Anda di halaman 1dari 9

Execituve Summary

Project Background
Karbondioksida (CO2) adalah gas yang tidak berwarna dan tidak beracun yang masuk ke
atmosfer akibat adanya pembakaran bahan bakar fosil (batubara, gas alam, dan minyak),
limbah padat, kayu, pepohonan dan juga dihasilkan oleh beberapa proses kimia seperti dalam
pembuatan amoniak. Data dari Energy Information Administration (EIA) di Amerika
menunjukkan pada tahun 2011 emisi CO2 mempunyai porsi 84% dari total emisi gas rumah
kaca yaitu 6,700 juta ton, 82% dari pembakaran fosil dan 2% dari proses lainnya.
Carbon Capture and Storage (CCS) adalah proses menangkap limbah CO 2 dari suatu
sumber seperti pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Tujuannya adalah mencegah
pelepasan sejumlah besar CO2 ke atmosfer.
Beberapa penelitian tentang penangkapan CO2 telah dilakukan di luar negeri, antara lain
Adsorbent Materials for Carbon Dioxide Capture from Large Anthropogenic Point Sources,
Capture of CO2 from Combustion Gases in a Fluidized Bed of CaO, Carbon Dioxide Capture
from Flue Gas Using Dry Regenerable Sorbents, dan lain-lain. Sementara di Indonesia
sendiri penelitian yang berkaitan dengan penangkapan CO2 ini sangat minim.

Target Pasar

Selain memberikan dampak buruk yaitu pencemaran bagi lingkungan, karbondioksida


(CO2) juga diperlukan oleh manusia dalam jumlah besar untuk kebutuhan industri. Beberapa
contoh penggunaan karbondioksida untuk kepentingan industri antara lain untuk industri
minuman berkarbonasi, pembuatan urea, dan lain-lain. Beberapa industri yang membutuhkan
CO2 antara lain PT. Coca Cola, PT. Aneka Gas Industri, PT. Pupuk Sriwidjaja, PT. Pupuk
Kujang, PT. Petrokimia Gresik, PT. Pupuk Kaltim, dan lainnya.
Berikut ini merupakan data mengenai ekspor dan impor CO 2 di Indonesia selama 4 tahun
terakhir.
Tabel 1. Data ekspor karbondioksida
2012
Berat
Nilai
(kg)
(US $)
224.00
101
9

2013
Berat
Nilai
(kg)
(US $)
918.09
429.922
9

2014
Berat
Nilai
(kg)
(US $)
276.05
760
8

2015
Berat
Nilai
(kg)
(US $)
197

77

Tabel 2. Data impor karbondioksida


2012
Berat
Nilai
(kg)
(US $)
7382.7 4462.1
54
3

2013
Berat
Nilai
(kg)
(US $)
5676.9 2324.1
54
17

2014
Berat
Nilai
(kg)
(US $)
10562. 4433.5
01
94

2015
Berat
Nilai
(kg)
(US $)
3753.6 1430.6
58
64

Dari data di atas dapat dilihat bahwa kapasitas CO 2 yang diimpor lebih banyak daripada
yang diekspor di Indonesia. Hal ini disebabkan industri di Indonesia membutuhkan CO2

dalam jumlah yang banyak untuk keperluan bahan baku industri, sedangkan industri yang
menghasilkan dan mengolah emisi gas buang CO2 masih minim.

