Anda di halaman 1dari 49

SKENARIO A

Ny Dina 25 tahun & Tn Sahid 27 tahun berasal dari suku Melayu memiliki seorang anak
bernama Nina usia 5 tahun yang didiagnosis oleh dokter spesialis anak menderita thalassemia
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan darah tepi dan analisis hemoglobin
dan setiap 20 hari sekali harus menjalani transfusi darah. Atas anjuran bagian Obgyn (obstetri
dan ginekologi) RSMH mereka datang ke Klinik Genetika FK Unsri untuk konsultasi karena
ingin mempunyai anak lagi yang diharapkan tidak menderita thalassemia.
Di Klinik Genetika, dilakukan pengambilan darah vena Ny Dina & Tn Sahid serta darah vena
Nina. Hasil pemeriksaan mikroskopik dan DNA didapatkan:
1. Ny Dina
- Morfologi RBC
-

Analisis DNA

2. Tn Sahid
- Morfologi RBC
-

Analisis DNA

: hipokrom mikrositik, anisopoikilositosis, cukup


sering ditemukan Sel Target, tear drops, dan sferosit.
: Heterozigot HbE yaitu mutasi Gen Globin Beta
Kodon 26 dari GAG (glutamat) menjadi AAG (lisin).
: sangat anisopoikilositosis, cukup sering ditemukan
Sel Target, tear drops dan ovalocytosis dan stomatocyte.
: Heterozigot mutasi Gen Globin Beta Kodon 41-42
berupa delesi TTCT dan Heterozigot mutasi Southeast Asian
Ovalocytosis berupa delesi 27 bp gen AE-1.

3. Nina
- Morfologi RBC
-

Analisis DNA

: sebagian hipokrom mikositik, anisopoikilositosis,


cukup sering ditemukan Sel Target dan Stomatocytes.
: Heterozigot HbE yaitu mutasi Gen Globin Beta
Kodon 26 dari GAG (glutamat) menjadi AAG (lisin) dan
Heterozigot mutasi Gen Globin Beta

Kodon 41-42 berupa

delesi TTCT.
I. KLARIFIKASI ISTILAH
Anamnesis : pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter dengan

cara melakukan serangkaian wawancara dengan pasien.


Thalassemia : penyakit yang diturunkan secara autosomal recessive akibat
dari berkurangnya pembuatan dari salah satu rantai asam amino yang
membentuk Hb.

Obgyn : dokter yang memiliki spesialisasi pendidikan selesai dengan


sukses dan pelatihan dalam kesehatan sistem reproduksi wanita, termasuk

diagnosis dan pengobatan gangguan dan penyakit


Pemeriksaan darah tepi :
Hb : pigmen pembawa oksigen eritrosit yang merupakan 4 rantai
polipeptida globin yang berbeda, masing-masing terdiri dari ratusan asam

amino.
Hipokrom: penurunan abnormal kandungan hemoglobin pada eritrosit
yang ditandai dengan pewarnaan yang kurang.

Mikrositik : keadaan eritrosit abnormal dengan ukuran yang lebih kecil


dari biasa, berdiameter 5 m atau kurang.

Anisopoikilositosis : eritrosit yang ukurannya berbeda-beda dan bentuknya

abnormal di dalam darah.


Analisis DNA : Teknik yang digunakan untuk analisis gen dan DNA
menggunakan kromosom, sidik jari, jejak kaki, hibridisasi in situ,

Jeffriess probe, PCR, analisis RLFP, dan hibridisasi Southern blot.


Sel target : eritrosit yang tipis, abnormal, menunjukkan pusat gelap dan
cincin Hb perifer, dipisahkan oleh suatu cincin pusat yang tak berwarna,
mengandung lebih sedikit Hb (sering terdapat pada penderita anemia,

thalassemia, hemoglobinopati, dll).


Tear drops : eritrosit abnormal berbentuk air mata karena proliferasi dari

sumsum tulang.
Sferosit : eritrosit kecil dan bulat tanpa pucat tengah di hemoglobin,

indikasi adanya anemia hemolitik.


HbE : Hb abnormal dengan perubahan dari lisin menjadi asam glutamat

pada kodon 26 rantai .


Gen Globin Beta Kodon : gen polipeptida globin beta.
Ovalocytosis : salah satu penyakit kelainan darah yang ditandai dengan sel

darah merah yang kebanyakan berbentuk elips.


Stomatocyte : eritrosit abnormal dengan daerah celah seperti mulut.

II.IDENTIFIKASI MASALAH
1. Ny Dina 25 tahun & Tn Sahid 27 tahun berasal dari suku Melayu memiliki
seorang anak bernama Nina usia 5 tahun yang didiagnosis oleh dokter
spesialis anak menderita thalassemia berdasarkan anamnesis, pemeriksaan

fisik, pemeriksaan darah tepi dan analisis hemoglobin dan setiap 20 hari sekali
harus menjalani transfusi darah.
2. Mereka berkonsultasi karena ingin mempunyai anak lagi dan diharapkan tidak
terkena thalassemia.
3. Hasil pemeriksaan mikroskopik & DNA dari pengambilan darah vena:
a. Ny Dina
Morfologi RBC : hipokrom mikrositik, anisopoikilositosis,
cukup sering ditemukan Sel Target, tear drops, dan
Analisis DNA

sferosit.
: Heterozigot HbE yaitu mutasi Gen Globin
Beta Kodon 26 dari GAG (glutamat) menjadi AAG
(lisin).

b. Tn Sahid
Morfologi RBC

Analisis DNA

: sangat anisopoikilositosis, cukup sering


ditemukan Sel Target, tear drops dan ovalocytosis dan
stomatocyte.
: Heterozigot mutasi Gen Globin Beta
Kodon 41-42 berupa delesi TTCT dan Heterozigot
mutasi Southeast Asian

Ovalocytosis berupa delesi

27 bp gen AE1.

c. Nina
Morfologi RBC

Analisis DNA

: sebagian hipokrom mikositik,


anisopoikilositosis, cukup sering ditemukan Sel Target
dan Stomatocytes.
: Heterozigot HbE yaitu mutasi Gen Globin
Beta Kodon 26 dari GAG (glutamat) menjadi AAG
(lisin) dan Heterozigot mutasi Gen Globin Beta
Kodon 41-42 berupa delesi TTCT.

Main Problem

III.

:3

ANALISIS MASALAH
1. a. Apakah ada hubungan antara suku dan penyakit thalassemia yang diderita Nina?
Ada, data hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita thalassemia terkait dengan
suku atau daerah tertentu, hal ini mungkin dapat timbul sebagai bentuk resistensi
terhadap penyakit malaria. Thalassemia banyak ditemukan pada daerah endemic
malaria. Hal tersebut juga didasarkan pada jenis thalasemia apa yang diderita, yaitu:
3

1. Alfa Thalasemia (melibatkan rantai alfa)


Alfa Thalasemia paling sering ditemukan pada orang kulit hitam (25%
minimal membawa 1 gen).
2. Beta Thalasemia (melibatkan rantai beta)
Beta Thalasemia pada orang di daerah Mediterania dan Asia Tenggara.
berasal dari satu suku bisa dikatakan berasal dari satu nenek moyang. Apabila
nenek moyang memiliki penyakit genetik maka keturunnya akan memilki gen
yang juga membawa kelainan ini. Dalam kasus ini, ayah dan ibu Nina berasal
dari suku yang sama yakni Melayu. Maka ada kemungkinan keduanya memiliki
gen pembawa kelainan thalassemia. Oleh sebab itu, kemungkinan anaknya
menderita thalassemia juga semakin besar.
b. Bagaimana patofisiologi thalassemia?
Hemoglobin paska kelahiran yang normal terdiri dari dua rantai alpa dan beta
polipeptide. Dalam beta thalasemia ada penurunan sebagian atau keseluruhan dalam

proses sintesis molekul hemoglobin rantai beta. Penyakit ini diturunkan melalui gen

yang disebut sebagai gen globin beta yang terletak pada kromosom 11. Pada manusia
kromosom selalu ditemukan berpasangan. Gen globin beta ini yang mengatur
pembentukan salah satu komponen pembentuk hemoglobin. Bila hanya sebelah gen
globin beta yang mengalami kelainan disebut pembawa sifat thalassemia-beta.
Seorang pembawa sifat thalassemia tampak normal/sehat, sebab masih mempunyai 1
belah gen dalam keadaan normal (dapat berfungsi dengan baik). Seorang pembawa
sifat thalassemia jarang memerlukan pengobatan. Bila kelainan gen globin terjadi
pada kedua kromosom, dinamakan penderita thalassemia (Homosigot/Mayor). Kedua
belah gen yang sakit tersebut berasal dari kedua orang tua yang masing-masing
membawa sifat thalassemia.
c. Apa saja jenis-jenis thalassemia?
Secara molekuler, thalassemia dapat dibedakan menjadi thalassemia alfa dan beta,
sedangkan secara klinis dapat dibedakan menjadi thalassemia mayor dan minor
Thalassemia dapat kita klasifikasikan berdasarkan jenis rantai globin apa yang
terganggu.
Berdasarkan dasar klasifikasi tersebut, maka terdapat beberapa jenis thalassemia,
yaitu thalassemia alfa, beta, dan delta.
1. Thalassemia alfa
Pada thalassemia alfa, terjadi penurunan sintesis dari rantai alfa globulin. Dan
kelainan ini berkaitan dengan delesi pada kromosom 16. Akibat dari kurangnya
sintesis rantai alfa,maka akan banyak terdapat rantai beta dan gamma yang tidak
berpasangan dengan rantai alfa. Maka dapat terbentuk tetramer dari rantai beta yang
disebut HbH dan tetramer dari rantai gamma yang disebut Hb Barts. Thalassemia
alfa sendiri memiliki beberapa jenis.
Delesi pada empat rantai alfa (Alpha Thalassemia Mayor)
Dikenal juga sebagai hydrops fetalis. Biasanya terdapat banyak Hb Barts.
Gejalanya dapat berupa ikterus, pembesaran hepar dan spleen, dan janin yang
sangat anemis. Biasanya, bayi yang mengalami kelainan ini akan mati beberapa
jam setelah kelahirannya atau dapat juga janin mati dalam kandungan pada
minggu ke 36-40. Bila dilakukan pemeriksaan seperti dengan elektroforesis

didapatkan kadar Hb adalah 80-90% Hb Barts, tidak ada HbA maupun HbF
Delesi pada tiga rantai alfa (HbH disease)
5

Dikenal juga sebagai HbH disease biasa disertai dengan anemia hipokromik
mikrositer. Dengan banyak terbentuk HbH, maka HbH dapat mengalami
presipitasi dalam eritrosit sehingga dengan mudah eritrosit dapat dihancurkan.

Jika dilakukan pemeriksaan mikroskopis dapat dijumpai adanya Heinz Bodies.


Delesi pada dua rantai alfa (Alpha thalassemia trait)
Juga dijumpai adanya anemia hipokromik mikrositer yang ringan. Terjadi

penurunan dari HbA2 dan peningkatan dari HbH


Delesi pada satu rantai alfa (Silent Carrier State)
Disebut sebagai silent carrier karena tiga lokus globin yang ada masih bisa
menjalankan fungsi normal.

2. Thalassemia beta
Disebabkan karena penurunan sintesis rantai beta. Dapat dibagi berdasarkan
tingkat keparahannya, yaitu thalassemia mayor, intermedia, dan karier. Pada
kasus thalassemia mayor Hb sama sekali tidak diproduksi. Akibatnya, penderita
akan mengalami anemia berat. Jika tidak diobati, bentuk tulang wajah berubah
dan warna kulit menjadi hitam. Selama hidupnya penderita akan tergantung
pada transfusi darah. Ini dapat berakibat fatal, karena efek sampingan transfusi
darah terus menerus yang berupa kelebihan zat besi (Fe).

