Anda di halaman 1dari 25

BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

REFERAT
DESEMBER 2014

PEMERIKSAAN FISIK SISTEM MOTORIK

DISUSUN OLEH :
MUKHRAENI

PEMBIMBING :
dr. Andi Farida

SUPERVISOR :
DR. dr. Hj. Jumraini Tammasse, Sp. S

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF
FAKULTAS KEDOKTEARAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2014

Pemeriksaan Fisis Sistem Motorik


I.

II.

Defenisi Sistem Motorik


Sistem motorik adalah daerah dari system saraf yang bertanggung jawab
dalam mengendalikan gerakan.1
Sistem Motorik
Impuls motorik untuk gerakan volnteer terutama dicetuskan di girus
presentralis lobus frontalis (korteks motorik primer, area 4 broadmann) dan
area kortikal disekitarnya (neuron motorik pertama). Impuls tersebut berjalan
di dalam jaras serabut panjang (terutama traktu korkonuklearis dan traktus
kortikospinalis/jaras pyramidal), melewati batang otak dan turun ke medulla
spinalis ke kornu anterius, tempat mereka membentuk kontak sinaptik dengan
neuron motorik kedua biasanya melewati satu atau beberapa interneuron
perantara.2
Area korteks motorik
Korteks motorik primer merupakan sekumpulan jaringan kortikal yang
terletak di sisi yang berlawanan dengan sulcus sentralis dari korteks
somatosensorik primer dan meluas ke atas dan melewati tepi superomedial
hemisfer

serebri

menuju

permukaan

medialnya.

Area

yang

mempresentasikan tenggorkan dan laring terletak pada ujung inferior kortes


motorik primer; di bagian atasnya, secara berkesinambungan, adalah area
yang mempresentasikan wajah, ekstremitas atas, badan dan ekstremitas
bawah. Struktur ini merupakan hominkulus motorik terbalik, yang
bersesuaian dengan hominkulus somatosensorik girus post-sentralis. 2
Traktus Kortikospinalis (traktus piramidalis)
Traktus ini berasal dari korteks motorik dan berjalan melalui substansia alba
serebri ( korona radiate), krus posterius kapsula interna, bagian sentral
pedunkulus serebri, pons dan basal medulla (bagian anterior), tempat traktus
terlihat sebagai penonjolan kecil yang disebut pyramid. 2
Traktus kortikonuklearis (traktus kortikobulbaris)
Beberapa serabut traktus piramidalis membentuk cabang dari massa utama
traktus ketika melewati otak tengah dan kemudian berjalan lebih ke dorsal
menuju nuclei nervi kranialis motorik. Serabut yang mempersarafi nuclei
batang otak ini sebagian menyilang dan sebagian lagi tidak menyilang. Nuclei
2

yang menerima input traktus piramidalis adalah nuclei yang memediasi


gerakan volunteer otot-otot kranial melalui nervus kranialis V, nervus
kranialis VII, nervus cranialis IX, X, dan XI serta nervus kranialis XII. 2
Komponen system Motorik sentral lainnya
Sejumlah jaras-jaras sentral selain traktus piramidalis memiliki peran penting
pada pengendalian fungsi motorik. Suatu kelompok serabut yang penting
(traktus kortikopontoserebelaris) menghantarkan informasi dari korteks
serebri ke serebelum, kemudian input yang ditimbulkannya memodulasi
gerakan terencana.2
A. UMN
Berdasarkan perbedaan anatomik dan fisiologik kelompok UMN dibagi
dalam susunan piramidal dan susunan ekstrapiramidal.3
1. Susunan Piramidal
Impuls motorik untuk gerakan volunter diawali di gyrus
presentralis lobus frontalis otak (korteks motorik primer, area 4
Broadmann).2 Gerak otot seluruh belahan tubuh dapat dipetakan pada
seluruh kawasan korteks motorik sisi kontralateral. Peta itu dikenal
sebagai homunkulus motorik .Melalui aksonnya neuron korteks motorik
menghubungkan motoneuron yang membentuk inti motorik saraf kranial
dan motoneuron di kornu anterior medulla spinalis. Akson akson
tersebut menyusun jaras kortikobulbar kortikospinal . Sebagai berkas
saraf yang kompak, mereka turun dari korteks motorik ke capsula
internayang berada di antara talamus dan ganglia basalis. 3
Di tingkat medulla oblongata serabut serabut piramidal berkumpul
kembali di piramis medulla oblongata dan kemudian menyilang garis
tengah batang otak ( di decusatio pyramidalis) dan berakhir di interneuron
yang berada di sekitar inti motorik saraf kontralateral. Sebagian dari
serabut itu berakhir di inti motorik saraf otak ipsilateral.
Serabut piramidal yang tidak berakhir di tingkat medulla oblongata
melanjutkan perjalanannya ke medulla spinalis dan mereka adalah serabut
kortikospinal. Pada peralihan antara medulla oblongata dan medulla
spinalis, kira kira 85% dari serabut kortikospinal membelok ke arah
dorsolateral dan menyilang garis tengah untuk kemudian menduduki
tempat di funikulus posterolateralis sisi kontralateral. Kelompok serabut
3

