Anda di halaman 1dari 12

FASE FOLIKULER

HARI KE 1-10
Pada awal siklus, kadar

FSH dan LH relatif tinggi dan hormon ini akan

merangsang pertumbuhan 10 -20 folikel namun hanya 1 folikel yang dominan yang menjadi
matang dan sisanya akan mengalami atresia. Kadar FSH dan LH yang relatif tinggi dipicu
oleh penurunan kadar estrogen dan progesteron pada akhir fase sebelumnya. Selama dan
segera setelah haid, kadar estrogen relatif rendah namun dengan pertumbuhan folikel
kadarnya akan segera meningkat (Sherwood, 2012).

HARI KE 10 - 14
Dengan bertambahnya ukuran folikel, terjadi akumulasi cairan diantara sel granulosa dan
menyebabkan terbentuknya anthrum, sehingga folikel primer berubah bentuk menjadi folikel
dgraaf, disini oosit menempati posisi excenteric dan dikelilingi oleh 2- 3 lapisan sel
granulosadan disebut sebagai cumulus oophorus. Dengan semakin matangnya folikel, kadar
estrogen menjadi semakin bertambah (terutama dari jenis estradiol) dan mencapai puncaknya
18 jam sebelum ovulasi. Dengan semakin meningkatnya kadar estrogen, produksi FSH dan
LH menurun (umpan balik negatif) untuk mencegah hiperstimulasi ovarium dan maturasi
folikel lainnya (Sherwood, 2012).

(Sherwood, 2012)

OVULASI
HARI KE 14
Ovulasi terjadi dengan pembesaran folikel yang cepat dan diikuti protrusi permukaan
kortekovarium dan pecahnya folikel menyebabkan keluarnya oosit dan cumulus oophorus
yangmelekat dengannya. Pada sejumlah wanita Kadang-kadang proses ovulasi ini
menimbulkan rasa sakit sekitar fossa iliaka yang dikenal dengan nama mittelschmerz.
Peningkatan kadar estradiol pada akhir mid-cycle diperkirakan akibat LH surge dan
penurunan kadar FSH akan menyebabka peristiwa umpan balik positif. Sesaat sebelum ovulasi
terjadi penurunan kadar estradiol secara tiba-tiba dan peningkatan produksi progesteron. (Sh

(Sherwood, 2012)

FASE LUTEAL
HARI 15- 28
Sisa folikel yang telah ruptur berada didalam ovarium. Sel granulosa mengalami luteinisasi
dan membentuk corpus luteum. Corpus luteum merupakan sumber utama dari hormon steroid
seksual, estrogen dan progesteron yang dikeluarkan oleh ovarium pada fase pasca ovulasi
(faseluteal). Terbentuknya corpus luteum akan menyebabkan sekresi progesteron terus
meningkat dan terjadi pula kenaikan kadar estradiol berikutnya (Sherwood, 2012).

(Sherwood, 2012)
Selama fase luteal, kadar gonadotropin tetap rendah sampai terjadi regresi corpus luteum
padahari ke 26-28. Bila terjadi konsepsi dan implantasi, corpus luteum tidak akan
mengalamiregresi oleh karena keberadaanya dipertahankan oleh gonadotropin yang
diproduksi olehtrofoblas. Namun, bila tidak terjadi konsepsi dan implantasi, corpus luteum
akan mengalamiregresi dan siklus haid akan mulai berlangsung kembali. Akibat penurunan
kadar hormon steroid,terjadi peningkatan kadar gonadotropin dan siklus haid akan
berlangsung kembali (Sherwood, 2012).
SIKLUS ENDOMETRIUM
Endometrium memberikan respon secara khas terhadap progestin, androgen dan estrogen.
Inilah sebabnya mengapa endometrium dapat mengalami proses haid dan memungkinkan
terjadinya proses implantasi hasil konsepsi saat terjadi proses kehamilan. Secara fungsional,
endometrium dibagi menjadi 2 zona :

