Anda di halaman 1dari 6

Nama

: Sela Marselyana Abadi

NIM

: 1111016200010

High Fructose Corn Syrup (HFCS)

I.

Definisi High Fructose Corn Syrup (HFCS)


High Fructose Corn Syrup atau Sirup Jagung Kaya Fruktosa merupakan pemanis

alternatif cairan sukrosa yang terbuat dari jagung, menggunakan bahan kimia (soda kaustik,
asam klorida) dan enzim (-amilase dan glukoamilase) untuk menghidrolisis pati jagung pada
sirup jagung yang mengandung sebagian besar glukosa dan enzim ketiga yaitu (Glukosa
isomerase) untuk isomerize glukosa dalam sirup jagung fruktosa untuk menghasilkan produk
HFCS.1
HFCS merupakan sirup jagung yang telah mengalami proses enzimatis yang bertujuan
untuk meningkatkan kandungan fruktosa. Beberapa produk HFCS diklasifikasikan sesuai
dengan kadar fruktosanya, yakni HFCS 90 (90% fruktosa dan 10% glukosa) dan HFCS 55
serta HFCS 42.2

Kay Parker, Michelle Salas and Veronica C. Nwosu, High Fructose Corn Syrup: Production, Uses and Public
Health Concerns, (USA: Department of Biology, College of Science and Technology, North Carolina Central

University, 2010)
Winarno, F.G, Kimia Pangan dan Gizi, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1992)

II.

Karakteristik High Fructose Corn Syrup (HFCS)


HFCS bersifat nutritif yang dibuat dari jagung dan memiliki kesamaan dengan

sukrosa. Kedua pemanis tersebut tersusun dari glukosa dan fruktosa. Dan keduanya
mengandung jumlah kalori yang sama yakni 4 kalori per gram.
Sukrosa merupakan disakarida, artinya terbentuk dari dua molekul monosakarida
yang saling berikatan. Monosakarida penyusunnya yakni fruktosa dan glukosa. Namun pada
HFCS, yang juga terdiri dari fruktosa dan glukosa, keduanya tidak saling berikatan.
HFCS yang diolah dari jagung manis dengan kualitas tinggi memiliki beberapa
kelebihan dibandingkan dengan sukrosa, yaitu:

III.

HFCS lebih murah dan sumber jagung yang melimpah


HFCS lebih mudah dicampur karena berbentuk cairan
HFCS lebih unggul karena memiliki masa simpan yang lebih lama 3
Penggunaan High Fructose Corn Syrup (HFCS)
Tren saat ini menunjukkan adanya penggunaan kombinasi dua jenis pemanis untuk

produk tertentu. Kombinasi ternyata menyebabkan sinergi pada tingkat kemanisan, sehingga
menguntungkan karena akan mengurangi pemakaian jumlah pemanis dan meningkatkan cita
rasa produk. Pemilihan penggunaan bahan pemanis alternatif yang baik biasanya didasarkan
pada sifat-sifatnya yang menyerupai sukrosa, yaitu tingkat kemanisan mendekati sukrosa,
tidak berwarna, tidak berbau, mempunyai cita rasa yang menyenangkan, aman dikonsumsi,
dan mudah larut.
Salah satu contoh dari kombinasi tersebut adalah Gula jagung merupakan gula yang
diekstraksi dari tanaman jagung. Gula jagung ini termasuk kedalam jenis gula dari pati-patian
yang sering disebut juga sebagai High Fructose Corn Syrup (HFCS). HFCS yang berbentuk
cair sangat menguntungkan untuk penggunaan industri minuman. Tetapi sekarang HFCS juga
banyak digunakan di industri beralkohol, makanan hewan, permen, soft drink, makanan dan
farmasi.4
HFCS telah menjadi pemanis utama dan aditif yang digunakan secara luas dalam
berbagai makanan olahan dan minuman mulai dari minuman ringan dan buah untuk yogurt
3

Robert Brackett, Ph. D, High-Fructose Corn Syrup A Guide for Consumers, Policymakers and The Media,
(GMA, 2008)
4
Winarno, F.G, Op. Cit.

dan roti. HFCS memiliki banyak keuntungan dibandingkan dengan sukrosa yang
membuatnya menarik bagi produsen makanan. Ini termasuk manisnya, kelarutan, keasaman
dan murahnya relatif di Amerika Serikat (AS). Penggunaan HFCS dalam makanan dan
industri minuman telah meningkat selama bertahun-tahun di AS.
Makanan yang dihasilkan dari industri ditemukan mengandung HFCS sangat banyak.
Ini termasuk kue panggang seperti biskuit, roti, kue, dan shortcakes, minuman ringan,
minuman jus, minuman berkarbonasi, selai dan jeli, produk susu, termasuk es krim, susu rasa,
eggnog, yogurt dan makanan penutup beku, kalengan untuk bahan makanan termasuk saus
dan bumbu, sereal dan sereal bar, dan banyak makanan olahan lainnya. Mayoritas dari
makanan olahan di AS mengandung HFCS untuk memenuhi sebagian fungsionalitas dalam
makanan.5
HFCS ditemukan di berbagai produk makanan. Pebedaan formula dari HFCS
memiliki perbedaan aplikasi yang spesifik pula dalam industri makanan. Contohnya HFCS 42
digunakan dalam minuman nonkarbonasi rasa buah, kue panggang seperti biskuit dan roti,
dan produk lain yang memiliki karakteristik khusus seperti produk fermentasi dan produk
dengan titik beku yang rendah. HFCS 55 yang meiliki rasa manis setara dengan sukrosa
banyak digunakan pada minuman berkarbonasi (soft drinks) dan ice cream. Sementara HFCS
90 kadang digunakan pada makanan alami dan rendah kalori dimana sangat sedikit
dibutuhkan untuk memberikan rasa manis.6

Produk yang mengandung HFCS

IV.

