Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN ANATOMI HEWAN

PERCOBAAN I
PISCES (OSTETICHTYES)

OLEH

NAMA

: EBIT YASAKTI

STAMBUK

: F1D113009

KELOMPOK

: III ( TIGA )

ASISTEN

: WA ODE DESI, S.Si

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNUVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2015

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, salah satu
sumber daya tersebut adalah ikan. Ikan merupakan salah satu jenis hewan
vertebrata yang bersifat poikilotermis (berdarah dingin), memiliki ciri khas pada
tulang belakang, insang dan siripnya serta tergantung pada air sebagai medium
untuk kehidupannya. Ikan memiliki kemampuan di dalam air untuk bergerak
dengan menggunakan sirip untuk menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga tidak
tergantung pada arus atau gerakan air. Setiap ikan memiliki karakteristik tertentu
baik secara anatomi maupun morfologi untuk membedakan ikan yang satu dengan
yang lain.
Sistem ekskresi pada ikan terdiri dari ginjal, yang melekat pada dinding
dalam tubuh sebelah dorsal dengan warna merah kecoklatan. Di bawah ginjal
terdapat gelembung renang yang dapat digunakan untuk mengubah daya apung
dan sebagai alat bantu dalam bernafas. Sistem pernapasan pada ikan umumnya
berupa insang (brancia), yang terdiri dari tutup insang, lengkung insang
(branchialis), lembaran insang (hemibrancia), dan holobranchia
Sistim cardiovasculer pada ikan terdiri dari arteri dan vena serta susunan
otot-otot. Badan ikan yang dipotong tegak lurus melalui tulang punggung, otototot tampak tersusun menurut lingkaran- lingkaran konsentris, sedangkan susunan
syaraf terdiri atas syaraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang), dan susunan
syaraf tepi. Sistem pencernaan (digestive system) adalah sistem yang terdiri dari
pencernaan saluran dan organ-organ lain yang membantu tubuh memecah dan

menyerap makanan. Sistem atau alat pencernaan pada ikan terdiri dari dua bagian,
yaitu saluran pencernaan (Tractus digestivus) dan kelenjar pencernaan (Glandula
digestoria). Saluran pencernaan terdiri dari mulut, rongga mulut, faring, esofagus,
lambung, pilorus, usus, rektum dan anus. Sedangkan kelenjar pencernaan terdiri
dari hati dan pankreas yang berguna untuk menghasilkan enzim pencernaan yang
nantinya akan bertugas membantu proses penghancuran makanan. Berdasarkan
latar belakang tersebut sehingga dilaksanakan praktikum anatomi pisces, untuk
mengetahui lebih detail tentang sistem ekskresi, sistem pernapasan, sistim
cardiovasculer, dan sistem pencernaan pada pisces.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada praktikum ini adalah bagaimana bentuk, struktur,
tipe, dan letak dari sistem anatomi ikan nila (Oreohcromis niloticul) secara
inspection dan sectio?
C. Tujuan Praktikum
Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum ini adalah mengetahui bentuk,
struktur, tipe, dan letak dari sistem anatomi ikan nila (Oreohcromis niloticul)
secara inspection dan sectio
D. Manfaat Praktikum
Manfaat yang diperoleh pada praktikum ini adalah dapat mengetahui
bentuk, struktur, tipe, dan letak dari anatomi ikan nila (Oreohcromis niloticul)
secara inspection dan sectio.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Morfologi Ikan Nila (Oreochromis niloticus)


