Anda di halaman 1dari 9

DASAR TEKNOLOGI PENGOLAHAN

(Pemisahan Secara Destilasi)

Viko Nurluthfiyadi Nimaturrakhmat


NIM. 141710301008
TIP-A

PRODI TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015
1

HALAMAN PENGESAHAN

Nama

: Viko Nurluthfiyadi Nimaturrakhmat

NIM

: 141710301008

Topik

: Pemisahan Destilasi

Tujuan

: 1. Memisahkan dan memurnikan zat cair.


2. Menentukan titik didih zat cair.

Manfaat

: Menambah pengetahuan mahasiswa tentang prinsip pemisahan secara destilasi.

Dosen Matakuliah
Dasar Teknologi Pegolahan

Nurud Diniyah S. TP, M.P


NIP 198202 19200812 2002

Jember, 28 Oktober 2015


Penyusun

Viko Nurluthfiyadi N.
NIM 141710301008

RINGKASAN

Destilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan
perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan. Dalam penyulingan, campuran
zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk
cairan. Dimana zat yang mempunyai titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu, kemudian
uap tadi akan mengalami proses pendinginan pada kondensor. Didalam kondensor akan terjadi
proses perubahan fasa, uap akan berubah menjadi fasa cair yang akan mengalir keluar sebagai
destilat.
Pada proses destilasi terjadi perubahan wujud dari cair ke uap hasil pemanasan berdasarkan
titik didihnya. Kemudian uap tersebut di dinginkan dan terjadi proses pengembunan sehingga
memperoleh cairan murni (destilat). Bahan yang dipisahkan dengan metode ini adalah bentuk
larutan atau cair, tahan terhadap pemanasan, dan perbedaan titik didihnya tidak terlalu dekat atau
jauh. Model ideal destilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum Dalton. Proses pemisahan
yang dilakukan pada praktikum ini adalah mendestilasi larutan garam. Pertama, larutan garam
dipanaskan menggunakan bunsen. Pelarut bahan atau air yang diinginkan akan menguap, uap
dilewatkan pada kondensor. Uap yang mencair ditampung dalam wadah. Bahan hasil pada proses
ini disebut destilat atau air murni.

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL...............................................................................................................

HALAMAN PENGESEHAN................................................................................................

RINGKASAN..........................................................................................................................

DAFTAR ISI...........................................................................................................................

BAB 1. PENDAHULUAN......................................................................................................

1.1 Latar Belakang.....................................................................................................

1.2 Tujuan....................................................................................................................
1.3 Manfaat..................................................................................................................
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA............................................................................................
2.1 Destilasi..................................................................................................................
2.2 Jenis Destilasi........................................................................................................
2.2.1 Destilasi Sederhana......................................................................................
2.2.2 Destilasi Fraksionisasi..................................................................................
2.2.3 Destilasi Uap................................................................................................
2.3 NaCl.......................................................................................................................
2.4 Es Batu...................................................................................................................
BAB 3. METODOLOGI........................................................................................................
3.1 Waktu dan Tempat...............................................................................................
3.2 Alat dan Bahan.....................................................................................................
3.2.1 Alat...............................................................................................................
3.2.2 Bahan............................................................................................................
3.3 Prosedur Kerja......................................................................................................
3.4 Diagram Alir.........................................................................................................

5
5
6
6
6
6
7
7
8
8
9
9
9
9
9
9
10

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Metode pemisahan merupakan suatu cara yang digunakan untuk memisahkan atau
memurnikan suatu senyawa atau sekelompok senyawa yang mempunyai susunan kimia yang
berkaitan dari suatu bahan, baik dalam skala labolatorium maupun skala industri. Metode
pemisahan bertujuan untuk mendapatkan zat murni atau beberapa zat murni dari suatu campuran.
4

Destilasi merupakan salah satu metode pemisahan campuran yang menggunakan prinsip
perbedaan titik didih untuk pemisahannya. Destilasi memiliki prinsip kerja utama dimana terjadi
pemanasan dan salah satu komponen campurannya akan menguap setelah mencapai titik didihnya,
yang paling dahulu menguap merupakan yang bersifat volatil atau mudah menguap. Uap tersebut
akan masuk ke dalam pipa pada kondensor (terjadi proses pendinginan) sehingga terjadi tetesan
yang turun ke erlenmeyer yang disebut juga destilat. Oleh sebab itu, untuk lebih memahami
mengenai pengertian destilasi, prinsip kerja destilasi, keunggulan, kelemahan, dan penerapannya
dalam kehidupan sehari-hari, maka dilakukan paraktikum ini.
1.2 Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dari praktikum pemisahan secara destilasi adalah sebagai berikut.
1. Memisahkan dan memurnikan zat cair;
2. Menentukan titik didih zat cair.
1.3 Manfaat
Manfaat dilakukan praktikum ini adalah menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa
tentang prinsip pemisahan secara destilasi.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Destilasi
Destilasi merupakan suatu cara yang digunakan untuk memisahkan dua atau lebih
komponen cairan berdasarkan perbedaan titik didihnya. Semakin tinggi tekanan uap maka titik
didih cairan tersebut semakin tinggi. Penguapan dipengaruhi oleh titik cairan tersebut. Cairan yang
memiliki titik didih terendah, maka lebih cepat untuk mendidih. Beberapa contoh penggunaan
5