a. Thalasemia beta mayor


Bentuk homozigot merupakan anemia hipokrom mikrositik yang berat dengan
hemolisis

di

dalam

sumsum

tulang

dimulai

pada

tahun

pertama

kehidupan.Kedua orang tua merupakan pembawa ciri. Gejala gejala


bersifat sekunder akibat anemia dan meliputi pucat, wajah yang karakteristik
akibat pelebaran tulang tabular pada tabular pada kranium, ikterus dengan
derajat yang bervariasi, dan hepatosplenomegali.
b. Thalasemia Intermedia dan minor
Pada bentuk heterozigot, dapat dijumpai tanda tanda anemia ringan dan
splenomegali. Pada pemeriksaan darah tepi didapatkan kadar Hb bervariasi,
normal agak rendah atau meningkat (polisitemia). Bilirubin dalam serum
meningkat, kadar bilirubin sedikit meningkat.
d. Bagaimana anamnesis dari penderita thalassemia?
Semua thalasemia memiliki gejala yang mirip, tetapi beratnya bervariasi. Sebagian
besar penderita mengalami anemia yang ringan. Pada bentuk yang lebih berat,
6

misalnya beta-thalasemia mayor, bisa terjadi sakit kuning (jaundice), luka terbuka
di kulit (ulkus, borok), batu empedu dan pembesaran limpa. Sumsum tulang yang
terlalu aktif bisa menyebabkan penebalan dan pembesaran tulang, terutama tulang
kepala dan wajah. Tulang-tulang panjang menjadi lemah dan mudah patah. Anakanak yang menderita thalasemia akan tumbuh lebih lambat dan mencapai masa
pubertas lebih lambat dibandingkan anak lainnya yang normal. Karena penyerapan
zat besi meningkat dan seringnya menjalani transfusi, maka kelebihan zat besi bisa
terkumpul dan mengendap dalam otot jantung, yang pada akhirnya bisa
menyebabkan gagal jantung. Gejala thalasemia dapat dilihat pada banak usia 3
bulan hingga 18 bulan. Bila tidak dirawat dengan baik, anak-anak penderita
thalasemia mayor ini hidup hingga 8 tahun saja. Satu-satunya perawatan dengan
tranfusi darah seumur hidup. Jika tidak diberikan tranfusi darah, penderita akan
lemas, lalu meninggal.
e. Bagaimana pemeriksaan fisik & pemeriksaan darah terhadap penderita thalassemia?
Pemeriksaan fisik
Pucat
Bentuk muka mongoloid (facies Cooley)
Dapat ditemukan ikterus
Gangguan pertumbuhan
Splenomegali dan hepatomegali yang menyebabkan perut membesar
Pemeriksaan penunjang
1) Darah tepi :
a. Hb rendah dapat sampai 2-3 g%
b. Gambaran morfologi eritrosit : mikrositik hipokromik, sel target,
anisositosis berat dengan makroovalositosis, mikrosferosit, polikromasi,
basophilic stippling, benda Howell-Jolly, poikilositosis dan sel target.
c. Retikulosit meningkat
2) Sumsum tulang (tidak menentukan diagnosis) :
a. Hiperplasi sistem eritropoesis dengan normoblas terbanyak dari jenis
asidofil
b. Granula Fe (dengan pengecatan Prussian biru) meningkat.
3) Pemeriksaan khusus :
a. Hb F meningkat : 20%-90% Hb total
b. Elektroforesis Hb : hemoglobinopati lain dan mengukur kadar Hb F.
c. Pemeriksaanpedigr ee: kedua orangtua pasien thalassemia mayor
merupakan trait (carrier) dengan Hb A2 meningkat (> 3,5% dari Hb
total).
4) Pemeriksaan lain :
7

a. Foto Ro tulang kepala : gambaran hair on end, korteks menipis, diploe


melebar dengan trabekula tegak lurus pada korteks.
b. Foto tulang pipih dan ujung tulang panjang : perluasan sumsum tulang
sehingga trabekula tampak jelas.

f. Apakah ada hubungan antara usia dan penyakit thalassemia?


Tidak ada karena thalasemia adalah penyakit keturunan yang diwariskan sejak
lahir.
g. Bagaimana mekanisme rekombinasi gen pada fertilisasi?
Penyakit ini diturunkan melalui gen yang disebut sebagai gen globin beta yang
terletak pada kromosom 11. Pada manusia kromosom selalu ditemukan
berpasangan. Gen globin beta ini yang mengatur pembentukan salah satu
komponen pembentuk hemoglobin. Bila hanya sebelah gen globin beta yang
mengalami kelainan disebut pembawa sifat thalassemia beta. Seorang pembawa
sifat thalassemia tampak normal / sehat, sebab masih mempunyai 1 belah gen
dalam keadaan normal (dapat berfungsi dengan baik). Seorang pembawa sifat
thalassemia jarang memerlukan pengobatan. Bila kelainan gen globin terjadi pada
kedua kromosom, dinamakan penderita thalassemia (homosigot / Mayor). Kedua
belah gen yang sakit tersebut berasal dari kedua orang tua yang masing-masing
membawa sifat thalassemia.
Pada proses pembuahan, anak hanya mendapat sebelah gen globin beta dari
ibunya dan sebelah lagi dari ayahnya. Bila kedua orang tuanya masing-masing
pembawa sifat thalassemia maka pada setiap pembuahan akan terdapat beberapa
kemungkinan. Kemungkinan pertama si anak mendapat gen globin yang
berubah (gen thalassemia) dari bapak dan ibunya, maka anak akan menderita
thalassemia. Sedangkan bila anak hanya mendapat sebelah gen thalassemia dari
ibu atau ayah, maka anak hanya membawa penyakit ini. Kemungkinan lain
adalah anak mendapatkan gen globin normal dari kedua orang tuanya.

h. Bagaimana mekanisme molekuler terjadinya mutasi genetik?


Mekanisme terjadinya Mutasi genetik merupakan perubahan yang terjadi pada
bahan genetik (DNA maupun RNA), baik pada taraf urutan gen (disebut mutasi
titik) maupun pada taraf kromosom. Mutasi pada tingkat kromosomal biasanya
8

disebut aberasi. Mutasi pada gen dapat mengarah pada munculnya alel baru dan
menjadi dasar bagi kalangan pendukung evolusi mengenai munculnya variasivariasi baru pada spesies. Mutasi titik pada genetik merupakan perubahan pada
basa N dari DNA atau RNA. Mutasi titik relatif sering terjadi namun efeknya
dapat dikurangi oleh mekanisme pemulihan gen. Mutasi titik dapat berakibat
berubahnya urutan asam amino pada protein, dan dapat mengakibatkan
berkurangnya, berubahnya atau hilangnya fungsi enzim. Teknologi saat ini
menggunakan mutasi titik sebagai marker (disebut SNP) untuk mengkaji
perubahan yang terjadi pada gen dan dikaitkan dengan perubahan fenotipe yang
terjadi.
i. Bagaimana cara isolasi DNA?
Isolasi DNA merupakan langkah mempelajari DNA. Salah satu prinsisp isolasi
DNA yaitu dengan sentrifugasi. Sentrifugasi merupakan teknik untuk memisahkan
campuran berdasarkan berat molekul komponennya.
Isolasi DNA dengan teknik sentrifugasi akan mengendapkan DNA. Molekul yang
mempunyai berat molekul besar akan berada di bagian bawah tabung dan molekul
ringan akan berada pada bagian atas tabung (Mader 193). Hasil sentrifugasi akan
menunjukkan dua macam fraksi yang terpisah, yaitu supernatan pada bagian atas
dan pelet pada bagian bawah (Campbell 2002).
Alat dan Bahan
1. Darah segar
2. Antikoagulan EDTA
3. Cell lysis solution
4. RBC Lysis Solution
5. Protein precipitation solution
6. RNASe A
7. Isopropanol
8. Tabung ependorf
9. Sentrifuge
10. Mikropipet
11. Waterbath
12. Vertex
Prosedur
1. Menyiapkan darah segar yang telah diberikan antikoagulan EDTA.
2. Menyiapkan tabung ependorf
3. Memasukkan RBC lysis solution sebanyak 900 mikro liter ke dalam tabung
ependorf

4. Menambahkan darah segar sebanyak 300 mikro liter ke dalam tabung


ependorf
5. Melakukan proses Inverting
6. Menginkubasi larutan tersebut selama 10 menit
7. Melakukan proses sentrifugasi selama 30 detik dengan kecepatan 14.000 rpm
8. Membuang supernatan dan mengambil benda darah yang mengendap
9. Menambahkan Cell lysis solution sebanyak 300 mikro liter
10. Menghomogenasi larutan dengan pengadukan menggunakan mikropipet
11. Menambahkan 1,5 mikroliter RNAse A kedalam larutan
12. Melakukan proses inverting
13. Menginkubasi larutan tersebut selama 15 menit di dalam waterbath dengan
suhu 37oC selama 15 menit
14. Menambahkan protein precipitation solution sebanyak 100 mikro liter
15. Melakukan proses sentrifugasi selama 3 menit hingga terlihat pellet yang
berwarna coklat terang
16. Menyiapkan tabung ependorf yangberisi isopropanol sebanyak 300 mikroliter
17. Mengambil supernatant dan memindahkannya ke dalam tabung ependorf
tersebut
18. Melakukan proses Inverting hingga terlihat untaian DNA yang berwarna putih
Hasil:
Terlihat pita berwarna putih pada campuran supernatant dengan isopropanol
j. Mengapa penderita thalassemia harus menjalani transfusi darah dan apa efeknya?
Transfusi darah dibutuhkan untuk mempertahankan kadar hemoglobin dan
kuantitas RBC didalam tubuh penderita thalasemia. Berbeda dengan thalassemia
minor, anak yang menderita thalassemia mayor perlu mendapat perhatian juga
perawatan khusus. Pasalnya, di dalam tubuhnya tidak tersedia hemoglobin dalam
jumlah cukup karena tulang sumsumnya tidak dapat memproduksi sel darah merah
dalam kadar yang dibutuhkan. Pada saat lahir, anak umumnya lahir normal tetapi
pada usia 3 sampai 18 bulan mulai kekurangan darah. Untuk itu, anak harus segera
diobati, jika tidak kemungkinan usianya hanya mencapai 1-8 tahun.
Efek samping transfusi darah adalah kelebihan zat besi dan terkena
penyakit yang ditularkan melalui darah yang ditransfusikan. Setiap 250 ml darah
yang ditransfusikan selalu membawa kira-kira 250 mg zat besi. Sedangkan
kebutuhan normal manusia akan zat besi hanya 1-2 mg perhari. Pada penderita
yang sudah sering mendapatkan transfusi kelebihan zat besi ini akan ditumpuk di
jaringan-jaringan tubuh seperti hati, jantung, paru, otak, kulit dll. Penumpukan zat

10

besi ini akan mengganggu fungsi organ tubuh tersebut dan bahkan dapat
menyebabkan kematian akibat kegagalan fungsi jantung atau hati.
Pemberian obat kelasi besi atau pengikat zat besi (nama dagangnya
Desferal) secara teratur dan terus menerus akan mengatasi masalah kelebihan zat
besi. Obat kelasi besi (Desferal) yang saat ini tersedia di pasaran diberikan melalui
jarum kecil ke bawah kulit (subkutan) dan obatnya dipompakan secara perlahanlahan oleh alat yang disebut syringe driver. Pemakaian alat ini diperlukan karena
kerja obat ini hanya efektif bila diberikan secara perlahan-lahan selama kurang
lebih 10 jam per hari. Idealnya obat ini diberikan lima hari dalam seminggu seumur
hidup.
2. a. Apakah peranan dari konseling genetik?
Konseling genetik dapat menjadi salah satu pencegahan meningkatnya penderita
thalasemia.
b. Bagaimana pedigree kasus ini dan bagaimana kemungkinan anak yang akan lahir
normal?

Bila hanya salah satu dari orang tua yang membawa sifat thalassemia, maka
50% kemungkinan anak yang dilahirkan akan menjadi pembawa thalassemia dan
50% kemungkinan anak yang dilahirkan normal. Tidak seorang pun yang akan
terlahir menderita thalassemia mayor.
Bila kedua orang tuanya pembawa thalassemia, maka pada setiap pembuahan
akan terdapat beberapa kemungkinan. Kemungkinan pertama, si anak mendapatkan
gen globin abnormal dari ayah dan ibunya sehingga anak menderita thalassemia
mayor (25%). Kemungkinan kedua, si anak mendapatkan gen globin yang
abnormal dari ayah atu ibunya, maka si anak hanya akan menjadi pembawa
thalassemia (50%). Kemungkinan terakhir, anak akan terlahir normal (25%).

c. Bagaimana metode diagnosis genetik prenatal?

11

Diagnosis prenatal melalui beberapa tahap. Tahap pertama adalah pemeriksaan


ibu janin yang meliputi pemeriksaan darah tepi lengkap dan analisis hemoglobin.
Bila

ibu

dinyatakan

pembawa

sifat thalassemia beta

maka

pemeriksaan

dilanjutkan ke tahap kedua yaitu suami diperiksa darah tepi lengkap dan
analisishemoglobin. Bila suami juga membawa sifat thalassemia maka suamiisteri ini diperiksa DNAnya untuk menentukan jenis kelainann pada gen globin
beta.
Selanjutnya diambil jaringan janin (villi choriales atau jaringan ari-ari) pada
saat janin berumur 10-12 minggu untuk diperiksa DNAnya. Bila janin ternyata
hanya mebawa satu belah gen globin beta yang mengalami kelainan (gen
thalassemia beta) atau sama sekali tidak membawa gen thalassemia beta maka
kehamilan dapat diteruskan dengan aman. Tetapi bila janin ternyata membawa
kedua belah gen thalassemia yang artinya janin akan menderita thalassemia beta
maka penghentian kehamilan dapat menjadi pilihan.
Karena thalassemia mudah diidentifikasi pada keadaan heterozigot, wanita
hamil dari kelompok ras yang sesuai harus dilakukan screening. Diagnosis prenatal
dapat dilakukan antara 9 hingga 13 minggu pertama kehamilan dengan melakukan
CVS (chorionic villus sampling) atau amniosentesis.
CVS (chorionic villus sampling)
Chorionic Villus Sampling (CVS) merupakan cara terakurat untuk mendeteksi
ketidaknormalan kromosom, yang salah satunya mengakibatkan down syndrome.
Dengan cara ini, ketidaknormalan dapat dideteksi sejak kehamilan dini sang ibu,
yaitu antara minggu ke-10 dan minggu ke-14.
Ada dua metode yang bisa digunakan dalam melakukan CVS, yaitu
transabdominal (melalui perut) dan transcervical (melalui rahim/vagina). Cara
mana yang dipilih, tergantung pada seberapa amannya kehamilan Anda.
Transabdominal. Jika Anda menggunakan cara ini, maka sebuah jarum akan
ditusukkan ke dalam perut ke arah rahim untuk mengambil sedikit jaringan
dari chorionic villi (jaringan yang menyelimuti bayi pada minggu-minggu

pertama kehamilan dan merupakan cikal bakal plasenta).


Transcervical. Jika saat kehamilan Anda menggunakan cara ini, maka sebuah
kateter akan dimasukkan melalui vagina sampai ke rahim dekat tempat
plasenta terbentuk.

