Anda di halaman 1dari 13

OLEH

GINREY SHANDY ALGAM


I GEDE YUDI PRIMANTA

SISTEM MANAJEMEN BIAYA


SEBAGAI DASAR
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
ATAS PRODUK
AKUNTANSI MANAJEMEN LANJUTAN

PROGRAM PROFESI AKUNTAN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2015

SISTEM MANAJEMEN BIAYA SEBAGAI DASAR


PENGAMBILAN KEPUTUSAN ATAS PRODUK
Pendahuluan
Perkembangan industri yang semakin pesat menuntut perusahaan memiliki strategi
yang handal untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan. Salah satu cara untuk
mempertahankan keunggulan perusahaan adalah dengan menghasilkan produk yang
diminati dan dengan harga yang dapat diterima oleh konsumen. Oleh karena itu perusahaan
harus selalu melakukan inovasi dan memperhatikan apa yang diharapkan oleh konsumen
serta dapat memberikan harga yang bersaing pada produk yang dihasilkan perusahaan.
Inovasi dan pengembangan produk membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Biaya
yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam pengembangan dan produksi atas suatu produk
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi harga jual dan profit marjin yang
diharapkan oleh perusahaan. Perusahaan perlu untuk mengendalikan biaya yang dikeluarkan
pada produk selama siklus produk. Oleh karena itu perusahaan perlu menerapkan
manajemen biaya yang dapat mengelola biaya atas produk yang dihasilkan selama siklus
hidup produk.
Salah satu sistem manajemen biaya yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam
mengelola biaya selama siklus produk adalah target costing. Metode ini merupakan metode
yang dikembangkan oleh para insinyur Jepang dengan tujuan untuk menjadi alat bantu
terkait biaya produksi pada tahap awal sebelum produksi atas suatu produk. Target costing
saat dinilai merupakan sistem manajemen biaya yang sangat bermanfaat dalam membantu
perusahaan agar dapat bersaing yaitu dengan mengontrol biaya atas produk selama siklus
hidup produk sehingga dapat mempertemukan keuntungan yang diharapkan perusahaan
dengan keinginan konsumen atas produk yang dihasilkan oleh perusahaan.
Makalah ini akan membahas beberapa hal yang terkait manajemen produk. Pertama,
makalah ini akan membahas mengenai bagaimana perusahaan mengelola produk yang
dihasilkan selama siklus hidup produk dengan tetap memperhatikan profitabilitas. Kedua,
makalah ini akan membahas mengenai target costing yang merupakan suatu konsep
manajemen biaya bagi suatu produk yang dihasilkan perusahaan.

Halaman | 1

Mengelola Produk Selama Siklus Hidup Produk


Analisis kemampuan menghasilkan laba suatu produk ditujukan untuk mendeteksi
bagaimana suatu produk yang dibuat dapat menghasilkan laba selama siklus produk.
Perkembangan teknologi menyebabkan perusahaan tidak bisa mengandalkan produk yang
sudah dibuat, melainkan perusahaan harus bisa menghasilkan produk dan jasa yang baru.
Perusahaan

