Anda di halaman 1dari 5

A.

Pembahasan
Intan Ratih Puspita
1137040035
Water glass atau natrium silikat adalah merupakan salah satu turunan dari senyawa silika
yang cukup melimpah di Indonesia. Bahan baku pembuatan water glass pada umumnya adalah
pasir kuarsa. Pasir kuarsa adalah bahan galian yang terdiri dari kristal-kristal silika dan
mengandung pengotor yang terbawa selama proses pengendapan.
Pasir kuarsa mempunyai komposisi gabungan dari SiO 2, Fe2O3, Al2O3, TiO2, CaO, MgO, dan
K2O, berwarna putih bening atau warna lain bergantung pada senyawa pengotornya, kekerasan 7
(skala Mohs), berat jenis 2,65, titik lebur 1715C, bentuk kristal hexagonal, panas sfesifik 0,185,
dan konduktivitas panas 12 1000C (Anonim,2005).
Pada awalnya water glass dibuat engan cara memanaskan pasir kuarsa dan natrium karbonat
dalam furnace pada suhu 1400C. Namun sekarang ini water glass dibuat dari bahan yang
mengandung silika dengan cara ekstraksi larutan alkali. Sehingga water glass dapat dibuat
dengan suhu yang rendah.
Percobaan ini bertujuan untuk membentuk water glass yang menggunakan bahan utama
botol kaca bekas. Botol kaca digunakan karena kaca memiliki rentang komposis yang lebih
sempit dan kaca berbahan utama pasir kuarsa. Botol kaca digerus sampai halus sehingga
diperoleh serbuk warna putih halus. Kaca harus digerus sampai halus supaya mudah larut dalam
proses pelarutan. Serbuk halus kaca ditambahkan dengan NaOH, larutan NaOH ini berfungsi
untuk meleburkan atau melarutkan silika. Serbuk sukar larut dan diperoleh larutan putih keruh.
Wadah yang digunakan dalam membuat water glass pada percobaan ini adalah propilena karena
silika tidak akan bereaksi dengan propilena.

Larutan

NaOH

digunakan

karena

NaOH

mempunyai titik lebur yang lebih rendah dari Na 2CO3 sehingga dalam proses peleburannya
membutuhkan energi yang rendah. Konsentrasi NaOH akan mempengaruhi konsentrasi water
glass yang diperoleh. Setelah dilarutakan kedalam larutan ditambahkan aquades samapai
volumenya dua kali lipat. Reaksi yang terjadi adalah:
SiO2 + 2NaOH + H2O

Na2SiO3 + 2H2

Selanjutnya larutan ditambahkan larutan asam sulfat yang berfungsi untuk menetralkan pH
larutan yang awalnya basa. Penetralan ini berfungsi agar pembentukan silika bisa sempurna.
Setelah ditambahkan asam sulfat terbentuk endapan warna putih dan filtrat berupa larutan keruh.
Reaksi yang terjadi yaitu:
Na2SiO3 + H2SO4

H2SiO3 + Na2SO4

Filtrat yang diperoleh ditambahkan natrium karbonat, larutan yang awalnya keruh menjadi
tidak berwarna dan lebih jernih. Penambahan natrium karbonat ini untuk meleburkan silika yang
belum terleburkan dengan NaOH. Reaksi yang terjadi yaitu:
H2SiO3 + Na2CO3

Na2SiO3 + H2CO3

Larutan dievaporasi sehingga menghasilkan larutan kental dan endapan putih sedikit
kekuninga, larutan kental ini adalah natrium silika. Selanjutnya disentrifugasi untuk
memisahkan presifitatnya. Endapan putih yang diperoleh adalah water glass yang belum murni.
Endapan ditambahkan aquades yang berfungsi untuk melarutkan endapan dan ditambahkan
HNO3, fungsi HNO3 ini adalah untuk memisahkan water glass dari zat-zat lain seperti kalsium,
aluminium, magnesium, besi dan titanium. Zat-zat tersebut akan larut dengan asam nitrat pekat.
NaOH ditambahkan kedalam larutan untuk mentralkan larutan yang awalnya asam.
Water glass yang sudah murni selanjutnya diukur absorbansinya untuk menentukan kadar
Fe yang ada didalamnya, dari hasil pengukuran absorbansi diperoleh konsentrasi Fe dalam water
glass sebesar 19,6944 ppm. Ini menunjukan bahwa water glass belum murni.
Berdasarkan msds water glass atau natrium silika mempunya sifat fisik berwarna putih
bening atau warna lain bergantung kepada senyawa pengotornya, misal warna kuning
mengandung oksida besi, merah mengandung oksida tembaga. Hasil water glass dari percobaan
ini adal padatan putih yang sedikit kuning, ini menunjukan water glass yang dihasilkan
mengandung Fe.
Selain diukur absorbansinya, water glass yang dihasilkan dititrasi dengan AgNO 3 dengan
indikator kalium kromat. Setelah dititrasi diperoleh larutan warna jingga, titrasi ini akan
membentuk Ag2SiO3 yang berwarna kuning.
Percobaan selanjutnya adalah pemisahan NaCl dan Fe2O3 dari campurannya. Campuran
NaCl dan Fe2O3 diperoleh dengan merendam paku besi dengan asam asetat selama dua hari.
Besi yang disimpan dalam asam akan mengalami reaksi redoks sehingga paku akan berkarat dan
larut dalam asam asetat. Reaksi yang terjadi yaitu:
Fe3+ + CH3COOH

