Anda di halaman 1dari 9

6 Kelas (Klasifikasi) Kebakaran Menurut NFPA (National Fire Protection Association)

Amerika
Kebakaran diklasifikan (dikelompokkan) berdasarkan sumber penyebab api yang muncul dalam
kejadian kebakaran. Klasifikasi (kelas) kebakaran secara umum merujuk pada klasifikasi
Internasional yaitu klasifikasi (kelas) kebakaran menurut NFPA (National Fire Protection
Association) Amerika.
Sumber terakhir sampai dengan artikel ini disusun, NFPA membagi klasifikasi (kelas) kebakaran
menjadi 6 (enam) kelas yaitu : Kebakaran Kelas A, Kebakaran Kelas B, Kebakaran Kelas C,
Kebakaran Kelas D, Kebakaran Kelas E dan Kebakaran Kelas K.
Klasifikasi (kelas) kebakaran berguna untuk menentukan media pemadam efektif untuk
memadamkan api/kebakaran menurut sumber api/kebakaran tersebut, serta berguna untuk
menentukan tingkat keamanan jenis suatu media pemadam sebagai media pemadam suatu kelas
kebakaran berdasarkan sumber api/kebakarannya.
Klasifikasi (kelas) kebakaran berdasarkan NFPA berikut dengan media pemadam efektifnya
antara lain :

Pengertian Pengawasan K3 Penanggulangan Kebakaran


Pengawasan dapat diartikan sebagai suatu aktifitas untuk menilai kesesuaian persyaratan yang
telah ditentukan, dalam hal ini persyaratan K3 penanggulangan kebakaran. Asas pengawasan K3
dasarnya adalah pembinaan, sebagaimana Undang-undang no.1 tahun 1970 pasal 4. Undangundang no.14 tahun 1969, pembinaan mencakup; pembentukan, penerapan, pengawasan.
Mencegah kebakaran adalah segala upaya untuk menghindarkan terjadinya kebakaran. Resiko
kebakaran adalah perkiraan tingkat keparahan apabila terjadi kebakaran, terdapat 3 faktor;
1. Tingkat kemudahan terbakarnya (Flammability)
2. Jumlah dan kondisi bahan yang mudah terbakar tersebut
3. Tingkat paparan dan besaran nilai objek yang terancam
Penyebaran panas dapat melalui radiasi, konveksi dan konduksi. Biasanya suatu kebakaran akan
meninggalkan sisa asap yang mengandung karbon dioksida (CO2) dan uap air (H2O) dan
menjadi pembunuh utama.
Ruang Lingkup Pengawasan K3 Penanggulangan Kebakaran
1. Identifikasi potensi bahaya (Fire hazard identification) : Identifikasi terhadap sumber-sumber
potensi bahaya kebakaran.
2. Analisa Resiko (Fire risk assessment) : Pembobotan terhadap tingkat resiko dari potensi
bahaya yang telah diidentifikasi
3. Sarana proteksi kebakaran aktif : alat atau instalasi yang disiapkan untuk mendeteksi dan
memadamkan kebakaran, missal; detector, springkler, hydrant dll
4. Sarana proteksi kebakaran pasif :berupa alat, sarana atau metode pengendalian penyebaran
kebakaran, missal dengan pemilihan bahan-bahan bangunan yang tahan api.