harus

dapat

berinovasi

untuk

memperoleh

keunggulan

kompetitif,

meningkatkan marjin dan loyalitas pelanggan. Perusahaan yang tidak melakukan inovasi
berpeluang untuk tertinggal karena produk yang dihasilkan telah ditiru oleh pesaing, dan
tidak bisa bersaing dalam hal harga dari komoditas produk atau jasa yang dihasilkan. Inovasi
juga dipengaruhi oleh perkembangan dunia modern yang mana kepedulian terhadap
lingkungan menjadi penting (terutama di negara-negara Eropa dan AS) sehingga perusahaan
dituntut peduli akan aspek lingkungan dalam inovasi produk yang dibuat.
Agar produk yang dibuat dapat menghasilkan profit bagi perusahaan, maka
perusahaan harus mempertimbangkan produk yang akan dibuat apakah dapat diterima oleh
pasar dan biaya pembuatan produk dapat ditekan secara optimum. Terdapat pendekatan yang
dapat digunakan untuk melakukan hal tersebut, yang dikenal dengan Total Life Cycle
Costing (TLCC). Pendekatan ini menekankan kepada perusahaan untuk memahami dan
mengelola semua biaya yang dikeluarkan untuk desain dan pengembangan produk, proses
produksi, pemasaran, distribusi, pemeliharaan, layanan, dan pembuangan. Dengan
memperhatikan semua biaya yang dibutuhkan dalam semua alur perputaran umur suatu
produk, maka perusahaan dapat mengoptimumkan biaya yang dibutuhkan atas suatu produk,
dapat merancang suatu efisiensi pada produk yang dihasilkan yang pada akhirnya bertujuan
untuk meningkatkan profit yang dihasilkan dari produk yang dibuat. Pendekatan TLCC ini
dapat dikatakan mengelola biaya yang dikeluarkan pada suatu produk dari mulai hulu
sampai hilir.
Dalam perspektif total life-cycle, biaya yang dikeluarkan merupakan integrasi dari
biaya riset, pengembangan, dan rancang bangun, produksi, dan layanan purna jual dan
pembuangan. Ketiga bagian tersebut dapat dijelaskan sebegai berikut:

Halaman | 2

Tahap Riset, Pengembangan, dan Rancang Bangun


Tahapan ini meliputi 3 sub tahapan yaitu:
1.

Riset pasar, perusahaan menilai kebutuhan konsumen dan ide yang dibutuhkan untuk
produk baru.

2.

Desain produk, merupakan tahap dimana ilmuwan dan teknisi perusahaan


mengembangkan spesifikasi teknis dari produk yang akan diproduksi.

3.

Pengembangan produk, merupakan tahap dimana perusahaan menciptakan fitur-fitur


penting untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dan mendesain prototipe, proses
produksi dan semua alat-alat spesial yang dibutuhkan.

Pada tahap ini 80% sampai dengan 85% keputusan akan total biaya life-cycle
ditentukan. Keputusan pada tahap ini memiliki dampak yang sangat besar terhadap biaya
yang dikeluarkan pada tahap selanjutnya. Pengeluaran tambahan bagi desain yang lebih baik
biasanya dapat menghemat $8 sampai $10 untuk tahap produksi dan pascaproduksi.

Tahap Produksi
Pada tahap ini perusahaan menghabiskan banyak biaya untuk bahan baku, peralatan,
dan biaya tidak langsung untuk memproduksi dan mendistribusikan produk. Pada tahapan
ini kecil peluang bagi keputusan teknis yang dapat mengurangi biaya produk melalui
keputusan redesain semenjak biaya telah ditentukan pada tahap riset, pengembangan dan
rancang bangun (RD&E). Ilustrasi bagaimana pengaruh biaya yang ditentukan sebelum atau
sesudah tahapan RD&E dapat digambarkan pada gambar dibawah.
Gambar 1
TLCC: Hubungan antara biaya Komitmen dan Biaya Yang dikeluarkan

Gambar diperoleh dari Atkinson et al (2012)


Halaman | 3

Tahapan Layanan Purna Jual dan Pembuangan


Pada tahap ini, walaupun biaya layanan dan pembuangan telah ditentukan pada
tahapan RD&E, tahapan aktual dari biaya layanan adalah pada saat unit pertama dari barang
yang diproduksi telah sampai ke konsumen. Untuk beberapa keadaan tahapan ini overlaps
dengan tahapan produksi. Itu biasanya terdiri dari tiga sub tahapan
1.

Pertumbuhan yang pesat dari saat pertama produk dikapalkan sampai dengan tahap
pertumbuhan penjualan.

2.

Transisi dari puncak penjualan menuju puncak bagian layanan.

3.