Kapasitas CO2 yang dihasilkan industri di Indonesia

Kebutuhan CO2 untuk berbagai industri di Indonesia mencapai 250 ton/hari. PT. RMI
merupakan salah satu perusahaan di Indonesia yang bergerak di bidang pengolahan CO 2 yang
berasal dari emisi gas buang CO2 menjadi gas CO2 murni. PT. RMI mampu mengolah dan
menghasilkan sekitar 3 ton CO2 murni/jam. Oleh karena itu pendirian pabrik untuk
menangkap dan mengolah produk samping CO2 ini bermanfaat dan akan sangat
menguntungkan di Indonesia. Berikut adalah beberapa industri yang menghasilkan CO2
dalam proses produksinya beserta kapasitas CO2 yang dihasilkan:
Tabel 3. Pabrik produsen CO2 di Indonesia
Produsen

Kapasitas
15.360
ton/tahun
PT. SIER (Surabaya Industrial Estate Rungkut)
21.225
ton/tahun
PT. RMI (Resources Jaya Teknik Manajemen Indonesia)
26.000
ton/tahun
PT Petrokimia Gresik
10.000
ton/tahun
PT. Semen Indonesia
6.000 ton/tahun
PT. Pupuk Sriwidjaja
20.000
ton/tahun
Berdasarkan data di atas, kapasitas pendirian pabrik PT. CHE5DIF ini direncanakan
menghasilkan 90.000 ton CO2/tahun. Penentuan kapasitas ini berdasarkan kepada pemenuhan
kebutuhan CO2 di Indonesia itu sendiri dan dari pabrik yang telah lama memproduksi CO2.
PT. Molindo Inti Gas

Raw Material
Pertimbangan pemilihan bahan baku yang akan digunakan merupakan salah satu hal
yang penting dilakukan agar produk yang dihasilkan pun sesuai dengan spesifikasi yang
diinginkan. Adapun bahan baku yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk di PT.
CHE5DIF ini, yaitu:
1. Flue Gas
Flue gas merupakan gas buang yang tidak terpakai dan dikeluarkan melalui cerobong
suatu pabrik. Umumnya, flue gas terdiri dari CO2, H2O, N2, dan O2. Flue gas yang
digunakan diperoleh dari PLTU Suralaya dengan komposisi CO 2 13.50 %mol, H2O 15.17
%mol, N2 68.08 %mol, O2 2.43 %mol, dan argon 0.82 %mol pada temperatur 57.2oC dan
tekanan 103 kPa. Flue gas yang dibutuhkan adalah sebesar 440.000 ton/tahun untuk
menghasilkan gas CO2 sebanyak 90.000 ton/tahun.
2. Ammonia Cair

Ammonia cair yang digunakan sebagai absorber gas CO 2 dapat di supply dari PT.
Pupuk Kujang yang memproduksi ammonia sebesar 660.000 ton/tahun. Pada tahun 2014,
total produksi ammonia PT. Pupuk Kujang sebesar 592.000 ton mengalami kenaikan
sebesar 1,53% atau 8.900 ton dibandingkan produksi tahun 2013 sebesar 584.000 ton
seperti yang terlihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Kapasitas Produksi Ammonia PT. Pupuk Kujang (2013-2014)[1]

3. Water
Air yang digunakan dapat di supply dari PDAM dengan volume air sebesar 1.600.000
m /tahun.
3

Production Method
Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk memisahkan CO 2. Salah satunya
adalah absorbsi menggunakan ammonia cair. Proses absorbsi menggunakan amonia untuk
memisahkan CO2 dari gas buang telah diketahui sangat efektif. Jumlah CO2 yang dapat larut
dalam larutan tergantung pada konstanta hukum Henry, dan pH larutan. Konstanta hukum
Henry tentang CO2 menurun dengan meningkatnya suhu dan kekuatan ion dari larutan. CO2
yang diserap dapat terpisah untuk membentuk bikarbonat, HCO3- dan karbonat, ion CO32-.
Semakin tinggi pH maka penyerapan CO2 akan semakin efektif. Konstanta kesetimbangan
dan koefisien aktivitas menentukan konsentrasi spesies dalam solusi. Reaksi potensial yang
menggambarkan pelepasan CO2 dalam regenerator dan panas pembentukan yang sesuai[:
2NH4HCO3(aq) (NH4)2CO3(aq) + CO2(g) + H2O
Adapun perbandingan proses penangkapan
kekurangannya adalah sebagai berikut.

