Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang

Logam-logam yang kita temui dalam situasi keseharian tampak rapat dan tidak
reaktif. Namun,unsur golongan 1,yaitu logam alkali,mempunyai kerapatan (densitas)
rendah (beberapa mengapung di air)dan sangat reaktif, misalnya,bereaksi hebat
dengan air. Logam alkali (alkali metal),relatif melimpah. Beberapa senyawa telah
diketahui dan dimanfaatkan sejak zaman prasejarah.
Namun, unsur-unsur ini tetap tidak terungkap sampai sekitar 200 tahun yang lalu.
Senyawa logam alkali sukar terurai dengan cara kimia biasa,sehingga penemuan
unsur-unsur ini harus menunggu pengembangan ilmiah baru. Natrium (1807)
ditemukan melalui elektrolisis. Sesium (1860) dan rubidium (1861) diidentifikasi
sebagai unsur baru melalui spektrum emisinya. Fransium (1939) diisolasi dari produk
peluruhan radioaktif aktinium.
Unsur-unsur golonga IA memiliki kelimpahan di alam yang cukup
besar sehingga banyak dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pemanfaatan unsur golongan IA mencakup beberapa bidang, antara
lain bidang lingkungan, industri, dan lain-lain. Oleh karena itu, untuk
memahami

seputar

logam

alkali

lebih

lanjut,

penulis

menjelaskan beberapa tentang pengetahuan mengenai


alkali.

akan
logam

1.2.
1.2.1.
1.2.2.
1.2.3.
1.2.4.
1.2.5.
1.2.6.
1.2.7.
1.2.8.
1.2.9.

Rumusan Masalah
Bagaimana penggolongan logam alkali?
Bagaimana kecendrungan logam alkali?
Bagaimana sifat-sifat umum logam alkali?
Bagaimana sifat-sifat senyawa logam alkali?
Bagaimana kelarutan garam-garam alkali?
Bagaimana warna nyala logam alkali ?
Bagaimana oksida logam alkali?
Bagaimana kemiripan litium dengan logam alkali tanah?
Bagaimana Ekstraksi logam alkali? Dan apa saja kegunaan
logam alkali?

1.3.
1.3.1.
1.3.2.
1.3.3.
1.3.4.
1.3.5.
1.3.6.
1.3.7.
1.3.8.

Untuk
Untuk
Untuk
Untuk
Untuk
Untuk
Untuk
Untuk

Tujuan
mengetahui tentang penggolongan logam alkali
mengetahui tentang kecendrungan logam alkali
mengetahui tentang sifat-sifat umum logam alkali
mengetahui tentang sifat-sifat senyawa logam alkali
mengetahui tentang kelarutan garam-garam alkali
mengetahui tentang warna nyala logam alkali
mengetahui tentang oksida logam alkali
mengetahui tentang kemiripan litium dengan logam

1.3.9.

alkali tanah
Untuk mengetahui tentang Ekstraksi kegunaan logam alkali

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Penggolongan Logam Alkali

Logam alkali adalah logam golongan utama yang unsur-unsurnya terdapat


pada golongan 1A dalam tabel periodik unsur. Logam alkali terdiri atas enam buah
unsur, yaitu litium (Li), natrium (Na), kalium (K), rubidium (Rb), sesilium (Cs), dan
fransium (Fr). Unsur logam alkali tidak terdapat bebas di alam melainkan dalam
bentuk senyawa. Hal itu karena unsur logam alkali sangat reaktif. Disebut dengan
logam alkali karena dapat membentuk basa kuat. Berikut ialah konfigurasi electron
logam-logam yang berada pada golongan alkali :
3
litium
2,
1
11

natrium

2,

19

kalium

2,

37

rubidium

2,

55

caesium

87

fransium

2,
2,

Logam-logam

8,

8,

8,

8,
8,

8,

[He]2s1
1

18,
18,

18,

[Ar]4s1

8,

18,
32,

[Ne]3s1
1

8,

18,

[Kr]5s1

8,

[Xe]6s1
[Rn]7s1

ini dikelompokkan dalam satu golongan

karena memiliki jumlah electron valensi atau electron terluar yang


sama, yaitu

berjumlah 1(satu), unsure-unsur yang berada dalam

satu golongan tidak memiliki sifat yang sama, melainkan cenderung


memiliki kemiripan sifat, karena setiap unsure tidak ada yang sama
dan memiliki sifat tersendiri yang membedakannya dengan unsure
lain. Berikut merupakan macam-macam logam alkali:
(1) Litium berasal dari bahasa Yunani, lithos:

batu).

Ditemukan oleh Arfvedson pada tahun 1817, litium merupakan


unsur logam teringan, dengan berat jenis sekitar setengahnya air.
Litium tidak ditemukan sebagai unsur tersendiri di alam; ia selalu
terkombinasi dalam unit-unit kecil pada batu-batuan berapi dan
pada sumber-sumber mata air. (2) Natrium
Humphrey Davy pada 1807 di Inggris (

ditemukan oleh Sir


Inggris, soda;

