Anda di halaman 1dari 26

ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAJA RINGAN PADA

PERUSAHAAN DAGANG
(Studi Kasus Pada PD. SUBUR JAYA)

Makalah Seminar

Diajukan Oleh:
Dewi Pratiwi Permana
021112103

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR

OKTOBER 2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Perekonomian saat ini mengalami perubahan yang cukup signifikan, apalagi di
negara yang sedang berkembang seperti di Indonesia yang semakin hari mengalami
peningkatan baik dibidang ekonomi maupun pembangunan. Dalam dunia bisnis pun
setiap perusahaan sekarang ini terus bersaing untuk menciptakan berbagai kebutuhan
konsumen yang semakin tinggi dan semakin cerdas dalam memilih kebutuhannya. Untuk
dapat memenuhi permintaan konsumen setiap saat sebuah perusahaan manufaktur
maupun non manufaktur perlu memiliki persediaan. Tanpa adanya persediaan,
perusahaan akan dihadapkan pada risiko bahwa perusahaan pada suatu waktu tidak dapat
memenuhi keinginan para konsumen. Hal ini dapat saja terjadi karena tidak selamanya
barang atau jasa tersedia setiap saat.
Persediaan adalah sumber daya yang disimpan oleh perusahaan untuk
mengantisipasi pemenuhan permintaan atau proses produksi mendatang. Persediaan
merupakan kekayaan perusahaan yang memiliki peranan penting dalam operasi bisnis
sehingga perusahaan perlu melakukan manajemen proaktif, artinya perusahaan harus
mampu mengantisipasi keadaan maupun tantangan yang ada dalam manajemen
persediaan untuk mencapai sasaran akhir, yaitu untuk meminimalisasi total biaya yang
harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk penanganan persediaan karena apabila
persediaan tidak dapat dikelola dengan baik, maka akan menimbulkan suatu masalah
yang rumit bagi sebuah perusahaan.
Dalam sebuah perusahaan adanya persediaan merupakan faktor yang memicu
peningkatan biaya. Masalah yang umum dalam persediaan bersumber dari kejadian yang
dihadapi pada saat menjalankan usaha, baik di bidang dagang maupun industri. Kejadiankejadian tersebut dapat terjadi dalam penetapan jumlah persediaan apabila persediaan
barang dagang yang dimiliki perusahaan kurang dari yang dibutuhkan maka peroses
kelancaran perdagangan perusahaan akan terganggu, kebutuhan pelanggan akan barang
tersebut tidak terpenuhi sehingga perusahaan akan kehilangan konsumen dan kesempatan
memperoleh laba akibat habisnya barang dagang. Apabila persediaan barang dagang
berlebihan mengakibatkan penggunaan dana yang tidak efisien karena banyak modal
yang tertanam untuk satu jenis barang saja sehingga dapat meningkatkan biaya
penyimpanan dan biaya perawatan serta memperbesar risiko apabila barang dagang
tersebut rusak atau hilang. Selain itu tanpa manajemen persediaan perusahaan akan
mengalami kelebihan atau kekurangan persediaan barang dagang. Manajemen
pengendalian persediaan adalah kegiatan pengendalian yang memonitor tingkat
persediaan dan kapan pemesanan harus dilakukan dan bagaimana mengoptimalkan biaya

total persediaan. Setiap perusahaan atau organisasi memiliki cara-cara yang berbeda
dalam menangani manajemen pengendalian persediaan.
PD. Subur Jaya merupakan perusahaan yang bergerak dibidang perdagangan baja
ringan. Masalah yang timbul adalah perusahaan mendapati banyak barang yang
tersimpan di gudang yang menyebabkan besarnya biaya simpan selain itu perusahaan
memperkirakan pada saat tingkat persediaannya tinggal sedikit, pemesanan baru seketika
dilakukan. Untuk menghindari persediaan barang terlalu besar atau berlebihan yang akan
mengakibatkan biaya penyimpanan persediaan yang tinggi disamping resiko yang
mungkin dihadapi seperti menumpuknya barang serta kerusakan barang karena terlalu
lama berada digudang. Sedangkan jika persediaan barang barang terlalu kecil atau terlalu
sedikit yang akan mengakibatkan perusahaan tidak mempunyai persediaan yang
mencukupi untuk memenuhi kebutuhan para konsumen. Disamping itu mengingat
peningkatan permintaan baja ringan dalam setiap tahunnya maka perusahaan harus
berupaya untuk mengendalikan agar persediaan barang selalu tercukupi dan perusahaan
tidak mengalami kelebihan maupun kekurangan dalam persediaan, karena hal ini samasama akan menimbulkan kerugian bagi pihak perusahaan. Untuk mengantisipasi keadaan
tersebut maka perusahaan perlu manajemen persediaan yang baik agar perusahaan dapat
menentukan persediaan barang yang optimal sehingga resiko yang dihadapi semakin
kecil. Maka perusahaan perlu menentukan metode yang tepat dalam pengendalian
persediaan yaitu metode EOQ (Eqonomic Order Quantity).
Pengendalian persedian dengan metode EOQ (Economic Order Quantity), akan
memberikan informasi kepada perusahaan untuk melakukan kebijakan dimasa depan,
dengan metode tersebut dapat diketahui apakah pemesanan yang dilakukan perusahaan
sudah ekonomis atau belum. Dalam perhitungan Ecomic order quantity ini akan dicari
berapa persediaan barang yang optimal untuk dilakukan setiap kali pemesanan dan
berapa kali frekuensi pernesanan yang dapat dilakukan, sehingga total biaya persediaan
yang dikeluarkan juga minimum.
Berdasarkan pada uraian di atas melihat begitu pentingnya persediaan dalam suatu
perusahaan maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ANALISIS
PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAJA RINGAN PADA PERUSAHAAN
DAGANG (Kasus Pada PD. SUBUR JAYA).