12

CVS memang mampu memberikan hasil yang akurat dan cepat ketimbang alat
tes lain, misalnya amniocentesis. Namun CVS juga memberikan risiko keguguran
lebih tinggi. Dua dari empat ibu hamil yang mencoba tes ini, mengalami risikonya.
Biasanya, hal yang sering terjadi akibat CVS adalah perdarahan vagina.
Penelitian pada ibu hamil juga menunjukkan kemungkinan peningkatan risiko tidak
lengkapnya anggota tubuh yang terbentuk. Selain itu CVS juga dapat menyebabkan
penurunan produksi cairan amniotik.
Namun, kembali lagi, semua ini tergantung pada seberapa ahlinya dokter yang
menangani CVS dan berapa usia kehamilannya. Jika CVS dilakukan pada
kandungan usia di bawah 10 minggu, maka kemungkinan terjadinya risiko akan
semakin besar.
Oleh sebab itu, memutuskan untuk melakukan tes ini saat hamil merupakan hal
yang sangat personal. Anda mungkin memilih untuk melakukan CVS jika Anda
memiliki alasan yang sangat kuat untuk memastikan bahwa mungkin saja bayi
Anda bermasalah dan Anda ingin mengetahuinya secepat mungkin.
Beberapa perempuan yang pernah mencoba melakukan tes CVS biasanya
disebabkan karena mereka pernah melahirkan anak dengan cacat lahir, atau mereka
memiliki riwayat penyakit genetis pada keluarga mereka. Dengan metode ini, ibu
hamil bisa mengetahui secepat mungkin apakah bayi mereka terkena penyakit
genetis tersebut atau tidak.
Amniocentesis
Amniocentesis adalah tes untuk mengetahui kelainan genetik pada bayi dengan
memeriksa cairan ketuban atau cairan amnion. Di dalam cairan amnion terdapat sel
fetal (kebanyakan kulit janin) yang dapat dilakukan analisis kromosom, analisis
biokimia dan biologi. Amniocentesis selalu dilakukan di bawah panduan ultrasound
untuk menentukan posisi bayi. Tes ini bisa menentukan cacat kromosom, kelainan
bawaan, jenis kelamin, tingkat kematangan paru janin, infeksi cairan amnion, serta
kemungkinan bayi mewarisi gangguan seperti hemofilia.
Amniocentesis biasanya dilakukan pada minggu ke-16 kehamilan dengan risiko
keguguran kurang dari satu persen. Namun hasilnya bisa diketahui setelah dua
minggu. Durasi yang cukup lama ini berfungsi meyakinkan apakah anak mempunyai
gangguan kromosom, seperti Down syndrome.
Pemeriksaan ini diutamakan untuk wanita hamil yang berisiko tinggi, yaitu :
1. Wanita yang mempunyai riwayat keluarga dengan kelainan genetik.
13

2. Wanita berusia di atas 35 tahun.


3. Wanita yang memiliki hasil tes yang abnormal terhadap sindrom down pada
trimester pertama kehamilan.
4. Wanita dengan kelainan pada pemeriksaan USG.
5. Wanita dengan sensitisasi Rh.
Meski dilakukan dibawah panduan USG, amniocentesis bukan tanpa risiko. Risiko
yang mengkin terjadi pada pemeriksaan ini yaitu kebocoran atau infeksi air ketuban,
jarum menyentuh bayi, kelahiran prematur, keguguran.
3. a. Apakah Ny Dina & Tn Sahid penderita thalassemia?
Ya, keduanya merupakan penderita thalasemia minor atau carrier hal ini tampak
dari hasil morfologi RBC yang menunjukkan adanya sel-sel darah yang mengalami
kerusakan yang berujung pada anemia sebagai cirri umum thalasemia. Dalam
analisis DNA juga terlihat bahwa terjadi mutasi pada gen beta globin secara
heterozigot sebagai indikasi thalasemia beta minor.

b. Bagaimana interpretasi hasil lab Ny Dina, Tn Sahid, dan Nina?


Heterozigot HbE yaitu mutasi Gen Globin Beta Kodon 26 dari GAG (glutamat)
menjadi AAG (lisin) Varian gen thalasemia khususnya di daerah Asia
Tenggara, termasuk suku Melayu
Heterozigot mutasi Gen Globin Beta Kodon 41-42 berupa delesi TTCT Indikasi
gen thalasemia berupa mutasi pada kodon 41-42 sehingga ada beberapa asam
amino yang tidak terbentuk dan mempengaruhi sintesis hemoglobin.
Heterozigot mutasi Southeast Asian Ovalocytosis berupa delesi 27 bp gen AE-1
Mutasi berupa delesi pada kodon ke-400 sampai ke-408 (27 pb) pada gen anion
exchanger 1 (AE1) yang terletak pada kromosom 17. Gen yang menyandikan
protein band 3 ini mengalami mutasi pada ekson 11. Akibat delesi pada kodon
tersebut maka 9 asam amino tidak dapat diekspresikan yaitu, alanin (A), fenilalanin
(F), serin (S), prolin (P), glutamin (Q), valin (V), leusin (L), alanin (A). Hilangnya
9 asam amino terjadi pada batas antara domain sitoplasmik dan segmen pertama
transmembran protein band 3 (Liu et al. 1990, Jarolim et al. 1991). SAO
diturunkan secara autosomal dominan. Individu yang positif SAO bergenotipe
heterozigot dan sampai sekarang ini dunia medis dan ilmuwan belum menemukan
individu yang bergenotipe homozigot. Diperkirakan individu yang memiliki alel
14

homozigot untuk SAO bersifat letal (Jarolim et al. 1991, Liu et al. 1994, Allen et
al. 1999).
Tn Sahid
Dilihat dari morfologi RBC Tn Sahid, yaitu anisopoikilositosis, sel target, tear
drops, dan ovalocytocytosis. Dan analisis DNA : Heterozigot muatasi gen globin
beta kodon 41-42 beupa delesi TTCT dan heterozigot SAO berupa delesi 27 bp gen
AE-1. Tn Sahid menderita thalassemia beta intermedia, karena morfologi RBC
T.B.I mirip dengan thallasemia mayor.
Pada penderita thalasemia ciri-ciri dari morfologi sel darah merahnya akan
berwarna pucat dan lebih kecil dari yang normal, kemudian akan ditemukan sel
target dan adanya ovalocytosis. Sedangkan pada hasil lab Tn Sahid ditemukan
ketiga-tiganya, jadi Tn Sahid juga terkena thalasemia.
Nina
Adanya hipokrom mikrositik menandakan bahwa Nina mengalami defisiensi pd Hb
(anemia) dan kadar MCV dan MCH dibawah normal (defisiensi zat besi)
Anisopoikilositosis menunjukkan adanya gejala anemia. Cukup sering ditemukan
sel target menandakan adanya kelainan/gangguan pada susunan rantai polipeptida
Stomatocytes : eritrosit abnormal dengan daerah bercelah atau seperti mulut,
menggantikan lingkaran pucat yang normal, biasanya akibat edema.
Analisis DNA menunjukkan adanya kondisi kelainan pada Hb karena terjadinya
mutasi pada gen globin beta kodon 26 dan delesi TTCT pada gen globin beta kodon
41-42.
Intinya hasil analisis DNA ini adalah penguat dari pemeriksaan morfologi RBC
yang menunjukkan Nina memiliki anemia.
Ny Dina
Adanya hipokrom mikrositik menandakan bahwa Ny Dina mengalami defisiensi
pada Hb (anemia) dan kadar MCV & MCH dibawah normal (defisiensi zat besi).
Anisopoikilositosis menunjukkan adanya gejala anemia. Sel target menandakan
adanya gangguan pada susunan rantai polipeptida. Tear drops menunjukkan
adanya tanda-tanda menderita thalassemia. Sferosit menunjukkan adanya kelainan
pada bentuk membran sel darah merah.
Analisis DNA menunjukkan bahwa Ny Dina menderita penyakit heterozigot HbE.
Jadi intinya hasil analisis DNA ini adalah penguat dari pemeriksaan morfologi
RBC yang menunjukkan bahwa Ny Dina juga memiliki anemia.

15

c. Dalam kasus ini, thalassemia apa yang diderita Nina?


Thalassemia Mayor.
d. Bagaimana penurunan gen dari Ny Dina dan Tn Sahid kepada Nina?
Pada proses pembuahan, anak hanya mendapat sebelah gen globin beta dari ibunya
dan sebelah lagi dari ayahnya. Bila kedua orang tuanya masing-masing pembawa
sifat thalassemia maka pada setiap pembuahan akan terdapat beberapa
kemungkinan. Kemungkinan pertama si anak mendapat gen globin yang berubah
(gen thalassemia) dari bapak dan ibunya, maka anak akan menderita thalassemia.
Sedangkan bila anak hanya mendapat sebelah gen thalassemia dari ibu atau ayah,
maka anak hanya membawa penyakit ini. Kemungkinan lain adalah anak
mendapatkan gen globin normal dari kedua orang tuanya.

e. Bagaimana pengobatan terhadap penderita thalassemia?


I. Medikamentosa
Pemberian iron chelating agent (desferoxamine): diberikan setelah kadar
feritin serum sudah mencapai 1000 g/l atau saturasi transferin lebih 50%,
atau sekitar 10-20 kali transfusi darah.
Desferoxamine, dosis 25-50 mg/kg berat badan/hari subkutan melalui pompa
infus dalam waktu 8-12 jam dengan minimal selama 5 hari berturut setiap

selesai transfusi darah.


Vitamin C 100-250 mg/hari selama pemberian kelasi besi, untuk

meningkatkan efek kelasi besi.


Asam folat 2-5 mg/hari untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat.
Vitamin E 200-400 IU setiap hari sebagai antioksidan dapat memperpanjang

umur sel darah merah.


II. Bedah
Splenektomi, dengan indikasi:
limpa yang terlalu besar, sehingga membatasi gerak penderita, menimbulkan

peningkatantekanan intraabdominal dan bahaya terjadinya rupture


hipersplenisme ditandai dengan peningkatan kebutuhan transfusi darah atau
kebutuhan suspensi eritrosit (PRC) melebihi 250 ml/kg berat badan dalam satu

tahun.
III.Suportif
Transfusi darah :

16

Hb penderita dipertahankan antara 8 g/dl sampai 9,5 g/dl. Dengan kedaan ini
akanmemberikan supresi sumsum tualang yang adekuat, menurunkan tingkat
akumulasibesi,dan dapat mempertahankan pertumbuhan dan perkembangan
penderita.Pemberian darah dalam bentuk PRC (packed red cell), 3 ml/kg BB untuk
setiapkenaikan Hb 1 g/dl.
IV.Lain-lain (rujukan subspesialis, rujukan spesialisasi lainnya dll)
Tumbuh kembang, kardiologi, Gizi, endokrinologi, radiologi, Gigi

IV.

HIPOTESIS
Nina menderita thalassemia Nina menderita thalassemia mayor karena
compound thalassemia yang diwariskan oleh orangtuanya.
Tn Sahid dan Ny Dina memiliki kemungkinan anak lahir normal sebesar 25%.

V.

KERANGKA KONSEP

Ayah dan Ibu Nina


menderita Thalassemia
Minor
Terjadi rekombinasi gen saat
fertilisasi
Compound Thalassemia

Melahirkan Nina
Konsultasi

Thalassemia Mayor

Ingin anak lagi

Isolasi DNA
Analisis RBC & DNA

Persentase melahirkan anak


normal sebesar 25%

17

VI.

LEARNING ISSUES

Pokok Bahasan

What I Know
Definisi

Thalasemia

Definisi

Konseling

What

dont What I have How

Know

to Prove

Klasifikasi
Patofisiologi
Penatalaksanaan
Peranan

dan

Genetik

manfaat

Interpretasi

Hb E, SAO, Mutasi

morfologi

RBC

Gen
Macam

dan analisis DNA

Will

Learn

Journal
Text Book
Pakar
Internet

morfologi

RBC
Mekanisme

Definisi

molekuler

Mekanisme

dan

interpretasi mutasi

terjadinya mutasi
genetik
Rekombinasi gen Definisi

Patofisiologi

pada fertilisasi

pedigree

Metode diagnosis Definisi

Cara
Alternatif

genetik prenatal

dan

dan

manfaat

Cara isolasi DNA

Definisi

Cara
Alternatif

dan

manfaat
Teknologi

isolasi

DNA
VII.

SINTESIS
1. THALASSEMIA
a. Pengertian

18

Thalassemia merupakan penyakit kelainan darah yang bersifat menurun (genetik).


Pada keadaan ini, sel darah merah yang dihasilkan tubuh tidak normal dan pecah
lebih cepat dari sel darah merah normal. Akibatnya, sepanjang hidupnya penderita
terpaksa bergantung pada pasokan darah donor agar dapat memperpanjang
hidupnya.
Menurut dr. Moedrik Taman SpA, thalassemia merupakan penyakit
genetik dimana produksi hemaglobin yang normal tertekan karena defek sintesis
satu atau lebih rantai globin. Penyakit ini diturunkan secara autosom resesif dan
digolongkan pada penyakit anemia hemolitik bawaan yang ditandai oleh anemia
mikrositik hipokromik. Penyakit ini merupakan kelainan genetik yang disebabkan
oleh mutasi gen tunggal dan kasusnya terbanyak di dunia. Tak kurang terdapat
300 juta penduduk dunia sebagai pembawa gen thalassemia dan sekitar 300.000
bayi thalassemia dilahirkan setiap tahunnya.
Thalassemia ternyata tidak saja terdapat di sekitar Laut Tengah, tetapi juga
di Asia Tenggara yang sering disebut sebagai sabuk thalassemia (WHO, 1983)
sebelum pertama sekali ditemui pada tahun 1925 (Lihat Gambar 2). Di Indonesia
banyak dijumpai kasus thalassemia, hal ini disebabkan oleh karena migrasi
penduduk dan percampuran penduduk. Menurut hipotesis, migrasi penduduk
tersebut diperkirakan berasal dari Cina Selatan yang dikelompokkan dalam dua
periode. Kelompok migrasi pertama diduga memasuki Indonesia sekitar 3.500
tahun yang lalu dan disebut Protomelayu (Melayu awal) dan migrasi kedua
diduga 2.000 tahun yang lalu disebut Deutromelayu (Melayu akhir) dengan
fenotip Monggoloid yang kuat. Keseluruhan populasi ini menjadi menjadi Hunian
kepulauan Indonesia tersebar di Kalimantan, Sulawesi, pulau Jawa, Sumatera,
Nias, Sumba dan Flores 1

b. Etiologi
Perubahan genetik yang mengurangi atau mencegah sintesis dari satu atau lebih
rantai globin dari tetramer hemoglobin. Ketidakseimbangan dari produksi rantai
globin menyebabkan tidak efektifnya proses eritropoesis, menurunnya produksi
hemoglobin, serta terjadinya hemolisis.

