang
dimulai dari tingkat pendidikandasar hingga tingkat pendidikan lanjutan
dan seterusnya.
3. Perekayasaan
Perlunya dirumuskan pola pengembangan rekayasa sarana dan
prasarana yang tepat namun tetap memperhatikan kondisi kemampuan
pendanaan serta tanpa meninggalkan berbagai ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
4. Penanganan korban
Dalam rangka peningkatan pelayanan korban kecelakaan, hal yang
perlu mendapat perhatian adalah bagaimana sistem penanganan yang
memadai dapat diberikan, sehingga si korban mendapat pertolongan
cepat, sedangkan terhadap korban yang meninggal dunia mendapatkan
pelayanan asuransi yang sesuai sebagaimana yang diharapkan sehingga
dapat meringankan beban bagi yang mendapat musibah.
5. Kegiatan pendukung
Untuk bidang yang berkaitan dengan kegiatan pendukung, salah
satu sarana pendukung yang memiliki peran yang tidak kalah pentingnya
adalah peranan mass media baik cetak maupun elektronika. Diharapkan
peranan mass media dalam masa-masa mendatang dapat ikut andil
sepenuhnya dalam mendukung program penanggulangan keselamatan,
dengan tetap berpegang kepada etika jurnalistik.
2. Metode Penanggulangan Kecelakaan
Metode penanggulangan keselamatan secara garis besar meliputi:
a) Metode pre-emptif (penangkalan),
b) Metode preventif (pencegahan), dan
c) Metode represif (penanggulangan)
Pengelompokan 3 jenis metode tersebut merupakan kerangka pola
penanggulangan keselamatan yang didasarkan kepada pokok pemikiran
bahwa setiap kecelakaan yang terjadi (dalam bentuk apa pun), pada
hakikatnya merupakan resultan dari adanya korelasi antara berbagai
faktor-faktor penyebabnya, secara ekskalasi mulai dari tingkatan yang
paling dini sampai dengan factor penyebab terjadinya peristiwa
kecelakaan. Terhadap ketiga faktor penyebab kecelakaan tersebut, maka
metode.
penanggulangannya secara singkat adalah sebagai berikut:
a. Metode pre-emptif, diarahkan untuk mengeliminasi FKK agar
tidak berkembang menjadi PH atau bahkan AF

b. Metode preventif, diarahkan untuk mengamankan kondisi PH


(yang sudah sangat rawan/potensial terhadap terjadinya
gangguan)
c. Metode represif, berupa penindakan terhadap setiap bentuk yang
terjadi. Metode Pre-Emptif Metode pre-emptif sebagai upaya
penangkalan di dalam menanggulangi kecelakaan lalu lintas,
pada dasarnya meliputi perekayasaan berbagai bidang yang
berkaitan dengan masalah transportasi, yang dilaksanakan
melalui koordinasi yang baik antar instansi terkait, maka kita akan
lebih mampu mengantisipasi dan mengeliminasi secara dini
dampak-dampak negatif yang mungkin akan timbul.
Metode pre-emptif
dalam menanggulangi kecelakan lalu lintas secara arbitrasi dapat
diimplementasikan melalui tindakan terpadu di dalam:
1) Perencanaan pengembangan kota.
2) Perencanaan tata guna lahan.
3) Perencanaan pengembangan transportasi.
4) Perencanaan pengembangan angkitan umum, yang meliputi:

Perencanaan jenis, ukuran, kapasitas kendaraan-kendaraan


bermotor yang sesuai dan serasi dengan tingkat kebutuhan
masyarakat, kondisi daerahdaerah yang akan dilayani, jaringan
jalan, serta perencanaan proyeksi kebutuhan transportasi di masa
mendatang.

Perencanaan pengembangan angkutan umum yang berorientasi


kepada pemakaian ruas jalan dengan mempertimbangkan
dampak sosial, dampak lingkungan dan tingkat keselamatannya.

Perencanaan pengembangan industri kendaraan bermotor yang


layak untuk menunjang perencanaan angkutan umum secara
lebih efisien dan efektif.

5) Perencanaan yang menyangkut komponen-komponen sistem lalu


lintas.
Metode Preventif
Metode preventif adalah upaya-upaya yang ditujukan untuk
mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas, yang dalam bentuk
konkretnya berupa kegiatan- kegiatan pengaturan lalu lintas,
penjagaan tempat-tempat rawan, patroli, pengawalan dan lain
sebagainya. Mengingat bahwa kecelakaan lalu lintas itu dapat terjadi
karena factor jalan, faktor manusia, dan faktor lingkungan secara
simultan (dalam satu sistem, yaitu sistem lalu lintas) maka upayaupaya pencegahannya pun dapat ditujukan kepada pengaturan
komponen-komponen lalu lintas tersebut serta sistem lalu lintasnya
sendiri.
Secara garis besar, upaya-upaya tersebut diuraikan sebagai berikut:

1) Upaya pengaturan faktor jalan


a) Karakteristik prasarana jalan akan mempengaruhi intensitas dan
kualitas kecelakaan lalu lintas, maka dalam pembangunan setiap
jaringan jalan harus disesuaikan dengan pola tingkah laku dan
kebiasaan pemakai jalannya.
b) Lebar jalan yang cukup, permukaan yang nyaman dan aman,
rancangan yang tepat untuk persimpangan dengan jarak pandang
yang cukup aman, dilengkapi dengan rambu-rambu, marka jalan
dan tanda jalan yang cukup banyak dan cukup jelas dapat dilihat
(informatif), lampu penerangan jalan yang baik, serta koefisien
gesekan permukaan jalan yang sesuai dengan standar geometrik.
2) Upaya pengaturan faktor kendaraan
a) Faktor karakteristik kendaraan juga sering membawa dampak
tingginya intensitas dan kualitas kecelakaan lalu lintas, kendaraan
harus dirancang, dilengkapi dan dirawat sebaik-baiknya.
Kecelakaan lalu lintas dapat dihindari apabila kondisi kendaraan
prima, stabil.
b) Kepakeman rem dan berfungsinya lampu-lampu adalah erat
kaitannya dengan perawatan. Karena itu perlu pemeriksaan rutin
melalui pengujian berkala yang dilaksanakan tanpa ada toleransi.
3) Upaya pengaturan faktor manusia
a) Faktor pemakai jalan merupakan elemen yang paling kritis dalam
system lalu lintas, karena kesalahan pejalan itu sendiri yang pada
umumnya lengah, ketidakpatuhan pada peraturan, dan
mengabaikan sopan santun berlalu lintas.
b) Metode yang diterapkan dalam meningkatkan unjuk kerja
pengemudi adalah dengan tes kesehatan fisik dan psikis, dengan
pendidikan dan latihan.
c) Pendidikan dan latihan harus mencakup pelajaran tentang sopan
santun berlalu lintas. Penelitian tentang penyebab kecelakaan
adalah mereka yang berpendidikan Sekolah Dasar sampai dengan
Sekolah Menengah Atas.Fakta ini menunjukan adanya hubungan
yang erat antara usia dan tingkat pendidikan dengan kecelakaan
lalu lintas di jalan.
d) Informasi tentang situasi lalu lintas dan keselamatan lalu lintas
melalui bentuk kegiatan olah raga, eksibisi maupun melalui media
massa.
e) Penegakan hukum, pengawasan dan pemberian sanksi hukuman
harus tetap terapkan seefektif mungkin agar pemakai jalan selalu
menaati peraturan.
4) Upaya pengaturan lingkungan
a) Peningkatan pajak kendaraan, retribusi parkir mungkin akan
dapat mengurangi beroperasinya kendaraan pribadi dan akan
menggiring untuk memakai saranan transportasi umum.

