Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Rahasia dagang bukanlah hal yang baru bagi dunia usaha. Sejak
awal abad ke-sembilan belas, masalah kerahasiaan, khususnya yang
berhubungan dengan rahasia perusahaan, telah memperoleh perhatian yang
tidak kalah pentingnya oleh Pengadilan. Salah satu kasus yang cukup
terkenal, yang diputus di negeri Belanda adalah kasus Cohen vs.
Lindenbaum yang dikenal dengan Drukker Arrest yang diputuskan oleh
Hoge Raad pada tanggal 31 Januari 1919.
Meskipun keberadaan rahasia dagang bukanlah sesuatu hal yang
baru namun suatu pengakuan akan rahasia dagang sebagai bagian dari Hak
Atas Kekayaan Intelektual di Indonesia baru dapat terealisir pada
penghujung tahun 2000, di mana pada tanggal 20 Desember 2000,
Pemerintah Republik Indonesia telah mengundangkan Undang-undang No.
30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang. Undang-undang Rahasia dagang
ini dibuat dengan tujuan untuk memajukan industri nasional yang nantinya
akan mampu bersaing dalam lingkup perdagangan internaisonal. Melalui
undang-undang ini, yang memberikan perlindungan hukum terhadap
Rahasia Dagang sebagai bagian dari Sistem Hak Atas Kekayaan Intelektual,
diharapkan dapat tercipta iklim yang akan mendorong kreasi dan inovasi
masyarakat.

Dalam Blacks Law Dictionary1 yang dikategorikan sebagai rahasia


dagang meliputi formula-formula, pola, formula atau bahan kimia, proses
industri, perawatan atau pengawetan bahan-bahan, pola mesin atau alat lain,
daftar langganan atau alat kompilasi informasi yang digunakan seseorang
dalam bisnisnya dan yang mana memberikan orang tersebut kesempatan
untuk memperoleh keuntungan melebih dari siangannya yang tidak tahu
atau tidak menggunakan itu. Termasuk juga rencana atau proses, peralatan/
perkakas atau bahan mesin yang hanya diketahui olehnya dan pegawainya
yang perlu disampaikan. Namun tidak semua informasi dapat dikategorikan
sebagai rahasia dagang, terdapat perbedaan mengenai apakah yang
digolongkan kedalam rahasia dagang dan apa yang tidak dapat digolongkan
dalam rahasia dagang, hal ini pun sangat berbeda dalam penerapannya di
Negara-negara lain.
Dalam Uniform Trade Secrets Act 1979, yang juga merupakan salah
satu sumber hukum rahasia dagang di Amerika Serikat, menentukan bahwa
substansi atau lingkup informasi rahasia yang dilindungi adalah suatu
rumus, pola-pola, kompilasi, program, alat, metode, teknik atau proses yang
menghasilkan nilai ekonomis secara mandiri, nyata atau potensial.
Sedangkan dalam Seksi 39 Restatement (Third) of Unfair Competition, tidak
membedakan rahasia dagang dengan informasi yang bersifat rahasia lainnya
dan rahasia dagang adalah semua informasi yang digunakan untuk
menjalankan suatu usaha atau bisnis atau perusahaan lain yang bersifat
rahasia dan mempunyai nilai ekonomi.
1 Campbell Black, Henry, M.A, Blacks Law Dictionary With Pronunciations,
Sixth Edition, (St. Paul, Minn : West Publishing, 1990), hal. 1494

Bahwa Indonesia pada tanggal 2 Nopember 1994, melalui UU No. 7


tahun 1994 telah mengundangkan Agrrement Establishing the World trade
Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia).
Dengan ini berarti Indonesia telah membuka pintu masuk bagi masuknya
globalisasi perdagangan yang diikuti dengan proses pemberlakuan aturanaturan main perekonomian dan perdagangan dunia ke Indonesia, termasuk
TRIPs, HAKI dan Rahasia Dagang.
Berkenaan dengan hal ini, maka para investor dan pelaku bisnis
merasa sangat berkepentingan terhadap adanya perlindungan penemuan
teknologi dan rahasia dagangnya melalui sistem perlindungan HAKI sesuai
dengan standar internasional. Bagi mereka perlindungan memadai terhadap
rahasia dagang dan HAKI pada umumnya merupakan salah satu dasar
pertimbangan untuk melakukan perdagangan dan investasi di suatu negara.
Dipandang dari sudut hukum hal ini dapat dipahami dan sangat
beralasan, sebab pelanggaran terhadap rahasia dagang pada gilirannya
secara ekonomis akan sangat merugikan para penemu dan pemilik hak
tersebut. Apalagi jika dikaitkan dengan globalisasi perdagangan, maka
perlindungan terhadap rahasia dagang merupakan suatu syarat mutlak.
Sebab dalam era globalisasi itu, rahasia dagang telah menjadi faktor yang
sangat esensial dalam upaya persaingan dagang yang jujur (fair
competition), sekaligus merupakan komoditas yang sangat berharga dan
memiliki nilai ekonomis tinggi.
Di dalam suatu praktik bisnis apabila hak dan kewajiban para pihak
tidak dilaksanakan biasanya akan terjadi sengketa. Begitupula didalam

Rahasia Dagang, Sengketa Rahasia dagang dapat terjadi karena seseorang


tidak bisa menjaga Rahasia itu dengan baik. Biasanya, seseorang akan
membocorkan Rahasia dagang suatu perusahaan apabila diiming imingi
uang yang berjumlah besar.
Ketentuan tentang pelanggaran rahasia dagang diatur dalam Bab VII
Pasal 13, Pasal 14, dan Pasal 15 UU Rahasia Dagang. Pasal 13 menyatakan:
Pelanggaran rahasia dagang dapat juga terjadi apabila seseorang
dengan sengaja mengungkapkan rahasia dagang, mengingkari kesepakatan
atau mengingkari kewajiban tertulis atau tidak tertulis untuk menjaga
rahasia dagang yang bersangkutan.
Berdasarkan ketentuan tersebut, maka pelanggaran rahasia dagang
dianggap

telah

terjadi

jika

terdapat

seseorang

dengan

sengaja

mengungkapkan informasi atau mengingkari kesepakatan atau mengingkari


kewajiban (wanprestasi) atas perikatan yang telah dibuatnya baik tersurat
maupun tersirat untuk menjaga rahasia dagang dimaksud
Oleh karena itulah, penulis tertarik untuk membahas lebih dalam
mengenai perlindungan rahasia dagang dan penyelesaian sengketa hukum
terhadap sengketa rahasia dagang, yang dalam hal ini penulis akan
memberikan salah satu contoh putusan sengketa rahasia dagang di Amerika
Serikat dan kemudian akan membahas lebih dalam tentang putusan sengketa
rahasia dagang di Indonesia antara PT Kota Minyak Automation VS Danar
Dono dalam putusan Majelis Hakim No. 783 K/Pid.Sus/2008 tahun 2008.

