Anda di halaman 1dari 36

PRAKTIKUM PENGUKURAN LINGKUNGAN KERJA

IKLIM KERJA

Disusun oleh:
Falista Anggi Styadhika
6513040042

TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


POLITENIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA
2015
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Pada

saat

ini

penerapan

sistem

Kesehatan

dan

Keselamatan Kerja (K3) di setiap tempat kerja sangat


dibutuhkan. Adanya pengembangan dan peningkatan K3
adalah untuk meminimalisir kemungkinan risiko kecelakaan
dan penyakit yang timbul akibat hubungan kerja, serta
meningkatkan produktivitas dan efesiensi.
Peraturan

Menteri

Tenaga

Kerja

dan

Transmigrasi

Nomor

PER.13/MEN/X/2011 Tahun 2011 mengatur tentang Nilai Ambang Batas


Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja. Menurut UU No. 1 tahun
1970, tempat kerja ialah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka,
bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja, atau sering dimasuki
kerja untuk keperluan suatu usaha dimana terdapat sumber sumber
bahaya. Berdasarkan peraturan tersebut tempat kerja memiliki potensi
bahaya yang dapat menyebabkan kecelakaan dan penyakit, baik secara
langsung maupun terus menerus.
Suatu tempat kerja sudah seharusnya menjadi tempat
yang nyaman bagi para pekerjanya, agar mereka dapat
menjalankan pekerjaanya dengan baik dan memberikan
keluaran sesuai yang diinginkan oleh industri tersebut.
Salah

satu

hal

penting

yang

berpengaruh

pada

kenyamanan itu adalah iklim kerja yang sesuai pada


ruangan tersebut. Iklim kerja adalah hasil perpaduan
antara suhu, kelembaban, kecepatan gerakan udara dan
panas radiasi dengan tingkat pengeluaran panas dari tubuh
tenaga kerja sebagai akibat dari pekerjaanya. Pekerja yang
terpapar panas dalam jangka waktu yang lama dapat mengalami penyakit
akibat kerja yaitu menurunnya daya tahan tubuh dan berpengaruh terhadap
timbulnya

gangguan

kesehatan

sehingga

berpengaruh

terhadap

produktifitas dan efisiensi kerja.


Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya merupakan salah satu sarana
pendidikan yang juga memiliki tempat kerja. Beberapa tempat kerja

Iklim Kerja

tersebut antara lain yaitu : bengkel pengelasan, bengkel perkakas, bengkel


konstruksi, dan laboraturium reparasi listrik. Penggukuran lingkungan
kerja bertujuan untuk mengetahui kualitas dari tempat kerja tersebut.
Pengukuran lingkungan kerja tersebut berupa pengukuran ISBB (Indeks
Suhu Bola Basah) suatu tempat kerja, yang diadopsi dari WBGT (Wet
Bulb glode temperature Index) oleh ACGIH (American Conference of
Govermental Industrial). Kita juga akan mengukur Rh (Relative Humidity)
atau kelembaban relatif dari kerja tersebut.
1.2

Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada praktikum ini adalah :
1 Bagaimana mengaplikasikan teori keselamatan dan
kesehatan kerja?
2 Bagaimana melakukan

pengukuran

iklim

kerja

dengan menggunakan weather instrument?


3 Bagaimana melakukan analisa hasil pengukuran?
1.3. Tujuan
Tujuan praktikum iklim kerja ini adalah sebagai berikut :
1. Tujuan Umum :
Dapat

mengaplikasikan

teori

Kselamatan

dan

Kesehatan Kerja.
2. Tujuan Khusus :
a. Dapat melakukan pengukuran iklim kerja dengan
menggunakan weather instrument
b. Dapat melakukan analisa hasil pengukuran.

BAB II
Iklim Kerja

DASAR TEORI
2.1.

Iklim Kerja
Iklim kerja adalah

kombinasi

dari

suhu

udara,

kelembaban udara, kecepatan gerakan dan suhu radiasi.


Kombinasi

keempat

faktor

tersebut

bila

dihubungkan

dengan produksi panas oleh tubuh dapat disebut dengan


tekanan panas. Indeks tekanan panas disuatu lingkungan
kerja adalah perpaduan antara suhu udara, kelembaban
udara, kecepatan gerakan udara, dan panas metabolisme
sebagai hasil aktivitas seseorang (Sumamur PK, 1996 ).
Suhu tubuh manusia dapat dipertahankan secara
menetap

oleh

suatu

thermoregulator).

sistem

Suhu

pengatur

menetap

ini

suhu
adalah

(system
akibat

keseimbangan diantara panas yang dihasilkan didalam


tubuh sebagai akibat metabolisme dan pertukaran panas
diantara tubuh dengan lingkungan sekitar (Sunandar, 2014 ).
Tempat kerja yang nyaman merupakan salah satu faktor penunjang
gairah kerja. Lingkungan kerja yang panas dan lembab akan menurunkan
produktivitas kerja, juga akan membawa dampak negatif terhadap
kesehatan dan keselamatan kerja, kapan tubuh harus mengeluarkan panas
dan kapan tidak, agar seseorang tetap sehat pada pertahanan suhu tubuh
tetap stabil core-temperatur sekitar 37 C, ini di atur oleh kulit tubuh dan
kelenjar keringat. Jika suhu tubuh turun di bawah 35 C akan menyebabkan
kematian sel tubuh, suhu yang terlalu rendah dapat menimbulkan keluhan
kaku dan kurangnya koordinasi sistem tubuh, sedangkan suhu terlalu
tinggi akan menyebabkan kelelahan dengan akibat menurunnya efisiensi
kerja, denyut jantung dan tekanan darah meningkat, aktivitas organ-organ
pencernaan menurun, suhu tubuh meningkat, dan produksi keringat
meningkat ( Joko S, 2013 ).
Iklim kerja adalah faktor - faktor thermis dalam lingkungan kerja
yang dapat mempengaruhi kesehatan manusia. Manusia mempertahankan
suhu tubuhnya antara 36C - 37C dengan berbagai cara pertukaran panas