Ikan nila memiliki ciri morfologi yaitu berjari-jari keras, sirip perut
torasik, letak mulut subterminal dan berbentuk meruncing. Selain itu, tanda
lainnya yang dapat dilihat dari ikan nila adalah warna tubuhnya hitam dan agak
keputihan. Bagian tutup insang berwarna putih, sedangkan pada nila lokal putih
agak kehitaman bahkan kuning. Sisik ikan nila berukuran besar, kasar dan
tersusun rapi. Sepertiga sisik belakang menutupi sisi bagian depan. Tubuhnya
memiliki garis linea lateralis yang terputus antara bagian atas dan bawahnya.
Linea lateralis bagian atas memanjang mulai dari tutup insang hingga belakang
sirip punggung sampai pangkal sirip ekor. Ukuran kepala relatif kecil dengan
mulut berada di ujung kepala serta mempunyai mata yang besar (Kursini, 2007).
Bentuk badan ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah pipih ke samping
memanjang. Mempunyai garis vertikal pada badan sebanyak 9-11 buah,
sedangkan garis-garis pada sirip berwarna merah berjumlah 6-12 buah. Pada sirip
punggung terdapat juga garis-garis miring. Mata kelihatan menonjol dan relatif
besar dengan bagian tepi mata berwarna putih. Badan relatif lebih tebal dan kekar
dibandingkan ikan mujair. Garis lateralis (gurat sisi di tengah tubuh) terputus dan
dilanjutkan dengan garis yang terletak lebih bawah (Fujaya, 2004).
Perbedaan antara ikan jantan dan betina dapat dilihat pada lubang
genitalnya dan juga ciri-ciri kelamin sekundernya. Pada ikan jantan, di samping
lubang anus terdapat lubang genital yang berupa tonjolan kecil meruncing sebagai

saluran pengeluaran kencing dan sperma. Tubuh ikan jantan juga berwarna lebih
gelap, dengan tulang rahang melebar ke belakang yang memberi kesan kokoh,
sedangkan yang betina biasanya pada bagian perutnya besar. Secara umum ikan
nila sangat tahan terhadap serangan penyakit, yang disebabkan oleh virus, bakteri,
jamur dan kelebihan ikan nila dengan sistem intensif sangat menjamin ikan nila
tidak terserang penyakit, mengingat penggantian air kontinyu dilakukan setiap
hari minimal 20 % (Withers, 1992).
B. Sistem Respirasi
Insang adalah organ yang rentan terhadap pengaruh zat kimia dan menjadi
organ sasaran dari zat kimia atau toksik.Insang berperan pada proses respirasi,
keseimbangan asam basa, regulasi ionik dan osmotik karena adanya jaringan
epitelium branchial yang menjadi tempat berlangsungnya Transport aktif antara
organisme dan lingkungan. Insang merupakan organ Ertama tempat penyaringan
air yang masuk ke dalam tubuh ikan, oleh karen itu jika air mengandung toksik
akan memberikan dampak pada jaringan insang (Withers, 1992 dalam Nofyan,
2011).
Insang atau branchia merupakan organ pernafasan yang digunakan oleh
ikan untuk melakukan proses pernafasan yaitu pengambilan oksigen dan
pelepasan karbon dioksida. Setiap ikan memiliki insang pada bagian kanan dan
kiri dari faring. Kebanyakan ikan bertulang sejati memiliki empat pasang insang,
namun ada yang sampai enam pasang. Setiap insang ikan terdiri dari filamen
insang atau hemibranchia atau gill gilament, berwarna merah, terdiri jaringan
lunak dengan bentuk menyerupai sisir dan melekat pada lengkung insang. Tiap

satu lembaran insang terdiri dari sepasang filamen, dan pada setiap filamen
mengandung banyak lapisan tipis yang disebut lamela. Filamen mengandung
pembuluh darah kapiler yang memungkinkan oksigen (O2) berdifusi masuk dan
karbondioksida (CO2) berdifusi keluar (Sukiya, 2003 dalam Kusumadewi, 2015).
C. Sistem Reproduksi Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Ikan nila mulai memijah pada umur 4 bulan atau panjang badan berkisar
9,5 cm. Pembiakan terjadi setiap tahun tanpa adanya musim tertentu dengan
interval waktu kematangan telur sekitar 2 bulan. Proses pemijahan alami pada
suhu air berkisar 25-30 derajat Celcius, keasaman (pH) 6,5-7,5, dan ketinggian air
0,6-1m. Induk betina matang kelamin dapat menghasilkan telur antara 250 - 1.100
butir. Ikan nila tergolong sebagai Mouth breeder atau pengeram dalam mulut.
Telur-telur yang telah dibuahi akan menetas dalam jangka 35 hari di dalam mulut
induk betina. Ikan nila jantan mempunyai naluri membuat sarang berbentuk
lubang di dasar perairan yang lunak sebelum mengajak pasangannya untuk
memijah. Selesai pemijahan, induk betina menghisap telur-telur yang telah
dibuahi untuk dierami di dalam mulutnya. Induk jantan akan meninggalkan induk
betina, membuat sarang dan kawin lagi. Ikan nila merupakan Parental Care Fish,
yaitu tipe yang mengerami telur dan menjaganya dalam mulut (Sucipto, 2005).
Nila betina mengerami telur di dalam mulutnya dan senantiasa mengasuh
anaknya yang masih lemah. Selama 10-13 hari, larva diasuh oleh induk betina.
Jika induk betina melihat ada ancaman, maka anakan akan dihisap masuk oleh
mulut betina, dan dikeluarkan lagi bila situasi telah aman. Benih diasuh sampai
berumur kurang lebih 2 minggu (Nurhidayat, 2002).

