Anda di halaman 1dari 11

I.

Tujuan
Dapat merancang dan meakukan eksperimen sederhana untuk menguji
aktifitas antelmetik (anti cacing ) suatu bahan uji secara invitro.
Dapat mengamati bagaimana kematian atau respon yang diberikan cacing
terhadap obat anti cacing.

II.

Dasar Teori
A. Antelmetik
Antelmentik atau obat cacing adalah obat-obat yang dapat memusnahkan
cacing dalam tubuh manusia dan hewan. Yang tercakup dalam istilah ini adalah
semua zat yang bekerja lokal menghalau cacing dari saluran cerna maupun obatobat sistemis yang membasmi cacing maupun larvanya yang menghinggapi organ
dan jaringan tubuh.
Banyak antelmintik dalam dosis terapi hanya bersifat melumpuhkan cacing,
jadi tidak mematikannya. Guna mencegah jangan sampai parasit menjadi aktif lagi
atau sisasisa cacing mati dapat menimbulkan reaksi alergi, maka harus
dikeluarkan secepat mungkin (Tjay dan Rahardja, 2002:185).
Contoh zat aktif antelmintik yang lazim digunakan, diantaranya:
1. Pirantel Pamoat
Untuk cacing gelang, cacing kremi dan cacing tambang. Mekanisme
kerjanya menimbulkan depolarisasi pada otot cacing dan meningkatkan frekuensi
imfuls, menghambat enzim kolinesterase. Absorpsi melalui usus tidak baik,
ekskresi sebagian besar bersama tinja, <15% lewat urine. (Anonim.2010)
Pirantel pamoat sangat efektif terhadap Ascaris, Oxyuris dan Cacing
tambang, tetapi tidak efektif terhadap trichiuris. Mekanisme kerjanya berdasarkan
perintangan penerusan impuls neuromuskuler, hingga cacing dilumpuhkan untuk
kemudian dikeluarkan dari tubuh oleh gerak peristaltik usus. Cacing yang lumpuh
akan mudah terbawa keluar bersama tinja. Setelah keluar dari tubuh, cacing akan
segera mati. Di samping itu pirantel pamoat juga berkhasiat laksans lemah. . (Tjay
dan Rhardja, 2002:193)
Resorpsinya dari usus ringan kira kira 50% diekskresikan dalam keadaan
utuh bersamaan dengan tinja dan lebih kurang 7% dikeluarkan melalui urin. Efek
sampingnya cukup ringan yaitu berupa mual, muntah, gangguan saluran cerna dan
kadang sakit kepala. (Tjay dan Rhardja, 2002:193). Dosis terhadap cacing kremi

dan cacing gelang sekaligus 2-3 tablet dari 250 mg, anak-anak 2 tablet sesuai
usia (10mg/kg). (Tjay dan Rhardja, 2002:193). Dosis tunggal pirantel pamoat
10mg/kg Bb (ISO, 2009 : 81).

2. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza)


Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) adalah tumbuhan obat yang tergolong
dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae)[1]. Ia berasal dari Indonesia,
khususnya Pulau Jawa, kemudian menyebar ke beberapa tempat di kawasan
wilayah biogeografi Malesia. Saat ini, sebagian besar budidaya temu lawak
berada di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina[2] tanaman ini selain di
Asia Tenggara dapat ditemui pula di China, Indochina, Barbados, India,
Jepang, Korea, Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa.

Nama daerah di Jawa yaitu temulawak, di Sunda disebut koneng gede,


sedangkan di Madura disebut temu labak. Tanaman ini dapat tumbuh dengan
baik pada dataran rendah sampai ketinggian 1500 meter di atas permukaan
laut dan berhabitat di hutan tropis. Rimpang temu lawak dapat tumbuh dan
berkembang dengan baik pada tanah yang gembur.