Iklim Kerja

baik melalui konduksi, konveksi, dan radiasi. Walaupun banyak faktor


yang dapat menaikkan suhu tubuh, tapi mekanisme dalam tubuh,
membuatnya tetap stabil. Faktor lingkungan yang mempengaruhi
keseimbangan suhu tubuh adalah suhu panas atau dingin yang berlebihan.
Suhu lingkungan dipengaruhi oleh adanya angin, kelembaban, tekanan
udara ruangan dan suhu udara diluar ruangan. Apabila tubuh tidak mampu
beradaptasi dengan suhu ekstrim, maka akan timbul gangguan kesehatan
(Santiasih & Handoko , 2012).

2.2.

Istilah Istilah Dalam Iklim Kerja


Beberapa istilah yang terdapat dalam iklim kerja

adalah (Sumber: Santiasih & Handoko , 2012):


1. Temperatur suhu kering, t (C)
Temperatur yang dibaca oleh sensor suhu kering dan terbuka,
namun hasil pembacaan tidak terlalu tepat karena ada pengaruh
radiasi panas, kecuali jika sensornya mendapat ventilasi yang
baik.
2. Temperatur suhu basah, t (C)
Temperatur yang dibaca oleh sensor yang telah dibalut dengan
kain / kapas untuk menghilangkan pengaruh radiasi, yang harus
diperhatikan adalah aliran udara yang melewati sensor adalah 5
m/s.
3. Temperatur suhu bola, t (C)
Temperatur yang dibaca oleh sensor suhu, berbentuk bola untuk
mengukur suhu radiasi.
4. Kelembaban relative, Q (%)
Kelembaban relative adalah perbandingan antara tekanan parsial
uap air yang ada di dalam udara dan tekanan jenuh uap air pada
temperature yang sama.
Chart psikrometri / diagram posikometri digunakan setelah
pembacaan suhu kering dan basah dilakukan untuk menganalisa
hasil pengukuran kelembaban relatif (Rh). Langkah selanjutnya
membandingkan dengan rumus. Menganalisa ISBB terhadap hasil
pengukuran setelah dilakukan pembacaan pada table psikrometric.
Tabel 2.1 Paparan Panas WBGT yang diperkenankan sebagai NAB
(WBGT dalam C)
Acclimatized

Unacclimatized

Iklim Kerja

Work
demands
100%
work
75% work,
25% rest
50% work,
50% rest
25% work,

Light

Moderate

Heavy

29.5

27.5

26

30.5

28.5

31.5

32.5
75% rest
(Sumber: ACGIH, 2005)

Very

Very

Light

Moderate

Heavy

27.5

25

22.5

27.5

29

26.5

24.5

29.5

28.5

27.5

30

28

26.5

25

31

30

29.5

31

29

28

26.5

heavy

heavy

Catatan:
1. Nilai pada tabel diatas berlaku untuk waktu kerja 8 jam sehari, 5 hari
seminggu dengan waktu istirahat pada umumnya.
2. Nilai kriteria untuk pekerjaan terus menerus dan 25% istirahat untuk
kerjaberat tidak diberikan, mengingat efek fisiologis (tanpa melihat
WBGT) pekerjaan tersebut pada tenaga kerja yang memiliki kondisi
kesehatan kurang baik.
Tabel 2.2 Lampiran Kep.13/MEN/2011 tentang NAB Faktor
fisik dan

Kimia ditempat kerja dimana ISBB

yang diperkenankan
Pengaturan Waktu Kerja Setiap
Jam

ISBB (C)
Beban Kerja
Ringa Seda Berat

Waktu Kerja

Waktu

Kerja Terus menerus (8

Istirahat
-

n
30,0

ng
26,7

25,0

75%

25%

30,6

28,0

25,9

50%

50%

31,4

29,4

27,9

25%

75%

32,2

31,1

30,0

Jam)

(Sumber: PERMEN, 2011)

Tabel 2.3 Kategori Beban Kerja dengan Kategori Tingkat Metabolisme


Kategori
Resting

Jenis Aktivitas
Duduk dengan tenang
Duduk dengan sedikit gerakan lengan

Iklim Kerja

Light

Duduk dengan sedikit gerakan tangan dan kaki


Berdiri dengan pekerjaan yang ringan pada mesin atau
meja serta banyak gerakan tangan
Menggunakan gergaji meja (table saw)
Berdiri dengan pekerjaan yang ringan / sedang pada mesin

Moderate

atau meja serta sedikit berjalan


Menggosok/ menyikat dengan posisi berdiri
Berjalan dengan mengangkat atau menekan dengan beban

Heavy

berat
Berjalan pada 6 km/jam dengan membawa beban 3kg
Menggergaji dengan tangan
Menyekop pasir kering
Pekerjaan perakitan yang berat pada basis yang tidak terus
menerus
Mengangkat dengan mendorong atau menekan beban yang

Very heavy

berat
Menyekop pasir basah

(Sumber: ACGIH, 2005)

ISBB untuk pekerjaan diluar ruangan dengan panas radiasi:


(2.1)
ISBB = 0.7 suhu basah alami + 0.2 suhu bola + 0.1 suhu kering
ISBB untuk pekerjaan di dalam ruangan tanpa panas radiasi:
ISBB = 0.7 suhu basah alami + 0.3 suhu bola .(2.2)
Rumus menghitung kalor aktivitas:
Berat Badan x kebutuhan kalor
aktivitas x lama kerja

...(2.3)

Rumus menghitung metabolisme basal:


Berat Badan x BMR x
lama kerja

.................................
.....(2.4)
Total waktu kerja
Keterangan:
BMR pria

: 0.99

BMR wanita : 0.97

Iklim Kerja

Rumus menghitung beban kerja:


Metabolisme basal + Kalor ........(2.5)
aktivitas

Catatan:

Beban kerja ringan membutuhkan kalori 100-200 Kkal/jam


Beban kerja sedang membutuhkan kalori >200-350 Kkal/jam
Beban kerja berat membutuhkan kalori >350-500 Kkal/jam

(Sumber : BSN, 2004)

Tabel 2.4 Kebutuhan Kalori Menurut Jenis Aktivitas


No.

