Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Aljabar Boole sebagai salah satu cabang matematika, pertama kali
dikemukakan oleh George Boole pada tahun 1854. Boole dalam bukunya The
Law of Thought, memaparkan aturan-aturan dasar logika (yang dikenal dengan
logika Boole). Aturan dasar logika ini membentuk Aljabar Boole.
Pada tahun 1938, Claude Shannon memperlihatkan penggunaan Aljabar
Boole untuk merancang rangkaian sirkuit listrik yang menerima masukan 0
dan 1 serta menghasilkan keluaran 0 dan 1 juga. Aljabar Boole telah menjadi
dasar teknologi computer digital. Saat ini Aljabar Boole digunakan secara luas
dalam rangkaian perancangan pensaklaran, rangkaian digital, dan rangkaian
IC (Integrated Circuit) komputer.
I.2 Tujuan Percobaan
1. Agar dapat membuktikan beberapa hukum dari Aljabar Boole
2. Agar dapat memahami tentang rangkaian beberapa type IC
3. Agar dapat terampil dalam membuat rangkaian digital.
I.3 Waktu dan Tempat Praktikum
Hari / Tanggal
Waktu
Tempat

: Sabtu, 13 Juli 2014


: 13.00 WITA
: Laboratorium Teknik Telekomunikasi & Teknik Digital

BAB II

TEORI DASAR
Aljabar boole merupakan aljabar yang berhubungan dengan variabelvariabel biner dan operasi-operasi logika. Variabel-variabel diperlihatkan dengan
huruf-huruf alfabet, dan tiga operasi dasar dengan AND, OR dan NOT
(komplemen). Fungsi boole terdiri dari variabel-variabel biner yang menunjukkan
fungsi, suatu tanda sama dengan, dan suatu ekspresi aljabar yang dibentuk dengan
menggunakan variabel-variabel biner, konstanta-konstanta 0 dan 1, simbol-simbol
operasi logika, dan tanda kurung.
Suatu fungsi boole bisa dinyatakan dalam tabel kebenaran. Suatu tabel
kebenaran untuk fungsi boole merupakan daftar semua kombinasi angka-angka
biner 0 dan 1 yang diberikan ke variabel-variabel biner dan daftar yang
memperlihatkan nilai fungsi untuk masing-masing kombinasi biner.
Aljabar boole mempunyai 2 fungsi berbeda yang saling berhubungan.
Dalam arti luas, aljabar boole berarti suatu jenis simbol-simbol yang ditemukan
oleh George Boole untuk memanipulasi nilai-nilai kebenaran logika secara
aljabar. Dalam hal ini aljabar boole cocok untuk diaplikasikan dalam komputer.
Disisi lain, aljabar boole juga merupakan suatu struktur aljabar yang operasioperasinya memenuhi aturan tertentu.
Dasar operasi logika logika Memberikan batasan yang pasti dari suatu
keadaan, sehingga suatu keadaan tidak dapat berada dalam dua ketentuan
sekaligus. Dalam logika dikenal aturan sbb :

Suatu keadaan tidak dapat dalam keduanya benar dan salah sekaligus

Masing-masing adalah benar / salah.

Suatu keadaan disebut benar bila tidak salah.


Dalam ajabar boole keadaan ini ditunjukkan dengan dua konstanta :

LOGIKA 1 dan 0
Pengertian GERBANG :
Rangkaian satu atau lebih sinyal masukan tetapi hanya menghasilkan satu
sinyal keluaran.
Rangkaian digital (dua keadaan), karena sinyal masukan atau keluaran hanya
berupa tegangan tinggi atau low ( 1 atau 0 ).