b) Kecelakaan lalu lintas dapat ditekan apabila tata guna tanah


dikontrol dan dikendalikan dengan memperpendek jarak
perjalanan serat mempromosikan sarana transportasi umum yang
aman.
c) Pembangunan daerah pemukiman akan dapat mengurangi
perjalanan perorangan, sehingga akan dapat mengurangi
kecelakaan lalu lintas.
5) Upaya pengaturan sistem lalu lintas
Tujuan dibuatnya peraturan lalu lintas adalah untuk kepentingan
pengendalian umum kepada pemakai jalan, kendaraan dan
prasarana jalan serta interaksinya di dalam sistem lalu lintas.
Sebagaimana yang diatur di dalam UU No 14/1992 adalah masalah
prasarana, kendaraan, pengemudi dan pejalan kaki serta tata cara
berlalu lintas.
6) Upaya pengaturan pertolongan pertama pada gawat darurat
Peningkatan pelayanan gawat darurat melalui penataan organisasi,
penyediaan fasilitas, kemudahan kontak serta tersedianya tenaga
para medis, akan sangat berperan dalam upaya penanggulangan
kecelakaan lalu lintas.
Metode Represif
Tindakan represif dilakukan terhadap setiap jenis pelanggaran lalu
lintas atau bentuk penanganan kasus kecelakaan lalu lintas yang
terjadi. Penegakan hukum yang dilakukan secara efektif dan intensif,
pada hakekatnya bukan semata-mata ditujukan untuk memberikan
pelajaran secara paksa atau untuk menghukum kepada setiap
pelanggar yang bertindak, namun juga dimaksudkan untuk
menimbulkan kejeraan bagi yang bersangkutan agar tidak mengulangi
perbuatannya lagi.
3. Sistem Informasi Kecelakaan
Tujuan pengembangan dan penataan sistem informasi kecelakaan lalu
lintas adalah sebagai berikut:
a)

Menciptakan persepsi yang sama antar instansi dan lembaga


terkait dalam penanggulangan kecelakaan lalu lintas.

b)

Memberikan informasi yang akurat mengenai perkembangan


kinerja transportasi jalan terutama yang berkaitan kecelakaan lalu
lintas, faktor penyebab, erta dampak yang ditimbulkan.

c)

Memberikan informasi yang memadai dan mempermudah serta


mempercepat roses pengambilan keputusan, baik sebagai
keputusan bersama dari berbagai instansi pengambilan keputusan
internal masing-masing instansi dalam rangka penanggulangan
kecelakaan lalu lintas.

d)

Memberikan gambaran sejelas mungkin mengenai organisasi


penyelenggaraan sistem informasi.

e)

Sebagai media untuk mengkoordinasikan upaya penanggulangan


kecelakaan lalu lintas di berbagai instansi.

Langkah-Langkah Pengembangan Sistem Informasi


Langkah-langkah yang diperlukan dalam pengembangan sistem
informasi sejak merumuskan model data sampai dengan
pengorganisasian penyelenggaraan sistem informasi untuk
penanggulangan kecelakaan lalu lintas antara lain meliputi:
a) Model data;
b) Sumber data;
c) Arus data;
d) Pengolahan dan Analisis data;
e) Kebutuhan piranti lunak dan piranti keras.
Manajemen Penanggulangan Kecelakaan Lalu Lintas Bertitik tolak
pada pokok-pokok pikiran sebagai berikut:
a)

Peristiwa kecelakaan lalu lintas merupakan kejadian yang jarang


dan acak untuk memahami filosofi dasar di atas perlu dilihat
pengertian dari masingmasing secara terpisah.

b)

Kecelakaan lalu lintas merupakan serangkaian kejadian, yang pada


akhirnya sesaat sebelumnya terjadi kecelakaan didahului oleh
gagalnya pemakai jalan dalam mengantisipasi kedaan sekelilingnya.

c)

Kecelakaan lalu lintas mengakibatkan terjadinya korban atau


kerugian harta benda.

d)

Dalam peristiwa kecelakaan tidak ada unsur kesengajaan,


sehingga apabila terdapat cukup bukti ada unsur kesengajaan maka
peristiwa tersebut tidak dianggap sebagai kasus kecelakaan.