Jenis Aktivitas

Kilo kalori/jam/kg

Tidur

Berat badan
0,98

Duduk dalam keadaan istirahat

1,43

Membaca dengan intonasi keras

1,50

Berdiri dalam keadaan tenang

1,50

Menjahit dengan tangan

1,59

Berdiri

dengan

konsentrasi

terhadap 1,63

sesuatu objek
7

Berpakaian

1,69

Menyanyi

1,74

Menjahit dengan mesin

1,93

10

Mengetik

2,00
Lanjutan Tabel 2.4

No.

Jenis Aktivitas

Kilo kalori/jam/kg

11

Menyetrika (berat setrika 2,5 kg)

Berat badan
2,06

12

Mencuci peralatan dapur

2,06

13

Menyapu lantai dengan kecepatan 38 kali 2,41


per menit

14

Menjilid buku

2,43

15

Pelatihan ringan (light exercise)

2,43

Iklim Kerja

16

Jalan ringan dengan kecepatan 3,9 2,86


km/jam

17

Pekerjaan kayu, logam dan pengecatan 3,43


dalam industri

18

Pelatihan sedang (moderate exercise)

4,14

19

Jalan agak cepat dengan kecepatan 5,6 4,28


km/jam

20

Jalan turun tangga

5,20

21

Pekerjaan tukang batu

5,71

22

Pelatihan berat (heavy exercise)

6,43

23

Penggergajian kayu secara manual

6,86

24

Berenang

7,14

25

Lari dengan kecepatan 8 km/jam

8,14

26

Pelatihansangat berat (very heavy exercise)

8,57

27

Berjalan sangat cepat dengan kecepatan 8 9,28


km/jam

28

Jalan naik tangga

15,8

Iklim Kerja

(Sumber : Moeljosoedarmo, 2008)

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1.

Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam praktikum pengukuran iklim kerja
ini disebut dengan weather instrument/ thermocouple. Kalibrasi diperlukan
untuk meyakinkan bahwa alat dalam keadaan baik dan dapat menghasilkan
pengukuran yang tepat.

3.2.

Bagian -bagian
Peralatan yang digunakan dalam praktikum pengukuran iklim kerja
ini disebut dengan weather instrument/ thermocouple, bagian-bagian dari
weather instrument/ thermocouple adalah:
1.
2.
3.
4.
5.

Display
Tombol on / off untuk mengaktifkan
Tombol light untuk membuat display menyala bila diperlukan
Tombol hold untuk menahan hasil percobaan
Thermocouple dipakai sebagai sensor untuk mengukur suhu kering
maupun suhu basah

Iklim Kerja

3.3.

Prosedur Kerja
Prosedur penggunaan weather instrument / thermocouple adalah
sebagai berikut:
1. Mengubah power on / off menjadi ON
2. Memilih satuan suhu yang akan dipakai sebagai acuan (bisa dalam
bentuk C/F)
3. Melakukan pengukuran suhu pada sasaran ukur
Suhu kering
Meletakkan thermocouple pada tempat yang akan diukur,
membiarkan beberapa saat sampai suhu kering terbaca oleh

thermometer. Kemudian mencatat hasil pengukuran.


Suhu basah
Meletakkan thermocouple yang ujungnya telah ditutup dengan
kapas / kain basah pada tempat yang akan diukur, membiarkan
beberapa saat sampai suhu basah terbaca oleh thermometer.

Kemudian mencatat hasil pengukuran.


Suhu bola
Meletakkan thermocouple pada tempat yang akan diukur,
membiarkan beberapa saat sampai suhu bola terbaca oleh

thermometer. Kemudian mencatat hasil pengukuran.


ISBB indoor
Meletakkan thermocouple pada tempat yang akan diukur,
membiarkan beberapa saat sampai ISBB Indoor terbaca oleh

thermometer. Kemudian mencatat hasil pengukuran.


ISBB outdoor
Meletakkan thermocouple pada tempat yang akan diukur,
membiarkan beberapa saat sampai ISBB outdoor terbaca oleh
thermometer. Kemudian mencatat hasil pengukuran.

Iklim Kerja

10

BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 . Hasil Pengukuran Iklim Kerja


1. Tim pengukuran
: 1. Muhammad Alifian Rahman
(6513040033)
2.

Wimboro

Galasakti

Prabowo

(6513040034)
3. Wahyu Febrianto
(6513040040)
2. Alat yang digunakan : Weather Instrument/Thermocouple
3. Tanggal percobaan

: 20 April 2015

4. Waktu percobaan : 18.30 21.25 WIB


5. Lokasi

: Bengkel Sheet Metal, Mushola, dan

Kelas
PLK

Pengukuran lingkungan kerja ini dilakukan pada titik dimana


terdapat kerumunan pekerja (mahasiswa) yang sedang melakukan
praktikum.