1.2

Perumusan dan Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas dapat diambil suatu rumusan masalah dengan
maksud akan memperjelas apa yang akan penulis kemukakan yaitu bagaimana
pengendaliaan persediaan untuk mendapatkan persediaan barang yang optimal yang
harus dilakukan perusahaan dalam setiap kali pemesanan dan berapa kali frekuensi

pemesanan yang dapat dilakukan yang akan memberikan biaya persediaan yang
dikeluarkan minimum.
Berdasarkan rumusan masalah, maka penulis mengidentifikasikan masalahmasalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengendalian persedian pada PD. Subur Jaya?
2. Bagaimana penerapan metode EOQ pada PD. Subur Jaya?
3. Berapa kuantitas, frekuensi pemesanan yang optimal pada PD. Subur
Jaya?
4. Berapa total biaya persediaan yang minimum pada PD. Subur Jaya?
1.3

Maksud dan Tujuan Penelitan


Adapun maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data dan informasi
yang dapat dijadikan sebagai bahan penelitian dan disamping itu penulis berupaya
meminimumkan biaya persediaan pada PD. Subur Jaya dengan menganalisa
pengendalian persediaan dengan metode Eqonomic Quantity Order (EOQ).
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui bagaimana pengendaliaan persediaan pada PD. Subur
Jaya.
2. Untuk mengetahui penerapan metode EOQ Pada PD. Subur Jaya.
3. Untuk mengetahui kuantitas dan frekuensi pemesanan yang optimal pada
PD. Subur Jaya.
4. Untuk mengetahui total biaya persediaan yang minimum pada PD. Subur
Jaya.

1.4

Kegunaan Penelitian
Diharapkan penelitian ini berguna dan bermanfaat yakni :
1. Kegunaan teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sarana untuk lebih mengembangkan
teori-teori khususnya dalam operasional perusahaan dan untuk menambah wawasan
pengetahuan serta perbandingan antara teori-teori yang selama ini di pelajari dalam
perkuliahan dengan melakukan praktik dilapangan.
2. Keguanaan praktis
Penelitian ini diharapkan dapat membantu permasalahan yang berkaitan dalam
pengedalian persediaan perusahaan dan sebagai dasar dalam pengambilan keputusana
dari hasil penelitian ini.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Pengertian Manajemen Operasional


Pengertian manajemen operasional menurut Jay Heizer dan Barry Render (2005)
manajemen operasional adalah serangkaian aktivitas dalam bentuk barang dan jasa dalam
mengubah pemasukan (input) menjadi pengeluaran (output).
Menurut Eddy Herjanto (2003,02) pengertian manajemen operasi tidak lepas dari
pengertian manajemen yang mengandung unsur adanya kegiatan yang dilakukan
mengkoordinasikan berbagai kegiatan dan sumber daya mencapai tujuan.
Menurut Maria Pampa (2011,04) manajemen operasional adalah desain
sistematik, pengarahan dan pengawasan berbagai proses yang mengubah input menjadi
output yang berupa barang-barang jadi maupun jasa.
Menurut Murfidin Haming (2007,17) manajemen operasional dapat diartikan
sebagai kegiatan yang berhubungan dengan perencanaan, pengkoordinasian, penggerakan
dan penggendalian aktifitas organisasi atau perusahaan bisnis atau jasa yang berhubungan
dengan proses pengolahan masukan menjadi keluaran dengan nilai tambah yang lebih
besar.
Menurut Sofian Assauri (2008,19-20) manajemen produksi dan operasi
merupakan proses pencapaian pengutilisasian sumber-sumber daya untuk memproduksi
atau menghasilkan barang-barang atau jasa-jasa yang berguna sebagai usaha untuk
mencapai tujuan dan sasaran organisasi.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen operasional adalah
kegiatan suatu organisasi dalam mentransformasikan atau mengubah masukan (input)
berupa sumber-sumber daya menjadi keluaran (output) berupa barang atau jasa.

2.2

Persediaan
Persediaan merupakan unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan yaitu
sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan dengan maksud untuk memenuhi permintaan
konsumen setiap waktu. Persediaan dapat berupa persediaan untuk di jual kembali,
persediaan menunggu untuk diproses, atau pun persediaan bahan baku yang akan di
gunakan dalam suatu proses produksi.
Persediaan menurut Sofian Assauri (2008:237) adalah suatu aktiva yang meliputi
barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha

yang normal, atau persediaan barang yang masih dalam pengerjaan atau proses produksi,
atau persediaan bahan baku yang menunggu penggunaannya dalam suatu proses
produksi.
Menurut Eddy Herjanto (2003,219) persediaan adalah bahan atau barang yang
disimpan yang akan digunakan untuk memenuhi tujuan tertentu. Misalnya untuk proses
produksi atau perakitan, untuk dijual kembali, dan untuk suku cadang dari suatu peralatan
atau mesin. Persediaan dapat berupa bahan mentah, bahan pembantu, barang dalam
proses, barang jadi, ataupun suku cadang.
Persediaan menurut Maria Pampa (2011,299) adalah sumber daya yang disimpan
untuk memenuhi permintaan saat ini dan mendatang.
Persediaan menurut Rangkuti (2007,2) merupakan bahan-bahan, bagian yang
disediakan, dan bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk proses
produksi, serta barang jadi atau produk yang disediakan untuk memenuhi permintaan dari
konsumen atau pelanggan setiap waktu.
Sediaan (inventory) menurut Schroeder (1997,4) adalah stok bahan yang
digunakan untuk memudahkan produksi atau untuk memuaskan permintaan pelanggan.
Secara khusus sediaan meliputi bahan baku, barang dalam proses dan barang jadi.
Secara umum persediaan adalah segala sumber daya organisasi yang disimpan
dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan. Persediaan dalam komponen
material, atau produk jadi yang tersedia di tangan, menunggu untuk digunakan atau di
jual (Groebner,2002).
Persediaan memiliki dua jenis permintaan yaitu permintaan dependen dan
permintaan independen (Dependent and Independent Demand). Permintaan independen
adalah permintaan yang berdiri sendiri dan tidak terikat atau terkait dengan satu sama lain
(barang yang sudah jadi). Sementara permintaan dependen adalah permintaan yang
berupa bahan-bahan mentah dan mengembangkannya menjadi barang yang sudah jadi
yang mempunyai tingkatan lebih tinggi. (Chase,Aquilano dan Jacobs : 1998).
Permintaan dependen umumnya berkenaan langsung dengan perhitungan.
Kuantitas item yang diperlukan dari permintaan dependen ini dihitung secara sederhana,
tergantung angka yang dibutuhkan tiap-tiap item level lebih tinggi yang
digunakan(Chase, Aquilano dan Jacobs : 1998).
Permintaan independen datang dari sumber luar perusahaan yang beragam dan
bukan merupakan bagian dari yang lainnya ; ini tidak berkaitan dengan permintaan untuk
produk lain. (Chase, Aquilano dan Jacobs : 1998).