Dampak Negatif Bagi Tubuh

Parker, Op. Cit.


http://corn.org.html

Konsumsi HFCS secara kontinu dapat berdampak negatif bagi tubuh, diantaranya:
A.
Memicu Diabetes dan Obesitas
HFCS biasanya digunakan sebagai pemanis minuman dan makanan
ringan, dan makanan olahan lainnya. Tidak seperti glukosa dari gula alami,
rasa manis dari HFCS berasal dari fruktosa. Kandungan fruktosa tinggi yang
dimilikinya membuat tubuh mudah sekali mengubahnya menjadi lemak. Hal
tersebut dikarenakan ada perbedaan tubuh mencerna glukosa dan fruktosa.
Oleh karena itu, konsumsi fruktosa dapat berisiko obesitas. Diabetes tipe 2,
kerap kali dikaitkan dengan obesitas, dan merupakan salah satu penyakit yang
menyebabkan kematian terbesar di seluruh dunia. Menurut hasil penelitiannya,
Goran menyatakan hampir 8 persen orang di dunia bisa jadi menderita
diabetes pada tahun 2030 jika konsumsi HFCS masih diteruskan. Oleh karena
itu, untuk mencegah terkena diabetes tipe 2, sebaiknya segeralah kurangi
konsumsi segala bentuk gula dan pemanis buatan yang ada dalam minuman
ataupun makanan ringan.7
B.

Meningkatkan Kadar Lemak dalam Darah


Konsumsi pemanis nutritif seperti HFCS yang mengandung fruktosa
dan sukrosa akan meningkatkan kadar lemak dalam darah atau hiperlipidemia.
Dimana, fruktosa lebih cepat meningkatkan kadar lemak dalam darah
dibandingkan dengan sukrosa.

C.

Menyebabkan Kanker
Konsumsi HFCS secara kontinu dapat menyebabkan kelebihan kalori
dalam tubuh yang merupakan salah satu penyebab munculnya kanker.
Sehingga disarankan dengan mengurangi konsumsi gula, kelebihan kalori di
tubuh akan berkurang dan mengurangi kemungkinan munculnya penyakit
kanker.8

V.

7
8

Deteksi Sederhana

Sainsweek Volume 5 Edisi 2, (Banten: Athalia, 2013)


Brackett, Op. Cit.

Untuk mengetahui adanya kandungan HFCS dalam produk pangan, dapat dilakukan
pendeteksian secara sederhana sebagai berikut:
A.

Secara Langsung
Untuk mengetahui jenis gula tambahan dalam makanan perlu
mencermati informasi yang tertera pada label kemasan makanan. Menurut
USDA (United States Department of Agriculture) yang termasuk gula
tambahan yang biasanya dicantumkan di label makanan diantaranya adalah
gula pasir (sukrosa), laktosa, dekstrosa, maltosa, glukosa, fruktosa, corn syrup
(sirup jagung), High Fructose Corn Syrup (HFCS) dan maltodextrin.
Namun, pada label makanan belum tertera jenis HFCS yang
terkandung; apakah HFCS 42, HFCS 55, ataukah HFCS 90. Hal inilah yang
seharusnya konsumen ketahui sehingga konsumen dapat meilih jenis HFCS
yang sesuai dengan memperhatikan kadar fruktosa di dalamnya.9

B.

Secara Tidak Langsung


Pendeteksian secara tidak langsung yakni melalui uji kimia sederhana
untuk mengetahui adanya fruktosa dalam makanan yang merupakan
komponen utama dalam HFCS. Uji sederhana ini dilakukan dengan
menggunakan pereaksi Benedict.
Adanya kandungan fruktosa yang tinggi pada HFCS menyebabkan
terbentuknya endapan merah bata dengan warna yang semakin gelap jika
kandungannya semakin tinggi. Endapan ini mengindikasikan bahwa makanan tersebut
mengadung HFCS.10

Daftar Pustaka
Brackett, Robert. 2008. High-Fructose Corn Syrup A Guide for Consumers, Policymakers
and The Media. GMA
9

http://foodidentitytheft.com/corn-refiners-admit-hfcs-with-90-percent-fructose-used-for-decades

10

http://ub.ac.id/fawzy/files/2013/07/karbohidrat

Parker, Kay., et al. 2010. High Fructose Corn Syrup: Production, Uses and Public Health
Concerns. USA: Department of Biology, College of Science and Technology, North
Carolina Central University
Sainsweek Volume 5 Edisi 2. 2013. Banten: Athalia
Winarno, F.G. 1992. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

http://corn.org. html. diakses tanggal 7 November 2013


http://foodidentitytheft.com/corn-refiners-admit-hfcs-with-90-percent-fructose-used-fordecades. diakses tanggal 7 Novembe 2013
http://ub.ac.id/fawzy/files/2013/07/karbohidrat. diakses tanggal 7 November 2013