Anda di halaman 1dari 28

0

MANUSIA SEBAGAI SALAH SATU FAKTOR YANG


MENENTUKAN KONDISI LINGKUNGAN HIDUP

OLEH:
SYAIFUL RAMADHAN H, S.Pi, M.Si

Sebuah Perspektif Krisis Lingkungan Hidup Akibat Mentalitas Tanpa Batas,


Penurunan Etika Lingkungan dan Deep Ecology Serta Kaitannya dengan UndangUndang No. 32 Tahun 2009

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ISLAM INDRAGIRI
TEMBILAHAN
2014

KATA PENGATAR

Puji dan syukur yang tak terhingga penulis panjatkan kepada Allah SWT
atas segala karunia-Nya sehingga makalah ini berhasil diselesaikan. Makalah ini
merangkum dan membahas topik yang berkaitan dengan manusia sebagai salah
satu faktor yang menentukan kondisi lingkungan hidup dalam perspektif krisis
lingkungan hidup akibat mentalitas tanpa batas serta penurunan etika lingkungan
dan deep ecology serta kaitannya dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2009.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan
dan dapat dijadikan tambahan informasi bagi seluruh stakeholder yang berkaitan
dengan keterkaitan manusia dengan mentalitas tanpa batas dan penurunan etika
lingkungan dan deep ecology sebagai penyebab terjadinya krisis lingkungan
hidup.
.

Pekanbaru, Januari 2014

Penulis

ii

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGATAR .........................................................................................

DAFTAR ISI ...................................................................................................

ii

I. PENDAHULUAN .........................................................................................

1.1. Latar Belakang ....................................................................................


1.2. Perumusan Masalah ...........................................................................
1.3. Tujuan Penulisan.................................................................................

1
3
5

II. PEMBAHASAN ..........................................................................................

2.1. Lingkungan Hidup ...............................................................................


2.2. Korelasi Antara Manusia dengan Lingkungan Hidup ...........................
2.3. Pengetahuan dan Interaksi Manusia dengan Lingkungan ...................
2.4. Akar Permasalahan Kerusakan Lingkungan Hidup ..............................
2.5. Kaitan Penurunan Etika Lingkungan dengan Peningkatan
Perilaku Merusak Lingkungan .............................................................
2.6. Manusia Sebagai Salah Satu Faktor yang Menentukan
Lingkungan Hidup dalam Kerangka Undang-Undang No. 32
Tahun 2009. ........................................................................................
2.7. Lima R Sebagai Kerangka Konsep Etika dan Deep Ecology
untuk Menyelamatkan Lingkungan Hidup ............................................

6
6
8
10

III. PENUTUP .................................................................................................

22

11

13
18

3.1. Kesimpulan ......................................................................................... 22


3.2. Saran .................................................................................................. 23
DAFTAR PUSTAKA

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Keberadaan lingkungan hidup sebagai salah satu asset bagi manusia
merupakan suatu hal yang sangat mendasar, perhatian masyarakat terhadap
lingkungan hidup memberikan gambaran bahwa persoalan lingkungan hidup
memerlukan perlindungan dari manusia itu sendiri maupun pemerintah. Sebagai
makhluk hidup kita mempunyai tanggungjawab pribadi kepada sang pencipta
untuk memelihara bumi dan isinya dari segala kerusakan dan pencemaran,
manusia menjadi salah satu faktor penentu dalam proses pengambilan
keputusan terhadap pemanfaatan dan pengolahan lingkungan hidup yang
membentuk kesatuan fungsional, saling terkait dan saling tergantung dalam
keteraturan yang bersifat spesifik, holistik dan berdimensi ruang.
Lingkungan hidup bagi kehidupan manusia memiiliki fungsi sebagai
penyedia sumber daya alam yang akan diolah dan dikonsumsi menjadi sebuah
produk, memberikan kesegaran dan kesejukan disekitarnya dan sebagai tempat
menampung dan mengolah limbah secara alami. Namun demikian karena
majunya pembangunan nasional ketiga fungsi tersebut semakin lama semakin
memburuk, sumber daya alam semakin berkurang, kesejukan semakin menurun
dan kemampuannya sebagai penampung limbah banyak berkurang sehingga
banyak menimbulkan pencemaran disekitar kita. Manusia sebagai salah satu
faktor penentu seharusnya sadar bahwa lingkungan hidup sangat penting bagi
peningkatan hidup manusia itu sendiri.
Peningkatan kualitas hidup manusia selalu berorientasi jangka panjang
dengan prinsip-prinsip keberlanjutan hidup manusia sekarang dan akan datang.
Lingkungan hidup juga merupakan sebuah sistem yang utuh, kolektivitas dari
serangkaian subsistem yang saling berhubungan, saling bergantung dan
fungsional satu sama lain sehingga membentuk suatu ekosistem yang utuh.
Manusia memiliki akal, budi, daya dan pekerti, kemampuan otak secara natural
manusia bisa berinteraksi dengan lingkungannya dengan memakai otak dan bisa
menentukan kehendak dan merumuskan suatu tindakan dalam otaknya, untuk
memilih/menentukan apa yang hendak ia perbuat mana yang baik dan mana
yang buruk, mana yang bertentangan dengan nilai yang berlaku dalam
lingkungannya. Akan tetapi pandangan martabat istimewa kepada pribadi
manusia, martabat alam tidak dikurangi sedikitpun melainkan ditingkatkan.

Dengan keistimewaan yang dimilikinya, manusia menjadi satu-satunya makhluk


hidup yang memiliki tanggung jawab moral, terhadap dirinya sendiri dan juga
lingkungannya. disamping itu manusia memiliki budaya pranata sosial dan
pengetahuan serta teknologi yang makin berkembang. Kasus-kasus kerusakan
dan pencemaran, seperti dilaut, hutan, sungai, udara,air, tanah dan seterusnya
bersumber pada perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab, tidak peduli
dan hanya mementingkan diri sendiri, manusia adalah penyebab utama dari
kerusakan dan pencemaran lingkungan.
Peran manusia terhadap lingkungan hidup memiliki dua peran yaitu peran
negatif dan peran positif, peran manusia yang bersifat negatif adalah peran yang
merugikan lingkungan. Kerugian ini secara langsung atau tidak langsung timbul
akibat kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, peranan
manusia yang bersitaf positif adalah peranan yang berakibat menguntugkan
lingkungan karena dapat menjaga dan melestarikan daya dukung lingkungan.
Perilaku merusak lingkungan hidup antara lain pertumbuhan populasi manusia,
konsumsi yang berlebihan akan sumberdaya alam; hutan, perikanan, sungai, laut
dan seterusnya, polusi udara, air, dan daratan. Sementara itu kebutuhan
pembangunan gedung-gedung juga menuntut pemenuhan berbagai bahan
material seperti kayu, semen dan pasir yang diperoleh dari pengerukan
sumberdaya alam yang berlebih, sehingga semakin mempertajam kerusakan
lingkungan

alam.

Selain

kerusakan

lingkungan

hidup

diakibatkan

oleh

pertumbuhan populasi penduduk dan konsumsi yang berlebihan atas sumber


daya alam, masyarakat industri juga memberikan dampak kerusakan lingkungan
hidup yang berkelanjutan dan berakibat buruk bagi manusia.
Krisis lingkungan hidup yang dihadapi manusia modern merupakan akibat
langsung dari pengelolaan lingkungan hidup yang nir-etik. Artinya, manusia
melakukan pengelolaan sumber-sumber alam hampir tanpa peduli pada peran
etika. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa krisis ekologis yang dihadapi
umat manusia berakar dalam krisis etika atau krisis moral. Umat manusia kurang
peduli pada norma-norma kehidupan atau mengganti norma-norma yang
seharusnya dengan norma-norma ciptaan dan kepentingannya sendiri.
Manusia modern menghadapi alam hampir tanpa menggunakan hati
nurani dan lebih mengedepankan mentalitas tanpa batas dengan terus
mengeruk sumberdaya alam tanpa mempertimbangkan kemudaratan yang akan
ditimbulkannya di masa depan. Alam begitu saja dieksploitasi dan dicemari tanpa

merasa bersalah. Akibatnya terjadi penurunan secara drastis kualitas sumber


daya alam seperti lenyapnya sebagian spesies dari muka bumi, yang diikuti pula
penurunan kualitas alam. Pencemaran dan kerusakan alam pun akhirnya
mencuat sebagai masalah yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari manusia.
Kiranya tidak salah jika manusia dipandang sebagai kunci pokok dalam
kelestarian maupun kerusakan lingkungan hidup yang terjadi. Cara pandang dan
sikap manusia terhadap lingkungan hidupnya menyangkut mentalitas tanpa
batas dari manusia itu sendiri yang mempertanyakan eksistensinya di jaman
modern ini dalam kaitannya dengan waktu, tujuan hidup, arti materi dan yang
ada di atas materi. Dengan demikian masalah lingkungan hidup tak lain adalah
soal bagaimana mengembangkan falsafah hidup yang dapat mengatur dan
mengembangkan eksistensi manusia dalam hubungannya dengan alam dalam
kerangka etika lingkungan dan deep ecology serta kaitannya dengan UndangUndang No. 32 Tahun 2009 sebagaimana yang akan dijabarkan dalam makalah
ini.