19

c. Jenis-jenis
Berdasarkan rantai asam amino yang gagal terbentuk, thalassemia dibagi menjadi
thalassemia alpha (hilang rantai alpha) dan thalassemia beta (hilang rantai beta).
Sementara itu, hilangnya rantai asam amino bisa secara tunggal (thalassemia
minor/trait/heterozigot) maupun ganda (thalassemia mayor/homozigot).
Thalassemia alpha disebabkan karena adanya mutasi dari salah satu atau seluruh
globin rantai alpha yang ada. Thalassemia alpha dibagi menjadi :
Silent Carrier State (gangguan pada 1 rantai globin alpha). Pada keadaan ini
mungkin tidak timbul gejala sama sekali pada penderita, atau hanya terjadi
sedikit kelainan berupa sel darah merah yang tampak lebih pucat (hipokrom).

Alpha Thalassemia Trait (gangguan pada 2 rantai globin alpha). Penderita


mungkin hanya mengalami anemia kronis yang ringan dengan sel darah merah
yang tampak pucat (hipokrom) dan lebih kecil dari normal (mikrositer).

Hb H Disease (gangguan pada 3 rantai globin alpha). Gambaran klinis


penderita dapat bervariasi dari tidak ada gejala sama sekali, hingga anemia yang
berat yang disertai dengan perbesaran limpa (splenomegali).
Alpha Thalassemia Major (gangguan pada 4 rantai globin alpha). Thalassemia
tipe ini merupakan kondisi yang paling berbahaya pada thalassemia tipe alpha.
Pada kondisi ini tidak ada rantai globin yang dibentuk sehingga tidak ada HbA
atau HbF yang diproduksi. Biasanya fetus yang menderita alpha thalassemia
mayor mengalami anemia pada awal kehamilan, membengkak karena kelebihan
cairan (hydrops fetalis), perbesaran hati dan limpa. Fetus yang menderita
kelainan ini biasanya mengalami keguguran atau meninggal tidak lama setelah
dilahirkan.
Thalassemia beta terjadi jika terdapat mutasi pada satu atau dua rantai globin
yang ada. Thalassemia beta dibagi menjadi :
Beta Thalassemia Trait. Pada jenis ini penderita memiliki satu gen normal dan
satu gen yang bermutasi. Penderita mungkin mengalami anemia ringan yang
ditandai dengan sel darah merah yang mengecil (mikrositer).
Thalassemia Intermedia. Pada kondisi ini kedua gen mengalami mutasi tetapi
masih bisa memproduksi sedikit rantai beta globin. Penderita biasanya
mengalami anemia yang derajatnya tergantung dari derajat mutasi gen yang
terjadi.

Thalassemia Major (Cooleys Anemia). Pada kondisi ini kedua gen


mengalami mutasi sehingga tidak dapat memproduksi rantai beta globin.
Biasanya gejala muncul pada bayi ketika berumur 3 bulan berupa anemia yang
berat.
20

Berbeda dengan thalassemia minor (thalassemia trait/bawaan), penderita


thalassemia mayor tidak dapat membentuk haemoglobin yang cukup di dalam
darah mereka, sehingga hampir tidak ada oksigen yang dapat disalurkan ke
seluruh tubuh, yang lama-lama akan menyebabkan asfiksia jaringan (kekurangan
O2), edema, gagal jantung kongestif, maupun kematian. Oleh karena itu,
penderita thalassemia mayor memerlukan transfusi darah yang sering dan
perawatan medis demi kelangsungan hidupnya.

d. Manifestasi Klinis
Bayi baru lahir dengan thalasemia beta mayor tidak anemis. Gejala awal pucat
mulanya tidak jelas, biasanya menjadi lebih berat dalam tahun pertama kehidupan
dan pada kasus yang berat terjadi beberapa minggu pada setelah lahir. Bila
penyakit ini tidak ditangani dengan baik, tumbuh kembang masa kehidupan anak
akan terhambat. Anak tidak nafsu makan, diare, kehilangan lemak tubuh dan
dapat disertai demam berulang akibat infeksi. Anemia berat dan lama biasanya
menyebabkan pembesaran jantung.
Terdapat hepatosplenomegali. Ikterus ringan mungkin ada. Terjadi perubahan
pada tulang yang menetap, yaitu terjadinya bentuk muka mongoloid akibat
system eritropoesis yang hiperaktif. Adanya penipisan korteks tulang panjang,
tangan dan kaki dapat menimbulkan fraktur patologis. Penyimpangan
pertumbuhan akibat anemia dan kekurangan gizi menyebabkan perawakan
pendek. Kadang-kadang ditemukan epistaksis, pigmentasi kulit, koreng pada
tungkai, dan batu empedu. Pasien menjadi peka terhadap infeksi terutama bila
limpanya telah diangkat sebelum usia 5 tahun dan mudah mengalami septisemia
yang dapat mengakibatkan kematian. Dapat timbul pensitopenia akibat
hipersplenisme.
Secara umum, tanda dan gejala yang dapat dilihat antara lain:

Ditandai dengan eritrosit yang mikrositik, MCV-nya dibawah normal dan MCH
dibawah normal.

Tidak ada atau berkurangnya sintesis rantai globin

Biasanya pada anak-anak pertumbuhannya lebih lambat

Tulang panjang menjadi lemah dan mudah patah


21

Bentuk wajahnya mengalami pembesaran (kerja sumsum tulang berlebihan)

Wajah pucat

Kulit hitam kekuning-kuningan

Kondisi fisik mudah letih dan lemah


Orang-orang yang berisiko menderita thalasemia:

Anak dengan orang tua yang memiliki gen thalassemia

Risiko laki-laki atau perempuan untuk terkena sama

Thalassemia Beta mengenai orang asli dari Mediterania atau ancestry (Yunani, Italia,
Ketimuran Pertengahan) dan orang dari Asia dan Afrika Pendaratan.

Alfa thalassemia kebanyakan mengenai orang tenggara Asia, Orang India, Cina, atau
orang Philipina.
e. Patofisiologi

Hemoglobin paska kelahiran yang normal terdiri dari dua rantai alpa dan beta
polipeptide. Dalam beta thalasemia ada penurunan sebagian atau keseluruhan
dalam proses sintesis molekul hemoglobin rantai beta. Konsekuensinya adanya
peningkatan compensatori dalam proses pensintesisan rantai alpa dan produksi
rantai gamma tetap aktif, dan menyebabkan ketidaksempurnaan formasi
hemoglobin. Polipeptid yang tidak seimbang ini sangat tidak stabil, mudah
terpisah dan merusak sel darah merah yang dapat menyebabkan anemia yang
parah. Untuk menanggulangi proses hemolitik, sel darah merah dibentuk dalam
jumlah yang banyak, atau setidaknya bone marrow ditekan dengan terapi
transfusi. Kelebihan fe dari penambahan RBCs dalam transfusi serta kerusakan
22

yang cepat dari sel defectif, disimpan dalam berbagai organ (hemosiderosis).
Penyakit ini diturunkan melalui gen yang disebut sebagai gen globin beta yang
terletak pada kromosom 11. Pada manusia kromosom selalu ditemukan
berpasangan. Gen globin beta ini yang mengatur pembentukan salah satu
komponen pembentuk hemoglobin. Bila hanya sebelah gen globin beta yang
mengalami kelainan disebut pembawa sifat thalassemia-beta. Seorang pembawa
sifat thalassemia tampak normal/sehat, sebab masih mempunyai 1 belah gen
dalam keadaan normal (dapat berfungsi dengan baik). Seorang pembawa sifat
thalassemia jarang memerlukan pengobatan. Bila kelainan gen globin terjadi pada
kedua kromosom, dinamakan penderita thalassemia (Homosigot/Mayor). Kedua
belah gen yang sakit tersebut berasal dari kedua orang tua yang masing-masing
membawa sifat thalassemia.
Pada proses pembuahan, anak hanya mendapat sebelah gen globin beta dari
ibunya dan sebelah lagi dari ayahnya. Bila kedua orang tuanya masing-masing
pembawa sifat thalassemia maka pada setiap pembuahan akan terdapat beberapa
kemungkinan. Kemungkinan pertama si anak mendapatkan gen globin beta yang
berubah (gen thalassemia) dari bapak dan ibunya maka anak akan menderita
thalassemia. Sedangkan bila anak hanya mendapat sebelah gen thalassemia dari
ibu atau ayah maka anak hanya membawa penyakit ini. Kemungkinan lain adalah
anak mendapatkan gen globin beta normal dari kedua orang tuanya.
f. Proses terjadinya thalassemia
Darah terdiri dari banyak sel darah yang bersikulasi di dalam cairan jernih
berwarna kekuningan yang disebut plasma. Setiap sel darah merah mengandung
hemoglobin, yakni protein kaya zat besi yang berfungsi memberi warna merah
pada darah dan amat penting sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke
seluruh bagian tubuh. Bila hemoglobin berkurang atau tidak ada, maka pasokan
oksigen yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi dalam tubuh takkan
terpenuhi. Akibatnya, fungsi tubuh terganggu dan aktivitas tidak dapat berjalan
secara normal.
Hemoglobin terdiri dari zat besi (heme) dan protein yang disebut globin.
Terdapat dua jenis globin penyusun hemoglobin, yakni alfa dan beta.
Pembentukan kedua jenis globin tersebut dikendalikan oleh gen globin alfa dan
beta yang masing-masing secara normal terdapat sepasang di dalam kromosom.
23

Thalassemia terjadi ketika gen globin mengalami kelainan/perubahan/mutasi,


sehingga pembentukan globin menjadi berkurang atau tidak ada. Patogenesis
thalassemia secara umum dimulai dengan adanya mutasi yang menyebabkan HbF
tidak dapat berubah menjadi HbA, adanya ineffective eritropoiesis, dan anemia
hemolitik. Tingginya kadar HbF yang memiliki afinitas O2 yang tinggi tidak
dapat melepaskan O2 ke dalam jaringan, sehingga jaringan mengalami hipoksia.
Tingginya kadar rantai -globin, menyebabkan rantai tersebut membentuk suatu
himpunan yang tak larut dan mengendap di dalam eritrosit. Hal tersebut merusak
selaput sel, mengurangi kelenturannya, dan menyebabkan sel darah merah yang
peka terhadap fagositosis melalui system fagosit mononuclear. Tidak hanya
eritrosit, tetapi juga sebagian besar eritroblas dalam sumsum dirusak, akibat
terdapatnya inklusi (eritropioesis tak efektif). Eritropoiesis tak efektif dapat
menyebabkan adanya hepatospleinomegali, karena eritrosit pecah dalam waktu
yang sangat singkat dan harus digantikan oleh eritrosit yang baru (dimana
waktunya lebih lama), sehingga tempat pembentukan eritrosit (pada tulang-tulang
pipa, hati dan limfe) harus bekerja lebih keras. Hal tersebut menyebabkan adanya
pembengkakan pada tulang (dapat menimbulkan kerapuhan), hati, dan limfe.
g. Pemeriksaan
Mengetahui kadar Hb dan ukuran sel-sel darah digunakan untuk melihat bentuk,
warna dan kematangan sel-sel darah. Pada pemeriksaan ini darah akan diperiksa
untuk melihat jumlah dan bentuk dari sel darah merah, sel darah putih dan
platelet. Selain itu dapat juga dievaluasi bentuk darah, kepucatan darah, dan
maturasi darah. Gambaran khas yang sering timbul adalah anemia hipokrom
mikrositer, anisositosis, poikilositosis, dan sel targeting.
Pemeriksaan fisis
Pucat
Bentuk muka mongoloid (facies Cooley)
Dapat ditemukan ikterus
Gangguan pertumbuhan
Splenomegali dan hepatomegali yang menyebabkan perut membesar
Pemeriksaan penunjang
1) Darah tepi :
a. Hb rendah dapat sampai 2-3 g%
24

b. Gambaran morfologi eritrosit : mikrositik hipokromik, sel target, anisositosis


berat dengan makroovalositosis, mikrosferosit, polikromasi, basophilic
stippling, benda Howell-Jolly, poikilositosis dan sel target.
c. Retikulosit meningkat
2) Sumsum tulang (tidak menentukan diagnosis) :
a. Hiperplasi sistem eritropoesis dengan normoblas terbanyak dari jenis asidofil
b. Granula Fe (dengan pengecatan Prussian biru) meningkat.
3)
a.
b.
c.