Setiap keluarannya tergantung sepenuhnya pada sinyal yang diberikan pada


masukan-masukannya.
Sama seperti Aljabar biasa terikat pada aturan hukum yang telah
ditetapkan, demikian pula halnya dengan Aljabar Boole. Terdapat 10 hukum dasar
yang digunakan dalam Aljabar Boole, sebagian diantaranya diambil dari aljabar
biasa dan sebagian yang lain berlaku hanya untuk Aljabar Boole.
II.1. Hukum Asosiatif
Pada perjalinan yang sejenis tanda-tanda kurang dapat dihilangkan
atau dibentuk kelompok-kelompok baru dalam tanda kurung atau elemenelemen yang ada di dalam kurung diperhitungkan.
Contoh untuk fungsi AND dan OR :
a. A.B.C = (A.B).C = A.(B.C) =(A.C).B
b. A+B+C= (A+B)+C = (A+C)+B
Hukum ini bermanfaat dan pemecahan bentuk jalinan rumit. Dengan
pembentukan kelompok demi kelompok dan bentuk soal-soal menjadi jelas.
II.2. Hukum Komutatif
Hukum ini merupakan perluasan dari hukum asosiatif. Variabel
masukan yang dikaitkan dengan satu jenis jalinan dapat saling dipertukarkan
pada operasi perhitungan.
Jadi untuk fungsi AND berlaku :
A.B = B.A
Seperti terlihat pada gambar berikut :
A.

A.B

A.B

B.A

B.A = B.A

= A.B

Gambar II.1 Hukum komutatif fungsi AND


Sama seperti fungsi AND, variabel masukan pada fungsi OR dapat
juga dipertukarkan yaitu : A+B+A.
II.3.Hukum Idempotent (Hukum Perluasan)

Suatu variabel masukan dapat dijalani dengan konjungtif (AND) atau


disjungtif (OR) berulang-ulang tak terbatas dengan diri sendiri, fungsi
keluaran tetap konstan tak berubah.
Pernyataan ini dapat kita tuliskan sebagai berikut :
A.A.A.A.A.......................................= A (untuk jalinan AND)
A+A+A+A+A..= A (untuk jalinan OR)
Di bawah ini dapat diperlihatkan gambar rangkaian dari hukum idempotent
dari fungsi AND dan OR.
A.A = A+A

A
A.

Gambar II.2 Hukum perluasan fungsi AND dan OR


II.4. Hukum Identitas
Hukum ini tidak terlalu berarti dalam percobaan ini, karena hanya
menyatakan bahwa A = A = A dan seterusnya.
II.5.Hukum Komplementasi
Hukum ini adalah suatu ungkapan yang berlawanan akan saling
menghapuskan misalnya menjadi nol. Itu bukan hanya pernyataan yang arif
namun juga suatu pengetahuan Aljabar Boole yang penting. Untuk fungsi OR
berlaku : A+A = 1, kebenaran pernyataan diatas dapat kita buktikan melalui
pernyataan seperti rangkaian dibawah ini :

Gambar II.3 Hukum Komplementasi


II.6. Hukum Perjalinan dengan Suatu Konstanta

Ada 4 perjalinan yang dapat digunakan untuk menyederhanakan


fungsi-fungsi Boole yaitu :
1. Fungsi AND dengan konstanta :
1. Konjungsi perkalian A dengan 0 : A.0 = 0
2. Konjungsi perkalian A dengan konstanta biner 1 tidak akan merubah
fungsi output : A.1 = 1
2. Fungsi OR dengan konstanta :
1. Disjungsi dengan variabel masukan masukan dengan logika 1
diperoleh fungsi keluaran yang identik dengan ungkapan masuk A+0
=A
2. Disjungsi suatu variabel masukan dengan logika 1 memberi fungsi
output logika
II.7. Hukum Pembalikan Double
Hukum ini menyatakan bila suatu variabel masukan bila dibalik ganda
maka fungsi outputnya akan tetap tidak berubah : A =A
II.8. Hukum Absorsi
Hukum ini merupakan suatu aturan menyederhanakan contoh: A.
(A+B)=A+(A.B)=A. ini menunjukan bahwa dengan operasi hitungan
dengan tiga suku (dua variabel ) dan dua tanda jalinan yang berbeda dapat
diserap menjadi satu suku. Pernyataan ini dapat dibuktikan dengan
percobaan rangkaian seperti gambar berikut :

Gambar II.4 Hukum Absorsi


II.9. Hukum Distributif

Bila suatu operasi perhitungan terdapat jalinan antara konjungsi


maka berlaku aturan berikut : A.(B+C)=(A.B+A.C). Pernyataan diatas
dapat dibuktikan kebenaranya dengana rangkaian seperti gambar berikut:

Gambar II.5 Hukum Distributif


II.10. Hukum De Morgan
Hukum demorgan termasuk yang terpenting dalam aljabar
penyambungan

penggunaanya memungkinkan operasi - operasi.