Karena

pada

titik

tersebut

merupakan

titik

tempat

berkumpulnya mahasiswa yang sedang melakukan praktikum dan


menyebabkan suhu disekitar ikut meningkat. Pengukuran dilakukan
sebanyak tiga kali pada masing-masing tempat dan mendapatkan hasil
pengukuran yang terangkum dalam tabel 4.1. sebagai berikut.

Tabel 4.1 Pengukuran Iklim Kerja di Laboratorium Sheet Metal.


Suhu

Suhu

Suhu

Lokasi

Basa

Kering

Bola

Pengukuran

h (oC)

(oC)

(oC)

WBGTi (ISBB)

Rh

(oC)

(%)

Iklim Kerja

11

Mesin Bubut

27

30.2

30.2

25

76

Mesin Gerindra

27.1

30.4

30.4

28.1

79

Mesin Skrab

26.9

30.5

30.5

28.1

76

Mesin Frais

26.7

30.7

30.7

27.9

74

Meja Dosen

26.8

30.6

30.7

28

75

(Sumber : Hasil Pengukuran Iklim Kerja 2015)

Tabel 4.2 Pengukuran Iklim Kerja di Mushola PPNS


Suhu
Lokasi
Pengukuran

Basa
h
(oC)

Suhu

Suhu

Kerin

Bola

g (oC)

(oC)

WBGTi (ISBB)

Rh

(oC)

(%)

Titik 1

25.6

26.9

28

26.4

79

Titik 2

25.7

27.1

27.8

26.4

79

Titik 3

25.9

27.2

27.7

26.4

79

(Sumber : Hasil Pengukuran Iklim Kerja 2015)

Iklim Kerja

12

Tabel 4.3 Pengukuran Iklim Kerja di Ruang Kelas PLK


Suhu
Basa

Lokasi
Pengukuran

h
(oC)

Suhu

Suhu

Kerin

Bola

g (oC)

(oC)

WBGTi (ISBB)

Rh

(oC)

(%)

Titik 1

26.1

28.5

29.1

27

78

Titik 2

26.1

28.8

29.6

27

77

25.5

26.7

27.2

26.1

79

Titik 3

(Sumber : Hasil Pengukuran Iklim Kerja 2015)


Keterangan : indoor semua

Data pengukuran lingkungan kerja tersebut akan digunakan


sebagai acuan dalam melakukan perhitungan. Untuk dibandingkan
dengan

nilai

ISBB

yang

terbaca

pada

alat

Weather

Instrument/Thermocouple. Berikut adalah hasil perhitungan ISBB dan


Rh pada Laboratorium Sheet Metal, Mushola PPNS, dan Kelas PLK

4.1.1 Perhitungan ISBB


Perhitungan

ISBB

dilakukan

dengan

menggunakan

rumus

berikut:
ISBB indoor = (0,7 x Suhu Basah) + (0,3 x Suhu Bola)

Iklim Kerja

13

Karena pengukuran lingkungan kerja di lakukan di dalam


ruangan yang bersifat indoor, sehingga hanya menggunakan suhu
basah alami dan suhu bola.
a. Laboratorium Sheet Metal.
Mesin Bubut

= (0,7 x Suhu Basah) + (0,3 x Suhu Bola)


= (0,7 x 27) + (0,3 x 30.2)
= 27.96 0C

Mesin Gerindra

= (0,7 x Suhu Basah) + (0,3 x Suhu Bola)


= (0,7 x 27.1) + (0,3 x 30.4)
= 28.09 0C

Mesin Skrab

= (0,7 x Suhu Basah) + (0,3 x Suhu Bola)


= (0,7 x 26.9) + (0,3 x 30.5)
= 27.96 0C

Mesin Frais

= (0,7 x Suhu Basah) + (0,3 x Suhu Bola)


= (0,7 x 26.7) + (0,3 x 30.7)
= 27.9 0C

Meja Dosen Lab

= (0,7 x Suhu Basah) + (0,3 x Suhu Bola)


= (0,7 x 26.8) + (0,3 x 30.7)
= 27.97 0C

b. Mushola PPNS
Titik 1

= (0,7 x Suhu Basah) + (0,3 x Suhu Bola)


= (0,7 x 25.6) + (0,3 x 28)
= 26.32

Iklim Kerja

14

Titik 2

= (0,7 x Suhu Basah) + (0,3 x Suhu Bola)


= (0,7 x 25.7) + (0,3 x 27.8)
= 26.33

Titik 3

= (0,7 x Suhu Basah) + (0,3 x Suhu Bola)


= (0,7 x 25.9) + (0,3 x 27.7)
= 26.44 0C

c. Ruang Kelas PLK


Titik 1

= (0,7 x Suhu Basah) + (0,3 x Suhu Bola)


= (0,7 x 26.1) + (0,3 x 29.1)
= 27 0C

Titik 2

= (0,7 x Suhu Basah) + (0,3 x Suhu Bola)


= (0,7 x 26.1) + (0,3 x 29.6)
= 27.15 0C

Titik 3

= (0,7 x Suhu Basah) + (0,3 x Suhu Bola)


= (0,7 x 25.5) + (0,3 x 27,2)
= 26,01 0C

4.1.2 Perhitungan Rh
Rh menurut perhitungan dapat dilihat dari data pada Tabel 4.1,
Tabel 4.2, dan Tabel 4.3 pada data suhu kering dan data suhu basah.
Kemudian dimasukkan ke dalam rumus dan selanjutnya mencocokkan
dengan Tabel Relative Humidity.

Iklim Kerja

15

Berikut adalah hasil perhitungan Rh pada Laboratorium Sheet


Metal, Mushola PPNS, dan Ruang Kelas PLK.
a. Rh Laboratorium Sheet Metal.

