Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
Share this article : Tweet 0 0
Posting Lebih
Baru
Posting Lama
Home » Makalah » Makalah Pemberian Obat
Makalah Pemberian Obat
1.1
Latar
Belakang
Makalah
Untuk
memenuhi
salah
satu
tugas
mata
kuliah
tentang
kebutuhan dasar manusia dan berfungsi untuk
mencari ilmu dan menambah ilmu untuk
memperluas suatu konsep dalam diri kita
sendiri. Dan prilaku manusia untuk mencari
bahan-bahan untuk suatu ilmu yang berkaitan
tentang Kebutuhan dasa manusiadan tak lupa
untuk memperluas suatu ilmu pengetahuan
didalam diri kita sendiri dan membuat untuk
belajar yang lebih giat lagi. Supaya lebih luas
pengetahuannya.
1.2 Tujuan Penulis
Penyusunan Laporan ini bertujuan untuk :
1. Untuk mengetahui bagai mana prinsip
prinsi pemberian obat yang benar.
2. Untuk mengetahui paktor-paktor yang
mempengaruhi peberian obat yang benar.
3. Untuk mengetahui macam-macam bentuk
pemberian obat
1.3 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah di dalam laporan
makalah ini:
1. Apa yang dimaksud dengan suatu
pemberian obat?
2. Apa saja cirri-ciri pemberian obat yang

benar?
3. Apa saja paktor-paktor yang menpengaruhi
pemberian obat?
4. Sebutka macam-macam pemberian obat?
1.4 Manfaat Penulis
Manfaat penulis dalam penbuatan makalah ini
untuk mengetahui dimana adaya suatu
pengertian dan untuk mengingat makalah dan
materi.
1.5 Metode Penulisan
Metode penulisan pada makalah ini adalah :
Study fustaka
BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Prinsip – Prinsip Pemberian Obat Pada Pasien
Menggambarkan 6 Benar dalam pemberian obat.
Supaya dapat tercapainya pemberian obat yang
aman, seorang perawat harus dapat melakukan 6 hal
yangt benar; klien yang benar, obat yang benar, dosis
yang benar, waktu yang benar, rute yang benar, dan
dokumentasi yang benar.
Memberikan pedoman keamanan dalam pemberian
obat
Beberapa pedoman umum dalam pemberian obat
dijelaskan dalam prosedur pemberian obat obat yang
benar yang terdiri dari 4 langkah (persiapan,
pemberian, pencatatan, dan hal-hal yang tidak boleh
dalam pemberian obat)
Persiapan :
Cuci tangan sebelum menyiapkan obat
a. Periksa riwayat, kardek dan riwayat alergi obat
b. Periksa perintah pengobatan
c. Periksa label tempat obat sebanyak 3 kali
d. Periksa tanggal kadaluarsa
e. Periksa ulang perhitungan dosis obat dengan
perawat lain
f. Pastikan kebenaran obat yang bersifat toksik
dengan perawat lain atau
ahli Farmasi
g. Tuang tablet atau kapsul kedalam tempat obat.
Jika dosis obat dalam unit,
buka obat disisi tempat tidur pasien setelah
memastikan kebenaran
identifikasi pasien

Bayi tidak boleh menerima lebih dari 1 ml larutan intramuskuler pada satu tempat. Pencatatan : a.5 – 3 ml larutan intramuscular pada satu tempat. Periksa identitas pasien melalui gelang identifikasi b. Berikan tidak lebih dari 2. g. Miniskus atau lengkung terendah dari cairan harus berada pada garis dosis yang diminta i. Jika memberikan obat pada sekelompok klien. Tuang cairan setinggi mata. berikan obat terakhir pada klien yang memerlukan bantuan ekstra. Berikan hanya obat yang disiapkan d. Simpan narkotik kedalam laci atau lemari dengan kunci ganda l. Tawarkan es batu sewaktu memberikan obat yang rasanya tidak enak. Buang larutan yang tidak terpakai dari ampul. Tetaplah bersama klien sampai obat diminum/ dipakai f. aspirin) atau berikan bersama-sama dengan makanan Pemberian : a. Bantu klien mendapatkan posisi yang tepat tergantung rute pemberian e. Jika mungkin berikan obat yang rasanya tidak enak terlebih dahulu baru kemudian diikuti dengan obat dengan rasa yang menyenangkan c. Kunci untuk lemari narkotik harus disimpan oleh perawat dan tidak boleh disimpan didalam laci atau lemari. Laporkan kesalahan obat dengan segera kepada . Buang jarum dan tabung suntik pada tempat yang benar i. Simpan larutan stabil yang tidak terpakai di dalam tempat yang tepat (bila perlu masukkan ke dalam lemari es). Encerkan obat-obat yang mengiritasi mukosa lambung (kalium. Buang obat kedalam tempat khusus jangan kedalam tempat sampah j. h. Tidak boleh memberikan lebih dari 1 ml jika melalui rute subkutan.h. Tulis tanggal waktu dibuka serta inisial Anda pada label k. Jangan menutup kembali jarum suntik.