CO2

Hrx = 6.4 kcal/mol

dilihat

dari

kelebihan

dan

Tabel 5. Perbandingan proses untuk penangkapan CO2


Parameter

Membran

Kelebihan
Kadar CO2
yang
dihasilkan bisa
< 2 %mol
Bisa
digunakan

Cryogenic
Sangat cocok
untuk gas yang
memiliki kadar
CO2 yang tinggi

Adsorbsi
Molecular
sieve tidak
mengalami
degradasi
mechanical
Proses
operasinya

Absorbsi
Amine
Ammonia
Dapat
Dapat
menampung
menampung
gas CO2
gas CO2 lebih
dengan
besar daripada
kapasitas
amine
besar
Efisiensi
Efisiensi
pemisahan
pemisahan

untuk kadar
CO2 yang
besar
Cocok untuk
offshore
karena
membutuhkan
ruangan kecil
Instalasi yang
mudah dan
murah

Menghasilkan
CO2 liquid yang
penanganannya
lebih mudah

mudah

CO2 yang
tinggi

Mempunyai
keuntungan
pengurangan
kadar air

Konsumsi
energi rendah

Tidak ada
chemical
losses

Proses yang
sudah
terbukti

Kekurangan

Sensitif
terhadap
perubahan
kondisi umpan
Pressure drop
besar
Selektivitas
yang buruk

Membutuhkan
energi yang
sangat besar
untuk refigerasi

Biaya operasi
besar

Produk
samping dapat
dijual sebagai
produk
Biaya operasi
lebih rendah
dari amine

Perawatannya
mudah
Biaya
investasinya
besar jika
digunakan
dalam kurun
waktu yang
lama

yang lebih
besar daripada
amine
Konsumsi
energi lebih
rendah
daripada
amine

Sensitive
deaktivasi
terhadap
liquid
Proses dibatasi
oleh laju yang
kecil pada
tekanan
sedang
Panas untuk
regenerasi
hingga
temperatur
400-500oF

Adanya
make-up
secara
kontinyu
yang
disebabkan
amine yang
terbawa di
gas asam

Tingkat
penyerapan
lebih lambat
dibandingkan
dengan amine

Dari kelima proses diatas dipilih proses absorbsi menggunakan amonia cair. Pemilihan
proses ini berdasarkan pada pertimbangan berikut :
1. Efisiensi pemisahan CO2 yang tinggi.
2. Konsumsi energi yang paling rendah diantara proses lainnya.
3. Biaya operasi yang rendah.
4. Produk samping dapat dijual kembali untuk meningkatkan keuntungan.

Site Selection
Lokasi pembangunan pabrik merupakan salah satu pertimbangan penting agar produk
yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan. Adapun pertimbangan untuk
pemilihan lokasi pabrik diantaranya adalah penyediaan bahan baku, pemasaran produk,
transportasi, ketersediaan tenaga kerja, ketersediaan utilitas, kondisi geografis dan kondisi
sosial.
Berdasarkan pertimbangan tersebut maka pabrik produksi CO 2 akan didirikkan di salah
satu tempat antara Cilegon, Sumatera Selatan, atau Jawa Timur. Adapun pertimbangan
pemilihan lokasi pembangunan pabrik ialah sebagai berikut.