Pemeriksaan khusus :
Hb F meningkat : 20%-90% Hb total
Elektroforesis Hb : hemoglobinopati lain dan mengukur kadar Hb F.
Pemeriksaan pedigree: kedua orangtua pasien thalassemia

mayor

merupakan trait (carrier) dengan Hb A2 meningkat (> 3,5% dari Hb total).


4) Pemeriksaan lain :
a. Foto Ro tulang kepala : gambaran hair on end, korteks menipis, diploe
melebar dengan trabekula tegak lurus pada korteks.
b. Foto tulang pipih dan ujung tulang panjang : perluasan sumsum tulang
sehingga trabekula tampak jelas.
h. Diagnosis
Diagnosis thalassemia dibuat berdasarkan anamnesis mengenai gejala klinis,
riwayat keluarga/pola herediter, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan adalah untuk analisa hemoglobin
yaitu hematologi rutin, hapusan darah tepi, dan elektroforesis.
Di Semarang, untuk diagnosis ini sudah tersedia sampai pemeriksaan Hb
elektroforesis, itupun tidak semua RS tersedia. Hanya beberapa laboratorium
tertentu saja. Pemeriksaan setingkat analisis DNA/PCR, harus dirujuk ke Jakarta.

25

i. Pencegahan
Penyakit thalasemia bisa menyebar ke segala aspek. Ke liver, hati,
jantung, dan organ tubuh lainnya. Perlu banyak biaya untuk menanganinya. Jadi,
yang paling penting adalah pencegahan. Kalau pemerintah melaksanakan
pencegahan, biaya yang harus dikeluarkan akan sangat berkurang. Contohnya di
Yunani, Italia, Siprus, dan Turki. Dengan mencegah kelahiran anak thalasemia
mayor, uang yang dihemat luar biasa besarnya.
Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia harus punya program pencegahan. Di
Siprus, mereka berupaya menurunkan angka kelahiran anak-anak dengan
thalasemia mayor hampir 90 persen. Pemerintah pun bisa melakukan screening
atau pemeriksaan darah seperti saat mengambil SIM. Dengan begitu, masingmasing bisa mengetahui apakah kita pembawa sifat thalasemia atau bukan.
Dengan mengetahui kondisi kita, orang-orang pembawa sifat thalasemia bisa
menghindari pernikahan dengan sesama pembawa sifat untuk menghindari
kelahirkan anak-anak dengan thalasemia mayor.
Tentu kita tidak bisa melarang pernikahan sesama pembawa sifat, silakan
saja menikah. Di Siprus, yang beragama Ortodox Yunani, saat mereka akan
menikah, gereja selalu menanyakan: apakah kamu sudah diperiksa thalasemia?

26

Jika belum, mereka harus memeriksakan diri terlebih dahulu, tutur Prof
Iskandar.
Jika keduanya ternyata pembawa sifat, tetap diperbolehkan menikah. Akan tetapi,
saat si istri hamil, pada kehamilan 10 minggu dia harus memeriksakan diri ke
pusat thalasemia untuk diperiksa apakah si janin thalasemia mayor atau tidak.
Pasangan sesama pembawa sifat kemungkinan melahirkan anak yang
menderita thalasemia mayor sebanyak 25 persen, anak yang normal 25 persen,
dan anak-anak yang menjadi pembawa sifat 50 persen. Di Siprus, jika ternyata si
janin menderita thalasemia mayor, pusat thalasemia akan memberikan
pemahaman risiko seperti apa yang harus ditanggung orangtua, termasuk soal
tingginya biaya yang diperlukan, mengingat seumur hidup anak itu memerlukan
transfusi darah. Bagi orangtua yang tidak siap memiliki anak thalasemia mayor,
ada pilihan menghentikan kehamilan. Pencegahan seperti itulah yang dilakukan
negara-negara tersebut.

j. Pengobatan
I. Medikamentosa
Pemberian iron chelating agent (desferoxamine): diberikan setelah kadar
feritin serum sudah mencapai 1000 g/l atau saturasi transferin lebih 50%,
atau sekitar 10-20 kali transfusi darah.
Desferoxamine, dosis 25-50 mg/kg berat badan/hari subkutan melalui pompa
infus dalam waktu 8-12 jam dengan minimal selama 5 hari berturut setiap

selesai transfusi darah.


Vitamin C 100-250 mg/hari selama pemberian kelasi besi, untuk

meningkatkan efek kelasi besi.


Asam folat 2-5 mg/hari untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat.
Vitamin E 200-400 IU setiap hari sebagai antioksidan dapat memperpanjang
umur sel darah merah.

II. Bedah
Splenektomi, dengan indikasi:
limpa yang terlalu besar, sehingga membatasi gerak penderita, menimbulkan
peningkatantekanan intraabdominal dan bahaya terjadinya rupture

27

hipersplenisme ditandai dengan peningkatan kebutuhan transfusi darah atau


kebutuhan suspensi eritrosit (PRC) melebihi 250 ml/kg berat badan dalam satu
tahun.

III.Suportif
Transfusi darah :
Hb penderita dipertahankan antara 8 g/dl sampai 9,5 g/dl. Dengan kedaan ini
akanmemberikan supresi sumsum tualang yang adekuat, menurunkan tingkat
akumulasibesi,dan dapat mempertahankan pertumbuhan dan perkembangan
penderita.Pemberian darah dalam bentuk PRC (packed red cell), 3 ml/kg BB untuk
setiapkenaikan Hb 1 g/dl.
IV.Lain-lain (rujukan subspesialis, rujukan spesialisasi lainnya dll)
Tumbuh kembang, kardiologi, Gizi, endokrinologi, radiologi, Gigi
Manajemen dari pasien dengan thalassemia bergantung dengan tingkat keparahan
anemia yang diderita. Penatalaksanaan suportif seperti transfusi darah jangka
panjang beserta chelating agent, suplementasi asam folat, vitamin C dan vitamin
E, serta splenekomi dilakukan untuk mengurangi gejala yang timbul pada
thalassemia. Sementara penatalaksanaan kuratif diharapkan akan memberikan
tingkat kesembuhan yang optimal dengan efek samping yang minimal. Terapi
hydroxyurea telah terbukti dalam banyak penelitian dapat mengurangi
ketergantungan pasien terhadap transfusi darah berkala, bahkan hingga tidak
memerlukan transfusi berkala sama sekali. Transplantasi stem cell merupakan
penggantian dari sistem hemopoetik secara keseluruhan melalui transfer sel-sel
pluripoten yang ada pada sumsum tulang. Transplantasi dibagi dalam dua jenis,
allogenic dan autologous, tergantung dengan donor stem cell. Jenis sumber stem
cell dapat diperoleh dari aspirasi sumsum tulang, darah perifer, juga dari darah
tali pusat. Terapi gen yang masih dalam proses penelitian diharapkan akan
menjadi pilihan terapi yang memiliki efek samping paling rendah dan memiliki
efek kesembuhan yang total pada thalassemia. Transfer gen pada -thalassemia
memerlukan transfer gen ke dalam stem cells haematopoietic menggunakan
vektor integrasi yang secara langsung meregulasi ekspresi dari globin pada
level terapetik.
k. Pedigree
Inheritance Pattern for Alpha Thalassemia
28

Inheritance Pattern for Beta Thalassemia

Bila hanya salah satu dari orang tua yang membawa sifat thalassemia, maka
50% kemungkinan anak yang dilahirkan akan menjadi pembawa thalassemia dan
29

50% kemungkinan anak yang dilahirkan normal. Tidak seorang pun yang akan
terlahir menderita thalassemia mayor.
Bila kedua orang tuanya pembawa thalassemia, maka pada setiap pembuahan
akan terdapat beberapa kemungkinan. Kemungkinan pertama, si anak mendapatkan
gen globin abnormal dari ayah dan ibunya sehingga anak menderita thalassemia
mayor (25%). Kemungkinan kedua, si anak mendapatkan gen globin yang
abnormal dari ayah atu ibunya, maka si anak hanya akan menjadi pembawa
thalassemia (50%). Kemungkinan terakhir, anak akan terlahir normal (25%).

2. KONSELING GENETIK
Tindakan-tindakan yang dapat disarankan dalam konseling genetik
Konseling genetik merupakan proses komunikasi yang berhubungan dengan
kejadian atau risiko kejadian kelainan genetik pada keluarga. Dengan adanya
konseling genetik, maka keluarga memperoleh manfaat terkait masalah genetik,
khususnya dalam mencegah munculnya kelainan-kelainan genetik pada keluarga.
Manfaat ini dapat diperoleh dengan melaksanakan tindakan-tindakan yang dianjurkan
oleh konselor, termasuk di dalamnya tindakan untuk melakukan uji terkait
pencegahan kelainan genetik.
Tindakan-tindakan yang disarankan dapat disarankan oleh konselor dapat meliputi tes

sebagai berikut:
Diagnosis prenatal
Diagnosis prenatal merupakan tindakan untuk melihat kondisi kesehatan fetus yang
belum dilahirkan. Metode yang digunakan meliputi ultrasonografi, amniocentesis,
maternal serum, dan chorionic virus sampling.

Carrier testing
Carrier testing merupakan tes untuk mengetahui apakah seseorang menyimpan gen
yang membawa kelainan genetik. Metode yang digunakan untuk melaksanakan tes
tersebut adalah uji darah sederhana untuk melihat kadar enzim terkait kelainan
genetik tertentu, atau dengan mengecek DNA, apakah mengandung kelainan
tertentu.

Preimplantasi diagnosis
Preimplantasi diagnosis merupakan uji yang melibatkan pembuahan in vitro untuk
mengetahui kadar kelainan genetik embrio preimplantasi. Biasanya seorang wanita
yang akan melakukan uji akan diberi obat tertentu untuk merangsang produksi sel
30

telur berlebihan. Sel telur akan diambil dan diletakkan di cawan untuk dibuahi oleh
sperma donor. Setelah pembuahan maka sel embrio yang terbentuk akan dianalisa
terkait dengan kelainan genetik.

Newborn screening
Newnborn screening merupakan pemeriksaan bayi pada masa kelahiran baru.
Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan genetik, endokrinologi, metabolik, dan
hematologi. Diharapkan dari pemeriksaan ini dapat ditentukan prognosis ke
depannya, sehingga perawatan (treatment) yang berkenaan dapat diupayakan.

Predictive testing
Predictive testing merupakan tes yang digunakan untuk menguji apabila seseorang
menderita kelainan genetik dengan melihat riwayat genetik keluarga sebelumnya.
Tes ini dilakukan setelah kelahiran, dan biasa juga disebut sebagai presymptomatic
testing.
Apabila hasil diagnosis menunjukkan adanya kelainan genetik maka konselor dapat

menyarankan pilihan-pilihan berikut:


Agar tidak memiliki anak
Keputusan untuk tidak memiliki anak merupakan keputusan yang berat bagi orang
tua, karena memiliki anak merupakan dambaan bagi setiap orangtua. Oleh karena
itu konselor harus menerangkan secara terperinci mengenai indikasi tidak memiliki
anak, termasuk di antaranya kemungkinan untuk terpapar kelainan genetik, sehingga
orang tua dapat mempertimbangkan keputusan tersebut.
Mengadopsi
Apabila pilihan untuk tidak memiliki anak tidak dapat diterima oleh orang tua, salah
satu jalan keluarnya berupa pilihan untuk mengadopsi anak. Anak yang diadopsi
dapat merupakan anak saudara sendiri (keponakan) atau anak orang lain yang tidak
memiliki hubungan darah. Dalam hal ini mengadopsi anak saudara sendiri memiliki
risiko kelainan genetik lebih besar daripada mengadopsi anak orang lain yang tidak
memiliki hubungan darah. Konselor harus mengetahui terlebih dahulu pedigree
keluarga tersebut, dan memprediksi apakah di antara saudara-saudara terdapat
(kemungkinan) menderita kelainan genetik, dengan demikian keluarga dapat

mengambil keputusan yang terbaik menurutnya.