Jangan memakaim obat yang telah mengendap. Jangan berikan suatu obat kepada klien jika ia memiliki alergi terhadap obat itu. Jangan menutup kembali jarum suntik. Jangan tinggalkan obat-obat yang telah dipersiapkan j. atau berawan. dan inisial Anda. k. maka dari itu perawat harus tahu jumlah dan macam-macam factor yang mempengaruhi respon individu terhadap suatu obat. Catat obat segera setelah diberikan. Jangan mengeluarkan obat ke tangan Anda f. waktu rute. Jangan memberikan obat yang tanggalnya telah kadaluwarsa g.Faktor-faktor yang . Yang Tidak Boleh : a. Masukkan kedalam kolom. dosis. Lengkapi laporan peristiwa b. c.Periksa perintah pengobatan. atau berubah warna.dokter dan perawat supervisor. b. Jangan memberikan obat yang dikeluarkan oleh orang lain. m. Jangan sampai konsentrasi terpecah sewaktu menyiapkan obat. i. Tanya jika ragu-ragu h. Jangan berikan jika klien mengatakan bahwa obat tersebut berlainan dengan apa yang telah ia terima sebelumnya. c. Jangan memindahkan obat dari satu tempat ke tempat lain e. atau yang labelnya sebagian terlepas atau hilang d. Faktor-Faktor yang Mengubah Respon Terhadap Obat Respon Farmakologik terhadap suatu obat bersifat komplek. Lap[orkan obat-obat yang ditolak dan alasan penolakan. Catat jumlah cairan yang diminum bersama obat pada kolom intake dan output. Jangan memanggil nama klien sebagai satusatunya cara untuk mengidentifikasi l. Jangan menduga-duga mengenai obat dan dosis obat. khususnya dosis stat d. Sediakan cairan yang hanya diperbolehkan dalam diet. Jangan mengeluarkan obat dari tempat obat dengan label yang sulit dibaca. e. catatan obat yang diberikan.

i. Absorpsi : suatu variable yang utama dalam rute pemberian obat. d. yang bias terjadi pada dosis tertentu. Saat pemberian : ada atau tidaknya makanan didalam lambung dapat mempengaruhi beberapa kerja obat . Distribusi : dengan protein merupakan pengubah utama dari distribusi obat didalam tubuh. paru-paru. feses. misalnya anti neoplastik dapat diberikan sesuai berat badan. Dosis bayi dihitung berdasarkan berat badan dalam kilogram daripada berdasarkan usia biologis atau gastrointestinalnya. Toksisitas : Istilah ini merujuk pada gejala merugikan. mungkin Anda juga bisa memiliki hal yang sama. Farmakokinetik : istilah ini merujuk pada factor-faktor genetic terhadap respon obat. f. saliva. g. j.mempengaruhi respon terhadap obat antara lain : a. Jika orang tua Anda memiliki respon yang merugikan terhadap suatu obat. e. Lansia hipersensitif terhadap barbiturate dan epnekan SSP. Hal ini sering terjadi pada orang-orang yang mempunyai gangguan hati dan ginjal. Hal ini akan berpengaruh pada metabolism obat. Metabolisme / biotransformasi : semua bayi khususnya neonates dan bayi dengan BBLR mempunyai fungsi hati dan ginjal yang belum matang. Usia : Bayi dan lansia lebih sensitive terhadap obat-obatan. empedu. h. Absorpsi oral terjadi pada saat partikel-partikel obat keluar dari saluran gastrointestinal (lambung dan usus halus) menuju cairan tubuh. Berat badan : dosis obat. Klien seperti ini mempunyai absorpsi yang buruk melalui saluran gastrointestinal akibat berkurangnya sekresi lambung. b. Orang yang obesitas mungkin perlu penambahan dosis atau sebaliknya. Ekskresi : rute utama dari ekskresi obat adalah melalui ginjal. Setiap gangguan intestinal seperti muntah/diare akan mempengaruhi absorpsi obat. demikian pula lansia juga kehilangan sebagian dari fungsi sel ginjalnya. c. dan juga keringat. Rute pemberian : obat-obat yang diberikan intravena lebih cepat bekerja daripada yang diberikan peroral.

