Anda di halaman 1dari 4

Praktikum yang dilakukan kali ini adalah mengidentifikasi vektor

nyamuk. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengidentifikasi jenis kelamin
dari larva nyamuk dan nyamuk dewasa.
1. Larva
Pada praktikum identifikasi larva nyamuk, praktikum ini menggunakan
larutan klorofom yang berfungsi membunuh larva tetapi tidak akan merubah
morfologi tubuh larva. Ketika larutan klorofom dilarutkan pada larva, larva
akan pingsan dan kemudian mati. Larva mati dalam waktu 5 detik. Sebelum
larva di amati di mikroskop, larva terlebih dahulu diletakkan di slide glass dan
di olesi dengan cana balsam. Canada balsam adalah media pemasangan
berwarna kuning keemasan, terbuat dari balsam pohon cemara. Pada
praktikum ini, canada balsam digunakan untuk transparan semen atau sebagai
lem permanen untuk merekatkan slide glass dan cover glass.
Dari hasil pengamatan, didapatkan hasil bahwa larva yang
diidentifikasi adalah larva nyamuk Aedes aegypti. Adapun ciri-ciri larva aedes
yaitu mempunyai susunan tubuh lengkap (kepala, thoraks dan 8 abdomen),
warnanya agak bening, memiliki sepasang rambut di kepala, memiliki siphon
tumpul dan pendek pada segmen 8 dan terdapat bulu pada segmen tubuh dan
siphonnya. Hal ini telah sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Iskandar
A (1985) yang menyatakan bahwa ciri-ciri dari larva Aedes aegypti yaitu :
a. Adanya corong udara (siphon) pada segmen terakhir. Pada corong udara
tersebut memiliki pectin serta sepasang rambut dan jumbai.
b. Pada segmen-segmen abdomen tidak dijumpai adanya rambt-rambut
berbentuk kipas (palmate hairs)
c. Pada setiap sisi abdomen segmen kedelapan ada comb scale sebanyak 8-21
atau berjejer 1-3
d. Bentuk individu dari comb scale seperti duri
e. Pada sisi thoraks terdapat duri yang panjang dengan bentuk kurva dan
adanya sepasang rambut di kepala.
Adapun tempat perkembangbiakan nyamuk Ae. aegypti berupa:

a. Tempat penampungan air (TPA) yaitu tempat menampung air guna


keperluan sehari-hari seperti drum, tempayan, bak mandi, bak WC dan
ember
b. Bukan tempat penampungan air (non TPA) yaitu tempat-tempat yang biasa
digunakan untuk menampung air tetapi bukan untuk keperluan sehari-hari
seperti tempat minum hewan piaraan, kaleng bekas, ban bekas, botol,
pecahan gelas, vas bunga dan perangkap semut.
c. Tempat penampungan air alami (TPA alami) seperti lubang pohon, lubang
batu, pelepah daun, tempurung kelapa, kulit kerang, pangkal pohon pisang
dan potongan bambu.
2. Nyamuk Dewasa
Pada praktikum identifikasi jenis kelamin nyamuk dewasa, praktikum
ini memakai kapas yang dibasahi dengan larutan kloroform. Menurut Kamus
Kimia (Balai Pustaka, 2002) kloroform adalah zat cair tanpa warna, dengan
bau manis, menyenangkan dan anestetik. Pada praktikum identifikasi nyamuk,
kloroform berfungsi mematikan nyamuk dengan bau dari kloroform. Dalam
kehidupan sehari-hari, kloroform juga digunakan sebagai pelarut untuk lemak,
dry cleaning dan obat bius. Perlakuan selanjutnya menusuk kertas karton
berbentuk runcing dengan jarum pentul dan menancapkan jarum pentul ke
steirofoam. Fungsi dari kertas karton runcing sebagai tempat untuk
meletakkan nyamuk dan fungsi dari steirofoam berbentuk kotak agar jarum
pentul bisa berdiri tegak dan juga memudahkan praktikan ketika melihat
nyamuk di mikroskop dissect. Sebelum nyamuk diletakkan di atas karton
runcing, dioleskan kutex bening secukupnya. Fungsi dari kutex bening yaitu
untuk merekatkan nyamuk ketika dilihat di mikroskop agar nyamuk tetap pada
tempatnya.
Berdasarkan hasil pengamatan, didapatkan bahwa nyamuk yang di
identifikasi adalah jenis nyamuk culex sp. dengan jenis kelamin jantan.
Adapun ciri-ciri nyamuk culex sp. yaitu mempunyai sepasang antenna
berbulu, mempunyai sepasang sayap, mempunyai kepala (kaput), toraks,

abdomen dan 3 pasang kaki, bagian thoraks berwarna hitam dengan 2 garis
putih. Hal ini telah sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Borror, dkk
(1992) yaitu ciri-ciri dari nyamuk jantan yaitu tubuhnya dibedakan atas kaput,
toraks, abdomen dan mempunyai 3 pasang kaki dan sepasang antena. Satu
pasang sayap dan halter menempatkan nyamuk dalam ordo Diptera. Sisik
pada sayap dan adanya alat mulut yang panjang seperti jarum menempatkan
nyamuk ke dalam familia Culicidae.
Genus Culex dikenali dengan struktur sketelumnya yang trilobus,
ujung abdomen yang tumpul dan badannya yang penuh dengan sisik-sisik.
Selain itu, struktur yang membedakan genus ini dengan genus yang lain
adalah struktur yang disebut pulvilus yang berdekatan dengan kuku diujung
kaki nyamuk (Setiawati, 2000).
Nyamuk tertarik pada benda dan pakaian berwarna gelap, manusia
serta hewan. Hal ini disebabkan oleh rangsangan bau zat-zat yang dikeluarkan
hewan, terutama CO2 dan beberapa asam amino. Berbeda dengan nyamuk
Anopheles, nyamuk genus Culex mempunyai kebiasaan menghisap pada
malam hari saja. Jarak terbang nyamuk Culicini sangat pendek hanya
beberapa puluh meter saja (Dinata, 2009).
Secara garis besar ada 4 cara pengendalian vector, yaitu dengan cara :
1)
2)
3)
4)

Kimiawi
Biologis
Radiasi
Mekanik/pengelolaan lingkungan (Dinata, 2006).
Pengendalian secara kimiawi biasanya digunakan insektisida dari

golongan orghanochlorine, organophosphor, carbamate dan pyrethoid. Bahanbahan tersebut dapat diaplikasikan dalam bentuk penyemprotan terhadap
rumah- rumah penduduk (Dinata, 2006).
Pengendalian lingkungan digunakan beberapa cara antara lain dengan
mencegah nyamuk kontak dengan manusia yaitu dengan memasang kawat

kasa pada lubang ventilasi, jendela dan pintu. Cara yang lain yaitu dengan
gerakan 3M Plus yaitu:
1) menguras tempat-tempat penampungan air
2) Menutup rapat tempat penampungan air,
3) Menimbun barang-barang bekas atau sampah yang dapat menampung air
hujan dalam tanah. Plus menabur bubuk pembasmi jentik 12 (larvasida),
memelihara ikan pemakan jentik di tempat penampungan air dan
pemasangan kelambu (Dinata, 2006).