teknik destilasi adalah dalam industri farmasi untuk mengisolasi zat-zat yang berguna sebagai obat
yang terdapat dalam akar, batang, dan daun tumbuh-tumbuhan. Selain itu destilasi digunakan untuk
memisahkan dan memurnikan etanol dari air dimana etanol mempunyai titik didih 78 0C akan
menguap dan mengembun melalui pendinginan. Model ideal destilasi didasarkan pada hukum
Raoult dan hukum Dalton (Nurul .K, Ramdja A,dkk, 2009).
2.2 Jenis Destilasi
2.2.1 Destilasi Sederhana
Destilasi sederhana atau destilasi biasa adalah teknik pemisahan kimia untuk memisahkan
dua atau leih komponen yang memiliki perbedaan titik didih yang jauh. Suatu campuran dapat
dipisahkan dengan destilasi biasa ini untuk memperoleh senyawa murni. Senyawa yang terdapat
dalam campuran akan menguap saat mencapai titik didih masing-masing.

Gambar 1. Destilasi Sederhana


Hukum Dalton dan Raoult merupakan pernyataan matematis yang dapat menggambarkan
apa yang terjadi selama distilasi, yaitu menggambarkan perubahan komposisi dan tekanan pada
cairan yang mendidih selama proses distilasi. Uap yang dihasilkan selama mendidih akan memiliki
komposisi yang berbeda dari komposisi cairan itu sendiri. Komposisi uap komponen yang memiliki
titik didih lebih rendah akan lebih banyak (fraksi mol dan tekanan uapnya lebih besar).
Pemisahan senyawa dengan destilasi bergantung pada perbedaan tekanan uap senyawa dalam
campuran. Tekanan uap campuran diukur sebagai kecenderungan molekul dalam permukaan cairan
untuk berubah menjadi uap. Jika suhu dinaikkan, tekanan uap cairan akan naik sampai tekanan uap
cairan sama dengan tekanan uap atmosfer. Pada keadaan itu cairan akan mendidih.. Cairan yang
mempunyai tekanan uap yang lebih tinggi pada suhu kamar akan mempnyai titik didih lebih rendah
daripada cairan yang tekanan uapnya rendah pada suhu kamar.
2.2.2 Destilasi Fraksionasi (Bertingkat)
6

Destilasi sederhana yang dilakukan hanya sekali biasanya tidak akan dapat memisahkan dua
cairan secara sempurna. Cairan yang berasal dari uap terkondensasi (destilasi) akan mengandung
komponen dengan titik didih lebih rendah dengan proporsi yang lebih besar, akan tetapi masih
mengandung komponen yang memiliki titik didih lebih tinggi di dalamnya. Jika destilat ini kita
destilasi sekali lagi, maka komponen dengan titik didih rendah akan makin banyak pada destilatnya.
Demikian seterusnya, hingga kita bisa mendapatkan destilasi yang hampir 100% mengandung
komponen dengan titik didih lebih rendah. Diagram fasa berikut ini menyatakan perubahan
komposisi dari multipel distilasi ini
Melakukan multipel distilasi memerlukan banyak waktu dan kita akan kehilangan banyak
sampel karena cairan yang tertinggal di dalam labu. Untuk itu kita dapat menggunakan alat yang
disebut dengan kolom fraksi yang berfungsi untuk meningkatkan efek multipel distilasi ini.
Prosesnya disebut sebagai distilasi fraksi. Saat uap mencapai kolom, uap tersebut akan mengalami
kondensasi dan membentuk cairan. Cairan tersebut memiliki komposisi sama dengan uap darimana
dia berasal dan diperkaya dengan cairan dengan titik didih rendah. Cairan terkondensasi tersebut
akan ditahan pada kolom dan menetes secara pelahan-lahan.Uap campuran akan terus terbentuk
dan bergerak ke arah bagian atas kolom. Ketika uap tersebut bertemu dengan tetesan cairan, maka
uap akan terkondensasi dan mentransfer energi panasnya pada cairan. Energi panas ini dapat
menyebabkan tetesan cairan mendidih, membentuk uap baru. Uap yang baru terbentuk ini akan
makin banyak pada cairan bertitik didih rendah dibanding uap pada bagian awal. Uap baru ini akan
bergerak ke atas dan berkondensasi lagi. Proses ini berulang sehingga uap/cairan mengalir pada
kolom fraksi. Uap cairan yang keluar pada bagian atas kolom sebagain besar mengandung cairan
dengan titik didih rendah dan bisa mencapai 100%, tergantung panjang kolom. Uap ini
berkondensasi dan ditampung ke dalam erlenmeyer.
2.2.3 Destilasi Uap
Untuk memurnikan zat/ senyawa cair yang tidak larut dalam air, dan titik didihnya cukup
tinggi, sedangkan sebelum zat cair tersebut mencapai titik didihnya, zat cair sudah terurai,
teroksidasi atau mengalami reaksi pengubahan (rearranagement), maka zat cair tersebut tidak dapat
dimurnikan secara destilasi sederhana atau destilasi bertingkat, melainkan harus didestilasi dengan
destilasi uap. Destilasi uap adalah istilah yang secara umum digunakan untuk destilasi campuran air
dengan senyawa yang tidak larut dalam air, dengan cara mengalirkan uap air kedalam campuran
sehingga bagian yang dapat menguap berubah menjadi uap pada temperature yang lebih rendah dari
pada dengan pemanasan langsung. Untuk destilasi uap, labu yang berisi senyawa yang akan
dimurnikan dihubungkan dengan labu pembangkit uap. Uap air yang dialirkan ke dalam labu yang
berisi senyawa yang akan dimurnikan,dimaksudkan untuk menurunkan titik didih senyawa tersebut,
7