Pengalihan suatu OR dari elemen elemenn variabel yang dikembalikan :


AB = A+B. Pengalihan suatu fungsi AND yang terdiri dari elemen,
menjadi fungsi OR yang diabaikan : A.B = A+B, Pernyataan diatas dapat
dibuktikan dengan rangkaian seperti gambar berikut :

Gambar II.6 Hukum De Morgan

Aljabar Boole merupakan aljabar yang berhubungan dengan variabelvariabel biner dan operasi-operasi logika. Variabel-variabel diperlihatkan dengan
huruf-huruf alfabet, dan tiga operasi dasar dengan AND, OR dan NOT
(komplemen). Fungsi Boole terdiri dari variabel-variabel biner yang menunjukkan
fungsi, suatu tanda sama dengan, dan suatu ekspresi aljabar yang dibentuk dengan
menggunakan variabel-variabel biner, konstanta-konstanta 0 dan 1, simbol-simbol
operasi logika, dan tanda kurung. Suatu fungsi Boole bisa dinyatakan dalam tabel
kebenaran. Suatu tabel kebenaran untuk fungsi Boole merupakan daftar semua
kombinasi angka-angka biner 0 dan 1 yang diberikan ke variabel-variabel biner
dan daftar yang memperlihatkan nilai fungsi untuk masing-masing kombinasi
biner. Aljabar Boole mempunyai 2 fungsi berbeda yang saling berhubungan.
Dalam arti luas, aljabar Boole berarti suatu jenis simbol-simbol yang ditemukan
oleh George Boole untuk memanipulasi nilai-nilai kebenaran logika secara
aljabar. Dalam hal ini aljabar Boole cocok untuk diaplikasikan dalam komputer.
Aljabar Boole menyediakan operasi dan aturan untuk bekerja dengan
himpunan {0, 1}. Akan dibahas 3 buah operasi :
komplemen Boole,
penjumlahan Boole , dan
perkalian Boole
Penjumlahan Boole dituliskan dengan + atau OR, mempunyai aturan sbb :
1 + 1 = 1, 1 + 0 = 1, 0 + 1 = 1, 0 + 0 = 0
Sedangkan perkalian Boole yang dituliskan dengan atau AND,
mempunyai aturan sbb:
1 1 = 1, 1 0 = 0, 0 1 = 0, 0 0 = 0
Definisi. Misalkan B = {0, 1}. Suatu variabel x disebut sebagai variabel
Boole jika hanya

x1, x 2,...., xn

memiliki nilai dari B. Fungsi dari Bn, yaitu himpunan

xi B,1 i n
,

Fungsi

disebut sebagai fungsi Boole derajat n.

Boole dapat dinyatakakan dengan ekspresi yang dibentuk dari

variabel dan operasi Boole. Ekspresi Boole dengan variabel x , x , , x


1 2
n

didefinisikan secara sebagai berikut:


0, 1, x , x , , x adalah ekspresi Boole.
1 2
n
Jika E dan E ekspresi Boole, maka 1E, (E E ), dan (E + E ) adalah
1
1
1 2
1
2
ekspresi Boole.
Setiap ekspresi Boole menyatakan fungsi Boole. Nilai fungsi ini diperoleh
dengan menggantikan 0 dan 1 pada variabel di dalam ekspresi. Kita bisa membuat
ekspresi Boole dalam variabel x, y, dan z dengan bangunan dasarnya 0, 1, x, y,
dan z, dengan aturan konstruksi:
-

Karena x dan y ekspresi Boole, maka xy juga ekspresi Boole.

Karena z ekspresi Boole, maka z juga ekspresi Boole.

Karena xy dan z ekspresi Boole, maka xy + z juga ekspresi Boole.