ini disebut traktus kortikospinalis lateralis atau traktus piramkidalis


lateralis. Serabut kortikospinal yang tidak menyilang, meneruskan
perjalanannya di bagian medial funikulus ventralis dan dinamakan traktus
kortikospinalis (piramidalis) ventralis (anterior). (1)
Tanda lesi UMN adalah hipertonus, hiperefleks, clonus, spastik tipe
clasy-knife, reflex patologis positif.

Gambar 1. Perjalanan traktus piramidalis ( dikutip dari kepustakaan 2).

2. Susunan Ekstrapiramidal
Komponen ekstrapiramidal terdiri atas : korpus striatum, globus
pallidus, inti inti talamik, nukleus subtalamikus, substansia nigra,

formasio retikularis batang otak, serebellum, dan korteks motorik


tambahan yaitu area 4, area 6, area 8. Komponen tersebut dihubungkan
satu dengan lain oleh akson masing masing komponen itu, sehingga
membentuk hubungan yang kompleks.3
B. LMN
LMN adalah jaras akhir bersama (final common pathway) sistem
motorik, yaitu akson-akson yang keluar dari sel-sel kornu anterior medula
spinalis menuju otot volunter.

(4)

LMN menyusun inti saraf otak motorik

dan inti radiks ventralis saraf spinal. Terdapat dua jenis LMN yaitu alfa
motoneuron dan gamma motoneuron. Dengan perantaraan kedua macam
motoneuron itu, impuls motorik dapat mengemudikan keseimbangan tonus
otot yang diperlukan untuk mewujudkan setiap gerakan tangkas.3
Tanda lesi LMN adalah Hipotonus, hiporefleks, flaksid, atrofi otot dan
III.

reflex patologis negative..


Pemeriksaan Sistem Motorik
A. Inspeksi
Pada inspeksi diperhatikan sikap, bentuk, ukuran dan adanya gerak
abnormal yang tidak dapat dikendalikan.4
1)
Sikap Normal
Perhatikan sikap secara keseluruhan dan sikap tiap bagian tubuh.
Bagaimana sikap dan posisi badannya, baik secara keseluruhan
2)

maupun sebagian.
sikap abnormal
a. Gangguan Serebellum
Pasien dengan gangguan serebelum berdiri dengan muka
membelok kea rah kontralateral terhadap lesi, bahunya pada sisi
lesi agak lebih rendah, dan badannya miring ke sisi lesi.

Gambar 2. Gait pada tumor cerebral dam intosikasi obat ( dikutip dari
kepustakaan 5)

Penderita penyakit Parkinson berdiri dengan kepala dan leher

dibungkukkan ke depan, lengan dan tungkai berada dalam fleksi.


Bila ia jalan, tampak seolah-olah hendak jatuh ke depan; gerakan
asosiatifnya terganggu, lengan kurang dilenggangkan dan terlihat
tremor kasar, terutama di tangan.

Gambar 3. Karakteristik gait pada penyakit Parkinson (dikutip dari kepustakaan 5)


Gerakan bagian tubuh perlu diperhatikan dan dibandingkan. Pada
anak yang sedang meronta atau dewasa yang gelisah, bagian yang
3)

4)

paretis terlihat kurang digerakkan.


Bentuk
Perhatikan adanya deformitas
Ukuran.4
Panjang bagian tubuh sebelah kiri sama dengan yang di kanan?.Orang
dewasa yang mengalami lumpuh sejak masa kanak-kanak, ukuran

ekstremitas yang lumpuh lebih pendek daripada yang sehat.


Isi (kontur) otot apakah atrofi atau hipertrofi. Pada atrofi, besar otot
berkurang dan bentuknya berubah. Pada kelumpuhan jenis perifer

disertai dengan hipotrofi atau atrofi.