Latin,

sodanu: obat sakit kepala). Asal simbol Na berasal dari kata Latin
natrium. Dia menemukan dengan cara mengisolasi melalui

metoda mengelektrolisis,tetapi sebenarnya unsur ini sudah dikenal


di berbagai senyawa. Unsur ini merupakan logam terbanyak dalam
golongan alkali.Unsur ini merupakan terbanyak di permukaan
bumi,dalam permukaan bumi terdapat 2,7 %. (3) Kalium, Inggris,
potasium; Latin, kalium, Arab, qali, alkali). Ditemukan oleh Davy pada tahun 1807,
yang mendapatkannya dari caustic potash(KOH). Ini logam pertama yang diisolasi
melalui elektrolisis. Dalam bahasa Inggris, unsur ini disebut potassium.1
(4) Rubidium dapat menjelma dalam bentuk cair pada suhu
ruangan. Ia merupakan logam akali yang lembut, keperak-perakan
dan unsur akali kedua yang paling elektropositif. Ia terbakar secara
spontan di udara dan bereaksi keras di dalam air, membakar
hidrogen yang terlepaskan. Dengan logam-logam alkali yang lain,
rubidium membentuk amalgam dengan raksa dan campuran logam
dengan emas, cesium dan kalium. (5) Fransium jarang ditemukan,
karena termasuk unsure radioaktif. Unsure Fransium ini ditemukan
pada tahun 1939 oleh Marguerite Perey, pakar kimia Prancis. Dia
menemukan bahwa sekitar 1% actinium-227 meluruh dengan
memancarkan sinar alfa menjadi Fransium-223, 2 kandungan elemen
ini di kerak bumi mungkin hanya kurang dari satu ons.(6) Sesium
merupakan logam alkali yang terdapat di lepidolite, pollucte (silikat
aluminum dan Sesium basah) dan di sumber-sumber lainnya. Salah
satu sumber terkaya yang mengandung Sesium terdapat di danau
Bernic di Manitoba, Kanada. Deposit di danau tersebut diperkirakan
mengandung 300.000 ton pollucite yang mengandung 20% Sesium.
1 https://erwantoindonesia.wordpress.com/2012/05/09/golongan-ia/,
diunduh pada 09 Maret 2015
2 Yayan Sunarya, Kimia Dasar 2, CV Yrama Widya, Bandung, 2011, h.381.

2.2. Kecenderungan Logam Alkali


Logam alkali digolongkan kedalam zat pereduksi (Reduktor)
yang kuat, ini juga berarti bahwa logam alkali sangat mudah
teroksidasi,disebabkan karena logam ini mempunyai potensial
reduksi yang relative rendah dengan harga negative yang besar,
sehingga mudah untuk melepaskan elektron Logam alkali ini
cenderung dapat bereaksi dengan air membentuk senyawa basa
kuat LOH. Semakin kebawah, sifat logam alkali semakin kuat
sehingga sifat basa golongan alkali semakin kebawah semakin kuat
juga. Basa senyawa alkali semuanya mudah larut dalam air,
kelarutannya dalam air semakin kebawah semakin besar. 3
Logam alkali mudah bereaksi dengan unsur-unsur nonlogam
membentuk senyawa-senyawa ion, seperti halida, hidrida, oksida,
dan sulfide. Unsure-unsur tersebut sebagian besar bereaksi dengan
air dengan sangat cepat. Logam-logam alkali kecuali litium,
bereaksi cepat dengan air dengan melepaskan energy yang cukup
tinggi, sehingga gas hydrogen yang dihasilkan langsung terbakar.4
Tingkat kereaktifan golongan alkali bisa dilihat dari reaksi
yang ditimbulkan jika direaksikan dengan air. Litium bereaksi sangat
lambat dengan air pada 250, Natrium bereaksi hebat dengan air,
Kalium menyala sedangkan logam alkali lainnya akan menimbulkan
ledakan jika bereaksi dengan air.

3 Nana Sutresna, Kimia untuk kelas XII semester 1 Sekolah Menengah


Atas, Grafindo Pratama, Bandung, 2007, h.119.
4 Suyatno, dkk, Kimia Untuk SMA/MA Kelas XII , Grasindo, hlm. 110-111.

Logam alkali merupakan logam yang sangat reaktif. Logam ini


merupakan reduktor yang sangat kuat dan mampu mereduksi air
untuk membentuk gas hydrogen. Reaksinya adalah :5
2M(s) + 2H2O(l) 2M+(aq) + 2OH-(aq) + H2(g)
Kemampuan logam alkali sebagai reduktor dapat dilihat pada
potensial reduksi negative yang sangat kuat dari ion-ionnya.
Setengah reaksinya adalah :
M+(aq) + e- M(s)
Yang sangat sukar terjadi. Oleh karena itu, setengah reaksi
oksidasinya sangat mudah terjadi :
M(s) M+(aq) + eMeskipun demikian, penelitian khusus mengenai energy
ionisasi dan E0 mempelihatkan kontradiksi. Perhatikan apabila kita
bergerak turun dalam golongan, energy ionisasinya menurun dan
memberi kesan electron atom lebih mudah dilepas apabila kita
bergerak dari Li ke Cs, dan dugaan ini memang benar. Kita juga
mengantisipasi bahwa potensial reduksi menjadi lebih negatif dan
energy ionisasi menjadi lebih kecil karena unsure-unsur itu menjadi
lebih mudah dioksidasi. Kecenderungan ini memang benar apabila
kita bergerak dari Na ke bawah ; namun demikian E 0 Li lebih
negative daripada Na (atau setiap logam alkali lainnya dalam
kondisi yang sama). Mengapa demikian? ingatlah energy ionisasi
adalah energy yang menunjukkan kemudahan atom dalam bentuk
gas melepaskan electron untuk membentuk kation dalam bentuk
gas. Sebaliknya potensial reduksi adalah yang berkaitan dengan
perpindahan electron antara logam padat dengan kation dalam