Mesin Bubut
Suhu kering

= 30,2 C

Suhu basah

= 27 C

Selisih

= Suhu kering Suhu basah


= 30,2 C 27 C
= 3,2

Rh dari hasil perhitungan 75,8 %


Rh yang terbaca pada alat ukur adalah 76 %

Mesin Gerindra
Suhu kering

= 30,4 C

Suhu basah

= 27,1C

Selisih

= Suhu kering Suhu basah


= 30,4 C - 27,1 C
= 3,3

Rh dari hasil perhitungan 76,8 %


Rh yang terbaca pada alat ukur adalah 79 %

Mesin Skrab
Suhu kering

= 30,5 C

Suhu basah

= 26,9 C

Selisih

= Suhu kering Suhu basah

Iklim Kerja

16

= 30,5 C 26,9 C
= 3,6
Rh dari hasil perhitungan 75,4 %
Rh yang terbaca pada alat ukur adalah 76 %

Mesin Frais
Suhu kering

= 30,7 C

Suhu basah

= 26,7 C

Selisih

= Suhu kering Suhu basah


= 30,7 C 26,7 C
=4

Rh dari hasil perhitungan 73 %


Rh yang terbaca pada alat ukur adalah 74 %

Meja Dosen
Suhu kering

= 30,6 C

Suhu basah

= 26,8 C

Selisih

= Suhu kering Suhu basah


= 30,5 C 26,8 C
= 3,7

Rh dari hasil perhitungan 74,8 %


Rh yang terbaca pada alat ukur adalah 75 %

b.

Rh Mushola
Iklim Kerja

17

Titik 1
Suhu kering

= 26,9 C

Suhu basah

= 25,6 C

Selisih

= Suhu kering Suhu basah


= 26.9 C 25,6 C
= 1,3

Rh dari hasil perhitungan 90,2 %


Rh yang terbaca pada alat ukur adalah 79 %

Titik 2
Suhu kering

= 27,1 C

Suhu basah

= 25,7 C

Selisih

= Suhu kering Suhu basah


= 27,1 C 25,7 C
= 1,4

Rh dari hasil perhitungan 89,6 %


Rh yang terbaca pada alat ukur adalah 79 %

Titik 3
Suhu kering

= 27,2 C

Suhu basah

= 25,9 C

Selisih

= Suhu kering Suhu basah


= 27,2 C 25,9 C
= 1,3

Rh dari hasil perhitungan 90,2 %


Rh yang terbaca pada alat ukur adalah 79 %

Iklim Kerja

18

c. Rh Ruang Kelas Praktikum Pengukuran Lingkungan Kerja


Titik 1
Suhu kering

= 28,57 C

Suhu basah

= 26,1 C

Selisih

= Suhu kering Suhu basah


= 28,57 C 26,1 C
= 2,47

Rh dari hasil perhitungan 86,18 %


Rh yang terbaca pada alat ukur adalah 78 %

Titik 2
Suhu kering

= 28,8 C

Suhu basah

= 26,1 C

Selisih

= Suhu kering Suhu basah


= 28,8 C 26,1 C
= 2,7

Rh dari hasil perhitungan 80,8 %


Rh yang terbaca pada alat ukur adalah 77 %

Titik 3
Suhu kering

= 26,7 C

Suhu basah

= 25,5 C

Selisih

= Suhu kering Suhu basah

Iklim Kerja

19

= 26,7 C 25,5 C
= 1,2
Rh dari hasil perhitungan 80,8 %
Rh yang terbaca pada alat ukur adalah 79 %

Data hasil pengukuran dan hasil perhitungan dari ISBB dan Rh,
maka akan diketahui perbandingan antara ISBB dan Rh, maka hasil
perhitungan dan pengukurannya seperti pada Tabel 4.4 , Tabel 4.5 ,
dan Tabel 4.6.

Tabel 4.4 Perbandingan Hasil Pengukuran dan Perhitungan pada


Laboratorium Sheet Metal.
ISBB

ISBB

Rh

Rh

Pengukura

Perhitunga

Pengukuran (

Perhitungan

n (oC)

n (oC)

%)

( %)

25

27,96

76

75,8

Mesin Gerinda

28,1

28,09

79

76,8

Mesin Skrab

28,1

27,96

76

75,4

Mesin Frais

27,9

27,9

74

73

Meja Dosen

28

27,97

75

74,8

Lokasi
Pengukuran
Mesin Bubut

(Sumber : Hasil Pengukuran dan Perhitungan Iklim Kerja, 2015)

Tabel 4.5 Perbandingan Hasil Pengukuran dan Perhitungan pada


Mushola PPNS
Lokasi

ISBB

ISBB

Rh

Rh

Pengukura

Pengukura

Perhitungan

Pengukuran

Perhitungan

n (oC)

(oC)

(%)

(%)

Iklim Kerja

20

Titik 1

26,4

26,32

79

90,2

Titik 2

26,4

26,33

79

89,6

Titik 3

26,4

26,44

79

90,2

(Sumber : Hasil Pengukuran dan Perhitungan Iklim Kerja, 2015)

Tabel 4.6 Perbandingan Hasil Pengukuran dan Perhitungan pada Ruang


Kelas Praltikum Pengukuran Lingkungan Kerja
Lokasi

ISBB

ISBB

Rh

Rh

Pengukuran

Pengukura

Perhitungan

Pengukuran

Perhitungan

n ( C)

( C)

(%)

(%)

Titik 1

27

27

78

86,18

Titik 2

27

27,15

77

80,8

Titik 3

26,1

26,01

79

80,8

(Sumber : Hasil Pengukuran dan Perhitungan Iklim Kerja, 2015)

Iklim Kerja

21

Dari Tabel 4.4 4.6 dapat diketahui nilai ISBB dan Rh dari hasil
perhitungan dan pengukuran, maka dari tabel tersebut dapat diketahui
selisih dari ISBB dan Rh antara hasil pengukuran dan hasil perhitungan.
Data untuk selisih hasil ISBB dapat dilihat pada Tabel 4.7 Tabel 4.9
dan untuk selisih hasil Rh dapat dilihat pada Tabel 4.10 Tabel 4.12.
Tabel

4.7

Selisih

Hasil

ISBB

Pengukuran

dan

Perhitungan

di

Laboratorium Sheet Metal.