Tipe Kecelakaan
Pengelompokan/tipologi kecelakaan lalu lintas menurut proses
kejadiannya, yang secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut:
a) Kecelakaan kendaraan tunggal, yaitu peristiwa kecelakaan yang
terdiri hanya satu kendaraan;
b) Kecelakaan pejalan kaki, yaitu peristiwa kecelakaan yang terjadi
pada saat melakukan gerakan membelok dan melibatkan lebih dari
dua kendaraan;
c) Kecelakaan membelok lebih dari dua kendaraan, yaitu peristiwa
kecelakaan yang terjadi pada saat melakukan gerakan membelok
dan melibatkan lebih dari dua kendaraan;

d) Kecelakaan membelok dua kendaraan, yaitu peristiwa kecelakaan


yang terjadi pada saat melakukan gerakan membelok dan
melibatkan hanya dua buah kendaraan;
e) Kecelakaan tanpa gerakan membelok, yaitu peristiwa kecelakaan
yang terjadi pada saat berjalan lurus atau kecelakaan yang terjadi
tanpa ada gerakan membelok;
Perbaikan Secara Optimal Sistem LLAJ
Upaya penanggulangan kecelakaan melalui pendekatan ini
dilakukan dengan sasaran agar peluang terjadinya kecelakaan dapat
berkurang. Maka lingkup penanganannya dapat mencakup:
a) Perbaikan jalan/jembatan dan perlengkapan, pada lokasi-lokasi
yang rawan terhadap kecelakaan;
b) Perbaikan terhadap peraturan lalu lintas yang diberlakukan di ruasruas jalan tertentu yang rawan terhadap kecelakaan lalu lintas;
c) Pemberian arahan dan bimbingan kepada masyarakat;
d) Penegakan hukum bagi pemakai jalan, khususnya terhadap hal-hal
yang rawan terhadap kecelakaan lalu lintas.
Semua upaya tersebut di atas bertumpu pada kemampuan
pengumpulan dan analisis data, yang menjadi faktor penyebab
terjadinya kecelakaan.
Dalam menyelenggarakan manajemen dan rekayasa lalu lintas
dimaksud, dapat menggunakan 4 strategi dasar untuk mengurangi
kecelakaan lalu lintas yaitu:
a) Single Sites (Black Spot Program)
Yaitu penanganan jenis kecelakaan tertentu di suatu ruas jalan
b) Mass Action Plans
Penggunaan pola penanganan yang pernah dilakukan sebelumnya
untuk lokasi-lokasi yang mempunyai problem kecelakaan yang biasa.
c) Route Action Plans
Penggunaan cara-cara yang pernah dilakukan sebelumnya di
sepanjang rute yang mempunyai tingkat kecelakaan yang tinggi.
d) Area Wide Schemes
Penggunaan pola penanganan yang bervariasi yang meliputi area
yang luas (kota).
Perbaikan titik-titik rawan kecelakaan/black spot merupakan hal
yang mendevsak dan sangat membutuhkan perhatian, namun pada
kenyataannya hal itu belum dapat diupayakan dengan sungguhsungguh karena berbagai keterbatasan- keterbatasan sumber daya dan
dana serta sumber daya manusia.

Tindakan dan Langkah-Langkah yang Diperlukan


Identifikasi
Tindakan ini pada prinsipnya, adalah untuk menentukan lokasilokasi yang dianggap rawan terhadap kecelakaan lalu lintas sehingga
dilakukan penelitian lebih mendalam. Langkah-langkah yang perlu
dilakukan dapat diuraikan sebagai berikut:
Langkah 1
Dari laporan kecelakaan lalu lintas yang dibuat oleh POLRI,
termasuk laporan pelengkap yang dibuat oleh pembina LLAJ dan
pembina jalan kemudian dilakukan inventarisasi tempat-tempat yang
dianggap rawan kecelakaan.
Langkah 2
Melakukan seleksi awal terhadap tempat-tempat yang rawan
kecelakaan yang telah inventarisasi, dengan maksud agar dapat dipilih
lokasi-lokasi rawan kecelakaan yang perlu diteliti lebih lanjut.
Langkah 3
Dari pilihan lokasi, kemudian dilakukan penelitian awal terhadap
lokasi yang dimaksud.
Langkah 4
Kemudian menyusun daftar urut lokasi rawan kecelakaan, untuk
diusulkan agar dilakukan penelitian lebih mendalam.
Diagnosis
Setelah dilakukan identifikasi terhadap lokasi yang rawan
kecelakaan dengan menghasilkan daftar urut, tindakan berikutnya
adalah melakukan diagnosis dengan maksud untuk mengetahui lebih
mendalam faktor-faktor penyebab kecelakaan serta hubungan dan
interaksi berbagai faktor tersebut. Langkah yang perlu dilakukan dalam
diagnosis dapat diuraikan sebagai berikut:
Langkah 5
Kemudian dilakukan pengumpulan data dan fakta ke lokasi-lokasi
dimaksud untuk melengkapi data laporan kecelakaan lalu lintas.
Langkah 6
Melakukan analisis, untuk menghasilkan informasi mengenai pola
kecelakaan lalu lintas, faktor-faktor penyebab, serta dampak yang
ditimbulkan.
Langkah 7
Pada langkah ini dilakukan penelitian perilaku manusia pada setiap
lokasi yang dipilih dari hasil analisis.

Seleksi Upaya Penaggulangan


Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
Langkah 8
Mengumpulkan paket-paket penanggulangan kecelakaan yang
pernah dilakukan pada lokasi-lokasi lain, dan melakukan pilihan
terhadap paket-paket yang cocok untuk diterapkan pada lokasi-lokasi
yang dimaksud.
Langkah 9
Selanjutnya dilakukan seleksi terhadap lokasi-lokasi yang perlu
mendapat penanganan segera atau prioritas lain berdasarkan kendalakendala yang dihadapi. Setelah dilakukan penilaian atas berbagai
pilihan tindakan yang diterapkan pada masing-masing lokasi, langkah
berikutnya adalah melakukan implementtasi penanggulangan
kecelakaan pada lokasi-lokasi sesuai dengan prioritasnya.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
Langkah 10
Melakukan pemantauan terhadap perilaku pemakai jalan terhadap
perbaikan sistem pada lokasi-lokasi yang dipilih.
Langkah 11
Kemudian dilakukan evaluasi bagaimana pengaruh perbaikan sistem
dan interaksinya dengan perilaku pemakai jalan hubungannya dengan
kecelakaan lalu lintas yang terjadi pada lokasi yang dimaksud.
Langkah 12
Melakukan analisis biaya dan manfaat terhadap paket upaya
penanggulangan kecelakaan secara keseluruhan sebagai dasar
pertimbangan dalam pengambilan keputusan yang akan datang.

