Anda di halaman 1dari 3

Pada suatu masa, ada tiga orang serdadu yang barusan kembali dari medan perang,

satu berpangkat sersan, satunya berpangkat kopral, dan orang yang ketiga berpang
kat prajurit. Suatu malam mereka terpaksa bermalam di hutan dan membuat api ungg
un sebagai penerangan, dan sersan mendapatkan giliran untuk berjaga.
Sementara dia berjaga, seorang wanita tua bungkuk, datang kepadanya dan berkata,
"Serdadu yang baik, bisakah saya menghangatkan diri di dekat api unggunmu?"
"Tentu saja, Bu. Anda saya persilakan duduk dekat api untuk menghangatkan diri,"
kata si Sersan.
Si Sersan menerima dompet ajaib dari seorang nenek tuaJadi wanita tua itu duduk
dekat api unggun untuk sementara waktu, dan ketika dia benar-benar telah merasa
hangat, dia berkata kepada sersan, "Terima kasih, serdadu, terimalah pemberian i
ni sebagai balas jasaku kepada kamu."
Si Wanita Tua itu pun menyerahkan sebuah dompet berupa kantongan, yang tampaknya
memiliki sesuatu di dalamnya.
"Oh, terima kasih, Bu," kata si Sersan, "tapi saya tidak mengharapkan hadiah apa
-apa dari Anda, apalagi di saat Anda tidak memiliki sesuatu."
"Mungkin kelihatannya begitu," kata wanita tua itu, "tetapi coba tuangkan isi ka
ntongan ini ke tanganmu, saat terus menuangkannya seperti itu kepingan emas akan
mengalir keluar dari kantong itu."
Si Sersan mencobanya, dan setiap kali dia mengangkat dan menuangkan isi kantonga
n, dari dalam kantong keluarlah kepingan-kepingan emas. Si Sersan mengucapkan te
rima kasih, dan wanita tua itu pun pergi.
Malam berikutnya, si Kopral yang mendapatkan giliran untuk menjaga, dan si Wanit
a Tua itu juga datang kepadanya dan minta untuk dapat duduk di dekat api unggun.
"Tentu saja, Bu," ujar si Kopral. "Saya mengerti bagaimana rasanya saat tubuh ke
dinginan."
Si Wanita Tua kemudian duduk di dekat api untuk sementara waktu, dan ketika dia
akan pergi, dia memberi kopral itu sebuah taplak meja.
Kata si Kopral, "Terima kasih, Bu, tetapi kami serdadu, jarang menggunakan tapla
k meja ketika kita makan."
"Ya, tetapi taplak meja ini akan memberikan kamu makanan," kata si Wanita Tua. "
Setiap kali kamu menempatkan ini di atas meja atau di tanah dan berseru 'penuhil
ah!', maka makanan yang terbaik akan muncul sekaligus di atasnya."
"Kalau begitu," kata si Kopral, "Saya akan menerimanya, dan saya mengucapkan ban
yak terima kasih atas kebaikan Anda."
Tidak lama kemudian, si Wanita Tua itu pun pergi. Lalu, si Kopral membangunkan r
ekan-rekannya dan menggelar taplak mejanya lalu berucap: "Taplak meja, penuhilah
!"
Dalam sekejap, makan malam terbaik yang bisa kita bayangkan,muncul di atas tapla
k meja tersebut.
Malam berikutnya, si Prajurit yang mendapatkan tugas jaga malam, dan si Wanita T
ua itu muncul juga dan meminta untuk duduk di dekat api unggun seperti biasanya.
"Tentu saja boleh," kata si Prajurit. "Sambutan saya terhadap Anda, sama seperti
saya menyambut ibu saya sendiri."
Setalah si Wanita Tua itu duduk beberapa waktu di dekat api, maka dia pun berdir
i dan berkata, "Terima kasih banyak, Nak. Saya berharap kamu menerima pemberian
saya ini."
Si Wanita Tua itu pun memberikan sebuah peluit ke prajurit yang berjaga ini.
"Untuk apakah peluit ini?" tanya si Prajurit. "Saya tidak terlalu mengetahui keg
unaan dari peluit ini."
"Kamu cukup meniupnya saja," jawab si Wanita Tua, "dan setiap kali kamu meniupny
a, akan datang pasukan bersenjata yang akan melakukan apapun yang kamu perintahk
an kepada mereka."
Setelah itu, wanita tua itu pun pergi dan mereka bertiga tidak pernah melihatnya
lagi. Selanjutnya, ketiga serdadu melanjutkan perjalanan bersama sampai tiba di
suatu kota di mana ada seorang putri raja yang sangat bangga dengan kemampuanny
a bermain kartu, bahkan sang Putri berjanji bahwa dia akan setuju untuk menikahi
pria yang bisa mengalahkan dia bermain kartu.
Si Sersan juga pandai bermain kartu, karena itu dia berusaha mencoba peruntungan
nya dengan sang Putri. Dia pun pergi ke istana dan menawarkan diri untuk mengiku