B. Permasalahan
Adapun yang menjadi pokok permasalahan yang akan dibahas
dalam makalah ini adalah sebagai berikut?
1. Bagaimanakah sistem perlindungan rahasia dagang di Indonesia?
2. Bagaimanakah pengaturan penyelesaian sengketa rahasia dagang di
Indonesia?
3. Apakah putusan Majelis Hakim No. 783 K/Pid.Sus/2008 dalam
perkara tindak pidana rahasia dagang sudah sesuai dengan peraturan
hukum positif di Indonesia?
C. Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
pelaksanaan perlindungan rahasia dagang di Indonesia berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sementara itu secara khusus,
penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui sistem perlindungan rahasia dagang.
2. Mengetahui penyelesaian sengketa hukum rahasia dagang.
3. Mengetahui penegakkan perlindungan hukum rahasia dagang pada
kasus PT Kota Minyak Automation VS Danar Dono dalam putusan
Majelis Hakim No. 783 K/Pid.Sus/2008 tahun 2008.

BAB II
PERLINDUNGAN RAHASIA DAGANG DI INDONESIA
A. Latar Belakang Perlindungan Rahasia Dagang

Rahasia dagang merupakan suatu bentuk perlindungan terhadap


kekayaan intelektual dan juga merupakan bagian dalam bidang Hak Atas
Kekayaan Intelektual (HAKI). HAKI adalah hak yang berasal dari hasil
kegiatan kreatif suatu kemampuan daya pikir manusia yang diekspresikan
kepada masyarakat dalam berbagai bentuk yang memiliki manfaat dan
berguna dalam menunjang kehidupan manusia, serta memiliki nilai
ekonomis. Bentuk nyata dari kemampuan karya intelektual tersebut dalam
dilihat dalam bidang teknologi, ilmu pengetahuan, maupun seni dan sastra. 2
Atas hasil karya tersebut secara umum diakui bahwa yang menciptakan
boleh menguasainya untuk tujuan yang menguntungkannya, serta dengan
prinsip bahwa pemiliknya berhak berbuat apa saja sesuai dengan
kehendaknya dan memberikan isi yang dikehendakinya hubungan
hukumnya, dengan pembatasan kesusilaan, ketertiban umum, serta
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dalam penciptaan dan perkembangan, HAKI merupakan hak milik
yang bersifat pribadi namun pada waktu telah digunakan sifat tersebut akan
berubah menjadi umum, yaitu kepemilikan yang bersifat umum3, sehingga
diperlukan suatu perlindungan hukum bagi HAKI.
Sejalan dengan perkembangan kebutuhan

akan

pentingnya

perlindungan HAKI secara Internasional, serta sebagai realisasi akan


perlunya suatu peraturan yang bersifat global dalam bidang HAKI,

2 Muhammad Djumhama dan R.Djubaedillah Hak Milik Inteletual, Sejarah, Teori dan
Praktek, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1997), hal.7- 15.

3 Henry Soelistyo Budi, Tindakan Pemerintah Dalam Mengatasi Pelanggaran Di Bidang


HAKI, Newsletter (No. 31/VIII/Desember 1997).

menyebabkan lahirnya konvensi-konvensi internasional yang mengatur


mengenai HAKI, antara lain sebagai berikut:
1. The Paris Convention for the Protection of Industrial Property
(Paris Convention).
2. International Convention for the Protection of Literary and
Artistic Works (Berne Convention)
Awalnya kedua konvensi tersebut mempunyai dua organisasi yang
berbeda, kemudian timbul keinginan untuk membentuk suatu organisasi
global untuk HAKI secara keseluruhan. Maka melalui konfrensi Stockholm
pada tahun 1967 dibentuk suatu konvensi untuk pembentukan suatu
organisasi international yang menangani masalah HAKI dan sebagai
pengelola tunggal dari Paris Convention dan Berne Convention yaitu yang
dikenal dengan Convention Establishing The World Intellectual Property
Organization/WIPO.4
Berkembangnya kebutuhan akan perlindungan atas kekayaan
intelektualitas seseorang menyebabkan WIPO tidak sesuai lagi dengan
perkembangan dalam bidang HAKI ini. Hal tersebut dikarenakan tidak
adanya lembaga yang mengatur tentang penyelesaian sengketa dalam
WIPO, dan lembaga-lembaga lain yang ada dirasa kurang efektif dalam
menyelesaikan sengketa.5 Selain itu juga terdapat perbedaan perlakukan
dalam penerapan perlindungan HAKI bagi Negara yang tidak menjadi

4 Djumhana, op.cit
5 ibid

anggota perjanjian HAKI tersebut, sehingga menyebabkan terhambatnya


perdagangan internasional.6
Adanya nilai ekonomis yang terdapat dalam HAKI ini, maka
mulainya pertumbungan kepentingan dan kondisipersaingan internasional
yang semakin ketat memerlukan suatu standar peroteksi dan pelaksanaan
hukum yang efektif terutama dalam bidang HAKI. Alasan-alasan tersebut
mendorong Negara maju untuk memasukkan perundingan dibidang HAKI
kedalam perjanjian GATT yang kemudian melahirkan perjanjian Trade
Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPS).
Hal lainnya adalah perdebatan rahasia dagang yang melewati batasbatas Negara menimbulkan problema khusus karena hukum substantif dari
rahasia dagang berbeda dari suatu Negara dengan Negara lainnya, dan
karena putusan pengadilan mengenai kasus-kasus rahasia dagang disuatu
Negara mungkin tidak dapat dilaksanakan di Negara-negara lainnya.7
Oleh karena sifatnya hubungan antara HAKI dan perdagangan
internasional,

maka

perjanjian

TRIPs

mengatur

mengenai

stadar

perlindungan yang tinggi dan penegakkan hukum yang ketat terhadap HAKI
dibandingkan peraturan perundang-undangan nasional maupun konvensikonvensi internasional HAKI sebelumnya. Perjanjian TRIPs juga berujuan
untuk mengharmonisasikan standar perlindungan-perlindungan HAKI bagi
Negara-negara anggotanya.8
Tersedianya lembaga penyelesaian dalam perundingan GATT yang
kemudian menjadi Organisasi Perdagangan International (WTO) akan
6ibid
7 Cita Citrawinda Priapantja, Budaya Hukum Indonesia Menghadapi
Globalisasi: Studi kasus Perlindungan Rahasia Dagang di Bidang Farmasi
Disertasi Doktor Universitas Indonesia, Jakarta 1999, hal.187.

