Anda di halaman 1dari 5

1.

Jamu (Empirical based herbal medicine)


Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara tradisional, misalnya dalam
bentuk serbuk seduhan, pil, dan cairan yang berisi seluruh bahan tanaman yang
menjadi penyusun jamu tersebut serta digunakan secara tradisional. Pada umumnya,
jenis ini dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur yang disusun dari
berbagai tanaman obat yang jumlahnya cukup banyak, berkisar antara 5 10 macam
bahkan lebih. Bentuk jamu tidak memerlukan pembuktian ilmiah sampai dengan klinis,
tetapi cukup dengan bukti empiris. Jamu yang telah digunakan secara turun-menurun
selama berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin ratusan tahun, telah membuktikan
keamanan dan manfaat secara langsung untuk tujuan kesehatan tertentu.
Jamu harus memenuhi kriteria :
a. Aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan;
b. Klaim khasiat dibuktikan berdasarkan data empiris;
c. Memenuhi persyaratan mutu yang berlaku.
Jenis klaim penggunaan sesuai dengan pembuktian tradisional dan tingkat
pembuktiannya yaitu tingkat pembuktian umum dan medium. Jenis klaim penggunaan
harus diawali dengan kata kata : Secara tradisional digunakan untuk , atau sesuai
dengan yang disetujui pada pendaftaran.
Logo Jamu :

Logo Ranting daun terletak dalam lingkaran, ditempatkan dibagian atas kiri dari wadah
/ pembungkus/brosur, dicetak warna hijau di atas dasar warna putih atau warna lain
yang menyolok kontras dengan warna logo. Tulisan Jamu harus jelas dan mudah
dibaca, dicetak dengan warna hitam di atas dasar warna putih atau warna lain yang
menyolok kontras dengan tulisan Jamu.
2. Obat Herbal Terstandar (Scientific based herbal medicine)
Adalah obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau penyarian bahan alam yang
dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral. Untuk melaksanakan proses ini
membutuhkan peralatan yang lebih kompleks dan berharga mahal, ditambah dengan
tenaga kerja yang mendukung dengan pengetahuan maupun ketrampilan pembuatan
ekstrak. Selain proses produksi dengan tehnologi maju, jenis ini pada umumnya telah
ditunjang dengan pembuktian ilmiah berupa penelitian-penelitian pre-klinik seperti

standart kandungan bahan berkhasiat, standart pembuatan ekstrak tanaman obat,


standart pembuatan obat tradisional yang higienis, dan uji toksisitas akut maupun
kronis.
Obat Herbal Terstandar harus memenuhi kriteria :
a. Aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan;
b. Klaim kasiat dibuktikan secara ilmiah/pra klinik;
c. Telah dilakukan standardisasi terhadap bahan baku yang digunakan dalam produk
jadi;
Memenuhi persyaratan mutu yang berlaku. Jenis klaim penggunaan sesuai dengan
tingkat pembuktian yaitu tingkat pembuktian umum dan medium.
Logo Obat Herbal Terstandar :

Logo Obat Herbal Terstandar harus mencantumkan logo dan tulisan Obat Herbal
Terstandar . Logo berupa Jari-jari Daun (3 Pasang) Terletak dalam lingkaran, dan
ditempatkan dibagian atas kiri wadah/pembungkus/brosur; dicetak warna hijau diatas
dasar warna putih atau warna lain yang menyolok kontras dengan warna logo; tulisan
Obat Herbal Terstandar harus jelas dan mudah dibaca, dicetak dengan warna hitam
diatas dasar warna putih atau warna lain yang menyolok .
3. Fitofarmaka (Clinical based herbal medicine)
Merupakan bentuk obat tradisional dari bahan alam yang dapat disejajarkan dengan
obat modern karena proses pembuatannya yang telah terstandar, ditunjang dengan
bukti ilmiah sampai dengan uji klinik pada manusia.. Dengan uji klinik akan lebih
meyakinkan para profesi medis untuk menggunakan obat herbal di sarana pelayanan
kesehatan. Masyarakat juga bisa didorong untuk menggunakan obat herbal karena
manfaatnya jelas dengan pembuktian secara ilimiah.
Fitofarmaka harus memenuhi kriteria :
a. Aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan;
b. Klaim khasiat harus dibuktikan berdasarkan uji klinik;
c. Telah dilakukan standarisasi terhadap bahan baku yang digunakan dalam produk
jadi;
d. Memenuhi persyaratan mutu yang berlaku.