1. Bagian luar ( stratum fungsionalis) yang mengalami perubahan morfologik dan


fungsional secara siklis
2. Bagian dalam (stratum basalis ) yang secara relatif tidak mengalami perubahan
dan berperan penting dalam proses penggantian sel endometrium yang terkelupas saat
haid.Arteri basalis berada dalam stratum basalis dan arteri spiralis khususnya
terbentuk dalamstratum fungsionalis (Prawirohardjo, 2010).
Perubahan siklis endometrium secara histofisiologi dibagia menjadi 3 stadium : fase
menstruasi, fase proliferasi (estrogenik) dan fase sekresi ( progestasional)
FASE PROLIFERASI
Selama fase folikuler, endometrium terpapar dengan sekresi estrogen. Pada akhir haid,
regenerasi endometrium berlangsung dengan cepat. Pada stadium ini -Fase Proliferasi, pola
kelenjar endometrium adalah regular dan tubuler, sejajar satu sama lain dan mengandung
sedikit cairan sekresi (Prawirohardjo, 2010).
FASE SEKRESI
Pasca

ovulasi,

produksi

progesteron

memicu

terjadi

perubahan

sekresi

pada

kelenjarendometrium. Terlihat adanya vakuola yang berisi cairan sekresi pada epitel kelenjar.
Kelenjarendometrium menjadi semakin berliku-liku (Prawirohardjo, 2010).

(Prawirohardjo, 2010)
FASE MENSTRUASI
Secara normal fase luteal berlangsung selama 14 hari. Pada saat-saat akhir corpus luteum,
terjadi penurunan produksi estrogen dan progesteron. Penurunan ini diikuti dengan kontraksi
spasmodikdari arteri spiralis sehingga terjadi ischemik dan nekrosis lapisan superfisial
endometriumsehingga terjadi perdarahan (Prawirohardjo, 2010).
Vasospasme

nampaknya

merupakan

akibat

adanya

produksi

prostaglandin

lokal.

Prostaglandin juga menyebabkan kontraksi uterus saat haid. Darah haid tidak mengalami pem
bekuan olehkarena adanya aktivitas fibrinolitik dalam pembuluh darah endometrium yang
mencapai puncaknya saat menstruasi (Prawirohardjo, 2010).

FERTILISASI
Fertilisasi (pembuahan) adalah proses penyatuan gamet pria dan wanita, terjadi di
ampulla tuba fallopi. Bagian ini bagian terluas dari saluran telur dan terletak dekat dengan
ovarium. Spermatozoa dapat bertahan hidup didalam saluran reproduksi wanita selama kirakira 24jam.

Spermatozoa bergerak cepat dari vagina ke rahim dan selanjutnya masuk ke dalam saluran
telur. Pergerakan naik ini disebabkan oleh kontraksi otot-otot uterus dan tuba. Perlu diingat
bahwa pada saat sampai di saluran kelamin wanita, spermatozoa belum mampu membuahi
oosit. Mereka harus mengalami kapasitasi dan reaksi akrosom (Sadler, 2012).
Kapasitasi adalah suatu masa penyesuaian di dalam saluran reproduksi wanita,yang pada
manusia berlangsung kira-kira 7 jam. Selama waktu itu,suatu selubung glikoprotein dari
protein-protein plasma semen dibuang dari selaput plasma, yang membungkus daerah
akrosom spermatozoa. Hanya sperma yang mengalami kapasitasi yang dapat melewati sel
korona dan mengalami reaksi akrosom (Sadler, 2012).
Reaksi akrosom terjadi setelah penempelan ke zona pellusida dan diinduksi oleh proteinprotein zona. Reaksi ini berpuncak pada pelepasan enzim-enzim yang diperlukan untuk
menembus zona pelusida, antara lain akrosin dan zat-zat serupa tripsin.

(Sadler, 2012)
a. Ovum
Ovum merupakan sel terbesar pada badan manusia. Setiap bulan satu ovum atau
kadang-kadang lebih menjadi matur, dengan sebuah penjamu mengelilingi sel
pendukung.Saat ovulasi, ovum keluar dari folikel ovarium yang pecah. Ovum tidak dapat
berjalan sendiri. Kadar estrogen yang tinggi meningkatkan gerakan tuba uterina, sehingga
silia tuba tersebut dapat menangkap ovum dan menggerakkannya sepanjang tuba menuju
ringga rahim (Sadler, 2012).
Ada dua lapisan pelindung yang melindungi ovum. Lapisan pertama berupa membran
tebal tidak berbentuk, yang disebut zona pellusida.lingkaran luar yang disebut korona
radiata,terdiri dari sel-sel oval yang dipersatukan oleh asam hialuronat. Ovum dianggap
subur selama 24 jam setelah ovulasi. Apabila tidak difertilisasi oleh sperma, ovum
berdegenerasi dan direabsorpsi (Sadler, 2012).
Pada waktu ovulasi sel telur yang telah masak dilepaskan dari ovarium. Dengan
gerakan seperti menyapu oleh fimbria tuba uterina, ia ditangkap infundibulum.
Selanjutnya ia masuk kedalam ampulae sebagai hasil gerakan silia dan kontraksi otot.
Sebuah ovum mungkin ditangkap /masuk kedalam infundibulum tuba yang berlawanan.
Keadaan ini disebut migrasi eksterna.ovum biasanya dibuahi dalam 12 jam setelah
ovulasi dan akan mati dalam 12 jam bila tidak segera dibuahi (Sadler, 2012).
b. Spermatozoa
Spermatozoa terdiri 3 bagian yaitu:

Kaput(kepala) yang mengandung bahah nukleus.


Ekor berguna untuk bergerak
Bagian silindrik, menghubungkan kepala dan ekor.
Pada saat coitus kira-kira 3-5 cc semen ditumpahkan kedalam fornik
posterior, dengan jumlah spermatozoa sekitar 200-500 juta. Dengan gerakan ekotrnya
sperma masuk kedalam kanalis servialis. Di dalam rongga uterus dn tuba gerakan
sperma terutama disebab kan oleh kontraksi otot-otot pada organ tersebut. Sperma
tozoa

,kira-kira

jam

setelah

coitus.

Ampula

tuba

merupakan

tempat

terjadinya fertilisasi. Hanya beberapa ratus sperma yang bisa mencapai tempat ini.
Sebagian besar mati sebagai akibat keasaman vagina, sebagian lagi hilang/ mati dalam
perjalanan. Sperma dapat bertahan dalam saluran reproduksi wanita sampai empat
hari (Sadler, 2012).

Pada fertilisasi mencakup 3 fase:


a. Fase 1 : penembusan korona radiate
Dari 200-300 juta spermatozoa yang dicurahkan ke dalam saluran kelamin wanita, hanya
300-500 yang mencapai tempat pembuahan. Hanya satu diantaranya yang diperlukan
untuk pembuahan, dan diduga bahwa sperma-sperma lainnya membantu sperma yang
akan membuahi untuk menembus sawar-sawar yang melindungi gamet wanita. Sperma
yang mengalami kapasitasi dengan bebas menembus sel korona (Sadler, 2012).

b. Fase 2 : penembusan zona pelusida


Zona pelusida adalah sebuah perisai glikoprotein di sekeliling telur yang mempermudah
dan mempertahankan pengikatan sperma dan menginduksi reaksi akrosom. Pelepasan
enzim-enzim akrosom memungkinkan sperma menembus zona pelusida, sehingga akan
bertemu dengan membrane plasma oosit. Permeabilitas zona pelusida berubah ketika
kepala sperma menyentuh permukaan oosit. Hal ini mengakibatkan pembebasan enzimenzim lisosom dari granul-granul korteks yang melapisi membrane plasma oosit. Pada
gilirannya, enzim-enzim ini menyebabkan perubahan sifat zona pelusida (reaksi zona)
untuk menghambat penetrasi sperma dan membuat tak aktif tempat tempat reseptor bagi