memberikan kemampuan untuk menyelesaikan sengketa dagang yang


timbul dengan efektif terutama yang berkaitan dengan masalah HAKI.
Tetapi karena WTO sebagai badan perdagangan intersional tidak memiliki
ahli-ahli dalam bidang HAKI seperti halnya yang dimiliki oleh WIPO, maka
WTO hanya bertanggungjawab dalam bidang penyelesaian sengketa
sedangkan tanggung jawab dalam masalah substansi HAKI tetap berada
dibawa WIPO.9
B. Pengertian dan Sistem Perlindungan Rahasia Dagang
Undang-Undang No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang yang
terdiri dari 11 Bab dan 9 Pasal ini mengatur pengertian atau definisi dari
Rahasia Dagang dalam rumusan angka 1 Pasal 1, dengan rumusan sebagai
berikut :
Rahasia Dagang adalah informasi yang tidak diketahui oleh umum di
bidang teknologi dan/atau bisnis, mempunyai nilai ekonomi karena
dalam kegiatan usaha, dan dijaga kerahasiaannya oleh pemilik Rahasia
Dagang.
Jika kita perhatikan rumusan yang diberikan, akan dapat kita tarik
suatu bahwa pengertian Rahasia Dagang terdiri dari unsur-unsur sebagai
berikut:
a) adanya pengertian mengenai informasi;
b) informasi tersebut merupakan informasi yang tidak diketahui oleh umum;
c) informasi tersebut berada dalam lapangan teknologi dan/atau bisnis;
d) informasi tersebut harus memiliki nilai ekonomi; dan
8 Direktorat Hubungan perdagangan Multirateral Dan Regional, Departemen
Perindustrian Dan Perdagangan Haki Dan Persetujuan TRIPs World Trade
Organization, Jakarta, 1997.
9 Ibid

e) informasi tersebut harus dihaga kerahasiaannya oleh pemiliknya.


Kecenderungan dipilihnya bentuk perlindungan melalui rahasia
dagang setidaknya dilandasi oleh dua alasan. Pertama karena seringkali
substansi yang diinginkan untuk mendapat perlindungan merupakan hal
yang tidak dapat diberi paten, seperti halnya daftar pelanggan perusahaan,
data keuangan, nota-nota bisnis dan lain-lain. Kedua, mungkin juga hal
yang ingin dilindungi sebenarnya memungkinkan untuk diberi hak paten,
tetapi inventor lebih memilih bentuk perlindungan rahasia dagang karena
berbagai alasan seperti jangka waktu perlindungan yang tidak terbatas, nilai
kerahasiaan yang lebih terjamin, mahalnya biaya di kantor paten dan
formalitas pendaftaran yang lebih rumit. Untuk lebih jelasnya berikut ini
dipaparkan

keuntungan-keuntungan

dan

kerugian-kerugian

sistem

perlindungan rahasia dagang.


Sebagai perbandingan, dalam perundang-undangan di Amerika
Serikat saat ini pengertian rahasia dagang dalam pengertian luas terdapat
dalam Uniform Trade Secret Act (UTSA), suatu undang-undang yang telah
diadopsi oleh 39 negara bagian di Amerika Serikat. Rahasia dagang
didefinisikan sebagai informasi termasuk suatu rumus, pola-pola, kompilasi,
program, metoda teknik atau proses yang menghasilkan nilai ekonomis
secara mandiri, nyata dan potensial. Informasi itu sendiri bukan merupakan
informasi yang diketahui umum dan tidak mudah diakses oleh orang lain
untuk digunakan sehingga yang bersangkutan mendapat keuntungan
ekonomis.

10

Selanjutnya Philip Griffith mendefinisikan rahasia dagang atau


trade secret adalah sebagai berikut10:
trade secret is information (including a formula, pattern,
compilation of data or information, program, device, method, technique or
process), which derives economic value from not being generally known
and which subject of effort to keep it secret.
Berkaitan dengan sistem perlindungan rahasia dagang di Indonesia
yang diatur dalam UU No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang (UU
Rahasia Dagang atau UURD). Perlindungan Rahasia Dagang walaupun
tidak mensyaratkan pendaftaran di Ditjen HKI sebagaimana paten, namun
tidak berarti dapat diperoleh secara otomatis. Pemilik rahasia dagang perlu
memahami UU Rahasia Dagang untuk mengenali hal-hal yang harus
dilakukan dan juga harus dihindari agar terhidar dari kehilangan
perlindungan tersebut.
Perlindungan melalui Rahasia Dagang atau Trade Secret seringkali
menjadi alternatif manakala sebuah penemuan tidak dapat diberi paten
karena

tidak

memenuhi

persyaratan

paten.

Namun,

mekanisme

perlindungan rahasia dagang banyak juga dipilih untuk penemuanpenemuan yang sesungguhnya dapat diberi paten, dengan alasan sebagai
berikut:
1. Perlindungan Rahasia Dagang tidak memiliki batas waktu perlindungan
sebagaimana paten. Jangka waktu perlindungan paten dibatasi, hanya
diberikan selama 20 tahun dan setelah masa perlindungan lewat,
penemuan menjadi milik umum (public domain). Sebaliknya, sebuah
rahasia dagang tidak ada batas waktu perlindungan. Selama pemiliknya
10 Rahmi Jened. Perlindungan Trade Secret (Rahasia Dagang) Dalam Rangka
Persetujuan Trade Related Aspects Of Intellectual Property Rights (Trips), dalam
Yuridika, Vol. 14, No. 1, Jan Feb. 1999. Hal.16, sebagaimana mengutip dari Philip
Griffith. Executive Summary of Trade Secret Paper. Makalah Pelatihan HAKI. FH Unair
bekerja sama dengan Tim Keppres 34 dan IASTP. Surabaya. 10-25 September 1997, hal. 1
-2.

11

menjaga rahasia dagangnya dari akses publik, selama itu pula rahasia
dagangnya terlindungi;
2. Rahasia Dagang tidak mensyaratkan pendaftaran di institusi pemerintah
tertentu sebagaimana paten sehingga perlindungan hukum dapat
diperoleh segera; berbeda dengan rahasia dagang, pemohon paten
diwajibkan untuk mengungkapkan penemuannya secara detail kepada
publik dalam permohonan patennya.
Untuk dapat memperoleh perlindungan sebagai Rahasia Dagang,
beberapa standar atau persyaratan umum yang harus dipenuhi di antaranya
adalah:
Informasi tersebut harus merupakan informasi yang dirahasiakan (tidak
dapat diakses oleh pihak lain selain pemiliknya atau pihak-pihak
tertentu yang diberi izin oleh pemiliknya);
Informasi rahasia tersebut memiliki nilai komersial;
Ada upaya-upaya dari pemiliknya untuk menjaga kerahasiaan
(misalnya dengan membuat perjanjian kerahasiaan (confidentiality
agreement) dengan pihak-pihak yang diberi akses kepada informasi
rahasia tersebut.
Pemilik Rahasia Dagang memiliki hak untuk menggunakan sendiri
Rahasia Dagang yang dimilikinya dan memberikan Lisensi kepada atau
melarang

pihak

lain

untuk

menggunakan

Rahasia

Dagang

atau

mengungkapkan Rahasia Dagang itu kepada pihak ketiga untuk kepentingan


yang bersifat komersial (Pasal 4 UURD).
Apabila upaya-upaya menjaga kerahasiaan telah dilakukan sesuai
UU Rahasia Dagang, maka jika terjadi penggunaan atau pengungkapan