ISBB

ISBB

Lokasi

Pengukuran

Perhitungan

Pengukuran

(oC)

(oC)

25

27,96

28,1

28,09

Mesin Skrab

28,1

27,96

0,14

Mesin Frais

27,9

27,9

Meja Dosen

28

27,97

0,03

Mesin Bubut
Mesin
Gerinda

Selisih (oC)

2,96
0,01

(Sumber : Hasil Pengukuran dan Perhitungan Iklim Kerja, 2015)

Tabel 4.8 Selisih Hasil ISBB Pengukuran dan Perhitungan di Mushola


PPNS

Lokasi
Pengukura

ISBB

ISBB
o

Pengukuran ( C)

Perhitungan

Selisih (oC)

(oC)

Iklim Kerja

22

Titik 1

79

90,2

11,2

Titik 2

79

89,6

10,6

Titik 3

79

90,2

11,2

(Sumber : Hasil Pengukuran dan Perhitungan Iklim Kerja, 2015)

Tabel 4.9 Selisih Hasil ISBB Pengukuran dan Perhitungan di Ruang Kelas
Praktikum Pengukuran Lingkungan Kerja

ISBB

ISBB

Lokasi

Pengukuran

Perhitungan

Pengukura

(oC)

(oC)

Titik 1

27

27

Titik 2

27

27,15

0,15

Titik 3

26,1

26,01

0,09

Selisih (oC)

Iklim Kerja

23

(Sumber : Hasil Pengukuran dan Perhitungan Iklim Kerja, 2015)

Tabel

4.10

Selisih

Hasil

Rh

Pengukuran

dan

Perhitungan

di

Laboratorium Sheet Metal.

Lokasi

Rh Pengukuran

Rh Perhitungan

Pengukuran

(%)

(%)

Mesin Bubut

76

75,8

Mesin

79

76,8

Mesin Skrab

76

75,4

0,6

Mesin Frais

74

73

Meja Dosen

75

74,8

0,2

Gerinda

Selisih (%)

1,8
2,2

(Sumber : Hasil Pengukuran dan Perhitungan Iklim Kerja, 2015)

Tabel 4.11 Selisih Hasil Rh Pengukuran dan Perhitungan di Mushola


PPNS

Lokasi

Rh Pengukuran

Rh Perhitungan

Pengukura

(%)

(%)

69

74

80

74

Selisih (%)

Titik 1

Iklim Kerja

24

Titik 2

Titik 3

77

74

(Sumber : Hasil Pengukuran dan Perhitungan Iklim Kerja, 2015)

Tabel 4.12 Selisih Hasil Rh Pengukuran dan Perhitungan di Ruang Kelas


Praktikum Pengukuran Lingkungan Kerja.

Lokasi

Rh Pengukuran

Rh Perhitungan

Pengukura

(%)

(%)

Titik 1

78

86,18

8,16

Titik 2

77

80,8

3,8

Titik 3

79

80,8

1,8

Selisih (%)

(Sumber : Hasil Pengukuran dan Perhitungan Iklim Kerja, 2015)

Iklim Kerja

25

4.2

Kebutuhan Kalori per Jam


Setelah mendapatkan hasil ISBB dari pengukuran maupun

perhitungan, maka untuk selanjutnya data yang dihitung adalah


berapa banyak kalori yang dibutuhkan oleh pekerja untuk
melakukan sebuah pekerjaannya tersebut. Dan berikut ini adalah
data sampel pekerja dari setiap tempat kerja yang telah kami
ukur ISBBnya. Data yang kami peroleh menggunakan sample
seorang Laki Laki dengan berat badan 50 kg. Data tersebut
dapat dilihat pada Tabel 4.13.
Tabel 4.13 Data Sampel
Lokasi

Berat Badan

Pengukuran

(Kg)

Jenis Pekerjaan
dan Lama

Beban Kerja

Bekerja
Pekerjaan

Laboratorium
Sheet Metal.

Logam, Jalan
50

ringan dengan

Sedang

kecepatan 3.9
km/jam (3 jam)

(Sumber : Hasil Pengukuran dan Perhitungan Iklim Kerja, 2015)


Lanjutan Tabel 4.13 Data Sampel
Lokasi

Berat Badan

Pengukuran

(Kg)

Jenis Pekerjaan
dan Lama

Beban Kerja

Bekerja
Beribadah,

Mushola PPNS

50

Berdiri dalam
keadaan tenang

Ringan

(10 menit)
Kelas

50

Jalan ringan

Sedang

Praktikum

dengan

Pengukiran

kecepatan

Lingkungan

3.9 km/jam,

Iklim Kerja

26

duduk dalam
keadaan
Kerja

istirahat,
menulis (3
jam)

(Sumber : Hasil Pengukuran dan Perhitungan Iklim Kerja, 2015)

Setelah mendapatkan data dari sampel serta mengetahui


jenis pekerjaan dan lamanya pekerjaan. Selanjutnya adalah
menghitung jumlah kalori yang dibutuhkan untuk melakukan
pekerjaan tersebut, dan berikut adalah hasil perhitungannya.
a. Laboratorium Sheet Metal.
Metabolisme basal pada sampel laki laki dengan BB 50
kg:
0,99 kkal/jam x 3 jamx 60 kg = 49,5 kkal/jam
3 jam
Kalori aktivitas pada sampel laki-laki dengan BB 60 kg
(Melakukan kegiatan dengan mesin Frais / Bubut / Gerinda
/