1.2. Perumusan Masalah


Lingkungan hidup merupakan anugrah Tuhan Yang Maha Esa yang wajib
dilestarikan dan dikembangkan kemampuannya agar tetap dapat menjadi
sumber penunjang hidup bagi manusia dan makluk hidup lainnya demi
kelangsungan dan peningkatan kualitas hidup itu sendiri. Manusia dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya memerlukan sumberdaya alam, yang berupa
tanah, air dan udara dan sumberdaya alam yang lain yang termasuk ke dalam
sumberdaya alam yang terbarukan maupun yang tak terbarukan.
Namun demikian harus disadari bahwa sumberdaya alam yang kita
perlukan mempunyai keterbatasan di dalam banyak hal, yaitu keterbatasan
tentang ketersediaan menurut kuantitas dan kualitasnya. Sumberdaya alam
tertentu juga mempunyai keterbatasan menurut ruang dan waktu. Oleh sebab itu
diperlukan pengelolaan sumberdaya alam yang baik dan bijaksana. Antara
lingkungan dan manusia saling mempunyai kaitan yang erat. Ada kalanya
manusia sangat ditentukan oleh keadaan lingkungan di sekitarnya, sehingga
aktivitasnya banyak ditentukan oleh keadaan lingkungan di sekitarnya.
Keberadaan sumberdaya alam, air, tanah dan sumberdaya yang lain
menentukan aktivitas manusia sehari-hari. Kita tidak dapat hidup tanpa udara
dan air. Sebaliknya ada pula aktivitas manusia yang sangat mempengaruhi

keberadaan sumberdaya dan lingkungan di sekitarnya. Kerusakan sumberdaya


alam banyakd itentukan oleh aktivitas manusia. Banyak contoh kasus-kasus
pencemaran dan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia
seperti pencemaran udara, pencemaran air, pencemaran tanah serta kerusakan
hutan

yang

kesemuanya

tidak

terlepas

dari

aktivitas

manusia

yang

mengedepankan mentalitas tanpa batas dan kurangnya etika, yang pada


akhirnya akan merugikan manusia itu sendiri.
Etika sebenarnya sudah melekat dalam diri seseorang sejak lahir (Keraf,
2002). Tetapi akhir-akhir ini etika tidak muncul, walau kebijakan lingkungan
sudah ada tetapi degradasi lingkungan juga semakin meningkat. Munculnya
kerusakan ini karena etika lingkungan tidak pernah dikedepankan. Kerusakan
lingkungan diperparah karena manusia menganut paham materialisme sehingga
terjadi krisis ekologi. Kita baru sadar kembali setelah ada isu pemanasan global,
kerusakan di darat, laut dan pencemaran udara. Bumi ini sebenarnya cukup
menyediakan berbagai bahan untuk semua orang tetapi tidak cukup untuk orangorang yang greedy. Krisis ekologi dipercepat karena adanya dominansi sikap
anthroposentrisme, hilangnya atau menurunnya proses ritualisme pada diri
manusia. Sehingga akhir-akhir ini banyak orang menyuarakan tentang etika
lingkungan, pembangunan berkelanjutan, pembangunan lestari, pembangunan
berwawasan lingkungan, back to nature, pertanian hemat energi, dan lain-lain.
Etika lingkungan hidup berhubungan dengan perilaku manusia terhadap
lingkungan hidupnya, tetapi bukan berarti bahwa manusia adalah pusat dari alam
semesta (antroposentris).
Lingkungan hidup adalah lingkungan di sekitar manusia, tempat dimana
organisme dan anorganisme berkembang dan berinteraksi. Jadi lingkungan
hidup adalah planet bumi ini. Untuk mempertahankan eksistensi planet bumi
manusia memerlukan kekuatan/nilai lain yang disebut etosfer yaitu etika atau
moral. Etika ini bukan ciptaan manusia, sebab ia melekat pada dirinya menjadi
hakikatnya. Apa penyebab etika lingkungan cenderung dilupakan? Penyebabnya
adalah

mentalitas

tanpa

batas

(keserakahan)

yang

bersifat

ekonomi,

ketidaktahuan (kebodohan) bahwa lingkungan perlu untuk kehidupannya dan


kehidupan orang lain serta keselarasan terhadap semua kehidupan dan materi
yang ada di sekitarnya.
Menurut Keraf (2002) munculnya masalah lingkungan hidup adalah
masalah moral, persoalan perilaku manusia. Lingkungan hidup bukan semata-

mata persoalan teknis. Demikian pula, krisis ekologi global yang kita alami
dewasa ini adalah persoalan moral, krisis moral secara global. Oleh karena itu
perlu etika dan moralitas untuk mengatasinya. Keterkaitan antara manusia
dengan mentalitas tanpa batas dan penurunan etika lingkungan dan deep
ecology sebagai penyebab terjadinya krisis lingkungan hidup inilah yang menjadi
fokus masalah yang akan dijabarkan dalam makalah ini.

1.3. Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menjabarkan bagaimana
seharusnya sikap kita terhadap lingkungan sekitarnya yang merupakan titipan
dan anugerah dari sang Pencipta alam. Dimana keterkaitan antara manusia
dengan terjadinya krisis lingkungan hidup akibat mentalitas tanpa batas dan
penurunan etika lingkungan dan deep ecology menjadi fokus penjabaran dalam
kerangka pengelolaan lingkungan hidup.

II. PEMBAHASAN

2.1. Lingkungan Hidup


Menurut Undang-undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup, Definisi lingkungan hidup adalah kesatuan ruang
dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia
dan

perilakunya,

yang

mempengaruhi

alam

itu

sendiri,

kelangsungan

perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.


Lingkungan hidup pada prinsipnya merupakan suatu sistem yang saling
berhubungan satu dengan yang lainnya sehingga pengertian lingkungan hidup
hampir mencakup semua unsur ciptaan Tuhan Yang Mahakuasa di bumi ini.
Itulah sebab lingkungan hidup termasuk manusia dan perilakunya merupakan
unsur lingkungan hidup yang sangat menentukan. Namun tidak dapat dipungkiri
bahwa lingkungan saat ini oleh sebagian kalangan dianggap tidak bernilai karena
lingkungan hidup hanya sebuah benda yang diperuntukkan bagi manusia.
Dengan kata lain, manusia merupakan penguasa lingkungan hidup sehingga
lingkungan hidup hanya dipersepsikan sebagai objek dan bukan sebagai subjek.
2.2. Korelasi Antara Manusia dengan Lingkungan Hidup
Manusia hidup, tumbuh, dan berkembang dalam lingkungan alam dan
budayanya. Dalam lingkungan alamnya manusia hidup dalam sebuah ekosistem
yakni, suatu unit atu satuan fungsional dari makhluk-makhluk hidup dengan
lingkungannya. Dalam ekosistem terdapat komponen abiotik pada umumnya
merupakan faktor lingkungan yang mempengaruhi makhluk-makhluk hidup
diantaranya: tanah, udara atau gas-gas yang membentuk atmosfer, air, cahaya,
suhu atau temperatur, Sedangkan komponen biotik diantaranya adalah:
produsen, konsumen, pengurai.
Manusia sedikit demi sedikit mulai menyesuaikan diri pada alam
lingkungan hidupnya maupun komunitas biologis di tempat mereka hidup.
Perubahan alam lingkungan hidup manusia tampak jelas di kota-kota, dibanding
dengan pelosok dimana penduduknya masih sedikit dan primitif. Perubahan alam
lingkungan hidup manusia akan berpengaruh baik secara positif ataupun negatif.
Berpengaruh bagi manusia karena manusia mendapatkan keuntungan dari
perubahan tersebut, dan berpengaruh tidak baik karena dapat dapat mengurangi
kemampuan alam lingkungan hidupnya untuk menyokong kehidupannya.