12

informasi rahasia tersebut kepada pihak ketiga untuk kepentingan


komersial, dapat diduga telah terjadi pelanggaran rahasia dagang. Pemegang
Hak Rahasia Dagang atau penerima Lisensi dapat mengambil tindakan
hukum baik secara perdata (Pasal 11 UURD) atau pidana (Pasal 17 UURD)
terhadap siapa pun yang dengan sengaja dan tanpa hak melakukan
pelanggaran rahasia dagang dengan cara mengungkapkan Rahasia Dagang,
mengingkari kesepakatan atau mengingkari kewajiban tertulis atau tidak
tertulis untuk menjaga Rahasia Dagang yang bersangkutan secara sengaja.
Pelanggaran juga dianggap terjadi pada saat seseorang memperoleh atau
menguasai Rahasia Dagang tersebut dengan cara yang bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

C. Kelebihan dan Kelemahan Perlindungan Rahasia Dagang


Kelebihan-kelebihan perlindungan rahasia dagang, antara lain
sebagai berikut:
a. Dibandingkan dengan jangka waktu perlindungan atas paten yang hanya
17 tahun di Amerika Serikat (di Indonesia telah diperpanjang menjadi
20

tahun)

maka

perlindungan

melalui

rahasia

dagang

lebih

menguntungkan karena jangka waktunya tidak terbatas, sebagai mana


disebutkan dalam Pasal 9 ayat (1) UU No. 13 Tahun 1997 tentang
Perubahan Atas UU No. 6/1989 tentang Paten. Untuk penemuanpenemuan dan rumus-rumus di bidang produksi perdagangan jangka
waktu ini menjadi demikian penting karena jika dilindungi dengan paten
maka setelah habisnya jangka waktu itu maka informasi akan menjadi

13

milik umum (public domain) dan setiap orang dapat mengaksesnya


tanpa perlu takut dinyatakan sebagai pelanggar HAKI, sedangkan
informasi itu sendiri merupakan salah satu potensi strategis yang
seharusnya dipegang teguh untuk dapat bersaing dengan kompetitor.
Melalui sistem perlindungan rahasia dagang, maka informasi itu dapat
dilindungi seterusnya dan haknya tetap melekat pada pemiliknya.
Rahasia dagang pun seringkali tidak memenuhi syarat jika harus
didaftarkan dalam sistem paten, karena tidak memenuhi syarat paten. Di
samping itu perlu juga dipenuhi syarat-syarat seperti harus ada unsur
kebaruan, dan dapat diterapkan dalam industri.
b. Melalui sistem perlindungan rahasia dagang, maka segala informasi
penting perusahaan akan tetap terjaga kerahasiaannya, karena informasi
itu tetap bersifat tertutup (undisclosed), hal ini sangat penting mengingat
keterbukaan informasi tersebut dapat dimanfaatkan oleh kompetitor
untuk membuat produk yang sama.
c. Dalam sistem hukum paten hanya penemu pertama yang boleh
mendaftarkan patennya, namun dalam rahasia dagang hal ini tidak diatur
artinya sepanjang waktu orang boleh menyimpan rahasia dagangnya dan
memelihara haknya dari gangguan orang lain, tanpa perlu memikirkan
apakah orang lain juga mempunyai informasi serupa, dengan catatan
bahwa informasi itu bukan merupakan informasi umum atau milik
umum.
d. Dari segi biaya, perlindungan penemuan melalui rahasia dagang relatif
lebih

murah

dibandingkan

dengan

paten,

karena

tidak

perlu

14

mengeluarkan iuran tahunan dan biaya-biaya yang berkaitan dengan


formalitas pendaftaran seperti halnya pada paten. Hal ini menjadi salah
satu faktor yang dipertimbangkan inventor.
e. Secara faktual terdapat hal-hal yang tidak dapat dilindungi paten, tetapi
justru dapat dilindungi oleh rahasia dagang, seperti daftar pelanggan,
formulir-formulir, dll. Informasi-informasi bisnis seringkali tidak
merupakan hal yang memenuhi syarat untuk dilindungi paten, karena
beberapa

alasan

seperti

tidak

mengandung

langkah

inventif,

kemungkinan adanya
Sedangkan kekurangan-kekurangan rahasia dagang yaitu, sebagai
berikut:
a. Rahasia dagang mungkin juga ditemukan oleh pihak ketiga sebagai
kompetitor. Di Amerika Serikat jika rahasia dagang itu telah
berlangsung dalam jangka waktu 1 (satu) tahun dan telah dilaksanakan
secara komersial, maka penemu pertama tidak mungkin mempatenkan
temuannya itu, meskipun pada waktu ditemukan penemuan itu adalah
original.
b. Upaya perlindungan rahasia dagang dapat mempengaruhi produktifitas
karena sistem perlindungannya yang sangat ketat sehingga memerlukan
metode yang sangat rapi termasuk dalam rangka hubungan perusahaan
dengan

karyawan.

Hal

ini

dapat

mempengaruhi

keberhasilan

manufaktur, akibat hilangnya keuntungan tambahan yang mestinya


diperoleh karena sistem perlindungan ini.
c. Perlindungan atas rahasia dagang hanya

berlangsung

selama

kerahasiaannya itu terjaga dengan baik, sekali rahasia itu terpublikasi


oleh pemiliknya, maka tidak akan ada lagi perlindungan. Oleh karena itu

15

seorang pemilik rahasia dagang harus mengeluarkan biaya dan tenaga


yang terus-menerus untuk melindungi informasi yang dimilikinya itu,
dengan pengertian lain bahwa tanggung jawab perlindungan sepenuhnya
diserahkan kepada pemilik informasi. Hal ini berbeda dengan paten
yang tidak membebankan kewajiban serupa karena stelsel konstitutif
telah secara langsung melindungi pemilik meskipun paten tersebut telah
dipublikasikan.

BAB III
PENYELESAIAN SENGKETA RAHASIA DAGANG DI
INDONESIA
A. Pengaturan Ketentuan Rahasia Dagang di Amerika Serikat (Studi
Kasus Zynga Inc Vs Alan Patmore)
Sebelum membahas mengenai mekanisme penyelesaian sengketa
rahasia dagang di Indonesia, penulis dalam hal ini akan membahas terlebih
dahulu ketentuan rahasia dagang di amerika serikat agar kita lebih
memahami mengenai perbedaan pengaturan rahasia dagang antara Amerika
Serikat dan Indonesia.