Kehamilan dengan donor sperma atau ovum
Kehamilan dengan donor sperma atau ovum merupakan salah satu solusi, di mana
sel sperma dan sel telur dipertemukan di luar rahim. Dalam hal ini akan diperiksa
apakah sel sperma atau sel ovum yang mengandung kelainan genetik. Sel yang
mengandung kelainan genetik akan digantikan dengan sel dari donor, sehingga tetap
31

terjadi pembuahan dan diharapkan anak yang dilahirkan dapat hidup sehat dengan
risiko terpapar kelainan genetika yang minim.
Keputusan untuk tidak mempunyai anak lagi
Keputusan untuk tidak mempunyai anak lagi merupakan solusi yang dapat diambil
untuk orangtua yang telah memiliki anak sebelumnya namun menderita kelainan
genetik, sehingga dengan demikian kehadiran anak berikutnya yang diprediksi
bakal menderita kelainan genetik dapat dihindari.
Tindakan operasi
Tindakan operasi dapat diterapkan untuk kelainan genetik tertentu seperti spina
bifida atau congenital diaphragmatic hernia (suatu kondisi di mana terdapat lubang
pada diafragma sehingga membuat paru menjadi tidak berkembang). Pilihan ini
dapat dilakukan pada masa sebelum kelahiran. Namun kebanyakan penyakit genetik
tidak dapat diobati dengan tindakan operasi.
Menterminasi kehamilan
Terminasi kehamilan/ aborsi merupakan solusi yang paling memberatkan bagi
orangtua, terlebih bagi orangtua muda yang belum mempunyai anak sebelumnya.
Konselor harus mempu menjelaskan dengan baik dan mudah mudah dimengerti
oleh orangtua mengenai indikasi dan kontraindikasi medis pelaksanaan aborsi.
Konselor juga harus memahami aspek etis yang menyertainya serta melakukan
pendekatan holistik. Dengan demikian orangtua tersebut dapat berpikir jernih dalam
mengambil keputusan yang terbaik.
Membiarkan anak lahir
Orangtua juga dapat ditawarkan pilihan untuk meneruskan kehamilannya, dengan
risiko bahwa anak yang dilahirkan menderita kelainan genetik dan umurnya hanya
sebentar. Pilihan ini memungkinkan orangtua untuk melihat anaknya sebelum
meninggal walaupun hanya sesaat.
Namun pilihan apapun yang disarankan oleh konselor harus didiskusikan dulu dengan
pasien, dalam artian bahwa pasien diberikan kebebasan untuk berpikir jernih dan
memilih keputusan apa yang harus diambil. Konselor wajib memberikan semua
informasi, termasuk baik-buruk mengenai tindakan yang dapat diambil tanpa ada
kesan menutup-nutupi.
3. INTERPRETASI MORFOLOGI RBC DAN ANALISIS DNA
Morfologi sel darah merah (RBC) yang normal adalah bikonkaf, tidak ada inti,
diameter 8 mikro, tebal 2 mikro ,dan bagian paling tipis 1 mikro ,bikonkaf karena :

32

menghasilkan luas permukaan yang lebih lebar dibandingkan bulat, mempercepeat


difusi oksigen karena bagian paling dalam yang tipis.
Cekungan (konkaf) pada eritrosit digunakan untuk memberikan ruang pada
hemoglobin yang akan mengikat oksigen. Tetapi, polimorfisme yang mengakibatkan
abnormalitas pada eritrosit dapat menyebabkan munculnya banyak penyakit.
Umumnya, polimorfisme disebabkan oleh mutasi gen pengkode hemoglobin, gen
pengkode protein transmembran, ataupun gen pengkode protein sitoskeleton.
Polimorfisme

yang

mungkin

terjadi

antara

lain

adalah anemia

sel

sabit, Duffy negatif,Glucose-6-phosphatase deficiency (defisiensi G6PD), thalassemia,


kelainan glikoporin, dan South-East Asian Ovalocytosis (SAO).
Ovalositosis merupakan salah satu penyakit kelainan darah yang ditandai
dengan sel darah merah yang kebanyakan berbentuk elips (Palek & Lambert 1990).
Istilah ini juga paling sering digunakan untuk menyebut kelainan darah yang dinamai
ovalositosis Asia Tenggara (South-East Asian ovalocytosis, SAO). Secara lebih
spesifik, karakteristik ovalositosis adalah sel darah merah berbentuk oval dan bergaris
tengah yang mengandung hemoglobin. Garis tengah tersebut akan memisahkan
daerah pucat (bagian konkaf) menjadi 2 bagian (ODonnell et al. 1998). Rasio untuk
keovalan-nya kurang lebih panjang:lebar lebih dari 1:1 dan kurang dari 2:1.
SAO banyak ditemukan pada orang Melanesia dan Malaya pribumi, kemudian
semakin meluas hingga ke Asia Tenggara, seperti Malaysia, Papua Nugini, Filipina,
dan Indonesia (Liu et al. 1990, Jarolim et al. 1991, Jones et al. 1991, Schofield et al.
1992, Takeshima et al. 1994).
Berdasarkan penelitian secara molekular ditemukan bahwa penyebab SAO
adalah delesi pada kodon ke-400 sampai ke-408 (27 pb) pada gen anion exchanger 1
(AE1) yang terletak pada kromosom 17. Gen yang menyandikan protein band 3 ini
mengalami mutasi pada ekson 11. Akibat delesi pada kodon tersebut maka 9 asam
amino tidak dapat diekspresikan. Asam amino tersebut adalah: alanin (A), fenilalanin
(F), serin (S), prolin (P), glutamin (Q), valin (V), leusin (L), alanin (A), dan alanin
(A). Hilangnya 9 asam amino terjadi pada batas antara domain sitoplasmik dan
segmen pertama transmembran protein band 3 (Liu et al. 1990, Jarolim et al. 1991).
Menurut Mohandas et al. (1992) pada penderita SAO, protein band 3 yang dihasilkan
meningkatkan rigiditas membran sel (menurunkan deformabilitas). Kemungkinan hal
ini disebabkan pengikatan kuat ankirin terhadap molekul yang termutasi.
SAO diturunkan secara autosomal dominan. Individu yang positif SAO
bergenotipe heterozigot dan sampai sekarang ini dunia medis dan ilmuwan belum
33

menemukan individu yang bergenotipe homozigot. Diperkirakan individu yang


memiliki alel homozigot untuk SAO bersifat letal (Jarolim et al. 1991, Liu et al. 1994,
Allen et al. 1999). Sampai saat ini, belum ditemukan fakta bahwa SAO memberikan
efek yang membahayakan kepada penderitanya.
4. MUTASI GENETIK
Mutasi pertama kali diperkenalkan oleh Hugo de fries (Belanda) dalam bukunya
Mutation theory. Istilah mutasi digunakan untuk mengemukakan perubahan fenotip
yang terjadi pada bunga Oenothera lamarchiana. Perubahan fenotip pada bunga
Oenothera lamarchiana disebabkan oleh perubahan gen. Mutasi adalah perubahan
dalam urutan nukleotida pada DNA, atau perubahan materi genetik yang terjadi dalam
organisme.
Dapat terjadi di sel somatik (Tidak diwariskan pada keturunan).
Dapat terjadi di sel kelamin (Ovum & sperma) dan diwariskan pada
keturunannya.
Definisi mutasi
Mutasi (mutatus) berarti perubahan. Mutasi di definisikan sebagai perubahan materi
genetik (DNA) yang dapat diwariskan secara genetik pada keturunannya. Agen
penyebab mutasi disebut Mutagen Makhluk hidup yang mengalami mutasi disebut
mutan.
Perubahan pada struktur materi genetik secara langsung akan mengakibatkan
perubahan pada alela dan fenotip, yang dampaknya pada perubahan makhluk hidup
yang mengalami perubahan tersebut (mutan).
Syarat Mutasi:
1. Adanya perubahan pada materi genetik
2. Perubahan tersebut bersifat dapat atau tidak dapat diperbaiki
3. Hasil perubahan tersebut diwariskan secara genetik pada keturunan berikutnya
Karakter suatu mutan
Gen yang mengalami mutasi pada suatu individu, biasanya adalah gen resesif,
sehingga dalam keadaan homozigot karakter perubahannya belum dapat

dilihat.
Gen yang mengalami mutasi umumnya bersifat lethal, sehingga jumlah

makhluk hidup yang mengalami mutasi tampak sedikit.


Individu yang mengalami mutasi biasanya mati sebelum dilahirkan atau
sebelum dewasa
34

Jenis Mutasi
Berdasarkan jenis materi genetiknya, mutasi dibedakan atas:
1. Mutasi Kromosom atau mutasi besar atau gross mutation atau aberasi
2. Mutasi gen atau mutasi kecil atau point mutation
Tempat terjadinya mutasi
Berdasarkan tempat terjadinya mutasi, dibedakan atas:
1. Mutasi pada sel Somatik
Mutasi yang terjadi pada sel somatik bersifat tidak diwariskan secara genetik
kepada keturunannya. Berdasarkan waktunya, mutasi ini dibedakan atas:
a. Mutasi somatik pada embrio atau janin.
Mutasi ini biasanya menyebabkan bayi yang dilahirkan mengalami cacat bawaan.
Berikut salah satu bentuk bayi yang mengalami mutasi somatik pada waktu
embrio atau janin. Selain anomali pada penampilan fisik, dapat juga terjadi
kelainan pada anatomi, fisiologi maupun psikis dari mutan tersebut.
b. Mutasi somatik saat dewasa
Mutasi somatik yang terjadi setelah individu menginjak dewasa, biasanya
cenderung menyebabkan kanker.
2. Mutasi pada sel gametik (sel kelamin)
Mutasi yang terjadi pada sel gamet (kelamin) bersifat diwariskan pada
keturunannya.

Mutasi

gametik

disebut

juga

mutasi

germinal.

Bila mutasi tersebut menghasilkan sifat dominan, maka ekspresi anomalinya akan
langsung terlihat pada keturunannya. Bila resesif, maka ekspresinya akan
tersembunyi.
Berdasarkan jenis kromosom yang mengalami mutasi, maka mutasi pada sel
gametik atau sel kelamin ini dibedakan atas:
a. Mutasi autosomal
Mutasi sel kelamin yang terjadi pada kromosom autosom. Mutasi jenis ini
menghasilkan mutasi yang dominan dan mutasi yang resesif.
b. Mutasi tertaut kelamin
Mutasi sel kelamin yang terjadi pada kromosom seks (kromosom kelamin),
berupa tertautnya beberapa gen dalam kromosom kelamin
Berdasarkan tingkatannya, mutasi dibedakan menjadi mutasi titik dan mutasi kromosom.
I. Mutasi Gen (Mutasi Titik)
Adalah mutasi yang terjadi karena adanya perubahan susunan molekul gen atau perubahan
pada struktur DNA. Mutasi dapat terjadi melalui proses replikasi atau sintesis protein. Mutasi
gen disebut juga mutasi titik, karena dampak perubahan / anomali tidak terlihat langsung
pada fenotipnya.

35

Tipe-tipe mutasi gen:


1. Mutasi pergantian basa
Peristiwa pergantian pasangan basa nitrogen pada suatu rantai polinukleotida yang
berdampak pada juga pada perubahan kodon. peristiwa mutasi pergantian basa disebut
juga subtitusi. Contoh anomali akibat terjadi mutasi pergantiann basa adalah Sickle cell
anemia (sel darah merah yang berbentuk bulan sabit).
Berdasarkan jenis basa nitrogen yang digantikan, Mutasi pergantian basa (mutasi
subtitusi) dibedakan atas:
a. Transisi
transisi terjadi jika basa purin (adenin) diganti dengan basa purin lain (guanin), atau
basa pirimidin (sitosin) diganti dengan basa pirimidin lain (timin).
b. Transversi
Transversi terjadi jika basa purin diganti dengan basa pirimidin atau sebaliknya.

2. Mutasi penyisipan dan pengurangan basa nitrogen


Merupakan peristiwa menyisipnya suatu basa nitrogen ke dalam suatu DNA atau
peristiwa

hilangnya

satu

atau

beberapa

basa

nitrogen

dalam

DNA.

Mutasi ini dapat terjadi melalui insersi dan delesi.


a. Insersi
Adalah penyisipan satu atau lebih pasangan basa nitrogen yang terdapat dalam molekul
DNA.

36

Berikut

merupakan

contoh

peristiwa

insersi

pada

sepotong

DNA:

b. Delesi
Adalah berkurangnya satu atau lebih pasangan pasa nitrogen dalam suatu potongan
DNA.
Berikut merupakan contoh peristiwa delesi pada sepotong DNA:

II. Mutasi Kromosom ( Aberasi Kromosom )


37

Berdasarkan hasil penelitian, mutasi kromosom lebih sering terjadi di bandingkan mutasi gen.
Mutasi kromosom atau aberasi kromosom adalah mutasi yang menyebabkan terjadinya
perubahan pada jumlah dan struktur kromosom.
1.) Perubahan Jumlah Kromosom
Jumlah kromosom dapat bertambah atau berkurang. Ada dua jenis perubahan jumlah
kromosom, yaitu aneuploid dan euploid
a.) Aneuploid
Aneuploid adalah penambahan atau pengurangan satu atau beberapa kromosom pada
ploid ( genom ) sehingga kandungan kromosom di dalam nucleus bukan merupaka
kelipatan dari jumlah kromosom haploidnya. Kasus aneuploid yang paling banyak
dijumpai adalah penambahan atau pengurangan satu kromosom.
(1). Penambahan satu kromosom ( 2n + 1 ), disebut
Trisomi. Berarti, di dalam nucleus terdapat satu nomor kromosom dengan tiga
homolog, sedangkan nomor yang lain tetap mengandung dua kromosom.
(2). Pengurangan satu kromosom ( 2n- 1 ), disebut
Monosomi.Berarti, ada satu kromosom tanpa pasangan homolog
b.) Euploid
Euploid adalah perubahan jumlah kromosom pada tingkat ploidi atau genom. Muatan
memiliki lebih dari dua perangkat kromosom yang lengkap. Jumlah kromosom
makhluk hidup euploid merupakan kelipatan dari jumlah kromosom pada satu genom.
Misalnya, n adalah jumlah karomosom haploid, euploidnya mungkin berjumlah
kromosom n ( monoploid ), 2n ( diploid ), 3n ( triploid ), dan 4n ( tetraploid ).
Peristiwa alami poliploid pada hewan sangat jarang terjadi. Slah satu hewan yang
mengalami poliploid adalah lebah.Perbedaan pada tingkat ploid yang ditemukan pada
lebah madu menunjukkan bahwa jantan adalah monoploid, sedangkan betina diploid.
Jika makhluk diploid dianggap sebagai makhluk normal ( liar ), maka makhluk
euploid lain merupakan hasil mutasi diploid. Pengurangan kromosom dari diploid
akan menghasilkan poliploid.
2.) Perubahan Struktur Kromosom
Kerusakan pada sebuah kromosom dapat menimbulkan ketidakteraturan susunan gen.
Perubahan struktur kromosom terdiri ats delesi, duplikasi, inverasi, dan trnslokasi
a.) Delesi
Delesi adalah mutasi yang disebabkan oleh hilangnya dua atau lebih nukleotida yang
berdampingan. Rangkaian nukleotida yang hilang dapat mencapai ribuan, bahkan
ratusan basa. Delesi dapat menyebabkan perubahan gen atau hilangnya satu atau
beberapa gen dari kromosom akibat besarnya ukuran rangkaian nukleotida yang
hilang.