5 James Brady, Kimia Universitas Asas dan Struktur, Binapura Aksara,


Jakarta, hlm. 320

larutan air, dimana kation tersebut dihidrasi oleh molekul air yang
ada disekelilingnya.6
Logam-logam yang ada pada golongan 1A yang biasa disebut
logam alkali ini mempunyai sifat yang sangat elektropositif dan
bereaksi langsung dengan sebagia besar unsure lain dan banyak
senyawaan dengan pemanasan. Lithium biasanya yang paling
kurang reaktif dan cesium yang paling reaktif. Lithium bereaksi
lambat dengan air pada 250 C dan tidak menggantikan hydrogen
asam yang lemah dalam C6H5CH sedangkan yang lainnya dapat.
Meskipun demikian, Li secara unik reaktif terhadap N 2, lambat pada
250, tetapi cepat pada 4000, membentuk nitrida kristal berwarna
merah rubi.7
2.3. Sifat-Sifat Umum Logam Alkali
Secara umum, sifat-sifat unsur-unsur logam alkali adalah sebagai berikut :8
a. Logam alkali lunak dibandingkan dengan logam-logam lain
b. Logam alkali titik lebur dan titik yang relatif rendah. Dari litium ke sesium
titik didihnya semakin rendah.
c. Logam alkali berwarna putih
d. Logam alkali sangat reaktif dan tidak pernah ditemukan dialam dalam bentuk
unsur-unsur bebas.
e. Logam alkali merupakan reduktor yang kuat, yaitu logam alkali dapat
memberikan sebuah electron dengan mudah dan bereaksi hebat dengan air
untuk membentuk gas hidrogen dan hidroksidsa-hidroksida, basa kuat.
6 Ibid.,h.321.
7 Cotton dan Wilkinson, Kimia Anorganik Dasar, UI Press, 1989, h.252-253
8 Sunardi, Kimia Bilingual Untuk SMA/Ma, Cv. Yrama Widya , Bandung.
2008, H. 105

f. Energ ionisasi logam alkali relatif rendah. Dari litium ke sesium, energi
ionisasi semakin rendah. Hal ini disebabkan semakin besar jari-jari atomnya.
g. Perbedaan energy ionisasi pertama dan energy ionisasi kedua logam alkali
sangat besar. Hal ini menunjukkan bahwa dalam senyawanya, logam alkali
sangat stabil.
h. Logam alkali merupakan unsur-unsur yang ringan. Berdasarkan massa
jenisnya, litium, natrium, dan kalium terapung di air.
i. Potensial elektroda logam alkali negatif . hal ini menunjukkan bahwa logam
alkali merupakan reduktor yang kuat.
Semua logam alkali tergolong logam yang lunak (kira-kira sekeras karet penghapus,
dapat diiris dengan pisau) dan ringan (massa jenis Li, Na, K kurang dan 1 g cm -3 ).
Logam alkali mempunyai satu electron valensi yang mudah lepas, sehingga
merupakan kelompok logam yang paling aktif, dapat terbakar di udara dan bereaksi
hebat dengan air. Kereaktifan logam alkali bertambah dari litium ke fransium9.

Sifat atomik logam alkali

Unsur

Jari-jari

Jari-jari

logam (pm) ionik (pm)


Litium
160
Natrium
190
Kalium
240
Rubidium
250
Sesium
270
Fransium
Sifat fisis logam alkali

74
102
138
149
170
1.194

Energi

Kelektroneg

Bilangan

ionisasi

atifan

oksidasi

(kJ/mol)
520
496
419
403
376
380

1,0
0,9
0,8
0,8
0,7
0,7

+1
+1
+1
+1
+1
+1

9 Michael Purba, KIMIA untuk SMA kelas X, Erlangga. Jakarta, 2006, h. 67

Unsur

Litium
Natrium
Kalium
Rubidium
Sesium
Fransium

Kerapatan Kekerasan

Titik

Titik

(kg/m3)

leleh

didih

(C)
530
970
860
1.530
1.880
-

(Mohs)

0,6
0,5
0,4
0,3
0,2
-

181
98
63
39
29
27

Hfus

Hv

Daya

Daya hant

(kJ/mol)

hantar

listrik (M

(C)

panas

1.342
883
760
686
669
677

(W/cmK)
0,847
1,41
1,02
0,582
0,359
0,150

3,00
2,60
2,33
2,19
2,09
-

146
97
80
72
68
-

Dari table diatas, kita dapat melihat adanya keteraturan sifat-sifat fisis logam alkali.
Secara umum, keteraturan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut.10
a. Kerapatan bertambah dari Li ke Fr
Nilai kerapatan bergantung pada massa atom, jari-jari atom, dan faktor
kerapatan atom per unit sel. Nilai kerapatan semakin besar dengan pertambahan
massa atom dan faktor kerapatan, dan sebaliknya semakin kecl dengan pertambahan
jari-jari atom. Semua logam alkali memiliki nilai faktor kerapatan atom per unit sel
yang sama. Jadi, nilai kerapatan logam alkali hanya dipengaruhi massa atom dan jarijari atom.
b. Kekerasan berkurang dari Li ke Fr
Penurunan nilai kekerasan dapat dijelaskan dari penurunan kekuatan ikatan
logam dari Li ke Fr. Hal ini disebabkan tarik-menarik antara ion positif dengan awan
electron semakin melemah akibat bertambahnya jari-jari atom dari Li ke Fr.
c. Titik leleh dan Hfus berkurang dari Li ke Fr
10 J.M.C Johari M. Rachmawati, KIMIA 3 SMA dan MA untuk kelas XII ,
ESIS, 2008, h.110-111

cm-1)

0,108
0,210
0,139
0,078
0,040
0,030

Penurunan nilai titik leleh dan Hfus dari Li ke Fr dapat dijelaskan dengan cara
yang sama, seperti halnya penurunan kekerasan di atas.
d. Titik didih dan Hv berkurang dari Li ke Fr
Penurunan nilai titik leleh dan Hv dari Li ke Fr dapat dijelaskan dengan cara
yang sama, seperti halnya penurunan kekerasan di atas.
e. Daya hantar listrik dan daya hantar panas secara umum berkurang dari Li ke
Fr
Logam alkali memiliki daya hantar listrik dan panas yang baik karena ikatan
logamnya. Di dalam ikatan logam, terdapat elektron-elektron valensi yang bergerak
bebas. Daya hantar panas dan listrik logam alkali ditentukan oleh pergerakan
elektron-elektron valensi bebasnya. Sebaliknya semakin sulit elektron-elektron ini
bergerak, semakin berkurang pula daya hantar listrik dan panasnya.