Kedewasaan dari puncak bagian pelayanan menuju pengapalan produk bagi konsumen,
pembuangan berlangsung diakhir umur produk dan berakhir sampai dengan konsumen
memberhentikan unit terakhir dari produk.
Biaya pembuangan termasuk semua yang berkaitan dengan mengeliminasi semua

hal-hal yang berbahaya terkait dengan akhir dari kegunaan akhir suatu produk. Produk yang
dibuang termasuk efek berbahaya bagi lingkungan, seperti limbah nuklir atau limbah kimia
yang dapat menimbulkan biaya yang besar bagi biaya daur ulang atau juga pembuangan.
Biaya yang dibutuhkan untuk setiap industri terkait perputaran produk cenderung
berbeda antara industri yang satu dengan industri lainnya. Hal ini digambarkan oleh
Atkinson, et. al. (2012) dalam gambar berikut.
Gambar 2
Persentase Biaya Perputaran Produk pada Empat Jenis Produk

Dari gambar diatas terlihat bahwa dari keempat industri yang dibandingkan terdapat
perbedaan persentase biaya yang dikeluarkan dalam setiap tahapan. Hal yang menarik
adalah industri pembuatan aplikasi komputer biaya manufaktur 0% dan biaya service dan
disposal hanya 25%. Hal ini karena pembuatan komputer menghabiskan lebih banyak waktu
pada tahapan RD&E.

Halaman | 4

Target Costing
Pada tahun 1960an insinyur Jepang membangun suatu pendekatan yang dikenal
dengan Target Costing yang bertujuan untuk membantu dalam hal mempertimbangkan
biaya produksi pada awal tahap keputusan desain produk. Pendekatan ini membantu para
insinyur dalam mendesain produk baru yang sesuai dengan harapan konsumen, serta dapat
diproduksi dengan biaya yang diinginkan. Target costing merupakan metode akuntansi
manajemen yang sangat penting dalam mengurangi biaya pada tahap desain atas siklus hidup
produk dan secara eksplisit membantu mengelola total life cycle costs.
Target costing ini sangat berbeda dalam hal penekanan pengurangan biaya
dibandingkan dengan pendekatan pengurangan biaya yang digunakan di AS. Pendekatan
tradisional yang digunakan di AS dan negara barat lainnya dimulai dengan riset pasar
mengenai keinginan konsumen akan suatu produk baru dan harga yang sedia dibayar oleh
konsumen atas produk yang diinginkan. Para insinyur kemudian menentukan spesifikasi
produk yang memiliki kinerja sesuai dengan yang diinginkan konsumen. Kemudian
membuat desain produk dan merancang produk sesuai dengan spesifikasi. Setelah produk
tuntas didesain, tim pengembangan meminta harga bahan mentah dan komponen dari
pemasok, dan estimasi biaya produksi dari bagian produksi. Harga-harga tersebut yang
kemudian menjadi dasar awal untuk mengestimasi biaya. Kemudian tim mengestimasi
marjin keuntungan dari produk dengan cara mengurangkan estimasi biaya terhadap harga
jual yang diharapkan, yang mana ditentukan pada saat riset pasar. Persamaannya dapat
dirumuskan sebagai berikut:
Profit Margin = Harga Jual Yang diharapkan Estimasi Biaya Produk

Pendekatan lain yaitu the cost plus method yang menambahkan marjin keuntungan
yang diinginkan dari produk dengan biaya yang diharapkan dari produk, sehingga diperoleh
perhitungan berapa harga jual dari produk. Persamaan matematika dari metode ini adalah
sebagai berikut:

Harga Jual Produk = Biaya produk yang diharapkan + Marjin Profit yang diinginkan

Dalam kedua metode yaitu tradisional dan biaya plus, desainer produk tidak
berusaha untuk mencapai target biaya tertentu. Perusahaan menerima margin keuntungan
Halaman | 5