Karena fungsi Boole dinyatakan dalam bentuk AND, OR, dan NOT, lebih
mudah untuk mengimplemetasikan suatu fungsi Boole dengan jenis gerbang.
Kemungkinan membangun gerbang untuk operasi logika lainnya adalah
kepentingan praktis.
Faktor

yang

harus

dipertimbangkan

ketika

mempertimbangkan

pembangunan jenis logika adalah :


1, Kelayakan ekonomi dan menghasilkan gerbang dengan komponen fisik.
2. Kemungkinan memperluas gerbang untuk lebih dari dua masukan.
3. Dasar properti dari operator biner seperti komutatif dan associativity.
4. Kemampuan gerbang untuk melaksanakan fungsi Boole sendiri atau
dengan meletakan gerbang lain.
Gerbang Logika adalah rangkaian dengan satu atau lebih dari satu sinyal
masukan tetapi hanya menghasilkan satu sinyal berupa tegangan tinggi atau
tegangan rendah. Dikarenakan analisis gerbang logika dilakukan dengan Aljabar
Boole maka gerbang logika sering juga disebut Rangkaian logika.
Rangkaian logika sering kita temukan dalam sirkuit digital yang
diimplemetasikan secara elekrtonik dengan menggunakan dioda atau transistor.
Ada 7 gerbang logika yang kita ketahui yang dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :
1. Gerbang logika Inventer

Inverter (pembalik) merupakan gerbang logika dengan satu sinyal


masukan dan satu sinyal keluaran dimana sinyal keluaran selalu
berlawanan dengan keadaan sinyal masukan.
Inverter disebut juga gerbang NOT atau gerbang komplemen
(lawan) disebabkan keluaran sinyalnya tidak sama dengan sinyal
masukan

Gambar II.7 simbol Inverter (NOT)


Fungsi gerbang NOT
- Y = NOT A

atau

atau Y = - A

Misal : A = 1, maka = 0 atau Y = NOT 1 = 0.


A = 0, maka = 1 atau Y = NOT 0 = 1.
2. Gerbang logika non-Inverter
Berbeda dengan gerbang logika Inverter yang sinyal masukannya
hanya satu untuk gerbang logika non-Inverter sinyal masukannya ada dua
atau lebih sehingga hasil (output) sinyal keluaran sangat tergantung oleh
sinyal masukannya dan gerbang logika yang dilaluinya (NOT, AND, OR,
NAND, NOR, XOR, XNOR). Yang termasuk gerbang logika nonInverter adalah :

Gerbang AND
Gerbang AND mempunyai dua atau lebih dari dua sinyal
masukan tetapi hanya satu sinyal keluaran. Gerbang AND mempunyai
sifat bila sinyal keluaran ingin tinggi (1) maka semua sinyal masukan
harus dalam keadaan tinggi (1).

Gambar II.8 Simbol Gerbang AND

Fungsi gerbang AND


- Y = A AND B

Y= A. B

AB

Misal : A = 1 , B = 0 maka Y = 1 . 0 = 0.

Gerbang OR
Gerbang OR mempunyai dua atau lebih dari dua sinyal masukan
tetapi hanya satu sinyal keluaran. Gerbang OR mempunyai sifat bila
salah satu dari sinyal masukan tinggi (1), maka sinyal keluaran akan
menjadi tinggi (1) juga.

Gambar II.9 Simbol Gerbang OR


Fungsi gerbang OR :
- Y = A OR B

Y = A + B.

Misal : A = 1 , B = 1 maka Y = 1 + 1 = 1.
A = 1 , B = 0 maka Y = 1 + 0 = 0.

Gerbang NAND (Not-AND)


Gerbang NAND mempunyai dua atau lebih dari dua sinyal
masukan tetapi hanya satu sinyal keluaran. Gerbang NAND
mempunyai sifat bila sinyal keluaran ingin rendah (0) maka semua
sinyal masukan harus dalam keadaan tinggi (1).
Gerbang NAND juga disebut juga Universal Gate karena
kombinasi dari rangkaian gerbang NAND dapat digunakan untuk
memenuhi semua fungsi dasar gerbang logika yang lain.

Gambar II.10 Simbol Gerbang NAND


Fungsi gerbang NAND :
B

Y=A
atau Y = A B
Misal : A = 1 , B = 1 maka Y =

atau Y =

AB

AB

= 1 . 1 = 1 = 0.

Gerbang NOR (Not-OR)


Gerbang NOR mempunyai dua atau lebih dari dua sinyal
masukan tetapi hanya satu sinyal keluaran. Gerbang NOR mempunyai
sifat bila sinyal keluaran ingin tinggi (1) maka semua sinyal masukan
harus dalam keadaan rendah (0). Jadi gerbang NOR hanya mengenal
sinyal masukan yang semua bitnya bernilai nol.