Besar otot, bandingkan dengan otot sisi lainnya. Bila dicurigai adanya
atrofi, ukurlah kelilingnya. Biasanya pada pengukuran digunakan

tonjolan tulang sebagai patokan. Misalnya 3 cm di atas olekranon atau

5)

patela.
Bentuk otot. Hal ini dilakukan dalam keadaan otot beristirahat dan
otot berkontraksi.
Palpasi
Pasien disuruh mengistirahatkan ototnya. Kemudian otot ini dipalpasi
untuk menentukan konsistensi serta nyeri tekan. Dengan palpasi kita
dapat menilai tonus otot, terutama bila ada hipotoni. Penentuan tonus

6)

dilakukan pada berbagai posisi anggota gerak dan badan. 4


Pemeriksaan Gerak Pasif
Penderita disuruh mengistirahatkan ekstremitasnya. Bagian dari
ektremitas ini kita gerakkan pada persendiannya. Gerakan dibuat
bervariasi mula- mula cepat kemudian lambat, cepat, lebih lambat,
dan seterusnya. Sambil menggerakkan kita nilai tahanannya. Dalam
keadaan normal kita tidak menemuakan tahanan yang berarti, jika
penderita dapat mengistirahatkan ekstremitasnya dengan baik. Kadang
kadang tahanan didapatkan pada satu jurusan saja, misalnya tungkai
sukar difleksikan tetapi mudah diekstensikan. Keadaan ini misalnya
didapatkan pada lesi di traktus piramidalis. Pada gangguan sistem
ekstrapiramidal, dapat dijumpai tahanan yang sama kuatnya
(rigiditas). Kadang-kadang djumpai keadaan tahanan yang hilang

7)

timbul (fenomena cogwheel). 4


Pemeriksaan Gerak Aktif
Pada pemeriksaan ini kita nilai kekuatan (kontraksi otot). Untuk
memeriksa adanya kelumpuhan, kita dapat menggunakan 2 cara
berikut:
1. Pasien

disuruh

menggerakkan

bagian

ekstremitasnya

atau

badannya dan pemeriksa menahan gerakan ini.


2. Pemeriksa menggerakkan bagian ekstremitas atau badan pasien dan
ia disuruh menahan.
Umumnya digunakan cara pertama yaitu pemeriksa yang menahan,
karena ditakutkan jika menggunakan cara kedua kekuatan yang
diberikan kepada pasien terlalu besar. Bila pasien lumpuh total tidak

sulit untuk memastikan sedangkan pada pasien yang lumpuh sebagian


atau parsial, tidak mudah memastikan atau menilainya.
Kelompok-kelompok otot yang berbeda diperiksa dalam cara yang
terorganisir, proksimal distal pada ekstremitas atas dan bawah, dengan
dokumentasi derajat dan pola kekuatan atau kelemahan diamati.
Sebuah lesi di belahan otak menghasilkan hemiparesis dengan
kelemahan yang melibatkan wajah dan ekstremitas atas dan bawah di
sisi kontralateral
Lesi di sumsum tulang belakang dapat menghasilkan kelemahan di
kedua ekstremitas bawah (paraplegia), dengan defisit sensorik terkait
dan kontrol sfingter abnormal. Kelemahan yang melibatkan hanya satu
ekstremitas disebut monoparesis; yang biasa tapi tidak selalu
diterjemahkan ke pleksus atau saraf perifer. Sebuah lesi midcervical
dari sumsum tulang belakang dapat menyebabkan quadriplegia
(kelumpuhan bilateral kedua ekstremitas atas dan bawah) dengan
kerugian sensorik yang sesuai; jika lesi di C1 atau C2 tingkat, pasien
juga dapat mengalami kesulitan bernafas tanpa bantuan. Lesi dari satu
sisi medula spinalis pada tingkat midcervical dapat menyebabkan
kelumpuhan ekstremitas atas dan bawah di sisi itu; Defisit ini
hemiplegia dan biasanya disertai dengan defisit sensorik karakteristik
(sindrom Brown-Sequard).5
Dalam

praktek

sehari-

hari,

kekuatan

otot

dinyatakan

dengan

menggunakan angka 0-5.


-

0 : Tidak didapatkan sedikitpun kontraksi otot; lumpuh total.


1 : Terdapat sedikit kontraksi otot, namun tidak didapatkan gerakan

pada persendian yang harus digerakkan oleh otot tersebut.


2 : Didapatkan gerakan, tetapi gerakan ini tidak mampu melawan gaya

berat (gravitasi).
3 : Dapat mengadakan gerakan melawan gaya berat.
4 : Disamping dapat melawan gaya berat ia dapat pula mengatasi

sedikit tahanan yang diberikan.