2.4.

Sifat Umum Senyawa Logam Alkali


Beberapa sifat umum senyawa logam alkali berkaitan dengan karakter ionic,

kestabilan anion-anion besar bermuatan rendah, hidrasi ion, dan kelarutan


sebagaimana diuraikan berikut ini :11
1. Karakter ionik; ion logam alkali selalu mempunyai tingkat oksidasi stabil. Senyawasenyawanya tidak berwarna kecuali dengan anion yang berwarna, misalnya kromat
dan permanganat.
2. Hidrasi ion; semakin tinggi densitas muatan ion, semakin kuat ion tersebut tehidrasi.
Oleh karena logam-logam pada umumnya, maka energi hidrasi senyawa11 Kristian H. Sugiyarto dan Retno D. Suyanti, Anorganik Logam, Yogyakarta,
2010, h. 106

10

senyawanya juga sangat rendah. Ion Li+ misalnya, mempunyai energi hidrasi sebesar
519 kJ mol1, sedangkan ion Mg2+ energi hidrasinya 1920 kJ mol1. Energi hidrasi
semakin kecil dengan kenaikan jari-jari ion.
3. Kelarutan; sebagian besar senyawa-senyawa logam alkali larut dalam air, walaupun
kelarutannya berbeda-beda. Sebagai contoh, larutan jenuh litium klorida (LiCl)
mempunyai konsentrasi 14 mol L1, tetapi larutan jenuh litium karbonat (Li 2CO3)
mempunyai kosentrasi hanya 0,18 mol L1.
2.5. Kelarutan Garam Alkali
Kelarutan garam alkali dalam air sangat besar sehingga sangat bermanfaat sebagai
pereaksi di laboratorium. Namun demikian, kelarutan ini sangat bervariasi
sebagaimana ditunjukkan oleh seri natrium halida. Untuk menjelaskan kecenderungan
larutan tersebut, diperlukan pemahaman siklus energi yang melibatkan pembentukan
suatu larutan dari fase padatan yang bersangkutan.
Table Data kelarutan, energi kisi, entalpi hidrasi, dan selisih entalpi seri natrium
halide
Senyawa

Kelarutan

NaF
NaCl
NaBr
NaI

mol L1)
0,099
0,62
0,92
1,23

(dalam Energi Kisi (dalam Entalpi


kJ mol1)
+930
+788
+752
+ 704

Hidrasi H (dalam kJ

(dalam kJ mol1)
-929
-784
-753
-713

mol)
+1
+4
-1
-9

Kelarutan suatu senyawa bergantung pada besaran-besaran entalpi yaitu energi kisi,
entalpi hidrasi kation dan anion dan juga perubahan entropi yang bersangkutan.
Dari formula G = H - T S, harga G harus negatif agar suatu garam dapat
larut dengan mudah. Data ekperimen menunjukkan bahwa energi kisi relatif sama
dengan entalpi hidrasi.
Apabila dilakukan perhitungan terhadap perubahan entropi (S), ternyata
diperoleh data bahwa kecuali natrium fluorida, harga entropi yang dicapai oleh ionion ketika dibebaskan dari kisi kristal lebih besar daripada entropi yang hilang ketika

11

ion-ion dalam keadaan gas terhidrat dalam larutan. Apabila kedua besaran ini
dikombinasikan untuk memperoleh perubahan energi bebas (G) pada proses
pelarutan, ternyata diperoleh kecenderungan yang benar-benar paralel dengan
kecenderungan kelarutannya.
Table 3.4 Faktor entropi (dalam besaran TS), H, dan G hitungan pada
proses pelarutan seri natrium halida
Senyawa

NaF
NaCl
NaBr
Na I

Entropi (s)
Kisi/ kJ
Hidrasi/ kJ
mol
+72
+68
+68
+68

mol
-74
-55
-50
-45

TS/kJ

H/ kJ

G/ kJ

mol1

mol1

mol1

-2
+13
+18
+23

+1
+4
-1
-9

+3
-11
-19
-32

Apabila dilakukan perhitungan terhadap perubahan entropi (S), ternyata


diperoleh data bahwa kecuali natrium fluoride, harga entropi yang dicapai oleh ionion ketika dibebaskan dari kisi Kristal lebih besar daripada entropi yang hilang ketika
ion-ion dalam keadaan gas terhidrat dalam larutan. Apabuila kedua besaran ini
dikombinasikan untuk memperoleh perubahan energi bebas (G) pada proses
pelarutan, ternyata diperoleh kecenderungan kelarutannya.
Selain itu terdapat hubungan yang bermakna antara kelarutan garam alkali
dengan jari-jari kation untuk anion yang sama, namun hubungan ini dapat
menghasilkan kurva kontinu dengan kemiripan (slope) positif maupun negatif.
Sebagai contoh, kelarutan alkali fluorida naik dengan naiknya jari-jari kationnya
(berarti slope positif), tetapi kelarutan ion iodide turun dengan naiknya jari-jari
kationnya (berarti slope negatif). Perbedaan kecenderungan ini dapat dijelaskan
khususnya terhadap penekanan aspek energi kisi. Energi kisi bergantung kuat pada
muatan ionik, namun rasio ukuran kation anion juga harus dipertimbangkan. Rasio
ukuran kation dan anion yang tidak tepat akan mengakibatkan rendahnya energi kisi
dari harga yang diharapkan. Jari-jari kation Li+ dan Cs+ masing-masing adalah 90 dan