Ciri Morfologi
Terna berbatang semu dengan tinggi hingga lebih dari 1 m tetapi kurang dari 2
m. Batang semu merupakan bagian dari pelepah daun yang tegak dan saling
bertumpang tindih[4], warnanya hijau atau coklat gelap. Rimpang terbentuk
dengan sempurna dan bercabang kuat, berukuran besar, bercabang-cabang,
dan berwarna cokelat kemerahan, kuning tua atau berwarna hijau gelap. Tiap
tunas dari rimpang membentuk daun 2 9 helai dengan bentuk bundar
memanjang sampai bangun lanset, warna daun hijau atau coklat keunguan
terang sampai gelap, panjang daun 31 cm 84 cm dan lebar 10 cm 18 cm,
panjang tangkai daun termasuk helaian 43 cm 80 cm, pada setiap helaian
dihubungkan dengan pelepah dan tangkai daun agak panjang. Bunganya
berwarna kuning tua, berbentuk unik dan bergerombol yakni perbungaan
lateral,[1]. tangkai ramping dan sisik berbentuk garis, panjang tangkai 9cm
23cm dan lebar 4cm 6cm, berdaun pelindung banyak yang panjangnya
melebihi atau sebanding dengan mahkota bunga. Kelopak bunga berwarna

putih berbulu, panjang 8mm 13mm, mahkota bunga berbentuk tabung


dengan panjang keseluruhan 4.5cm, helaian bunga berbentuk bundar
memanjang berwarna putih dengan ujung yang berwarna merah dadu atau
merah, panjang 1.25cm 2cm dan lebar 1cm, sedangkan daging rimpangnya
berwarna jingga tua atau kecokelatan, beraroma tajam yang menyengat dan
rasanya pahit

3. Kunyit
Kunyit atau kunir, (Curcuma longa Linn. syn. Curcuma domestica Val.),
adalah termasuk salah satu tanaman rempah dan obat asli dari wilayah Asia
Tenggara. Tanaman ini kemudian mengalami penyebaran ke daerah Malaysia,
Indonesia, Australia bahkan Afrika. Hampir setiap orang Indonesia dan India
serta bangsa Asia umumnya pernah mengonsumsi tanaman rempah ini, baik
sebagai pelengkap bumbu masakan, jamu atau untuk menjaga kesehatan dan
kecantikan. Dalam bahasa Banjar kunyit atau kunir ini dinamakan Janar.

Kunyit tergolong dalam kelompok jahe-jahean, Zingiberaceae. Kunyit dikenal


di berbagai daerah dengan beberapa nama lokal, seperti turmeric (Inggris),
kurkuma (Belanda), kunyit (Indonesia dan Malaysia), kunir (Jawa), koneng
(Sunda), konyet (Madura).
Kegunaan[sunting | sunting sumber]
Kunyit adalah rempah-rempah yang biasa digunakan dalam masakan di
negara-negara Asia. Kunyit sering digunakan sebagai bumbu dalam masakan
sejenis gulai, dan juga digunakan untuk memberi warna kuning pada masakan,
atau sebagai pengawet.[2] Produk farmasi berbahan baku kunyit, mampu
bersaing dengan berbagai obat paten, misalnya untuk peradangan sendi
(arthritis- rheumatoid) atau osteo-arthritis berbahan aktif natrium deklofenak,
piroksikam, dan fenil butason dengan harga yang relatif mahal atau suplemen
makanan (Vitamin-plus) dalam bentuk kapsul. Dalam bahasa Banjar kunyit
biasa pula disebut Janar.

Produk bahan jadi dari ekstrak kunyit berupa suplemen makanan dalam bentuk
kapsul (Vitamin-plus) pasar dan industrinya sudah berkembang. Suplemen
makanan dibuat dari bahan baku ekstrak kunyit dengan bahan tambahan

Vitamin B1, B2, B6, B12, Vitamin E, Lesitin, Amprotab, Mg-stearat, Nepagin
dan Kolidon 90.