Tugas dan Kewajiban Instansi Terkait


Tugas dan kewajiban masing-masing instansi dapat diuraikan
sebagai berikut:
a. Instansi Pembina LLAJ
Sebagai koordinator, instansi ini berkewajiban untuk:
1) Melakukan identifikasi, diagnosis, dan analisis;
2) Menyampaikan hasil kegiatan butir 1) terkait yaitu kepada POLRI
dan instansi yang bertanggung jawab dalam pembinaan jalan;

3) Membahas alternatif-alternatif upaya penanggulangan dengan


POLRI dan instansi yang bertanggung jawab dalam bidang
pembinaan jalan dan usulan program penanggulangan terpadu;
4) Melakukan evaluasi bersama atas pelaksanaan program
penanggulangan kecelakaan lalu lintas.
b. POLRI
Dalam rangka koordinasi penanggulangan kecelakaan lalu lintas,
POLRI berkewajiban:
1) Mengisi laporan kecelakaan lalu lintas dan menghimpun laporan
kecelakaan lalu lintas yang diisi oleh instansi pembina LLAJ dan
instansi Pembina jalan;
2) Merekam data laporan kecelakaan lalu lintas dalam media yang
disepakati dan menyampaikan kepada instansi yang bertanggung
jawab dalam bidang LLAJ;
3) Menyampaikan data pelanggaran lalu lintas dan pelaksanaan
penegakan hukum kepada instansi yang bertanggung jawab dalam
bidang LLAJ;
c. Instansi Pembina Jalan
Dalam rangka koordinasi penanggulangan kecelakaan lalu lintas,
instansi pembina jalan berkewajiban:
1) menyampaikan laporan hasil penelitian kecelakaan yang menjadi
tanggung jawabnya kepada POLRI;
2) menyampaikan data keadaan jaringan jalan dan lingkungannya
kepada Instansi pembina LLAJ
Penataan sistem yang akan datang
a. Pendekatan
Dalam upaya penataan sistem ini dapat dilakukan dengan
pendekatan sebagai berikut:
1) Kebijakan
Dilakukan dengan mengkaji ulang materi perundang-undangan
dalam skala nasional, untuk mempelajari seberapa jauh ketentuanketentuan tersebut mampu dijadikan landasan hukum yang kukuh
untuk mewujudkan tujuan penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan
pada umumnya dan upaya penanggulangan kecelakaan lalu lintas
pada khususnya. Pendekatan ini hanya dilakukan apabila terdapat
indikasi bahwa peraturan perundang-undangan yang sudah ada tidak
lagi effektif.
2) Pendekatan pendidikan (Education Approach)
Mengingat faktor yang paling dominan sebagai penyebab terjadinya
kecelakaan adalah faktor pemakai jalan terutama pengemudi, maka
peranan pendidikan yang struktur terhadap pengemudi dan pemakai

jalan lainnya sangat diperlukan, terutama yang menyangkut tentang


bagaimana tata cara berlalu
lintas di jalan sebagaimana mestinya. 3) Pendekatan pengawasan
(Enforcement Approach) Di samping melalui pendekatan pendidikan
sebagaimana diuraikan di atas, masih diperlukan upaya penegakan
hukum yang dititikberatkan agar masyarakat mematuhi ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku agar terjamin
keselamatan semua pihak.
4) Pendekatan lingkungan (Environment Approach)
Sebagaimana telah diuraikan di muka, bahwa faktor penyebab
terjadinya kecelakaan sangat kompleks, termasuk keadaan lingkungan
di sekitar jalan. Sehubungan dengan hal tersebut, upaya
penanggulangan kecelakaan lalu lintas melalui perencanaan sistem
seperti yang telah diuraikan di atas tidak ada artinya apabila tidak
disertai dengan penataan lingkungan.
b. Tindakan dan Langkah
Bertitik tolak dari hal-hal tersebut di atas, maka tindakan dan
langkahlangkah yang diperlukan pada dasarnya adalah sama dengan
proses perencanaan sistem transportasi jalan.
Berdasarkan ketentuan penjelasan pasal 4 UU Nomor 14 Tahun
1992, kegiatan perencanaan merupakan salah satu aspek dari
pembinaan LLAJ yang kemudian untuk perencanaan prasarana LLAJ
diatur dalam pasal 6 UU Nomor 14 Tahun 1992 dan dijabarkan dalam
pasal 2 s.d 9 PP 43 Tahun 1993. Berdasarkan ketentuan tersebut di
atas dapat dijabarkan tentang tindakantindakan dalam perencanaan
sistem transportasi jalan.
Kerangka Dasar Sistem Informasi
Seperti telah dijelaskan di muka, upaya penanggulangan khususnya
untuk upaya perbaikan sistem dan penataan sistem memerlukan data
yang sangat banyak dan bervariasi, demikian pula dengan
pengolahannya memerlukan perhitungan yang sangat rumit, sehingga
sudah memerlukan bantuan pengolahan data secara elektronik
(komputer). Dengan demikian maka perkembangan system informasi
dalam upaya pendukung dan penanggulangan kecelakaan lalu lintas
dilakukan dengan basis komputer. Suatu sistem informasi yang
pengembangannya berbasis pada komputer.
Secara umum unsur-unsur dasar sistem untuk aplikasi terdiri atas:
Sistem pengolahan data, intinya ada pada manajemen Pangkalan
Data dengan didukung oleh sistem komunikasi data;
Sistem informasi untuk manajemen, antara lain meliputi sistem
informasi untuk eksekutif, sistem informasi geografis, dan
sebagainya;

