Anda di halaman 1dari 8

2.

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS)


Perilaku dari segi biologis merupakan suatu kegiatan atau aktivitas dari organisme
yang bersangkutan, baik yang dapat diamati secara langsung maupun tidak
langsung.Sehingga pada hakekatnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah
suatu aktivitas dari manusia itu sendiri untuk mencapai hidup yang bersih dan sehat guna
tercapainya kesejahteraan fisik, psikis dan sosial. (Notoatmodjo, 2007)
2.3.1 PENGERTIAN PHBS
Berdasarkan
Keputusan
Mentri
Kesehatan

RI

No.

1193/MENKES/SK/X/2004, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah


salah satu kebijakan nasional berupa promosi kesehatan untuk mendukung
pencapaian visi Indonesia Sehat 2010. PHBS merupakan sekumpulan perilaku
yang dipraktekkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang
menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang
kesehatan dan berperan aktif mewujudkan kesehatan masyarakat (Depkes RI,
2006). Dengan adanya program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) akan
meningkatkan upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan
suatu kondisi bagi perorangan,

keluarga, kelompok dan masyarakat dengan

membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk


meningkatkan

pengetahuan,

sikap

dan

perilaku

melalui

pendekatan

kepemimpinan (Advokasi), bina suasana (Social Support) dan pemberdayaan


masyarakat (Empowerment)(Notoatmodjo, 2003). Dengan demikian masyarakat
dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, terutama dalam tatanan
masing-masing dan masyarakat dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dengan
menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya.
PHBS yang baik dapat memberikan dampak bermakna terhadap
kesehatan

dan

meningkatkan

kualitas

sumber

daya

manusia

dalam

peningkatan derajat kesehatan, status pola gizi dan pemanfaatan sarana kesehatan
lingkungan agar tercapai derajat kesehatan yang optimal. Masalah kesehatan
lingkungan merupakan salah satu dari akibat masih rendahnya tingkat kesadaran
dan pendidikan masyarakat, masih

terikat

eratnya

masyarakat

Indonesia

dengan adat istiadat kebiasaan dan kepercayaan yang tidak sejalan dengan
konsep kesehatan. Menurut pusat promosi kesehatan, PHBS dapat mencegah

terjadinya penyakit dan melindungi diri dari ancaman penyakit terkait dengan
kesehatan lingkungan termasuk penyakit yang dapat dicegah yaitu diare (Depkes
2.3.2

RI, 2009).
TUJUAN PHBS
Tujuan PHBS adalah untuk meningkatkan rumah tangga sehat di
seluruh masyarakat

Indonesia, meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan

kemauan masyarakat agar hidup sehat, meningkatkan peran aktif masyarakat


termasuk swasta dan dunia usaha, dalam upaya mewujudkan derajat hidup
2.3.3

yang optimal (Depkes RI, 2006).


MANFAAT PHBS
1. Bagi rumah tangga: semua anggota keluarga menjadi sehat dan tidak
mudah sakit, anak tumbuh sehat dan cerdas dan pengeluaran biaya rumah
tangga dapat ditujukan untuk memenuhi gizi keluarga,

pendidikan dan

modal usaha untuk menambah pendapatan keluarga.


2. Bagi masyarakat: masyarakat mampu mengupayakan lingkungan yang
sehat, masyarakat mampu mencegah dan menanggulangi masalah-masalah
kesehatan dan masyarakat mampu mengembangkan Upaya Kesehatan
Bersumber Masyarakat (UBKM) seperti Posyandu, tabungan ibu bersalin,
2.3.4

pembelian jamban, ambulan desa dan lain-lain (Depkes RI, 2006).


SASARAN PHBS
1. Sasaran primer adalah sasaran utama dalam rumah tangga yang akan dirubah
perilakunya atau anggota keluarga yang bermasalah (individu dalam keluarga
yang bermasalah).
2. Sasaran sekunder adalah sasaran yang dapat mempengaruhi individu
dalam keluarga yang bermasalah misalnya, kepala keluarga, ibu, orang
tua, tokoh keluarga, kader tokoh agama, tokoh masyarakat, petugas kesehatan,
dan lintas sektor terkait.
3. Sasaran tersier adalah sasaran yang diharapkan dapat menjadi unsur
pembantu dalam menunjang atau mendukung pendanaan, kebijakan, dan
kegiatan untuk tercapainya pelaksanaan PHBS, misalnya kepala desa, lurah,