karena titik didih suatu campuran lebih rendah dari pada titik didih komponen-komponennya
(Walangare, K. 2013).
2.2 NaCl
Natrium klorida, juga dikenal sebagai garam dan garam dapur, merupakan senyawa ionic
dengan rumus NaCl. Natrium klorida pada umumnya merupakan padatan bening dan tak berbau,
serta dapat larut dalam gliserol, etilen glikol, dan asam formiat, namun tidak larut dalam HCl.
Natrium klorida adalah garam paling berpengaruh terhadap salinitas laut dan cairan
ekstraselular pada banyak organisme multiselular. Sebagai bahan utama dalam garam dapur, dan
biasanya digunakan sebagai bumbu dan pengawet makanan. Natrium klorida terkadang digunakan
sebagai bahan pengering yang murah dan aman karena memiliki sifat higroskopis, membuat
penggaraman menjadi salah satu metoda yang efektif untuk pengawetan makanan (Anonim, 2010).
2.3 Es Batu
Es batu merupakan masa padat hasil pembekuan air minum. Es batu sering ditambahkan
pada berbagai jenis minuman untuk memberi kesan dingin dan segar. Untuk beberapa jenis
minuman seperti es doger, es cincau dan es campur, es batu tidak hanya berfungsi untuk memberi
cita rasa dingin dan segar, tetapi merupakan bagian dari minuman tersebut, sehingga penggunaan es
batu tidak dapat digantikan dengan menyimpan minuman tersebut dalam lemari pendingin
(Anonim, 2009).
Air akan mengembang bila dipadatkan, hal unik ini terjadi karena ikatan hidrogen. Air mulai
membeku ketika molekul-molekulnya mulai bergerak lambat sehingga tidak mampu memutuskan
ikatan hidrogen. Ketika suhu mencapai 0oC, air mulai terjebak dalam kisi kristal, dan masingmasing molekul berikatan dengan maksimum 4 molekul lainnya (Bragg, 1992).

BAB 3. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat


Waktu

: Rabu, 11 November 2015

Tempat: Laboratorium Bio-Kimia, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jember


8

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum pemisahan secara destilasi adalah sebagai berikut.
1. Selang
2. Termometer
3. Labu erlenmeyer
4. Gelas kimia
5. Pembakar (bunsen) dan kasa
6. Klem dan statif
3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum pemisahan secara destilasi adalah sebagai berikut.
1. Aquades 25 ml
2. NaCl (garam dapur) 5 gram
3. Es batu
3.3 Prosedur Kerja

Siapkan alat destilasi

Proses pemisahan secara destilasi larutan garam menjadi air murni atau destilat adalah
sebagai berikut.

Mencampur NaCl 5gr dengan aquades 25 ml


1. Menyiapkan alat destilasi dan memastikan alat dalam kondisi bersih dan terpasang dengan baik.
2. Mencampur NaCl padat 5 gr dengan aquades 25 ml sampai terbentuk larutan homogen.
3. Menuangkan larutan NaCl ke labu destilasi.
4. Menjalankan air melalui selang.
Menuang larutan NaCl ke erlenmeyer
5. Menjalankan labu destilasi dan mengamati kenaikan temperatur.
6. Menghentikan percobaan jika suhu telah konstan dan telah mendapat destilat sebanyak 10 ml.

Panaskan bunsen
3.4 Diagram Alir
Amati kenaikan temperatur

Amati perpindahan larutan NaCl menjadi uap

Menghentikan percobaan jika suhu telah konstan


9

Ambil destilat atau air murni