38

Kebalikan dari proses delesi adalah penyisipan gen, yaitu penambahan serangkaian
basa ke dalam kromiosom. Delesi dan penyisipan gen dapat terjadi akibat
penyimpangan dalam proses rekombinasi atau akibat faktor luar yang merusak DNA,
misalnya radiasi. Kedua proses tersebut dapat berlangsung di bagian ujung kromosom
atau di bagian tengah.
b.) Duplikasi
Duplikasi adalah mutasi yang terjadi akibat penambahan ruas kromosom atau gen
dengan ruas yang telah ada sebelumnya. Duplikasi menyebabkan pengulangan ruasruas DNA dengan runtunan basa yang sama sehingga kromosom muatan menjadi
lebih panjang dibandingkan kromosom liar.
c.) Inversi
Inversi adalah penataan kembali struktur kromosom melalui pemutaran arah suatu
ruas kromosom. Inversi menyebabkan kromosom muatan memiliki ruas yang
runtunan basanya merupakan kebalikan dari runtunan basa kromosom liar.
d.) Translokasi
Translokasi adalah mutasi yang terjadi akibat perpindahan ruas DNa ke tempat yang
baru. Perpindahan terasebut dapat twerjadi pada satu kromosom atau antarkromosom
yang berbeda ( nonhomolog ). Translokasi yang terjadi di antara dua kromosom dapat
terjadi secara resiprok atau penggabungan dua kromosom
Mutasi Berdasarkan Faktor Penyebab
Berdasarkan factor penyebabnya, mutasi dibedakan atas mutasi spontan dan mutasi akibat
rangsangan dari luar
a.
Mutasi Spontan
Mutasi spontan terjadi karena kesalahan acak dalam proses replikasi atau saat
pembelahan sel. Frekuensi mut6asi spontan sangat kecil, yaitu 10 -9 10

-7

. Beberapa

penyebab mutasi yang terjadi secara spontan adalah sebagai berikut.


1.) Rekombinasi
Rekombinasi adalah perubahan akibat masuknya gen-gen atau segmen DNA
dari molekul DNA ( kromosom ) lain ke dalam suatu molekul DNA. Rekombinasi
dapat menyebabkan aberasi kromosom. Jenis rekombinasi yang sering menyebabkan
mutasi adlah rekombinasi homolog.
2.) Kesalahan Mitosis dan Meiosis
Kesalahan dakam proses mitosis dan meiosis dapat menyebabkan perubahan jumlah
kromosom. Gangguan terjadi ketika kromosom yang telah digandakan tidak dapat
bersipnasis dengan baik. Gangguan lain dapat terjadi saat sitokinesis sehingga sel
tidak terbagi menjadi dua sel baru. Akibatnya, kromosom yang telah digandakan tetap
bearda dalam satu sel. Artinya, sel tersebut memiliki jumlah kromosom dua kali lipat
dari jumlah kromosom awal.
39

b.

Mutasi Akibat Rangsangan dari Luar


Mutasi dapat terjadi karena adanya rangsangan dari luar, baik bersifat alami maupun
buatan.
1.) Mutasi Alami
Mutasi alami adalah muatsi yang terjadi secara alami. Ciri-ciri mutasi alami adalah
pasti, jarang terjadi, dan berlangsung sangat lambat. Kemungkinan terjadinya mutasi
alami adlah satu diantara miliaran kejadian sehingga sangat sulit diamati oleh
manusia dalam satu generasi.
Faktor alam penyebab mutasi, antara lain panas, radiasi sinar kosmis, dan radiasi
unsure radioaktif alam.
2.) Mutasi Buatan
Mutasi buatan adalah mutasi yang disebabkan oleh perangsangan yang dilakukan oleh
manusia. Tujuan mutasi tersebut adalah untuk memperoleh genotife baru ataupun
penelitian genetika.

Mutasi Berdasarkan Fenotipe Mutan


Jenis mutasi berdasarkan penampakan luar ( fenotipe mutan ) adalah sebagai berikut.
a.
Mutasi morfologi, yaitu mutasi yang pengaruhnya dapat dilihat dari peubahan
b.

morfologi ( bentuk, ukuran, atau warna ). Misalnya, warna mata putih Droshopila
Mutasi letal, yaitu mutasi pada alel yang telah dikenal dan menyebabkan kematian
muatan. Misalnya, kematian muatan yang memiliki alel-alel yang berhubungan dengan

kelainan darah ( anemia sel darah merah bulan sabit ).


c.
Mutasi kondosional, yaitu mutasi yang menyebabkan alel berekspresi pada kondisi
tertentu. Pada kondisi normal, kondisi muatan terlihat sama dengan jenis liar ( normal )
yang lain. Misalnya, mutasi kondisionl terhadap suhu yang dialami oleh Drosophila.
Drosophila muatan peka terhadap suhu panas dan akan mati pada suhu linkungan 30o C.
d.
Mutasi biokimia, Yitu mutasi yang menybabkan muatan tidak mampu melakukan
metaboisme tertentu. Muatan tersebut memiliki alel yang menyebabkan sel kehilangan
fungsi biokimia tertentu . Misalnya, mutan mikrob Neurospora yang tidak mampu lagi
memproduksi asam amino arginin.
e.
Mutasi resistan, yaitu mutasi yang menyebabkan muatan kebal ( resistan ) terhadap
bahan penghambat yang biasanya dirasakan oleh makhluk hidup normal. Misalnya, gulma
muatan yang tahan terhadap herbisida.
Delesi atau defisiensi
Adalah mutasi karena kekurangan segmen kromosom
Macam-macam delesi antara lain:
1) Delesi terminal; ialah delesi yang kehilangan ujung segmen kromosom.
2) Delesi intertitial; ialah delesi yang kehilangan bagian tengah kromosom
40

3) Delesi cincin; ialah delesi yang kehilangan segmen kromosom sehingga berbentuk
lingkaran seperti cincin.
4) Delesi loop; ialah delesi cincin yang membentuk lengkungan pada kromosom lainnya. Hal
ini terjadi pada waktu meiosis, sehingga memungkinkan adanya kromosom lain
(homolognya) yang tetap normal.

5. DIAGNOSIS GENETIK PRENATAL


a. Pengertian dan Manfaat
Diagnosis prenatal (PND) pada thalassemia pertama kali berhasil dilakukan
oleh Nathan and Kan (1974) dengan menggunakan darah fetal (Kan et.al., 1979).
Diagnosis prenatal merupakan bermacam cara untuk mengetahui kesehatan dan
kondisi fetus yang belum lahir. Tanpa diagnosis ini, dikhawatirkan ada sesuatu
yang tidak diinginkan pada bayi, ibunya atau keduanya. Secara khusus, diagnosis
pranatal memiliki fungsi sebagai berikut :
1. Mengelola sisa minggu kehamilan
2. Menentukan hasil kehamilan
3. Perencanaan untuk kemungkinan komplikasi dengan proses kelahiran
4. Perencanaan untuk masalah yang mungkin terjadi pada bayi yang baru lahir
5. Memutuskan apakah akan melanjutkan kehamilan
6. Kondisi yang dapat mempengaruhi kehamilan pada masa depan.
Pada kasus thalassemia, sekarang PND dapat dilakukan pada usia kehamilan
6-8 minggu dengan menggunakan sampel villi chorialis (Old et.al., Thalassemia:
Permasalahan dan Penanganannya 17 1990). Untuk mempercepat proses PND,
dapat dimulai dengan pemeriksaan DNA kedua orang tuanya terlebih dahulu.
Tindakan ini dapat dilakukan lebih awal bahkan sebelum kehamilan terjadi, pada
saat mereka telah memutuskan untuk mempunyai anak. Kemudian setelah usia
kehamilan mencapai 6-8 minggu, baru dilakukan pengambilan sampel jaringan
villi chorialis janin serta dilakukan pemeriksaan molekular sesuai dengan mutan
yang diemban oleh kedua orang tuanya (Old et.al., 1990).
b. Teknik
Ada berbagai teknik invasif dan non-invasif yang tersedia. Masing-masing dapat
diterapkan hanya selama jangka waktu tertentu selama kehamilan untuk utilitas
terbesar. Teknik-teknik yang digunakan untuk diagnosis pralahir termasuk:
1

Ultrasonography
Prosedur non-invasif ini tidak berbahaya baik untuk ibu maupun bayi yang

dikandungnya. Gelombang frekuensi tinggi yang digunakan menghasilkan


41

gambaran dari pola yang dibuat oleh jaringan dan organ, termasuk bayi di rongga
amnion. Perkembangan embiro dapat diamati sejak minggu ke-6 kehamilan.
Pengukuran oragn internal utama dan ekstremitas menentukan apakah ada
kelainan yang dapat disempurnakan dalam 16-20 minggu kehamilan.
Walaupun uji dengan ultrasonografi sangat berguna untuk menentukan posisi dan
ukuran fetus, posisi dan ukuran plasenta, banyaknya cairan amnion, dan
menampakan anatomi bayi, ada kekurangan dalam prosedur ini. Kelainan yang
halus mungkin tidak akan terdeteksi sampai akhir kehamilan atau bahkan tidak
terdeteksi sama sekali. Contohnya adalah sindrom down (trisomi 21) di mana
ketidaknormalan morfologi tidak begitu nampak, halus, seperti penebalan pada
kuduk.

Amniosentesis
Ini merupakan prosedur invasif di mana jarum melewati perut ibu bagian

bawah ke dalam rongga ketuban dalam rahim. Cairan ketuban yang cukup akan
dicapai mulai sekitar 14 minggu kehamilan. Untuk diagnosis pralahir, kebanyakan
amniocenteses dilakukan antara 14 dan 20 minggu kehamilan. Pemeriksaan USG
selalu berproses dari amniosentesis untuk menentukan usia kehamilan, posisi janin
dan plasenta, dan menentukan apakah cairan ketuban cukup. Dalam cairan ketuba,
sel janin (kebanyakan berasal dari kulit janin) yang dapat tumbuh dalam kultur
digunakan untuk analisis kromosom, analisis biokimia, dan analisis biologi
molekuler.
Pada trimester ketiga kehamilan, cairan ketuban dapat dianalisis untuk
penentuan kematangan paru janin. Hal ini penting ketika janin berada di bawah
35-36 minggu kehamilan, karena paru-paru mungkin tidak cukup matang untuk
mempertahankan kehidupan. Hal ini karena paru-paru tidak cukup menghasilkan
surfaktan. Setelah lahir, bayi akan berkembang sindrom gangguan pernapasan dari
penyakit membran hialin. Cairan ketuban dapat dianalisis oleh fluoresensi
polarisasi (fpol), untuk lesitin: sphingomyelin (LS) ransum, dan / atau untuk
phosphatidyl glycerol (PG).
Risiko dengan amniosentesis jarang terjadi, namun termasuk kehilangan janin
dan sensitization Rh maternal . Peningkatan risiko kematian janin amniosentesis
adalah sekitar 0,5% di atas apa yang biasanya diharapkan. Rh ibu negatif dapat
diobati dengan Rhogam. Kontaminasi cairan dari amniosentesis oleh sel-sel ibu
42

sangat tidak mungkin. Jika terdapat Oligohidramnios, maka cairan ketuban tidak
dapat diperoleh.
3

Chorionic villus sampling


Dalam prosedur ini, sebuah kateter masuk melalui vagina melalui leher rahim

dan masuk ke dalam rahim ke berkembang ke plasenta di bawah bimbingan USG.


Pendekatan alternatifnya adalah transvaginal dan transabdominal. Penggunaan
kateter memungkinkan sampel sel dari chorionic vili plasenta. Sel-sel ini
kemudian dapat dianalisis oleh berbagai teknik. Tes yang paling umum digunakan
pada sel-sel yang diperoleh dengan CVS adalah analisis kromosom untuk
menentukan kariotipe janin. Sel juga dapat tumbuh dalam kultur untuk analisis
biokimia atau biologi molekuler. CVS dapat dengan aman dilakukan antara 9,5
dan 12.5 minggu kehamilan.
CVS memiliki kelemahan menjadi prosedur invasif, dan memiliki peluang untuk
tingkat morbiditas janin; tingkat kerugian sekitar 0,5 hingga 1% lebih tinggi
daripada perempuan yang menjalani amniosentesis. Meski jarang, CVS dapat
dikaitkan dengan tungkai cacat pada janin. Kemungkinan sensitisasi Rh ibu juga
bisa didapatkan. Ada juga kemungkinan bahwa sel-sel darah ibu di plasenta yang
berkembang akan diambil sebagai sample bukannya sel-sel fetus atau
pencampuradukan analisis kromosom.
4

Maternal blood sampling for fetal blood cells


Ini adalah teknik baru yang menggunakan fenomena bahwa sel darah janin

memperoleh akses ke sirkulasi maternal melalui plasenta vili. Biasanya, hanya


sejumlah kecil sel-sel janin memasuki sirkulasi maternal dengan cara ini (tidak
cukup untuk menghasilkan Kleihauer-Betke positif tes untuk pendarahan janinibu). Sel-sel janin dapat diurutkan dan dianalisis dengan berbagai teknik untuk
mencari sekuens DNA tertentu. Fluorescence in-situ hybridization (FISH) adalah
salah satu teknik yang dapat diterapkan untuk mengidentifikasi kromosom tertentu
dari sel janin yang diperoleh dari dari darah ibu dan mendiagnosa kondisi
aneuploid seperti trisomies dan monosomy X.
Masalah dengan teknik ini adalah sulitnya mendapatkan banyak sel darah janin.
Mungkin belum cukup bisa diandalkan untuk menentukan anomali kariotipe janin
atau memeriksa kelainan lainnya.
5