Tabel 6. Data Pemilihan Lokasi


Faktor
Daerah
Proximity to raw
material
Proximity to product
market

Lokasi 1
Lokasi 2
Lokasi 3
Cilegon
Sumatera Selatan
Jawa Timur
PT Indonesia Power PLTU Tanjung Enim PLTU Paiton
UBP PLTU Suralaya
PT Pupuk Kujang
PT Pupuk Sriwidjaja PT Petrokimia Gresik
PT Coca Cola
PT Coca Cola
Darat
Darat
Darat
Pelabuhan
Pelabuhan Tanjung Pelabuhan Tanjung
Infrastructure
Tanjung Priok & Api-Api
Tembaga
Merak
Listrik menggunakan Listrik menggunakan Listrik menggunakan
PLN
Suralaya PLTU Tanjung Enim PLTU Paiton 2.500
Utilities
sebesar 3.400 MW
260 MW
MW
Air
menggunakan Air
menggunakan Air
menggunakan
PDAM
PDAM
PDAM
Tenaga Kerja
Terdapat
25.487 Terdapat
6.696 Terdapat
13.195
tenaga kerja yang tenaga kerja siap tenaga kerja yang
siap diperkerjakan
diperkerjakan
siap diperkerjakan
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut maka lokasi pabrik yang akan
digunakan adalah Cilegon di PLTU Suralaya dengan alasan:
1. Sumber bahan baku utama yang dekat dengan lokasi pabrik memudahkan pabrik untuk
memproduksi CO2 dalam jumlah yang besar. Sumber bahan baku berupa flue gas yang
dihasilkan dari PLTU Suralaya.
2. Lokasi yang cukup strategis sehingga memudahkan pendistribusian ke Pulau Jawa dan
Sumatera.
3. Transportasi dapat dilakukan di darat maupun laut.
4. Sumber air dan listrik yang tersedia cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan penggunaan
utilitas di pabrik.

Gambar 1. Lokasi PLTU Suralaya[2]

Gambar 2. Lokasi pembangunan PT. CHE5DIF di Desa Suralaya Kecamatan Pulo Merak
Cilegon, Banten[2]
Proposed process flow diagram

Sistem dioperasikan menggunakan sebuah absorber untuk menangkap CO 2 ke dalam


aliran diikuti oleh sebuah unit stripper untuk meregenerasikannya sebagai gas. Flue gas ini
didinginkan dengan air pendingin hingga suhu yang sesuai untuk penyerapan. Flue gas yang
telah didinginkan dan ammonia cair dialirkan kedalam menara absorpsi. Di dalam absorber,
ammonia cair menjerap gas CO2, sehingga aliran keluar dari absorber adalah flue gas yang
mengandung sedikit CO2 dan cairan ammonia yang kaya akan CO2.
Sedangkan flue gas yang keluar dari absorber digunakan kembali sebagai ammonia make-up
agar proses berjalan secara kontinyu. Aliran yang kaya akan CO2 diumpankan ke stripper
untuk memisahkan CO2 dari cairan amonia. Reboiler digunakan pada stripper untuk
menyediakan energi yang dibutuhkan untuk mengubah fasa karbon dioksida menjadi gas.
CO2 yang dihasilkan dari stripper selanjutnya dikompresi. Produk cair dari stripper adalah
cairan amonia yang mengandung sedikit CO 2 yang kemudian digunakan kembali sebagai
umpan pada absorber.
Other proposals and recommendations

Metode lain yang dapat digunakan untuk memisahkan CO2 diantaranya adalah:
1. Pemisahan CO2 dengan metode adsorpsi
Pemisahan dengan adsorpsi menggunakan prinsip penyerapan CO2 pada permukaan
adsorben melibatkan reaksi kimia. Adsorben yang sering digunakan dalam proses ini ialah
Iron Sponge, Zinc Oxide, dan Molecular Sieve (Antonius, 2012).
2. Pemisahan CO2 dengan menggunakan membran
Membran bekerja dengan cara melakukan permeasi terhadap komponen gas yang
akan dipisahkan sehingga komponen gas tersebut larut terhadap membran dan berdifusi
melewati membran.
3. Pemisahan CO2 dengan metode Cryogenic
CO2 dapat dipisahkan dari gas dengan cara pendinginan (-70 F). Biasanya digunakan
untuk gas yang memiliki konsentrasi CO2 yang tinggi (>90%).
4. Absorbsi menggunakan amine
Proses absorpsi gas asam dari gas dapat dilakukan dengan pelarut amine yang dapat
berupa MEA (Monoethanolamine), DGA (Diglycolamine), DEA (Diethanolamine), DIPA
(Diisopropanolamine), MDEA (Methylethanolamine).