5 : Tidak ada kelumpuhan (normal).

Empat jenis utama dari perubahan dalam nada ditemukan pada pasien
dengan penyakit primeister system saraf pusat : hipotonia, kejang-kejang,
keadaan normal, dan kekakuan. Hal ini penting untuk menempatkan
perubahan tonus yang diamati. Tonus otot dapat

dievaluasi ketika

individu sepenuhnya santai. Kadang-kadang, hal ini berguna untuk


memeriksa tonus yang lebih dari sekali selama pemeriksaan. Tonus
digambarkan sebagai tingkat dasar

pasien ketegangan otot. Untuk

menjadi nyaman dengan ini bagian dari pemeriksaan, penting, seperti


bagian lain dari evaluasi neurologis, untuk secara rutin memeriksa
parameter ini pada individu yang sehat untuk membangun satu basis
normal pengamatan.
1) hipotonia
Hal ini kadang-kadang dibuktikan pada pasien dengan lesi
hemisfer serebelar. Sebagai contoh, bagian distal dari ekstremitas
ipsilateral mungkin tidak mampu melakukan gerakan-gerakan
alternatif

yang

cepat

(disebut

dysdiadochokinesia)

karena

ketidakmampuan untuk mempertahankan postur yang stabil.


Demikian pula, halus, mengejar lurus terlihat ketika seseorang
memunculkan lutut kehilangan gerakan keluar-dan-belakang yang
biasanya

memiliki

pemeriksaan

cerebellar

penghambatan.

Sebaliknya, pada kembali, ada overshoot dengan tidak ada


pemeriksaan, yang mengarah ke respon pendular berulang.
cerebellar hipotonik klasik adalah temuan yang relatif jarang.
2). Flaksid
terlihat dalam berbagai proses penyakit yang menyerang neuron
motorik atas. Umumnya, hal ini terjadi dalam serangan akut seperti
dengan stroke baru atau cedera tulang belakang tiba-tiba, yaitu,
spinal shock. Namun, dengan kedua hal ini, keadaan normal
bersifat sementara dan tonus meningkat kemudian menyajikan
dalam bentuk berbagai tingkat kelenturan.
3.) Spastik
Derajat signifikan spastisitas mudah menimbulkan rangsangan otot
yang menyebabkan refleks regangan. Spastisitas lebih halus

mungkin jelas hanya dengan peregangan otot dalam arah tertentu dan
pada tingkat tertentu. Peningkatan tonus, yang mungkin terjadi
dengan stroke atau cedera tulang belakang, berkembang dari keadaan
lembek untuk kelenturan selama hitungan hari sampai beberapa
minggu setelah cedera neurologis awal.
4.) deserebrasi
Ketika terjadi kehilangan total dalam inhibisi neuron motorik, yang
mungkin terjadi dengan cedera batang otak bagian atas, sindrom
kekakuan deserebrasi berkembang. Di sini, stimulus berbahaya yang
sederhana menyebabkan ekstensi bilateral bersama-sama dari keempat
ekstremitas, dengan lengan pronasi dan kaki adduksi diputar ke dalam.
Umumnya, orang melihat ini dalam pengaturan serangan jantung atau
dari cedera geser ke batang otak akibat cedera kepala berat, paling
biasanya dari kecelakaan mobil. Ketika pasien bertahan 1 sampai 3
bulan, dan sebaliknya benar-benar tidak responsif, mereka dikatakan
dalam keadaan vegetatif persisten.
a. Kepala
Periksa apakah terdapat tahanan jika kepala digerakkan secara
pasif. Pada radang selaput otak didapatkan kaku kuduk. Gerakan aktif
diperiksa dengan menyuruh pasien menekukkan kepala ke depan, ke
belakang, ke samping kiri, dan kanan serta melakukan gerakan rotasi.
Pemeriksa menilai tenaganya, dan membandingkan tenaga gerakan ke
kiri dan ke kanan. 4
b. Anggota gerak atas
Perhatikan apakah ada atrofi otot tenar, hipotenar, dan otot intrinsik
tangan. Periksa gerakan jari-jari; bagaimana tenaga fleksi, ekstensi,
abduksi, dan aduksi. Periksa tenaga menggenggam. Hal ini dilakukan
dengan menyuruh pasien menggenggam jari pemeriksa dan kemudian
pemeriksa menarik lepas jari tersebut. Gerakan di pergelangan juga
diperiksa, dan ditentukan tenaganya pada gerakan pronasi dan
supinasi. Fleksi dan ekstensi pada persendian siku, juga diperiksa.
Gerakan pada persendian bahu diperiksa dengan menyuruh pasien
menggerakkan lengan yang diekstensi, pada bidang frontal dan sagital,