Sistem pendukung pengambilan keputusan, yaitu suatu aplikasi


yang dikembangkan untuk membantu proses pengambilan
keputusan.
Pangkalan data yang dibutuhkan untuk mendukung upaya
penanggulangan kecelakaan lalu lintas, dikelompokkan
kepentingannya dalam upaya penanggulangan kecelakaan lalu
lintas, yaitu sebagai berikut:
1) Pangkalan Data Laporan Kecelakaan
Pangkalan data ini menampung kebutuhan data untuk semua
instansi seperti POLRI, instansi pembina LLAJ. Dan instansi pembina
jalan, yang dibentuk berdasarkan laporan kecelakaan yang dibuat
oleh POLRI, instansi pembina LLAJ, dan instansi pembina jalan.
2) Pangkalan Data Pendukung
Yang dimaksud dengan Pangkalan Data Pendukung adalah
pangkalan data yang telah terbentuk untuk kepentingan tugas
pokok untuk masingmasing instansi akan tetapi diperlukan dalam
upaya penanggulangan kecelakaan lalu lintas.
Dengan berbekal pada Pangkalan Data laporan kecelakaan dan
Pangkalan Data pendukung tersebut di atas, masing-masing instansi
akan mengembangkan sistem informasi untuk pimpinan/pejabat
sesuai dengan kebutuhan tugasnya. Namun demikian tidak
menutup kemungkinan sistem informasi yang dikembangkan oleh
suatu instansi akan dibutuhkan oleh instansi lainnya.
Sistem pendukung pengambilan keputusan juga dikembangkan
oleh masing-masing instansi sesuai dengan kebutuhan dalam
pengambilan keputusan. Mengingat sistem ini merupakan aplikasi
yang spesifik, maka kemungkinan yang diperlukan oleh instansi lain
adalah informasi yang dapat dihasilkan oleh system ini.
Pengembangan Sistem Informasi Penaggulangan Kecelakaan
Lalu Lintas
Arah Pengembangan
Pengembangan sistem informasi untuk penanggulangan
kecelakaan lalu lintas diarahkan sesuai tujuan yang diharapkan
sebagaimana dijelaskan dalam bagian I. Sedangkan orientasinya
adalah kearah integrasi informasi yang lebih baik dengan
memperhatikan sumber-sumber dan menyempurnakan proses
standarisasi agar supaya merangsang penyebaran informasi secara
luas dan konsolidasi yang cepat tentang informasi yang mendesak
dan berkesinambungan.
Model data
Model data yang ditetapkan untuk mendukung implementasi
sistem informasi untuk penanggulangan kecelakaan dititikberatkan
pada Pangkalan Data laporan kecelakaan lalu lintas. Data yang
harus tercantum dalam Pangkalan Data ini, dapat dikelompokkan

sesuai dengan kepentingan dalam upaya menanggulangi terjadinya


kecelakaan yaitu:
a. Saat kecelakaan tidak terdapat korban mati
Pangkalan Data yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:
1) Kelompok data lokasi/daerah tempat kejadian kecelakaan.
2) Kelompok Utama, terdiri atas:
a) Kelompok data waktu kejadian
b) Kelompok data kendaraan terlibat
c) Informasi umum, terdiri atas:
Data tentang modus operandi
Data tipe tabrakan
Data lingkungan
Data jalan
3) Uraian singkat kejadian, terdiri atas:
a) Data kendaraan-kendaraan yang terlibat
b) Data pemakai jalan yang terlibat
c) Data pengemudi kendaraan-kendaraan yang terlibat
d) Data penumpang kendaraan-kendaraan yang terlibat
e) Data pejalan kaki yang terlibat
f) Ilustrasi kejadian
g) Keterangan saksi
h) Keterangan pengemudi
i) Kesimpulan sementara dari petugas, tentang kecelakaan
yang telah didata
j) Uraian detail
b. Pada saat kecelakaan terdapat korban mati
Model Pangkalan Data yang dikumpulkan oleh masing-masing
instansi tentu berbeda sesuai dengan kepentingannya.
1) Model Pangkalan Data Untuk Pembina LLAJ
Model Pangkalan Data yang diperlukan adalah:
a) Kondisi prasarana yang mencakup:
Fasilitas jalan dan jembatan
Kondisi lingkungan dan sekitarnya
b) Data sarana:
Kondisi teknis kendaraan
Pemeriksaan benda uji

2) Model Pangkalan Data untuk pembina jalan


a) Geometrik jalan:
Alinemen horizontal: radius belok, super elevasi, friksi
Alinemen vertikal: gradien, dan jarak pandang
b) Kondisi jalan dan jembatan: lebar, daya dukung
c) Pulau-pulau jalan.
c. Pangkalan Data untuk manajemen dan rekayasa lalu lintas
Manajemen dan rekayasa lalu lintas berkaitan dengan
pendanaan, pengawasan dan pengendalian lalu lintas yang
berkaitan dengan upaya penanggulangan kecelakaan lalu lintas.
Guna mencapai tujuan tersebut dibutuhkan data pendukung yang
berkolerasi dengan penyebab terjadinya kecelakaan.
Data tambahan tersebut:
1) Data volume lalu lintas harian rata-rata
2) Data kecepatan
3) Data tata guna tanah
4) Data hambatan (delay)
5) Data komposisi kendaraan
6) Data sosial ekonomi
Sumber Data
Dalam hal pengumpulan Pangkalan Data Kecelakaan Lalu Lintas.
Instansi yang terkait adalah:
a. POLRI
b. Dinas LLAJ Tk. I & Tk. II
c. Kanwil Dephub
d. Dinas PU/Kanwil Pu
e. Rumah Sakit
Diagram Arus Data
Diagram arus data menguraikan bagan alir data kecelakaan secara
makro yang meliputi:
a. Pengumpulan Data
Kumpulan data yang dapat diambil dari berbagai media.
Pertama, data kecelakaan tersebut dicatat sesuai dengan formulir
data kecelakaan. Selanjutnya pengumpulan data dapat
dilaksanakan dan disimpan dalam disket (dalam hal ini format data
yang disimpan harus standar). Tahap akhir, data tersebut
disampaikan sesuai dengan kepentingan dan tanggung jawab
instansi pemakai.

b. Transfer Data
Urusan sistem pelaporan dan transfer data kecelakaan
selengkapnya seperti diuraikan berikut:
1) Pencatatan
2) Hasil Pencatatan
3) Pengiriman Salinan Laporan Bulanan
4) Hasil Pengumpulan Data Bulanan
5) Kantor wilayah Dep. Perhubungan
6) Direktorat Jendral Perhubungan Darat
c. Pemberkasan Data (data capture)
Pemberkasan data merupakan prosedur pemberkasan data
dari formulir, media komputer dan dimasukkan Pangkalan Data.
Pemberkasan data dilakukan oleh tiap unit pelaksana atau instansi
yang berkaitan dengan masalah kecelakaan lalu lintas. Dalam
pemberkasan data, di samping proses penyimpanan (storing)*
data juga dilakukan analisis data sesuai dengan kepentingan dan
tujuan instansi yang bersangkutan.
Kebutuhan Piranti Keras dan Piranti Lunak
Kebutuhan terhadap perangkat keras dan perangkat lunak
adalah mutlak dalam informasi kecelakaan. Faktor yang paling
penting dalam pemakaian perangkat lunak adalah keseragaman dan
tingkat kompatibilitas perangkat lunak yang dipakai. Dalam
kaitannya dengan keseragaman dalam proses transfer data,
diperlukan cara pelaksanaan (manual) terhadap jenis perangkat
lunak yang dipakai serta model tampilan data yang dihasilkan.
Implementasi
Uji Coba Penanggulangan Kasus Kecelakaan
Tahapan-tahapan kegiatan dalam melakukan uji coba
dilakukan menurut urutan prioritas yaitu:
Menjamin orang yang terluka sudah diurus
Menjamin keselamatan jalan dan mengkoordinasikan
pembukaan kembali arus lalu lintas .