yang diperbolehkan sebagai selisih antara harga jual yang ditentukan pasar dan biaya produk
yang diperkirakan, atau mencoba untuk menetapkan harga cukup tinggi untuk mendapatkan
margin yang diinginkan atas biaya produk, tanpa menaruh banyak perhatian pada kesediaan
pelanggan untuk membayar. Dalam kedua metode, insinyur pengembangan produk tidak
mencoba untuk secara aktif mempengaruhi biaya produk. Mereka merancang produk untuk
memenuhi spesifikasi dan menerima biaya sebagai konsekuensi dari keputusan desain dan
pengembangannya.
Target costing sebaliknya, berusaha untuk secara aktif mengurangi biaya produk
mulai dari tahap RD&E daripada menunggu sampai produk telah dirilis ke dalam produksi
untuk memulai pengurangan biaya, atau proses kaizen, Sebagaimana telah disinggung
sebelumnya, pengurangan biaya selama tahap manufaktur umumnya lebih mahal dan kurang
efektif daripada selama tahap RD & E. Dalam target costing, urutan langkah-langkah dan
cara berpikir tentang penentuan biaya produk berbeda secara signifikan dari tradisional
costing. Meskipun langkah awal berupa riset pasar untuk menentukan kebutuhan pelanggan
dan spesifikasi produk mirip dengan penetapan biaya tradisional, target costing
memperkenalkan beberapa perbedaan penting. Pertama, riset pasar pada target costing
bukanlah peristiwa tunggal seperti yang sering dilakukan pada pendekatan tradisional.
Sebaliknya, pendekatan ini didorong oleh pelanggan, dengan masukan pelanggan yang
diperoleh terus selama proses berlangsung. Kedua, para insinyur produk berusaha untuk
merancang biaya dari produk sebelum desain dan pengembangan berakhir dan manufaktur
dimulai. Pendekatan ini sangat efektif karena 80% atau lebih dari total biaya siklus produk
mendapatkan komitmen selama siklus RD & E. Ketiga, target costing menggunakan konsep
total life cycle dengan mengadopsi perspektif meminimalkan biaya suatu produk selama
masa manfaatnya. Dengan demikian, tidak hanya biaya seperti harga pembelian awal
dipertimbangkan, tapi begitu juga biaya operasi, pelayanan, pemeliharaan, perbaikan, dan
membuang produk.
Ketiga, dalam hal inovasi, para insinyur menetapkan biaya yang diijinkan untuk
produk yang memungkinkan margin keuntungan produk yang akan dicapai pada harga
dimana konsumen bersedia untuk membayar. Dengan pendekatan ini, target harga jual dan
volume produk yang dipilih atas dasar nilai yang dirasakan perusahaan dari produk
berdasarkan pelanggan. Target marjin profit dihasilkan dari analisis keuntungan jangka
panjang yang sering didasarkan pada return on sales (laba bersih : Penjualan). Return on
sales adalah ukuran yang paling banyak digunakan karena dapat dihubungkan erat dengan
Halaman | 6

profitabilitas untuk setiap produk. Target cost didefinisikan sebagai selisih antara target
harga jual dengan target profit margin sasaran. Hubungan untuk pendekatan target cost
ditunjukkan pada persamaan berikut:
Target Cost = Target Harga Jual Target Profit Marjin