Gambar II.11 Simbol Gerbang NOR


Fungsi gerbang NOR :
B
Y=A

atau Y = A B atau Y = A+ B

Misal : A = 1 , B = 1 maka Y = A+ B

=1+1= 1 =0

Gerbang XOR (Antivalen, Exclusive-OR)


Gerbang XOR disebut juga gerbang EXCLUSIVE OR
dikarenakan hanya mengenali sinyal yang memiliki bit 1 (tinggi)
dalam jumlah ganjil untuk menghasilkan sinyal keluaran bernilai
tinggi (1).

Gambar II.12 Simbol Gerbang XOR

Gerbang XNOR (Ekuivalen, Not-Exclusive-OR)


Gerbang XNOR disebut juga gerbang Not-EXCLUSIVE-OR.
Gerbang XNOR mempunyai sifat bila sinyal keluaran ingin benilai
tinggi (1) maka sinyal masukannya harus benilai genap (kedua nilai
masukan harus rendah keduanya atau tinggi keduanya).

Gambar II.13 Simbol Gerbang XNOR

Aljabar Boole memuat variable dan simbul operasi untuk gerbang logika.
Simbol yang digunakan pada aljabar Boole adalah: (.) untuk AND, (+) untuk OR,
dan ( ) untuk NOT. Rangkaian logika merupakan gabungan beberapa gerbang,
untuk mempermudah penyeleseian perhitungan secara aljabar dan pengisian tabel
kebenaran digunakan sifat-sifat aljabar Boole
Dalam aljabar Boole digunakan 2 konstanta yaitu logika 0 dan logika 1.
ketika logika tersebut diimplementasikan kedalam rangkaian logika maka logika
tersebut akan bertaraf sebuah tegangan. kalau logika 0 bertaraf tegangan rendah
(active low) sedangkan kalau logika 1 bertaraf tegangan tinggi (active high). pada
teoriteori aljabar Boole ini berdasarkan aturanaturan dasar hubungan antara
variabelvariabel Boole.
Dalam matematika dan ilmu komputer, Aljabar Boole adalah struktur aljabar
yang mencakup intisari operasi logika AND, OR dan NOR dan juga teori
himpunan untuk operasi union, interseksi dan komplemen. Penamaan Aljabar
Boole sendiri berasal dari nama seorang matematikawan asal Inggris,
bernama George Boole. Dialah yang pertama kali mendefinisikan istilah itu
sebagai bagian dari sistem logika pada pertengahan abad ke-19. Boole adalah
suatu tipe data yang hanya mempunyai dua nilai.
Yaitu true atau false (benar atau salah). Pada beberapa bahasa pemograman
nilai true bisa digantikan 1 dan nilai false digantikan 0 Aljabar Boole
merupakan teori yang menggabungkan konsep konsep yang terdapat pada teori
logika dan teori himpunan notasi yang digunakan banyak digunakan pada teknik
informatika dan merupakan dasar dari sirkuit digital.
Operator

logika

merupakan

operator

yang

digunakan

untuk

mengekspresikan satu atau lebih data (ekspresi) logika (Boole) yang


menghasilkan data logika baru. Tabel operator logika dengan hirarki dari atas ke
bawah adalah sebagai berikut:

Operator
Not
And
Or
Xor
Eqv
Imp

Keterangan
Tidak
Dan
Atau
Exclusive or
Eqivalen
Implikasi

Contoh
Not 60>55
(50>55) and (60<66)
(30<40)or(30>65)
(50<40)xor(70>65)
(50<40)eqv(70<65)
(50<40)imp(70<65)