Membuat perincian kecelakaan, dan pengamatan dan


wawancara (terutama terhadap pengamatan yang tidak terlibat
dalam kecelakaan tersebut).

Mengevaluasi dan meminta bantuan yang perlu dari ambulans,


pemadam kebakaran, dan untuk pengaturan lalu lintas.
Memberi pertolongan pertama bagi yang terluka
Meletakkan rambu-rambu peringatan untuk memberitahukan
bahwa lalu lintas dalam keadaan darurat.

Mengumpulkan saksi-saksi mata sebelum mereka


meninggalkan tempattempat kejadian.
Mengumpulkan bukti-bukti.
Membersihkan dan mencuci pecahan-pecahan dan membuka
jalan kembali.
Mencatat keterangan dari saksi mata para pengemudi.
Penyusunan laporan.
Selain itu data lingkungan juga penting untuk diikut sertakan
tetapi sejauh mana bagaimana lingkungan tersebut
berpengaruh seperti:
Penampilan orang, misalnya kemampuan pandangan
Prasarana
Penampilan kendaraan
Arus lalu lintas
Dari hasil uji coba tersebut kemudian dilakukan analisis
sehingga data yang diperoleh dapat dipergunakan sesuai
dengan kebutuhannya. Terdapat dua pendekatan pada analisis
kecelakaan yaitu dengan menggunakan metoda statistic dan
metode klinis.
1) Metoda statistik
Lokasi yang berbahaya dapat diidentifikasikan dan juga dapat
dikelompokkan menurut frekuensi dan parahnya kecelakaan,
seperti:
Black spot yang mempunyai resiko tinggi, sering dihubungkan
dengan
geometrik jalan.
Resiko antara, yaitu sejumlah kecelakaan yang tidak saling
berhubungan pada lokasi yang serupa tetapi terlalu sedikit
untuk mengidentifikasikan tempat-tempat dengan resiko tinggi
tersendiri atau sebab-sebabnya yang umum.
Untuk analisis statistik yang paling praktis dan cepat adalah
analisis numerik sederhana yang memperlihatkan hal-hal seperti :
Jumlah kecelakaan
Lokasi
Tingkat kecelakaan dibanding kepadatan penduduk, pemilihan
kendaraan, penggunaan kendaraan.
Kelaziman ciri-ciri desain
Keparahan luka-luka
Tipe kendaraan yang terlibat

Karakteristik pemakai jalan, umur


Gerakan kendaraan yang terlibat
Keadaan lingkungan
Hasil analisis dapat diringkas dalam bentuk peta, grafik dan
tabel, sedangkan analisis khusus sekurang-kurangnya harus
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Perubahan tingkat kecelakaan dan keparahan dari tahun ke
tahun
Perbedaan tingkat kecelakaan antara lokasi-lokasi yang
berbeda
Keparahan kecelakaan
Jenis jalan yang terlibat
Jenis kendaraan yang terlibat
Manuver kendaraan yang dilakukan
Waktu dan hari
2) Metoda klinis
Metoda klinis meliputi penyelidikan suatu kecelakaan
tersendiri guna menentukan bagaimana dan mengapa terjadinya
dan mengambil kesimpulankesimpulan mengenai kecelakaan yang
serupa dapat dihindari.
Rekonstruksi harus diusahakan, dengan menempatkan
mendekati kejadian yang sebenarnya, yaitu:
Titik kemungkinan persepsi, di mana pengemudi pertama
kali merasakan adanya bahaya dari suatu kecelakaan.
Titik persepsi sebenarnya, di mana pengemudi merasakan
bahaya yang sebenarnya.
Committed point, yaitu titik tidak dapat dihindari.
4. Tindakan Keselamatan Lalu Lintas
Masalah keselamatan lalu lintas dewasa ini menjadi salah satu isu
utama di dalam perencanaan transportasi. Ketidak-efektifan
pengoperasian lalu lintas dapat dilihat dari seberapa jauh tingkat kongesi
dan kecelakaan lalu-lintas yang terjadi di suatu sistem jaringan jalan yang
ada.
Kecelakaan terjadi pada dasarnya merupakan resultan dari:
pengemudi, kendaraan, dan lingkungan jalan. Elemen-elemen tersebut
baik secara individual maupun kombinasi dapat menyebabkan
kecelakaan. Data baik dari luar negeri maupun Kepolisian Indonesia
memperlihatkan bahwa kecelakaan terjadi sekitar 90% disebabkan karena
faktor manusia (pengemudi), sedangkan faktor kendaraan dan lingkungan
jalan masing-masing hanya sekitar 5%. Khusus di Indonesia mengingat