B. Cacing Tanah
Kerajaan
Filum
Kelas
Ordo
Famili
Jenis

: Animalia
: Annelida
: Clitellata
: Haplotaxida
: Lumbricoides
: Lumbricoides terrestris

Annelida (dalam bahasa latin, annulus = cincin) atau cacing gelang adalah
kelompok cacing dengan tubuh bersegmen. Berbeda dengan Platyhelminthes dan
Nemathelminthes, Annelida merupakan hewan tripoblastik yang sudah memiliki
rongga tubuh sejati (hewan selomata). Namun Annelida merupakan hewan yang
struktur tubuhnya paling sederhana. (Anonim.B)
Annelida memiliki panjang tubuh sekitar 1 mm hingga 3 m.Contoh annelida
yang panjangnya 3 m adalah cacing tanah Australia. Bentuk tubuhnya simetris
bilateral dan bersegmen menyerupai cincin. (Anonim.B)
Annelida memiliki segmen di bagian luar dan dalam tubuhnya. Antara satu
segmen dengan segmen lainya terdapat sekat yang disebut septa. Pembuluh darah,
sistem ekskresi, dan sistem saraf di antara satu segmen dengan segmen lainnya saling
berhubungan menembus septa. Rongga tubuh Annelida berisi cairan yang berperan
dalam pergerakkan annelida dan sekaligus melibatkan kontraksi otot. (Anonim.B)
Ototnya terdiri dari otot melingkar (sirkuler) dan otot memanjang
(longitudinal). Sistem pencernaan annelida sudah lengkap, terdiri dari mulut, faring,
esofagus (kerongkongan), usus, dan anus. Cacing ini sudah memiliki pembuluh darah
sehingga memiliki sistem peredaran darah tertutup. Darahnya mengandung
hemoglobin, sehingga berwarna merah. Pembuluh darah yang melingkari esofagus
berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh. (Anonim.B)
Sistem saraf annelida adalah sistem saraf tangga tali. Ganglia otak terletak di
depan faring pada anterior. Ekskresi dilakukan oleh organ ekskresi yang terdiri dari
nefridia, nefrostom, dan nefrotor. Nefridia (tunggalnefridium) merupakan organ

ekskresi yang terdiri dari saluran. Nefrostom merupakan corong bersilia dalam tubuh.
Nefrotor merupaka npori permukaan tubuh tempat kotoran keluar. Terdapat sepasang
organ ekskresi tiap segmen tubuhnya. (Anonim.B)
Sebagian besar annelida hidup dengan bebas dan ada sebagian yang parasit
dengan menempel pada vertebrata, termasuk manusia. Habitat annelida umumnya
berada di dasar laut dan perairan tawar, dan juga ada yang segaian hidup di tanah atau
tempat-tempat lembap. Annelida hidup di berbagai tempat dengan membuat liang
sendiri. (Anonim.B)
Annelida umumnya bereproduksi secara seksual dengan pembantukan gamet.
Namun ada juga yang bereproduksi secara fregmentasi, yang kemudian beregenerasi.
Organ seksual annelida ada yang menjadi satu dengan individu (hermafrodit) dan ada
yang terpisah pada individu lain (gonokoris). (Anonim.B)
Annelida dibagi menjadi tiga kelas, yaitu Polychaeta (cacing berambut banyak),
Oligochaeta (cacing berambut sedikit), dan Hirudinea. (Anonim.B)

III.

IV.

Alat dan Bahan


Cawan petri
Beker gelas
Pipet tetes
Kertas perkamen
Timbangan
Spatel
Batang pengaduk
Corong

Stopwach
Aquades
Kunyit
Temulawak
Cacing
Pyrantel pameat
NaCl

Cara Kerja
1. Menyiapka 4 ekor cacing untuk kontol negatif, kontrol positif , pemberian
temulawak dan pemberian kunyit.
2. Membuat larutan untuk diberikan pada cacing yaitu:
Larutan kontrol negatif dengan menyiapkan NaCl yang digunakan dari
cairan infus.
Larutan kontrol positif dengan menggerus 4 tablet Pyrantel pameat
dengan 250 ml aquades.
Menyiapkan temulawak untuk 12 kelompok dengan masing-masing 2
kelompok dengan konsentrasi yang sama yaitu,
1-2
5%;
3-4
10%;
5-6
15%;
7-8
20%;