Fenomena Kebakaran
1. Fenomena kebakaran
Gejala pada setiap tahapan mula awal terjadinya penyalaan sampai kebakaran padam,
meliputi;
a. Source energy
b. Initiation
c. Growth
d. Flashover
e. Steady/full development fire
f. Decay
2. Teori dan anatomi api
a. Teori api adalah suatu fenomena yang dapat diamati gejalanya, yaitu adanya cahaya dan
panas dari suatu bahan yang sedang terbakar.
b. Teori segitiga api, Unsur pokok terjadinya api pada teori klasik adalah segitiga api (triangle
of fire), bahwa harus ada ketiga unsur untuk terjadinya api, yaitu; oksigen, panas, bahan
bakar, jadi dengan teori ini apabila salah satu unsur tidak terpenuhi maka tidak akan timbul
nyala api.
c. Teori piramida bidang empat, seperti halnya segitiga api tetapi ada 1 unsur tambahan yaitu,
reaksi kimia dari proses pembakaran, dan reaksi tersebut adalah reaksi rantai panjang
(Tetrahedrone of fire)
3. Prinsip teknik memadamkan api
Terdapat tiga (3) pemahaman penting;
Pemahaman pertama; berdasarkan teori segitiga api ada 3 elemen pokok, yaitu; bahan bakar,
oksigen, dan panas
Pemahaman kedua; dari ketiga elemen dalam segitiga api, adanya besaran fisika, yaitu;
Flash point, flammable range, fire point, Ignition point
Pemahaman ketiga; pada teori tetrahedrone of fire ada elemen ke empat yaitu reaksi
kimia/radikal bebas yang mempunyai peranan besar dalam proses berlangsung api
Dari pemahaman teori tersebut diatas, teknik memadamkan api dapat dilakukan dengan cara;

Prinsip mendinginkan (cooling), missal; menyemprotkan air


Prinsip menutup bahan yang terbakar (Starvation), mis;menutup dengan busa
Prinsip mengurangi oksigen (Dilution), missal menyemprot gas CO2.
Prinsip memutus rantai reaksi dengan media kimia.
4. Klasifikasi Kebakaran
Klasifikasi kebakaran di Indonesia mengacu pada standar NFPA, yang dimuat dalam
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, kelas tersebut adalah;
Kelas A : Bahan padat kecuali logam, seperti; kayu,kertas dl
Kelas B : Bahan cair dan gas, mis; bensin, solar, kimia
Kelas C : Peralatan listrik yang bertegangan
Kelas D : Bahan logam, mis; magnesium, alumunium.
5. Jenis-jenis media pemadam kebakaran
Dewasa ini pemadam jenis halon sudah dilarang karena mempunyai efek terhadap kesehatan
manusia. Pada dasarnya semua media pemadam kebakaran harus mempunyai kinerja tinggi
dan cepat terhadap usaha pemadaman kebakaran. Jenis media yang lazim digunakan, antara
lain; busa, bubuk kimia kering, air, gas CO2.

Sistem Proteksi Kebakaran


1. Konsep system proteksi kebakaran
Sarana proteksi aktif
Sarana proteksi pasif
Fire safety manajemen
2. Sistem deteksi dan alarm kebakaran dapat berupa detector dan alarm
3. Alat pemadam api ringan (APAR)
Direncanakan untuk memadamkan api pada awal terjadinya kebakaran. Syarat jenis media
pemadam, penempatan dan kelas kebakaran maupun berat minimum harus mengikuti
peraturan yang telah ditentukan.
4. Hidrant
Adalah instalasi pemadam kebakaran yang dipasang permanent berupa jaringan pipa berisi
air bertekanan terus menerus dan siap digunakan. Komponen utamanya adalah;
Persediaan air yang cukup
Sistem pompa yang handal
Sambungan untuk mensuplai air dari mobil kebakaran
Jaringan pipa yang cukup
Slang dan noozle yang cukup
Perencanaan instalasi hydrant harus memenuhi ketentuan-ketentuan standar yang berlaku.
5. Springkler
Adalah instalasi pemadam kebakaran yang dipasang secara permanent untuk melindungi
bangunan dari bahaya kebakaran yang bekerja secara otomatis memancarkan air melalui
kepala sprinkler yang akan pecah gelas kacanya pada suhu tertentu. Komponen utama
sprinkler adalah;
Persediaan air
Pompa
Siamese connection