fasilitas jalan yang tidak lengkap terjadi terdensi bahwa pengelola jalan
cenderung menyalahkan pengemudi bahwa seharusnya mereka telah
mengetahui terlebih dahulu situasi jalan yang akan dilalui. Di lain pihak
juga disadari bahwa ketidak-pedulian dan kurang terampilnya pengemudi
sering sekali menjadi penyebab kecelakaan lalu lintas.
Data kecelakaan dari Polri (lihat lampiran) menunjukkan bahwa kirakira 10.000 orang tewas akibat kecelakaan lalu lintas. dengan mengacu
studi yang dilakukan Puslitbang Jalan bahwa biaya kecelakaan fatal sekitar
Rp 40 juta (penelitian di Bandung), maka dalam satu tahun dapat terlihat
besarnya kerugian yang terjadi. Belum termasuk di dalam biaya
kecelakaan yang bersifat serius, ringan dan hanya kerugian material.
Di dalam MLL terdapat dua istilah di dalam usaha mengurangi
tingkat kecelakaan, yaitu:
1. traffic audit dan;
2. traffic calming.
Traffic Audit merupakan tindakan mengevaluasi sistem lingkungan
jalan (geometrik, perkerasan jalan, rambu dan marka), khususnya pada
kawasan rawan kecelakaan agar tidak terjadi kecelakaan yang disebabkan
oleh elemen lingkungan jalan.
Traffic Calming merupakan tindakan untuk melindungi lingkungan
sekitar jalan, khususnya kawasan perumahan dari lalu lintas dengan cara
menenangkan gerakan lalu lintas sedemikian rupa sehingga tidak
membahayakan pejalan kaki, sepeda, dan warga sepanjang jalan
tersebut. Di dalam traffic calming strategi yang digunakan pada umumnya
berupa tindakan mengurangi kecepatan kendaraan dengan berbagai
instrumen seperti polisi tidur (road hump), penyempitan lajur dan lain
sebagainya.
Tindakan untuk Mempengaruhi Kecepatan
Di dalam perencanaan transportasi terdapat dua keinginan yang
bertentangan. Pertama keutuhan untuk lalu lintas menerus di mana
apabila memungkinkan arus bergerak secepat mungkin. Kedua kebutuhan
untuk penghuni setempat di mana apabila dimungkinkan kecepatan dapat
dikurangi sebesar mungkin untuk mengurangi kecelakaan lalu lintas.
Apabila terdapat keinginan untuk mengurangi kecepatan, maka
diperlukan suatu instrumen yang bersifat self enforcing sehingga secara
otomatis tidak dapat bergerak secara tepat.
Dari data Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa tingkat
kecelakaan akan meningkat apabila kecepatan bertambah tinggi seperti
terlihat pada Tabel 8.1 di bawah ini.
Tabel 8.1 Hubungan Kecepatan dan Tingkat Fasilitas (AS)
Kecepatan (km/jam)
> 80
65 -80

Fasilitas per 1000 korban


92
48

49 - 64

36

32 - 48

21

< 32

12

Kasus serupa terjadi di negara lain. Sebagai contoh di Perancis sejak


diberlakukannya batas kecepatan maksimum di jalan bebas hambatan 12
km/jam dan jalan lainnya 90 km/jam tingkat fatalitas kecelakaan
berkurang sebesar 23% secara total dan berkurang 50% pada jalan bebas
hambatan.
Penerapan batas kecepatab maksimum di kawasan perkotaan
menunjukkan pengurangan tingkat kecelakaan yang cukup berarti seperti
terlihat pada Tabel 8.2 yang merupakan hasil riset keselamatan lalu lintas
tahun 1963 oleh Road Research Laboratory. Masalah yang utama di
kawasan perkotaan adalah tingginya kelompok beresiko tinggi terhadap
fatalitas kecelakaan, yaitu para pejalan kaki (pendestrian) dan pengayuh
sepeda. Di negara-negara berkembang tingginya komposisi sepeda motor
juga menyebabkan kelompok ini beresiko tinggi terhadap fatalitas
kecelakaan.
Masalah pedestrian berasosiasi dengan kecepatan adalah sebagai
berikut:
1. Apabila kecepatan lalu lintas tinggi, penyeberangan jalan akan sulit
untuk memperkirakan celah kendaraan yang aman secara tepat.
2. Kemungkinan kendaraan cepat mendekati penyeberangan lebih tinggi
pada saat pedestrian melihat arah lain.
Pengurangan kecelakaan dapat disebabkan juga oleh alasan-alasan
lain seperti berkurangnya pandangan kemuka akibat jalan menikung,
lebar jalan di bawah standar dan kondisi-kondisi lainnya yang bersifat
sementara seperti kabut, hujan lebat, banjir dan antrian kendaraan.
Jenis-Jenis Tindakan
Jenis-jenis tindakan untuk mengurangi kecelakaan dapat dibagi 2
(dua), yaitu dengan peraturan dan secara fisik.
Peraturan
- berupa peraturan umum (general mandatory)
- berupa peraturan berdasarkan arahan petunjuk rambu (advisory)
Fisik
- dengan speed bars
- dengan road humps
- dengan rumble strips
- dengan penyempitan jalan atau re-alinemen.
Batas kecepatan maksimum umum harus terlihat dapat diterima
oleh hampir seluruh pengemudi dan selaras dengan topografi, aktivitas
lahan sekitar jalan, jenis dan kondisi jalan. Sebagai contoh kecepatan 50

km/jam tidak dapat diterima diberlakukan pada jalan bebas hambatan


pada kondisi normal.
Hal ini yang harus diperhatikan penerapan kecepatan harus
konsisten. Perbedaan kecepatan dapat pula diberlakukan untuk berbagai
jenis kendaraan. Seperti maksimum kecepatan untuk truk dapat lebih
rendah dengan kecepatan maksimum mobil penumpang di kawasan
perkotaan.
Di dalam menentukan dasar untuk penentuan kecepatan maksimum
adalah: Pertama, harus diterima oleh hampir semua pengemudi secara
wajar dan; Kedua, maksimum kecepatan dibuat pada 85 persentil
kecepatan pada kondisi normal arus bebas.
Pengaruh dari penetapan kecepatan limit antara lain dapat
mengurangi kecepatan rata-rata kendaraan, mengurangi kecepatan
maksimum dan yang tidak kalah pentingnya mengurangi variasi
perbedaan kecepatan yang sangat berguna pada jalan berkecepatan
tinggi sebagai akibat menurunnya kecepatan relatif.
Penetapan limit kecepatan akan lebih efektif pada kecepatan tinggi
(>80 km/jam) dibandingkan pada kecepatan rendah. Terdapat tendensi
kecepatan akan meningkat terus sepanjang waktu seperti yang terjadi
pada jalan bebas hambatan di Inggris (lihat tabel 6.3).

Tabel 6.3 Kecepatan Rata-Rata di Jalan Bebas Hambatan di Inggris


Tahun

Mil/jam

Km/jam

1970

63,5

102

1973

66,5

106

1983

68,0

109

1987

75,0

120

Speed Bars pada Bundaran dan Ramp Keluar Jalan Bebas


Hambatan
Penempatan speed bars biasanya dilakukan pada perpindahan dari
jalan dengan kecepatan tinggi ke kecepatan yang lebih rendah.
Pengemudi apabila melaluinya akan menyadari bahwa kecepatan
kendaraan harus dikurangi. Hal ini diperlukan, sebagai contoh,
mengemudi kendaraan pada jalan bebas hambatan walaupun dengan
kecepatan tinggi akan merasakan relatif berjalan lambat. Hal ini akan
membahayakan pada saat keluar menuju jalan biasa. Untuk ini penempatan speed bars akan menyadari pengemudi untuk mengurangi
kecepatan.