Skrab

diasumsikan

pekerjaan

kayu,

logam

dan

pengecatan dalam industri = 3,43 kkal/jam dalam waktu


2,5 jam)
3,43 kkal/jam x 2,5 jam x 50 kg = 142,917 kkal/jam
3 jam
Kalori aktivitas pada sampel laki-laki dengan BB 50 kg
(Jalan ringan dengan kecepatan 3.9 km/jam = 2,86
kkal/jam dalam waktu 0,5 jam)

2,86 kkal/jam x 0,5 jam x 60 kg = 23,83 kkal/jam


3 jam

Iklim Kerja

27

Jumlah kalori yang dibutuhkan = 216,246 kkal/jam, jadi


pekerjaan tersebut termasuk dalam beban kerja sedang
menurut PER.13/MEN/X/2011.

b.

Mushola PPNS
Metabolisme basal pada sampel laki laki berat badan 50
kg:
0,99 kkal/jam x 0,167 jam x 50 kg = 49,5 kkal/jam
0,167 jam
Kalori aktivitas pada sampel laki-laki dengan BB 50 kg
( Kegiatan beribadagh diasumsikan berdiri dalam keadaan
tenang = 1,50 kkal/jam dalam waktu 10 menit)
1,50 kkal/jam x 0,167 jam x 60 kg = 75 kkal/jam
0,167 jam
Jumlah kalori yang dibutuhkan = 124,5 kkal/jam, jadi
pekerjaan tersebut termasuk dalam beban kerja ringan
menurut PER.13/MEN/X/2011.

c.

Kelas Praktikum Pengukuran Lingkungan Kerja


Metabolisme basal pada sampel laki laki berat badan 50
kg:
0,99 kkal/jam x 3 jam x 50 kg = 49,5 kkal/jam
3 jam
Kalori aktivitas pada sampel laki-laki dengan BB 50 kg
(Jalan ringan dengan kecepatan 3.9 km/jam = 2,86
kkal/jam dalam waktu 0,5 jam)
2,86 kkal/jam x 0,5 jam x 50 kg = 23,83 kkal/jam
3 jam

Iklim Kerja

28

Kalori aktivitas pada sampel laki-laki dengan BB 50 kg


(Duduk dalam keadaan istirahat = 1,43 kkal/jam dalam
waktu 1,5 jam)
1,43 kkal/jam x 1,5 jam x 50 kg = 35,75 kkal/jam
3 jam
Kalori aktivitas pada sampel laki-laki dengan BB 50 kg
(Menulis diasumsikan mengetik = 2,00 kkal/jam dalam
waktu 1 jam)
2,00 kkal/jam x 1 jam x 60 kg = 33,33 kkal/jam
3 jam
Jumlah kalori yang dibutuhkan = 142,41 kkal/jam, jadi
pekerjaan tersebut termasuk dalam beban kerja ringan
menurut PER.13/MEN/X/2011.

Dari perbandingan ISBB hasil pengukuran dengan perhitungan


dan hasil kalori yang dibutuhkan, dapat ditentukan apakah ISBB pada
lokasi pengukuran sudah memenuhi standar ISBB yang diperkenankan
pada pekerja sesuai dengan Per.13/Men/X/2011. Dan berikut adalah
perbandingannya, yang akan ditampilkan pada Tabel 4.14, 4.15, 4.16.
Tabel 4.14 Perbandingan Hasil Pengukuran dan Perhitungan pada
Laboratorium Sheet Metal.
ISBB (oC) yang di
Lokasi

ISBB

ISBB

Pengukur

Pengukura

Perhitungan

an

n ( C)

( C)

perkenankan
(Per.13/Men/X/201
1)

Iklim Kerja

Keterangan
( Sesuai/
Tidak)

29

Mesin
Bubut
Mesin
Gerinda
Mesin
Skrab
Mesin
Frais
Meja
Dosen

25

27,96

28

Sesuai

28,1

28,09

28

Tidak Sesuai

28,1

27,96

28

Tidak Sesuai

27,9

27,9

28

Sesuai

28

27,97

28

Tidak Sesuai

(Sumber : Hasil Pengukuran dan Perhitungan Iklim Kerja, 2015)


Tabel 4.15 Perbandingan Hasil Pengukuran dan Perhitungan pada
Mushola PPNS
ISBB (oC) yang di

Lokasi
Pengukur

ISBB

ISBB

an

Pengukura

Perhitunga

n (oC)

n ( C)

perkenankan
(Per.13/Men/X/201

Keterangan
( Sesuai/

1)

Titik 1

79

90,2

32

Titik 2

79

89,6

32

Titik 3

79

90,2

32

Tidak)

Tidak
Sesuai

Tidak
Sesuai

Tidak
Sesuai

(Sumber : Hasil Pengukuran dan Perhitungan Iklim Kerja, 2015)

Iklim Kerja

30

Tabel 4.16 Perbandingan Hasil Pengukuran dan Perhitungan pada


Ruang Kelas Praktikum Pengukuran Lingkungan Kerja
ISBB (oC) yang di

Lokasi
Pengukur

ISBB

ISBB

an

Pengukura

Perhitunga

n ( C)

n ( C)

perkenankan
(Per.13/Men/X/201

Keterangan
( Sesuai/
Tidak)

1)

Titik 1

27

27

30,6

Sesuai

Titik 2

27

27,15

30,6

Sesuai

Titik 3

26,1

26,01

30,6

Sesuai

(Sumber : Hasil Pengukuran dan Perhitungan Iklim Kerja, 2015)