Setelah target cost telah ditetapkan untuk seluruh produk, insinyur selanjutnya
menentukan target cost untuk setiap komponen dalam produk. Proses rekayasa nilai meneliti
desain masing-masing komponen untuk menentukan apakah mungkin untuk mengurangi
biaya dengan tetap mempertahankan fungsi dan kinerja. Dalam beberapa kasus, para
insinyur dapat mengubah desain atau komponen produk, mengganti dengan material baru,
atau memodifikasi dan meningkatkan proses manufaktur. Misalnya, desain ulang produk
dapat memungkinkan fungsi yang sama akan dicapai tetapi dengan bagian yang lebih sedikit
atau lebih umum daripada bagian yang unik.
Mengingat kembali dari activitiy based costing yang lebih murah untuk
memproduksi 10% lebih banyak produksi yang saat ini dijalankan daripada beralih ke
produksi rendah untuk komponen khusus. Hal ini lebih murah untuk memesan 10% lebih
banyak komponen dari pemasok yang ada saat ini daripada mencari vendor baru untuk
memesan kuantitas yang lebih sedikit untuk suatu komponen khusus. Semua keputusan dan
trade-off yang terbaik sebaiknya diambil selama tahap RD&E ketika desain produk masih
belum pasti daripada selama tahap manufaktur dimana apabila telah mencapai tahap
manufaktur maka akan jauh lebih mahal untuk melakukan desain ulang utama dari produk.
Beberapa iterasi dari value engineering biasanya diperlukan sebelum target cost akhir akan
tercapai.
Dua perbedaan lainnya yang merupakan ciri proses target costing. Pertama,
sepanjang seluruh proses, tim produk lintas fungsional terdiri dari individu-individu yang
mewakili seluruh yang terkait, baik dari dalam dan luar organisasi untuk memandu proses.
Sebagai contoh, tidak jarang tim terdiri dari orang-orang dari dalam organisasi (seperti
teknik desain, operasi manufaktur, akuntansi manajemen, dan pemasaran) dan perwakilan
dari luar organisasi (termasuk pemasok, pelanggan, distributor, dan pengolahan limbah).
Perbedaan kedua adalah bahwa pemasok memainkan peran penting dalam membuat target
costing bekerja. Sering kali perusahaan meminta pemasoknya untuk berpartisipasi dalam
menemukan cara untuk mengurangi biaya komponen tertentu atau seluruh sub-rakitan atau
Halaman | 7

modul. Perusahaan menawarkan insentif untuk pemasok yang datang dengan ide-ide
pengurangan biaya terbesar. Perusahaan bekerja lebih erat dengan pemasok mereka selama
tahap RD&E, perusahaan menggunakan satu set metode yang dikenal sebagai manajemen
rantai pasokan. Manajemen rantai pasokan mengembangkan hubungan kerja sama jangka
panjang, saling menguntungkan antara pembeli dan pemasok. Hal ini memberi banyak
Manfaat,

misalnya, seperti kepercayaan berkembang antara pembeli dan pemasok,

keputusan tentang cara mengatasi masalah pengurangan biaya dapat dilakukan dengan
berbagi informasi tentang berbagai aspek operasi masing-masing. Dalam beberapa
organisasi, pembeli bahkan mungkin mengeluarkan sumber daya untuk melatih karyawan
pemasok di beberapa aspek bisnis, atau pemasok dapat menetapkan salah satu karyawannya
untuk bekerja dengan pembeli untuk memahami produk baru. Interaksi tersebut sangat
berbeda dari hubungan jangka pendek, transaksi wajar yang merupakan ciri khas dari
hubungan pembeli-penjual berbasis transaksi.

Gambar 3
Perbedaan Tradisional Costing dengan Target Costing

Atkinson et. al. (2012)

Halaman | 8

Penerapan Target Costing Bagi Produk


Dalam pelaksanaan target costing, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa
perusahaan harus melakukan riset pasar yang bertujuan untuk menentukan apa saja yang
diinginkan dan merupakan fitur penting bagi konsumen. Setelah mendapatkan apa saja yang
penting dan dibutuhkan oleh konsumen, tahap berikutnya yang perlu dilakukan adalah
bagaimana data tersebut menjadi dasar rancang bangun bagi produk yang akan dibuat. Para
insinyur perusahaan harus memastikan bahwa produk yang dibuat akan mencakup semua
fitur yang dibutuhkan konsumen. Kemudian insinyur yang menangani produk melakukan
analisis biaya dan value enggineering untuk mengurangi biaya dari setiap komponen yang
dibutuhkan bagi produk.
Pada tahap analisis biaya, perusahaan menentukan komponen-komponen apa saja
dari produk yang menjadi target pengurangan biaya dan menentukan target biaya untuk
setiap komponen. Analisis biaya juga fokus pada interaksi antara komponen dan bagianbagiannya. Pada tahap analisis biaya terdapat lima aktivitas yang dilakukan, yaitu:

1.

Membuat daftar komponen dan fungsi dari produk.