10

dan juga melakukan rotasi pada persendian bahu. Selain itu, juga
gerakan bahu ke atas, bawah, depan, dan ke belakang diperiksa.
Setelah itu, periksalah otot pektoralis mayor, latisimus dorsi, seratus
magnus, deltoid, biseps, dan triseps. Pemeriksaan pemeriksaan yang
dapat dilakukan : 4
1) Pemeriksaan otot oponens digiti kuinti (C7,C8, T1 saraf ulnaris).
Jari jari diekstensikan, kemudian kelingking digerakkan menuju
dasar ibu jari.
2) Pemeriksaan otot aduktor policis (C8, T1 saraf ulnaris). Sepotong
kertas dijepit antara ibu jari dan telapak tangan.
3) Pemeriksaan otot interosei palmaris (C8, T1, saraf ulnaris). Telapak
tangan ditaruh di atas meja. Telunjuk, jari manis dan kelingking
yang berada dalam posisi abduksi diaduksikan ke garis tengah
(sambil diberi tahanan).
4) Pemeriksaan otot interosei dorsalis (C8, T1, saraf ulnaris). Telapak
tangan ditaruh di atas meja. Telunjuk, jari manis dan kelingking
yang berada dalam posisi abduksi diaduksikan (sambil diberi
tahanan).
5) Pemeriksaan abduksi ibu jari. (1) arah palmar, (2) arah radial (n.
radialis).
6) Pemeriksaan otot ekstensor digitorum (C7,C8, saraf radialis). Jari
diekstensikan pada persendian metakarpo-falang (sambil diberi
tahanan).
7) Pemeriksaan otot pektoralis mayor. Inspeksi dada bagian atas dan
lipatan aksilaris anterior. Kemudian pasien disuruh meluruskan
lengannya ke depan, sambil menempatkan kedua telapak tangan
dan kemudian menekannya, sewaktu pasien menekankan kedua
telapak tangannya, kita palpasi otot pektoralis mayor. Untuk
menentukan tenaganya, daya tekannya dinilai.
a. Pemeriksaan pektoralis mayor bagian atas (C5-C8, saraf pektoralis
lateralis dan medialis). Lengan atas yang berada pada posisi
horisontal dan depan diaduksi.
b. Pemeriksaan otot pektoralis mayor bagian bawah (C5-C8,T1, saraf
pektoralis lateralis dan medialis). Lengan yang berada pada posisi

11

depan dan di bawah horison diaduksi (sambil pemeriksa memberi


tahanan).
8) Pemeriksaan otot deltoid (C5,C6, saraf aksilaris). Pasien disuruh
mengangkat lengannya yang diluruskan ke samping sampai di
bidang horizontal. Nilailah tenaganya waktu melakukan gerakan
ini.
9) Pemeriksaan otot biseps (C5,C6, saraf muskulokutaneus).Lengan
yang sudah disupinasi disuruh fleksi pada persendian siku. Nilailah
tenaga fleksi lengan bawah ini.
10) Pemeriksaan otot triseps (C6-C8, saraf radialis).Lengan bawah
yang sudah difleksi disuruh ekstensikan. Nilailah tenaga ekstensi
ini.

Gambar 4. Pemeriksaan

kekuatan otot.

Contohnya biceps (A),

Deltoid (B), uadriceps

femoris(C) di kutip dari

kepustakaan 7

12

Gambar 5. Pemeriksaan Kekuatan Otot Anggota Gerak Atas (dikutip dari kepustakaan 6)

Erektor spina

13

Bila pasien sedang berdiri, suruh ia mengambil suatu barang dari lantai.
Jika pasien menderita kelemahan m. erector spina, ia sukar berdiri kembali;
dan ini dilakukannya dengan bantuan tangannya, yaitu dengan menempatkan
tangannya pada lutut, paha, dan kemudian mendorongnya sampai ia dapat
berdiri lagi. Kadang terlihat juga adanya lordosis.
Otot dinding perut. Pasien yang sedang berbaring disuruh mengangkat
kepalanya dan perhatikan peranjakan dari pusar. Biasanya pusar beranjak ke
arah otot yang sehat. Suruh pasien batuk, otot yang lemah akan membonjol.
Perhatikan apakah pasien dapat duduk dari sikap berbaring tanpa mendapat
bantuan dari tangannya. Otot yang ikut bekerja dalam hal ini ialah otot
dinding perut dan otot iliopsoas.
Anggota gerak bawah
Untuk ini diperiksa gerakan pada : persendian jari-jari, pergelangan kaki,
lutut, paha. Selain itu juga diperiksa otot kuadriseps femoris, iliopsoas,
aduktor, abductor, dan fleksor tungkai bawah. Pemeriksaan yang dapat
dilakukan :
1.