Manusia

merupakan

komponen

biotik

lingkungan

yang

memiliki

kemampuan berfikir dan penalaran yang tinggi. Disamping itu manusia memiliki
budaya,

pranata sosial dan pengetahuan serta teknologi yang makin

berkembang. Peranan manusia dalam lingkungan ada yang bersifat positif dan
ada yang bersifat negatif. Peranan manusia yang bersifat negatif adalah peranan
yang merugikan lingkungan. Kerugian ini secara langsung atau pun tidak
langsung timbul akibat kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya,
peranan manusia yang bersifat positif adalah peranan yang berakibat
menguntungkan lingkungan karena dapat menjaga dan melestarikan daya
dukung lingkungan. Peranan Manusia yang bersifat negatif terhadap lingkungan
antara lain sebagai berikut:
1. Eksploitasi yang melampaui batas sehingga persediaan Sumber Daya
Alam makin menciut (depletion);
2. Punah atau merosotnya jumlah keanekaan jenis biota;
3. Berubahnya ekosistem alami yang mantap dan seimbang menjadi
ekosistem binaan yang tidak mantap karena terus menerus memerlukan
subsidi energi;
4. Berubahnya profil permukaan bumi yang dapat mengganggu kestabilan
tanah hingga menimbulkan longsor;
5. Masuknya energi bahan atau senyawa tertentu ke dalam lingkungan yang
menimbulkan pencemaran air, udara, dan tanah. hal ini berakibat
menurunnya kualitas lingkungan hidup. Pencemaran dapat menimbulkan
dampak negatif pada lingkungan dan terhadap manusia itu sendiri;
Peranan Manusia yang menguntungkan lingkungan antara lain:
1. Melakukan eksploitasi Sumber Daya Alam secara tepat dan bijaksana
terutama SDA yang tidak dapat diperbaharui;
2. Mengadakan penghijauan dan reboisasi untuk menjaga kelestarian
keaneka jenis flora serta untuk mencegah terjadinya erosi dan banjir;
3. Melakukan proses daur ulang serta pengolahan limbah agar kadar bahan
pencemar yang terbuang ke dalam lingkungan tidak melampaui nilai
ambang batasnya;
4. Melakukan sistem pertanian secara tumpang sari atau multi kultur untuk
menjaga kesuburan tanah. Untuk tanah pertanian yang miring dibuat
sengkedan guna mencegah derasnya erosi serta terhanyutnya lapisan
tanah yang mengandung humus;

5. Membuat peraturan, organisasi atau undang-undang untuk melindungi


lingkungan dan keanekaan jenis makhluk hidup.
2.3. Pengetahuan dan Interaksi Manusia dengan Lingkungan
Berbicara tentang lingkungan maka mau tidak mau akan menyinggung
aspek manusia, karena keterkaitan manusia dengan lingkungan adalah hal yang
tidak dapat ditampikan. Lingkungan dan manusia melakukan hubungan timbal
balik yang mana membuat interaksi antar keduanya menjadi saling tergantung,
mempengaruhi dan saling bersinggungan.
Pola Interaksi manusia dengan lingkunganya tergantung pada etika
lingkungan apa yang ia pakai, bagaimana kesadaran ekologisnya serta
bagaimana pengetahuan yang ia miliki keterkaitannya dengan lingkungan.
Pengetahuan manusia lah yang mempengaruhi etika lingkungan dan kesadraan
ekologis nya. Karena pengetahuan manusia merupakan sebuah konstruk sosial,
dimana dengan dan lewat pengetahuan berbagai hal bisa dipengaruhi dan
mempengaruhi, termasuk dalam hal ini berkaitan dengan lingkungan.
Pengetahuan dalam analisis Sosiologi Pengetahuan menurut Karl
Manheim adalah sesuatu yang berkaitan dengan kenyataan hidup sehari-hari
(pengalaman atau historisitas) dan eksistensi manusia tersebut. Manusia akan
menangkap sebuah realitas didepan dirinya sesuai dengan pemikiran dan
pengetahuannya. Termasuk menangkap sebuah lingkungan, manusia akan
melakukan penilaian sesuai dengan pengetahuannya. Sampah jika dalam
pengetahuannya adalah sesuatu yang tidak berguna, sebuah maslaah dan
sesuatu yang harus dijauhkan dari dirinya maka manusia tersebut akan menilai
sampah yang sebagai sesuatu hal yang menjijikan dan penambah kekacauan hal
ini akan membuat perlakukannya terhadap sampah tidak bersahabat. Tetapi
andaikan manusia memiliki pengetahuan tentang sampah bahwa sampah itu
berguna, mempunyai manfaat bagi manusia, maka akan manusia menilai bahwa
sampah itu bukan sebuah masalah. Dan perlakukan manusia pun pada sampah
akan lebih baik. Pengetahuan dan pemikiran mempengaruhi penilaian manusia
terhadap sesuatu dan mempengaruhi perlakuan manusia terhadap sesuatu
tersebut.
August Comte yang membagi tahap pemikiran manusia menjadi tiga yaitu
teologis, metafisik dan positivis, dari pembagian ini memperlihatkan keterkaitan
antara pengetahuan manusia dengan interaksi manusia tersebut dengan

lingkungan sekitarnya. Dalam tahap teologis manusia mempercayai suatu


kejadian dengan mengaitkannya pada hal-hal yang bersifat supranatural atau
gaib atau mistis, manusia meyakini bahwa segala kejadian dimuka bumi adalah
akibat dari Tuhan, Dewa, serta hal-hal mistis lain. Sedangkan dalam tahap
metafisik perkembangan akal budi manusia sudah mulai terlihat walau belum
maksimal, kejadian di bumi dianggap sebagai sebab dari adanya hukum-hukum
alam. Pemikiran manusia pada tahap teologis dan metafisik ini membawa
manusia menjadi tunduk pada alam (lingkungan), manusia menganggap dirinya
sebagai makhluk yang pasif dan harus tunduk pada hukum-hukum alam yang
berlaku. Manusia pada tahap perkembangan ini bisa dianalogikan seperti
masyarakat atau penduduk desa, yang mana kehidupan sehari-hari sangat
tergantung pada alam, mata pencaharian, tempat tinggal adalah sebuah alam
yang natural yang mempunyai aturan atau hukum tersendiri yaitu hukum alam.
Hukum alam adalah hukum yang mengedepankan keseimbangan (equirilibrium)
dalam segala aspek, dalam hal ini hukum alam adalah hukum yang bertugas
menjaga keseimbangan dari rantai makanan sebagai sebuah bentuk dari jaringjaring kehidupan (the web of life).
Keteraturan yang dilakukan oleh hukum alam dan didukung dengan
patuhnya manusia pada hukum tersebut membuat tidak ada masalah dalam
interaksi manusia dengan lingkungan. Tahap ketiga dalam perkembangan
pemikiran manusia yaitu positivis merupakan tahap tertinggi dari pemikiran
manusia, dimana manusia telah menggunakan dan mempercayai akal pikirannya
sendiri. Sehingga sesuatu hanya akan dianggap benar jika telah dibuktikan oleh
panca indra dan telah di lakukan pengujian atau penelitian. Tahap ketiga ini bisa
dianalogikan dengan karakteristik masyarakat kota. Masyarakat kota adalah
masyarakat yang melakukan interaksi dengan lingkungan yang ia buat sendiri,
seperti lingkungan ekonomi, sosial, politik dan pendidikan. Lingkunganlingkungan buatan seperti itulah yang menjadi tempat manusia hidup dan
melakukan interaksi. Lingkungan buatan tersebut menuntut manusia untuk patuh
pada aturan yang dibuat sendiri, seperti aturan hukum, aturan tata kota, serta
aturan-aturan lain sebagai warga negara. Aturan atau hukum buatanan tentunya
berbeda secara sifat dari hukum alam. Hukum alam bersifat menjaga
keseimbangan dari sebuah sistem kehidupan yaitu jaring-jaring kehidupan, tetapi
hukum manusia adalah hukum yang seperti pemikiran Michael Foucoult yaitu
memiliki kepentingan sehingga adanya keseimbangan diragukan.