Karena permintaan independen itu tidak bisa ditentukan, maka persediaan


tambahan harus disertakana dalam persediaan yang dimiliki. Terdapat dua tipe umum dari
sistem persediaan : (Chase, Aquilano dan Jacobs : 1998)
1. Fixed-order quantity models (juga disebut economic order quantity, EOQ,
dan model Q)
2. Fixed-time period models (termasuk ke dalam periodic system, periodic
review system, fixed-order interval system dan P model).
Fixed-order quantity model dilihat dan digunakan berdasarkan atas kejadian,
dan fixed-time period models dapat dilihat dan digunakan jika dimulai oleh waktu

2.2.1

Fungsi Persediaan
Persediaan dapat melayani beberapa fungsi yang akan menambah
fleksibilitas operasi perusahaan. Baroto (2002:54) menyebutkan fungsi
pengendalian persediaan bertujuan untuk menetapkan dan menjamin tersedianya
produk jadi, barang dalam proses, komponen dan bahan baku secara optimal,
dalam kuantitas yang optimal, dan pada waktu yang optimal.
Menurut Handoko (2012;335-336), menyatakan bahwa perusahaan
melakukan penyimpanan persediaan barang karena berbagai fungsi, yaitu:
1. Fungsi Decoupling
Fungsi decoupling adalah persediaan yang memungkinkan operasioperasi perusahaan internal dan eksternal mempunyai kebebasan
(independensi). Persediaan decouples ini memungkinkan
perusahaan dapat memenuhi permintaan langganan tanpa
terganggu supplier.
2. Fungsi Economic Lot Sizing Melalui penyimpanan persediaan,
perusahaan dapat memproduksi dan membeli sumber-sumber daya
dalam kuantitas yang dapat mengurangi biaya-biaya per unit.
Dengan persediaan lot size ini akan mempertimbangkan
penghematan-penghematan.
3. Fungsi Antisipasi Sering perusahaan menghadapi fluktuasi
permintaan yang dapat diperkirakan dan diramalkan berdasar
pengalaman atau data masa lalu. Disamping itu, perusahaan juga
sering dihadapkan pada ketidakpastian jangka waktu pengiriman
barang kembali sehingga harus dilakukan antisipasi untuk cara
menanggulanginya.

2.2.2

Tujuan Persediaan

Setiap divisi yang berbeda dalam suatu perusahaan akan memiliki tujuan
pengendalian persediaan yang berbeda pula. Menurut (Ishak, 2010:164) tuujuan
dari pengendalian persediaan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Pemasaran ingin melayani konsumen secepat mungkin sehingga
menginginkan persediaan dalam jumlah yang banyak
2. Produksi ingin beroperasi secara efisien. Hal ini mengimplikasikan
order produksi yang tinggi akan menghasilkan persediaan yang
besar (untuk mengurangi set up mesin). Produksi juga
menginginkan persediaan bahan baku, setengah jadi, atau
komponen yang cukup sehingga proses produksi tidak terganggu
karena kekurangan bahan.
3. Pembelian (purchasing), dalam rangka efisiensi juga menginginkan
persamaan produksi yang besar dalam jumlah sedikit dari pesanan
yang kecil dalam jumlah yang banyak. Pembelian ini juga ingin
adanya persediaan sebagai pembatas kenaikan harga dan
kekurangan produk.
4. Keuangan (finance) menginginkan minimasi semua bentuk
investasi persediaan karena biaya investasi dan efek negative yang
terjadi pada perhitungan pengembalian asset (return of asset)
perusahaan.
5. Personalia (personel and industrial realitionship) menginginkan
adanya persediaan untuk mengantisipasi fluktuasi kebutuhan
tenaga kerja dan PHK tidak perlu dilakukan.
6. Rekayasa (engineering) menginginkan persediaan minimal untuk
mengantisipasi jika terjadi perubahan rekayasa/engineering).
2.2.3

Jenis-Jenis Persediaan
Menurut Sofian Assauri (2008,240-241) berdasarkan jenis dan posisi
barang tersebut di dalam urutan pengerjaan produk, maka persediaan dapat pula
dibedakan yaitu :
1. Persediaan Bahan Baku (Raw Materials Stock) yaitu persediaan barangbarang yang berwujud yang digunakan dalam proses produksi, barang
mana dapat diperoleh dari sumber-sumber alam ataupun dibeli dari
supplier atau perusahaan yang menghasilkan bagi perusahaan pabrik yang
menggunakannya. Bahan baku diperlukan oleh pabrik untuk diolah, yang
setelah melalui beberapa proses diharapkan menjadi barang jadi (finished
goods).
2. Persediaan bagian produk atau parts yang dibeli (purchased
parts/components stock) yaitu persediaan barang-barang yang terdiri atas
parts yang di terima dari perusahaan lain, yang dapat secara langsung di

assembling dengan parts lain, tanpa melalui proses produksi sebelumnya.


Jadi bentuk barang yang merupakan parts ini tidak mengalami perubahan
dalam operasi.
3. Persediaan bahan-bahan pembantu atau bahan pelangkap (supplies stock)
yaitu persediaan barang-barang atau bahan-bahan yang diperlukan dalam
proses produksi untuk membantu berhasilnya produksi atau yang
dipergunakan dalam bekerjanya suatu perusahaan, tetapi tidak merupakan
bagian atau komponen barang dari barang jadi.
4. Persediaan barang setengah jadi atau barang dalam proses (work in
process) yaitu persediaan barang-barang yang keluar dari tiap-tiap bagian
dalam satu pabrik atau bahan-bahan yang telah diolah menjadi suatu
bentuk, tetapi lebih dulu diproses untuk kemudian menjadi barang jadi.
5. Persediaan barang jadi (finished goods) yaitu persediaan barang-barang
yang telah diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual kepada
pelanggan atau perusahaan lain.
Rangkuti (2007,7) membagi jenis-jenis persediaan menurut fungsinya,
sebagai berikut :
1. Bacth Stock / Lot Size Inventory
Persediaan barang yang diadakan karena kita membeli atau
membuat bahan-bahan atau barang-barang dalam jumlah yang lebih besar
daripada jumlah yang dibutuhkan saat ini.
2. Fluctuation Stock
Persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi yang tidak
dapat diramalkan.
3. Anticipation Stock
Persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi yang dapat
diramalkan, berdasarkan pola musiman yang terdapat dala satu tahun dan
untuk menghadapi penggunaan, penjualan, atau permintaan yang
meningkat.
2.3