2.3.5

camat, kepala Puskesmas, guru dan tokoh masyarakat (Depkes RI, 2006).
PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) KELUARGA
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang dilakukan di dalam tatanan
rumah tangga (keluarga) berfokus kepada upaya untuk memberdayakan anggota
rumah tangga agar sadar, mau, dan mampu melakukan PHBS untuk

memelihara dan meningkatkan kesehatannya, mencegah resiko terjadinya


penyakit dan melindungi diri dari ancaman penyakit serta berperan aktif dalam
gerakan kesehatan masyarakat (Purwanto, 1999). Dengan menerapkan Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), khususnya perilaku hygiene seperti mencuci
tangan dengan menggunakan sabun yang benar dan tepat sebagai cara yang
efektif untuk mencegah penyebaran berbagai penyakit menular seperti penyakit
diare. Namun dalam prakteknya, penerapan perilaku mencuci tangan dengan
sabun yang dianggap cukup sederhana tetapi tidak selalu mudah dilakukan,
terutama pada keluarga yang belum terbiasa. Maka pendidikan dari lingkungan
keluarga mempunyai peran yang penting, terutama pendidikan orang tua
kepada anaknya yang diberikan sejak masa kanak-kanak. Selain itu orang tua
harus
2.3.6

mengajarkan konsep PHBS khususnya dalam berperilaku hygiene dan

mengusahakan agar anak dapat menerapkan dan membiasakannya.


INDIKATOR PHBS TERKAIT DENGAN DIARE
Indikator PHBS adalah suatu alat ukur untuk menilai keadaan atau
permasalahan kesehatan di masyarakat yang mengacu kepada standar pelayanan
minimal bidang kesehatan. Terdapat sepuluh indikator yang dianjurkan Dinas
Kesehatan Republik Indonesia dalam memberdayakan PHBS, yakni: (1)
persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan, (2) pemberian ASI eksklusif, (3)
penimbangan bayi dan balita setiap bulan, (4) mencuci tangan dengan air dan
sabun, (5) menggunakan air bersih, (6) penggunaan jamban sehat, (7) rumah
bebas jentik, (8) mengkonsumsi buah dan sayur, (9) melakukan aktivitas fisik
setiap hari, (10) tidak merokok di dalam rumah. Diantara sepuluh indikator
tersebut, beberapa indikator digunakan untuk mecegah dan menanggulangi
masalah diare (Depkes RI, 2006)
2.3.6.1 Pemberian ASI Eksklusif
Pemberian ASI eksklusif adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI)
sejak lahir sampai usia 6 bulan, tidak diberi makanan tambahan dan
minuman lain kecuali pemberian air putih untuk minum obat saat bayi
sakit. Pedoman internasional yang menganjurkan pemberian ASI eksklusif
selama 6 bulan pertama didasarkan pada bukti ilmiah tentang manfaat ASI
bagi daya tahan (imun) bayi, pertumbuhan, dan perkembangannya.ASI

memberi semua energi dan gizi yang dibutuhkan bayi dan mengurangi
tingkat kematian bayi yang disebabkan berbagai penyakit yang umum
menimpa anak-anak seperti diare. Air Susu Ibu pertama berupa cairan
bening berwarna kekuningan (kolostrum), sangat baik untuk bayi karena
mengandung zat kekebalan terhadap berbagai bakteri penyebab diare.
Selain karena nutrisi yang terdapat di dalamnya, ASI juga aman dan
terjamin dalam hal kebersihan, karena langsung disusukan kepada bayi
dalam keadaan segar, tidak akan pernah basi dan mempunyai suhu yang
tepat serta dapat diberikan kapan saja dan di mana saja (Utami, 2000).
2.3.6.2 Mencuci Tangan dengan Air dan Sabun
Dari aspek kesehatan masyarakat, khususnya pola penyebaran
penyakit menular, cukup banyak penyakit yang dapat dicegah melalui
kebiasaan atau perilaku higienes dengan Cuci Tangan Pakai Sabun
(CTPS).Masih rendahnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang
manfaat mencuci tangan terutama di daerah pedesaan, menjadi salah satu
penyebab tingginya kasus diare. Membersihkan tangan dengan air bersih
yang mengalir dan memakai sabun sangat penting untuk membersihkan
kotoran dan membunuh kuman serta mencegah penularan penyakit. Air
yang tidak bersih dan tidak mengalir banyak mengandung kuman dan
bakteri penyebab penyakit dan bila digunakan, kuman dapat berpindah ke
tangan. Dengan perilaku cuci tangan yang benar, yaitu pakai sabun dan
menggunakan air bersih yang mengalir akan dapat menurunkan kejadian
diare sampai 45% (Herdiyanti, 2009).
Adapun waktu yang tepat untuk mencuci tangan, yakni:
1. Setiap kali tangan kotor (setelah memegang binatang dan
2.
3.
4.
5.
6.
7.

