Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

Virus Herpes Simpleks adalah virus DNA yang dapat menyebabkan infeksi akut
pada kulit yang ditandai dengan adanya vesikel yang berkelompok di atas kulit yang
sembab. Ada 2 tipe virus herpes simpleks yang sering menginfeksi yaitu HSV-1
(Herpes Simplex Virus Type I) dan HSV-2 (Herpes Simplex Virus Type II). 1,3,4,5,6
HSV-1 biasanya menginfeksi daerah mulut dan wajah (Oral Herpes). HSV-1
menyebabkan munculnya gelembung berisi cairan yang terasa nyeri pada mukosa
mulut, wajah, dan sekitar mata.3,4,5,6
Sekitar 80% dari infeksi herpes simpleks tidak menunjukkan gejala. Gejala infeksi
dapat dicirikan dengan rekurensi yang sering terjadi dimana pada host yang
immunocompromised, infeksi dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam
jiwa.1 Pada anak-anak berumur kurang dari 10 tahun, infeksi herpes sering
asimtomatik dan dengan type tersering adalah HSV-1 (80-90%). Analisis yang
dilakukan secara global telah menunjukkan adanya antibodi HSV-1 pada sekitar 90%
dari individu berumur 20-40 tahun.
Herpes simpleks virus-1 (HSV-1) adalah virus DNA yang patogen pada manusia
yang secara intermitten dapat teraktivasi kembali. Setelah replikasi di kulit atau
mukosa, virus menginfeksi ujung saraf lokal dan menuju ke ganglion yang kemudian
menjadi laten hingga teraktivasi kembali.2
Prevalensi infeksi HSV-1 di seluruh dunia telah meningkat selama beberapa
dekade terakhir, membuatnya menjadi permasalahan kesehatan masyarakat. Sehingga
deteksi dini infeksi herpes simpleks tipe 1 dan inisiasi awal dari terapi adalah sangat
penting dalam pengelolaan penyakit ini.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Virus Herpes Simpleks adalah virus DNA yang dapat menyebabkan infeksi akut
pada kulit yang ditandai dengan adanya vesikel yang berkelompok di atas kulit yang
sembab. Ada 2 tipe virus herpes simpleks yang sering menginfeksi yaitu HSV-1
(Herpes Simplex Virus Type I) dan HSV-2 (Herpes Simplex Virus Type II).1,3,4,5,6
HSV-1 biasanya menginfeksi daerah mulut dan wajah (Oral Herpes), sedangkan
HSV-2 biasanya menginfeksi daerah genital dan sekitar anus (Genital Herpes). HSV-1
menyebabkan munculnya gelembung berisi cairan yang terasa nyeri pada mukosa
mulut, wajah, dan sekitar mata.3,4,5,6
2.2 Epidemiologi
Virus Herpes simpleks memiliki distribusi di seluruh dunia dan menghasilkan
infeksi primer, laten dan berulang. Lebih dari sepertiga populasi dunia diperkirakan
memiliki kemampuan untuk menularkan virus selama periode penyebaran virus. Pada
anak-anak berumur kurang dari 10 tahun, infeksi herpes sering asimtomatik dan
dengan type tersering adalah HSV-1 (80-90%). Analisis yang dilakukan secara global
telah menunjukkan adanya antibodi HSV-1 pada sekitar 90% dari individu berumur
20-40 tahun.
HSV-1 sekarang menjadi penyebab signifikan genital herpes dan terlibat dalam
5% sampai 30% dari semua kasus episode pertama. Proporsi HSV-1 pada infeksi
herpes genital awal (primer) lebih tinggi di antara pria yang berhubungan seks dengan
pria (46,9%) dibandingkan di kalangan wanita (21,4%) dan terendah di antara pria
heteroseksual (14,6%). Seks oral reseptif secara signifikan meningkatkan
kemungkinan bahwa penyebab infeksi awal adalah HSV-1 daripada HSV-2. Genital
HSV-1 sering bisa diperoleh melalui kontak dengan mulut mitra.7

2.3 Etiologi
Kelompok virus herpes sebagian besar terdiri dari virus DNA. Melakukan
replikasi secara intranuklear dan menghasilkan inklusi intranuklear khas yang
terdeteksi dalam preparat pewarnaan. HSV-1 dan HSV-2 adalah virus doublestranded DNA yang termasuk dalam Alphaherpesvirinae, subfamili dari Herpes
viridae. Kedua virus, bertransmisi melalui sel epitel mukosa, serta melalui gangguan
kulit, bermigrasi ke jaringan saraf, di mana mereka tetap dalam keadaan laten. HSV1 lebih dominan pada lesi orofacial dan biasanya ditemukan di ganglia trigeminal,
sedangkan HSV-2 lebih dominan pada lesi genital dan paling sering ditemukan di
ganglia lumbosakral. Namun virus ini dapat menginfeksi kedua daerah orofacial dan
saluran genital melalui infeksi silang HSV-1 dan HSV-2 melalui kontak oralgenital.9,6,10
Transmisi dapat terjadi tidak hanya saat gejala manifestasi HSV aktif, tetapi juga
dari pengeluaran virus dari kulit dalam keadaan asimptomatis. Puncak beban DNA
virus telah dilaporkan terjadi setelah 48 jam, dengan tidak ada virus terdeteksi di luar
96 jam setelah permulaan gejala. Secara umum, gejala muncul 3-6 hari setelah kontak
dengan virus, namun mungkin tidak muncul sampai untuk satu bulan atau lebih
setelah infeksi.10
Manusia adalah reservoir alami dan tidak ada vektor yang terlibat dalam transmisi.
HSV ditularkan melalui kontak pribadi yang erat dan infeksi terjadi melalui inokulasi
virus ke permukaan mukosa yang rentan (misalnya, oropharynx, serviks, konjungtiva)
atau melalui luka kecil di kulit. Virus ini mudah dilemahkan pada suhu kamar dan
pengeringan.1,11
2.4 Patogenesis
HSV ditularkan melalui kontak dari orang yang peka lewat virus yang dikeluarkan
oleh seseorang. Untuk menimbulkan infeksi, virus harus menembus permukaan
mukosa atau kulit yang terluka (kulit yang tidak terluka bersifat resisten). HSV-1
ditransmisikan melalui sekresi oral, virus menyebar melalui droplet pernapasan atau
melalui kontak langsung dengan air liur yang terinfeksi. Ini sering terjadi selama
3

berciuman, atau dengan memakan atau meminum dari perkakas yang terkontaminasi.
HSV-1 dapat menyebabkan herpes genitalis melalui transmisi selama seks oralgenital.1,3,4,5,6,7
Kontak dengan virus HSV 1 pada saliva dari carrier mungkin cara yang paling
penting dalam penyebaran penyakit ini. Infeksi dapat terjadi melalui perantaraan
petugas pelayanan kesehatan (seperti dokter gigi) yaitu dari pasien HSV
mengakibatkan lesi herpes bernanah (herpetic whitlow).1,3,4,5,6,7
Herpes simplex virus dapat diisolasi dalam 2 minggu dan kadang-kadang lebih
dari 7 minggu setelah muncul stomatitis primer atau muncul lesi genital primer.
Setelah itu, HSV-1 dapat ditemukan secara intermiten pada mukosa selama bertahuntahun dan bahkan mungkin seumur hidup, dengan atau tanpa gejala klinis. Pada lesi
yang berulang, infektivitas lebih pendek dibandingkan infeksi primer dan biasanya
virus tidak bisa ditemukan lagi setelah 5 hari.1,4
Pada infeksi primer, kedua virus Herpeks simpleks, HSV 1 dan HSV-2 bertahan di
ganglia saraf sensoris. Virus kemudian akan mengalami masa laten, dimana pada
masa ini virus Herpes simpleks ini tidak menghasilkan protein virus, oleh karena itu
virus tidak dapat terdeteksi oleh mekanisme pertahanan tubuh host. Setelah masa
laten, virus bereplikasi disepanjang serabut saraf perifer dan dapat menyebabkan
infeksi berulang pada kulit atau mukosa.9

Gambar 2.1 Herpes


labialis. A. Infeksi virus herpes
simpleks primer, virus bereplikasi
di orofaringeal dan naik dari saraf sensoris perifer ke ganglion trigeminal.
B. Herpes simplex virus dalam fase latent dalam ganglion trigeminal. C.
Berbagai rangsangan memicu reaktivasi virus laten, yang kemudian turun
dari saraf sensorik ke daerah bibir atau perioral menyebabkan herpes
labialis rekuren
2.5 Gejala Klinis
Infeksi virus herpes simpleks ini berlangsung dalam 3 tingkat, yaitu: infeksi
primer, fase laten, dan infeksi rekuren. Pada infeksi primer dari HSV-1, tempat
predileksinya yaitu didaerah orofaringeal, yaitu didaerah palatum mole dan durum,
mukosa mulut, lidah, dan wajah. Infeksi biasanya dimulai pada usia anak-anak.
Episode pertama (infeksi pertama) dari infeksi HSV-1 adalah yang paling berat dan
dimulai setelah masa inkubasi 4-6 hari. HSV-1 primer biasanya asimptomatik. Infeksi
primer berlangsung lebih lama, kira-kira 3 minggu dan sering disertai gejala sistemik,
seperti demam, malaise, anoreksia, dan pembesaran kelenjar getah bening regional.
Kelainan klinis yang dijumpai berupa vesikel yang berkelompok diatas kulit yang
eritema, berisi cairan jernih dan kemudian menjadi seropurulen, dapat menjadi krusta
dan terkadang mengalami ulserasi yang dangkal, biasanya sembuh tanpa
sikatriks.1,3,7,10

Kira-kira 10% dari infeksi primer, muncul sebagai suatu penyakit dengan
spektrum gejala klinis yang beragam, ditandai dengan panas dan malaise sampai 1
minggu atau lebih, mungkin disertai dengan gingivostomatitis yang berat diikuti
dengan lesi vesikuler pada orofaring, keratokonjungivitis berat, dan disertai
munculnya

gejala

dan

komplikasi

kulit

menyerupai

eczema

kronis,

meningoencephalitis. HSV 1 sebagai penyebab sekitar 2% faringotonsilitis akut,


biasanya sebagai infeksi primer.1,3,4,5,6
Pada fase laten, dimana pada penderita tidak didapatkan adanya gejala klinis,
tetapi HSV-1 dapat ditemukan dalam keadaan tidak aktif pada ganglion dorsalis.
Reaktivasi virus dari fase laten menyebabkan infeksi rekuren. Hal ini bisa disebabkan
oleh trauma fisik (demam, infeksi, imunosupresi, kurang istirahat, hubungan seksual,
dan lainnya) atau trauma psikis (gangguan emosional dan menstruasi). Infeksi
rekuren melibatkan area wajah perioral, utamanya dibibir, dimana sepertiga bibir
bawah biasanya sering terkena. Kemudian bisa mengenai bagian wajah lainnya
termasuk hidung, pipi, dan dagu. Gejala klinis yang timbul lebih ringan dari infeksi
primer dan berlangsung kira-kira 7-10 hari. Sering ditemukan gejala prodromal lokal
sebelum timbulnya vesikel, berupa demam, gatal dan nyeri.1,3
2.6 Pemeriksaan Penunjang
Herpes simpleks virus (HSV) dapat ditemukan pada vesikel dan dapat dibiakkan.
Dengan pemeriksaan Tzanck smear, yaitu dengan mengorek dari lesi herpes dan
kemudian menggunakan pewarnaan Wright dan Giemsa. Pada pemeriksaan
ditemukan sel raksasa khusus dengan banyak nukleus atau partikel khusus yang
membawa virus (inklusi) mengindikasikan infeksi herpes. Tes ini tidak dapat
membedakan antara jenis virus atau antara herpes simpleks dan herpes zoster.2
Kultur virus dilakukan dengan mengambil sampel cairan, dari luka sedini
mungkin, idealnya dalam 3 hari pertama manifestasi. Virus, jika ada, akan
bereproduksi dalam sampel cairan namun mungkin berlangsung selama 1 - 10 hari
untuk melakukannya. Jika infeksi parah, pengujian teknologi dapat mempersingkat
periode ini sampai 24 jam, tapi mempercepat jangka waktu selama tes ini mungkin

membuat hasil yang kurang akurat. Kultur virus sangat akurat jika lesi masih dalam
tahap vesikel yang jelas, tetapi tidak akurat untuk luka ulserasi lama, lesi berulang,
atau latensi. Pada tahap ini virus mungkin tidak cukup aktif.2
Tes PCR jauh lebih akurat daripada kultur virus dan CDC merekomendasikan tes
ini untuk mendeteksi herpes dalam cairan serebrospinal ketika mendiagnosis herpes
ensefalitis. PCR dapat membuat banyak salinan DNA virus, sehingga sejumlah kecil
DNA dalam sampel dapat dideteksi.
Tes serologi dapat mengidentifikasi antibodi yang spesifik untuk virus. Ketika
herpes virus menginfeksi seseorang, sistem kekebalan tubuh tersebut menghasilkan
antibodi spesifik untuk melawan infeksi. Adanya antibodi terhadap herpes juga
menunjukkan bahwa seseorang adalah pembawa virus dan mungkin mengirimkan
kepada orang lain. Tes antibodi terhadap HSV-1 yaitu dengan memeriksa
Glikoprotein GG-1. Pemeriksaan serologi yang paling akurat bila diberikan 12-16
minggu setelah terpapar virus.2
2.7 Diagnosis Banding

Impetigo Vesikobulosa
Infeksi ini disebabkan oleh Staphylococcus B haemolyticus. Kelainan kulit
pada impetigo vesikobulosa berupa eritema, vesikel, dan bula hipopion.
Keadaan umum tidak dipengaruhi, kadang-kadang waktu penderita datang
berobat, vesikel/bula telah memecah sehingga yang tampak hanya keropeng

dan dasarnya masih eritematosa.3


Herpes Zoster
Infeksi ini merupakan reaktivasi virus yang terjadi setelah infeksi primer
(varisela). Kelainan kulit pada herpes zoster berupa vesikel yang berkelompok
diatas kulit yang eritema dan edema. Vesikel ini berisi cairan yang jernih,
kemudian menjadi keruh (berwarna abu-abu), dapat menjadi pustule dan
krusta. Terkadang vesikel bisa berisi darah. Predileksi pada herpes zoster ini
yaitu kelainan kulit yang timbul memberikan lokasi yang setingkat dengan
daerah persarafan ganglion dimana virus tersebut diam dan asimetris.3

2.8 Penatalaksanaan

Beberapa obat antivirus telah terbukti efektif melawan infeksi HSV. Semua obat
tersebut menghambat sintesis DNA virus. Obat-obat ini dapat menghambat
perkembangbiakan virus herpes. Walaupun demikian, HSV tetap bersifat laten di
ganglion sensorik, dan angka kekambuhannya tidak jauh berbeda pada orang yang
diobati dengan yang tidak diobati.3
Salah satu obat yang efektif untuk infeksi Herpes Simpleks Virus adalah Acyclovir
dalam bentuk topikal, intravena, dan oral yang kesemuanya berguna untuk mengatasi
infeksi primer. Acyclovir digunakan secara oral, intravena atau topikal untuk
mengurangi menyebarnya virus, mengurangi rasa sakit dan mempercepat waktu
penyembuhan pada infeksi genital primer dan infeksi herpes berulang, rectal herpes
dan herpetic whitrow (lesi pada sudut mulut bernanah). Preparat oral paling nyaman
digunakan dan mungkin sangat bermanfaat bagi pasien dengan infeksi ekstensif
berulang. Namun, telah dilaporkan adanya mutasi strain virus herpes yang resisten
terhadap acyclovir. Valacyclovir dan famciclovir baru-baru ini diberi lisensi untuk
beredar sebagai pasangan acyclovir dengan efikasi yang sama. Pemberian profilaksis
harian obat tersebut dapat menurunkan frekuensi infeksi HSV berulang pada orang
dewasa. Infeksi neonatal seharusnya diobati dengan acyclovir intravena.1
Acyclovir menghambat aktivitas HSV 1. Pasien mengalami rasa sakit yang lebih
kurang dan resolusi yang lebih cepat dari lesi kulit bila digunakan dalam waktu 48
jam dari onset ruam. Mungkin dapat mencegah rekurensi.

Infeksi Primer HSV: 200 mg peroral 5 kali/hari untuk 7-10 hari atau 400 mg
peroral 3 kali/hari atau 5 mg/kg/hari IV setiap 8 jam.

Herpes oral rekuren (terapi episodik): 200 mg peroral 5 kali/hari untuk 5 hari
(non-FDA : 400 mg peroral 3 kali/hari untuk 5 hari)

Herpes oral rekuren (>6x/tahun atau terapi supresi): 400 mg peroral 2


kali/hari2

Valacyclovir

Herpes labialis: 2000 mg peroral setiap 12 jam selama 24 jam (harus


diberikan pada gejala pertama/prodromal)2
Untuk pemberian topikal dapat diberikan Penciclovir krim 1% (tiap 2 jam selama
4 hari) atau Acyclovir krim 5% (5 kali sehari selama 5 hari). Idealnya, krim ini
digunakan 1 jam setelah munculnya gejala, meskipun juga pemberian yang terlambat
juga dilaporkan masih efektif dalam mengurangi gejala serta membatasi perluasan
daerah lesi.
Beberapa kasus yang ringan mungkin tidak membutuhkan pengobatan.
Orang-orang yang telah parah atau lanjut, orang dengan masalah sistem kekebalan,
atau mereka yang sering mengalami rekuren akan baik jika diberikan obat antivirus
seperti asiklovir, famciclovir, dan valacyclovir. Orang-orang yang telah lama
menderita oral rekuren atau herpes genital atau manifestasi klinis berat dapat
melanjutkan penggunaan obat antivirus untuk mengurangi frekuensi dan tingkat
keparahan rekuren.7,8

Gambar 2.2 Pengobatan yang direkomendasikan untuk Herpes Simpleks Labialis


2.9 Komplikasi
Komplikasi jarang tetapi dapat serius, diantaranya:

Infeksi bakteri sekunder, Ini biasanya karena Staphylococcus.


Herpes simpleks kronis, biasa terjadi pada penderita HIV
Herpes ensefalitis. Herpes ensefalitis Ini adalah komplikasi serius herpes

simpleks, tidak selalu disertai dengan lesi kulit.


Keratokonjungtivitis yang muncul sebagai manifestasi dari infeksi primer atau
rekurensi virus pada ganglion trigeminal.

10

2.10 Pencegahan
Penderita HSV harus menghindari kontak dengan orang lain saat tahap akut
sampai lesi sembuh sempurna. Selain itu penderita dan anggota keluarga juga diajak
untuk rajin mencuci tangan sebelum maupun sesudah melakukan aktivitas, menjaga
kebersihan lingkungan dan kesehatan sehingga mengurangi kontaminasi infeksi
penyakit ini. Petugas kesehatan juga harus menggunakan alat perlindungan diri pada
saat berhubungan langsung dengan lesi yang berpotensi untuk menular.1,3
2.11 Prognosis
Pengobatan dini dan tepat memberi prognosis yang lebih baik, yakni masa
penyakit berlangsung lebih singkat dan rekuren lebih jarang. Lesi oral atau genital
biasanya sembuh sendiri dalam 7 sampai 14 hari. Infeksi mungkin lebih parah dan
bertahan lebih lama pada orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.7
Setelah infeksi terjadi, virus menyebar ke sel-sel saraf dan menetap dalam tubuh
seumur hidup seseorang.. Rekuren dapat dipicu oleh kelebihan sinar matahari (UV),
demam, stres, penyakit akut, obat-obatan atau kondisi yang melemahkan sistem
kekebalan tubuh (seperti kanker, HIV/AIDS, atau penggunaan kortikosteroid). Pada
orang dengan gangguan imunitas, infeksi dapat menyebar ke organ-organ dalam dan
dapat berakibat fatal. Prognosis akan lebih baik seiring dengan meningkatnya usia
seperti pada orang dewasa.3
BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Pasien


Nama

: GANS

Umur

: 16 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: Pelajar

Agama

: Hindu

11

Suku

: Bali

Bangsa

: Indonesia

Alamat

: JL. SMKI Gg. Jepun No.5 Batubulan-Gianyar

Tanggal pemeriksaan : 06 Oktober 2015

3.2 Anamnesis
Keluhan Utama

: Gelembung-gelembung kecil dibibir bagian atas

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien mengeluhkan adanya gelembung-gelembung kecil yang muncul dibibir
bagian atas. Gelembung tersebut dirasakan muncul sejak kurang lebih 2 hari yang
lalu. Awalnya pasien merasakan bibir bagian atasnya terasa lebih tebal dari bibir
bagian bawah yang kemudian terlihat merah dan disertai dengan nyeri serta gatal.
Lalu perlahan dirasakan oleh pasien muncul gelembung kecil yang bertambah banyak
terlihat bergerombol dan berisi cairan didalamnya. Pasien mengatakan sempat
mengoleskan salep Acyclovir untuk mengurangi gejala yang dialaminya, namun
keluhannya belum dirasakan membaik. Pasien juga sempat mengalami demam,
namun sudah membaik dengan minum Paracetamol. Pasien mengatakan gelembung
yang muncul dan rasa gatal yang dialaminya mengganggu penampilan dan aktivitas
sehari-harinya.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengatakan keluhan ini merupakan yang keempat kalinya dialami oleh
pasien. Keluhan ini pertama kali dialami oleh pasien sekitar Oktober 2014. Kemudian
pasien mengatakan keluhan ini muncul kembali setiap 3 bulan. Riwayat penyakit
jantung, hipertensi, diabetes mellitus, asma, ginjal, dan hati disangkal oleh pasien.
Riwayat alergi terhadap obat dan makanan disangkal oleh pasien.
Riwayat Pengobatan

12

Pasien belum ada mencari pengobatan kemanapun untuk keluhannya yang


sekarang. Namun pasien sempat mengoleskan salep Acyclovir yang didapatnya saat
keluhan sebelumnya dan minum Paracetamol untuk meredakan demamnya.

Riwayat Penyakit Keluarga


Pasien menyangkal adanya keluhan yang sama pada anggota keluarganya.

Riwayat Pribadi dan Sosial


Pasien adalah seorang pelajar SMA kelas X di Sukawati. Pasien lebih banyak
menghabiskan waktunya disekolah. Setiap hari pasien berangkat sekolah pukul 06.30
WITA dan pulang sekitar pukul 18.00 atau 20.00 WITA. Pasien mengatakan jam
belajar disekolahnya hingga pukul 15.00 WITA, namun setelah itu ia mengikuti
kegiatan ekstrakurikuler sehingga pulang malam. Pasien mengikuti 3 ekstrakurikuler
yaitu: taekwondo, pramuka dan sispala. Rutinitas ini dijalaninya dari hari senin
sampai jumat. Pasien juga mengatakan jika malam suka tidur larut malam
dikarenakan harus mengerjakan tugas sekolah. Untuk makan dan minum, pasien
mengatakan tidak suka jajan sembarangan. Ia hanya makan di rumah dan kantin
sekolah.

3.3 Pemeriksaan Fisik


Status Present
Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis (E4V5M6)

Tekanan darah

: 120/70 mmHg

Nadi

: 82 x/menit

Laju respirasi

: 20 x/menit

Suhu aksila

: 37,0oC
13

Berat Badan

: 50 kg

Status General
Kepala

: Normocephali

Mata

: Anemis -/-, ikterus -/-

THT

: Dalam batas normal

Leher

: Pembesaran KGB (-)

Thorax

: Tidak dievaluasi

Abdomen

: Tidak dievaluasi

Ekstremitas

: Akral hangat (+), edema (-)

Status Dermatologi

Lokasi

: Bibir atas

Effloresensi

: Vesikel multipel berbatas tegas berbentuk bulat

dengan
ukuran diameter 0,1-0,2 cm, berisi cairan jernih
berdinding tipis, diatas kulit yang eritema dengan
susunan berkelompok.
Stigmata atopik

: White demographisme (-)

Mukosa

: Dalam batas normal

Rambut

: Dalam batas normal

14

Kuku

: Dalam batas normal

Kelenjar keringat

: Dalam batas normal

Kelenjar limfe

: Dalam batas normal

Saraf

: Dalam batas normal

3.4 Diagnosis Banding


1. Herpes simpleks labialis
2. Impetigo vesikobulosa
3. Herpes zoster
3.5 Resume
Pasien perempuan, berusia 16 tahun, mengeluhkan timbul gelembung-gelembung
berisi cairan dibibir bagian atas yang disertai rasa gatal, nyeri dan demam.
Pemeriksaan Fisik:
Status Present

: dalam batas normal

Status General

: dalam batas normal

Status Dermatologi
Lokasi

: Bibir atas

Effloresensi

: Vesikel multipel berbatas tegas berbentuk bulat

dengan
ukuran diameter 0,1-0,2 cm, berisi cairan jernih
berdinding tipis, diatas kulit yang eritema dengan
susunan berkelompok.
3.7 Diagnosis Kerja
Herpes Simpleks Labialis
3.8 Penatalaksanaan
Diagnostik

:-

Farmakologi

: Acyclovir tab 3x400 mg


Becom C tab 1x1

15

Kompres NaCl 0,9%


Acyclovir + Fuladic 2% salep
KIE

: Pasien dan keluarga mengenai diagnosis, rencana terapi,


prognosis, dan pencegahan

3.9 Prognosis
Ad vitam

: Dubia ad bonam

Ad functionam

: Dubia ad bonam

Ad sanationam

: Dubia ad bonam

Ad cosmeticam

: Dubia ad bonam

BAB IV
PEMBAHASAN

Diagnosis herpes simpleks labialis pada kasus ini ditegakkan berdasarkan


anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien adalah
seorang perempuan berusia 16 tahun yang mengeluhkan timbul gelembunggelembung berisi cairan dibibir bagian atas yang disertai rasa gatal, nyeri dan demam
16

sejak kurang lebih 2 hari sebelum pemeriksaan. Berdasarkan kepustakaan, infeksi


HSV muncul paling sering pada usia muda hungga pertengahan, dimana analisis yang
dilakukan secara global telah menunjukkan adanya antibodi HSV-1 pada sekitar 90%
dari individu berumur 20-40 tahun. Lalu pada anamnesis pasien juga mengatakan ini
merupakan keempat kalinya dialami oleh pasien dan muncul pada saat pasien sedang
sibuk-sibuknya mengikuti kegiatan sekolah. Berdasarkan kepustakaan, reaktivasi
virus dari fase laten menyebabkan infeksi rekuren. Hal ini bisa disebabkan oleh
trauma fisik (demam, infeksi, imunosupresi, kurang istirahat, hubungan seksual, dan
lainnya) atau trauma psikis (gangguan emosional dan menstruasi). Infeksi rekuren
melibatkan area wajah perioral, utamanya dibibir, dimana sepertiga bibir bawah
biasanya sering terkena. Gejala klinis yang timbul lebih ringan dari infeksi primer dan
berlangsung kira-kira 7-10 hari. Sering ditemukan gejala prodromal lokal sebelum
timbulnya vesikel, berupa demam, gatal dan nyeri.
Dari pemeriksaan fisik umum ditemukan status present dan status general dalam
batas normal. Sedangkan pada pemeriksaan fisik khusus yaitu status dermatologi
ditemukan lesi yang berlokasi dibibir bagian atas dengan efloresensi berupa vesikel
multipel berbatas tegas berbentuk bulat dengan ukuran diameter 0,1-0,2 cm, berisi
cairan jernih berdinding tipis, diatas kulit yang eritema dengan susunan berkelompok.
Temuan ini sesuai dengan gambaran klinis herpes simpleks labialis yang telah
dijelaskan pada tinjauan pustaka yaitu adanya vesikel yang berkelompok diatas kulit
yang eritema, berisi cairan jernih dan kemudian menjadi seropurulen, dapat menjadi
krusta dan terkadang mengalami ulserasi yang dangkal, biasanya sembuh tanpa
sikatriks.
Diagnosis banding pada pasien ini meliputi impetigo vesikobulosa dan herpes
zoster. Pada impetigo vesikobulosa, kelainan kulit berupa eritema, vesikel, dan bula
hipopion. Keadaan umum tidak dipengaruhi, kadang-kadang waktu penderita datang
berobat, vesikel/bula telah memecah sehingga yang tampak hanya koleret dan
dasarnya masih eritematosa. Sedangkan pada herpes zoster, infeksi ini merupakan
reaktivasi virus yang terjadi setelah infeksi primer (varisela). Kelainan kulit pada

17

herpes zoster berupa vesikel yang berkelompok diatas kulit yang eritema dan edema.
Vesikel ini berisi cairan yang jernih, kemudian menjadi keruh (berwarna abu-abu),
dapat menjadi pustule dan krusta. Terkadang vesikel bisa berisi darah. Predileksi pada
herpes zoster ini yaitu kelainan kulit yang timbul memberikan lokasi yang setingkat
dengan daerah persarafan ganglion dimana virus tersebut diam dan asimetris.
Pada pasien ini diberikan terapi berupa Acyclovir tablet 3x400 mg, Becom C
tablet 1x1, kompres NaCl 0,9%, dan salep Acyclovir + Fuladic 2%. Berdasarkan
kepustakaan, terapi dari herpes simpleks labialis yaitu berupa obat antivirus yang
dimana telah terbukti efektif melawan infeksi HSV. Obat tersebut menghambat
sintesis DNA virus. Salah satu obat yang efektif untuk infeksi Herpes Simpleks Virus
adalah Acyclovir dalam bentuk topikal, intravena, atau oral. Acyclovir digunakan
secara oral, intravena atau topikal untuk mengurangi menyebarnya virus, mengurangi
rasa sakit dan mempercepat waktu penyembuhan pada dan infeksi herpes berulang.
Kompres NaCl 0,9% dilakukan untuk membuat luka yang basah menjadi kering.
Asam fusidat diberikan untuk mengatasi infeksi sekunder sehingga diberikan pada
luka yang basah. Becom C yaitu tablet suplemen yang berisi vitamin C dan vitamin
neurotropik untuk meningkatkan kekebalan atau daya tahan tubuh.
Pada pasien ini prognosisnya baik apabila pasien patuh pada pengobatan, tidak
menggaruk lesi, tidak menggeropeng krusta, menghindari faktor pencetus
kekambuhan, dan melakukan pencegahan penularan dengan mencuci tangan yang
teratur.
BAB V
RINGKASAN

Virus Herpes Simpleks adalah virus DNA yang dapat menyebabkan infeksi akut
pada kulit yang ditandai dengan adanya vesikel yang berkelompok di atas kulit yang
sembab. Ada 2 tipe virus herpes simpleks yang sering menginfeksi yaitu HSV-1
(Herpes Simplex Virus Type I) dan HSV-2 (Herpes Simplex Virus Type II). 1,3,4,5,6
HSV-1 biasanya menginfeksi daerah mulut dan wajah (Oral Herpes). HSV-1
18

menyebabkan munculnya gelembung berisi cairan yang terasa nyeri pada mukosa
mulut, wajah, dan sekitar mata.3,4,5,6
HSV ditularkan melalui kontak dari orang yang peka lewat virus yang dikeluarkan
oleh seseorang. Untuk menimbulkan infeksi, virus harus menembus permukaan
mukosa atau kulit yang terluka (kulit yang tidak terluka bersifat resisten). Herpes
simpleks virus-1 (HSV-1) adalah virus DNA yang patogen pada manusia yang secara
intermitten dapat teraktivasi kembali. Setelah replikasi di kulit atau mukosa, virus
menginfeksi ujung saraf lokal dan menuju ke ganglion yang kemudian menjadi laten
hingga teraktivasi kembali.2
Infeksi HSV-1 ada 3 fase, yaitu: infeksi primer, fase laten, dan infeksi rekuren.
Dimana lesi yang terjadi pada infeksi HSV adalah berupa vesikel yang berkelompok
diatas kulit yang eritema, berisi cairan jernih dan kemudian menjadi seropurulen,
dapat menjadi krusta dan terkadang mengalami ulserasi yang dangkal, biasanya
sembuh tanpa sikatriks.3
Diagnosis herpes simpleks labialis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Herpes simpleks labialis memiliki
beberapa diagnosis banding yaitu Impetigo Vesikobulosa dan Herpes Zoster.
Penatalaksanaan untuk herpes simpleks labialis dapat berupa terapi farmakologi
sistemik dan topikal. Secara umum prognosis penyakit ini baik, namun bisa kambuh
kembali apabila terdapat trauma fisik atau trauma psikis.3
DAFTAR PUSTAKA

Salvaggio MR. Herpes Simplex. 2015. Diakses 07 Oktober 2015. Sumber::


http://emedicine.medscape.com/article/218580-overview

Marques AR, Straus SE. Herpes Simplex. In: Wolff K, Goldsmith LA,
editors. Fitzpatrick's: Dermatology In General Medicine. 7th ed. New York:
McGraw Hill; 2008. 1879-1885

19

Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 5 ed. Jakarta: FKUI; 2007.

Arenas Roberto. Herpes Simplex/Apthous Ulcer. In: Arenas R,

Estrada

R, editors. Tropical Dermatology. USA: Landes Bioscience; 2010. p261-266


5

Dugdale DC. Herpes Simplex. 2015. Diakses 07 Oktober 2015. Sumber: :


http://medlineplus.com

Habif TP. Clinical Dermatology: A Color Guide To Diagnosis And Therapy


4th ed. Philadelphia: Mosby; 2004. p. 54.346-55

Sterling JC. Virus Infections.In: Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C,


editors. Rook's Textbook of Dermatology. 7th ed. Victoria: Blackwell
Publishing Ltd.; 2004. p.25.15-22

Mahler V. Herpes Simplex. In: Williams H, Bigby M, editors.

BMJ

Evidence Based Dermatology 2nd.Edition.USA: Blackwell Publishing:2008


9

Gawkrodger DJ. Viral infections - Herpes Simplex and Herpes Zoster.


Dermatology An Illustrated Colour Text 3rd Edition. London: Mosby
Elsevier; 2008.

10 Fauci A, Kasper DL, Kongo DL, Braunwald E, Hauser S, Jameson JL,


Loscalzo J. Harrisons Principles of Internal Medicine. New York: The
McGraw-Hill Companies; 2008.
11 Torres G. Herpes Simplex: Treatment & Medication. 2015. Diakses: 07

Oktober 2015. Sumber: http://emedicine.medscape.com

20