9-10
25%;
11-12
30%;
Dalam 20 ml aquades.
Menyiapkan kunyit untuk 12 kelompok dengan masing-masing 2
kelompok dengan konsentrasi yang sama yaitu,
1-2
5%;
3-4
10%;
5-6
15%;
7-8
20%;
9-10
25%;
11-12
30%;
Dalam 20 ml aquades.
3. Memberikan pada cacing dengan cara :
Untuk kontol positif
Memasukan 10ml Pyrantel pameat dalam cawan petri, lalu ratakan.
Masukkan seekor cacing.
Mencatat respon yang terjadi sampai selesai dalam 30 menit atau
lebih.
Untuk kontrol negatif
Memasukkan 10 ml NaCl dalam cawan perti.
Masukkan seekor cacing.
Mencatat respon yang terjadi sampai selesai dalam 30 menit atau
lebih.
Untuk pemberian temulawak
Setiap keompok menggunakan konsentarsi temulawak yang meraka
buat untuk digunakan.
Memipet 10 ml larutan lalu masukkan dalam cawan petri.
Memasukkan seekor cacing. Mencatat respon yang terjadi sampai
selesai dalam 30 menit atau lebih
Untuk pemberian kunyit
Setiap keompok menggunakan konsentarsi kunyit yang meraka buat
untuk digunakan.
Memipet 10 ml larutan lalu masukkan dalam cawan petri.
Memasukkan seekor cacing. Mencatat respon yang terjadi sampai
selesai dalam 30 menit atau lebih.
4. Mencatat T0 (0 detik) dan Takhir (samapi 30 menit) , mengamati respon
yang diberikan cacing terhadap obat.
5. Percobaan dilakukan sampai 30 menit atau sampai pada cacing dalam
keadaan keras,hancur ,lembek, atau dalam keadaan mati.

V.

Hasil

Hasi percobaan
Bahan uji
Konsentrasi T0
Kontrol +
Pyranthel
pamoat

(5%) 10 ml

00.00.00
Mulai

Menit
ke00.04.30
00.08.00
00.11.45
00.30.00

Kontrol
NaCl

Respon yang diamati

Tmati

Normal
Lemas
Tubuh cacing lisis
berubah warna putih
Sudah mulai tidak
aktif

00.50.00
Tidak mati

(10%) 10 ml

10.26.00
Mulai

10.37.00
10.46.00

Diam
Diam dan berubah
warna / lisis

10.59.00
Tidak mati

(15%) 10 ml

00.01.00
Mulai

00.03.00
00.08.00
00.11.00
00.38.00
00.42.00

Lemas
Mulai diam
Pergerakan sedikit
Gerak kembali
Lemas

00.65.00
Tidak mati

(20 %) 10
ml
(25%) 10 ml

00.00.00
Mulai
10.26.00
Mulai

00.05.00

Normal

00.37.00
00.48.20

Lemas
Sudah mulai tidak
aktif

00.38.25
Tidak mati
00.48.21
Tidak mati

(30%) 10 ml

10.49.00
Mulai

10.51.00
10.54.00

Menggeliat
Berontak / kejang

(5%) 10 ml

00.00.00
Mulai

00.04.30
00.11.45

Normal
Kulit berubah waran
Tubuh cacing lisis
berubah warna
menjadi bening
Sudah mulai tidak
aktif
Lemas / hampir mati

00.30.00
00.45.00
(10%) 10 ml

(15%) 10 ml

10.26.00
Mulai

00.01.00
Mulai

10.26.00
10.37.00
10.46.00

10.57.00
Mati dalam
kondisi
tubuh keras
00.50.00
Tidak mati

10.59.00
Tidak mati

10.59.00

Normal
Gerak
Perubahan warna/
tubuh menjadi lisis
Gerak gerak

00.03.00
00.38.00

Tenang / diam
Gerak kembali

00.65.00
Tidak mati

(20%) 10 ml
(25%) 10 ml

Kunyit

00.00.00
Mulai
10.26.00
Mulai

(30%) 10 ml

00.00.00
Mulai

(5%)