Dari Tabel 4.14, 4.15, 4.16 dapat diketahui bahwa nilai ISBB hasil
pengukuran maupun hasil perhitungan terdapat salah satubagian yang
memiliki selisih yang besar. Sehingga perlu dikoreksi lebih lanjut
tentang

keakurasian

dari

alat

ukurnya

(Weather

Instrument/Thermocouple), hal ini dapat terjadi dikarenakan usia dari


alat ukur ini sudah lama dan sering digunakan dan perlu diadakan
pembaharuan terhadap alat ukur ini.
Pada Bengkel Laboratorium Sheet Metal beban kerja pada
pekerja tergolong beban kerja sedang dan pada mushola PPNS
tergolong beban kerja ringan, serta pada kelas Praktikum Pengukuran
Lingkungan Kerja tergolong dalam beban kerja ringan, alokasi untuk
waktu bekerja adalah 75% serta waktu istirahat adalah 25%. Sehingga

Iklim Kerja

31

ISBB yang diperkenankan untuk Laboratorium Sheet Metal, Mushola


PPNS dan kelas Praktikum Pengukuran Lingkungan Kerja masingmasing adalah 28 oC, 30,6 oC, dan 30,6 oC. Pada untuk Laboratorium
Sheet Metal ISBB hasil pengukuran dan perhitungan ada yang sudah
sesuai maupun tidak sesuai dengan standard karena lebih dari 28 oC.
Oleh karena itu, perlu adanya pengendalian terkait iklim kerja tetap
harus ditingkatkan agar mendapatkan kualitas ISBB yang baik. Hal ini
sangat

penting

untuk

meningkatkan

produktivitas

pekerja

dan

menghindarkan pekerja dari penyakit yang disebabkan oleh iklim kerja.


Selain itu di Mushola PPNS perlu juga diadakan pengendalian terkait
iklim kerja karena hasil pengukuran dan pengukuran tidak sesuai
dengan standart karena lebih dari 32oC.
Rekomendasi peningkatan kualitas iklim kerja pada ketiga lokasi
pengukuran yang kami lakukan adalah membuka secara penuh sistem
ventilasi yang ada, dari pintu dan jendela maupun penggunaan
ventilasi mekanik yang disediakan. Seperti blower dan kipas angin juga
harus difungsikan dengan baik dan dijaga, agar tetap bekerja dengan
baik untuk menurunkan suhu diruangan tersebut. Pada Laboratorium
Sheet

Metal

kipas

angin

setelah

melakukan

pekerjaan

dapat

difungsikan dengan baik untuk memberikan nilai ISBB yang rendah dan
memberikan kenyamanan pada pekerja. Selain itu, perlu adanya
pengoptimalan sistem ventilasi mekanik berupa kipas angin pada
mushola PPNS sehingga pekerja dapat beribadah dan beristirahat
dengan nyaman.

Iklim Kerja

32

Iklim Kerja

33

BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Hasil percobaan dan analisa yang telah dilakukan, dapat
disimpulkan bahwa ISBB pada Laboratorium Sheet Metal dan
Mushola PPNS tidak memenuhi standard yang diperkenankan
menurut PER.13/MEN/X/2011 karena lebih dari 28 oC dan 30,6 oC,
sedangkan pada kelas Praktikum Pengukuran Lingkungan Kerja
masih

berada

pada

PER.13/MEN/X/2011,

ISBB

sehingga

yang

diperkenankan

dalam

hal

iklim kerja

menurut
dilokasi

tersebut dinilai masih cukup aman.


Rekomendasi peningkatan kualitas iklim kerja pada ketiga
lokasi pengukuran yang kami lakukan adalah membuka secara
penuh sistem ventilasi yang ada, dari pintu dan jendela maupun
penggunaan ventilasi mekanik yang disediakan. Selain itu, perlu
adanya pengoptimalan system ventilasi mekanik berupa kipas
angin pada Laboratorium Sheet Metal dan Mushola PPNS sehingga
pekerja dapat bekerja dan beristirahat dengan nyaman.

Iklim Kerja

34

DAFTAR PUSTAKA
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.13/MEN/X/2011.,
2011. Mengatur tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia
di Tempat Kerja.
Santiasih, Indri, S.KM., Lukman, Handoko, S.KM, MT. (2012). Modul Praktikum
Pengukuran Lingkungan Kerja, Surabaya: PPNS.
Undang Undang Republik Indonesia Nomor 1., 1970. Tentang Keselamatan
Kerja.
ACGIH, 2005. Tentang Paparan Panas WBGT yang Diperkenankan
Sebagai NAB, ACGIH, USA.
Sumamur PK, 1996. Higiene Perusahaan Dan Kesehatan Kerja.
Jakarta: PT.Toko Gunung Agung.
Sunandar, 2014. IKLIM KERJA (INDEKS SUHU BOLA BASAH)..
http://www.academia.edu/6825892/Laporan_praktikum_K3_I
KLIM_KERJA_INDEKS_SUHU_BOLA_BASAH_Disusun_Oleh_Sun
andar_70200111082. 19 April 2015.
Santoso,
Joko,
2013.
Pengertian

Iklim

Kerja.

http://www.academia.edu/8528596/Pengertian_Iklim_Kerja.
19 April 2015.
Moeljosoedarmo. 2008. Higiene Industri. Jakarta : Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
BSN 2004, SNI 16-7063-2004 Tentang Nilai ambang batas iklim kerja (panas),
kebisingan, getaran tangan-lengan dan radiasi ultra ungu di tempat kerja.

Iklim Kerja

35

Anda mungkin juga menyukai