Pengurangan biaya dimulai dari membuat daftar berbagai komponen dan
mengidentifikasi fungsinya serta mengestimasi biayanya saat ini. Daftar tersebut
menjadi acuan untuk menentukan komponen dan fungsi apa yang dibutuhkan untuk
memuaskan konsumen.

2.

Merinci Biaya secara Fungsional


Setiap bagian dari komponen memiliki fungsi spesifik sehingga pada tahap ini semua
biaya dari setiap fungsi tersebut dirinci untuk mendapatkan estimasi biaya dari masingmasing fungsi.

3.

Menentukan tingkat kepentingan relatif konsumen atas produk


Pada tahap ini, perusahaan harus menentukan peringkat relatif dari kebutuhan
konsumen akan produk yang dibuat. Perusahaan mendasarkan hal ini berdasarkan
survei yang dilakukan pada saat riset pasar. fitur-fitur yang dinilai penting oleh
konsumen harus menjadi prioritas utama bagi insinyur untuk diaplikasikan pada produk
baru.

4.

Mengaitkan fitur dan fungsi


Pada tahap ini insinyur mengkonversi peringkat relatif dari fitur-fitur dengan peringkat
penting dari setiap fungsi.
Halaman | 9

5.

Mengembangkan peringkat fungsional relatif


Setelah memperoleh peringkat fungsional atau komponen dari produk, kemudian
menentukan kontribusi setiap komponen bagi fitur yang diinginkan konsumen.

Setelah lima langkah analisis biaya telah selesai, insinyur memulai aktivitas value
engineering (VE). Selama VE, insinyur menganalisis fungsi dari berbagai komponen dan
berusaha untuk meningkatkan komponen dan desain produk untuk biaya keseluruhan yang
lebih rendah tanpa pengurangan kinerja yang diperlukan, keandalan, pemeliharaan, kualitas,
keamanan, daur ulang, dan kegunaan. Analisis baik produk dan proses desain manufaktur
dan pengurangan biaya dengan menghasilkan ide-ide untuk menyederhanakan keduanya.
VE adalah kunci dalam target costing dan melibatkan 2 sub aktivitas yaitu:

1.

Mengidentifikasi komponen untuk pengurangan biaya.


Memilih komponen mana yang dipilih membutuhkan komputasi indeks nilai. Ini adalah
rasio nilai (tingkat kepentingan) kepada pelanggan dan persentase total biaya yang
ditujukan untuk masing-masing komponen.

2.

Menghasilkan pengurangan biaya dan ide-ide fungsi tambahan.


Insinyur terlibat dalam berpikir kreatif dan brainstorming untuk mengidentifikasi apa
yang dapat dikurangi, dihilangkan, digabungkan, diganti, diulang, atau ditingkatkan
untuk memberikan tingkat yang sama atau lebih tinggi dari fungsi dari komponen
dengan biaya yang berkurang.

Perhatian Dalam Target Costing


Meskipun target costing memiliki beberapa keuntungan yang jelas, beberapa
penelitian dari target costing menunjukkan potensi masalah dalam pelaksanaan, terutama
jika fokus pada pemenuhan target biaya mengalihkan perhatian dari unsur-unsur lain dari
tujuan perusahaan secara keseluruhan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam target
costing yaitu:

1.

Kurangnya pemahaman konsep target costing.


Untuk banyak orang di Barat, target costing bukanlah konsep utama. Tanpa pemahaman
yang jelas tentang manfaat, banyak eksekutif senior menolak gagasan itu.

2.

Pelaksanaan miskin konsep kerja sama tim.


Halaman | 10

Masalah kerja sama tim dan kepercayaan dapat menyebabkan masalah yang signifikan
dalam implementasi target costing. Dalam beberapa kasus, perusahaan memberikan
tekanan berlebih pada subkontraktor dan pemasok untuk menyesuaikan diri dengan
jadwal dan mengurangi biaya. Hal ini dapat menyebabkan keterasingan atau kegagalan
subkontraktor. Kadang-kadang insinyur desain menjadi marah ketika bagian lain dari
organisasi yang tidak sadar akan biaya; mereka berpendapat bahwa mereka
mengerahkan banyak usaha untuk memeras uang dari biaya produk sementara bagian
lain dari organisasi (administrasi, pemasaran, dan distribusi) membuang-buang uang.
Dengan demikian, banyak organisasi harus meningkatkan kerja sama tim lintas
fungsional, kepercayaan, dan kerjasama untuk sukses menerapkan target costing.
3.