Tabel II.1 Operator Logika


Gerbang logika adalah suatu entitas dalam elektronika dan matematika
Boole yang mengubah satu atau beberapa masukan logika menjadi sebuah sinyal
keluaran logika. Gerbang logika terutama diimplementasikan secara elektronis
menggunakan dioda atau transistor akan tetapi dapat pula dibangun menggunakan
susunan komponen-komponen yang memanfaatkan sifat-sifat elektronika , cairan,
optik dan bahkan mekanika.
Aljabar Boole dapat dibentuk menjadi latis ataupun ring dengan definisi
tertentu, begitu pula sebaliknya. Sehingga muncul suatu istilah latis Boole dan
ring Boole. Beberapa literatur hanya membahas keterkaitan latis Boole dengan
aljabar Boole dan pembentukan ring Boole menjadi aljabar Boole. Mengenai
pembentukan aljabar Boole menjadi ring Boole maupun keterkaitan latis Boole
dengan ring Boole belum banyak dikaji.
Urutan parsial pada aljabar Boole, latis, latis distributif dan ring. Sedangkan
unsur-unsur yang dipelajari selanjutnya adalah keterkaitan antara aljabar Boole,
latis Boole dan ring Boole, mencakup keterkaitan latis Boole dengan aljabar
Boole, keterkaitan ring Boole dengan aljabar Boole dan keterkaitan latis Boole
dengan ring Boole. Ekspresi Boole adalah sebuah ekspresi yang berisi satu atau
lebih variabel Boole, bersama dengan operasi -operasi Boole (+, , )dan konstanta
Boole (0 dan 1). Misalkan terdapat :
-

Dua operator biner: + dan

Sebuah operator tuner: .

B : himpunan yang didefinisikan pada opeartor +, , dan

0 dan 1 adalah dua elemen yang berbeda dari B.


(B, +, , )

Disebut aljabar Boole jika untuk setiap a, b, c B berlaku aksioma-aksioma


atau postulat Huntington berikut:
(i) a + b B

1. Closure:

(ii) a b B
2. Identitas:

(i) a + 0 = a
(ii) a 1 = a

3. Komutatif:

(i) a + b = b + a
(ii) a b = b . a
(i) a (b + c) = (a b) + (a c)

4. Distributif:

(ii) a + (b c) = (a + b) (a + c)
5. Komplemen1: (i) a + a = 1
(ii) a a = 0
Untuk mempunyai sebuah aljabar Boole, harus diperlihatkan:
1. Elemen-elemen himpunan B,
2. Kaidah operasi untuk operator biner dan operator uner,
3. Memenuhi postulat Huntington.
Aljabar Boole dua-nilai:
-

B = {0, 1}

operator biner, + dan

operator uner,

Kaidah untuk operator biner dan operator uner:

Tabel II.2 Tabel Kebenaran dua nilai


Cek apakah memenuhi postulat Huntington:
1

1.

Closure : jelas berlaku

2.

Identitas: jelas berlaku karena dari tabel


dapat kita lihat bahwa:
(i) 0 + 1 = 1 + 0 = 1
(ii) 1 0 = 0 1 = 0

3.

Komutatif:

jelas

berlaku

dengan

melihat simetri tabel operator biner.


Distributif: (i) a (b + c) = (a b) + (a c) dapat ditunjukkan benar dari
tabel operator biner di atas dengan membentuk tabel kebenaran:

Tabel II.3 Operator Biner


(ii) Hukum distributif a + (b c) = (a + b) (a + c) dapat ditunjukkan benar
dengan membuat tabel kebenaran dengan cara yang sama seperti (i).
4. Komplemen: jelas berlaku karena memperlihatkan bahwa:
(i) a + a = 1, karena 0 + 0= 0 + 1 = 1 dan 1 + 1= 1 + 0 = 1
(ii) a a = 0, karena 0 0= 0 1 = 0 dan 1 1 = 1 0 = 0
Karena postulat Huntington dipenuhi, maka terbukti bahwa B = {0, 1}
bersama-sama dengan operator biner + dan operator komplemen merupakan
aljabar Boole.
Ekspresi Boole :

Misalkan (B, +, , ) adalah sebuah aljabar Boole. Suatu ekspresi Boole dalam
(B, +, , ) adalah:
(i) setiap elemen di dalam B,
(ii) setiap peubah,

(iii) jika e1 dan e2 adalah ekspresi Boole, maka e1 + e2, e1 e2, e1 adalah
ekspresi Boole
Contoh:
0
1
a
b
c
a+b
ab
a (b + c)
a b + a b c + b, dan sebagainya
Mengevaluasi Ekspresi Boole :

Contoh: a (b + c)
Jika a = 0, b = 1, dan c = 0, maka hasil evaluasi ekspresi:
0 (1 + 0) = 1 1 = 1

Dua ekspresi Boole dikatakan equivalen (dilambangkan dengan =) jika


keduanya mempunyai nilai yang sama untuk setiap pemberian nilai-nilai
kepada n peubah.