12

181 pm, sedangkan jari-jari anion F dan I masing-masing adalah 119 dan 206 pm.
Perbedaan jari-jari yang terlalu besar antara katin dan anion pasangannya dalam LiI
mengakibatkan padatan ini lebih mudah larut daripada LiF yang mempunyai jari-jari
ionik tidak terlalu besar bedanya. Sebaliknya CsI lebih sukar larut dibandingkan
dengan CsF.12
2.6. Warna Nyala Logam Alkali
Pernahkah kalian menyalakan korek api batangan ? Apakah warna
nyalanya dan apa yang terdapat pada korek api tersebut ? Logam
alkali bila dipanaskan dapat memancar warna nyala yang khas,
yang dapat dipakai untuk mengenali jenis logam alkali dalam
senyawa tersebut.
Di dalam laboraturium kita dapat melakukan uji reaksi nyala
sebagai berikut. Misalnya yang akan diamati adalah warna nyala
dari logam alkali natriun (Na). ambil senyawa natrium klorida padat
dengan menggunakan kawat nikrom yang sudah dibersihkan
dengan larutan HCL pekat. Kemudian bakar kawat nikrom tersebut
dalam nyala api Bunsen. Ternyata, warna yang tampak dari
pembakaran senyawa garam natrium tersebut adalah kuning.
Dalam kehidupan sehari-hari warna nyala logam alkali dapat
diihat pada lampu. Berbagai macam warna logam alkali yang
didapatkan dari eksperimen yang telah dilakukan dapat dilihat pada
Tabel13.
No.
1.

Ion Logam Alkali


Li+

Warna Nyala
Merah Tua

12 Ibid., h.107-109.
13 Jaya Paragonatama,Kimia SMA/MA Kelas XII,Bumi Aksara, Jakarta,Mei
2009,h.115

13

2.
3.
4.
5.

Na+
K+
Rb+
Cs+

Kuning
Ungu
Merah Biru
Biru

Sifat-sifat fisik yang penting dari logam alkali adalah emisi


spektrumnya yang dapat terbentuk apabila uapnya atau salah satu
garamnya dibakar dengan api Bunsen. Misalnya, garam litium
membentuk nyala merah yang bagus, garam natrium membentuk
nyala kuning terang, dan kalium membentuk nyala violet.

14

Warna

spectrum itu dapat dipakai dalam analisis kualitatif, yang disebut


tes nyala.15 Warna nyala ini sudah cukup intensif untuk digunakan
pada analisis nyala (flame test) yang dapat digunakan dalam
analisis campuran senyawa-senyawa yang komposisinya tidak
diketahui. Misalnya, apabila setetes cairan yang tidak diketahui
komposisinya diletakkan pada nyala api dan muncul nyala yang
berwarna kuning maka dalam tetesan cairan ini mengandung ion
natrium. Jika tidak terlihat nyala warna kuning, maka tidak ada
natrium dalam tetesan tersebut. Warna violet nyala kalium tidak
seterang warna kuning nyala natrium dan sangat mudah tertutup
oleh nyala natrium, meskipun natrium tersebut sedikit sekali
(traces) dalam campuran yang dianalisis. Dengan cara melihat
nyala melalui kaca biru, yang disebut kaca kobal, maka warna
kuning diserap dan warna violet nyala kalium diteruskan sehingga
kalium dapat diketahui.

14 Brady.James E, Op.Cit.,h.319
15 S.Syukri,Kimia Dasar,Penerbit ITB,Bandung,1999, h.605

14

Nyala kuning terang natrium merupakan salah satu sifat dari unsure
ini yang mempunyai nilai komersial: digunakan dalam lampu uap
natrium.16 Warna kuning nyala natrium banyak dipakai di jalan raya
karena murah biayanya dibandingkan lampu pijar17, seperti bola
lampu yang biasa digunakan, banyak energy cahaya yang hilang
karena membentuk sinar inframerah yang tidak terlihat. Oleh
karena itu, energi listrik yang banyak digunakan terbuang sia-sia.
Ada lampu uap natrium dalam tabung pengurai gas yang hanya
berisi uap natrium, sebagian besar energy listrik muncul sebagai
cahaya kuning. Cahaya ini sama dengan sepasang garis yang
sangat tipis dari spectrum emisi natrium.18
Perbedaan energy antara orbital s dan p kulit-valensi dari logam
golongan 1 sesuai dengan perbedaan energy pada panjang
gelombang tertentu dari cahaya yang tampak. Akibatnya, bila
dipanaskan dalam nyala, senyawa golongan 1 menghasilkan warnawarna nyala yang khas. Misalnya, bila NaCl diuapkan dalam nyala,
pasangan ion akan terkonversi menjadi atom-atom gas. Atom Na (g)
akan tereksitasi ke energy yang lebih tinggi, dan cahaya dengan
panjang gelombang 589 nm (kuning) diemisikan ketika atomtereksitasi (Na*) kembali ke konfigurasi electron-dasar.
Na+Cl- (g)
Na (g)

Na(g) + Cl(g)
Na*(g)

16 Brady.James E, Op.Cit, h.319


17 S.Syukri, Op.Cit, h.605
18 Brady.James E, Op.Cit, h.319

15

[Ne]3s1

[Ne]3p1

Na*(g)