10

2.4. Akar Permasalahan Kerusakan Lingkungan Hidup


Menurut Keraf (2002) tidak bisa disangkal bahwa berbagai kasus
lingkungan hidup yang terjadi sekarang ini, baik pada lingkup global maupun
lingkup nasional, sebagian besar bersumber dari perilaku manusia, kasus-kasus
pencemaran dan kerusakan, seperti dilaut, hutan, atmosfer, air, tanah dan
seterusnya bersumber pada perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab,
tidak peduli dan hanya mementingkan diri sendiri, manusia adalah penyebab
utama dari kerusakan dan pencemaran lingkungan.
Sejalan dengan pendapat Keraf diatas, Naes dalam

Chiras (1991)

menyatakan bahwa krisis lingkungan dewasa ini hanya bisa diatasi dengan
melakukan perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam yang
fundamental dan radikal. Yang dibutuhkan adalah sebuah pola hidup atau gaya
hidup baru yang tidak hanya menyangkut orang perorang, tetapi juga budaya
masyarakat secara keseluruhan. Artinya dibutuhkan etika lingkungan hidup yang
menuntun manusia untuk beriteraksi dalam alam semesta.
Kerusakan dan pencemaran lingkungan selain karena ulah tangan
manusia juga disebabkan karena faktor penegakan hukum yang lemah dan
belum efektif, seperti seringkali telah terjadi pelanggaran izin atau syarat-syarat
dalam izin tidak dipenuhi oleh pemegang, tetapi pejabat administrasi tidak
berbuat apa-apa atau membiarkan pelanggaran itu terjadi. Hal seperti inilah yang
cenderung memandang lingkungannya bukan lagi sebagai bagian yang tidak
terpisahkan, bahkan lingkungannya telah dipandang sebagai obyek yang dapat
dieksploitir semaksimal mungkin. Manusia semakin menutup dirinya dari
hubungan keserasian, keselarasan dan keseimbangan. Perilaku inilah yang
kemudian menjadi sumber egoism dan individualisme, seorang dengan orang
lain mulai saling apatis, tidak mau tahu persoalan-persoalan dan situasi yang
dihadapi pihak lain. Seseorang dengan tetangganya masing-masing sibuk
denganurusannya, bahkan banyak yang tidak saling kenal.
Dalam berbagai segi unsur persaingan mulai muncul dan semakin tajam,
bahkan masyarakat semakin cenderung memerankan perilaku yang anormatif,
asocial dan cara-cara lain yang tidak halal bila dianggap sudah menguntugkan
dirinya. Fukuyama dalam Todaro (1995) menyatakan bahwa akar kerusakan
maha dahsyat di bumi ini bersumber dari 4 (empat) akar kemerosotan.
Keempatnya selain karena kemiskinan yang meningkat, juga tidak kalah
dahsyatnya karena factor kekayaan yang meningkat, erosi cultural yang meluas,

11

termasuk kemerosotan religious, dan meningkatnya egoism atau awal kepuasan


individualistis di atas kewajiban komunal.
Fromm dalam Golley (1987) menggolongkan manusia dalam dua tipe,
yaitu tipe biophilia, yakni orientasi sikap hidup untuk menghidupi (bagi sesama
dan lingkungannya) dan tipe sebaliknya necrophilia, yakni tipe manusia dengan
perilaku mematikan sesame dan lingkungannya. Tipe demikian muncul dalam
sifat

manusia yang

mewujudkan secara maksimal kehendaknya untuk

mematikan, tipe necrophilia atau sifat nekrophilis pada zaman modern ini
semakin banyak dijumpai, baik dalam bentuk samar maupun secara terangterangan. Perilaku demikian dapat berada dalam segala pola kehidupan ;
ekonomi, politik dan dalam banyak aspek kemasyarakatan lainnya.
Inilah yang pada akhirnya menentukan intensitas masalah-masalah
lingkungan yang kita hadapi sekarang, sosok-sosok manusia ditandai dengan
buasnya keinginan yang seringkali melewati batas-batas kewajaran, potensipotensi demikian dapat menjadi ancaman terbesar bagi kelestarian lingkungan
hidup.

2.5. Kaitan Penurunan Etika Lingkungan dengan Peningkatan Perilaku


Merusak Lingkungan
Kaitan penurunan etika lingkungan dengan peningkatan kerusakan
lingkungan terangkum dalam suatu ikhtisar tentang contoh-contoh kritis dari
hilangnya etika dan meningkatnya mentalitas tanpa batas yang merusak
lingkungan hidup. Light (2003) menggolongkan perilaku yang merusak
lingkungan hidup ke dalam tiga kategori: (1) pertumbuhan populasi manusia; (2)
konsumsi yang berlebihan akan sumberdaya alam: hutan, perikanan, sungai, dan
seterusnya, dan; (3) polusi udara, air, dan daratan. Tinjauan singkat apapun
terhadap topik yang luas ini sungguh-sungguh akan sangat selektif dan
merefleksikan opini dari penulis. Tujuan penulis hanya menyediakan beberapa
perspektif kepada perilaku yang merusak lingkungan hidup yang sedang kita
pikirkan ketika kita beralih kepada akar penyebab individual, organisasional, dan
institusional dari perusakan atau pembinasaan lingkungan hidup.
a. Pertumbuhan Populasi Manusia
Populasi dunia sedang berkembang sekitar 1,5 persen setiap tahun, dan
secara kasar bertambah 90 juta orang di dunia ini setiap tahunnya. Pada tahun
1990, populasi dunia telah berjumlah 5,3 milyar. Pada tahun 2025, penduduk

12

dunia diperkirakan akan mencapai 8,5 milyar. Pada saat itu petani akan
memerlukan hasil tanaman padi 50 persen lebih banyak dibandingkan sekarang,
dan itu hanya untuk memenuhi permintaan populasi saja. Tetapi, pertumbuhan
ini tidak seragam di seluruh dunia. Walaupun fakta dimana sumberdaya alam
tidak bisa mendukung suatu populasi besar, namun lebih dari 90 persen
pertumbuhan populasi dunia itu terjadi di negara-negara berkembang, dimana
pertumbuhan rata-rata 2,3 persen (Amihud, 2001). Afrika misalnya, laju
pertumbuhan populasinya 3,0 persen per tahun. Sebagai hasilnya, sebagian
besar dari sekitar 20 hingga 25 persen populasi dunia hidup di dalam
kemiskinan absolut didefinisikan dari pendapatan per kapita kurang dari 370
dollar per tahun tinggal dalam negara-negara berkembang (Abbot, 2000).
b. Konsumsi Yang Berlebihan Atas Sumberdaya Alam
Kebutuhan untuk memperluas dukungan materi bagi perkembangan
populasi dunia mengakibatkan masyarakat industri menempatkan permintaan
terhadap lingkungan hidup alam untuk pertumbuhan serta stabilitas mereka yang
berkelanjutan. Pengembangan di seluruh dunia memaksa permintaan yang
signifikan atas pemenuhan dari sumberdaya alam dengan demikian
mengancam stabilitas dari ekosistem. Untuk mendukung kebutuhan populasi
masa kini, banyak sumber-sumber daya alam yang sedang dieksploitasi
sehingga akan menghalangi manfaatnya bagi generasi masa depan. Sebagai
contoh, populasi dari banyak spesies ikan akan jatuh di bawah ukuran yang
diperlukan untuk meyakinkan kesinambungan hidup mereka. Sementara itu,
dengan mengetahui bahwa populasi ikan sudah semakin berkurang, orang akan
meninggalkan ketergantungan pada ikan dan mencari-cari sumber lain untuk
makanan

dan

mata

pencaharian

ekonomi.