III. METODE PRAKTIKUM


A. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari senin, 26 Oktober 2015 pukul
15.30 sampai dengan 17.30 WITA dan bertempat di Laboratorium Ekologi,
Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Halu Oleo
Kendari.
B. Alat dan Bahan

1. Alat

Alat yang digunakan pada praktikum ini tercantum pada tabel 1.


Tabel 1. Alat dan kegunaan pada praktikum pisces
N
Nama alat
Kegunaan
o
1. Alat bedah
Untuk membedah objek pengamatan
2. Papan seksi
Sebagai tempat untuk membedah
objek pengamatan
3. Jarum pentul
Untuk menempelkan objek pada
papan seksi
4. Lap kasar dan lap halus
Untuk membersihkan papan seksi
5. Mikroskop
Untuk mengamati bentuk sisik pada
objek
6. Kaca objek
Untuk meletakkan objek yang diamati
di bawah mikroskop
7. Cawan petri
Untuk menyimpan organ objek yang
diamati

2. Bahan

Bahan yang digunakan pada praktikum ini tercantum pada tabel 2.


Tabel 2. Bahan dan kegunaan pada praktikum pisces
No
Nama Alat
Kegunaan
1. Ikan nila (Oreochromis Sebagai objek yang diamati
niliticus)
2. Larutan NaCl 0,9%
Sebagai bahan untuk membersihkan
insang
3. Alkohol
Sebagai
bahan
untuk
membersihkanpapan seksi
4. Kapas
Sebagai bahan untuk membersihkan
bahan dan alat yang digunakan

C. Prosedur kerja
Prosedur kerja yang dilakukan dalam praktikum ini adalah sebagai
berikut:
1. Mengambil seekor ikan nila (Oreochromis niliticus), meletakkannya di
atas gabus (pengganti papan seksi) dan menjepitnya dengan alat penjepit
agar tidak lepas.
2. Tahapan pertama mengamati secara inspectio dari caput sampai pada
caudal: apparatus opercularis (tutup insang), tipe squama, sextremitas
liberae (anggota badan bebas) berupa pinna (sirip) dan tipe caudal.
Mengambil gambarnya dan memberi keterangan pada masing-masing
bagian.
3. Tahapan kedua mengamati secara sectio dengan mengiris secara hati-hati
dan teliti pada kulit luar untuk menampakkan alat-alat dalam agar hasil
irisan tidak merusak organ dalam pada ikan.
4. Mengamati topografi (branchia sampai anus), sistem digestorium (tractus
digestivus dan glandula digestoria), sistem urogenitale (organa genitalia
dan organa uropoetica) pada jantan dan betina, sistem musculare (facies

lateralis, bagian cranial, bagian caudal), sistem cardiovaskulare (cor)


dengan menggunakan mikroskop stereo. Mengambil gambarnya dan
memberi keterangan masing-masing bagian organ.
5. Mengamati branchia (insang) pada ikan, memisahkannya dari tubuh ikan
dan mengamati letak gill raker, lembaran insang dan arcus branchialis di
bawah mikroskop stereo dengan perbesaran kuat. Mengambil gambar dan
memberinya keterangan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A.

Hasil Pengamatan

1.

Insectio

2. Morfologi Ikan Nila (Oreochromis niloticus)


A. Gambar Pengamatan
3
2
1

11

10

9 8
Jantan

7
6

Keterangan :
2

5 4

Betina

B. Gambar Literatur

3. Alat Genetalia Luar Ikan Nila (Oreochromis niloticus)


A. Gambar Pengamatan

Jantan
B. Gambar Literatur

Betina

1.
2.
3.
4.

Kepala (Caput)
Badan (Truncus)
Ekor (Caudal)
Mulut (Cavum
oris)
5. Mata (Oculus)
6. Tutup insang
(Operculum)
7. Sirip perut
(Pelvis)
8. Sirip dada
(Pectoral)
9. Sirip punggung
(Dorsal)
10. Sirip anus

Keterangan :
1. Lubang anus
2. Lubang sperma
dan urine
3. Lubang urine
4. Lubang
pengeluaran telur

4. Sisik Ikan Nila (Oreochromis niloticus)


A. Gambar Pengamatan

Keterangan :
1. Radier
2. Lokus
3. Lingkaran
(Circuli)

1
2

Tipe sisik (Squama)


Stenoid

B. Gambar Literatur

5. Ekor Ikan Nila (Oreochromis niloticus)


A. Gambar Pengamatan

B. Gambar Literatur

Keterangan :
Tipe ekor (Caudal)
Rounded

2. Sectio
1. Sistem Pernapasan Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
A. Gambar Pengamatan insang
1
2
3

Keterangan :
1. Lembar insang
(hemibranchia)
2. Lengkung insang
(Arcus
branchialis)
3. Saringan insang
(Gill raker)

B. Gambar Literatur

2. Sistem Kardiovaskuler Ikan Nila (Oreochromis niloticus)


A. Gambar Pengamatan jantung
1

Keterangan :
1. Jantung (Cor)

B. Gambar Literatur

3. Sistem Urogenital Ikan Nila (Oreochromis niloticus)


A. Gambar Pengamatan
1

Keterangan :
1. Vas deferensi
2. Sinus urogenitalis
3. Porus
urogenitalis

2
3
4. Sistem Pencernaan Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
A. Gambar Pengamatan
4
6
5
B. Gambar Literatur
1

2
3

4
5

6
8

Keterangan :
1. Mulut (Cavum
oris)
2. Insang
3. Esofagus
4. Usus buntu
(Sekum)
5. Lambung
(Ventriculus)
6. Usus (Intestinum)
7. Rektum
8. Anus

5. Sistem Ekskresi Ikan Nila (Oreochromis niloticus)


A. Gambar Pengamatan
1

Keterangan :
1. Ginjal (Ren)
2. Gelembung
renang (Vesica
naratori)

B.

Pembahasan
Ikan Nila (Oreochromis niloticus) merupakan genus ikan yang dapat hidup
dalam kondisi lingkungan yang memiliki toleransi tinggi terhadap kualitas air yang
rendah, sering kali ditemukan hidup normal pada habitat-habitat yang ikan dari jenis
lain tidak dapat hidup. Ikan Nila memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan
hidupnya sehingga dapat dipelihara di dataran rendah yang berair payau hingga
dataran tinggi yang berair tawar. Habitat hidup ikan Nila sangat beragam, dari
sungai, danau, waduk, rawa, sawah, kolam, hingga tambak. Ikan Nila dapat tumbuh
secara normal pada kisaran suhu 14-38 derajat Celcius dan dapat memijah secara
alami pada suhu 22-37 derajat Celcius. Pertumbuhan dan perkembangbiakan, suhu
optimum bagi ikan Nila adalah 25-30 derajat Celcius.
Pertumbuhan ikan Nila biasanya terganggu jika suhu habitatnya lebih rendah
dari 14 derajat Celcius atau pada suhu tinggi 38 derajat Celcius. Ikan Nila akan
mengalami kematian pada suhu 6 derajat Celcius atau 42 derajat Celcius. Ikan Nila
memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan lingkungan hidup. Keadaan pH air
antara 5 11 dapat ditoleransi oleh ikan Nila, tetapi pH optimal untuk perkembangan

dan pertumbuhan ikan ini adalah 7 8. Ikan Nila masih dapat tumbuh dalam keadaan
air asin pada kadar salinitas 0 35 permil.
Berdasarkan hasil penganan secara insectio, morfologi ikan nila (Oreocromis
niloticus), ikan nila umumnya memiliki bentuk tubuh panjang dan ramping, dengan
sisik berukuran besar, matanya besar, menonjol, dan bagian tepinya berwarna putih.
Gurat sisi (linea literalis) terputus dibagian tengah badan kemudian berlanjut, tetapi
letaknya lebih ke bawah dari pada letak garis yang memanjang di atas sirip dada.
Sirip punggung, sirip perut, dan sirip dubur mempunyai jari-jari keras dan tajam
seperti duri. Sirip punggungnya berwarna hitam dan sirip dadanya juga tampak
hitam. Bagian pinggir sirip punggung berwarna abu-abu atau hitam. Ikan Nila
memiliki lima sirip, yaitu sirip punggung (dorsal fin), sirip dada (pectoral fin), sirip
perut (venteral fin), sirip anus (anal fin), dan sirip ekor (caudal fin). Sirip punggung
memanjang, dari bagian atas tutup insang hingga bagian atas sirip ekor. Ada
sepasang sirip dada dan sirip perut yang berukuran kecil. Sirip anus hanya satu buah
dan berbentuk agak panjang. Sementara itu, sirip ekornya berbentuk berbentuk bulat
dan hanya berjumlah satu buah
Perbedaan antara ikan jantan dan betina dapat dilihat pada lubang genitalnya
dan juga ciri-ciri kelamin sekundernya. Pada ikan jantan, di samping lubang anus
terdapat lubang genital yang berupa tonjolan kecil meruncing sebagai saluran
pengeluaran kencing dan sperma. Tubuh ikan jantan juga berwarna lebih gelap,
dengan tulang rahang melebar ke belakang yang memberi kesan kokoh, sedangkan
yang betina biasanya pada bagian perutnya besar.

Berdasarkan bentuk alat kelaminnya, ikan Nila jantan memiliki ukuran sisik
yang lebih besar daripada ikan Nila betina. Alat kelamin ikan Nila jantan berupa
tonjolan agak runcing yang berfungsi sebagai muara Turin dan saluran sperma yang
terletak di depan anus. Jika diurut, perut ikan Nila jantan akan mengeluarkan cairan
bening (cairan sperma) terutama pada saat musim pemijahan. Sementara itu, ikan
Nila betina mempunyai lubang genital terpisah dengan lubang saluran urin yang
terletak di depan anus. Bentuk hidung dan rahang belakang ikan Nila jantan melebar
dan berwarna biru muda. Pada ikan betina, bentuk hidung dan rahang belakang agak
lancip dan berwarna kuning terang. Sirip punggung dan sirip ekor ikan Nila jantan
berupa garis putus-putus. Sementara itu, pada ikan Nila betina, garisnya berlanjut
(tidak putus) dan melingkar.
Tipe sisik pada ikan Nila (Oreochromis niloticus) termasuk sisik ctenoid
dengan pinggiran yang keras sepanjang tepi posterior, pertumbuhan pada tipe sisik
ctenoid ini adalah bagian atas dan bawah, tidak mengandung dentine atau enamel dan
kepipihannya sudah tereduksi menjadi lebih tipis, fleksibel dan transparan. Tipe sisik
ctenoid terdiri dari Radier, Lokus dan Circuli. Circuli yang baru, terletak dibawah
seperti lingkaran tahun pada pohon yang dapat dijadikan suatu bukti untuk melihat
umur dari ikan. Ikan Nila memiliki ekor bentuk Caudal Rounded, terdapat garis
hitam dan lingkaran merah pada betina sebagai tanda- tanda kematagan gonad,
umumnya ekor ikan Nila digunakan untuk berenang dengan cepat.
Pengamatan secara Sectio pada ikan Nila (Oreochromis niloticus), pertama
yaitu penganan sistem respirasi (sistem pernafasan). Pernafasan adalah pertukaran
CO2 (sisa-sisa proses metabolisme tubuh yg harus dibuang) dengan O2 (berasal dari

perairan, dibutuhkan tubuh untuk proses metabolisme. Bagian- bagian insang yang
berfungsi sebgai alat pernafasan ayaitu terdiri dari tulang lengkung insang, sebagai
tempat melakeatnya tulang tapis insang dan daun insang, yang mempunyai banyak
saluran-saluran darah dan saluran syaraf. Tulang tapis insang, berfungsi dalam sistem
pencernaan untuk mencegah keluarnya organisme makanan melalui celah insang.
Daun insang, berfungsi sebagai dalam sistem pernafasan dan peredaran darah, tempat
terjadinya pertukaran gas O2 dengan CO2. Pertukaran gas CO2 dan O2 terjadi secara
difusi ketika air dari habitat yang masuk melalui mulut, terdorong ke arah daerah
insang. Oksigen yang terkandung di dalam air diikat oleh hemoglobin darah,
sedangkan CO2 yang dikandung di dalam darah dikeluarkan ke perairan. Darah yang
sudah banyak mengandung O2 kemudian diedarkan kembali ke seluruh organ tubuh.
Pengamtan sistem kardiovaskular ikan Nila (Oreochromis niloticus) yaitu
pada jantung. Bagian-bagian jantung terdiri dari Atrium (dinding tipis), Ventrikal
(dinding tebal,) sebagai pemompa darah,dan Bulbus arteriosus. Jantung berfungsi
memompa darah ke seluruh bagian tubuh, mengangkut dan mengedarkan O2 dari
perairan ke sel-sel tubuh yang membutuhkan, juga mengangkut enzim, zat-zat
nutrisi, garam-garam, hormon, dan anti bodi serta mengangkut CO2 dari dalam usus,
kelenjar-kelenjar, insang, dan sebagainya, keluar tubuh.
Pengamatan sistem urogenital ikan Nila (Oreochromis niloticus) yaitu alat
reproduksi. Pada ikan betina mempunyai indung telur sedangkan ikan jantan
mempunyai testis. Indung telur maupun testis ikan semuanya terletak pada rongga
perut di sebelah kandung kemih dam kanal alimentari. Keadaan gonad ikan sangat
menentukan kedewasaan ikan. Kedewasaan ikan meningkat dengan makin

meningkatnya fungsi gonad. Ikan Nila umumnya mempunyai sepasang gonad,


terletak pada bagian posterior rongga perut di sebelah bawah ginjal. Alat reproduksi
jantan terdiri dari Vas deferensi, Sinus urogenitalis , dan Porus urogenitalis.
Sistem pencernaan ikan Nila (Oreochromis niloticus) Secara anatomis,
struktur alat pencernaan ikan berkaitan dengan bentuk tubuh, kebiasan makanan,
tingkah laku ikan dan umur ikan. Sistem atau alat pencernaan pada ikan terdiri dari
dua bagian, yaitu saluran pencernaan (Tractus digestivus) dan kelenjar pencernaan
(Glandula digestoria). Mulai dari muka ke belakang, saluran pencernaan pada ikan
terdiri dari mulut, rongga mulut, farings, esofagus, lambung, pilorus, usus, rektum
dan anus.
Bagian terdepan dari mulut adalah bibir. Keberadaan bibir berkaitan erat
dengan cara mendapatkan makanan. Di sekitar bibir pada ikan tertentu terdapat
sungut, yang berperan sebagai alat peraba. Di bagian belakan mulut terdapat ruang
yang disebut rongga mulut. Rongga mulut berhubungan langsung dengan segmen
faring. Secara anatomis organ yang terdapata pada rongga mulut adalah gigi, lidah
dan organ palatin. Permukaan rongga mulut diselaputi oleh lapisan sel permukaan
(epitelium) yang berlapis. Pada lapisan permukaan terdapat sel-sel penghasil lendir
(mukosit) untuk mempermudah masuknya makanan. Disamping mukosit, di bagian
mulut juga terdapat organ pengecap (organ penerima rasa) yang berfungsi
menyeleksi makanan.
Lapisan permukaan faring sama dengan rongga mlut, masih ditemukan organ
pengecap, sebagai tempat proses penyaringan makanan. Esofagus merupakan

permulaan dari saluran pencernaan yang berbentuk seperti pipa, mengandung lendir
untuk membantu penelanan makanan.
Lambung merupakan segmen pencernaan yang diameternya relatif lebih besar
bila dibandingkan dengan organ pencernaan yang lain. Besarnya ukuran lambung
berkaitan dengan fungsinya sebagai penampung makanan. Seluruh permukaan
lambung ditutupi oleh sel mukus yang mengandung mukopolisakarida yang agak
asam berfungsi sebagai pelindung dinding lambung dari kerja asam klorida. Sebagai
penampung makanan dan mencerna makanan secara kimiawi.
Usus merupakan segmen yang terpanjang dari saluran pencernaan. Intestinum
berakhir dan bermuara keluar sebagai anus serta merupakan tempat terjadinya proses
penyerapan zat makanan. Rektum merupakan segmen saluran pencernaan yang
terujung. Secara anatomis sulit dibedakan batas antara usus dengan rektum. Namun
secara histologis batas antara kedua segmen tersebut dapat dibedakan dengan adanya
katup rektum. Kloaka adalah ruang tempat bermuaranya saluran pencernaan dan
saluran urogenital, sedangkan anus merupakan ujung dari saluran pencernaan yang
terletak di sebelah depan saluran genital.
Pengamatan sistem ekskresi pada ikan Nila (Oreochromis niloticus) yaitu
pada ikan nila (ikan air tawar) lebih hipertonis dari lingkungannya sehingga air
banyak yang masuk lewat permukaan tubuhnya, akibatnya ikan tersebut sedikit
minum air, dan banyak menghasilkan urin yang encer. Untuk mendapatkan air dan
garam dari makanan, air masuk secara osmosis melewati permukaan tubuhnya.
Konsentrasi larutan dalam tubuh lebih besar dengan yang ada di lingkungan, untuk
mencegah masuknya air dan kehilangan garam.

V.

PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum ini maka dapat
disimpulkan bahwa bentuk dan struktur morfologi ikan nila jantan dan betina
berbeda yakni, pada ikan jantan, di samping lubang anus terdapat lubang
genital yang berupa tonjolan kecil meruncing sebagai saluran pengeluaran
kencing dan sperma. Tubuh ikan jantan juga berwarna lebih gelap, dengan
tulang rahang melebar ke belakang, sedangkan yang betina berwarna terang,
dan biasanya pada bagian perutnya besar. Tipe sisik pada ikan Nila yaitu
termasuk sisik ctenoid dengan pinggiran yang keras sepanjang tepi posterior.
Letak dari sistem anatomi pencernaan yaitu terdiri dari mulut, rongga mulut,
farings, esofagus, lambung, pilorus, usus, rektum dan anus.

B. Saran

Saran yang dapat saya ajukan pada praktikum ini adalah, sebaiknya
untuk praktikum selanjutnya pengamatan struktur anatomi ikan, dilakukan
pengamatan pada ikan bertulang rawan, agar kita tidak hanya sebatas
mengetahui struktur anatomi pada ikan bertulang keras saja, sekurang-

kurangnya kita mengetahui pebandingan anatomi ikan bertulang keras dan


anatomi ikan bertulang rawan.

DAFTAR PUSTAKA

Fujaya , Y., 2004. Fisiologi Ikan dan dasar pengembangan teknik perikanan.
Rineka Cipta. Jakarta
Kursini, E., Kharisma, N.H., Sucipto, A., Ahmad, M., 2007. Anatomi Organ
Pencernaan Ikan. Program Studi Ilmu Perairan. Pasca Sarjana Institut
Pertanian Bogor. Bogor
Kusumadewi, M.R., 2015. Tingkat Biokonsentrasi Logam Berat dan Gambaran
Histopatologi Ikan Mujair (Oreochromis Mossambicus L) Yang Hidup di
Perairan Tukad Badung Kota Denpasar. Program Pascasarjana
Universitas Udayana. Denpasar
Nofyan, E., Sagala, E.P., & Saryani,V., 2011.Pengaruh Minyak Mentah Terhadap
Mortalitas dan Morfologi Insang Ikan Bandeng (Chanos chanos
Forsskal.). Maspari. (02) :19-25
Nurhidayat, M. A., & Sucipto, A., 2002. Budidaya ikan nila (Oreochromis
niloticus) berdasarkan konsep SNI. Makalah Pelatihan Manajer
Pengendali Mutu di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi. Departemen
Kelautan dan Perikanan. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Balai
Budidaya Air Tawar. Sukabumi.
Sucipto, A., Prihartono, R.E., 2005. Pembesaran ikan nila merah Bangkok.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Sukiya., 2003. Biologi Vertebrata. JICA Universitas Negeri Yogyakarta.
Yogyakarta.
Withers, P.C.,1992. Comparative Animal Physiology. Saunders College
Publishing. London.

Anda mungkin juga menyukai