Na (g) + hv (589 nm; kuning)

Senyawa logam alkali digunakan dalam pertunjukan piroteknikkembang api.19

2.7. Oksida Logam Alkali


Alkil halide (LX) kecenderungan logam alkali teroksidasi menyebabkan mudah
bereaksi dengan unsur bukan logam, seperti halogen dan oksigen. Logam alkali
sangat mudah bereaksi dengan oksigen membentuk oksida, contohnya litium.
4Li (s) + O2 (g) 2Li2O (s)
Logam yang lain bergantung pada jumlah oksigen. Jika oksigen terbatas, natrium
menghasilkan peroksida Na2O2 dan bila dilarutkan dalam air akan bereaksi.
Na2O2 (s) + 2H2O (l) 2Na+ (aq) + 2OH- (aq) + H2O2 (aq)
Logam kalium, rubidium, dan cesium dengan oksigen berlebih membentuk
superoksida, Rb (s) + O2 (g) RbO2 (g)
Dalam air, rubidium superoksida bereaksi
RbO2 (s) + 2H2O (l) 2Rb+ (aq) + 2OH- (aq) + H2O2 (aq)
Kalium superoksida dapat bereaksi dengan CO2 dan menghasilkan O2.
4KO2 (s) + 2CO2 (g) 2K2CO3 (s) + 3O2 (g)

19 Petrucci.dkk, Kimia Dasar Prinsip-prinsip dan Aplikasi modern, PT


Gelora Aksara Pratama, 2011, h. 89

16

Reaksi ini dapat dipakai untuk membuat alat bantu pernapasan, misalnya bagi
orang yang bekerja di ruang yang beracun. Gas CO 2 yang dihembuskannya masuk
kedalam alat dan bereaksi dengan KO 2 untuk menghasilkan O2. Oksigen yang
dihasilkan ini dapat dihisap untuk pernapasan kembali. Jadi pemakai tidak perlu
berhubungan dengan udara luar. Alkil hidroksida Natrium kabonat (NaOH), yang
disebut juga soda sapi dapat dibuat dengan mengelektrolisis NaCl. Soda api dipakai
dalam pembuatan sabun, detergen, kertas, tekstil dan menurunkan kadar belerang
minyak bumi dan menetralkan asam. Kalium hidroksida (KOH) dapat dibuat dengan
elektrolisis larutan KCl dapat dipakai dalam baterai. 20
Jadi, perbedaan mendasar pada oksida logam alkali terdapat pada ukuran
kation yang ditunjukkan oleh reaksi dengan O2. Lithium hanya memberikan Li2O
(membentuk ion Oksida (O2-)) dengan sedikit runutan Li2O2. Natrium biasanya
memberikan peroksida (O22-), Na2O2, tetapi akan berlnjut dengan adanya O 2 di bawah
tekanan serta panas, menghasilkan superoksida,(O2-) NaO2. Kalium, Rb, dan Cs
membentuk superoksida MO2.21
Spesies O22-(Peroksida) lebih mudah terpolarisasi daripada O2-, dan daya
mempolarisasi Na+ lebih kuat daripada ion K+. oleh karena itu dapat dipahami bahwa
oksidaNatrium stabil ebagai dioksida (2-) atau peroksida, dan oksida kalium stabil
sebagai dioksida (1-) atau superoksida. Peroksida bersifat diamagnetic dan
superoksida bersifat paramagnetic.22

2.8. Kemiripan Litium dengan Logam Alkali Tanah


20 Syukri S, Op.Cit, h. 606-607.

21 Cotton dan Wilkinson, Op.Cit, h.253.


22 Kristiyan H. Sugiyanto dan Retno D. Suyanti, Op.Cit, h.117.

17

Beberapa perbedaan litium dan senyawanya dibanding logam


alkali lain, antara lain:

Kelarutan senyawa karbonat, fluoride, hidroksida, dan

fosfatnya rendah
Kemampuannya membentuk nitride (Li3N)
Pembentukan oksida normal (Li2O), bukan peroksida atau

superoksida
Jika dipanaskan, terjadi penguraian senyawa karbonat dan
hidroksidanya menjadi oksida.

Litium dalam banyak hal menunjukkan sifat yang berbeda


dengan anggota logam alkali lainnya tetapi justru lebih mirip
dengan logam alkali tanah seperti sifat-sifat berikut ini :
(1)Kekerasan litium terbesar dalam golongan alkali, mirip
dengan kekerasan logam alkali tanah
(2)Mirip dengan logam alkali tanah tetapi berbeda dengan
logam alkali karena litium membentuk oksida normal,
Li2O, bukan dioksida(2-) ataupun dioksida(1-).
(3)Litium adalah satu-satunya logam alkali yang membentuk
senyawa nitride seperti halnya semua logam alkali tanah.
(4)Demikian juga litium adalah satu-satunya logam alkali yang
membentuk

senyawa

dikarbida(2-),

Li2C2

yang

sering

disebut litium asetilida, seperti halnya semua logam alkali


tanah juga membentuk snyawa dikarbida(2-).
(5)Garam-garam litium dengan karbonat, fosfat dan fluoride,
mempunyai kelarutan sangat rendah dalam air, sedangkan
garam-garam alkali tanah dengan karbonat, fosfat, dan
fluoride, tak larut dalam air.
(6)Litium membentuk berbagai

senyawa

organometalik

(senyawa dengan atom karbon organik ) sama seperti logam


18

magnesium. Dalam banyak senyawa garam, litium dan


magnesium menunjukkan banyak kesamaannya termasuk
sifat kovalensinya yang relative tinggi.
Tabel : Jari-jari (dalam ppm) dan rapatan muatan (dalam C
mm-3) ion golongan alkali dan alkali tanah
Ion