Sementara

itu,

kebutuhan

pembangunan gedung-gedung juga menuntut pemenuhan berbagai bahan


material seperti kayu, semen dan pasir yang diperoleh dari pengerukan
sumberdaya alam yang berlebih, sehingga semakin mempertajam kerusakan
lingkungan hidup alam (Soemarwoto, 2001).

c. Polusi
Selain perusakan lingkungan hidup diakibatkan oleh pertumbuan populasi
penduduk dan konsumsi yang berlebihan atas sumberdaya alam, masyarakat
industri juga memberikan dampak perusakan lingkungan hidup lebih lanjut, yakni

13

terhadap ekosistem melalui emisi dari hasil sampingan limbah dari materi yang
digunakan serta dimanipulasi. Sebagian besar dari hasil polusi dunia adalah dari
pemborosan sistem produksi, menghasilkan perusakan sumber-sumber daya
alam yang berpengaruh pada merosotnya jaminan kesehatan manusia dan
binatang, serta mahluk hidup non hewani lainnya, yang sebetulnya adalah
populasi yang sedang dilayani (Frederick, 2002). Di desa di dalam banyak
negara berkembang, sebagai contoh, sedikitnya 170 juta orang kekurangan
akses untuk membersihkan air untuk minuman, masakan, dan cucian (Gerwith,
1979). Penduduk di kota-kota seperti Bangkok, Beijing, Mexico City, dan Sao
Paulo dipaksa untuk tinggal dan hidup di udara yang tidak cocok untuk bernafas
(Hay, 1977).
2.6. Manusia Sebagai Salah Satu Faktor yang Menentukan Lingkungan
Hidup dalam Kerangka Undang-Undang No. 32 Tahun 2009.
Masalah lingkungan hidup tidak pernah lepas dari berbagai kepentingan
seperti kepentingan Negara, kepentingan pemilik modal, kepentingan rakyat
maupun kepentingan lingkungan hidup itu sendiri. Penempatan kepentingan itu
selalu menempatkan pihak masyarakat sebagai pihak yang dirugikan.
Pembangunan merupakan pertumbuhan ekonomi untuk mendukung
peningkatan kesejahteraan. Dalam mengejar pertumbuhan ekonomi ini, sering
terjadi pacuan pertumbuhan yang seringkali menimbulkan dampak yang tidak
terduga terhadap lingkungan alam dan lingkungan sosial.
Krisis lingkungan global yang kita alami dewasa ini sebenarnya
bersumber pada kesalahan fundamental-filosofis manusia dalam memahami atau
memandang dirinya, alam dan tempat manusia dalam keseluruhan ekosistem
pada gilirannya hal ini menyebabkan kesalahan pada perilaku manusia yang
bersumber dari kesalahan cara pandang tersebut. Manusia keliru memandang
alam dan keliru menempatkan diri dalam konteks alam semesta seluruhnya.
Inilah awal dari semua bencana lingkungan hidup yang kita alami sekarang, oleh
karena itu pembenahannya harus pula menyangkut pembenahan cara pandang
dan perilaku manusia dalam berinteraksi baik dengan alam maupun dengan
manusia lain dalam keseluruhan ekosistem.
Kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup tidak hanya menjadi
masalah nasional, tetapi telah menjadi masalah antarnegara, regional dan global.
Dunia semakin sempit, hubungan antarnegara bertambah dekat dan makin
tergantung satu sama lain. Pencemaran pun semakin meluas, kadang-kadang

14

melintasi batas-batas Negara dalam bentuk pencemaran air sungai, emisi udara,
kebakaran hutan, pencemaran minyak di laut dan seterusnya. Kebakaran hutan
diserawak akan mudah merembet ke Kalimantan Barat dan sebaliknya. Semua
ini memerlukan pengaturan khusus yang bersifat supranasional.
Dalam ruang nasional, hukum lingkungan menempati titik silang sebagai
bagian dari hukum klasik, yaitu hukum publik dan privat. Termasuk hukum publik
adalah hukum pidana, hukum pemerintahan (administratif), hukum pajak, hukum
tata Negara, bahkan hukum agraria pun berkaitan dengan hukum lingkungan.
Kaitannya dengan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa bumi
dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara
dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Ketentuan ini
telah dijabarkan ke dalam Undang-Undang Pokok Agraria Tahun 1960, bahkan
telah ditambah dengan dimensi baru, yakni ruang angkasa, disamping bumi dan
air. Dengan demikian pemberian hak milik, hak guna bangunan, hak guna usaha,
hak pakai dan lain-lain harus juga memperhatikan kepentingan lingkungan, kalau
tanah itu dirusak atau dipergunakan yang mengakibatkan pencemaran atau
rusaknya lingkungan hidup, hak itu dapat dicabut.
Penegakan hukum lingkungan akan menjadi titik silang penggunaan
instrument hukum tersebut, terutama instrument hukum pemerintahan atau
administratif, perdata dan hukum pidana. Oleh karena itu penegakan hukum
lingkungan melibatkan berbagai instansi pemerintah sekaligus seperti polisi,
jaksa,

pemerintah

daerah,

pemerintah

pusat

terutama

Kementerian

Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Kehutanan, Kementerian


Pekerjaan Umum, Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, Laboratorium
criminal, bahkan LSM (lembaga swadaya masyarakat). Kerjasama antar instansi
tersebut harus serasi, terkoordinasi dan terpadu. Inilah yang membedakan
dengan bidang hukum yang lain.
Andi

(2005)

menyatakan

bahwa

penegakan

hukum

lingkungan

merupakan mata rantai terakhir dalam siklus pengaturan perencanaan kebijakan


tentang lingkungan yang urutannya sebagai berikut :
1. Perundang-undangan
2. Penentuan standar
3. Pemberian izin
4. Penerapan
5. Penegakan hukum

15

Masalah lingkungan tidak selesai dengan pemberlakuan Undang-Undang


dan komitmen untuk melaksanakannya. Penetapan suatu Undang-Undang yang
mengandung instrumen hukum masih harus diuji dalam pelaksanaannya
(uitvoering atau implementation) sebagai bagian dari mata rantai pengaturan
(regulatory chain) pengelolaan lingkungan. Dalam merumuskan kebijakan
lingkungan, Pemerintah lazimnya menetapkan tujuan yang hendak dicapai
(Siahaan, 2004).
Penegakan hukum lingkungan semakin penting sebagai salah satu
sarana untuk mempertahankan dan melestarikan lingkungan hidup yang baik.
Penegakan hukum yang berkaitan dengan masalah lingkungan hidup meliputi
aspek hukum pidana, perdata, tata usaha negara serta hukum internasional.
Lingkungan hidup merupakan anugrah Tuhan Yang Maha Esa yang wajib
dilestarikan dan dikembangkan kemampuannya agar tetap dapat menjadi
sumber penunjang hidup bagi manusia dan makluk hidup lainnya demi
kelangsungan dan peningakatan kualitas hidup itu sendiri.
Dari mata rantai siklus pengaturan perencanaan kebijakan hukum
lingkungan dapat dilihat bahwa kelemahan terdapat pada penegakan hukumnya.
Disamping penegakan hukum yang lemah, kesadaran hukum masyarakat
terhadap lingkungan dianggap masih rendah, kendala ini sangat terasa dalam
menjaga kelestarian lingkungan hidup maupun dalam upaya penegakan hukum.
Pencemaran dan kerusakan lingkungan tidak hanya menjadi masalah lokal tetapi
sudah menjadi masalah nasional bahkan internasional. Tingkat pencemaran dan
kerusakan

juga

jauh

lebih

hebat

karena kemajuan

teknologi

industri,

pertambahan penduduk yang semakin hari semakin menggusur daerah


pertanian dan hutan produktif untuk dijadikan permukiman. Perlombaan
mengejar kemakmuran antarnegara semakin meningkat yang pada akhirnya
menguras sumber-sumber daya alam hayati dan nonhayati.
Penegakan hukum melalui sanksi administratif dalam memelihara
lingkungan pertama berada ditangan para pejabat administrasi, karena
merekalah yang mengeluarkan izin dan dengan sendirinya mereka yang terlebih
dahulu mengetahui jika tidak ada izin atau syarat-syarat dalam izin itu dilanggar.
Namun tidaklah berarti sanksi administratif didahulukan penerapannya terhdap
pelanggaran hukum lingkungan. Jika pejabat administrasi enggan bertindak atau
pura-pura tidak tahu adanya pelanggaran, bahkan jika ia terlibat atau mempunyai