00.00.00
Mulai

00.65.00

Lemas

00.35.00

Normal

00.00.00
00.40.00

Aktif
Lemas / diam

00.02.00
00.04.30
00.08.00
00.09.10
00.10.10
00.21.35

(10%)

10.26.00
Mulai

10.26.00
10.37.00

10.57.00
Lalu mati

00.53.00
Mati dalam
keadaan
Lembek

00.38.00
00.42.00

Menggeliat / loncat
Lemas
Mulai diam
Pergerakan sedikit
Volume badan
bertambah karena
menyerap kunyit
Tidak bergerak
Absorpsi / lisis

00.38.46
Mati dalam
kondisi
keras
00.45.00
Tidak mati

10.57.00
00.00.00
Mulai

Sampai
selesai
Tidak mati
00.26.00
Mati

Beraksi loncat
Melingkar lingkar,
lemas
Lemas, struktur tidak
menentu
Lembek

10.46.00

(15%)

Berontak / menggeliat
sampai loncat
Lemas
Keluar lendir
Setengah badannya
kaku
Lembek
Hampir mati

00.40.00
Tidak mati
00.40.00
Tidak mati

00.00.00
00.03.00
00.09.00
00.14.00
00.30.00

(20%)

00.00.00
Mulai

00.05.00
00.30.00
00.35.00

Lemas
Lemas mulai Keras
Keras

(25%)

10.26.00
Mulai

00.35.20
00.43.05
00.45.00

Berlendir
Lembek
Mulai tidak aktif

(30%)

10.27.00
Mulai

10.28.00
10.30.00

Lemas
Menggeliat mulai
berkurang
Sangat lemas

10.37.00

10.53.00
Mati dalam
kondisi
lembek

Temulawak (5%)

00.00.00
Mulai

00.04.30
00.13.00
00.15.00
00.18.00

00.21.35
(10%)

10.26.00
Mulai

10.26.00
10.37.00
10.46.00

(15%)

00.00.00
Mulai

00.01.00
00.03.00

00.35.20
Mati

Loncat karena obat


telah beraksi
Lemas
Lembek dan lemas

10.59.00
Lemas lalu
diam
mungkin
mati
00.39.00
Mati

00.14.00
00.30.00
00.38.00

Menggeliat
Lemas, pergerakan
pelan
Pergerakan sedikit
Pucat / lisis, lembek
Tidak bergerak lagi

(20%)

00.00.00
Mulai

00.00.00
00.05.00
00.35.00

Normal
Lemas
Lembek

00.39.49
Mati

(25%)

10.26.00
Mulai

00.09.15
00.16.05

Lemas
Lembek

00.42.30
Mati

(30%)

10.25.00
Mulai

10.26.00

Mulai mengeliat lalu


lemas
Terjadi lisis
Sediki bergerak
Tubuh lebih hancur

10.55.00
Mati

10.39.00
10.43.00
10.45.00

VI.

Menggeliat / aktif
(obat beraksi)
Lemas / melemah
Tubuh keras
Temulawak
terabsorpsi banyak
sehingga tubuh lisis
Hampir mati

Pembahasan
Pada praktikum kali ini, yang menjadi bahan amatan pengamat adalah
aktivitas pirantel pamoat sebagai obat antelmintik juga dari bahan alam yang
berkhasiat saa dengan obat antelmentik yaitu kunyit dan temulawak yang bekerja
dalam mempengaruhi sistem saraf dari cacing yang akan diamati efeknya.
Pada prosedur awal, cacing yang digunakannya cacing tanah (Lumbricoides
terrestris) karena cacing ini tidak terlalu berbahaya,berbeda dengan cacing yang
lain. Percobaan ini digunakan agar kita mengetahui bagaimana efek obat
antelmenti terhadap cacing yang masuk melalui sistem saraf yang diseraf melalui
kulit,apakai akan lisis, terjadi pengerasan, lembek pada cacing.