Rancangan speed bars dapat berupa cat atau rumble strip


melintang jalan dengan jarak semakin jauh semakin rapat untuk memberi
kesan bahwa mereka mengendalikan kendaraan semakin cepat. Di inggris
penempatan speed bars pada kaki-kaki persimpangan bundaran
menghasilkan kecepatan 85 persentil kendaraan sebelum dipasang 48
mil/jam, setelah dipasang pada mulanya kecepatan menurun hingga 34
mil/jam dan setelah dioperasikan 1 tahun kecepatan meningkat menjadi
39 mil/jam.
Road Humps (Polisi Tidur)
Pada sistem jaringan lokal masalah yang utama adalah bagaimana
melindungi masyarakat sekitarnya dari lalu lintas yang berjalan cepat.
Berdasarkan data Inggris penggunaan jalan lokal (kendaraan-kilometer)
hanya 45 % dari total kendaraan-kilometer tetapi 80 % kecelakaan terjadi
di jalan-jalan lokal. Di sini terlihat bahwa kecepatan yang harus dipenuhi
(mandatory speed) dari suatu peraturan ini perlu dibuat upaya secara fisik
untuk mengurangi kecelakaan dan salah satu cara yang murah dengan
membuat polisi tidur.
Polisi Tidur perlu dibuat sedemikian rupa hingga menimbulkan
rasa tidak nyaman apabila mengemudi terlalu cepat, tetapi masih pada
batas yang ditoleransi dan tidak merusak kendaraan. Bentuk yang paling
ideal adalah berbentuk busur sirkular dengan panjang, L = 3,66 m dan
tinggi, H = 0,10m.
Di Indonesia pemasangan polisi tidur sering tidak pada
tempatnya dan bentuknya justru membahayakan lalu lintas. sebagai
contoh penempatan polisi tidur yang terlalu banyak dan rapat, atau
berbentuk yang terlalu tinggi sering dijumpai di jalan-jalan lokal.
Penempatan yang ideal perlu adanya polisi tidur yang berurutan
agar kecepatan tetap terjaga rendah. Di bawah ini terdapat pendekatan
untuk memasang polisi tidur:
Kecepatan pada saat melintasi polisi tidur ideal (L = 3,66 m; H =
0,10 m) sekitar 30 km/jam hingga 40 km/jam.
Apabila senjang jarak polisi tidur 50 m, maka kecepatan 85
persentil diperkirakan sekitar 45 km/jam.
Apabila senjang jarak polisi tidur 150 m, maka kecepatan 85
persenti diperkirakan menjadi sekitar 70 km/jam.
Pengaturan/regulasi yang perlu diperhatikan yang terpenting antara
lain:
Harus jelas dengan perambuan yang baik di mukanya.
Tidak dapat dipasang pada jalan dengan kecepatan rencana yang
tinggi.
Dapat bersamaan dipasang dengan zebra crossing.
Rumble Surface

Rumble Surface atau permukaan jalan yang halus terbuat dari


tekstur yang kasar adalah salah satu cara untuk menimbulkan
ketidaknyamanan mengemudi, dan akan lebih buruk apabila kecepatan
semakin tinggi.
Jenis-jenis surface adalah:
1. Rumble Areas, dibuat menerus sepanjang jarak tertentu. Cara ini
dirasakan kurang efektif dibandingkan cara lainnya.
2. Rumble StripsM dibuat beberapa garis dengan lebar dari 0,5 meter
hingga 2,0 meter dan ketinggian 13 mm. Cara ini lebih efektif
dibandingkan dengan cara pertama.
3. Jiggle Bars, cara ini efektif sama dengan cara kedua dengan lebar
yang lebih kecil dari 0,50 meter hingga 150 mm dan garis
perkerasan yang kasar dibuat lebih tinggi sekitar 3 mm. Cara ini
yang paling efektif dari semuanya.
Realinemen Jalan Untuk Mengurangi Kecepatan.
Cara ini dibuat untuk melindungi kawasan perumahan atau kawasan
yang ramai seperti daerah pertokoan dengan membuat jalan berkelokkelok dan jalur jalan disempitkan sehingga kendaraan tidak dapat berjalan
dengan cepat. Cara ini sangat baik diterapkan pada kawasan perumahan
baru, atau pada jalan khusus bis (Headrow di Leeds).
Di Belanda terdapat kawasan yang disebut Woonerf, di mana pada
kawasan ini jalan benar-benar diperuntukkan untuk warga setempat
sebagai jalan akses. Lalu lintas menerus akan sangat tidak nyaman
menggunakan jalan ini. Pada kawasan ini jalan yang semula lurus dibuat
menyempit dan berkelok-kelok (biasanya dijadikan sistem satu arah).
Ruang tersisa yang semula merupakan
perkerasan jalan diubah menjadi tempat bermain anak-anak, tempat
parkior mobil/atau sepeda, bangku-bangku dan tanaman.

Perambuan
Perambuan adalah hakekatnya dibuat untuk membeikan instruksi,
peringatan akan bahaya dan informasi arah bagi pengemudi dan lalu
lintas lainnya. Perambuan yang baik akan menjadi suatu arahan yang
positif bagi pemakai jalan.
Prinsip-prinsip bagi pemakai jalan apabila melihat rambu adalah:
Melihat Membaca Mengerti Dilaksanakan
Rambu harus terlihat dengan jelas kontras dengan latar
belakangnya, tidak ada penghalang seperti tanaman atau rambu lain

yang tumpang tindih, di pasang pada jarak yang memadai dan bersifat
memantul apabila terkena sinar pada saat gelap.
Berdasarkan prinsip di atas, rambu harus memenuhi kondisi sebagai
berikut:
1. Harus cukup jauh di muka sehingga memungkinkan pengemudi
memahami dan bereaksi sesuai arah rambu tersebut.
2. Di lain pihak, rambu jangan dipasang terlalu jauh sehingga
pengemudi lupa akan rambu tersebut.
3. Akibatnya pada jalan dengan kecepatan tinggi seperti pada jalan
bebas hambatan dibuat dua kali.

Anda mungkin juga menyukai