References
[1] Laporan Tahunan Peningkatan Kerja & Inovasi Berkelanjutan PT Pupuk Kujang.
http://www.pupuk-kujang.co.id/production/proses-dan-kapasitas-produksi/2uncategorised/533-ar-sr-2014 diakses pada 22 September 2015
[2]

Lokasi PLTU Suralaya. https://www.google.com/maps/place/PLTU+Suralaya/@5.8928554,106.0303722,16z/data=!4m2!3m1!


1s0x2e4196c4ffffffff:0x3e447ac40448521c diakses pada 22 September 2015

[3] PT. Molindo Inti Gas. http://www.molindointigas.co.id/ diakses pada 16 September 2015
[4] PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang. http://www.pusri.org/index0300.php diakses pada 24
September 2015
[5] Eksim Karbondioksida. http://www.kemenperin.go.id/ diakses pada 17 September 2015
[6] Antara Global Warming Menciptakan Peluang Usaha. http://www.menlh.go.id/antaraglobal-warming-menciptakan-peluang-usaha/ diakses pada 17 September 2015
[7]

Bahtiar, Muhammad Rais. 2015. Gas Rumah Kaca dan Sumbernya.


http://www.academia.edu/5917450/Tugas_1 diakses pada 17 September 2015

[8] Hastuti, Indri, Haryo Sulistyarso. 2012. Penyediaan Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan
Nilai Emisi CO2 di Kawasan Industri Surabaya. Surabaya: Fakultas Teknik Sipil
dan Perencanaan ITS.
[9] PT. Semen Indonesia. 2013. Ringkasan Kinerja Pengelolaan Lingkungan PT Semen
Indonesia (PERSERO) Tbk. Jawa Timur.
[10] Kozak F, Petig A, Morris E, Rhudy R, Thimsen D. Chilled Ammonia Process for CO2
Capture. Energy Procedia 1 (2009): 1419-1426.

[11] Sherrick B, Hammond M, Spitznogle G, Muraskin D., Black S., and Cage M. CCS with
Alstoms Chilled Ammonia Process at AEPs Mountaineer Plant.
http://secure.awma.org/presentations/Mega08/Papers/a167 1.pdf diakses pada 17
September 2015
[12] Yeh, A. Comparison of Ammonia and Monoethanolamine Solvent to Reduce CO 2
Greenhouse Gas Emissions. The Science of the Total Environment 228 2-3
(1999): 121-33. Print.
[13] Yeh, James T., Henry W. Pennline, Kevin P. Resnik, and Kathy Rygle. Absorption and
Regeneration Studies for CO2. Proceedings of Third Annual Conference on
Carbon Capture & Sequestration, Alexandria, VA. U.S. DOE-NETL and Parson
Project Services, Inc.
[14] Alibaba.com

LAMPIRAN
NERACA MASSA DAN PERHITUNGAN GROSS PROFIT MARGIN

Tabel 7. Data Perhitungan Neraca Massa


Senyaw
a
CO2
NH3
H2O

Mol masuk
(mol/hari)
5684795
282352,9
6388025

Mol keluar
(mol/hari)
5602739,73
282352,94
5608,22

Peroleha
n
98,56%
0
0,09%

Tabel 8. Data Perhitungan Gross Profit Margin


Kapasitas
Produksi
(ton/tahun)
Produk
CO2
90.000
Bahan Baku Ammonia Cair
1.752
Harga untuk 1 ton CO2 = 1800 USD

Produksi
Harga (Rp)
(ton/hari)

1 ton Ammonia Cair = 180 USD


1 USD = Rp. 14.717
GPM = Rp. (Jumlah Produk Jumlah Bahan Baku)
= Rp. (7.199.844.000 12.720.000)/ hari
= Rp. 7.187.124.000/ hari

246,57
4,8

29.200.000
2.650.000

Kalkulasi
(Rp/hari)
7.199.844.000
12.720.000