Jari-jari

Rapatan

Ion

Jari-jari

muatan

Rapatan
muatan

Li+

73

98

(Be2+)

59

1100

Na+

116

24

Mg2+

86

120

K+

152

11

Ca2+

114

52

Rb+

166

Sr2+

132

33

Cs+

181

Ba2+

149

23

Hubungan antara litium dengan logam alkali tanh sering


disebut hubungan diagonal dalam system periodik unsure-unsur,
yaitu

kemiripan

sifat-sifat

unsure

Periode

dengan

unsure

disebelah kanan bawahnya pada Periode 3, dalam halini litium


dengan magnesium. Kemiripan sifat-sifat litium dengan magnesium
mungkin dapat diterangkan dari sifat rapatan muatan kationnya.
Dalam golongannya litium mempunyai ukuran (volume) terkecil,
dan muatan ion positifnya terpusat dalam ukurannya yang kecil ini
sehingga kation litium mempunyai daya mempolarisasi terbesar.
Rapatan muatan kation litium adalah 98 C mm-3 (lihat Tabel),
ternyata jauh lebih besar dari rapat muatan kation lain dalam
golongannya dan relative dekat dengan rapatan muatan kation
magnesium (120 C mm-3). Kedekatan rapatan muatan ion litium ini
diduga menyebabkan kemiripan sifat-sifat kimia senyawa-senyawa

19

litium dengan magnesium (alkali tanah). Hal yang sama berlaku


juga bagi kation natrium (rapatan muatan 24 C mm -3) dngan kation
barium (rapatan muatan 23 C mm -3)yang menunjukkan kemiripan
sifat-sifat kimianya terutama dalam hal reaksinya dengan oksigen
membentuk senyawa dioksida(2-), Na2O2 dan BaO2.23
2.9. Ekstraksi dan Kegunaan Logam Alkali
2.9.1. Kegunaan logam alkali
1. Kegunaan Natrium (Na)
Natrium digunakan sebagai cairan pendingin pada reaktor nuklir,
karena meleleh pada 98C dan mendidih pada 892C
Natrium digunakan untuk membuat senyawa natrium yang tidak dapat
dibuat dari NaCl, seperti Na2O3 (natrium peroksida) dan NaCN
(natrium sianida).
Natrium digunakan pada pengolahan logam-logam tertentu, seperti Li,
K, dan Zn.
Uap natrium digunakan untuk lampu natrium yang berwarna kuning
yang dapat menembus kabut.
Campuran Na dan K untuk termometer temperatur tinggi.
Natrium juga digunakan untuk foto sel dalam alat-alat elektronik.
2. Kegunaan senyawa natrium
Natrium hidroksida (NaOH)
Natrium hidroksida disebut dengan nama kaustik soda atau soda api
yang banyak digunakan dalam industri berikut.
a. Industri sabun dan deterjen
b. Industri pulp dan kertas
c. Pada pengolahan aluminium
d. NaOH juga digunakan dalam industri tekstil,plastik,pemurnian
minyak bumi,serta pembuatan senyawa natrium lainnya.
Natrium klorida (NaCl)
Natrium klorida dalam kehidupan sehari-hari sangat dibutuhkan untuk
keperluan rumah tangga,yaitu untuk pengolahan bahan makanan.
Selain itu,NaCl juga digunakan pada industri susu serta pengawetan
ikan dan daging.
Natrium bikarbonat (NaHCO3)
23 Ibid.,h.126

20

3.

4.

5.
6.

7.

Natrium bikarbonat disebut juga soda kue, kegunaanya sebagai bahan


pengembang pada pembuatan kue
NaCN untuk ekstraksi emas dan untuk mengeraskan baja
NaNO2 untuk bahan pengawet
Kegunaan kalium (K)
Unsur kalium sangat penting bagi pertumbuhan.tumbuhan
membutuhkan garam-garam kalium,tidak sebagai ion K+ sendiri,tetapi
besama-sama dengan ion Ca+2 dalam perbandingan tertentu
Unsur kalium digunakan untuk pembuatan kalium seperoksida (KO2)
yang dapat bereaksi dengan air membentuk oksigen.
Kegunaan senyawa kalium
KOH digunakan pada industri sabun lunak (lembek)
KCl dan K2SO4 digunakan untuk pupuk pada tanaman.
KNO3 digunakan sebagai komponen esensial dari bahan
peledak,petasan,dan kembang api.
KclO3 digunakan untuk pembuatan korek api,bahan peledak dan
marcon.
Litium
digunakan
pada
baterai
untuk
alat
pacu
jantung,kalkulator,jam,kamera,dan lainnya
Rubidium memiliki potensial ionisasi yang rendah dan digunakan pada sel
fotolistrik seperti fotomultiplier, untuk mengubah energi cahaya menjadi
energi listrik. Rb juga digunakan sebagai osilator untuk aplikasi seperti
navigasi dan komunikasi di militer.
Sesium digunakan pada sel fotolistrik. Jika terkena cahaya, Cs akaan melepas
elektronnya yang akan tertarik menuju ke elektrode positif pada sel dan
menyebabkan timbulnya arus listrik.