berkebun)
Setelah buang air besar
Setelah membersihkan kotoran bayi
Sebelum memegang makanan
Sebelum makan dan menyuapi makanan
Sebelum menyusui bayi
Setelah bersin, batuk dan membuang ingus

Hari mencuci tangan meggunakan sabun sedunia tanggal 15


oktober telah dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
sebagai salah satu cara menurunkan angka kematian balita serta mencegah
penyebaran penyakit. World Health Organization (WHO) juga membuat
panduan cara cuci tangan yang memenuhi standar kesehatan dengan
memaksimalkan area tangan yang dibersihkan, sebagai berikut:
1. Basahi kedua telapak tangan setinggi pertengahan lengan memakai
air yang mengalir, ambil sabun kemudian usap dan gosok kedua
2.
3.
4.
5.
6.
7.

telapak tangan secara lembut


Usap dan gosok juga kedua punggung tangan secara bergantian
Gosok sela-sela jari hingga bersih
Bersihkan punggung jari secara bergantian dengan mengatupkan
Gosok dan putar kedua ibu jari secara bergantian
Letakkan ujung jari ke telapak tangan kemudian gosok perlahan
Akhiri dengan membilas seluruh bagian tangan dengan air bersih
yang mengalir lalu keringkan memakai handuk kering atau tisu,
dan tutup keran menggunakan tisu tersebut.

Gambar 1. Enam Langkah Cuci Tangan Menurut WHO

2.3.6.3 Penggunaan Air Bersih


Air merupakan unsur yang sangat penting bagi kehidupan manusia.
Manusia akan lebih cepat meninggal karena kekurangan air daripada
kekurangan makanan. Di dalam tubuh manusia sendiri sebagian besar
terdiri dari air (sekitar 65% pada orang dewasa dan 80% pada bayi).
Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum,
mandi, memasak dan mencuci. Penyakit seperti diare, yang menyerang

manusia dapat juga ditularkan dan disebarkan melalui air. Kondisi tersebut
tentunya dapat menimbulkan wabah penyakit dimana-mana, sehingga
diperlukan lingkungan dengan air yang bersih untuk menunjang kehidupan
manusia sehari-hari. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa air minum
harus bebas dari kontaminasi bakteri pathogen. Kontaminasi tersebut
dapat terjadi langsung di sumber mata air atau selama proses distribusi dan
pengumpulan. Kontaminasi air juga dapat terjadi saat air disimpan di
dalam lingkungan rumah tangga akibat tempat penyimpanan yang tidak
bersih, tidak tertutup dengan baik atau cara mengeluarkan air yang tidak
tepat. Air yang disimpan terlalu lama tanpa ditutup sering kali mengalami
penurunan kualitas akibat rekontaminasi. (Aldila, 2011)
Diare dapat disebabkan karena mengkonsumsi air yang telah
tercemar kotoran, baik yang berasal dari sampah, tinja, atau kotoran
hewan. Oleh karena itu, sebelum dikonsumsi, sebaiknya air diolah terlebih
dahulu untuk mengurangi resiko tertular penyakit diare. Berikut adalah
beberapa cara yang dapat dilakukan sebelum air dikonsumsi untuk
keperluan minum (Soemirat, 2004):
1. Pengelolaan secara sederhana
Biasanya dilakukan

penyimpanan

(storage)

dari

berbagai macam sumber seperti air hujan, air danau, air


sungai, sumur dan sebagainya. Dalam penyimpanan ini air
dibiarkan untuk beberapa jam di tempatnya, kemudian akan terjadi
kongulasi dari zat-zat yang terdapat di dalam air, sampai
akhirnya terbentuk endapan. Air akan menjadi jernih karena
partikel-partikel yang ada di dalam air mengendap.
2. Pengelolaan air dengan cara menyaring
Model ini dapat dilakukan dengan menggunakan
kerikil, ijuk dan pasir. Sedangkan model penyaringan yang
lebih

maju

dilakukan

dengan teknologi tinggi seperti pada

Perusahaan Air Minum (PAM).


