Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM KIMIA FISIK II

KONSENTRASI KRITIS MISEL

Oleh :
NI MADE DIAN ANDERIANI
13/347260/PA/15185

Selasa, 5 juni 2015


Asisten Pembimbing : Ardiano Fauzy
Sesi : siang

LABORATORIUM KIMIA FISIK


DEPARTEMEN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2015

Critical Micelle Concentration


Ni Made Dian Anderiani
13/347260/PA/15185
ABSTRACT

The purpose of the critical micelle concentration experiment is


to determine the critical micelle concentration of gelatin in water solvent and
value of enthalpy.
In these experiments determine the critical micelle
concentration, used gelatin to form micelles. micelle solution with varying
concentrations of 2.1 g / L, 2.22 g / L, 2.26 g / L, 2.30 g / L, 2.34 g / L and 2.38 g /
L at various temperatures is 30'C, 32'C, 34 'C, 36'C and 38'C measured electrical
conductivity caused by the movement of the particles in a solution using
konductometer.
Based on experimental results obtained by the value of the
critical micelle concentration at temperature of 30'C is 2.30 g / L, at a
temperature of 32'C is 2.22 g / L, temperatures of 34'C is 2.30 g / L , at a
temperature of 36'C is 2.34 g / L and at temperatures 38'C is 2.38 g / L . So, the
value of enthalpy is -4718.15 j/mol .

Keyword : critical micelle concentration, gelatin, micelle, konductometer

KONSENTRASI KRITIS MISEL


1. TUJUAN
Menentukan konsentrasi kritis misel dari gelatin pada pelarut air dan penentuan harga
entalpinya.
2. DASAR TEORI
Kelarutan suatu zat didefinisikan sebagai jumlah solut yang dibutuhkan untuk
menghasilkan suatu larutan jenuh dalam sejumlah solven. Pada suatu temperatur tertentu,
suatu larutan jenuh yang bercampur dengan solut yang tidak terlarut merupakan contoh lain
dari keadaan kesetimbangan dinamik. (Moechtar, 1989). Kelarutan suatu bahan dalam suatu
pelarut tertentu menunjukkan konsentrasi maksimum larutan yang dapat dibuat dari bahan
dan pelarut tersebut. Jika suatu pelarut pada suhu tertentu melarutkan semua zat terlarut
sampai batas daya melarutkannya, larutan ini disebut larutan jenuh. (Ansel, 1990).
Misel adalah molekul-molekul surfaktan yang mulai berasosiasi karena penambahan
surfaktan berikutnya, pada satu saat akan tercapai keadaan dimana permukaan antarmuka
menjadi jenuh atau tertutupi oleh surfaktan dan adsorbi surfaktan ke permukaan-permukaan
tidak terjadi lagi. Misel dalam larutan encer membentuk suatu kumpulan dengan kepala
gugus hidrofilik bersinggungan dengan pelarut yang mengelilinginya, mengasingkan ekor
gugus hidrofobik didalam pusat misel. Miselisasi terjadi akibat interaksi hidrofobik. Interaksi
hidrofobik akan menolak atau menjauhkan ekor hidrokarbon dari surfaktan terhadap air, dan
akan menghasilkan agregasi, sedangkan grup kepala yang hidrofilik akan tetap berkontak
langsung dengan air. Konsentrasi setimbang dimana monomer surfaktan membentuk misel
disebut konsentrasi miselisasi kritis (critical micellization concentration, cmc). Satu misel
umunya akan berisi 50-100 monomer(Lindman dan Stilbs, 1984).

Gelatin adalah produk alami yang diperoleh dari hidrolisis parsial kolagen. Gelatin
merupakan protein yang larut yang bisa bersifat sebagai gelling agent (bahan pembuat gel)
atau sebagai non gelling agent. Sumber bahan baku gelatin dapat berasal dari sapi (tulang dan

kulit jangat), babi (hanya kulit) dan ikan(hastuti dan sumpe, 2007). Susunan amino gelatin
hampir mirip dengan kolagen, dimana 2/3 penyusunnya adalah glisin dan sepertiganya
disusun oleh prolin dan hidroksiprolin. Sifat fisik yang sangat mempengaruhi kualitas gelatin
antara lain kekuatan gel, viskositas dan titik leleh. Sifat-sifat ini dipengaruhi oleh beberapa
faktor, seperti konsentrasi larutan gelatin, waktu pemanasan gel, suhu pemanasan gel, pH dan
kandungan garam . Selain itu faktor dalam proses ekstraksi gelatin sendiri, seperti keasaman
larutan perendam, lama perendaman dan suhu ekstraksi diduga juga mempengaruhi sifat
gelatin tersebut(Tazwir, dkk., 2007)
Konduktivitas suatu larutan elektrolit, pada setiap temperatur hanya bergantung pada
ion yang ada, dan konsentrasi ion tersebut. Bila larutan suatu elektrolit diencerkan,
konduktivitas akan turun karena terdapat ion dengan jumlah lebih sedikit yang berada tiap
cm3 larutan untuk membawa arus. Jika semua larutan itu ditaruh antara dua elektrode yang
terpisah 1 cm satu sama lain dan cukup besar untuk mencakup seluruh larutan, konduktivitas
akan naik pada saat larutan diencerkan. Ini sebagian besar disebabkan oleh berkurangnya
efek antar ionik untuk elektrolit kuat dan oleh kenaikan derajat disosiasi untuk elektrolit
lemah(Mukhlas dan Yushardi, 2012)
3. METODE PERCOBAAN
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah labu ukur 100 mL, labu ukur
1 L, gelas beker 10 mL, gelas beker 250 ml, gelas arloji, pipet ukur 25 ml, pipet
pump, thermometer, pengaduk gelas, penangas , konduktometer
Adapun bahan yang digunakan adalah aquades, gelatin, es batu dan air panas
Cara kerja
Sebanyak 5 gram gelatin dilarutkan kedalam kurang lebih 250 mL aquades
panas dan diencerkan kedalam labu ukur 1 L. Diambil 42 : 44,4 : 45,2 : 46,8 : dan
47,6 mL untuk masing-masing diencerkan kedalam labu ukur 100 mL. kemudian
masing-masing larutan dikur daya hantar listriknya pada temperature 30, 32, 34, 36.
38C
Skema alat

kondumter

Lindman, B dan Stilbs, P. 1984. Surfactants in Solution Volume III (ed.


K.L. Mittal and B.
Lindman). New York: Plenum Press
dewi hastuti, iriane sumpe 2007,pengenalan dan proses pembuatan gelatin , jurnal
ilmu-ilmu pengetahuan.mediagro, vol.3 no 1 hal 39-48)
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol. 2 No. 1, Juni 2007

35
*)

Peneliti pada Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

OPTIMASI PEMBUATAN GELATIN DARI TULANG IKAN KACI-KACI


(Plectorhynchus chaetodonoides Lac.) MENGGUNAKAN BERBAGAI
KONSENTRASI ASAM DAN WAKTU EKSTRAKSI
Tazwir, Diah Lestari Ayudiarti dan Rosmawaty Peranginangin *)

UJI KUALITAS PUPUK ORGANIK BERDASARKAN DAYA HANTAR


LISTRIK PADA CAMPURAN KOMPOS DAN JERAMI PADI
Muhamad Mukhlas, Yushardi Jurnal Pembelajaran Fisika, Vol. 1 No. 1 Juni 2012, hal. 131-137
Moechtar, 1989, Farmasi Fisika : bagian larutan dan system Dispersi, Yogyakarta, ugm
press
.
Ansel, Howart C.,(1990),
Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi
, Universitas Indonesia, Jakarta