16

Di Amerika Serikat peraturan yang mengenai rahasia dagang diatur


oleh hukum Negara. Hingga pada tahun 1979, konfrensi nasional mengenai
penyeragaman hukum Negara di Amerika menyetujui The Uniform Trade
Secret Act (UTSA) yang mana telah digunakan banyak Negara bagian
untuk mengkodifikasi hukum mengenai rahasia dagang mereka. Sebanyak
41 negara bagian dan District of Colombia telah meratifikasi seluruh atau
beberapa bagian dari UTSA, sementara Undang undang Negara yang
tidak bedasarkan UTSA telah diratifikasi oleh Negara bagian Alabama,
Massachuset, North Carolina. New Jersey, Pensylvania, New York,
Tennesse, Texas dan Wyoming belum memberlakukan undang undang
mengenai rahasia dagang dan terus bersandar terutama pada pernyataan
pertama sebagai sumber prinsip yang mendasar.11
UTSA mendefinisikan rahasia dagang as information, including a
formula, pattern, compilation, program, device, method, technique, or
process, that: (i) derives independent economic value, actual or potential,
from not being generally known to, and not being readily ascertainable by
proper means by, other persons who can obtain economic value from its
disclosure or use; and (ii) is the subject of efforts that are reasonable under
the circumstances to maintain its secrecy. Rahasia dagang yang dimaksud
adalah berupa informasi, termasuk formula, pola, kompilasi, program,
perangkat, metode, teknik, atau proses yang: (i) berasal dari nilai ekonomi
bebas, actual atau potensial, dari tidak diketahui secara umum, dan tidak

11 Neil R Belmore, Kevin Sartorio, Trade Secret Law in Canada and The United
State, Presented to The Canadian Institutes Canadian / American Intellectual
Property Symposium 9 and 10 November 2000 .Toronto, hal 2.

17

mudah diketahui dengan cara yang tepat, orang lain yang dapat memperoleh
nilai ekonomi dari penggunaannya maupun keterbukaannya; dan (ii) adalah
subyek dari upaya dalam keadaan yang wajar untuk menjaga kerahasiaan.
Banyak cara yang dapat ditempuh oleh para pengusaha dalam
memperoleh keunggulan dari perusahaan lainnya. Salah satu contohnya
dapat kita lihat dari kasus yang terjadi di Amerika, Zynga Inc. yang
menggugat pegawainya Alan Patmore et al. Secara singkatnya, kasus Zynga
versus Alan Patmore ini sebagai berikut.12
1. Zynga Inc. adalah sebuah sebuah perusahaan games sosial yang
mempekerjakan lebih dari 2.900 pegawai di seluruh dunia dan dikenal
sebagai pembuat game-game yang sangat terkenal, seperti Farm Ville,
City Ville, Words With Friends, dan Castle Fields.
2. Zynga Inc. sangat tidak dapat mentolerasi pencurian data-data yang
sensitif dan berharga, sehingga Zynga Inc. mengajukan gugatan untuk
memastikan ganti rugi terhadap kerugian yang dialami dan untuk
menghindari penggunaan data rahasia tersebut.
3. Pada saat itu, tergugat, Alan Patmore adalah General Manager untuk
City Ville. Sebagai General Manager, Patmore memiliki akses terhadap
beberapa rahasia dagang Zynga Inc.
4. Pada tanggal 15-16 Agustus 2012, sehari sebelum dan sesudah Ia keluar
(resign) dari Zynga Inc., Patmore merencanakan tindakan untuk mencuri
data-data Zynga Inc. Pertama, Patmore mengumpulkan lebih dari 760
data Zynga yang hendak Ia curi ke dalam sebuah folder yang diberi
12 http://tsi.brooklaw.edu/cases/zynga-inc-v-alan-patmore-et-al,
diakses pada tanggal 7 April 2015

18

nama Zynga. Patmore menyimpan data tersebut dalam piranti desktop


miliknya.
5. Selanjutnya, Patmore menyalin folder Zynga dan lebih dari 760 datadata Zynga yang tersimpan di dalamnya ke dalam Dropbox yang
tehubung dengan cloud storage milik pribadi Patmore. Pada saat
Patmore memindahkan data ke dalam Dropbox, Patmore dapat
melakukan (1) mempertahankan data-data Zynga setelah meninggalkan
Zynga; (2) mengakses dari computer manapun atau perangkat manapun
yang terhubung dengan akun Dropbox Patmore.
6. Patmore kemudian mencoba untuk menutupi jejaknya dengan
melakukan uninstall dan menghapus program dropbox dari computer
(dikhususkan untuk program zynga. Tindakan tersebut tidak berhasil dan
meninggalkan jejak forensic atas

perbuatan pelanggaran yang

dilakukannya.
Terjadinya pengungkapan informasi yang dimiliki satu pihak kepada
pihak lainya tanpa diketahui oleh pihak pemilik informasi dapat
menimbulkan kerugian bagi pemilik informasi tersebut. Dalam kasus di
atas, pengambilan informasi dilakukan oleh pegawai dari pemilik informasi
dimana sebenarnya masalah ini ada pengaturannya.

Pengaturan yang

dimaksud disini adalah kewajiban bagi buruh untuk menjaga kerahasiaan


informasi

yang dimiliki oleh tempat di mana ia bekerja berdasarkan

perjanjian yang mengaturnya.


Hubungan Rahasia Dagang dengan perjanjian kerja jika dilihat dari
contoh kasus Zynga versus Alan Patmore et al, jelas terlihat bahwa ada
hubungan antara Rahasia Dagang dengan tenaga kerja. Seorang pekerja

19

dapat menimbulkan apa yang dinamakan pelanggaran Rahasia Dagang


dengan memberikan informasi perusahaannya terhadap perusahaan lainnya.
Seorang pegawai memiliki kewajiban terhadap perusahaannya untuk
menjaga Rahasia Dagang perusahaannya.
B. Pelanggaran Rahasia Dagang dan Tindak Pidana Rahasia Dagang
dalam Hukum Indonesia
Ketentuan tentang pelanggaran rahasia dagang diatur dalam Bab VII
Pasal 13, Pasal 14, dan Pasal 15 UU Rahasia Dagang. Pasal 13 menyatakan:
"Pelanggaran rahasia dagang dapat juga terjadi apabila seseorang dengan
sengaja mengungkapkan rahasia dagang, mengingkari kesepakatan atau
mengingkari kewajiban tertulis atau tidak tertulis untuk menjaga rahasia
dagang yang bersangkutan."
Berdasarkan ketentuan tersebut, maka pelanggaran rahasia dagang
dianggap

telah

terjadi

jika

terdapat

seseorang

dengan

sengaja

mengungkapkan informasi atau mengingkari kesepakatan atau mengingkari


kewajiban (wanprestasi) atas perikatan yang telah dibuatnya baik tersurat
maupun tersirat untuk menjaga rahasia dagang dimaksud.
Seseorang pun dianggap telah melanggar rahasia dagang orang lain
jika ia memperoleh atau menguasai rahasia dagang tersebut dengan cara
yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.13
Kekecualian terhadap ketentuan pelanggaran rahasia dagang ini
diberikan terhadap pengungkapan atau penggunaan rahasia dagang yang
13 Ramli Ahmad M, Perlindungan Rahasia Dagang dalam UndangUndang No.30 Tahun 2000 dan Perbandingannya Dengan Ketentuan
Amerika Serikat Dan Kanada, JURNAL HUKUM BISNIS Vol 13 (2001): April
2001.