Pemeriksaan otot kuadriseps femoris (L2-L4, saraf femoralis). Lutut

(tungkai bawah) diekstensikan sambil kita tahan.


2. Pemeriksaan otot iliopsoas (L1-L3, saraf femoralis). Pasien berbaring dan
lutut difleksikan. Kemudian paha difleksikan lebih lanjut sambil ditahan.
3. Pemeriksaan otot aduktor (L2-L4: saraf obturatorius). Pasien berbaring
pada sisinya dan tungkai berada dalam ekstensi. Kemudian tungkai ini
diaduksikan sambil ditahan.
4. Pemeriksaan otot abduktor. Tungkai diabduksikan melawan tahanan.
5. Pemeriksaan otot fleksor tungkai bawah. Tungkai bawah difleksikan
sambil ditahan.
a. Pemeriksaan otot kelompok harmstring (L4,L5,S1, S2, saraf
siatika). Pasien tengkurap, kemudian lutut disuruh fleksikan (sambil
b.

ditahan oleh pemeriksa)


Pemeriksaan otot gastroknemius (L5,S1,S2, saraf tibialis). Pasien
tengkurap, kemudian disuruh memfleksi plantar kakinya.

14

c.

Pemeriksaan otto fleksor digitorum longus (S1, S2, saraf tibialis). Jarijari kaki diplantar fleksikan (sambil diberi tahanan oleh pemeriksa).

Gambar 6. Pemeriksaan kekuatan otot (dikutip dari kepustakaan 7 )

15

Dengan demikian dapat pula dinilaiotot-otot yang memplantarfleksikan dan


mendorsofleksikan kaki dan jari-jari. Bila ditemukan kelumpuhan, perlu
dilakukan pemeriksaan yang lebih rinci. 8

Gambar 7. Pemeriksaan Kekuatan Otot Anggota Gerak Atas (dikutip dari kepustakaan 6)

16

Gambar 8. Pemeriksaan kekuatan otot (dikutip dari keputaskaan 6)


8)

Gerakan abnormal yang tidak terkendali.


Di antara gerakan abnormal yang tidak terkendali yang kita kenal
ialah; termor, khorea,atetose, dystonia, balismus, spasme, tik,
fasikulasi, dan miokloni. 4
1) Tremor ialah serentetan gerakan involunter, agak ritmis,
merupakan getaran, yang timbul karena berkontraksinya oto-otot
yang berlawanan secara bergantian. Ia dapat melibatkan satu atau
lebih bagian tubuh. Jenis tremor yang dikenal yaitu tremor normal
atau fisiologis; tremor halus (disebut juga tremor toksik)< dan
tremor kasar.

Gambar 9. Tremor ( dikutip dari kepustakaan 5)

17

2) Khorea berasal dari kata yunani berarti menari. Pada khorea gerak
otot berlangsung cepat, sekonyong-konyong, aritmik dan kasar
yang dapat melibatkan satu ekstremitas, separuh badan atau
seluruh badan.

Gambar 10 . pergerakan khorea pada pasien Huntinton diseases (dikutip dari


kepustakaan 5)
3) Atetose. Kata atetose dari kata yunani yang berarti berubah.
Berlainan dari khorea yang gerakannya berlangsung cepat,
mendadak, dan terutama melibatkan bagian distal, maka atetose
ditandai oleh gerakan yang lebih lamban, seperti gerak ular dan
melibatkan otot bagian distal. Namun, demikian hal ini cenderung
menyebar juga ke proximal. Atetosis dapat dijumpai pada banyak
penyakit yang melibatkan ganglia basal.
4) Distonia. Bila terjadi kerusakan pada susunan ekstrapiramidal
yang melibatkan beberapa komponen ganglia basal, didapatkan
gejala yang kompleks.
5) Balismus ialah gerak otot yang dating sekonyong-konyong, kasar,
dan cepat, dan terutama mengenai otot-otot skelet yang letaknya

18

proksimal, sedangkan pada khorea, gerakan otot kasar, cemepat


dan terutama melibatkan otot-otot yang agak distal.
6) Spasme merupakan gerakan abnormal yang terjadi karena
kontraksi otot-otot yang biasanya disarafi oleh satu saraf. Spasme
klonik mulai sekonyong-konyong, berlangsung sebentar dan dapat
berulang-ulang. Spasme tonik dapat berlangsung lama dan terusmenerus. Spasme dapat timbul karena iritasi saraf perifer atau otot,
tetapi dapat juga timbul karena iritasi disuatu tempat, mulai
mengdari korteks sampai ke serabut otot.
7) Tic. Penyebab tic belum diketahui. Tik merupakan suatu gerakan
yang terkoordinir, berulang dan melibatkan sekelompok otot yang
berhubungan yang sinergistik.