Maternal serum alpha-fetoprotein (MSAFP)


43

Janin yang sedang berkembang memiliki dua protein darah utama - albumin
dan alfa-fetoprotein (AFP). Karena orang dewasa biasanya hanya memiliki
albumin dalam darah, tes MSAFP dapat dimanfaatkan untuk menentukan tingkat
AFP dari janin. Biasanya, hanya sejumlah kecil AFP memperoleh akses ke air
ketuban dan plasenta untuk melintasi darah ibu. Namun, bila ada cacat tabung
saraf pada janin, dari kegagalan bagian dari saraf embryologic tabung untuk
menutup, maka AFP akan melarikan diri ke dalam cairan ketuban. Cacat tabung
saraf termasuk anencephaly (kegagalan penutupan pada akhir tengkorak tabung
saraf) dan spina bifida (kegagalan penutupan pada ujung caudal tabung saraf).
Insiden gangguan-gangguan tersebut sekitar 1-2 kelahiran per 1000 di Amerika
Serikat. Juga, jika ada omphalocele atau gastroschisis (keduanya cacat pada
dinding perut janin), AFP dari janin akan berakhir di darah ibu dalam jumlah yang
lebih tinggi.
Agar tes MSAFP memiliki utilitas terbaik, di usia kehamilan harus diketahui
dengan pasti. Hal ini karena jumlah MSAFP meningkat sesuai usia kehamilan.
Juga, ras ibu dan kehadiran gestational diabetes penting untuk diketahui, karena
MSAFP dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor ini. MSAFP biasanya dilaporkan
sebagai multiples of mean (MoM). Semakin besar MoM, semakin besar
kemungkinan cacat hadir. Para MSAFP memiliki sensitivitas terbesar antara 16
dan 18 minggu kehamilan, tetapi masih dapat berguna antara 15 dan 22 minggu
kehamilan. Namun, tes ini tidak spesifik 100% karena terkadang ada berbagai
faktor yang menyebabkan MSAFP meningkat terutama saat terjadi kesalahan
penghitungan uisa kehamilan.
MSAFP juga dapat berguna dalam penyaringan untuk sindrom Down dan
trisomies lainnya. The MSAFP cenderung lebih rendah ketika sindrom Down atau
kelainan kromosom lain hadir.
6

Maternal serum beta-HCG


Tes ini paling sering digunakan sebagai tes untuk kehamilan. Dimulai pada

sekitar seminggu setelah pembuahan dan implantasi embrio ke dalam rahim,


trofoblas akan menghasilkan cukup beta-HCG (subunit beta human chorionic
gonadotropin) untuk mendiagnosis kehamilan. Jadi, pada saat pertama kali
menstruasi luput, beta-HCG akan sudah cukup untuk tes kehamilan positif. BetaHCG juga dapat diukur dalam serum dari darah ibu, dan ini dapat berguna di awal

44

kehamilan ketika terancam aborsi atau kehamilan ektopik dicurigai, karena jumlah
beta-HCG akan lebih rendah dari yang diharapkan.
Kemudian pada kehamilan, di tengah sampai akhir trimester kedua, beta-HCG
dapat digunakan bersama dengan MSAFP untuk skrining kelainan kromosom, dan
sindrom Down pada khususnya. Sebuah beta-HCG tinggi dibarengi dengan
penurunan MSAFP menunjukkan sindrom Down.
Tingkat HCG yang tinggi mengindikasikan adanya penyakit Tropoblastic
(kehamilan molar). Tidak adanya bayi saat di USG ddisertai HCG yang tinggi
mengindikasikan mola hidatidosa. Kadar HCG juga bisa digunakan untuk follow
up perawatan pada kehamilan molar untuk memastikan tidak adanya penyakit
trophoblastik seperti kariokarsinoma.
7

Serum estriol maternal


Jumlah estriol dalam serum ibu bergantung pada kelayakan janin, sebuah

plasenta berfungsi dengan benar, dan keadaan ibu. Substrat untuk estriol dimulai
sebagai dehydroepiandrosterone (DHEA) yang dibuat oleh kelenjar adrenal janin.
Ini dimetabolisme lebih lanjut di dalam plasenta menjadi estriol. The estriol
masuk ke sirkulasi ibu dan diekskresi oleh ginjal dalam air seni ibu atau oleh hati
ibu di dalam empedu. Pengukuran tingkat estriol serial pada trimester ketiga akan
memberikan indikasi umum kesejahteraan janin. Jika tingkat estriol turun, maka
janin terancam dan emergency mungkin diperlukan. Estriol cenderung lebih
rendah bila sindrom Down hadir dan juga adanya adrenal hypoplasia dengan
anencephaly.
8

Inhibin-A
Inhibin disekresi oleh plasenta dan korpus luteum. Inhibin-A dapat diukur

dalam serum ibu. Tingkat peningkatan inhibin-A adalah dikaitkan dengan


peningkatan risiko untuk trisomi 21. Inhibin tinggi-A dapat berhubungan dengan
risiko kelahiran prematur.
9

Pregnancy-Associated Plasma Protein A (PAPP-A)


Rendahnya tingkat Papp-A sebagai diukur dalam serum ibu selama trimester

pertama dapat berhubungan dengan anomali kromosom janin termasuk trisomies


13, 18, dan 21. Selain itu, kadar Papp -A pada trimester pertama dapat
memprediksi hasil kehamilan yang merugikan, termasuk small for gestational age
(SGA) atau lahir mati. Papp tinggi-tingkat A dapat memprediksi large for
gestational age (LGA) baby.
45

10 Triple or Quadriple Screen


Menggabungkan tes serum ibu dapat membantu dalam meningkatkan
sensitivitas dan spesifisitas untuk deteksi kelainan janin. Tes klasik adalah triple
screen untuk alfa-fetoprotein (MSAFP), beta-HCG, dan estriol (uE3). Atau
"quadruple screen dengan ditambah inhibin-A.
Condition MSAFP uE3 HCG
Neural tube defect Increased Normal Normal
Trisomy 21 Low Low Increased
Trisomy 18 Low Low Low
Molar pregnancy Low Low Very High
Multiple gestation Increased Normal Increased
Fetal death (stillbirth) Increased Low Low
Catatan : tingkat perubahan analisis ini pesat selama kehamilan, sehingga
interpretasi hasil pengukuran sangat tergantung pada diketahuinya usia kehamilan
yang tepat. Jika tidak, hasilnya dapat disalahartikan.

6. ISOLASI DNA
Isolasi DNA merupakan langkah mempelajari DNA. Salah satu prinsisp isolais
DNA yaitu dengan sentrifugasi. Sentrifugasi merupakan teknik untuk memisahkan
campuran berdasarkan berat molekul komponennya. Molekul yang mempunyai berat
molekul besar akan berada di bagian bawah tabung dan molekul ringan akan berada
pada bagian atas tabung (Mader 193). Hasil sentrifugasi akan menunjukkan dua
macam fraksi yang terpisah, yaitu supernatan pada bagian atas dan pelet pada bagian
bawah (Campbell 2002).
Isolasi DNA dengan teknik sentrifugasi akan mengendapkan DNA. Supaya
hasil isolasi berupa DNA murni yang tidak tercampur dengan molekul-molekul lain
maka dalam proses isolasinya dicampurkan berbagai macam larutan. Larutan A
berfungsi sebagai resuspensi yaitu penggabunagn kembali pelet yang telah terbentuk
dengan larutan yang dicampurkan. Selain itu larutan A juga berfungsi sebagai buffer
dan pengkelat. Pemilihan buffer tersebut dilihat dari kemampuan buffer
menghasilhkan arus listrik. Larutan B yang terdiri atas SDS dan NaOH berfungsi
sebagai larutan pelisis. NaOH sendiri dapat mendenaturasi protein. Sedangkan larutan
C befrungsi untuk merenarutasikan kembali. Etanol 70% yang digunakan dalam
proses isolasi berfungsi untuk mengeluarkan endapan garam karena Na+ bermuatan
positif dan DNA bermuatan negatif. Larutan ddH2O yang ditambahkan berfungsi agar
endapan DNA yang dihasilkan didapat dengan konsentrasi yang cukup tinggi. Larutan
46

di vortex untuk memudahkan bakteri tersuspensi. Bakteri yang telah diendapkan


tersebut kana lisis dengan penambahan larutan buffer. Agar proses lisisnya bakteri
sempurna maka larutan dibolak-balik secara halus. Bakteri yang telah lisis ini ditandai
dengan munculnya lendir. Ciran DNA yang dihasilkan kemudina dipisahkan dari
endapannya. Cairan ini ditambahkan RNase untuk melisiskan RNA supaya hasil yang
diisolasi berupa DNA murni.
Proses merekristalisasi molekul DNA dengan menggunakan etanol dapat
mengakibatkan terbentuknya endapan yang dapat dilakukan dengan cara mencelupkan
batang pengaduk ke dalam larutan, maka molekul DNA akan terlilit pada batang
pengaduk tersebut. Hasil isolasi DNA yang didapat dari percobaan ini adalah seperti
benang-benang halus yang berwarna putih. Benang-benang tersebut merupakan
kumpulan DNA yang berbentuk kromatin.
Kromatin terdiri dari sejumlah molekul DNA yang beruntai ganda yang sangat
panjang dan massa protein dasar yang agak kecil serta hampir sama besarnya yang
dinamakan histon disamping protein non histon dalam jumlah yang lebih sedikit
(sebagian diantaranya bersifat asam dan berukuran lebih besar daripada histon) dan
sejumlah kecil RNA. Heliks DNA berantai ganda dalam setiap kromosom memiliki
panjang yang besarnya ribuan kali diameter nukleus sel. Salah satu tujuan molekul ini,
khususnya histon adalah untuk memadatkan DNA.
Alat dan Bahan
1. Darah segar
2. Antikoagulan EDTA
3. Cell lysis solution
4. RBC Lysis Solution
5. Protein precipitation solution
6. RNASe A
7. Isopropanol
8. Tabung ependorf
9. Sentrifuge
10. Mikropipet
11. Waterbath
12. Vertex
Prosedur
1. Menyiapkan darah segar yang telah diberikan antikoagulan EDTA.
2. Menyiapkan tabung ependorf
3. Memasukkan RBC lysis solution sebanyak 900 mikro liter ke dalam tabung
4.
5.
6.
7.

ependorf
Menambahkan darah segar sebanyak 300 mikro liter ke dalam tabung ependorf
Melakukan proses Inverting
Menginkubasi larutan tersebut selama 10 menit
Melakukan proses sentrifugasi selama 30 detik dengan kecepatan 14.000 rpm
47

8. Membuang supernatan dan mengambil benda darah yang mengendap


9. Menambahkan Cell lysis solution sebanyak 300 mikro liter
10. Menghomogenasi larutan dengan pengadukan menggunakan mikropipet
11. Menambahkan 1,5 mikroliter RNAse A kedalam larutan
12. Melakukan proses inverting
13. Menginkubasi larutan tersebut selama 15 menit di dalam waterbath dengan suhu
37C selama 15 menit
14. Menambahkan protein precipitation solution sebanyak 100 mikro liter
15. Melakukan proses sentrifugasi selama 3 menit hingga terlihat pellet yang
berwarna coklat terang
16. Menyiapkan tabung ependorf yangberisi isopropanol sebanyak 300 mikroliter
17. Mengambil supernatant dan memindahkannya ke dalam tabung ependorf tersebut
18. Melakukan proses Inverting hingga terlihat untaian DNA yang berwarna putih
Hasil :
Terlihat pita berwarna putih pada campuran supernatant dengan isopropanol

DAFTAR PUSTAKA
Bakta, I Made. 2006. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta: EGC.
Burke W. Genetic testing. N Engl J Med 2002 Dec 5; 23: 1867-75.
Cohen, Alan R, et al., 2004. Hematology: Thalassemia. New York: American Society of
Hematology.
Dorland, W.A.Newman.2002.Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 29. Jakarta: EGC.
Guyton, Arthur C dan John E Hall. 1997. Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta: EGC.
Hadisuparto, Yuwono. 2007. Eritrosit dan Hemoglobin. Disajikan dalam kuliah Patologi
Klinik Semester IV tahun akademik 2006/2007 FK UNS.
Hardjasasmita, Pantjita. 2006. Ikhtisar Biokimia Dasar B. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Hoffbrand, A.V., et al. 2005. Kapita Selekta Hematologi. Edisi 4. Jakarta: EGC.
Mercer University School of Medicine. Prenatal Diagnosis. Diunduh dari
http://library.med.utah.edu/WebPath/TUTORIAL/PRENATAL/PRENATAL.html.
Diakses 23 javascript:void(0)Februari 2010.
Sacher, Ronald A; Richard A.M. 2004. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium.
Jakarta: EGC.
Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia: dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC.
Sudoyo, Aru W. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II Edisi IV.Jakarta: Pusat
Penerbit Departemen IPD FKUI.
48

Sutedjo, A.Y. 2007. Buku Saku Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan Laboratorium.
Yogyakarta: Amara Books.
Suyono, Slamet. 2001. Kapita Selekta Biologi Molekuler. Jakarta: Widya Medika.
Tim Penyusun. 2007. Buku Pedoman Mahasiswa: Blok IV Hematologi. Surakarta: Unit
Pengembangan Pendidikan FK UNS.
Widmann, Frances K. 1995. Tinjauan Klinis Atas Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Edisi 9.
Terj. : Gandasoebroto, et al. Jakarta: EGC
http://www.nlm.nih.gov
http://www.emedicine.com
http://www.ncbi.nlm.net.

49