20

didasarkan untuk kepentingan pertahanan keamanan, kesehatan, dan


keselamatan masyarakat di samping berlaku pula untuk tindakan rekayasa
ulang atas produk yang dihasilkan dari penggunaan rahasia dagang milik
orang lain yang dilakukan semata-mata untuk kepentingan pengembangan
lebih lanjut produk yang bersangkutan.14
Ketentuan tentang pengecualian terhadap pelanggaran rahasia
dagang tersebut seharusnya juga dilengkapi dengan ketentuan yang secara
tegas mengatur tentang pengungkapan rahasia dagang oleh seseorang di
depan sidang pengadilan atas perintah hakim. Atas perintah hakim,
seseorang yang mengungkapkan rahasia dagang di depan sidang pengadilan
seharusnya juga ditetapkan sebagai suatu kekecualian sehingga yang
bersangkutan tidak dianggap telah melakukan pelanggaran rahasia dagang.
Ketentuan Pasal 18 tentang dimungkinkannya sidang pengadilan berkaitan
dengan rahasia dagang bersifat tertutup (atas permintaan para pihak yang
bersengketa) juga tidak secara tegas maupun tersirat bermaksud mengatur
pengecualian di atas.15
Di Amerika Serikat tindakan yang dianggap sebagai pelanggaran
rahasia dagang antara lain berupa tindakan perolehan rahasia dagang secara
tidak patut, pengungkapan atau penggunaan rahasia dagang milik orang lain
tanpa izin ataupun pada saat pengungkapan atau penggunaan rahasia dagang
tersebut ia mengetahui dan patut menduga bahwa informasi itu telah

14 ibid
15 Ibid

21

diperoleh secara tidak patut, atau diperoleh dari pihak yang seharusnya
berkewajiban memelihara rahasia dagang itu.16
Sedangkan tindak pidana rahasia dagang diatur dalam Pasal 17 UU
Rahasia dagang, yang berisi:
1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan Rahasia
Dagang pihak lain atau melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 13 atau Pasal 14 dipidana dengan pidana penjara paling
lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 300.000.000,00
(tiga ratus juta rupiah).
2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan delik
aduan.

C. Penyelesaian Sengekta di Bidang Rahasia Dagang menurut Hukum


Indonesia
Dalam UU Rahasia Dagang disebutkan mekanisme penyelesaian
sengketa yang diatur dalam pasal 11. Yaitu sebagai berikut:

1) Pemegang

hak rahasia dagang atau penerima lisensi dapat menggugat

siapapun yang dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan


sebagaiman dimaksud dalam Pasal 4, berupa :

a.

gugatan ganti rugi; dan/atau

b.

penghentian semua perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal


4.

2) Gugatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diajukan ke


Pengadilan Negeri."

16 Ibid

22

Penyelesaian sengketa di bidang rahasia dagang dapat diajukan


penyelesaiannya melalui Pengadilan Negeri, namun demikian, Pengadilan
bukanlah satu-satunya jalan atau cara penyelesaian perkara berkaitan
dengan rahasia dagang. Berdasarkan ketentuan Pasal 12 UU Rahasia
Dagang maka penyelesaian perkara berkaitan dengan rahasia dagang dapat
pula dilakukan melalui arbitrase atau melalui alternatif penyelesaian
sengketa (negosiasi, mediasi, konsiliasi, dan cara-cara lain yang disepakati
para pihak) sesuai dengan ketentuan UU No. 30 Tahun 1999 Tentang
Alternatif Penyelesaian Sengketa dan Arbitrase.
Mekanisme penyelesaian sengketa di bidang rahasia dagang dapat
diselesaikan melalui dua sistem penyelesaian sengketa, yaitu baik melalui
sistem ajudikasi maupun non-ajudikasi. Bahkan dalam mekanisme ajudikasi
juga dapat ditempuh dua jalur penyelesaian sengketa, yaitu litigasi maupun
non-litigasi.
Dengan demikian diharapkan bahwa sengketa-sengketa berkaitan
dengan rahasia dagang dapat diselesaikan sebaik-baiknya melalui penerapan
secara optimal lembaga dan mekanisme penyelesaian sengketa yang ada,
serta penerapan prinsip-prinsip penyelesaian sengketa yang optimal pula.
D. Studi Kasus Pelanggaran Rahasia Dagang di Indonesia Antara PT
Kota Minyak Automation VS Danar Dono
1. Ringkasan Kasus
Kasus ini terjadi di Jakartapada tahun 2007 dan kemudian dibawa
ke Mahkamah Agung pada tahun 2008. Pihak yang menjadi terdakwa
dalam perkara ini ialah Danar Dono, Karyawan PT. Kota Minyak
Automation sebuah perusahaan di Indonesia. Terdakwa dalam hal ini
membocorkan rahasia perusahaan tempatnya bekerja kepada saingan
perusahaanya dengan cara-cara sebagai berikut:
Maret 2007, Danar Dono yang bekerja di PT Kota Minyak Automation
membuat design, gambar, dokumentasi, kalkulasi harga untuk

23

penyusunan proposal tender pengadaan barang berupa cerobong api di

PT. Medco E&P Indonesia.


Tanpa diketahui oleh PT Kota Minyak Automation, Danar Dono juga
mengerjakan proposal yang sama untuk perusahaan saingan yaitu PT
Envico dengan tujuan memenangkan tender dari PT. Medco E&P
Indonesia yang sedang diikuti oleh PT Kota Minyak Automation. PT
Envico meminta Danar Dono untuk mengerjakan proposal tersebut
karena Danar Dono telah mengatakan bahwa ia telah keluar dari PT
Kota Minyak Automation. Atas keperluan ini PT Envico membayar 200

juta rupiah pada Danar Dono.