BAB III
METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM
III.1 Alat Yang Digunakan
1. Indikator (LED)
2. Catu Daya DC
3. Kabel Penghubung
4. Modul Praktikum
III.2 Gambar Percobaan
1. a. Hukum Komutatif Fungsi AND

b. Hukum Komutatif Fungsi OR

2. a. Hukum Komplementasi Fungsi AND

b. Hukum Komplementasi Fungsi OR

3. a. Fungsi AND dengan Konstanta

b. Fungsi OR dengan Konstanta

4. Hukum Distributif

5. Hukum Absorsi

6. Hukum De Morgan

III.3 Prosedur Percobaan


1. a. Hukum Komutatif dari fungsi AND
- Membuat rangkaian seperti gambar
- Mengisi tabel kebenarannya
b. Hukum Komutatif dari fungsi OR
- Membuat rangkaian seperti gambar
- Mengisi tabel kebenarannya
2. a. Hukum Indempotent dari fungsi AND
- Membuat rangkaian seperti gambar

- Mengisi tabel kebenarannya


b. Hukum Indempotent dari fungsi OR
- Membuat rangkaian seperti gambar
- Mengisi tabel kebenarannya
3. a. Hukum Komplementasi dari fungsi AND
- Membuat rangkaian seperti gambar
- Mengisi tabel kebenarannya
b. Hukum Komplementasi dari fungsi OR
- Membuat rangkaian seperti gambar
- Mengisi tabel kebenarannya
4. a. Fungsi AND dengan konstanta
- Membuat rangkaian seperti gambar
- Mengisi tabel kebenarannya
b. Fungsi OR dengan konstanta
- Membuat rangkaian seperti gambar
- Mengisi tabel kebenarannya
5. Hukum Distributif
- Membuat rangkaian seperti gambar
- Mengisi tabel kebenarannya
6. Hukum Absorsi
- Membuat rangkaian seperti gambar
- Mengisi tabel kebenarannya
7. Hukum De Morgan
- Membuat rangkaian seperti gambar
- Mengisi tabel kebenarannya

BAB IV
HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHASAN
IV.1 Analisa Data Hasil Praktikum
Hukum Komutatif AND

Input A
0

Tabel Kebenaran Praktek


Input B
Output A
0
1

Output B
1

Tabel Kebenaran Teori

Input A
0

Input B
0

1
1

A.B
0

Untuk mendapatkan yaitu menggunakan gerbang NAND dari


input A sehingga keluarannya 1 atau 0

Untuk mendapatkan B yaitu menggunakan gerbang NAND dari


input B sehingga keluarannya 1 atau 0
Untuk Mendapatkan A.B yaitu menggunakan gerbang NAND dari
input A dan B sehingga keluarannya 1 atau 0
Untuk Mendapatkan A.B yaitu menggunakan gerbang NAND dari

input A dan B sehingga keluarannya 1 atau 0


Hukum Komutatif Fungsi OR

Input A
0

Tabel Kebenaran Praktek


Input B
Output A
0
0

Output B
0

Tabel Kebenaran Teori


A . B = A +
B

B
1
1
0

B . A = B

+A
0

Untuk mendapatkan yaitu menggunakan gerbang NAND dari


input A sehingga keluarannya 1 atau 0

Untuk mendapatkan B yaitu menggunakan gerbang NAND dari


input B sehingga keluarannya 1 atau 0
Untuk mendapatkan A . B yaitu menggunakan gerbang NAND dari
input A dan B sehingga keluarannya 1 atau 0

Hukum Komplementasi Fungsi AND

Tabel Kebenaran Praktek


Input A
Input B
Output A
0
0
0

A
0

Tabel Kebenaran Teori


B
A.B
0
1

A.B
0

Untuk mendapatkan A . B yaitu menggunakan gerbang NAND dari


input A dan B sehingga keluarannya 1 atau 0
Untuk mendapatkan A . B yaitu menggunakan gerbang NAND dari
input A dan B sehingga keluarannya 1 atau 0

Hukum Komplementasi Fungsi OR

Tabel Kebenaran Praktek

Input A
0

Input B
0

Output A
0

Tabel Kebenaran Teori


A

B
B

Untuk mendapatkan yaitu menggunakan gerbang NAND dari


input A sehingga keluarannya 1 atau 0
Untuk mendapatkan B yaitu menggunakan gerbang NAND dari
input B sehingga keluarannya 1 atau 0

A
Untuk mendapatkan
. B yaitu menggunakan gerbang
NAND dari Input . B sehingga keluarannya 1 atau 0

Fungsi AND dengan Konstanta

Tabel Kebenaran Praktek


Input A
Input B
Output B
0
0
0
0

Tabel Kebenaran Teori

.B

Untuk mendapatkan yaitu menggunakan gerbang NAND dari


input A sehingga keluarannya 1 atau 0
Untuk mendapatkan B yaitu menggunakan gerbang NAND dari
input B sehingga keluarannya 1 atau 0
Untuk mendapatkan . B yaitu menggunakan gerbang NAND dari
input A . B sehingga keluarannya 1 atau 0

Fungsi OR dengan Konstanta

Input A
0

Tabel Kebenaran Praktek


Input B
Output A
0
0

1
A
0

1
Tabel Kebenaran Teori
B
A
B
0
1
1

A.B
0

Untuk mendapatkan yaitu menggunakan gerbang NAND dari


input A sehingga keluarannya 1 atau 0

Untuk mendapatkan

yaitu menggunakan gerbang NAND dari

input B sehingga keluarannya 1 atau 0


Untuk Mendapatkan A . B yaitu menggunakan gerbang NAND dari
input A . B sehingga keluarannya 1 atau 0

Hukum Distributif

Input A
0

Tabel Kebenaran Praktek


Input B
Input C
Output A
0
0
0

Output B
0

1
1
Tabel Kebenaran Teori
B
C
( A. B )( A . C )

A ( B+ C)

Untuk mendapatkan ( . B) (A . C) yaitu menggunakan gerbang


NAND dari input A , B dan C
. C
B
Untuk mendapatkan A + ) yaitu menggunakan gerbang NAND
dari input A . B . C

Hukum Absorsi

Input A
0

Tabel Kebenaran Praktek


Input B
Output A
Output B
0
0
0

1
Tabel Kebenaran Teori

A
B
A . AB

A + AB

Untuk mendapatkan yaitu menggunakan gerbang NAND dari


input A sehingga keluarannya 1 atau 0
Untuk mendapatkan B yaitu menggunakan gerbang NAND dari
input B sehingga keluarannya 1 atau 0

Untuk mendapatkan A . AB yaitu menggunakan gerbang NAND


dari input A .

AB

sehingga keluarannya 1 atau 0

Untuk mendapatkan A + AB yaitu menggunakan gerbang NAND

AB

dari input A .

sehingga keluarannya 1 atau 0

Hukum De Morgan

Tabel Kebenaran Praktek


Input B
Output A
Output B
0
1
1

Input A
0

1
0
Tabel Kebenaran Teori
A
B
A

0
.

A . B

Untuk mendapatkan yaitu menggunakan gerbang NAND dari


input A sehingga keluarannya 1 atau 0
Untuk mendapatkan B yaitu menggunakan gerbang NAND dari
input B sehingga keluarannya 1 atau 0
Untuk mendapatkan .B yaitu menggunakan gerbang NAND dari
input A . B sehingga keluarannya 1 atau 0
Untuk mendapatkan . B yaitu menggunakan gerbang NAND dari
input A dan B sehingga keluarannya 1 atau 0

BAB V
PENUTUP
V.I. Kesimpulan
Dari analisa data baik secara teori maupun praktek maka dapat
disimpulkan bahwa hasil yang diperoleh dari analisa teori dengan
menggunakan

hukum-hukum Aljabar Boole sama dengan hasil yang

diperoleh melalui praktikum.


V.II. Saran
Sebaiknya sebelum melakukan praktikum, praktikan diberikan
arahan atau materi yang berkaitan dengan praktikum yang akan dijalankan.
V.III.Ayat yang berhubungan dengan Percobaan

Artinya : Mengapa kamu kafir kepada Allah, Padahal kamu tadinya mati,
lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan
dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu
dikembalikan?
Hubungan ayat tersebut diatas dengan percobaan aljabar boole sangat
jelas sekali di mana diamati dalam percobaan adalah hidup dan matinya
LED tergantung dari input yang dimasukkan.