16

interest dalam perusahaan yang melanggar itu. Dalam hal ini instrument hukum
pidanalah yang sebaiknya diterapkan sebagai ultimum remedium.
Sanksi administratif sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 76
Undang-Undang Nomor : 32 Tahun 2009 ayat (1) "Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota menerapkan sanki administratif kepada penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan jika dalam pengawasan ditemukan pelanggaran terhadap izin
lingkungan. Ayat (2) "sanksi administratif terdiri dari : a. teguran tertulis, b.
paksaan pemerintah, c. pembekuan izin lingkungan, atau d. pencabutan izin
lingkungan.
Sebagai contoh kasus bentrok warga dengan aparat polisi di Kecamatan
Lambu, Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat (NTB) yang disebabkan tidak
dipenuhinya tuntutan warga atas penolakan dan pencabutan izin terhadap
keberadaan perusahaan tambang yang menurut warga dianggap telah merusak
lingkungan. Tuntutan warga atas pencabutan izin pertambangan di Bima Nusa
Tenggara Barat tidak lepas dari perannya untuk menjaga lingkungan hidup
didaerah tempat tinggalnya, hal ini dilakukan tidak semata-mata karena
kepeduliannya terhadap lingkungan, hal ini juga diatur dalam Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2009 yang juga memerintahkan untuk berperan serta dalam
melakukan pengawasan sosial, pemberian saran, pendapat, usul, keberatan,
pengaduan dan/atau penyampaian informasi dan/atau laporan dalam rangka
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Permintaan pencabutan izin
pertambangan kepada pemerintah adalah bentuk kepedulian masyarakat NTB
dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup. Namun sayang tuntutan warga
atas pencabutan izin pertambangan tersebut tidak direspon dan berakibat konflik
horizontal.
Peran masyarakat sebagaimana tersebut dilakukan untuk meningkatkan
kepedulian

dalam

meningkatkan

perlindungan

kemandirian,

menumbuhkembangkan

dan

pengelolaan

keberdayaan

kemampuan

masyarakat

dan

lingkungan
dan

kepeloporan

menumbuhkembangkan ketanggapsegeraan masyarakat

untuk

hidup,

kemitraaan,
masyarakat,
melakukan

pengawasan sosial, mengembangkan dan menjaga budaya dan kearifan lokal


dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan hidup.
Menurut Supriadi (2005) penerapan instrument administratif terutama
dimaksudkan untuk pemilihan keadaan atau perbaikan kerusakan atau dengan
kata lain ditujukan kepada perbuatannya. Pilihan jatuh pada hukum pidana jika

17

suatu kerusakan tidak dapat diperbaiki atau dipulihkan, misalnya penebangan


pohon, pembunuhan terhadap burung atau binatang yang dilindungi. Perbaikan
atau pemulihan kerusakan tersebut tidak dapat dilakukan secara fisik. Dalam
kehidupan sehari-hari banyak sekali perbuatan yang tidak dapat diperbaiki atau
dipulihkan, misalnya merokok padahal merokok tidak merupakan pelanggaran
berat, atau tidak melaporkan kejahatan yang ia ketahui dan sebagainya.
Siahaan (2004) menyatakan bahwa penegakan hukum lingkungan dalam
kaitannya dengan hukum administrasi mewujudkan supremasi hukum melalui
upaya penegakan hukum serta konsisten akan memberikan landasan kuat bagi
terselenggaranya pembangunan, baik dibidang ekonomi, politik, sosial budaya,
pertahanan keamanan. Namun dalam kenyataan untuk mewujudkan supremasi
hukum tersebut masih memerlukan proses dan waktu agar supremasi hukum
dapat benar-benar memberikan implikasi yang menyeluruh terhadap perbaikan
pembangunan nasional. Upaya penegakan sanksi administrasi oleh pemerintah
secara ketat dan konsisten sesuai dengan kewenangan yang ada akan
berdampak bagi penegakan hukum, dalam rangka menjaga kelestarian fungsi
lingkungan hidup. Sehubungan dengan hal ini, maka penegakan sanksi
administrasi merupakan garda terdepan dalan penegakan hukum lingkungan
(primum remedium). Jika sanksi administrasi dinilai tidak efektif, berulan
dipergunakan sarana sanksi pidana sebagai senjata pamungkas (ultimum
remedium). Ini berarti bahwa kegiatan penegakan hukum pidana terhadap suatu
tindak pidana lingkungan hidup baru dapat dimulai apabila aparat yang
berwenang telah menjatuhkan sanksi administrasi dan telah menindak pelanggar
degan menjatuhkan suatu sanksi administrasi tesebut, namun ternyata tidak
mampu menghentikan pelanggaran yang terjadi, atau antara perusahaan yang
melakukan pelanggaran dengan pihak masyarakat yang menjadi korban akibat
terjadi

pelanggaran,

sudah

diupayakan

penyelesaian

sengketa

melalui

mekanisme altenatif di luar pengadilan dalam bentuk musyawarah / perdamaian /


negoisasi/mediasi, namun upaya yang dilakukan menemui jalan buntu, dan atau
litigasi melalui pengadilan pedata, namun upaya tersebut juga tidak efektif, baru
dapat digunakan instrumen penegakan hukum pidana lingkungan hidup. Dengan
demikian,

badan-badan pemerintah yang berwenang

(kewenangan

bertindak

kewenangan

hukumnya.

dalam
Karena

pengertian

politik)

masalah

legitimasi

memiliki legitimasi
untuk

menjalankan

adalah

persoalan

kewenangan yaitu kewenangan menerapkan sanksi seperti pengawasan dan

18

pemberian sanksi yang merupakan suatu tugas pemerintah seperti yang


diamanatkan oleh undang-undang. Dalam hal pengawasan dilakukan oleh suatu
lembaga yang dibentuk khusus oleh pemerintah.
Adapun penerapan instrument hukum pidana terutama ditujukan kepada
orang atau pembuatnya. Orang itulah yang perlu diberbaiki, penerapan
instrument hukum pidana diharapkan tidak menjerakan orang yang melanggar itu
saja, tetapi orang lain agar tidak melakukan perbuatan yang sama jika tidak ingin
dikenakan sanksi hukum pidana. Disamping itu penerapan hukum pidana juga
akan memuaskan korban secara individual dan masyarakat sebagai korban
kolektif. Lebih-lebih di Indonesia yang pada sekarang ini masyarakat luas ingin
melihat semua perkara pidana diajukan ke pengadilan, akan tetapi rambu-rambu
ini tidaklah mutlak karena suatu sanksi administratif mungkin saja dirasa oleh
pelanggar sebagai suatu yang sangat berat, misalnya sanksi administratif berupa
pencabutan izin tentulah jauh lebih berat daripada sanksi pidana berupa denda
atau pidana bersyarat dengan syarat khusus pemulihan keadaan atau ganti
kerugian.