spermatozoa pada permukaan zona yang spesifik spesies. Spermatozoa lain ternyata bisa
menempel di zona pelusida tetapi hanya satu yang menembus oosit (Sadler, 2012).
c. Fase 3 : penyatuan oosit dan membrane sel sperma
Setelah spermatozoa menyentuh membrane sel oosit, kedua selaput plasma sel tersebut
menyatu. Karena selaput plasma yang menbungkus kepala akrosom telah hilang pada saat
reaksi akrosom, penyatuan yang sebenarnya terjadi adalah antara selaput oosit dan selaput
yang meliputi bagian belakang kepala sperma. Pada manusia, baik kepala dan ekor
spermatozoa memasuki sitoplasma oosit, tetapi selaput plasma tertingal di permukaan
oosit (Sadler, 2012).
Setelah spermatozoa memasuki oosit, sel telur menanggapinya dengan 3 cara yang
berbeda:
1) Reaksi kortikal dan zona : sebagai akibat terlepasnya butir-butir kortikal oosit
a) Selaput oosit tidak dapat ditembus lagi oleh spermatozoa lain
b) Zona pelusida mengubah struktur dan komposisinya untuk mencegah penambahan
dan penetrasi sperma, dengan cara ini terjadinya polispermi dapat dicegah
2) Melanjutkan pembelahan meiosis kedua. Oosit menyelesaikan pembelahan meiosis
keduanya segera setelah spermatozoa masuk. Salah satu dari sel anaknya hampir tidak
mendapatkan sitoplasma dan dikenal sebagai badan kutub kedua, sel anak lainya
adalah oosit defenitive. Kromosomnya (22+X) tersusun didalam sebuah inti vesikuler
yang dikenal sebagai pronukleus wanita.
3) Penggiatan metabolik sel telur. Faktor penggiat diperkirakan dibawa oleh
spermatozoa. Penggiatan setelah penyatuan diperkirakan untuk mengurangi kembali
peristiwa permulaan seluler dan molekuler yang berhubungn dengan awal
embriogenesis (Sadler, 2012).
Sementara itu, spermatozoa bergerak maju terus hingga dekat sekali dengan
pronukleus wanita. Intinya membengkak dan membentuk pronukleus pria sedangkan
ekornya terlepas dan berdegenerasi. Secara morfologis, pronukleus wanita dan pria
tidak dapat dibedakan dan sesudah itu mereka saling rapat erat dan kehilangan selaput
inti mereka. Selama masa pertumbuhan, baik pronukleus wanita maupun pria
(keduanya haploid) harus menggandakan DNA-nya. Jika tidak,masing-masing sel

dalam zigot tahap 2 sel tersebut akan mempunyai DNA separuh dari jumlah DNA
normal (Sadler, 2012).
Segera sesudah sintesis DNA, kromosom tersusun dalam gelendong untuk
mempersiapkan pembelahan mitosis yang normal. 23 kromosom ibu dan 23
kromosom ayah membelah memanjang pada sentromer, dan kromatid-kromatid yang
berpasangan tersebut saling bergerak kearah kutub yang berlawanan, sehingga
menyiapkan sel zigot yang masing-masing mempunyai jumlah kromosom dan DNA
yang normal. Sementara kromatid-kromatid berpasangan bergerak kerah kutub yang
berlawanan, munculah satu alur yang dalam pada permukaan sel, berangsur-angsur
membagi sitoplasma menjadi 2 bagian (Sadler, 2012).

Hasil utama pembuahan


1.

Pengembalian menjadi jumlah kromosom diploid lagi,separuhnya dari ayah dan


separuhnya dari ibu. Oleh karena itu, zigot mengandung kombinasi kromosom baru
yang berbeda dari kedua orang tua.

2. Penetuan jenis kelamin baru. Spermatozoa pembawa X akan menghasilkan mudigah


wanita (XX), dan spermatozoa pembawa Y akan menghasilkan suatu mudigah pria
(XY). Oleh karena itu, jenis kelamin kelompok mudigah tersebut ditentukan saat
pembuahan.
3.

Dimulainya pembelahan. Tanpa pembuahan, oosit biasanya akan beregenerasi 24jam


setelah ovulasi (Sadler, 2012).

Hal penting dalam proses fertilisasi:


a) Penyatuan spermatozoa dan oosit II untuk membentuk sel diploid zigot
b) Fertilisasi terjadi di ampula tuba
c) Ovum mengerluarkan zat gynogamon yang terdiri dari fertilizing
d) Spermatozoa mengeluarkan zat androgamon
e) Kapasitasi di sperma pengkondisian sperma dan akrosomnya untuk menembus
membran sel
f) Reaksi akrosom

g) Sperma melepas enzim untuk mencerna sel corona radiata dari zona pelusida
untuk menembus oosit
h) Fusi pronukleus
Sperma yang menembus oosit kehilangan flagelum dan membran nukleusnya
sehingga pronukleus betina dan jantan bersatu, DNA nya bereplikasi dan
kromosomnya berbaris pada bidang ekuator serta pembuahan mitosis pertama
langsung terjadi (Sadler, 2012).

Daftar Pustaka
Sadler, TW. 2012. Langman Embriologi Kedokteran. Edisi 10. Jakarta; EGC
Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Edisi 4. Jakarta; PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo
Sherwood, L. 2012. Fisiologi Manusia; Dari sel ke sistem. Edisi 6. Jakarta; EGC