Danar Dono kemudian dengan

sengaja

membuatkan

proposal

penawaran PT Kota Minyak Automation dengan harga yang lebih tinggi


dengan jumlah penawaran sebesar $ 128.404,00 sedangkan untuk
proposal penawaran PT Envico lebih rendah dengan jumlah penawaran
sebesar $ 121.331,00 dan sengaja membuat PT Kota Minyak
Automation tidak memiliki software untuk perhitungan ground level
concentraton sehingga tidak lolos secara tekhnikal sehingga setelah
tender dibuka oleh PT Medco E&P Indonesia perwakilan PT Kota

Minyak Automation kalah dan PT Envico menjadi pemenang tender.


Perbuatan Danar Dono lalu diketahui oleh PT Kota Minyak Automation
berdasarkan file computer terdakwa, dimana terdapat Purchase Order
dari PT Metalindo Perkasa Mandiri yang ditujukan PT Envico atas nama

Danar Dono.
Karena ini PT Kota Minyak Automation mengalami kerugian, kemudian
lalu menuntut Danar Dono di PN Jakarta Utara. Hakim PN Jakarta Utara
memutuskan bahwa Danar Dono telah terbukti secara sah dan
meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja tanpa
hak

mengingkari

kesepakatan

untuk

menjaga

rahasia

dagang,

melakukan perbuatan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 13 dan


pasal 14 sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 17 ayat (1)
UU RI No. 30 tahun 2000 tentang Rahasia Dagang, juga diatur dan
diancam pidana sesuai pasal 323 ayat (1) KUHP, dan menjatuhkan
pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama satu tahun.

24

Danar Dono lalu mengajukan banding terhadap putusan ini. Pengadilan


Tinggi Jakarta kemudian memutuskan sama dengan PN Jakarta Utara
dan menambah kurun waktu pidana penjara Danar Dono menjadi 1

tahun 2 bulan.
Danar Dono yang masih merasa tidak puas kemudian mengajukan
kasasi ke Mahkamah Agung.
Dalam putusannya, Hakim Mahkamah Agung menolak permohonan

kasasi dari Danar Dono, kemudian membebankan pemohon kasasi untuk


membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi.
2. Analisa kasus
Dalam kasus ini, data yang dibocorkan oleh Danar Dono termasuk
dalam ranah rahasia dagang sebagamana telah diatur dalam pasal 3 UU No.
30 th 2000 dimana yang termasuk dalam rahasia dagang yang dapat
dilindungi sebagai berikut:
(1) Rahasia Dagang mendapat perlindungan apabila informasi tersebut
bersifat rahasia mempunyai nilai ekonomi, dan dijaga kerahasiaannya
melalui upaya sebagaimana mestinya;
(2) Informasi dianggap bersifat rahasia apabila informasi tersebut hanya
diketahui oleh pihak tertentu atau tidak diketahui secara umum oleh
masyarakat;
(3) Informasi dianggap memiliki nilai ekonomi apabila sifat kerahasiaan
informasi tersebut dapat digunakan untuk menjalankan kegiatan atau
usaha yang bersifat komersial atau dalam meningkatkan keuntungan
secara ekonomi;
(4) Informasi dianggap dijaga kerahasiaannya apabila pemilik atau para
pihak yang menguasainya telah melakukan langkah-langkah yang layak
dan patut.
Apabila dilihat dan dihubungkan dengan ketentuan pasal 3 tersebut
di atas, Karena proposal yang dibuatkan oleh Danar Dono untuk PT Kota
Minyak Automation tidak diketahui umum dan mempunyai nilai ekonomi,
serta dijaga kerahasiaannya melalui upaya mencantumkan ketentuannya
dalam peraturan tata tertib perusahaan maka termasuk kedalam rahasia
25

dagang sehingga harus dilindungi. Dan karena Danar Dono telah melakukan
perbuatan membocorkan rahasia tersebut maka ia memang melakukan
tindak pidana sehingga harus dan patut dipidana.
Terkait dengan kewajiban Danar Dono untuk tidak membocorkan
rahasia perusahaannya memang tidak ada peraturan perundangan yang
mengatur secara eksplisit mengenai perjanjian antara buruh dengan
pengusaha terhadap adanya kewajiban untuk menjaga rahasia dagang
perusahaan tempatnya bekerja, baik dalam UU No. 30 Tahun 2000 tentang
Rahasia Dagang (UU Rahasia Dagang), peraturan perundangan di bidang
perburuhan, UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat (UU Anti Monopoli), maupun dalam Kitab
Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata) dan Kitab Undang-undang
Hukum Pidana (KUHP), bukan berarti tidak ada pengaturan terhadap hal
tersebut. Dalam prakteknya, perjanjian mengenai rahasia dagang ini diatur
dalam perjanjian kerja antara buruh dengan pengusaha.
Secara pidana, tuntutan dapat dilakukan berdasarkan UU Rahasia
Dagang dan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Tuntutan yang
dapat dilakukan berdasarkan UU Rahasia Dagang, dasar hukumnya adalah
pasal 13 dan pasal 17(1), yaitu diancam pidana penjara paling lama 2 tahun
dan/atau denda paling banyak Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah).
Terhadap pelanggaran rahasia dagang berdasarkan UU No. 30 Tahun 2000
tentang Rahasia Dagang, hanya dapat dilakukan tuntutan apabila ada aduan
dari pihak yang merasa dirugikan (pasal 17 (2)). Jadi pelanggaran rahasia
dagang merupakan delik aduan.

26

Pelanggaran terhadap rahasia dagang dalam KUHP masuk ke dalam


lingkup kejahatan. Dasar hukum yang digunakan adalah pasal 322 ayat 1
KUHP dimana dinyatakan bahwa bagi orang yang dengan sengaja membuka
rahasia yang wajib disimpannya karena jabatan atau pekerjaannya baik itu
yang sekarang ataupun yang dulu dapat diancam pidana penjara paling lama
9 bulan atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah. Jika pelanggaran
rahasia dagang tersebut dilakukan setelah buruh itu tidak lagi bekerja di
perusahaan tersebut dan ia berada pada waktu dimana ia masih harus
menjaga rahasia dagang tersebut maka ketentuan dalam KUHP yang
digunakan tidak lagi pasal 322 ayat 1, tetapi menggunakan pasal 323 ayat 1.
Pasal 323 ayat 1 menyatakan bagi orang yang dengan sengaja
memberitahukan hal-hal khusus tentang suatu perusahaan dagang, kerajinan
atau pertanian, dimana ia bekerja atau dahulu bekerja, yang seharusnya
dirahasiakan, diancam pidana penjara paling lama 9 bulan atau denda paling
banyak sembilan ribu rupiah. Dalam pasal 323 ayat 2 disyaratkan pula
adanya pengaduan dari pengusaha untuk dapat mengajukan tuntutan (delik
aduan).
Melihat pada peraturan perundangan di bidang perburuhan, maka
pelanggaran rahasia dagang yang dilakukan oleh buruh dapat mengacu pula
pada Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI (KepmenTK) No. 150/Men/2000
tanggal 20 Juni 2000. Dalam Kepmen. TK tersebut pada pasal 18 ayat 1 (j),
dinyatakan bahwa buruh yang melakukan tindakan membongkar atau
membocorkan rahasia perusahaan atau mencemarkan nama baik pengusaha
dan atau keluarga pengusaha yang seharusnya dirahasiakan kecuali untuk