Jadi

penegak

hukum

diisyaratkan

memiliki

penalaran

dan

pertimbangan yang tepat dalam memilih sanksi mana yang lebih sesuai untuk
perbuatan yang telah dilakukan.
Salah

satu

penyebab

parahnya

kondisi

lingkungan

akibat

dari

pencemaran dan perusakan lingkungan saat ini adalah lemahnya penegakan


hukum lingkungan baik di tingkat pusat maupun daerah. Sudah saatnya
penegakan hukum lingkungan yang konsisten merupakan bentuk perlindungan
kepada masyarakat dari pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup.
Seharusnya manusia sadar akan peran dan tanggungjawabanya terhadap
lingkungan hidup dan sudah menjadi kewajiban dari setiap orang untuk menjaga
lingkungan hidupnya sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 67 UndangUndang Nomor : 32 Tahun 2009 bahwa setiap orang berkewajiban memelihara
kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mengendalikan pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup.
2.7. Lima R Sebagai Kerangka Konsep Etika dan Deep Ecology untuk
Menyelamatkan Lingkungan Hidup
1. Reference (acuan)
Setiap agama apapun tidak membenarkan umatnya untuk merusak alam.
Setiap manusia boleh memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhannya

19

bukan keinginannya. Yang dimaksud reference disini adalah semua kitab suci
yang dimiliki oleh setiap agama yang ada di bumi. Apabila setiap manusia
mempercayai setiap kitab sucinya sebagai pedoman hidup, maka tidak ada
manusia yang bertindak sewenang-wenang diluar kebutuhan yang dapat
dipenuhi dengan tindakan yang secukupnya. Pemanfaatan sumberdaya alam
yang melebihi dari kapasitas produksinya, tidak mustahil kerusakan alam akan
lebih banyak daripada perbaikannya. Dalam setiap kitab suci telah diberi sinyal
kurang labih intinya bahwa ...manfaatkanlah sumberdaya alam yang ada tetapi
jangan melampaui batas.... Jadi reference ini merupakan keyakinan yang
diperoleh dari setiap kitab suci dan kepercayaan yang mereka miliki masingmasing. Setiap orang yang masih mempercayai adanya Tuhan maka mereka
tidak akan berbuat sewenang-wenang tanpa aturan. Memang hukuman dari
Tuhan tidak langsung terjadi sekarang tetapi diyakini nanti melalui pengadilan
Tuhan. Yang terlihat sekarang adalah berupa banjir dimana-mana, tanah
longsor, kebakaran hutan dan lain-lain. Banjir terjadi antara lain karena adanya
penggundulan

hutan

yang

tidak

disertai

penghijauan,

dan

juga

tidak

terpeliharanya ekosistem sungai sebagai tempat penampungan air hujan. Daya


tampung sungai yang melebihi kapasitasnya, maka terjadilah banjir.
2. Respect (sikap hormat menghormati)
Respect dalam hal ini adalah penghargaan kepada semua mahluk hidup
yang diajarkan oleh agama sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Apapun yang ada di
bumi adalah makluk Tuhan. Setiap makluk mempunyai kedudukan yang sama
dimata Tuhan. Diantara makluk hidup yang perlu mendapat perhatian adalah
tanaman, hewan dan manusia. Ketiga makluk hidup ini memerlukan tempat
tinggal untuk hidup dan berkembang. Oleh karena manusia merupakan makluk
hidup yang paling istimewa yaitu mempunyai akal, maka manusia mempunyai
kewajiban memelihara kelestarian dan keseimbangan untuk kehidupan makluk
hidup lainnya. Untuk itu kita dilarang menebang pohon dan merusak habitat
fauna sewenang-wenang untuk memenuhi kehidupannya karena tanaman
sangat bermanfaat selain sebagai penyerap karbon dioksida untuk proses
fotosintensis yang menghasilkan pangan dan non pangan juga dapat
meminimalkan kerusakan secara fisik akibat erosi oleh aliran limpas yang lewat
di permukaan tanah. Tanaman dapat menahannya sehingga dapat mengurangi
laju erosi. Sedangkan hewan yang berupa fauna sangat banyak sekali
manfaatnya, selain menjaga rantai makanan, hewan melalui kotoran yang

20

dikeluarkannya dapat menjaga kelestarian dan kualitas tanah dan lahan dari
menurunnya kesuburan akibat ditumbuhi oleh berbagai tanaman. Dengan
demikian, manusia harus menjaga keseimbangan ketiga makluk hidup dan tidak
boleh

mengeksploitasinya

tanpa

mengimbangi

melalui

peningkatan

produktifasnya. Manusia harus saling menghormati semua makhluk baik hidup


maupun tidak hidup yang menempati bumi ini dengan memeliharanya dan
menjaganya

sebagai

pengelola

lingkungan

untuk

dimanfaatkan

dengan

memperhatikan kapasitas produksi alam dalam menjaga keseimbangannya.


3. Restrain (Pengendalian)
Yang dimaksud dengan restrain adalah kemampuan untuk mengelola dan
mengontrol sumberdaya alam supaya penggunaannya tidak mubazir, artinya
setiap pemanfaatan sumberdaya alam harus diperhitungan nilai manfaat, jangan
sampai ada salah kelola atau salah manfaat. Sebagai contoh dalam
pemanfaatan sumberdaya alam di daerah Lapindo, sampai sekarang justru nilai
kerugiannya lebih tinggi daripada manfaatnya.

Hal

ini

mungkin salah

perencanaan atau salah dalam pengelolaan sehingga nilai kerugian baik material
maupun non material sangat banyak, kalau diuangkan bernilai trilyunan rupiah.
Contoh lain dalam pembukaan areal tambang di kawasan hutan, harus benarbenar diperhitungkan masak-masak. Karena penambangan akan merusak
bentang lahan dan membabat habis tanaman di atasnya. Perubahan iklim mikro
akan sulit dikembalikan seperti semula, belum dampak negatif yang ditimbulkan
dari pembukaan lahan untuk tambang. Air asam akan muncul dan sulit dikelola,
juga tanaman penyangga kehidupan yang dapat menyerap karbon dioksida tidak
ada lagi sehingga suhu permukaan tanah akan naik. Selain itu erosi akan terjadi
karena tidak ada lagi tanaman yang menahannya untuk mengendaikan aliran
limpas (run off). Masyarakat di sekitarnya yang umumnya masyarakat marjinal
akan menerima semua dampak buruk tersebut.
4. Redistribution (pemerataan)
Resdistribution adalah kemampuan untuk menyebar luaskan kekayaaan,
kegembiraan dan kebersamaan. Indonesia yang terletak dijalur katulistiwa
terkenal dengan jamrutnya merupakan negara yang kaya raya akan sumberdaya
alam. Tetapi sampai tahun 2011 ini pendapatan Indonesia masih sekitar 3.000
US, sedangkan Singapura pada saat ini pendapatannya telah mencapai 25.000
US/th (Kompas, 2011). Kenapa bisa terjadi ketimpangan dengan kekayaan yang

21

melimpah tetapi masyarakatnya masih miskin?. Dimana sumberdaya

alam

tersebut hilang?. Penyebabnya tidak lain karena distribusi kekayaan tidak


merata, kekayaan banyak dikorupsi oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Indonesia masih tidak merata kekayaannya. Masih ada kesenjangan barat dan
timur,

jawa

dan

pulau

jawa.

Tugas

Pemerintah

adalah

bagaimana

mendistribusikan kekayaan tersebut untuk dimanfaatkan oleh masyarakat


Indonesia bukan oleh orang lain. Kekayaan alam sudah banyak dijual ke orang
lain. Sehingga negara Indonesia yang terkenal kaya raya hanya dalam impian
saja sebagai surga yang manfaatnya dikemudian hari kita tidak tahu kapan.
Manusia cenderung merusak karena munculnya rasa kecemburuan atau karena
susah ekonomi dan penegakaan hukum tidak tegak.
5. Responsibility (pertanggungjawaban)
Responsibility adalah sikap bertanggung jawab dalam merawat kondisi
lingkungan dan alam. Banyak investor yang telah memanfaatkan sumberdya
alam Indonesia mulai dari perkebunan sampai penambangan. Tetapi dengan
dibukanya sumberdaya alam tersebut belum dirasakan manfaatnya melalui
peningkatan pendapatan masyarakat di sekitar proyek tersebut. Masyarakat
masih hidup seperti itu saja. Padalah apabila investor bertanggung jawab melalui
program CSR (corporate social responsibility) dengan menyisihkan sekitar 3%
dari keuntungan untuk program tersebut, maka kehidupan sosial eonomi
masyarakat sekitar akan meningkat, selain itu melalui program tersebut
kerusakan sumberdaya alam merupakan dampak negatif dari pembukaan lahan
tersebut dapat diminimalisasi. Untuk itu investor jangan hanya mengeksploitasi
sumberdaya alam untuk kepentingan ekonomi mereka saja (keuntungan sesaat)
saja tetapi kehidupan sosial ekonomi dan budaya masyarakat serta kerusakaan
lingkungan harus dikelola, sehingga lingkungan dapat dimanfaatkan secara
lestari dan berkelanjutan. Pengangkatan harkat martabat masyarakat yang hidup
di sekitar sumberdaya alam tersebut dapat ikut menikmati, tidak hanya sebagai
penerima dampak yang menunggu kematiannya saja.