Fe(CH3COO)3 + H2

Paku yang tidak larut disaring dan filtratnya di cek pH nya jika asam maka harus dinetralkan
terlebih dahulu. Selanjutnya kedalam filtrat dimasukan garam dapur. Filtrat dipanaskan pada
suhu 700C bertujuan untuk menghilangkan air dan zat anorganik lain yang ada dalam sampel.
Setelah dipanaskan endapan didinginkan dalam desikator, fungsi desikator ini adalah untuk
mengeringkan dan mendinginkan sampel yang akan dianalisis.
Pemisahan NaCl dari campurannya dilakukan dengan melarutkan sampel campuran dengan
aquades sehingga menghasilkan larutan warna coklat kehitaman, NaCl akan larut dengan
aquades membentuk ion-ionnya. Larutan disentrifugasi untuk memisahkan campuran padat atau

cair yang tidak saling larut. Endapan hasil sentrifugasi dicuci dengan aquades . Larutan yang
telah disentrifugasi dievaporasi untuk menguapkan air yang terdapat didalamnya sehingga
diperoleh endapan. Endapan ditambahkan aqudes untuk melarutkan endapan dan disimpan pada
ice bath. Karena pada larutan terjadi kekeruhan makan dilakukan lagi sentrifugasi dan
penyaringan. Filtar dievaporasi untuk mendapatkan padatan NaCl yang tidak berwarna. Endapan
dipanaskan dalam furnace selama 15 menit untuk menghilangkan kadar air dan zat-zat lain yang
ada dalam endapan. Berat NaCl hasil dari percobaan ini adalah 0,2 gram.
Padatan NaCl yang telah dipisahkan di tentukan kadar nya dengan titrasi argentometri
metode Mohr. Metode Mohr digunakan untuk menetapkan kadar klorida dalam suasana ntral
dengan larutan standar perak nitrat dan penambahan kalium kromat sebagai indikator. Larutan
NaCl setelah ditambahkan indikator menjadi berwarna kuning, selanjutnya dititrasi dengan
AgNO3 menghasilkan endapan putih pada larutan. Endapan putih ini adalah AgCl hasil reaksi
dari ion klorida dari NaCl akan bereaksi dengan ion perak. Reaksi yang terjadi yaitu:
AgNO3 + NaCl

AgCl + NaNO3

Titrasi dilakukan pada suasana netral karena jika suasana larutan terlalu asam akan
mengurangi kepekaan indikator, sedangkan jika terlalu basa akan terbentuk Ag2O. Terbentuknya
endapan putih menunjukan adanya ion klorida. Dari hasil percobaan diperoleh kadar ion klorida
6,5453 %.
Selain dititrasi larutan NaCl juga diukur absorbansinya dengan spektrofotometri untuk
menentukan konsentrasi Fe yang masih ada dalam larutan. Dari hasil perhitungan diperoleh
konsentrasi Fe dalam larutan NaCl sebesar 24 ppm.
Pemisahan Fe2O3 dilakukan dengan melarutkan sampel campuran dengan asam nitrat. Ini karena
Fe akan larut dalam HNO3 menghasilkan ion Fe3+. Reaksi yang terjadi yaitu:
Fe + HNO3 + 3H+