Jenis klaim penggunaan sesuai dengan tingkat pembuktian medium


tinggi. Fitofarmaka harus mencantumkan logo dan tulisan Fitofarmaka

dan

Logo Fitofarmaka:

Logo berupa Jari-jari daun (yang kemudian membentuk bintang), dan ditempatkan
pada bagian atas kiri dari wadah/pembungkus/brosur; dicetak warna hijau diatas dasar
putih atau warna lain yang menyolok kontras dengan warna logo; tulisan Fitofarmaka
harus jelas dan mudah dibaca, dicetak dengan warna hitam di atas dasar warna putih
atau warna lain yang menyolok kontras dengan tulisan Fitofarmaka.
Saat ini baru ada 5 produk fitofarmaka di Indonesia, semuanya mendapat serifikat di tahun 2005.
Kelima produk fitofarmaka tersebut diproduksi oleh empat perusahaan farmasi Indonesia.
Manfaatnya untuk mengatasi berbagai kondisi yaitu sebagai anti diare, mengatasi rematik,
immunomodulator, mengatasi tekanan darah dan untuk meningkatkan vitalitas pria.
1. 1. Nodiar Kimia Farma
Tiap tablet Nodiar mengandung :
Attapulgite .. 300 mg
Psidii Folium Extract . 50 mg
Curcuma domestica Rhizoma Extract . 7.5 mg
Indikasi : diare yang tidak spesifik
1. 2. X-Gra Phapros
Tiap kapsul berisi:
Ekstrak Ganoderma lucidum 150 mg
Ekstrak Eurycomae radix 50 mg
Ekstrak Ginseng 30 mg
Ekstrak Retrofracti fructus 2,5 mg
Royal jelly 5 mg

Indikasi: Meningkatkan stamina dan kesegaran tubuh, membantu meningkatkan stamina pria,
membantu mengatasi disfungsi ereksi dan ejakulasi dini.
1. 3. Stimuno Dexa Medica
Komposisi: Tiap 5 ml Stimuno Sirup mengandung ekstrak Phyllanthus niruri 25 mg. Tiap kapsul
Stimuno mengandung Phyllanthus niruri 50 mg
Indikasi: Membantu memperbaiki dan meningkatkan daya tahan tubuh
1. 4. TensigardPhapros
Komposisi tiap kapsul berisi:
Ekstrak Apii herba 92mg
Ekstrak Orthosiphon folium 28mg
Indikasi: Menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolic
1. 5. Rheumaneer Nyonya Meneer
Komposisi:
Curcumae domesticae Rhizoma 95 mg
Zingiberis Rhizoma ekstrak 85 mg
Curcumae Rhizoma ekstrak 120 mg
Panduratae Rhizoma ekstrak 75 mg
Retrofracti Fructus ekstrak 125 mg
Indikasi: mebantu mengurangi nyeri persendian.
Ramuan 1 :
15 gram bunga kenop segar direbus dengan 400 cc air hingga tersisa 200 cc, kemudian airnya
diminum selagi hangat.
Pemakaian : Konsumsi secara teratur 2 kali sehari
Ramuan 2 :
30 gram akar putri malu/sikejut direbus dengan 400 cc air hingga tersisa 200 cc, kemudian airnya
diminum selagi hangat.
Pemakaian : Konsumsi secara teratur 2 kali sehari
Ramuan 3 :
Lobak putih secukupnya dijus hingga tertampung 1 mangkok, lalu ditim dan diminum.

Pemakaian : Konsumsi secara teratur 2 kali sehari