Anda di halaman 1dari 5

Change Management (Management Perubahan)

Perubahan yang terjadi di dunia bisnis banyak terjadi di luar prediksi. Perubahan
terjadi disekeliling kehidupan, diantaranya yang terkait dengan dunia bisnis
adalah :
a.
b.
c.
d.

Makin meluasnya pasar-pasar .


Umur produk semakin singkat .
Orientasi pasar semakin meningkat.
Fungsi staf versus fungsi garise.

e.

Otomatisasi pekerjaan.

f.

Berubahnya nilai-nilai sosial manusia.

Perubahan merupakan hal bagaimana dapat berubah, dari situasi saat ini ke
situasi yang diinginkan. Perubahan pada umumnya mencakup faktor sosial,
politik-yuridis, ekonomi dan teknologi serta lingkungan, secara khusus, aneka
macam perubahan terjadi disekeliling kehidupan. Perubahan yang terjadi di
dunia bisnis banyak terjadi di luar prediksi. Misalnya sebuah perusahaan nirlaba
harus menjadi usaha komersial berorientasi profit, tentu organisasinya akan
mengalami perubahan signifikan. Demikian juga untuk program merger,
rightsizing, akuisisi, dan lain-lain.
Dari sinilah dikenal Change Management. Tentu tidak mudah melakukan
perubahan revolusioner dalam bisnis. Padahal jika tidak berubah, nasib usaha
bisa terancam.
Change alone does not be get progress, but without change there can be no
progress
A. Definisi Management Perubahan
Pengertian Manajemen Perubahan itu sendiri adalah upaya yang dilakukan untuk
mengelola akibat-akibat yang ditimbulkan karena terjadinya perubahan dalam
organisasi (perusahaan). Perubahan dapat terjadi karena sebab-sebab yang
berasal dari dalam maupun dari luar organisasi tersebut.
B. Tujuan Change Management (Perubahan Management)
Perubahan management mempunyai manfaat bagi kelangsungan hidup suatu
organisasi, tanpa adanya perubahan maka dapat dipastikan bahwa usia
organisasi tidak akan bertahan lama. Perubahan bertujuan agar organisasi tidak
menjadi statis melainkan tetap dinamis dalam menghadapi perkembangan
jaman, kemajuan teknologi dan dibidang pelayanan kesehatan adalah
peningkatan kesadaran pasen akan pelayanan yang berkualitas
C. Tipe Perubahan Management

Perubahan terdiri dari 3 tipe yang berbeda, dimana setiap tipe memerlukan
strategi manajemen perubahan yang berbeda pula. Tiga macam perubahan
tersebut adalah:
(1)
Perubahan Rutin, dimana telah direncanakan dan dibangun melalui proses
organisasi;
(2)
Perubahan Peningkatan, yang mencakup keuntungan atau nilai yang telah
dicapai organisasi;
(3)
Perubahan Inovatif,
memberikan pelayanannya.

yang

mencakup

cara

bagaimana

organisasi

Tidak ada satupun pendekatan yang sesuai untuk Manajemen Perubahan.


Metoda-metoda yang digunakan untuk komunikasi, kepemimpinan, dan
koordinasi kegiatan harus disesuaikan dalam menemukan kebutuhan masingmasing situasi perubahan.
D. Tahap-tahap perubahan
Suatu perubahan terjadi melalui tahap-tahapnya.
Pertama-tama adanya
dorongan dari dalam (dorongan internal), kemudian ada dorongan dari luar
(dorongan eksternal). Untuk manajemen perubahan perlu diketahui adanya
tahapan perubahan. Tahap-tahap manajemen perubahan ada empat, yaitu:
Tahap 1, yang merupakan tahap identifikasi perubahan, diharapkan seseorang
dapat mengenal perubahan apa yang akan dilakukan /terjadi. Dalam tahap ini
seseorang atau kelompok dapat mengenal kebutuhan perubahan dan
mengidentifikasi tipe perubahan.
Tahap 2, adalah tahap perencanaan perubahan. Pada tahap ini harus dianalisis
mengenai diagnostik situasional tehnik, pemilihan strategi umum, dan pemilihan.
Dalam proses ini perlu dipertimbangkan adanya factor pendukung sehingga
perubahan dapat terjadi dengan baik.
Tahap 3, merupakan tahap implementasi perubahan dimana terjadi proses
pencairan, perubahan dan pembekuan yang diharapkan.
Apabila suatu
perubahan sedang terjadi kemungkinan timbul masalah. Untuk itu perlu
dilakukan monitoring perubahan.
Tahap 4, adalah tahap evaluasi dan umpan balik. Untuk melakukan evaluaasi
diperlukan data, oleh karena itu dalam tahap ini dilakukan pengumpulan data
dan evaluasi data tersebut. Hasil evaluasi ini dapat di umpan balik kepada tahap
1 sehingga memberi dampak pada perubahan yang diinginkan berikutnya.
Suatu perubahan melibatkan perasaan, aksi, perilaku, sikap, nilai-nilai dari orang
yang terlibat dan tipe gaya manajemen yang dibutuhkan. Jika perubahan
melibatkan sebagian besar terhadap perilaku dan sikap mereka, maka akan lebih
sulit untuk merubahnya dan membutuhkan waktu yang lama.