2.9.2. Ekstraksi logam alkali


Logam alkali
Litium (Li)

Ekstraksi logam alkali


Metode elektrolisis
Sumber logam alkali adalah mineral spodumene

[ LiAl ( SiO ) 3 ]

Spodumene dipanaskan pada suhu 100C, lalu dicampur dengan


H2SO4 panas, dan dilarutkan ke air untuk memperoleh larutan Li2SO4.
Kemudian, Li2SO4 direaksikan dengan Na2CO3 untuk membentuk
Li2SO3 yang sukar larut.
Li2SO4 + Na2CO3 Li2CO3 + Na2SO4
Setelah itu,Li2CO3 direaksikan dengan HCl untuk membentuk LiCl.
21

Natrium (Na)

Kalium (K)

Rubidium (Rb)

Sesium (Cs)

Li2CO3 + 2HCl
2LiCl + H2O + CO2
Li dapat diperoleh dari elektrolisis lelehan LiCl sebagai berikut:
Katoda : Li+ + eLi
Anode : Cl Cl2 + eKarena titik leleh LiCl tinggi (> 600C),biaya elektrolisis menjadi
mahal. Namun, biaya dapat ditekan dengan cara menambahkan KCl
( 55% LiCl dan 45 % KCl) yang dapat menurunkan titik leleh menjadi
430C.
Metode elektrolisis
Sumber utama logam Na adalah garam batu dan air laut. Na hanya
dapat diperoleh dari elektrolisis lelehan NaCl mengunakan sel Down.
Katode : Na+ + eNa
Anode : Cl Cl2 + eMetode reduksi
Sumber utama logam K adalah silvit (KCl). Logam K diperoleh dengan
metode reduksi dimana lelehan KCl direaksikan dengan Na.
Na + KCl
Reaksi ini berada dalam kesetimbangan. Karena K yang terbentuk
mudah menguap, maka K dapat dikeluarkan dari sistem dan
kesetimbangan akan bergeser ke kanan untuk terus memproduksi K.
Metode reduksi
Logam Rb dibuat dengan mereduksi lelehan senyawa RbCl
Na + RbCl
Rb + NaCl
Reaksi ini berada dalam kesetimbangan. Karena Rb mudah menguap,
maka Rb dapat diproduksi terus dengan cara yang sama seperti K
Metode reduksi
Logam Cs dibuat dengan mereduksi lelehan senyawa CsCl
Na + CsCl
Cs + NaCl
Reaksi berada dalam kesetimbangan. Karena Cs mudah menguap,
maka Cs dapat diproduksi terus dengan cara yang sama seperti K.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan

22

Logam-logam alkali ialah semua unsur yang ada di dalam


golongan IA kecuali Hidrogen(H), logam alkali dapat

membentuk basa kuat dan sangat reaktif.


Logam alkali merupakan zat pereduksi yang kuat dan

sangat mudah teroksidasi.


Semua logam alkali tergolong lunak dan ringan dan

mempunyai electron valensi yang mudah lepas.


Logam alkali mempunyai tingkat oksidasi yang stabil,
semakin tinggi densitas muatan ion logam alkali semakin

kuat pula ion tersebut terhidrasi.


Sebagian besar senyawa-senyawa

dalam air walaupun tingkat kelarutannya berbeda-beda.


Warna nyala logam Li+ ialah Merah Tua, Na+ ialah Kuning,

K+ ialah Ungu, Rb+ ialah Merah Biru, Cs+ ialah Biru.


Logam Alkali dapat membentuk Oksida, peroksida, dan

logam alkali larut

superoksida, dimana Li cenderung hanya bias membentuk


Oksida, Na cenderung membentuk peroksida, sedangkan

logam lainnya cenderung membentuk superoksida.


Litium memiliki beberapa kemiripan sifat dengan unsure
yang ada pada golongan alkali tanah, salah satunya dari
segi kekerasan yang mirip dengan kekerasan logam alkali

tanah.
Logam alkali banyak manfaatnya bagi kehidupan, karena
sifatnya yang reaktif, logam alkali ini dapat diekstraksi
dengan cara elektrolisis dan reduksi.

3.2. Saran
Agar pembaca dapat mengetahui lebih lanjut tentang Logam
Alkali, sebaiknya tidak hanya cukup dengan membaca makalah
ini, karena makalah ini masih jauh dari kata Sempurna, dan
penulis mohon

maaf bila ada kesalahan yang terselip dalam

23

penulisan , semoga kesalahan penulis dapat menjadi pelajaran


untuk pembaca kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA
https://erwantoindonesia.wordpress.com/2012/05/09/golongan-ia/,
diunduh pada 09 Maret 2015
Sunarya, Yayan. 2011. Kimia Dasar 2. Bandung: CV Yrama Widya.
Sutresna, Nana. 2007.

Kimia untuk kelas XII semester 1 Sekolah

Menengah Atas. Bandung : Grafindo Pratama.


Suyatno, dkk. Kimia Untuk SMA/MA Kelas XII. Grasindo: Jakarta.

24

Brady, James. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Jakarta :


Binapura Aksara.
Cotton dan Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: UI
Press.
Sunardi. 2008. Kimia Bilingual Untuk SMA/Ma. Bandung: Cv. Yrama
Widya.
Purba , Michael. 2006. KIMIA untuk SMA kelas X. Jakarta:Erlangga.
Johari, J.M.C dan M. Rachmawati. 2008. KIMIA 3 SMA dan MA untuk
kelas XII. Jakarta: ESIS
Sugiyarto, Kristian H dan Retno D. Suyanti. 2010. Anorganik Logam.
Yogyakarta: Graha Ilmu
Paragonatama,Jaya. 2009. Kimia SMA/MA Kelas XII . Jakarta : Bumi
Aksara.
Syukri, S. 1999. Kimia Dasar 3 , Bandung: Penerbit ITB.
Petrucci.dkk. 2011. Kimia Dasar Prinsip-prinsip dan Aplikasi modern.
Jakarta :PT Gelora Aksara Pratama.

25