Karyawan tersiksa.
Karyawan, terutama insinyur perancang di perusahaan Jepang, bekerja di bawah
tekanan terus-menerus untuk memenuhi tujuan target costing dan akhirnya mengalami
kelelahan akibat tekanan dan menjadi jauh dari efektif dalam pekerjaan mereka.

4.

Waktu pengembangan terlalu lama.


Meskipun target biaya mungkin dipenuhi, waktu pengembangan mungkin meningkat
karena siklus VE yang berulang untuk mengurangi biaya, akhirnya menyebabkan
produk terlambat untuk diluncurkan ke pasar. Untuk beberapa jenis produk, terlambat
enam bulan mungkin jauh lebih mahal daripada memiliki kelebihan biaya yang kecil.

Perusahaan mungkin menemukan sesuatu yang lebih masuk akal untuk mengelola
banyak faktor-faktor ini, tetapi organisasi yang tertarik menggunakan proses target costing
harus menyadari kesiapan organisasinya sebelum mencoba untuk mengadopsi metode ini.
Masalah perilaku yang terkait dengan memotivasi karyawan untuk memenuhi target
ambisius sangat penting untuk dipertimbangkan.

Kesimpulan
Untuk dapat bersaing, perusahaan harus memperhatikan pengelolaan produk selama
siklus hidup produk. Dalam mengelola produk selama siklus hidup produk, perusahaan
harus memperhatikan seluruh biaya yang dikeluarkan selama umur produk, yaitu mulai dari
desain dan pengembangan produk sampai dengan pembuangan produk yang sudah berakhir.
Konsep biaya selama siklus ini dikenal dengan Total Life Cycle Costing (TLCC). Perspektif
TLCC bagi perusahaan mengintegrasikan tiga tahapan kegiatan yang dibutuhkan suatu
Halaman | 11

produk, yaitu: Tahap Riset, Pengembangan dan Rancang Bangun, Tahap Produksi, dan
Tahap Layanan Purna Jual dan Pembuangan. Dalam konsep ini bagian yang sangat penting
dalam penentuan biaya adalah pada saat tahap riset, pengembangan dan rancang bangun.
Karena penghematan yang dapat dilakukan pada tahap ini berpengaruh besar terhadap
produk.
Target costing merupakan sistem yang membantu para insinyur dalam
mempertimbangkan biaya produksi lebih awal yaitu pada saat desain produk. Target costing
merupakan metode akuntansi manajemen yang sangat penting dalam mengurangi biaya
yang mana dilakukan pada tahapan desain produk. Target costing sangat membantu
perusahaan dalam mengelola total life cycle cost. Target costing ini berbeda dengan metode
pengembangan produk tradisional yang diterapkan oleh perusahaan AS dan beberapa
perusahaan di barat lainnya yang tidak terlalu menaruh perhatian pada keinginan membayar
dari konsumen atas produk yang dibuat. Target costing secara aktif berusaha mengurangi
biaya produk selama tahap riset dan pengembangan.
Dalam melaksanakan target costing juga ada beberpa kendala yang harus
diperhatikan. Kendala-kendala yang harus diperhatikan diantaranya yaitu: Kurangnya
pemahaman konsep target costing, pelaksanaan miskin konsep kerja sama tim, karyawan
tersiksa, dan waktu pengembangan yang terlalu lama.

Referensi

Atkinson, A. a., Kaplan, R. S., Matsumura, E. M., & Young, S. M. (2012). Management
Accounting: Information for Decision Making and Strategy Execution (6th ed.). New
Jersey.

Halaman | 12