Biaya-Biaya Persediaan
Terdapat beberapa biaya variabel yang harus dipertimbangkan dalam membuat
keputusan yang akan mempengaruhi besarnya (jumlah) persediaan yaitu sebagai berikut
(Handoko:2012,336):
1. Biaya penyimpanan (holding cost atau carrying cost)
Biaya penyimpanan terdiri atas biaya-biaya yang berariasi secara langsung
dengan kuantitas persediaan. Biaya penyimpanan per periode akan semakin besar

apabila kuantitas bahan yang dipesan semakin banyak atau rat-rat persediaan
semakin tinggi. Biaya-biaya yang termasuk sebagai biaya penyimpanan adalah :
a. Biaya fasilitas-fasilitas penyimpanan (termasuk penerangan dan
pemanas atau pendingin)
b. Biaya modal (opportunity cost of capital, yaitu alternative pendapatan
atas dana yang diinvestasikan dalam persediaan)
c. Biaya keusangan
d. Biaya perhitungan fisik dan konsiliasi laporan
e. Biaya asuransi persediaan
f. Biya pajak persediaan
g. Biaya pencurian, pengrusakan, atau perampokan
h. Biaya penanganan persediaan dan sebagainya
Biaya-biaya ini adalah variabel bila bervariasi dengan tingkat
persediaan. Bila fasilitas penyimpanan (gudang) tidak variabel, tetapi
tetap, maka tidak dimasukan ke dalam biaya penyimpanan per unit.
2. Biaya pemesanan (order cost atau procurement cost)
Setiap kali suatu barang dipesan, perusahaan harus menanggung biaya
pemesanan. Biaya pemesanan secara terperinci meliputu :
a. Pemrosesan pesanan dan biaya ekspedisi
b. Upah
c. Biaya telepon
d. Pengeluaran surat menyurat
e. Biaya penngepakan dan penimbangan
f. Biaya pemerikasaan (inspeksi) penemiraan
g. Biaya pengiriman ke gudang dan sebagainya
Secara normal biaya per pesanan (diluar biaya bahan dan potongan
kuantitas) tidak naik bila kuantitas pesanan bertambah besar. Bila
semakin banyak komponen yang dipesan setiap kali pesan, jumlah
pesanan per periode turun, maka biaya pemesanan total akan turu.
Biaya pemesanan per periode adalah sama dengan jumlah pesanan
yang dilakukan setiap periode dikalikan biaya yang harus dikeluarkan
setiap kali pesan.
3. Biaya penyiapan (set up cost)
Bila bahan bahan tidak dibeli melaikan di produksi sendiri dalam pabrik
perusahaan, perusahaan menghadapi biaya penyiapan untuk memproduksi
komponen tertentu. Biaya-biaya ini terdiri dari:
a. Biaya mesin menganggur
b. Biaya persiapan tenaga kerja langsung
c. Biaya penjadwalan
d. Biaya ekpedisi dan sebagainya
Biaya penyiapan per periode dapat dihitun dengan cara yang sama
dengan biaya pemesanan
4. Biaya kehabisan atau kekurangan stok (shortage cost)

Biaya ini adalah yang paling sulit untuk diperkirakan. Biaya ini timbul
bilaman persediaan tidak mencukupi adanya permintaan. Biaya-biaya yang
termasuk biaya kekurangan bahan adalah sebagai berikut:
a. Kehilangan penjualan
b. Kehilangan pelanggan
c. Biaya pemesanan khusu
d. Biaya ekspedisi
e. Selisih harga
f. Terganggunya operasi
g. Tambahan pengeluaran kegiatan manajerial dan sebagainya
Biay kekurangan bahan sulit diukut dalam praktek, terutama karena
kenyataan bahwa biaya ini sering merupakan opportunity cost yang
sulit diperkirakan secara objektif
Adapun menurut Schroeder (1997,8-9) dalam mengelola persediaan terdapat
empat tipe biaya yaitu :
1. Biaya satuan produksi (item cost). Biaya ini merupakan biaya membeli atau
memproduksi satuan barang sediaan secara individu. Biaya satuan barang ini
biasanya diungkapkan sebagai suatu biaya perunit yang didandakan dengan
kuantitas yang diperoleh atau diproduksi. Kadang-kadang biaya satuan
dipotong jika cukup unit yang dibeli pada suatu waktu.
2. Biaya pemesanan atau biaya persiapan (ordering or setup cost). Biaya
pemesanan dihubungkan dengan pemesanan suatu tumpuka atau partai dari
satuan-satuan barang. Biaya pemesanan tidak bergantung pada jumlah satuan
yang dipesan, biaya ini dibebankan ke seluruh tumpukan. Biaya ini termasuk
pengetian pesanan pembelian, pengiriman pesanan, biaya pengangkutan, biaya
penerimaan, dan seterusnya.
3. Biaya pengadaan atau penyimpanan (carrying or holding cost). Biaya
pengadaan atau penyimpanan behubungan dengan penyimpanan satu-satuan
barang dalam sediaan untuk suatu periode waktu. Biaya pengadaan biasanya
terdiri dari tiga komponen :
Biaya modal, apabila satuan-satuan barang diadakan dalam sediaan, modal
yang ditanamkan tidak dapat digunakan untuk maksud lain. Hal ini
menunjukan suatu biaya dari peluang yang hilang untuk investasi lain,
yang digunakan untuk sediaan sebagai suatu biaya peluang.
Biaya penyimpanan, biaya ini mencakup biaya variabel, asuransi, dan
pajak.
Biaya keusangan, kemerosota, dan kehilangan. Biaya keusangan
ditempatkan ke satuan-satuan barang yang memiliki resiko tinggi untuk
menjadi usang semakin tinggi resiko semakin tinggi biaya.
4. Biaya kehabisan stock (stockout cost), biaya kehabisan stok mencerminkan
konsekuensi ekonomi atas habisnya stok.