Fe3+ + NO + 2H2O

Sampel campuran sukar larut dan menghasilkan larutan warna hijau dan endapan warna
coklat. Warna hijau ini disebabkan oleh ion besi yang ada dalam garam-garam besi. Wana hijau
biasanya untuk garam-garam besi (II) dan warna kuning untuk garam-garam besi (III).
Selanjutnya larutan dinetralkan dengan NaOH dan larutan menjadi keruh. Larutan disaring dan
diperoleh filtrat warna kuning, warna kuning ini menunjukan adanya ion Fe 3+, residu yang
dihasilkan dicuci dengan aquades kemudian dipanaskan pada suhu 200C selama dua jam.
Pemanasan ini berfungsi untuk menguapkan zat-zat lain yang ada pada sampel sehingga hanya
diperoleh Besi (III) oksida. yang berwarna hitam kecoklatan. Berat Fe hasil percobaan ini adalah
1,31 gram. Padatan yang dihasilkan kemudian dilarutkan dengan asam nitrat. Larutan diukur
absorbansinya untuk menentukan konsentrasi besi dalam padatan yang dihasilkan. Dari hasil

perhitungan diperoleh konsentrasi besi dalam campuran NaCl dan Fe2O3 sebesar 785,8611 ppm.
Ini menunjukan konsentrasi besi dalam campuran sangat besar.
Selanjutnya larutan besi dititrasi dengan KSCN menghasilkan senyawa kompleks larutan
coklat kemerahan. Titrasi ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi besi dalam larutan. Ion
kompleks memiliki sifat berbeda dengan atom pusat atau ligan pembentuknya. Pada kompleks
Fe(SCN)2+, ion SCN- tidak berwarna dan ion Fe3+ berwarna coklat sehingga ketika kedua spesi
ini direaksikan akan membentuk ion kompleks berwarna merah darah. Dari hasil titrasi
diperoleh konsentrasi Fe sebesar 1,708x10-3 M.
Penentuan konsentrasi larutan dalam percobaan ini digunakan dengan spektrofotometri.
Spektrofotometri adalah analisis suatu senyawa berdasarkan kemampuan senyawa dalam
mengabsorbsi cahaya pada panjang gelombang tertentu. Prinsip dasarnya, sinar yang melalui
senyawa tertentu, maka senyawa tersebut akan menyerap sinar dengan panjang gelombang
tertentu dan warna senyawa tergantung jenis sinar yang dipancarkan yang tertangkap oleh mata
kita. (Day dan Underwood, 1986)

Sebelum setiap sampel larutan diukur absorbansinya

terlebih dahulu dibuat larutan standar besi (III) nitrat berbagai konsentrasi. Larutan Besi (III)
nitrat terlebih dahulu ditambahkan pengkompleks untuk membentuk senyawa kompleks.
Terbentuknya senyawa kompleks ditandai dengan perubahan warna larutan dari tidak berwarna
menjadi kuning. Selanjutnya diukur panjang gelombang maksimum Panjang gelombang
maksimum ini ditunjukan pada panjang gelombang yang mempunyai absorbansi maksimal.
Dalam percobaan ini digunakan aquades sebagai larutan blanko. Larutan blanko adalah
larutan yang mengandung analit. Larutan blanko digunakan untuk kalibrasi sebagai larutan
pembanding. Larutan blanko berfungsi agar pada saat dilakukan pengukuran absorbansi pada
sampel, zat-zat lain yang mungkin saja terdapat dalam sampel tidak terukur absorbansinya,
sebab jika terukur nilai absorbansi dari sampel tersebut tidak benar-benar murni.
B. Kesimpulan
1.

Water glass dapat dibuat dari kaca karena bahan utama kaca adalah pasir kuarsa, pada
percobaan ini diperoleh water glass berupa larutan tidak berwarna. Konsentrasi Fe dalam
water glass adalah 19,6944 ppm.

2.

Kadar NaCl dari campurannya stelah dipisahkan adalah 6,5453 % dan konsentrasi Fe dalam
NaCl adalah 24 ppm.

3.

Konsentrasi Fe dalam campurannya setelah pemisahan adalah 785,8611 ppm.

Daftar Pustaka
Suhendar, Dede. 2015. Buku Panduan Praktikum Kimia Anorganik. Bandung: UIN SGD
Bandung
Svehla, G. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimakro. Jakarta: PT. Kalman
Media Pustaka
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara. Departemen Energi dan
Sumber

Daya

Mineral

Republik

Indonesia.

Pasir

Kwarsa.

http://www.tekmira.esdm.go.id/data/pasirkwarsa diakses pada 27 oktober 2015 20.00


WIB.
Day dan Underwood, A.L.1986. Analisis Kimia Kuantitatif.Jakarta: Erlangga