ti sayembara dan bermain kartu melawan sang Putri, tetapi sang Putri berkata kep
adanya, "Apa yang kamu berikan bila kamu kalah? Nah, jika saya kalah, saya harus
menikahi kamu. Bagaimana dengan kamu, setuju?"
Si Sersan itu mengangguk dan mengatakan, "Ya, saya akan memberikan kantong dompe
t saya bila saya kalah."
"Mengapa, hanya kantong dompet? Kantong dompet itu kan tidak berisi apa-apa di d
alamnya!" seru sang Putri.
"Mungkin tidak kelihatan berisi apapun sekarang," jawab si Sersan. "Tapi lihatla
h," tunjuk si Sersan, dan dia pun membalikkan kantong dompet dan meletakkan tang
annya di bawah kantong tersebut, dan pada saat itu kepingan emas berjatuhan ke t
elapak tangannya selama dia menuangkan isi kantong tersebut.
Sang putri pun setuju untuk bermain demi mendapatkan kantongan itu. Tetapi denga
n liciknya, dia telah mengatur cermin di bagian belakang kepala sersan sehingga
dia bisa melihat semua kartunya. Karena itu, dia dapat menang mudah, dan si Sers
an harus kehilangan kantongan dompetnya.
Tetapi sang Putri ini begitu cantik dan menarik sehingga si Sersan jatuh cinta k
epadanya, dan ketika dia kembali ke rekan-rekannya, dia meminta si Kopral untuk
meminjamkan taplak mejanya. Lalu, dia pun kembali ke sang Putri dan berkata kepa
danya, "Apakah Anda ingin bermain dengan saya demi selembar taplak meja ini?"
Sang Putri kaget karena hanya ditawarkan taplak meja. Tetapi si Sersan menjelask
an, "Ini adalah sebuah taplak meja yang sangat indah, selain itu taplak meja ini
memiliki kelebihan tersendiri."
Lalu dia meletakkan taplak tersebut di atas meja dan berkata, "Taplak meja, penu
hilah!"
Saat itu makan malam yang lezat terhampar di atasnya. Sang Putri tahu dia akan b
isa mengalahkan si Sersan. Dia setuju untuk bermain sekali lagi untuk mendapatka
n taplak meja itu, karena yakin dengan memakai cermin dia bisa memenangkan tapla
k meja dari si Sersan.
Hal yang sama terulang kembali ketika si Sersan meminjam peluit dari si Prajurit
, dan mencoba peruntungannya sekali lagi dengan sang Putri. Akan tetapi kali ini
dia menyadari apa yang sang Putri lakukan, dan akhirnya tahu bahwa dia telah di
tipu, meskipun dia tidak berani mengungkapkannya.
Dia mengalami kekalahan lagi dan kembali ke rekan-rekannya, meminta maaf kepada
rekan-rekannya, dan menceritakan semua kelicikan sang Putri yang telah menipunya
. Teman-temannya pun memaafkannya, dan mereka semua berangkat melanjutkan perjal
anan untuk mengembara.
Mereka semua berjalan dan berjalan lagi sampai akhirnya mereka tiba di tepi sung
ai di mana pada tepiannya tumbuh pohon ara berwarna putih dan hitam. Si Sersan p
un mengumpulkan beberapa buah ara dari pohon yang berbeda, lalu duduk di tepi su
ngai sambil memakan buah tersebut.
Pertama, dia makan buah ara yang hitam. Karena merasa haus, dia pergi ke sungai
untuk minum air, dan saat dia melihat ke dalam air, dia melihat bahwa telah tumb
uh dua tanduk di sisi kepalanya seperti tanduk seekor kambing. Si Sersan menjadi
terkejut dan bingung, dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Tetapi karena
masih lapar, dia pun memakan salah satu buah ara yang berwarna putih.
Sepasang tanduk yang tumbuh di kepala sang PutriKetika dia pergi untuk minum sek
ali lagi, dia melihat bahwa tanduknya telah menghilang. Dia menjadi mengerti bah
wa buah ara hitam akan menumbuhkan tanduk dan buah ara putih menghilangkan tandu
k yang muncul. Dia lalu mengumpulkan lebih banyak buah ara tersebut dan kembali
ke kerajaan sang putri, lalu mengirimkan beberapa buah ara hitam sebagai hadiah
dari seorang pengagum.
Setelah beberapa saat, terdengarlah kabar di sekitar kerajaan bahwa sang Putri m
emiliki tanduk di kepalanya, dan akan memberikan apapun yang diminta kepada seti
ap orang yang bisa menghilangkan tanduk di kepalanya.
Si Sersan pun pergi ke istana, dan di hadapan sang Putri dia berkata, "Saya dapa
t menghilangkan tanduk Anda, tetapi saya menginginkan agar kantong dompet saya,
taplak meja saya, dan peluit saya dikembalikan."
Sang Putri pun memerintahkan pelayannya untuk membawa benda tersebut ke hadapan
si Sersan, dan berjanji untuk mengembalikan semuanya apabila tanduknya dihilangk
an. Maka si Sersan memberinya ara putih, dan segera setelah sang Putri memakan b

uat tersebut, tanduknya pun menghilang. Si Sersan kemudian mengambil kantong dom
petnya, taplak mejanya, dan peluitnya.
Setelah itu, dia berkata kepada sang Putri, "Sekarang, maukah Anda menikah denga
n saya?"
"Tidak," tolak sang Putri. "Mengapa saya harus menikah dengan kamu?"
"Karena Anda memenangkan permainan kartu dengan cara tidak jujur," ketus si Sers
an.
Sang Putri tetap menolak untuk dinikahi. "Mungkin saya curang, mungkin tidak, te
tapi saya tidak melihat alasan apapun yang mengharuskan saya harus menikah denga
n kamu."
Kemudian si Sersan pun meniup peluitnya, dan dalam sekejap istana terisi penuh d
engan pasukan serdadu. Si Sersan itu pun kembali berkata, "Jika Anda tidak memen
uhi janji Anda untuk menikah dengan saya, saya dan serdadu ini akan merebut taht
a ayah Anda!"
Sang Putri pun akhirnya menerima lamaran si Sersan, dan si Sersan pun mengirim u
tusan kepada rekannya, si Kopral dan si Prajurit agar mereka dapat datang ke ist
ana untuk ikut menikmati kemakmuran si Sersan. Akhirnya, mereka semua hidup berb
ahagia dalam kemakmuran.
Jangan pernah bertaruh, karena hal tersebut dapat membuat kita kehilangan segala
nya.