2.4

Manajemen Pengendalian Persediaan


Pengendalian persediaan berupaya mengatur dan mengontrol persediaan untuk
kebutuhan selama periode tertentu. Pengendalian dalam persediaan berarti sebagai
pengawasan selain itu dapat pula mengambil tindakan untuk melakukan perbaikan
apabila diperlukan. Maka fungsi pengendalian tidak hanya dalam hal mengadakan
pengawasan atas pelaksanaan kegiatan dalam sebuah perusahaan tetapi juga
mengumpulkan informasi sebagai input untuk menetukan tindakan lebih lanjut dalam
upaya perbaikan dalam kegiatan pelaksanaan di perusahaan. Manajemen pengendalian
persediaan merupakan proses mengkoordinasikan kegiatan pengendalian persediaan agar
dapat diselesaikan secara efektif dan efisien untuk saat ini atau yang akan datang.
Manajemen persediaan menurut Maria Pampa (2011,144) merupakan kegiatan
perencanaan dan pengendalin persediaan barang dalam rangka memenuhi prioritas
bersaing perusahaan terhadap permintaan konsumen. Pada kegiatan manjemen persediaan
tersebut mencakup proses menentukan informasi tentang estimasi permintaan barang,
jumlah persediaan yang saat ini ada di gudang (inventory on hand) dan besarnya pesanan
yang harus dilakukan untuk setiap periode pemesanan, serta waktu atu periode setiap kali
dilakukan pemesanan barang.
Herjanto (2003:238) mengatakan bahwa pengendalian persediaan adalah
serangkaian kebijakan pengendalian untuk menentukan tingkat persediaan yang harus
dijaga, kapan pesanan untuk menambah persediaan harus dilakukan dan berapa besar
pesanan harus diadakan, jumlah atau tingkat persediaan yang dibutuhkan berbeda-beda
untuk setiap perusahaan pabrik, tergantung dari volume produksinya, jenis perusahaan
dan prosesnya. Pengendalian persediaan menentukan dan menjamin tersediannya
persediaan yang tepat dalam kuantitas dan waktu yang tepat.
Menurut Baroto ( 2002,54) sistem persediaan adalah suatu mekanisme mengenai
bagaimana mengelola masukan-masukan yang sehubungan dengan persediaan menjadi
output, di mana untuk itu diperlukan umpan balik agar output memenuhi standar.
Mekanisme sistem ini adalah pembuatan serangkaian kebijakan yang memonitor tingkat
persediaan yang harus dijaga, kapan persediaan harus diisi, dan berapa besar pesanan
harus dilakukan.
Menurut Baroto (2002,54) variabel keputusan dalam pengendalian persediaan
tradisional dapat diklasifikasikan ke dalam variabel kuantitatif dan variabel kualitatif.
Secara kuantitatif, variabel keputusan pada sistem pengendalian persediaan adalah
sebagai berikut ;
1. Berapa banyak jumlah barang yang akan dipesan atau dibuat
2. Kapan pemesanan atau pembuatan harus dilakukan

3. Berapa jumlah persediaan pengaman


4. Bagaimana mengendalikan persediaan
Secara kuantitatif, masalah persediaan berkaitan dengan sistem pengoperasian
persediaan yang akan menjamin kelancaran pengelolaan persediaan adalah sebagai
berikut :
1.
2.
3.
4.
2.4.1

Jenis barang apa yang dimiliki


Di mana barang tersebut berada
Berapa jumlah barang yang sedang di pesan
Siapa saja pemasok masing-masing item

Tujuan Pengendalian persediaan


Pengendalian persediaan yang dijalankan untuk memelihara terdapatnya
kesimbangan antara kerugian-kerugian serta penghematan dengan adanya suatu
tingkat persediaan tertentu, dan besarnya biaya dan modal yang dibutuhkan untuk
mengadakan persediaan tersebut.
Menurut Sofian Assauri (2008,250) tujuan pengawasan persediaan secara
rinci dapat dinyatakan sebagai usaha untuk :
1. Menjaga jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan sehingga dapat
mengakibatkan terhentinya kegiatan produksi.
2. Menjaga agar supaya pembelian persediaan oleh perusahaan tidak terlalu
besar atau berlebih-lebihan, sehingga biaya-biaya yang timbul dari
persediaan tidak terlalu besar.
3. Menjaga agar pembelian secara kecil-kecilan dapat dihindari karena akan
berakibat biaya pemesanan menjadi besar.
Maka dapat diketahui bahwa tujuan dari pengawasan persediaan untuk
memperoleh kualitas dan jumlah yang tepat dari barang-barang yang tersedia pada
waktu yang di butuhkan dengan biaya-biya yang minimum untuk keuntungan atau
kepentingan perusahaan. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut pengawasan
persediaan mengadakan perrencanaan apa yang dibutuhkan baik dalam jumlah
maupun kulitasnya untuk kebutuhan perusahaan serta kapan pemesanan (order)
dilakukan dan berapa besarnya yang dapat di benarkan.

2.4.2

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Besarnya Tingkat Persediaan


Maarif dan Tanjung (2003:278) menjelaskan factor-faktor yang
mempengaruhi besarnya tingkat persediaan adalah sebagai berikut :
1. Perkiraan pemakaian

2.
3.

4.

5.

2.5

Angka ini diperlukan untuk membuat keputusan jumlah persediaan


yang disediakan untuk mengantisipasi masa mendatang.
Biaya persediaan
Biaya ini meliputi biaya pemesanan dan biaya penyimpanan
Kebijakan pembelian
Kebijakan ini ditentukan oleh sifat dari bahan itu sendiri. Bahan-bahan
yang mudah rusak (perishable) tentunya tidak munkin dilakukan
penyimpanan yang terlalu lama.
Pemakaian secara nyata
Pemakaian yang riil dari data-data tahun sebelumnya untuk dilakukan
proyeksi pemakaian selanjutnya.
Waktu tunggu
Waktu tunggu ini adalah waktu tunggu dari mulai barang dipesan,
sampai barang itu datang.