Gambar 11 . Tic ( dikutip dari kepustakaan 5)


8) Fasikulasi merupakan gerakan halus, cepat dan berkedut dari satu
fasikulus serabut oto atau satu uni motorik.
9) Miokloni ialah gerakan yang timbul karena kontraksi otot secara
cepat, sekonyong-konyong, sebentar, aritmik, asinergik dan tidak
terkendali.

19

Gambar 11. Myoclonic (dikutip dari kepustakaan 5)

Refleks Fisiologis
1. Refleks Glabella.
Pukulan singkat pada glabella atau sekitar daerah supraorbitalis
mengakibatkan kontraksi singkat kedua otot orbikularis okuli. Pada lesi
nervus facialis, refleks ini berkurang atau negatif, sedangkan pada sindrom
parkinson refleks ini sering meninggi. Pusat refleks ini terletak di pons.4
2. Refleks Rahang bawah (Jaw Refleks)
Penderita diminta membuka mulutnya sedikit dan telunjuk pemeriksa
di tempatkan melintang di dagu. Setelah itu,telunjuk diketuk-refleks (refleks
hammer) yang mengakibatkan berkontraksinya otot maseter sehingga mulut
merapat. Pusat refleks ini terletak di Pons. 4
3. Refleks Biseps
Pemeriksa memegang lengan pasien yang disemifleksikan sambil
menempatkan ibu jari diatas tendon otot biseps. kemudian di ketok; hal ini
mengakibatkan gerakan fleksi lengan bawah. Pusat refleks ini terletak di
C5-C6. Aferen terletak pada musculocutaneus, eferen

terletak pada

musculocutaneus. 4

4. Refleks Biseps
Pemeriksa memegang lengan pasien yang disemifleksikan sambil
menempatkan ibu jari diatas tendon otot biseps. Ibu jari kemudian di ketok;
hal ini mengakibatkan gerakan fleksi lengan bawah. Pusat refleks ini
terletak di C5-C6. Aferen terletak pada musculocutaneus, eferen terletak
pada musculocutaneus.4
5. Refleks Triseps.
20

Pemeriksa memegang lengan pasien yang semifleksikan. Setelah itu di


ketuk pada tendon insersi M. Triseps, yang berada sedikit di atas olekranon.
Sebagai jawaban, ini lengan bawah mengadakan gerakan ekstensi.
Lengkung refleks melalui nervus radialis yang pusatnya terletak di C6-C8.
Aferen terletak pada N. Radialis, eferen terletak pada N. Radialis. 4
6. Refleks Brachioradialis(refleks radius)
Lengan bawah di fleksikan serta di pronasika sedikit.kemudian di
ketok pada prosesus stiloideus radius. Sebagai jawaban lengan bawah akan
berfleksi dan bersupinasi.lengkung refleks melalui nervus radialis, yang
pusatnya terletak di C5-C6. Aferen terletak pada N. Radialis, eferen terletak
pada N. Radialis. 4
7. Refleks Ulna
Lengan bawah disemifleksi dan semipronasi, kemudian di ketok pada
prosesus stiloideus dan ulna. Hal ini mengakibatkan gerakan pronasi pada
lengan bawah dan juga kadang-kadang adduksi pada pergelangan
tangan.lengkung refleks melalui nervus medianus yang pusatnya terletak di
C5-Th1. Aferen tyerletak pada N. Ulnaris, eferen terletak pada N. Ulnaris. 4
8. Refleks dalam dinding perut
Dinding perut pasien, yang disuruh berbaring, ditekan sedikit dengan
jari telunjuk atau dengan penggaris, kemudian diketuk. Otot dinding perut
akan berkontraksi. Lengkung refleks ini melalui Th6-Th12. Pada orang
normal kontraksi dinding perut sedang saja, pada orang penggeli reaksi ini
dapat kuat. Bila refleks dinding dalam dinding perut meninggi, sedangkan
refleks superficialisnya negatif, maka hal ini dapat menandakan adanya lesi
piramidal pada yang lebih atas dari Th6. 4
9. Refleks Kuadriseps Femoris (Refleks Tendon Lutut, Refleks Patella)
Pada pemeriksaan ini, tungkai difleksikan dan digantungkan, misalnya
pada tepi tempat tidur kemudian diketok pada muskulus kuadrisep femoris,
di bawah atau di atas patella. Kuadrisep femoris akan berkontraksi dan
mengakibatkan gerakan ekstensi tungkai bawah. Lengkung refleks ini