E. Hambatan tahapan perubahan management

Dalam melakukan perubahan juga seringkali ditemui penolakan dalam bentuk


terbuka, implisit, langsung dan tertahan, baik oleh perorangan (persepsi,
kepribadian dan kebutuhan) dan organisasi.
a. Penolakan perorangan terhadap perubahan dapat disebabkan hal-hal sebagai
berikut :
1. Kebiasaan (Habit). Manusia merupakan makhluk yang terikat oleh
kebiasaan, maka dalam menghadapi kompleksitas (termasuk perubahan)
akan mengandalkan pada kebiasaan atau reaksi terprogram.
2. Kapasitas (Security). Manusia memiliki kebutuhan tinggi akan kepastian
cenderung menolak terjadinya perubahan, karena dapat mengancam
perasaan keamanannya.
3. Faktor-faktor
Ekonomi.
Perubahan-perubahan
yang
terjadi
akan
menyebabkan penghasilan menyusut, karena tidak mampu melaksanakan
tugas-tugas baru atau rutin yang dikaitkan dengan produktivitas yang
dihasilkan.

4. Perasaan-perasaan Takut terhadap Hal-hal yang Tidak Dikenal. Perubahaperubahan yang terjadi menyebabkan terjadinya substitusi ambiguitas
dan ketidakpastian.
5. Pemrosesan Informasi secara Selektif. Orang membentuk dunianya melalui
persepsinya sehingga secara selektif memproses informasi-informasi,
dengan mengabaikan informasi yang menantang dunia yang telah
diciptakannya.
Selain penolakan terhadap perubahan
penolakan oleh suatu organisasi.

berdasarkan

perorangan

adapun

b. Penolakan organisasi terhadap perubahan dapat disebabkan hal-hal sebagai


berikut :
1. Inersia struktural. Organisasi memiliki mekanisme built-in untuk
menghasilkan stabilitas, misal proses seleksi SDM, pelatihan dan teknikteknik sosialisasi lainnya memperkuat syarat-syarat dan keterampilan
peranan spesifik, beserta formalisasi kegiatan.
2. Fokus perubahan terbatas. Organisasi terdiri dari sejumlah subsistem yang
bebas, maka perubahan terbatas pada subsistem-subsistem cenderung
dihilangkan pengaruhnya oleh sistem yang lebih besar.
3. Inersia kelompok. Perorangan ingin mengubah perilakunya tetapi normanorma kelompok dapat menjadi kendala. Seorang anggota kelompok
serikat pekerja, mungkin bersedia menerima perubahan-perubahan yang
ditetapkan oleh pihak manajemen, tetapi apabila serikat sekerja tersebut
menetapkan untuk menolak setiap perubahan unilateral dari pihak
manajemen, maka pekerja bersangkutan akan mengikuti penolakan
demikian.
4. Ancaman bagi kepakaran. Perubahan-perubahan pada pola keorganisasi
dapat mengancam kepakaran kelompok-kelompok khusus.

5. Ancaman bagi hubungan-hubungan kekuasaan yang telah mapan. Setiap


tindakan redistribusi otoritas pengambilan keputusan dapat menyebabkan
terancamnya hubungan-hubungan kekuasan yang mapan.
6. Ancaman bagi alokasi sumber daya yang sudah mapan. Kelompokkelompok pada sesuatu organisasi yang mengendalikan sumber-sumber
daya dalam jumlah besar, seringkali menganggap perubahan sebagai
ancaman.
Tanggung jawab terhadap pengelolaan perubahan ini harus mempertimbangkan
perasaan dan emosi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Jika hal ini diabaikan
atau tim manajemen perubahan tidak sensitif terhadap hal ini, perubahan tidak
akan dapat terjadi sesuai rencana yang telah dibuat. Perubahan dapat menjadi
sangat resisten dan defensif. Seseorang yang memimpin perubahan mungkin
harus merubah kinerja perubahan tersebut dengan maksud untuk memberikan
dukungan yang lebih efektif.
Dalam proses perubahan, seorang pemimpin harus berupaya untuk melatih
perubahan terlebih dahulu pada dirinya sendiri. Sehingga terjadi suatu integritas
pada dirinya. Dan perubahan ini akan mempengaruhi terjadinya perubahan
kinerja dalam organisasi yang dipimpinnya.

F. Cara mengatasi hambatan perubahan


Untuk mengatasi penolakan terhadap perubahan, dilakukan langkah berikut :
a. Pendidikan dan komunikasi untuk memahami logika suatu perubahan dan
informasi sesuai fakta.
b. Partisipasi yang memberikan sumbangan pemikiran.
c. Fasilitas dan bantuan berupa konseling, terapi, pelatihan keterampilan
baru dan libur singkat.
d. Negosiasi melalui paket imbalan khusus bagi pihak-pihak yang memiliki
posisi tawar.
e. Manipulasi (mempengaruhi secara terbuka) dan kooptasi (unsur
partisipasi) untuk mendapatkan dukungan dengan memberikan peranan
dalam pengambilan keputusan.
f. Paksaan, terutama bagi yang tidak bersedia kompromi.