Model Persediaan Economic Order Quantity


EOQ (Economic Order Quantity) menurut Riyanto (2001:78) adalah jumlah
kuantitas barang yang dapat diperoleh dengan biaya yang minimal atau sering dikatakan
sebagai jumlah pembelian yang optimal.
Sedangkan menurut Heizer dan Render (2005:68) adalah salah satu teknik
pengendalian persediaan yang paling tua dan terkenal secara luas, metode pengendalian
persediaan ini menjawab 2 (dua) pertanyaan penting, kapan harus memesan dan berapa
banyak harus memesan.
Menurut Handoko Economic Quantity Order (EOQ) merupakan jumlah atau
besarnya pesanan yang dimiliki jumlah ordering costs dan carrying costs per tahun
yang paling minimal.
Asumsi yang dipakai dalam model EOQ adalah:
1. Permintaan diketahui, tetap dan bebas.
2. Lead time, yaitu waktu antara menempatkan pesanan dan menerima pesanan, atau
waktu tenggang, diketahui dan konstan.
3. Penerimaan persediaan bersifat seketika dan lengkap. Dengan kata lain, persediaan
sebuah pesanan tiba dalam satu batch sekaligus.
4. Diskon atau potongan harga karena kuantitas tidak memungkinkan.
5. Satu-satunya biaya variabel adalah biaya menempatkan satu pesanan dan disebut
biaya pesan dan biaya menahan atau menyimpan satu-satuan persediaan selama
waktu tertentu, disebut biaya menahan atau menyimpan atau membawa persediaan.
6. Kosongnya persediaan dapat dihindari sepenuhnya jika pemesanan dilakukan pada
waktu yang tepat.

Asumsi-asumsi ini menggambarkan keterbatasan model EOQ (Economic Order


Quantity) dasar serta cara bagimana model tersebut dimodifikasi. Memahami
keterbatasan dan asumsi model EOQ (Economic Order Quantity) menjadi dasar yang
penting bagi manajer untuk membuat keputusan tentang persediaan.

Tingkat
pembelian

Kuantitas
pesanan = Q
(tingkat
persediaan

Persediaan
rata-rata
yang dimiliki

( Q2 )

Persediaaa
n minimum
0
Waktu

Gambar 1. Penggunaan persediaan dari waktu ke waktu

Adapun penentuan jumlah pesanan ekonomis (EOQ) ada 3 cara menurut Assauri
(2008:182) yaitu :

Tabular Approach
Penentuan jumlah pesanan yang ekonomis dengan Tabular approach dilakukan
dengan cara menyusun suatu daftar atau tabel jumlah pesanan dan jumlah biaya
per tahun.
Graphical Approach
Penentuan jumlah pesanan ekonomis dengan cara Graphical approach
dilakukan dengan cara menggambarkan grafik-grafik carrying costs dan total
costs dalam satu gambar, dimana sumbu horisontal jumlah pesanan (order)
pertahun, sumbu vertical besarnya biaya dari ordering costs, carrying costs dan
total costs.
Dengan menggunakan rumus (formula approach)
Cara penentuan jumlah pesanan ekonomis dengan menurunkan didalam rumusrumus matematika dapat dilakukan dengan cara memperhatikan bahwa jumlah
biaya persediaan yang minimum terdapat, jika ordering costs sama dengan
carrying costs.

Hampir semua model persediaan bertujuan untuk meminimalkan biaya-biaya total


dengan asumsi yang tadi dijelaskan. Metode EOQ (Economic Order Quantity) ini adalah
metode yang digunakan untuk mencari titik keseimbangan antara biaya pemesanan
dengan biaya penyimpanan agar diperoleh suatu biaya yang minimum.
Kurva untuk
biaya
penyimpanan
dan setup total
Biaya total
minimum
Biaya
tahuna
n

Kurva biaya
penyimpanan
Kurva biaya setup (atau
pesanan)
Kuantitas
pemesanan
optimum

Kuantit
as
pesana

Gambar.2 biaya total sebagai fungsi kuantitas pemesanan

Menurut Heizer, Render (2005, 70) Kuantitas pesanan yang optimum terjadi pada titik di
mana kurva biaya pemesanan dan kurva biaya penggudangan bersilang. Dengan model EOQ,
kuantitas pesanan yang optimum akan terjadi pada sebuah titik di mana biaya setup total sama
dengan biaya total penyimpaan. Fakta ini digunakan untuk mengembangkan persamaan untuk
memperoleh Q* secara langsung. Langkah yang perlu dilakukan adalah :
1. Membuat persamaan untuk biaya setup atau biaya pemesanan
Biaya setup tahunan = (jumlah pesanan yang ditempatkan pertahun) (biaya setup atau
biaya pemesanan per pesanan)
permintaantahunan
( jumlah unit
dalam setiap pemesanan )

( biaya setup atau biaya pemesanan per pesanan )

( QD )

D
Q

(S )

2. Membuat sebuah persamaan untuk biaya penyimpanan


Biaya penyimpanan tahunan = (rata-rata tingkat persediaan) (biaya penyimpanan per
unit per tahun)
kuantitas pemesanan
( biaya penyimpanan per unit per tahun )
=
2

( Q2 )

Q
2

(H)

3. Menentukan biaya setup yang sama dengan biaya penyimpanan


Kuantitas pemesana optimal didapatkan ketika biaya setup tahunan sama dengan biaya
penyimpanan tahunan, maka :
D
Q

S=

Q
2

4. Menyelesaikan persamaan untuk kuantitas pesanan yang optimum


Untuk memecahkan Q* dengan mudah variabel pembagi pada masing-masing sisi ditukar
ke sisi lainnya dan sendirikan Q pada sisi kiri tanda sama dengan (=)
2DS = Q2H
Q2 =

2 DS
H

Q* =

2 DS
H

Keterangan:
Q = Jumlah unit per pesanan
Q* = Jumlah optimum unit per pesanan
D = Permintaan tahunan dalam unit

S = Biaya pemesanan untuk setiap pesanan


H = Biaya penyimpanan per unit per tahun

Frekuensi pemesanan adalah permintaan pertahun dibagi dengan jumlah pesanan dalam satu
tahun, sehingga frekuensi pesanan ekonomis sebagai berikut :
F* =

permintaan
kuantitas pemesanan

Q
D
F* =

Jangka waktu antar tiap pesanan :


T* =

jumlah hari kerja pertahun


frekuensi pesanan

Total biaya persediaan yang dapat dirumuskan sebagai berikut :


Total Biaya Persediaan = Total Biaya Penyimpanan + Total Biaya Pemesanaan
TC =

2.6

D
Q

.S+

Q
2

.H

Penelitian Sebelumnya dan Kerangka Pemikiran

2.6.1

Penelitian Sebelumnya
Penelitian yang dilakukan Siska dan Lili Safitri dengan judul Analisis
Sistem Pengendalian Persediaan Barang Dagang pada PT. Sungai Budi Di
Palembang. Hasil penelitian ini adalah prosedur pemesanan, penerimaan dan
pengeluaran persediaan barang dagang pada PT. Sungai Budi di Palembang sudah
memadai. Namun pada perusahaan belum menerapkan perhitungan EOQ, ROP
dan Safety Stock dalam pengelolaan dan pengendalian persediaan. Dari hasil

penelitian dapat disimpulkan bahwa perusahaan sebaiknya menerapkan


perhitungan EOQ, ROP dan Safety Stock dalam pengelolaan dan pengendalian
persediaan untuk menghindari adanya kekurangan stok (Stock Out) maupun
kelebihan atau penumpukan stok barang dagang.
Penelitian yang dilakukan Yulius Gessong Sampeallo dengan judul Analisis
Pengendalian Persediaan pada UD. Bintang Furniture Sangasanga. Hasil
penelitian ini menunjukan bahwa kebijakan pemesanan atas pembelian furniture
(lemari pakaian) pada UD. Bintang Furniture sangasanga belum memperoleh
biaya yang minimum. Karena pembelian yang memperoleh biaya minimum untuk
furniture tahun 2010 sebesar 60 unit dengan menggunakan rumus Economic
Order Quantity (EOQ) terjadi pada frekuensi pemesanan 9 kali pesanan dengan
jumlah pemesanan 7 unit furniture karena dengan frekuensi tersebut maka dapat
menekan biaya persediaan, dan dengan adanya persediaan minimum (safety
stock) furniture (lemari pakaian) yang disediakan UD. Bintang Furniture
Sangasanga sebesar 2 unit, maka titik Reorder Point yang merupakan batas
diadakannya pemesanan kembali furniture selama masa tenggang (lead time)
adalah 2 unit.

2.6.2

Kerangka Pemikiran
Dalam dunia bisnis setiap perusahaan di tuntut untuk terus memenuhi
kebutuhan konsumen yang semakin meningkat. Perusahaan harus siap dengan
permintaan mendatang yang tidak dapat dipastikan maka perusahan perlu
melakukan persediaan untuk dapat memenuhi kebutuhan konsumen.Suatu
persediaan perlu adanya pengendalian dari pihak manajemen perusahaan sehingga
pengendalian persediaan perlu mendapatkan perhatiaan lebih dari manajemen
dimana harus dikelola dengan baik karena menurut Baroto (2002,52)
pengendaliaan persediaan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting,
karena mayoritas perusahaan melibatkan investasi besar pada aspek ini (20%
sampai 60%).
Persediaan memiliki dua jenis permintaan yaitu permintaan dependen dan
permintaan independen (Dependent and Independent Demand). Permintaan
independen adalah permintaan yang berdiri sendiri dan tidak terikat atau terkait
dengan satu sama lain (barang yang sudah jadi). Sementara permintaan dependen
adalah permintaan yang berupa bahan-bahan mentah dan mengembangkannya
menjadi barang yang sudah jadi yang mempunyai tingkatan lebih tinggi.
(Chase,Aquilano dan Jacobs : 1998).
Permintaan dependen umumnya berkenaan langsung dengan perhitungan.
Kuantitas item yang diperlukan dari permintaan dependen ini dihitung secara
sederhana, tergantung angka yang dibutuhkan tiap-tiap item level lebih tinggi
yang digunakan (Chase, Aquilano dan Jacobs : 1998).
Untuk pengendalian persediaan dependen perusahaan perlu mengadakan
persediaan yang optimal dengan menggunakan metode EOQ (Eqonomic Quantity
Order) maka dapat diketahui kapan persediaan harus diisi, berapa kuantitas
pemesanan yang harus dilakukan, kapan pemesanan harus dilakukan secara
optimal sehingga dapat menghasilkan biaya persediaan yang minimum. Economic
Quantity Order (EOQ) merupakan jumlah atau besarnya pesanan yang dimiliki
jumlah ordering costs dan carrying costs per tahun yang paling minimal.

MULAI
Pencarian data dan
studi kepustakaan

Pengendaliaan persediaan pada


perusahaan

Pengendalian persedian dengan metode


EOQ pada perusahaan

Membandingkan pengendalian persediaan


perusahaan dengan pengendalian
persediaan metode EOQ

Hasil dan
kesimpulan

SELESAI

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

2.7

Hipotesis Penelitian
Dari permasalahan diatas maka hipotesis pada penelitian ini adalah pengendalian
persediaan baja ringan pada PD. SUBUR JAYA belum optimal.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1

Jenis Penelitian
Metode penelitian merupakan cara kerja untuk memahami objek penelitian, maka
penulis menggunakan Deskriftif Survey dan Observasi secara langsung yaitu penelitian
yang bertujuan menggambarkan suatu fenomena atau melukiskan fakta atau karakteristik
populasi tertentu atau bidang tertentu secara sistematis, factual, dan cermat dalam
pengendaliaan persediaan yang terjadi pada PD. SUBUR JAYA.
Jenis penelitiann yang dilakukan adalah Deskriptif Development karena
mengembangkan dan status fenomena yang sudah ada mengenai pengendaliaan
persediaan untuk mendapati kuantitas, frekuensi yang optimal sehingga menghasilkan
total biaya persediaan yang minimum pada PD. SUBUR JAYA.
Metode yang dilakuakan dalam penelitian ini adalah Metode Deskriptif Survey.
Dalam hal ini metode sesuai yang sesuai dalam penelitian.
Teknik penelitian yang dilakukan di penelitian ini adalah analisis kuantitatif
adalah suatu teknik yang dilakukan bersifat kuantitatif yakni dengan Metode Economic
Order Quantity (EOQ).

3.2

Objek, Unit Analisis, dan Lokasi Penelitian


Dalam dunia bisnis pun setiap perusahaan sekarang ini terus bersaing untuk
menciptakan berbagai kebutuhan konsumen yang semakin tinggi dan semakin cerdas
dalam memilih kebutuhannya. Maka untuk menangkap tingginya peluang pasar tersebut
didirikanlah perusahaan dagang yang bernama PD. SUBUR JAYA.
PD. SUBUR JAYA yang berpusat dan beroperasional di Jl. Pahlawan No.76
Bogor. Perusahaan ini bergerak di bidang jual beli barang berupa baja ringan. Perusahaan
membeli barang untuk di jual kembali dalam bentuk semula tanpa mengalami
pengolahan. PD. SUBUR JAYA dapat dikatakan berupa toko, penyalur, agen penjualan,
distributor dan sejenisnya.

3.3

Jenis dan Sumber Data Penelitian

3.3.1

Jenis Data
Ada dua jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, yaitu:
1. Data Kuantitatif
Data Kuantitatif yaitu data yang berupa angka-angka yang dapat
dihitung atau diukur secara matematis. Data kuantitatif dalam penulisan
penelitian ini terdiri dari:

Data penjualan baja ringan pada periode Januari sampai dengan


Desember 2014.
Data harga baja ringan.
Data biaya penyimpanan
Data biaya pemesanan
2. Data Kualitatif
Data kualitatif yaitu data yang tidak dapat dihitung atau diukur secara
matematis. Data kualitatif dalam penulisan penelitian ini terdri dari:
Sejarah perusahaan
Struktur organisasi, tugas dan tanggung jawabnya
3.3.2

Sumber Data
Dalam penelitian kali ini, sumber yang dipakai adalah data primer. Data
primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari sumbernya, diamati
dan di catat untuk pertama kalinya (Marzuki:2005).

3.4

Operasionalisasi Variabel
Variabel yang diteliti adalah pengendalian persediaan barang dagang untuk
mendapatkan kuantitas pemesanan dan frekuensi pemesanan yang optimal sehingga dapat
meminimumkan total biaya persediaan. Untuk mendapatkn data dan informasi maka
penulis melakukan penelitian pada PD. SUBUR JAYA.
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari :

3.6

Penjualan barang
Biaya penyimpanan
Biaya pemesanan
Lead time pemesanan

Metode Pengumpulan Data

Dalam melakukan penelitian, data yang dikumpulkan akan digunakan untuk


memecahkan masalah yang ada sehingga data tersebut harus benar-benar dapat dipercaya
dan akurat. Dalam suatu penelitian ilmiah, metode pengumpulan data dimaksudkan untuk
memperoleh bahan-bahan yang relevan, akurat, dan terpercaya. Metode pengumpulan
data yang dipergunakan pada penelitian ini adalah :

3.7

Wawancara
Wawancara sebagai tehnik pencarian dan pengumpulan informasi dilakukan
dengan mendatangi secara langsung kepada para responden untuk dimintai
keterangan mengenai sesuatu yang diketahuinya (bisa mengenai suatu kejadian,
fakta, maupun pendapat responden).
Studi Pustaka
Pengumpulan data yang dilakukan dengan membaca buku-buku literatur, jurnaljurnal, internet, majalah, dan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan
penelitian yang sedang dilakukan.
Dokumentasi
Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
mengumpulkan dan mengambil data, catatan dan dokumen perusahaan yang
relevan dengan keperluan peneliti yang nantinya diolah sebagai bahan penelitian.
Observasi
Yaitu merupakan teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan
langsung terhadap obyek penelitian yang diamati, kemudian mencatat informasi
yang diperoleh selama pengamatan di perusahaan.

Metode Analisis Data


Metode analisis yang digunakan penulis adalah metode EOQ (Economic Quantity
Order) yaitu teknik yang memberikan penentuan kuantitas barang yang dapat diperoleh
dengan biaya yang minimal atau sering dikatakan sebagai jumlah pembelian yang
optimal.
Setelah data terkumpul selanjutnya dilakukan pengolahan data dengan Metode
Economic Order Quantity (EOQ). Langkah-langkah dalam pengolahan datanya sebagai
berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Menghitung total dan rata-rata dari data penjualan baja ringan


Mengitung biaya pemesanan
Menghitung biaya penyimpanan
Menghitung total biaya persediaan
Menghitung jumlah pemesanan yang optimal
Menghitung frekuensi pembelian yang optimal
Menghitung biaya persediaan berdasarkan metode EOQ
Menghitung waktu antar pemesanan

9. Membandingkan pengendalian persediaan yang dilakukan perusahaan dengan


yang berdasarkan EOQ

DAFTAR PUSTAKA

Heizer, J. Barry Render. 2005. Manajemen Operasi.Salemba Empat, Jakarta.


Herjanto, Eddy. 2003. Manajemen Produksi dan Operasi. PT.Gramedia, Jakarta.
Assauri, Sofian. 2008. Manajemen Produksi dan Operasi. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia, Jakarta.
Handoko. T Hani. 2012. Dasar-Dasar Manajemen Produksi dan Operasi. BPFE, Yogyakarta.
Kumalanigrum, Maria Pampa. Heni Kusumawati. Rahmat Purbandono Hardani. 2011.
Manajemen Operasi. STIM YKPN Yogyakarta, Yogyakarta.
Baroto, Teguh. 2002. Perencanaan dan Pengendalian Produksi. Ghalia Indonesia, Jakarta
Mulyono, S. 2004. Riset Operasi. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia,
Jakarta.
Haming, Murdifin. Mahmud Nurnajamuddin.2007. Manajemen Produksi Modern. Sinar Grafika
Offset, Jakarta.
Schroeder, Roger G. 1997. Operasi Pengambilan Keputusan dalam Fungsi Operasi. Erlangga,
Jakarta.
Rangkuti, Freddy 2007, Manajemen Persediaan, Rajawali Pers, Jakarta.
Yulius Gessong Sampeallo, 2012. Analisis pengendalian persediaan pada ud. Bintang Furniture
sangasanga. Jurnal Riset Akuntansi. Vol.8 No.1, Mar 2012: 2001 2181.
Siska dan Lili Safitri. Analisis sistem pengendalian persediaan Barang dagang pada pt. Sungai
budi Di Palembang. Jurnal Akuntansi. STIE MDP.