21

melalui L2,L3,L4. Aferen terletak pada N. Femoralis, eferen terletak pada


N. Femoralis. 4
10. Refleks Trisep Sure (Refleks Tendon Achillles)
Tungkai bawah difleksikan sedikit kemudian kita pegang kaki pada
ujungnya untuk memberikan sikap dorsofleksi ringan pada kaki.setelah itu,
tendon achiles diketuk. Hal ini mengakibatkan berkontraksinya M. Trisesps
sure dan memberikan gerak plantar fleksi pada kaki. Lengkung refleks ini
melalui S1,S2. Aferen terletak pada N. Tibialis, eferen terletak pada N.
Tibialis. 4

Gambar 12. pemeriksaan untuk kekuatan reflesk otot (A). Biceps, (B). Triceps, (C) Quadriceps
femoris, (D) tendon Achilles (dikutip dari kepustakaan 5)

Refleks Fisiologis
1) Babinsky
Cara : penggoresan telapak kaki bagian lateral dari posterior ke anterior.
Respon : ekstensi ibu jari kaki dan pengembangan jari kaki lainnya
2) Chadock

22

Cara : penggoresan kulit dorsum pedis bagian lateral sekitar maleolus lateralis
dari posterior ke anterior. Respon : seperti babinsky
3) Oppenheim
Cara : pengurutan krista anterior tibia dari proksiml ke distal. Respon : seperti
babinsky
4) Gordon
Cara : penekanan betis secara keras.Respon : seperti babinsky
5) Schaefer
Cara : memencet tendon achilles secara keras. Respon : seperti babinsky
6) Gonda
Cara : penekukan (plantar fleksi) maksimal jari kaki ke-4. Respon : seperti
babinsky
7) Stransky. Cara : penekukan (lateral) jari kaki ke-5. Respon : seperti
babinsky
8) Rossolimo
Cara : pengetukan pada telapak kaki. Respon : fleksi jari-jari kaki pada
sendi interfalangeal
9)

Mendel-Beckhterew
Cara : pengetukan dorsum pedis pada daerah os coboideum. Respon :
seperti rossolimo

10)

Hoffman
Cara : goresan pada kuku jari tengah pasien. Respon : ibu jari,
telunjuk dan jari lainnya fleksi

23

11)

Trommer
Cara : colekan pada ujung jari tengah pasien. Respon : seperti
Hoffman

12)

Leri
Cara : fleksi maksimal tangan pada pergelangan tangan, sikap lengen
diluruskan dengan bgian ventral menghadap ke atas. Respon : tidak
terjadi fleksi di sendi siku

13)

Mayer
Cara : fleksi maksimal jari tengah pasien ke arah telapk tangan
Respon : tidak terjadi oposisi ibu jari

Gambar 13. Pemeriksaan reflex patologis babinsky.

DAFTAR PUSTAKA
1. Barker, Roger. 2013. Neuroscience at a Glance. Blackwell Science. USA.p 74
2. Mardjono,M. And Sidharta,P. 1994. Neurologi Klinis Dasar. Susunan
neuromuskular. (Dian Rakyat, Jakarta). pp 1-12.
3. Duus, Peter. 2009. Diagnosis Topik Neurologi. Sistem Motorik. EGC. Jakarta.
p 31-73, 56.
4. Lumbantobing, S.M. 2012. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental.
FKUI, Jakarta. Pp.88-106.
24

5. Jones, Royden H. 2012. Netters Neurology. Philadephia: Elsevier Saunders.


Pp. 17-18.
6. Lindsay, Kenneth W, Ian Bone, Robin Callander. 2013. Neurology &
Neurosurgery Illustrated 3th Edition. London: Churchill Livingstone. pp. 2021, 25-26.
7. Corbett, J. 2013. Fundamental neuroscience for basic and clinical
applications. Elsevier.p 454-467
8. Ginsberg, Lionel. 2009. Lecture Notes Neurologi. Jakarta : Airlangga. Pp. 41

25