Jaringan pipa
Kepala sprinkler
6. Sarana Evakuasi
Evakuasi adalah usaha menyelamatkan diri sendiri dari tempat berbahaya menuju tempat
aman. Sarana evakuasi adalah sarana dalam bentuk konstruksi untuk digunakan untuk
evakuasi
7. Kompartemensi, melakukan pengendalian kebakaran melalui tata ruang suatu bangunan
8. Sistem pengendalian asap dan panas
Asap dan panas pada saat kebakaran adalah merupakan produk yang sangat
membahayakan bagi manusia, oleh karena itu perlu diperhitungkan pengendalian asap dan
panas dengan pembuatan jalur atau cerobong tegak.
9. Pressurized fan
Digunakan untuk meemcah konsentrasi gas dan uap yang terbakar berada dibawah
flammable range, sehingga terhindar dari resiko penyalaan
10. Tempat penimbunan bahan cair atau gas mudah terbakar.
Tempat penimbunan harus diletakkan diluar bangunan dengan jarak tertentu dari bangunan
lainnya. Persediaan bahan bakar cadangan dalam ruangan harus dibatasi maksimal 20 liter
dengan tempat yang tidak mudah terbakar.

Manajemen Penanggulangan Kebakaran


Konsep manajemen penanggulangan kebakaran;
a. Pre Fire Control
Identifikasi potensi bahaya kebakaran
Identifikasi tingkat ancaman bahaya kebakaran
Identifikasi scenario
Perencanaan tanggap darurat
Perencanaan system proteksi kebakaran
Pelatihan
a. In Case Fire Control
Deteksi alarm
Padamkan
Lokalisir
Evakuasi
Rescue
Amankan
c. Post Fire Control
Setiap terjadi kebakaran baik besar maupun kecil, termasuk hampir terbakar harus
dilakukan langkah; Investigasi, analisis, rekomendasi, rehabilitasi
Penerapan manajemen K3, mencakup 3 pendekatan;
Pendekatan hukum
Pendekatan ekonomi
Pendekatan kemanusiaan

Sistem Tanggap Darurat


Keadaan darurat adalah situasi/kondisi/kejadian yang tidak normal, cirinya adalah;
1. Terjadi tiba-tiba
2. Mengganggu kegiatan
3. Perlu segera ditanggulangi
Jenis-jenis keadaan darurat;
1. Natural hazard (Bencana alamiah);
Banjir
Kekeringan
Angin Topan
Gempa
Petir
2. Technological Hazard (Kegagalan teknis)
Pemadaman listrik
Bendungan jebol
Kebocoran Nuklir
Peristiwa kebakaran/peledakan
Kecelakaan kerja/lalu lintas
Perang
dll
Keadaan darurat kebakaran, bahwa jika terjadi dalam suatu bangunan, maka seluruh
komponen dalam bangunan tersebut akan terlibat, termasuk manusia, Semua orang akan
merasa terancam dan ingin menyelamatkan diri masing-masing. Ada kalanya yang sudah
keluar dan di tempat aman akan masuk kembali karena suatu alas an. Terlebih jika ada
orang diluar penghuni bangunan tersebut akan lebih panic lagi.
Mengatasi situasi panic dapat dilakukan dengan latihan secara teratur. Dalam pelaksanaan
harus ada scenario baku dan diulang-ulang. Sistem tanggap darurat penanggulangan

kebakaran tertuang dalam buku panduan yang berisikan siapa berbuat apa dan dikerjakan
oleh tim yang melibatkan semua unsur manajemen.
Tahapan perencanaan keadaan darurat, sbb;
1. Identifikasi bahaya dan penaksiran resiko
2. Penakaran sumber daya yang dimiliki
3. Tinjau ulang rencana yang telah ada
4. Tentukan tujuan dan lingkup
5. Pilih tipe perencanaan yang akan dibuat
6. Tentukan tugas-tugas dan tanggung jawab
7. Tentukan konsep operasi
8. Tulis dan perbaiki