22

III. PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Eksploitasi manusia terhadap alam mendapat legitimasi ilmiah-filosofis
melalui pandangan dunia modern bahwa manusia adalah pusat dunia
(antroposentrisme). Alam dipahami sebagai sesuatu yang tidak punyai nilai
intrinsik kecuali semata-mata nilai yang dilekatkan oleh manusia terhadapnya.
Etika Lingkungan Hidup hadir sebagai respon atas etika moral yang selama ini
berlaku, yang dirasa lebih mementingkan hubungan antar manusia dan
mengabaikan hubungan antara manusia dan mahluk hidup bukan manusia.
Mahluk bukan manusia, kendati bukan pelaku moral (moral agents) melainkan
dipandang sebagai subyek moral (moral subjects), sehingga pantas menjadi
perhatian moral manusia. Kesalahan terbesar semua etika sejauh ini adalah
etika-etika tersebut hanya berbicara mengenai hubungan antara manusia
dengan manusia. Dalam perkembangan selanjutnya, etika lingkungan hidup
menuntut adanya perluasan cara pandang dan perilaku moral manusia. Yaitu
dengan memasukkan lingkungan atau alam semesta sebagai bagian dari
komunitas moral. Sebagaimana telah disebutkan di dalam firman Allah di dalam
beberapa surat dalam Al Quran, bahwa sebagai khalifah di bumi, kita sudah
seharusnya menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar serta SDA di dalamnya
karena itu merupakan titipan dan anugerah yang sangat berharga dari Allah
SWT.
Selanjutnya manusia sebagai salah satu komponen lingkungan hidup
yang memiliki ciri yang sangat berbeda dengan komponen-komponen lingkungan
lainnya. Perbedaan yang hakiki dengan makhluk lainnya ialah manusia memiliki
akal atau kecerdikan. Manusia melakukan kerusakan dan pencemaran
lingkungan hidup selain disebabkan karena penegakan hukumnya yang lemah
juga disebabkan karena pola pikir manusia yang keliru memandang alam dan
keliru menempatkan diri dalam konteks alam semesta. Serta perilaku manusia
yang tidak bertanggung jawab, tidak peduli pada orang lain serta kebutuhan
hidup yang tinggi mendorong manusia memiliki mentalitas tanpa batas dan
bersifat serakah dengan tujuan memperkaya diri sendiri.

23

Sanksi administratif sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 76 UndangUndang Nomor : 32 Tahun 2009 ayat (1) "Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
menerapkan sanki administratif kepada penanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan jika dalam pengawasan ditemukan pelanggaran terhadap izin
lingkungan. Ayat (2) "sanksi administratif terdiri dari : a. teguran tertulis, b.
paksaan pemerintah, c. pembekuan izin lingkungan, atau d. pencabutan izin
lingkungan. Penegakan hukum melalui sanksi administratif dalam memelihara
lingkungan pertama berada ditangan para pejabat administrasi, karena
merekalah yang mengeluarkan izin dan dengan sendirinya mereka yang terlebih
dahulu mengetahui. Sehubungan dengan hal ini, maka penegakan sanksi
administratif merupakan garda terdepan dalan penegakan hukum lingkungan
(primum remedium). Jika sanksi administratif dinilai tidak efektif, barulah
dipergunakan sarana sanksi pidana sebagai senjata pamungkas (ultimum
remedium).
Pendekatan lima R sebagai kerangka konsep etika dan deep ecology
untuk menyelamatkan lingkungan hidup dapat dijadikan salah satu cara untuk
meminimalisir penurunan kualitas lingkungan yaitu dengan mengedepankan
etika lingkungan bagi setiap manusia, sehingga manusia tidak sewenangwenang dalam mengeksploitasi lingkungan. Tanpa adanya etika maka moralitas
manusia

dipertanyakan.

Moralitas

menyangkut

norma

yang

berlaku

di

masyarakat. Walaupun kebijakan lingkungan telah ada tetapi manusia tidak


punya etika maka kebijakan lingkungan tersebut tidak akan banyak berarti bagi
pengelolaan lingkungan hidup menjadi lebih baik.
3.2. Saran
Adapun saran penulis yaitu mulailah dari diri kita sendiri untuk tetap
menjaga kelestarian lingkungan hidup serta mau berpartisipasi dalam usaha
mengurangi kerusakan maupun pencemaran lingkungan hidup yang semakin
tidak terkendali. Penting adanya kesadaran pada semua lapisan masyarakat
terhadap kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup. Dengan kesadaran,
diharapkan masyarakat berpartisipasi aktif dalam upaya pengendalian dampak
lingkungan. Untuk aparatur penegak hukum agar lebih tegas dalam melakukan
tindakan terhadap para pelaku kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup
yang pada akhirnya dapat merugikan masyarakat.

24

DAFTAR PUSTAKA

Abbott, W. F., and Monsen, R. J. 2000. On The Measurement Of


Corporate Social Responsibility: Self-Reported Disclosures As A
Method Of Measuring Corporate Social Improvement. Academy of
Management Journal, vol. 22. pp. 501.
Amihud, and Mendelson, H. 2001. Inventory Behavior And Market Power :
An Empirical Investigation. International Journal of Industrial
Organization. vol. 7, no. 2. pp. 269-280.
Andi, H.J. 2005. Penegakan Hukum Lingkungan. Sinar Grafika. Jakarta.
Chiras and Daniel, D. 1991. Environmental Science: Action for a
Sustainable Future. California. The Benjamin/Cummings Pub.
Co. Inc.
Frederick, W., Post, J., and Davis, K. 2002. Business and Society: Corporate
Strategy, Public Policy, Ethics, 7th ed. New York. McGraw-Hill.
Gerwith, A. 1979. Starvation And Human Rights. In K. E. Goodpaster and
K. M. Sayre (eds.), Ethics And The Problems Of The 21st Century. pp.
13959. South Bend, IN: University of Notre Dame Press World
Bank, 1992. pp. 47.
Golley and Frank, B. 1987. Deep Ecology from the Perspective of
Ecological Science. An Interdisciplinary Journal Dedicated to
the Philosophical Aspects of Environmental Problems. p. 45.
Hay, R., and Gray, E. (1977). Social Responsibilities Of Business
Managers. In A. Carroll (ed.). Managing Corporate Social
Responsibility. pp. 8-16. Boston. Little Brown and Company.
Keraf, A.S. 2002. Etika Lingkungan. Kompas. Jakarta. 322 hal.
Kompas. 2011. Iklim Global Dibahas Lagi. Muncul kekhawatiran soal
rekayasa, negara berkembang jangan terkecoh. (dikunjungi
tanggal 29 Desember 2013).
Light, A. And H. Rolston III. 2003. Environmental Ethics. An Anthology.
Blackwe Publishing. USA. 554p.
Otto Soemarwoto, 2001. Atur-Diri-Sendiri. Paradigma Baru Pengelolaan
Lingkungan Hidup. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Siahaan, N.H.T. 2004. Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan
Edisi Kedua. Erlangga. Jakarta.

25

Supriadi. 2005. Hukum Lingkungan Di Indonesia. Sinar Grafika. Jakarta.


Todaro dan Michael, P. 1995. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga.
Terjemahan edisi ketiga. Jakarta. Bumi Aksara.
Undang-Undang No. 32 Tahun 2009
Pengelolaan Lingkungan Hidup.

tentang

Perlindungan

dan