3. Pengelolaan air dengan menambahkan zat kimia
Zat kimia yang dimaksud adalah berupa : (a) zat kimia
yang

berfungsi sebagai

kongulan,

sehingga

mempercepat

pengendapan

(tawas);

(b)

zat kimia yang berfungsi untuk

membunuh bibit penyakit yang ada di dalam air (klor).


4. Pengelolaan air dengan mengalirkan udara
Pengelolaan ini bertujuan untuk menghilangkan rasa serta
bau yang tidak enak, menghilangkan gas-gas yang tidak diperlukan
lagi, seperti CO2, dan juga menaikkan derajat keasaman air.
5. Pengelolaan air dengan cara dipanaskan
Pengelolaan cara ini bertujuan untuk membunuh bibit
penyakit yang ada di dalam air, tetapi cara ini membutuhkan biaya
dan waktu yang tidak sedikit serta hanya cocok untuk konsumsi
dalam batas kecil (rumah tangga). Meskipun air terlihat bersih,
namun air tersebut belum tentu bebas dari kuman penyakit. Untuk
itu air harus direbus dulu sampai mendidih, karena kuman akan
mati pada suhu 100 derajat celcius (saat air mendidih).
2.3.6.4 Penggunaan Jamban Sehat
Sampai saat ini, diperkirakan sekitar 47% masyarakat Indonesia
(khususnya yang tinggal di daerah pedesaan) masih buang air besar
sembarangan, seperti di sungai, kebun, sawah, kolam dan tempat-tempat
terbuka lainnya (Widyati, 2002). Masyarakat pedesaan tersebut enggan
untuk buang air besar di jamban karena banyak yang beranggapan
membangun jamban sangat mahal, lebih enak BAB di sungai, tinja dapat
digunakan untuk pakan ikan, dan alasan lain yang dikatakan merupakan
kebiasaan sejak dulu dan diturunkan dari nenek moyang. Perilaku seperti
tersebut sangat merugikan kondisi kesehatan masyarakat, karena tinja
merupakan media tempat hidup bakteri coli yang berpotensi menyebabkan
terjadinya penyakit diare dan beresiko menjadi wabah penyakit bagi
masyarakat.
Tinja merupakan bentuk kotoran yang sangat merugikan dan
membahayakan kesehatan masyarakat, maka tinja harus dikelola, dibuang
dengan baik dan benar.Untuk itu tinja harus dibuang pada suatu wadah
yaitu jamban. Jamban keluarga adalah

suatu istilah yang digunakan

sebagai tempat pembuangan kotoran manusia dalam suatu keluarga.


Semua anggota keluarga harus menggunakan jamban untuk membuang

tinja, baik anak-anak (termasuk bayi dan balita) dan orang dewasa.
Pembuatan jamban keluarga yang sehat, sebaiknya mengikuti beberapa
syarat, yaitu: tidak mengotori tanah maupun air permukaan di sekeliling
jamban tersebut, tidak dapat terjangkau oleh serangga, terutama lalat dan
kecoak, tidak menimbulkan bau, mudah dipergunakan dan dipelihara,
sederhana serta dapat diterima oleh pemakainya (Soemaji, 2005).

Aldila, N. (2011). Pengaruh Cara Penyimpanan Terhadap Kualitas Mikrobiologi


Air. Skripsi. Universitas Diponegoro. Semarang.
Depkes RI. (2006). Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga. Pusat
Promosi Kesehatan RI. Jakarta.
Depkes RI. (2009). Panduan Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di
Rumah Tangga Bagi Petugas Puskesmas. Pusat Promosi Kesehatan RI. Jakarta.
Herdiyanti, E. (2009). Indikator Perbaikan Kesehatan Lingkungan. EGC. Jakarta.
Notoatmodjo, S. (2003). Pendidikan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta.
Notoatmodjo, S. (2007).Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Rineka Cipta.
Jakarta.
Purwanto, H. (1999). Pengantar Perilaku Manusia. EGC. Jakarta.
Soemaji.P. (2005).Pembuangan Kotoran dan Air Limbah.Grasindo. Jakarta.
Soemirat, S. (2004).Informasi dan Latihan Penyediaan Air dan Sanitasi Biaya
Rendah. Bakti Husada. Jakarta.
Utami, R. (2000). Mengenal ASI Eksklusif. Elex Komputindo. Jakarta.
Widyati, Y. (2002). Hygiene dan Sanitasi Umum. Gramedia Wdiasarana. Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai