Anda di halaman 1dari 23

1.

Kebijakan Fiskal Moneter Masa Rasulullah


a. Kebijakan Moneter
Perekonomian Jazira Arabia ketika zaman rasulullah merupakan ekonomi dagang,
bukan ekonomi yang berbasis sumber daya alam. Lalu lintas perdagangan antara
romawi dan india yang melalui arab dikenal sebagai jalur selatan. Sedangkan antara
romawi dan Persia disebut sebagi jalur utara. Antara syam dan yaman disebut jalur
dagang utara selatan.
Pada zaman rassul sudah terjadi :
-Valuta asing dari Persia dan romawi yang dikenal oleh seluruh lapisan
masyarakat arab, bahkan menjadi alat bayar resminy adalah dirham
dan dinar
-Sistem devisa di bebaskan, tidak ada larangan untuk mengimpor dinar
dan dirham
-Transaksi tidak tunai di terima luas di kalangan pedagang
-Cek dan promissory note lazim digunakan, misalnya umar bin khatab
menggunakan intrumen ini ketika melakukan impor barang-barang
yang baru dari mesir ke madinah
-Intrumen factory (anjak piutang) yang baru populer pada tahun 1980an telah dikenal dengan nama al-hiwalah, tetapi tentunya bebas dari
unsur bunga.
Pada masa itu, bila penerimaan akan uang meningkat, maka dinar dan dirham
di impor. Sebaliknya, bila permintaan uang turun, barang impor nilai emas dan perak
yang terkandung dalam dinar dan dirham sama dengan nilai nominalnya. Sehinggan
dapat dikatakan penawaran uang elastis. Kelebihan penawaran uang dapat diubah
menjadi perhiasan ems dan perak. Tidak terjadi kelebihan ataun permintaan akan
uang, sehingga nilai uang stabil.
Permintaan uang hanya untuk keperluan transaksi dan berjaga-jaga. Permintaan uang
yang riil dilarang.penimbunan mata uang dilarang sebagaimana penimbunan barang
juga dilarang. Transaksi talaqqi rukban dilarang, yaitu mencegat penjual dari
kampung luar kota untuk mendapat keuntungan dari ketidaktahuan harga. Hal
demikian merupakan merupakan tindakan distorsi harga. Distorsi harga merupakan
cikal bakal spekulasi. Transaksi kali bi kali dilarang, yaitu bukan transaksi dan bukan
pula transaksi tunai. Keistimewaan dalam islam dalam transaksi adalah bahwa
transaksi tunai boleh, transaksi tidak tunai boleh namun melaramg transaksi future
tanpa adda barangnya. Transaksi maya merupakan salah satu unsur riba. Segala
bentuk riba dilarang.
Dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus stabilitas, islam
tidak menggunakan intrumen bunga atau penawaran uang baru melalui percetakan
deficit anggaran. Di dalam islam, yang dilakukan adalah mempercepat perputaran
uang dan pembangunan infrastuktur sector riil. Faktor pendorong perputaran uang
adalah disebabkan oleh kelebihan liquiditas. Uang tidak ditimbul dan dipinjamkan

dengan bunga. Sedangkan faktor penarikan uang adalah dianjurkan dengan jalan
qardh (pijaman kebaikan), sedekah, dan kerja sama bisnis berbentuk syirkah atau
mudharabah. Keuntungan utama dari kerja sama bisnis adalah pelaku dan
penyandang dan bersama-sama mendapat pengalaman, informasi, metode, supervisi,
manajemen dan pengetahuan akan resiko suatu bisnis. Akumulasi dari informasi ini
akan menurunkan tingkat risiko investasi.
Jelas, kebijakan moneter rasulullah selalu berkaitan dengan sektor riil. Hasilnya
adalah pertumbuhan sekaligus stabilitas.
b. Kebijakan Fiskal
Pada saat di madinah,kota ini masih dalam keadaan kacau, belum memiliki
pemimpin ataupun raja yang berdaulat, suku yahudi di pimpin oleh Abdullah ibn
ubayy. Ia berambisi menjadi raja madinah. Suasana kota sering terjadi pertikaian
antar kelompok. Kelompok yang terkuat dan terkaya adalah yahudi, namun
ekonominya masih lemah dan hanya di topang dai pertanian. Tidak ada hokum dan
peraturan sehingga pajak dan fiskal tidak berlaku.
Setelah rasul di madinah, madinah mengalami peningkatan yang cepat. Rasul
memimpin seluruh pusat pemerintahan, menerapkan prinsip-prinsip dalam
pemerintah, membangun institusi, mengarahkan urusan luar negri, membimbing para
sahabatnya dan pada akhirnya melepaskan jabatannyya secara penuh. Ada beberapa
hal yang beliau perhatikan,
(1) Membangun mesjid sebagai tempat pertemuan bagi pengikutnya
(2) Merehabilitasi muhajirin mekkah di madinah
(3) Menciptakan kedamaian dalam Negara
(4) Mengeluarkan hak dan kewajiban bagi warga negaranya,
(5) Membuat konstitusi Negara
(6) Menyusun system pertahanan madinah
(7) Meletakkan dasar-dasar sistem keuangan Negara.
2 hal penting yang telah di jalani dan diubah oleh Rasulullah pada waktu itu
adalah, : Pertama, adanya fenomena unik yaitu bahwa Islam telah membuang
sebagian besar tradisi, ritual, norma-norma, nilai-nilai, tanda-tanda, dan patungpatung dari masa lampau dan memulai yang baru dengan Negara yang bersih. Semua
berdasarkan al-quran dengan memasukkan karakteristik dasar islam, seperti
persaudaraan, persamaan, kebebasann dan keadilan. Kedua, Negara baru di bentuk
tanpa menggunakan sumber keuangan ataupun moneter, karena Negara yang baru
terbentuk ini sama sekali tidak diwariskan harta, dana, maupun persediaan dari masa
lampaunya. Sementara sumber keuangan pun belum ada.

System ekonomi
Rasul mengubah sitem ekonomi dan keuangan di negaranya sesuai dengan
ketentuan alquran,kebijakan nya seperti :
- Manusia merupakan pemimpin atau khalifah allah di bumi, tetapi bukan pemillik
yang sebenarnya.
- Semua yang dimiliki dan didapatkan oleh manusia adalah karna seizin allah.
- Kekayaan tidak boleh ditimbun.
- Kekayaan harus di putar.
- Eksploitasi ekonomi harus dihilangkan.
- Eenghilangkan jurang perbedaa antara individu dalam perekonomian.
- Menetapkan kewajiban yang sifatnya wajib dan sukarela bagi semua individu.
Keuangan dan Pajak
Pada zaman rasulullah hampir seluruh pekerjaan tidak memiliki upah. Tidak
ada tentara yang formal, semua muslim yang mampu boleh menjadi tentara. Mereka
tidak punya gaji tetap, tapi mereka diperbolehkan mendapatkan bagian dari rampasan
perang seperti sejata, kuda dan barang-barang bergerak lainnya.
Situasi berubah setelah turunnya surat al anfal (rampasan perang). Ayatnya berbunyi
dengan arti seperlima bagian adalah untuk allah dan rasulnya ( yaitu untuk Negara
digunakan untuk kesejahteraan umum) dan untuk kerabat rasul, anak yatim dan orang
yang membutuhkan dan orang yang sedang dalam perjalanan.
Tahun kedua, sadaqah fitrah diwajibkan tiap bulan Ramadhan. Tahun
keempat kekayaan pertama di peroleh dari banu nadir. Tahun ketujuh khaibar di
kuasai setelah bertempur selama sebulan.mereka menyerah dengan syarat dan berjanji
meninggalkan tanahnya. Syaratnya adalah mereka minta izin untuk tinggal dan
mengelola pertanian kurma. Rasul mengabulkan dan memberikan setengah bagian
pada mereka.
Jizyah adalah pajak yang dibayarkan pada non-muslim khusus ahli kitab,
jaminan jiwa, harta, ibadah, bebas nilai-nilai dan militer.besarnya satu dinar pertahun,
tidak harus dengan uang tunai.
Kharaj atau pajak tanah yang dipungut dari non-muslim ketika khaibar
ditaklukan. Hasil tanah di bagikan pada Negara setengah dari hasil produksi.rasul
mengirim orang yang memiliki pengetahuan tentang hasil produksi .. setelah
mengurangi seperti sebagai kelebihan perkiraan dua per tiga bagian dibagikan dan
mereka bebas memilih ; menerima dan menolak pembagian tersubut.
Ushr adalah bea impor yang dikenakan kepada semua pedagang, dibayar
hanya sekali dalam setahun dan hanya berlaku pada barang yang nilainya lebih dari
200 dirham. Rasul berinisiatif mempercepat peningkatan perdagangan,walaupun
menjadi beban pendapatan Negara.ia menghapuskan semua bea masuk dan dalam
banyak perjanjian dengan berbagai suku menjelaskan hal tersebut. Baramg-barang
milik utusan dibebaskan dari bea impor di wilayah muslim, bila sebelumya telah
terjadi tukar menukar barang.

Sumber Pendapatan Sekunder


Uang tebusan para tahanan perang. Pinjaman-pinjaman untuk pembayaran
uang pembebasan kaum muslimin dari judhayma atau sebelum pertempuran hawazin
300.000 dirham (200.000 dirham menurut bukhari) dari Abdullah bin rabia dan
umaiyah (sampai waktu itu tidak ada perubahan).Khumus atas rikaz harta karun
temuan pada periode sebelum Islam. Amwal fadhla (harta kaum muslimin yang
meninggal tanpa waris, atau berasal dari barang seorang muslim yang meninggalkan
negrinya). Wakaf, harta benda yang didedikasikan kepada umat islam yang
disebabkan karna allah dan pendapatannya akan di depositokan pad a baitul mall.
Nawaib yaitu pajak yang jumlahnya cukup besar yang dibebaskan pada kaum
muslimin yang kaya dalam rangka menutupi pengeluaran Negara selama darurat
Zakat fitrah.Bentuk lain sadaqah seperti qurban dan kaffarat. Zakat dan ushr, Zakat
dan ushr merupakan pendapatan yang palingg utama bagi Negara pada zaman
Rasulullah hidup. Zakat dan ushr sudah di atur dalam alquran, sehingga pengeluaran
untuk zakat tidak dapat di belanjakan untuk pengeluaran umum Negara.pada zaman
Rasul, zakat dikenakan pada hal-hal berikut :
Benda logam dari emas, seperti koin, perkakas, ornament, atau dalam
bentuk lainnya.
Benda logam yang terbuat dari perak, seperti koin, perkakas, dll
Binatang ternak : unta, sapi, domba, kambing.
Berbagai jenis barang dagangan termasuk budak dan hewan.
Hasil pertanian.
Luqta, harta benda yang di tinggalkan musuh.
Barang temuan.
Pencatatan seluruh penerimaan Negara pada zaman rasul tidak ada karena
beberapa alasan, yaitu :
Jumlah orang islam yang bisa membaca sedikit dan jumlah orang yang
dapat menulis atau yang mengenal aritmatika sederhana lebih sedikit
lagi.
Sebagian besar bukti pembayaran dibuat dalam bentuk yang sederhana
baik yang didistribusikan maupun yang diterima,.
Sebagian besar zakat hanya didistribusikan secara local.
Bukti-bukti penerimaan dari berbagai daerah yang berbeda tidak
umum digunakan.
Kebanyakan kasus, ghanimah digunakan dan didistribusikan setelah
terjadi perperangan tertentu.1
1Muhammad, Kebijakan Moneter dan Fistakl Dalam Islam. 2002. Salemba
Empat: Jakarta,hal184

Catatan mengenai pengeluaran pemerintah secara rinci juga tidak tersedia,


tetapi tidak bias diambil kesimpulan bahwa system keuangan yang ada tidak
ddijalankan sebagaimana mestinya. Dalam kebanyakannya kasus pencatatannya
diserahkan padda pengumpul zakat dan setiap orang pada umumnya terlatih dalam
masa pengumpulan zakat. Setiap perhitungan yang ada di simpan dan diperiksa
sendiri oleh rasuldan setiap hadiah yang diterima para pengumpul zakat akan disita
dan rasul memberi nasihat terhadap hal ini.
Baitul Mal Sebagai Kas Negara
Pertama kali berdirinya baitul mal sebagai sebuah lembaga setelah turunnya
firman Allah SWT (QS. Al Anfal 8:41) yakni seusai perang badar dan saat itu para
sahabat berselisih tentang ghanimah.
Dengan ayat itu, Allah menjelaskan hukum tentang pembagian harta rampasan
perang dan menetapkannya sebagai hak bagi seluruh kaum muslimin. Selain itu,
Allah Swt juga memberikan wewenang kepada Rasulullah saw untuk
membagikannya seusai pertimbangan beliau mengenai kemaslahatan kaum Muslimin.
Dengan demikian, ghanimah perang badar ini menjadi hak bagi baitul mal, dimana
pengelolaannya dilakukan oleh Ulil Amri sesuai pendapatannya untuk merealisasikan
kemaslahatan kaum Muslimin.
Pada masa Rasullah Saw., baitul mal lebih mempunyai pengertian sebagai
pihak yang menangani setiap harta benda kaum Muslimin, baik berupa pendapatan
maupun pengeluaran. Saat itu baitul mal belum mempunyai tempat khusus untuk
menyimpan harta, karena saat itu harta yang diperoleh belum mengharuskan adanya
tempat atau arsip tertentu bagi pengelolaannya, Kalaupun ada, harta yang diperoleh
hampir selalu habis dibagi-bagikan kepada kaum Muslimin serta dibelanjakan untuk
pemeliharaan urusan mereka. Rasullah Saw senantiasa membagikan ghanimah dan
seperlima darinya setelah usainya perperangan, tanpa menunda-nundanya lagi.2
2. Kebijakan Fiskal Masa Pemerintahan Khulafaurrassyidin
Para Khulafaurrasyidin adalah penerus kepemimpinan Nabi Muhammad Saw,
karenanya kebijakan mereka tentang perekonomian pada dasarnya adalah
melanjutkan dasar-dasar yang dibangun Rasulullah Saw. Khalifah pertama,
a. Abu Bakar Siddiq (51 SH-13 H/537-634)

2 Muhammad, Kebijakan Moneter dan Fistakl Dalam Islam. 2002. Salemba


Empat: Jakarta,hal180

Abu Bakar Siddiq banyak menemui permasalahan dalam pengumpulan zakat,


sebab pada masa itu mulai muncul orang-orang yang enggan membayar zakat. Beliau
membangun lagi Baitul Maal dan meneruskan system pendistribusian harta untuk
rakyat sebagaimana pada masa Rasullah Saw. Beliau juga mempelopori system
penggajian bagi aparat Negara, misalnya untuk khalifah sendiri digaji amat sedikit,
yatu 2,5 atau 2,75 dirham setiap hari hanya dari Baitul Maal. Tunjangan tersebut
kurang mencukupi sehingga ditetapkan 2.000 atau 2.500 dirham dan menurut
keterangan lain 6.000 dirham per tahun.3
Dalam hal penerimaan negara, Abu Bakar mengambil langkah tegas dengan
mengumpulkan zakat dari umat Islam, termasuk dari orang-orang suku Badui yang
kembali memperlihatkan tanda-tanda pembangkangan sepeninggal Rasulullah Saw.
Ketika tatkala terdengar berita wafatnya Rasulullah Saw, banyak suku-suku Arab
yang meninggalkan Islam dan menolak membayar zakat. Abu Bakar memerintahkan
pasukannya untuk menyerang suku-suku itu. Umar bin Khatab memintanya untuk
mencabut perintahnya itu, namun Abu Bakar berkata :
Demi Allah akan perangi siapa saja yang memisahkan antara Shalat dan
Zakat.
Pada tahun kedua kekhalifahannya (12H/633M), Abu Bakar merintis embrio
baitul mal dalam arti yang lebih luas. Baitul mal bukan sekadar berarti pihak yang
menangani harta umat, namun juga berarti suatu tempat menyimpan harta Negara.
Abu bakar menyiapkan tempat khusus di rumahnya untuk menyimpan harta. Hal ini
berlangsung sampai kewafatan beliau pada tahun 13H/634M.
Selama 27 bulan dimasa kepemimpinannya, Abu bakar Siddiq telah banyak
menangani masalah murtad, cukai, dan orang-orang yang menolak membayar zakat
kepada Negara.
Abu Bakar dikenal sebagai khalifah yang sangat berhati-hati dalam masalah
harta. Bahkan pada hari kedua setelah beliau dibaiat sebagai khalifah, beliau tetap
berdagang dan tidak mau mengambil harta dari baitul mal untuk keperluan diri dan
keluarganya. Namun hal ini berubah setelah adanya keputusan syura bahwa khalifah
mendapat gaji dari baitul mal.
Menjelang ajalnya tiba, karena khawatir terhaap santunan yang diterimanya
dari baitul mal, Abu Bakar berpesa Abu bakar berpesan kepada keluarganya untuk
mengembalikan santunan yang pernah diterimanya dari baitul mal 6000 dirham.4

3 Ekonomi Islam. 2008. Raja Grafindo Persada: Jakarta, hal101-101

b. Masa Umar bin Khattab (40 SH-23 H/584- 644 M)


Khalifah Umar bin Khattab dipandang paling banyak melakukan inovasi dalam
perekonomian.(102 EI). Keberhasilan Umar sangat mengagumkan. Umar adalah
figur utama dalam penyebaran Islam. Tanpa jasanya dalam menakhlukkan daerahdaerah kekuasaan. Islam diragukan dapat tersebar luas seperti sekarang ini. Bahkan
sebagian wilayah yang berhasil dikuasainya tetap bertahan sebagai daerah Arab
hingga sekarang. Selama kekhalifahannya, Negara-negara seperti Syiria, Palestin,
Mesir, Iraq dan Persia ditakhlukkan, dan dia dijuluki Saint Paul of Islam oleh dunia
Barat.
Zakat masih tetap merupakan sumber pendapatan utama negara Islam. Zakat
dijadikan ukuran fiskal utama dalam rangkan pemecahan masalah ekonomi secara
umum. Semua surplus pendapatan dalam jumlah-jumlah tertentu harus diserahkan
kepada negara, kemudian dana itu dikelola sedemikian rupa sehingga tak seorangpun
yang memerlukan bantuan, sampai-sampai merasa malu untuk mendapatkan
sumbangan. Hal ini juga berkaitan dengan orang yang tak mau membayar zakat
sehingga orang itu di denda sebesar 50% dari jumlah kekayaannya.
Selain zakat, adapula pemasukan negara lainnya, yaitu khraj, yang terima dari
Amir Bahrain, Abu Hurairah, pada tahun 16H sebanyak 500.000 dirham. Uang itu
diputuskan tidak didistribusikan, melainkan untuk cadangan darurat membiayai
angkatan perang dan kebutuhan umat yang lain.
Ada beberapa hal penting yang perlu dicatat berkaitan dengan masalah
kebijakan fiskal pada masa Umar bin Khatab, diantaranya adalah masalah :
a. Baitul Mal
Setelah penaklukan (futuhat) terhadap negara lain semakin banyak terjadi
pada masa Umar dan kaum Muslimin berhasil menaklukkan negeri Kisra
(Persia) dan Qaishar (Romawi), semakin banyaklah harta yang mengalir ke
kota Madinah.
Untuk penyimpanan harta itu, maka didirikan baitul mal permanen di ibukota
Madinah tahun 16H dan cabang-cabang serta di ibukota provinsi. Umar
mengangkat Abdullah ibn Irqan sebagai bendara negara dan Abdurrahman ibn
ubaid al-Qari sebagai wakilnya. Pihak eksekutif dilarang ikut campur dalam
mengelola harta baitul mal. Baitul mal secara tidak langsung bertugas sebagai
pelaksana kebijaksanaan fiskal negara Islam dan khalifah adalah yang
berkuasa penuh atas dana tersebut, tapi ia tidak diperbolehkan menggunakan
4 Muhammad, Kebijakan Moneter dan Fistakl Dalam Islam. 2002. Salemba
Empat: Jakarta,hal69

untuk keperluan pribadi. Untuk Khalifah Umar diberikan tunjangan 5.000


dirham setahun, dua stel pakaian dan seekor hewan tunggan untuk haji.
Selama memerintah, Umar tetap memelihara baitul mal secara berhati-hati,
menerima pemasukan dan sesuatu yang halal sesuai dengan aturan syariat dan
mendistribusikannya kepada yang berhak menerimanya.5
b. Kepemilikan Tanah
Dalam memperlakukan tanah-tanah taklukkan, Umar tidak membagibagikannya kepada kaum Muslimin, tapi membiarkan tanah tersebut tetap
berada pada pemiliknya dengan syarat membayar kharaj dan jizyah.
c. Ushr
Ushr ditetapkan kepada pedagang yang memasuki wilayag kekuasaan Islam
sebagai balasan terhadap tindakan penguasa non-Muslim yang mengenakan
pajak terhadap barang daganngan Muslim.
d. Zakat
Umar menetapkan objek zakat tambahan, yaitu kuda, karet dan madu sebagai
objek zakat karena pada masanya, ketiga hal tersebut lazim diperdagangkan
secara besar-besaran sehingga mendatanggkan keuntungan bagi para
penjualannya.
e. Mata Uang
Dimana bobot mata uang Dinar seragam, yaitu sama dengan satu mistqal atau
20 qirad atau 100 grain barley.6
Klasifikasi Pendapatan Negara
Pada masa pemerintahan Umar pedapatan meningkat tajam dan baituk mal didirikan
secara permanen di pusat kota dari ibu kota provinsi. Pendapatan yang diterima di
baitul mal terbagi dalam 4 bagian, berikut :
a. Pendapatan yang diperoleh dari zakat dan ushr yang dikenakan terhadap kaum
Muslimin. Pendistribusiannya dalam tingkat local jika kelebihan penerimaan
5 Muhammad, Kebijakan Moneter dan Fistakl Dalam Islam. 2002. Salemba
Empat: Jakarta,hal70-71
6 Muhammad, Kebijakan Moneter dan Fistakl Dalam Islam. 2002. Salemba
Empat: Jakarta,hal73

sudah disimpan di baitul mal pusat dan sudah dibagikan ke delapan kelompok
yang disebutkan dalam Al-quran.
b. Pendapatan yang dperoleh dari khums dan sadaqah. Pendapatan ini di
distribusikan untuk orang yang sangat membutuhkan dan fakir miskin atau untuk
membiayai kegiatan mereka dalam kesejahteraan tanpa deskriminasi.
c. Pendapatan yang diperoleh dari kharaj, fay, jizya dan sewa tetap tahunan
tanah-tanah yang diberikan. Pendapatan ini digunakan untuk membayar dana
pension dan dana bantuan, serta menutupi pengeluaran operasional administrasi,
kebutuhan militer, dan sebagainya.
d. Berbagai macam pendapatan yang diterima dari semua macam sumber.
Pendapatan ini dikeluarkan untuk para pekerja, pemeliharaan anak-anak terlantar,
dan dana social lainnya.
Pengeluaran Negara
Bagian pengeluaran yang paling penting dari pendapatan akeseluruhan adalah
dana pension kemudian diikuti oleh dana pertahanan negara dan dana pembangunan.
Secara garis besar pengeluaran egara pada masa kekhalifahan Umar dikeluarkan
untuk kebutuhan yang mendapat prioritas pertama adalah pengeluaran dana pension
bagi mereka yang bergabung dalam kemiliteran, baik Muslin mauoun Non muslim.
Dana tersebut juga termasuk pensiunan bagi pegawai sipil.7

c. Kebijakan Moneter di Masa Khalifah Umar Bin Khattab


Sebenarnya upaya kearah yang modern telah dimulai oleh Umar, malah cikal
bakalnya sudah terlihat sejak zaman Rasulullah. Untuk operasi pasar, Umar telah
melaksanakan sendiri tatkala memerintahkan pegawai Baitul Mall untuk zakat, jizya,
Kharaj, usyur dan lain-lain. Konsekwensinya pemerintah akan menyerap dinar dan
dirham ke dalam kas Negara (devisa) dan dapat digunakan untuk pembiayaan fiskal.
Kebijakan moneter Umar diantaranya seperti gagasan spektakulernya tentang
pembuatan uang dari kulit unta agar lebih efisien. Stabilitas nilai tukar emas dan
perak terhadap mata uang dianar dan dirham. Penetapan nilai dirham, Instrument
noneter, control harga barang dipasar dan lain sebagainya.

7 Muhammad, Kebijakan Moneter dan Fiskal Dalam Islam. 2002. Salemba


Empat: Jakarta,hal130

Mengenai pencetakan uang dalam islam terjadi perbedaan pendapat. Namun


riwayat yang tebanyak dan masyhur menjelaskan bahwa Malik bin Marwan-lah yang
pertama mencetak dirham dan dinar dalam Islam.
Sedangkan dalam riwayat lain menyebutkan Umar yang pertam kali mencetak
diraham pada masanya. Tentang hal ini Al-maqrizi mengatakan, ketika Umar bin
Khattab menjabat sebagai khalifah dia menetapkan uang dalam kondisinya semula
dan tidak terjadi perubahan satupun pada masanya hingga tahun18 H. Dalam tahun
ke-6 kekhalifahannya ia mencetak dirham ala ukiran Kisra dan dengan bentuk yang
serupa. Hanya saja ia menambahkan kata alhamdulillah dan dalam bagian yang lain
dengan katarasulullah dan pada bagian yang lain lagi dengan kata lailahillallah,
sedangkan gambarnya adalah gambar Kisra bukan gambarnya Umar.
Namun dalam riwayat Al-Baihaqi diriwayatkan, ketika Umar melihat
perbedaan antara dirham bighali dengan nilai delapan daniq, dan ada
dirham thabary senilai empat daniq, diraham yamani dengan nilai satu daniq. Ketika
ia melihat kerancuan itu, kemudian ia menggabungkan dirham islam yang nilainya
enam dhraiq. Dan masih banyak riwayat yang lain menerangkan bahwa Umar telah
mencetak mata uang islam. Hal ini juga dapat dianalogikan bahwa Umar telah
mencetak mata uang islam ketika ia melontarkan berkeinginan untuk mencetak uang
dari kulit unta agar lebih efisien, karena khawatir unta akan habis dikuliti maka niat
itu diurungkan. Ide ini juga menjadi dasar-dasar menegement moneter.
Umar juga mengambil tanah-tanah yang tidak digarap untuk dibagikan kepada
yang lain untuk digarap agar tanah itu membawa hasil. Selain Baitul Mall Umar juga
menggunakan Hisbah sebagai pengontrol pasar. Umar sendir sangat sering turun ke
pasar untuk mengecek harga-harga barang agar tidak ada kecurangan. Suatu ketika
Umar pernah memarahi Habib bin Baltaah yang menjual kismis terlalu murah, maka
Umar memerintahkan untuk menaikkan harga agar orang lain pun dapat melakukan
jual beli. Umar tidak pernah menahan kekayaan Negara, semuanya didistribusikan
kepada rakyat sehingga peredaran uang terjadi dalam masyarakat. Umar mengawasi
harga barang di pasar sehingga tidak terjadi monopoli, oligapoli dan sebagainya.
Kebijakan ini merupakan upaya pelepasan uang kedalam masyarakat untuk
ketersediaan modal kerja.
Semangat pengontrolan cadangan dalam kas Baitul Mall suadh mulai
dieperhatikan pada masa ini. Baitul Mal mungkin lebih cocok disebut Bank Sentral
atau Bank BI dalam kontek Indonesia. Baitul Mall bertugas untuk mengumpulkan,
menyimpan dan menyalurkan devisa Negara. Kekeyaan itu berasal dari berbagai
sumber diantaranya zakat, jizyah, kharaj, usyur, khumus, fai, rikaz, pinjaman dan
sebagainya.
10

Himbauan sebagai salah satu instrument moneter. Instrument ini lazim


digunakan Umar dalam mengatrol kesetabilan ekonomi Negara. Umar mengawasi
segala bentuk pembayaran keluar-masuk kas Negara. Umar sering menegur para
gubernur agar kutipan kharaj, jizyah, usyur dilakukan dengan benar. Umar tidak
membenarkan penyiksaan atau penjara kepada orang yang memang benar tidak
sanggup membayarjizyah. Hukuman boleh dilaksanakan apabila terjadi pengingkaran
atau sengaja memperrlambat pembayaran. Terhadap ini Umar sangat keras.
Setiap pendapatan berupa ganimah, rikaz, fai, usyur sebagian dikirim ke
pusat (Madinah). Pengawasan moneter ala Umar ini sangat ketet sehingga tidak ada
penimbunan uang dan barang. Selain itu Valuta asing dari Persia (dirham) dan
Romawi (dinar) dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat Arab telah menjadi alat
pembayaran resmi. Sistem devisa bebas diterapkan tidak ada halangan sedikitpun
mengimpor dinar atau dirham.
Lebih jauh Umar juga sudah mulai memperkenalkan transaksi tidak tunai
dengan mengguanakan cek dan promissory notes. Umar juga menggunakan
instrument ini untuk mempercepat distribusi barang-barang yang baru diimpor dari
mesir dan madinah.
d. Masa Usman bin Affan (47 SH-35H/577-656 M)
Pada masa pemerintahannya kondisi yang sama juga berlaku seperti masa
Umar bin Khathab. Selama 12 tahun masa pemeritahannya, Khalifah Usman bin
Affan berhasil melakukan ekspansi ke wilayah Armenia, Tunasia, Cyprus, Rhodes,
dan bagian yang tersisa ari Persia, Transoxania, dan Tabaristan.
Selain pembangunan sektor pertanian yang pesat, khalifah Usman juga
berhasil membentuk armada laut kaum Muslimin di bawah komando Muawiyah,
hingga berhasil membangun supremasi kelautannya di wilayah Mediterania. Namun
untuk keperluan tersebut, pemerintahan Usman harus menanggung beban anggaran
yang tidak sedikit untuk memelihara angkatan laut tersebut. Khalifah Usman tidak
mengambil upah dari baitul mal, sebaliknya ia meringankan beban pemerintahan,
bukan menyimpan uangnya di Bendahara Negara. Sikap kedermawaan ini tak lepas
dari kondisi kepala pemerintahan. Inilah yang membedakan Usman dengan khalifah
sebelumnya.8
e. Masa Ali bin Abi Thalib (23 SH-40H/600-661M)
8 Muhammad, Kebijakan Moneter dan Fiskal Dalam Islam. 2002. Salemba
Empat: Jakarta,hal74

11

Pada masa pemerintahan Usman, Ali banyak mengkritik kebijakan yang dinilai
terlalu memperhatikan kepentingan keluarganya yang dinilai terlalu memperhatikan
kepentingan keluarga (nepotisme). Setelah menjadi khalifah Ali bin Abi Thalib
menempatkan kembali kondisi baitul mal di tempat pada posisi sebelumnya. Antara
lain : memecat beberapa yang diangkat Usman, mengambil tanah yang dibagikan
Usman kepada keluarganya tanpa alasan yang benar, memberikan bantuan kepada
kaum Muslimin berupa tunjangan yang diambil dari baitul mal, mengatur kembali
tata laksana pemerintahan untuk mengembalikan kepentingan umat, serta
memindahkan pusat pemerintah ke Kufa Madinah.
Khalifah Ali terkenal sangat sederhana. Mewarisi kendali pemerintahan
dengan wilayah yang luas, tetapi banyak oitensi konflik dari khalifah sebelumnya, Ali
harus mengelola perekonomian secara hati-hati. Ia secara sukarela menarik dirinya
dari daftar penerima dana bantuan setiap tahunnya. Ali sangat ketat dalam
menjalankan keuangan negara.9
3. Kebijakan Fiskal dan Moneter Masa Umawiyah
Ketika Dunia Islam berada dibawah kepemimpinan khalifah bani Umawiyah, kondisi
baitul mal berubah. Al-maududi menyebutkan, jika pada masa sebelumnya baitul mal
dikelola dengan penuh kehati-hatian sebagai amanat Allah Swt, dan amanat rakyat,
maka pada masa pemerintahan bani Umawiyah baitul mal berada sepenuhnya
dibawah kekuasaan khalifah tanpa dapat dipertanyakan atau dikritik oleh rakyat.
Pada masa khalifah Umar ibn Abdul Aziz, Umar berupaya untuk
membersihkan baitul mal dari pemasukan harta yang tidak halal dan berusaha
mendistribusikannya kepada yang berhak menerimanya.
Dalam kebijakannya khalifah Umar ibn Abdul Aziz melindungi dan
menetapkan taraf hidup masyarakat. Ia mengurangi beban pajak yang di pungut dari
kaum nasrani, menghapus pajak terhadap kaum muslim, membuat takaran dan
timbagan, membasmi cukai dan kerja paksa,dll. Kebijakan-kebijakan ini berhasil
meningkatkan taraf hidup masyarakat sehingga tidak ada lagi yang menerima zakat.
Khalifah Umar ibn Abdul Aziz menerapkan kebijakan otomi daerah yang
mana setiap wilayah Islam mempunyai wewenang mengelola zakat dan pajak sendiri
dan tidak diharuskan menyerahkan upeti kepada pemerintah pusat. Bahkan
sebaliknya pemerintah pusat memberikan bantuan subsisdi kepada setiap wilayah
Islam yang minin pendapatan zakat dan pajaknya.
9 Supraytno Eko, Ekonomi Islam. 2005. Graha Ilmu: Yogyakarta, hal.104

12

Jika terdapat surplus, khalifah Umar menyarankan agar wilayah tersebut


memberikan memberikan bantuan kepada wilayah yang minim pendapatan. Umar ibn
Abdul Aziz mengangkat Ibnu Jahdam sebagai amil shadaqoh yang bertugas
menerima dan mendistribusikan shadaqoh secara merata keseluruh negara Islam.
Pada zaman pemerintahannya sumber-sumber pemasukan negara berasal dari
zakat, harta rampasan perang, pajak penghasilan pertanian. Akan tetapi, kondisi baitul
mal yang telah dikembalikan oleh Umar pada posisi yang sebenarnya itu tidak dapat
bertahan lama, keserakahan para penguasa telah meruntuhkan sendi-sendi baitul mal
dan keadaa demikian berkepanjangan sampai masa ke khalifahan Abasiyah.
4. Kebijakan Fiskal Moneter Masa Abasiyah
Setelah Umawiyah runtuh maka Abdullah Al Saffah Ibn Muhammad Ibn Ali
Ibn Abdullah Ibn Abbas mendirikan Bani Abasiyah, Abdullah Al Saffah tidak lama
berkuasa, sehingga Pembina yang sesungguhnya adalah khalifah Abu Jakfar Al
Mansur ia mengangkat seorang wazir sebagai koordinator departemen, dan
mengembalikan kembali baitul mal sebagai milik negara. Disamping itu, khalifah Al
Mansur sangat hemat. Ketika wafat, ia meninggalkan kas negara mencapa 810juta
dirham.
Puncak kejayaan dinasti Abasiyah adalah ketika dipimpin khalifah Harun Al
Rasyid, dimana pertumbuhan ekonomi berkembang pesat dan kemakmuran daulah
mencapai puncaknya. Khalifah Harun Al Rasyid membangun baitul mal dengan
menunjuk seorang wazir yang mengepalai beberapa diwan, yaitu diwan Al Khazanah
(mengurus pembedaharaan negara), diwan Al Azra (mengurus kekayaan negara
berupa hasil bumi), dan diwan Khazain As-siah (mengurus perlengkapan perang).
Selain itu Khalifah Harun juga sangat memperhatikan masalah perpajakan. Ia
menunjuk Abu Yusuf untuk menyusun sebuah kitab pedoman mengenai keuangan
negara secara syariah, judul kitab itu adalah Al-kharaj.10

Tambahannyo Cok
Masabaniummayyah
a. Abdul Malik bin Marwan
10 Muhammad, Kebijakan Moneter dan Fistakl Dalam Islam. 2002.
Salemba Empat: Jakarta,hal76-80

13

Khalifah Abdul Malik adalah orang kedua yang terbesar dalam deretan para
khalifah Bani Umayyah yang disebut-sebut sebagai khalifah kedua bagi kedaulatan
Bani Umayyah. Ia dikenal dengan sebagai seorang khalifah yang ilmu agamanya
sangat baik, terutama di bidang fiqh.
Abdul Malik bin Marwan memerintah selama 20 tahun. Dalam masa
pemerintahannya tentara Islam meyeberangi sungai Oxus dan dapat berhasil
menundukkan Baikh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana dan Samarkand. Mayoritas
penduduk dikawasan ini kaum Paganis. Pasukan islam menyerang wilayah Asia
Tengah pada tahun 41H / 661M, pada tahun 43H / 663M mereka mampu
menaklukkan Salistan dan menaklukkan sebagian wilayah Thakaristan pada tahun
45H / 665M. wilayah Quhistan pada tahun 44H / 664M. Abdullah Bin Ziyad tiba
dipegunungan Bukhari Pada tahun 44H / 664M para tentaranya datang ke India dan
dapat menguasai Balukhistan,Sind, dan daerah Punjab sampai ke Maltan.
Dia telah berhasil mengembalikan sepenuhnya kesatuan wilayah dan wibawa
kekuasaan keluarga Umayyah dari seluruh pengacau negara yang ada di penguasa
sebelumnya, mulai dari gerakan pemisahan Abdullah bin Zubair di Hijjaz,
pemberontakan kaum Syiah dan Khawarij sampai aksi teror yang dilakukan Al
Muktar bin Ubaid as Saqafi di Kufah, dan pemberontakan yang dipimpin Musab bin
Zubair di Irak. Ia juga menundukkan tentara Romawi yang sengaja mengacaukan
sendi pemerintahan Bani Umayyah.
Disamping perluasan wilayah, Abdul Malik bin Marwan juga membuat
kebijakan-kebijakan diantaranya :Dalam bidang perekonomian : Abdul Malik bin
Marwan mengubah mata uang Byzantium dan Persia menjadi mata uang yang
bertuliskan kata-kata dengan huruf Arab, Ia juga memerintahkan untuk mencetak
mata uang secara teratur. Pemikiran yang serius terhadap penerbitan dan pengaturan
uang dalam masyarakat islam. Hal ini dilatarbelakangi oleh permintaan Romawi agar
menghapus kalimat bissmillahirahmanirahim dari mata uang yang berlaku pada masa
khalifahnya. Pada saat itu Romawi mingimpor dinar Islam dari Mesir, Akan tetapi

14

permintaan itu di tolaknya. Bahkan dia mencetak mata uang islam sendiri dengan
tetap mencantumkan bismillahirahmanirahim pada tahun 74H (659M).
Pada masa Umayyah, (Khalifah Abd Al-Malik) juga berhasil melakukan
pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan. Beliau juga menjadikan
bahasa Arab sebagai bahasa resmi dalam adminstrasi, yang sebelumnya
menggunakan bahasa yang bermacam-macam, seperti bahasa Yunani di Syams,
bahasa Persia di Persia, dan bahasa Qibthi di Mesir. Beliau juga membangun saranaprasarana seperti gedung gedung, memperluas Masjidil Haram dan juga mendirikan
dinas pos.
Khalifah Abdul Malik wafat pada tahun 86 H dan digantikan oleh puteranya
Al Walid bin Abdul Malik.
b. Al Walid bin Abdul Malik
Khalifah Al Walid bin Abdul Malik, memerintah selama 10 tahun. Pada masa
pemerintahannya tentara Islam menguasai Aljazair, Maroko, di Afrika Utara.Ekspansi
kebarat secara besar-besaran dilanjutkan dijaman Al-Walid Ibn Abd Abdul Malik
(705M-714M). Masa pemerintahan Walid adalah masa ketentraman, kemakmuran
dan ketertiban. Umat islam merasa hidup bahagia, tidak ada pemberontakan dimasa
pemerintahanya.11
Pada masa pemerintahannya terjadi penaklukan yang demikian luas,
penaklukan ini dimulai dari Afrika utara menuju wilayah barat daya, benua eropa
yaitu pada tahun 711M. Setelah Al Jazair dan Maroko dapat ditaklukkan, Tariq Bin
Ziyad pemimpin pasukan islam dengan pasukannya menyebrangi selat yang
memisahkan antara Maroko dengan Benua Eropa dan mendarat disuatu tempat yang
sekarang dikenal nama Gibraltar (Jabal Tariq). Tentara Spanyol dapat dikalahkan,
dengan demikian Spanyol menjadi sasaran.

11 http://www.scrib.com

15

Selanjutnya Ibu Kota Spanyol Kordova dengan cepatnya dapat dikuasai,


menyusul setelah itu kota-kota lain seperti Sevie, Elvira, dan Toledo yang dijadikan
ibu kota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Kordova.
Dia memulai kekuasaannya dengan membangunMasjid Jami di Damaskus.
Masjid Jami ini dibangun dengan sebuah arsitektur yang indah, dia juga membangun
Kubbatu Sharkah dan memperluas masjid Nabawi, disamping itu juga melakukan
pembangunan fisik dalam skala besar.Karena ketika itu kekayaan melimpah, maka
beliau menyempurnakan pembangunan gedung-gedung pemerintahan, pabrik-pabrik,
dan jaringan jalan raya yang dilengkapi dengan sumur untuk para kafilah yang
melewati jalan tersebut. Ia juga membangun masjid Al Amawi yang terkenal di
Damaskus.Ia juga memanfaatkan kekayaan negerinya untuk menyantuni para yatim
piatu, fakir miskin, dan penderita cacat seperti lumpuh, buta dan penyakit kusta. Ia
juga membangun panti untuk menampung orang cacat tersebut, semua pegawai yang
bekerja di panti tersebut mendapat gaji yang tetap dari Khalifah.
Pasukan islam memperoleh dukungan dari rakyat setempat yang sejak lama
menderita akibat kekejaman penguasa. Pada masa inilah pemerintah islam mencapai
wilayah yang demikian luas dalam rentang sejarahnya, dia wafat pada tahun 96H /
714M dan memerintah selama 10 tahun kemudian digantikan oleh adiknya Sulaiman
bin Abdul Malik, sebagaimana wasiat ayahnya.
c. Khalifah Umar bin Abdul Aziz.12
Khalifah Umar bin Abdul Aziz, hanya memerintah dalam waktu yang singkat
yaitu selama 3 tahun, meskipun demikian Khalifah Umar bin Abdul Aziz mencapai
banyak kemajuan dalam pemerintahannya.
Pada waktu itu, tentara Islam dibawah pimpinan Abdurrahman Al Gafiqi
memasuki kawasan Bordeaux, Poitiers, dan Tour di Prancis. Angkatan laut Islam juga
berhasil menguasai pulau-pulau di Laut Tengah, seperti Balaerik, Sisilia, Sardinia,
12. Nur chamid, jejak langkah sejarah pemikiran ekonomi islam, yogyakarta : pustaka
pelajar, 2010, hal. 113.

16

dan Korsika. Dengan demikian wilayah Islam mencakup daerah yang sangat luas
yang meliputi Afrika Utara, Spanyol, Suriah, Palestina, Jazirah Arab, Irak, Asia Kecil,
Persia, Afghanistan, Pakistan dan Turkistan .
Dimasa pemerintahannya pasukan Islam melakukan penyerangan ke Prancis
dengan melewati pegunungan Baranese mereka sampai ke wilayah Septomania dan
Profanes, lalu melakukan pengepungan Toulan sebuah wilayah di Prancis. Namun
kaum muslimin tidak berhasil mencapai kemenangan yang berarti di Prancis.
Setelah perluasan wilayah tersebut khalifah Umar bin Abdul Aziz
menitikberatkan perhatiannya di bidang politik dan pemerintahan dalam negeri, Umar
bin Abdul Aziz mulai menjalin hubungan kembali dengan golongan Syiah dan
menyamakan kedudukan orang Arab dengan orang Mawali.
Selama masa pemerintahanya dia menerapkan kembali ajaran Islam secara
utuh, dan menyeluruh. Ketika diangkat sebagai khalifah, dia mengumpulkan
rakyatnya dan mengumpulkan serta menyarahkan harta kekayaan diri dan
keluarganya yang tidak wajar kepada kaum muslimin melalui baitul mal. untuk
membersihkan Baitul Maal dari pemasukan harta yang tidak halal dan berusaha
mendistribusikannya kepada yang berhak menerimanya. Misalnya seperti yang Ia
lakukan terhadap salah satu hartanya : perkampungan Fadak, desa di sebelah utara
Makkah, yang sejak Rasulullah SAW wafat dijadikan milik negara. Namun, pada
masa khalifah ke-4 Bani Umayah (memerintah 684-685 M), harta tersebut
dimasukkan sebagai milik pribadi khalifah dan mewariskannya kepada keturunannya.
Beliau banyak menghidupkan dan memperbaiki tanah-tanah yang tidak produktif,
menggali sumur-sumur baru dan membangun masjid-masjid.
Ia juga membuat perhitungan dengan para amir (setingkat gubernur) agar
mereka mengembalikan harta yang sebelumnya bersumber dari sesuatu yang tidak
sah. Dia juga tidak mengambil sesuatupun dari baitul mal. Termasuk pendapatan fai
yang telah menjadi haknya, menghentikan jizyah bagi orang Islam baru, beliau juga
meringankan beban pajak yang ditanggung oleh masyarakat. Dia mendistribusikan

17

sedekah dan zakat dengan cara yang benar hingga kemiskinan tidak ada lagi
dijamannya. Dimasa pemerintahannya tidak ada lagi orang yang berhak menerima
zakat ataupun sedekah.
Kondisi baitul mal ketika ketika itu terus meluas. Tidak hanya sekadar
menyalurkan dana tunjangan, tetapi juga dikembangkan dan diberdayakan untuk
menyalurkan pembiayaan demi keperluan pembangunan sarana dan prasarana umum.
Bahkan, Baitul Maal juga dipakai untuk membiayai proyek penerjemahan buku-buku
kekayaan intelektual Yunani Kuno. Di sinilah gelombang intelektual Islam dimulai.
Pada masa pemerintahan khalifah Umar Bin Abd Al-Aziz kemajuan dibidang
Tashri mulai meningkat, beliau berusaha mempertahankan perkembangan hadits yang
hampir mengecewakan, karena para penghafal hadits sudah meninggal sehingga
Umar Bin Abd Al-Aziz berusaha untuk membukukan Hadits.
Keberhasilan dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat inilah yang
membuat Umar bin Abdul Aziz tidak hanya layak disebut sebagai pemimpin negara,
tetapi juga sebagai fiskalis muslim yang mampu merumuskan, mengelola, dan
mengeksekusi kebijakan fiskal pada masa kekhalifahannya.
Jauh sebelum Keynes mencanangkan kebijakan fiskal untuk mengelola
keuangan negara, distribusi kekayaan, dan menciptakan kesejahteraan, Umar bin
Abdul Azizi telah membuktikan bahwa tak satu pun rakyatnya merasa kekurangan
karena kesejahteraan yang merata. Kisah di awal tulisan ini jelas memberikan
gambaran bahwa kebijakan Umar bin Adbul Aziz berhasil membangun kejayaan
Dinasti Umayyah pada tahun 99-102H/717-720M.
Umar bin Abdul Aziz layak disebut fiskalis muslim karena memilki kebijakan
pengelolaan keuangan negara yang relatif matang pada masanya. Hal ini dapat dilihat
dari pengelolaan penerimaan negara yang meliputi pajak, zakat, khums (bagian
seperlima), dan distribusi pengeluaran negara yang meliputi belanja pegawai, belanja
peralatan administrasi negara, pendidikan, dan distribusi zakat.

18

Umar bin Abdul Aziz memiliki pandangan bahwa menciptakan kesejahteraan


masyarakat bukan dengan cara mengumpulkan pajak sebanyak-banyaknya seperti
yang dilakukan oleh para khalifah Bani Umayyah sebelum Umar, melainkan dengan
mengoptimalkan kekayaan alam yang ada, dan mengelola keuangan negara dengan
efektif dan efisien. Umar bin Abdul Aziz akan langsung menegur gubernur atau
pegawainya yang boros dalam menggunakan anggaran negara.
Pada pemerintahaannya beliau memprioritaskan pembangunan di dalam negri.
Menurutnya, memperbaiki, dan meningkatkan kesejahteraan Negara-negara Islam
adalah lebih baik dari pada menambah memperluas wilayah. Ia pula menjaga
hubungan baik antara pihak oposisi dan memberikan hak kebebasan beribadah
kepada penganut agama lain.
Khalifah yang juga merupakan cucu dari salah satu Khulafaurrasyidin Umar
bin Khattab ini, memiliki peran yang sangat besar bagi perkembangan Islam dari
berbagai segi, dengan ilmu yang beliau miliki, dan mengaplikasikannya demi
kemaslahatan umat. Sehingga masyaakat sangat mencintai beliau sampai beliau wafat
pada tahun 101 H, dan kemudian digantikan oleh Yazid bin Ibnu Malik (Yazid II)

b. Kekhalifahan Bani Abbasiyah


Peran penting ekonomi sangat di sadari oleh para khalifah Dinasti Abbasiyah
dalam menentukan maju mundurnya suatu negara. Oleh karena ini, mereka
memberikan perhatian khusus pada pengembangan sektor ini, terutama periode
pertama Dinasti Abbasiyah . upaya kearah kemajuan ini sebenarnya sudah di mulai
sejak masa pemerintahan al-Mansur. Yaitu dengan di pindahkannya pusat
pemerintahan ke baghdad tiga tahun setelah dia di lantik menjadi khalifah.
Dijadikannya kota baghdad sebagai pusat kendali pemerintahan itu
mempunyai arti tersendiri bagi perkembangan dan kemajuan di bidang ekonomi.
Baghdad merupakan sebuah kota yang terletak didaerah yang sangat strategis bagi
perniagaan dan perdagangan. Sungai tigris bisa dilayari sampai kota ini. Begitu juga

19

terdapat jalur pelayaran ke sungai eufrat yang cukup dekat. Sehingga barang-barang
dagangan dan perniagaan dapat diangkut menghilir sungai eufratdan tigris dengan
menggunakan perahu-perahu kecil. Di samping itu, yang terpenting ialah tedapatnya
jalan nyaman dan aman dari semua jurusan. Akhirnya Baghdad menjadi daerah
sangat ramai, karena disamping sebagai ibu kota kerajaan juga sebagai kota niaga
yang cukup marak pada masa itu. Dari situlah negara akan dapat devisa yang sangat
besar jumlahnya.
Selain itu faktor pertambahan jumlah penduduk juga merupakan suatu faktor
turut meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dimana semakin pesat pertumbuhan
penduduk, maka semakin besar dan banyak pula faktor permintaan pasar (demand).
Hal ini pada gilirannya memicu produktivitas ekonomi yang tinggi.
Adapun komoditi yang menjadi primadona pada masa itu adalah bahan
pakaian atau tekstil yang menjadi konsumsi pasar asia dan eropa. Sehingga industri di
bidang penenunan seperti kain, bahan-bahan sandang lainnya dan karpet berkembang
pesat. Bahan-bahan utama yang digunakan dalam industri ini adalah kapas, sutra dan
wol.13Industri lain yang juga berkembang pesat adalah pecah belah, keramik dan
parfum.Disamping itu berkembang juga industri kertas yang di bawa ke Samarkand
oleh para tawanan perang Cina tahun 751 M. Disini produksi dan ekspor kertas
dimulai. Hal ini rupanya mendorong pemerintah pada masa Harun al-Rasyid lewat
wazirnya Yahya ibn Barmak mendirikan pabrik kertas pertama di Baghdad sekitar
tahun 800 M. salah satu bukti manuskrip Arab tertua yang ditulis diatas kertas yang
ditemukan adalah manuskrip tentang hadis yang berjudul Gharib al-Hadis karya Abu
Ubayd al-Qasim ibn Sallam (w. 837 M) yang dicetak bulan Dzulqadah 252 H (13
November 12 Desember 866), disimpan di perpustakaan Leiden.
Komoditas lain yang berorientasi komersial selain, logam, kertas, tekstil,
pecah belah, hasil laut dan obat-obatan adalah budak-budak. setelah dibeli oleh
13. Maurice Lombard, The Golden Age of Islam, New York : American Elsevier, 1975, hal.
182.

20

tuannya dipekerjakan di ladang pertanian, perkebunan dan pabrik. Namun bagi


pemerintah, budak-budak direkrut sebagai anggota militer demi pertahanan negara.
Sebagai alat tukar, para pelaku pasar menggunakan mata uang dinar (emas)
dan dirham (perak). Penggunaan mata uang ini secara ekstensif mendorong
tumbuhnya perbankan. Hal ini disebabkan para pelaku ekonomi yang melakukan
perjalanan jauh, sangat beresiko jika membawa kepingan-kepingan tunai uang tadi.
Sehingga bagi para pedagang yang melakukan perjalanan digunakanlah sistem yang
dalam perbankan modern disebut Cek, yang waktu itu dinamakan Shakk. Dengan
adanya sistem ini pembiayaan menjadi fleksibel. Artinya uang bisa didepositokan di
satu bank di tempat tertentu, kemudian bisa ditarik atau dicairkan lewat cek di bank
yang lain. Dan cek hanya bisa dikeluarkn oleh pejabat yang berwenang yaitu bank.
Lebih jauh bank pada masa ini kejayaan Islam juga sudah memberikan kredit bagi
usaha-usaha perdagangan dan industri. Selain itu bank juga sudah menjalankan fungsi
sebagai Currency Exchange (penukaran mata uang).
Kemajuan di bidang ekonomi tentunya berimbas pada kemakmuran rakyat
secara keseluruhan. Puncak kemakmuran rakyat dialami pada masa Harun alRasyid (786-809M) dan putranya al-Mamun (813-833 M).kekayaan yang
melimpah pada masa ini digunakan untuk kegiatan-kegiatan di berbagai bidang
seperti sosial, pendidikan, kebudayaan, Ilmu Pengetahuan, kesehatan, kesusastraan
dan pengadaan fasilitas-fasilitas umum. Pada masa inilah berbagai bidang-bidang tadi
mencapai puncak keemasannya.14
Kemajuan ekonomi dan kemakmuran rakyat pada masa ini disebabkan oleh
beberapa faktor antara lain :
1. Relatif stabilnya kondisi politik sehingga mendorong iklim yang kondusif
bagi aktivitas perekonomian.

14http://majelispenulis.blogspot.co.id/2012/04/kemajuan-ekonomi-daulah-bani-abbasiyah.html .

21

2. Tidak adanya ekspansi ke wilayah-wilayah baru sehingga kondisi ini


dimanfaatkan oleh masyarakat guna meninggkatkan taraf hidup dan
kesejahtraan mereka.
3. Besarnya arus permintaan (demand) untuk kebutuhan-kebutuhan hidup baik
yang bersifat primer, sekunder dan tersier, telah mendorong para pelaku
ekonomi untuk memperbanyak kuantitas persediaan (supply) barang-barang
dan jasa.
4. Besarnya arus permintaan (demand) akan barang tersebut disebabkan
meningkatnya jumlah penduduk, terutama di wilayah perkotaan yang menjadi
basis pertukaran aneka macam komoditas komersial.
5. Luasnya wilayah kekuasaan mendorong perputaran dan pertukaran komoditas
menjadi ramai. Terutama wilayah-wilayah bekas jajahan Persia dan
Byzantium yang menyimpan potensi ekonomi yang besar.
6. Jalur transfortasi laut serta kemahiran para pelaut muslim dalam ilmu kelautan
atau navigasi.
7. Etos kerja ekonomi para khalifah dan pelaku ekomoni dari golongan Arab
memang sudah terbukti dalam sejarah sebagai ekonom yang tangguh. Hal ini
didorong oleh kenyataan bahwa perdagangan sudah menjadi bagian hidup
orang Arab, apalagi kenyataan juga mengatakan bahwa Nabi sendiri juga
adalah pedagang.

22

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Ekonomi Islam. 2008. Raja Grafindo Persada: Jakarta
Farida Siti. Sistem Ekonomi Indonesia. 2011. Bandung: Pustaka Setia
Gusfahmi, Pajak Menurut Syariah. 2007. Raja Grafindo Persada: Jakarta
Supraytno Eko, Ekonomi Islam. 2005. Graha Ilmu: Yogyakarta
Muhammad, Kebijakan Moneter dan Fistakl Dalam Islam. 2002. Salemba
Empat: Jakarta
Huda Nurul, Ekonomi Makro Islam Pendekatan Teoritis. 2008. Predana Media
Group: Jakarta
Rivai Veithzal dan Andi Buchari, Islamic Economics Ekonomi Islam Bukan
Opsi, Tetapi Solusi!. 2009: Jakarta
Rahayu Sri,Pengantar Kebijakan Fiscal.2010. PT Bumi Aksara:Jakarta,2010

23