27

kepentingan negara, dapat diberikan ijin kepada pengusaha untuk


melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruh tersebut. Ijin
PHK ini diberikan oleh P4 (Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan)
Daerah untuk PHK perorangan atau P4 Pusat untuk PHK massal.
Ketentuan dalam KepmenTK tersebut terdapat pula dalam undangundang tenaga kerja yang baru, yaitu Undang-Undang No. 13 Tahun 2003
tentang Ketenagakerjaan. Dalam pasal 158 ayat 1(i) dinyatakan bahwa
pengusaha dapat memutuskan hubungan kerja terhadap pekerja atau buruh
dengan alasan telah dilakukannya kesalahan berat membongkar atau
membocorkan rahasia perusahaan yang seharusnya dirahasiakan kecuali
untuk kepentingan negara. Kesalahan berat tersebut harus dibuktikan oleh
pengusaha dengan kejadian pekerja atau buruh tertangkap tangan, ada
pengakuan dari pekerja atau buruh yang bersangkutan, atau bukti lain
berupa laporan kejadian yang dibuat oleh pihak yang berwenang di
perusahaan yang bersangkutan dan didukung oleh sekurang-kurangnya dua
orang saksi.
Sesuai uraian di atas, apabila dikaitkan dengan kasus, benar bahwa
Danar Dono sebagai karyawan PT Kota Minyak Automation tidak memiliki
hak untuk membocorkan rahasia perusahannya karena ia telah terikat
perjanjian kerja oleh perusahaan. Dan perusahaan pun berhak menuntut
secara pidana Danar Dono karena ia memang terbukti melakukan tindak
pidana.
Karena hakim di kedua pengadilan tingkat sebelumnya tidak salah
dalam menerapkan hukum, maka benar yang diterapkan oleh hakim

28

Mahkamah Agung bahwa permohonan kasasi Danar Dono harus ditolak.


Karena penolakan ini maka Danar Dono harus menjalani pidana yang telah
dijatuhkan oleh pengadilan Tinggi.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari seluruh pembahasan yang telah dituliskan dalam tulisan ini,
maka penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan guna menjawab pokok
pemasalahan dalam tulisan ini, yaitu :
1. Rahasia dagang menurut Pasal 1 angka 1 UU Rahasia Dagang UU
mengandung beberapa unsur, yaitu:
a. adanya pengertian mengenai informasi;
b. informasi tersebut merupakan informasi yang tidak diketahui
oleh umum;
c. informasi tersebut berada dalam lapangan teknologi dan/atau
bisnis;
d. informasi tersebut harus memiliki nilai ekonomi; dan
informasi tersebut harus dihaga kerahasiaannya oleh
pemiliknya
Sistem perlindungan rahasia dagang di Indonesia yang diatur dalam
Undang-Undang No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang,
walaupun

tidak

mensyaratkan

pendaftaran

di

Ditjen

HKI

29

sebagaimana paten, namun tidak berarti dapat diperoleh secara


otomatis. Suatu rahasia dagang agar mendapatkan perlindungan
harus memenuhi unsur-unsur sebagaimana disebut diatas.

2.

Penyelesaian Sengketa Rahasia Dagang di Indonesia yang diatur


didalam Pasal 11 dan Pasal 12 UU Rahasia Dagang dapat melalui
beberapa cara yaitu melalui Gugatan Ganti Rugi ke Pengadilan atau
melalui Arbitrase, secara tidak langsung mekanisme penyelesaian
sengketa di bidang rahasia dagang dapat diselesaikan melalui dua
sistem penyelesaian sengketa, yaitu baik melalui sistem ajudikasi
maupun non-ajudikasi. Bahkan dalam mekanisme ajudikasi juga
dapat ditempuh dua jalur penyelesaian sengketa, yaitu litigasi
maupun non-litigasi. Selain kedua jalur diatas, pihak yang dirugikan
dapat juga menuntut secara pidana sebagaimana diatur didalam pasal
17 UU Rahasia Dagang

3. Berdasarkan Putusan yang dibuat oleh Hakim Pengadilan Negeri


dan dikuatkan oleh Hakim Pengadilan Tinggi, terbukti bahwa Danar
Dono telah melakukan tindak pidana rahasia dagang, dimana
proposal yang dibuatkan oleh Danar Dono untuk PT Kota Minyak
Automation tidak diketahui umum dan mempunyai nilai ekonomi,
serta

dijaga

kerahasiaannya

melalui

upaya

mencantumkan

ketentuannya dalam peraturan tata tertib perusahaan maka termasuk


kedalam rahasia dagang sehingga harus dilindungi. Dan karena
Danar Dono melakukan perbuatan membocorkan rahasia tersebut
maka jelas Danar Dono telah melanggar unsur-unsur rahasia dagang
sesuai pasal 3 UU Rahasia Dagang. Oleh karena itu, karena hakim di
kedua pengadilan tingkat sebelumnya tidak salah dalam menerapkan
hukum, maka benar yang diterapkan oleh hakim Mahkamah Agung
30

bahwa permohonan kasasi Danar Dono harus ditolak. Karena


penolakan ini maka Danar Dono harus menjalani pidana yang telah
dijatuhkan oleh pengadilan Tinggi.
B. Saran
Tingginya frekuensi keluar masuk dan berpindah-pindahnya sumber
daya manusia dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya, bahkan antar
perusahaan yang berbeda negara telah menjadi ciri dalam era globalisasi
perdagangan yang tidak dapat dihindari. Kenyataan seperti ini akan sangat
berpengaruh terhadap perlindungan rahasia dagang. Oleh karena itu
pembuatan kontrak kerja yang melindungi rahasia dagang baik itu bersifat
formula, proses produksi, daftar pelanggan, metode-metode dan sebagainya
menjadi sangat penting untuk dilakukan.
UU Rahasia Dagang No. 30 Tahun 2000 dapat bermanfaat bagi para
pengusaha nasional yang akan menghadapi persaingan global apabila
mereka dapat memahaminya dengan sungguh-sungguh. Pemahaman
terhadap UU ini hanya akan dapat terlaksana secara efektif untuk tahap
pertama apabila upaya-upaya mengsosialisasikannya disampaikan kepada
kalangan pengusaha yang memiliki keinginan kuat melakukan persaingan
tidak hanya di pasar domestik saja tetapi juga internasional. Meskipun
sistem rahasia dagang terdapat perbedaan antara Indonesia dengan negara
lain, namun prinsip-prinsip dalam rahasia dagang memiliki persamaan.

31