Yang pertama adalah cacing sebagai konto negatif yang diberikan NaCl
sebanyak 10 ml pada konsentrasi tertentu yaitu 5 %,10%,15%,20%,25% dan 10%
selama kurang lebih satu jam dan cacing menjadi lemas atau terdiam tapi tidak
mati yag terjadi karena adanya cairan yang berlebih dalam tubuh cacing.
Cacing kedua sebagai kontrol positif yang diberikan Pirantel pamoat
dengan dosis sebanyak 250 mg senyak 10 ml, pada kadar 5%-10% cacing hanya
lemas dan warna mulai berubah pada kadar 15%-25% cacing mulai lemas dan
diam dan pada kadar 30% cacing mati dengan tubuh yang berubah menjadi keras.
Tubuh cacing yag amalnya lurus berubah menjasi bergaris-garis lalu menjai keras
pada kadar 30% dan mati.
Cacing ketiga diberikan temulawak cacing pada temulawak cacing pada
kadar 5% - 30% mati hanya saja pada kadar 25% dan 30% cacing tubuhnya mulai
hancur sedangkan kadar 15% dan 20% cacing mulai bergaris atau tidak rata yang
menandakan cairan terserap dalam tubuh cacing.
Cacing ke empat diberi kunyit dan menyebabkan cacing pada semua kadar
mati dalam keadaan lemas atau lembek yang dimulai dengan volume tubuh cacing
yang mulai bertambah lalu ketika ditekan akan tersasa lunak kemudian mati, pada
kadar 5%-10% cacing meti tapitidak terlalu terlihat lunak sedangkan dalam kadar
yang lebih tinggi cacing terlihat lunak lebih jelas.
Dari ke empat obat yang deberikan NaCl hanya menyebabkan cacing lemas
, Pirantel pamoat menyebabkan cacing mati dan menyebabkan tubuh cacing
mengeras, temulawak menyebabkan tubuh cacing hancur sedangkan kunyit
menyebkan cacing mati dan tubuhnya lunak. Dari pernyataan tersebut dapat
disimpulkan kunyit dan temulawak membunuh cacing lebih baik dari NaCl dan
Pirantel pamoat dengan kondisi tubuh yang berbeda.
VII.

Kesimpulan
Dari ke empat obat yang deberikan NaCl hanya menyebabkan cacing lemas ,
Pirantel pamoat menyebabkan cacing mati dan menyebabkan tubuh cacing
mengeras, temulawak menyebabkan tubuh cacing hancur sedangkan kunyit
menyebkan cacing mati dan tubuhnya lunak. Dari pernyataan tersebut dapat
disimpulkan kunyit dan temulawak membunuh cacing lebih baik dari NaCl dan
Pirantel pamoat dengan kondisi tubuh yang berbeda.

Daftar Pustaka
Ganiswara, S.G., Setiabudi, R., Suyatna, F.D., Purwantyastuti, Nafrialdi
(Editor).1995.
Farmakologi dan Terapi. Edisi 4.. Bagian Farmakologi FK UI: Jakarta
Hoan Tan Tjay,drs & Kirana Rahardja. 2003. Obat-obat penting, Khasiat,
penggunaan dan efek sampingnya : Elexmedia Computindo
Katzung.1989.Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 3.EGC: Jakarta
Mycek.2001.Farmakologi Ulasan Bergambar.Widya Medika : Jakarta
MIMS Annual (1998) : Combantrin. Edisi 8. Singapore.
Drugs.Com (2007). Pyrantel Pamoate. Dikutip 25 Nop 2007.
Combantrin Product Inf
http://biologi-news.blogspot.com/2011/02/mebendazole-hexamine-adidryl.html
https://farmakologi.files.wordpress.com/2011/02/antelmintik.pdf

lampiran gambar

Sebelum diberi cacing

setelah diberi cacing