praktis dan ekonomis. Suppositoria . transdermal. sama. Faktor emosional : komentar-komentar yang sugestif mengenai obat dan efek sampingnya dapat mempengaruhi efek obat l. Topikal . dan gatrosnomi. Keterangan beberapa rute pemberian obat : a. Instilasi : obat cair yang biasanya diberikan dalam bentuk tetes atau salep d. seperti dengan sarung tangan. b. tidak kooperatif.Inhalasi. obat tersimpan didalam patch yang ditempelkan pada kulit. obat-obat yang diberikan melalui kulit dengan berbagai cara. Persiapan alat : . diare. Topikal/lokal Oral Adalah obat yang cara pemberiannya melalui mulut. Sublingual. oral. Untuk cara pemberian obat ini relatif aman. spatel lidah.2. Pervaginam. diantaranaya adalah: Oral. Rektal. dll c. aplikator. inhalasi (tetes. adalah obat yang dimasukkan kedalam rectal atau vaginal II. atau lebih lemah dari efek obat tunggal. Efek penumpukan : ini terjadi jika obat dimetabolisme atau diekskresi lebih lambat daripada kecepatan pemberian obat n. Perenteral. suppositoria. MEMBERIKAN OBAT MELALUI ORAL I. ditemukan banyak cara yang dapat dilakukan tergantung dari resep. Kelemahan dari pemberian obat secara oral adalah efek yang tibul biasanya lambat. tidak efektif jika pengguna sering muntah-muntah. dosis dan anjuran dokter. m. selangnasogastrik. topical.k. Bentuk dan Rute Pemberian Obat Ada berbagai bentuk dan rute pemberian obat yaitu . Berikut ini adalah beberapa cara pemberian obat. diserap melalui kulit dan mempunyai efek sistemik. Toleransi : kemampuan klien untuk merespon terhadap dosis tertentu dari suatu obat dapat hilang setelah beberapa hari atau minggu setelah pemberian. parentral. tidak sabar. MACAM-MACAM PEMBERIAN OBAT Dalam mengkonsumsi obat. semprot ). kurang disukai jika rasanya pahit (rasa jadi tidak enak). Transdermal . Interaksi Obat : efek kombinasi obat dapat lebih besar.

mengambil daftar obat dan obat kemudian diteliti kembali. membawa obat dan daftar obat ke pasien sambil mencocokkan nama pada tempat tidur dengan nama daftar obat e. menuangkan obat cair ke dalam gelas obat. Hal yang perlu diperhatikan : a. membaca instruksi pada daftar obat c. Cek perencanaan Keperawatan klien b.S) d.a. Pelaksanaan : 1. jaga kebersihan etikat obat d. teliti b tanggung jawab c. Membagikan obat kepada pasien : a. memastikan pasien benar dengan memanggil nama pasieo sesuai dengan nama pada daftar obat f. mengambil obat-obat (prive/R. mencuci tangan b. Membagi obat ke tempat obat : a. sambil membuka pembungkus obat c. Klien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan Persiapan Alat a. tempat obat II. memberi obat satu-persatu ke pasien sambil menunggu sampai pasien selesai minum III. menyiapkan obat dengan tepat menurut daftar obat (obat masih dalam kemasan/pembungkus) e. obat-obat (prive/R. daftar obat d. gelas obat c. mencuci tangan b.S) b. menyiapkan obat cair beserta gelas obat 2. jujur ASUHAN KEPERAWATA PEMBERIAN OBAT MELALUI ORAL Tinjauan Umum Menyiapkan dan memberikan obat untuk pasien sadar melalui mulut dan dilanjutkan untuk ditelan PERSIAPAN Persiapan Klien a. Obat yang sudah ditentukan .

Kelebihan dari cara pemberian obat dengan sublingual adalah efek obat akan terasa lebih cepat dan kerusakan obat pada saluran cerna dan metabolisme di dinding usus dan hati dapat dihindari. Membawa obat da daftar obat ke klien sambil mencocokan nama pada tempat tidur dengan nama pada daftar obat f. Perawat cuci tangan h.nama obat dan dosis. hasil tindakan.b. jaga kebersihan etiket obat d. Catat tindakan yang telah dilakukan EVALUASI a. Perhatikan respon klien dan hasil tindakan DOKUMENTASI Mencatat tindakan yang telah dilakukan (waktu pelaksanaan. Tujuannya adalah agar efek yang ditimbulkan bisa lebih cepat karena pembuluh darah di bawah lidah merupakan pusat dari sakit. Menuangkan obat cair kedalam gelas obat. Metabolisme langkah pertama oleh usus atau hati membatasi efikasi banyak obat ketika diminum per oral. Beberapa obat diabsorpsi di lambung. Perawat cuci tangan b. perawat yang melakukan ) pada catatan keperawatan Mekanisme absorpsi obat dalam berbagai rute pemberian: Rute oral Cara pemberian yang paling sering dengan berbagai alasan . Memberi obat satu persatu ke klien sambil menunggu sampai klien selesai minum g. smambil membuka pembungkus obat c. MEMBERIKAN OBAT MELALUI SUBLINGUAL . Pada usus lua Sublingual Adalah obat yang cara pemberiannya ditaruh di bawah lidah. namun duodenum sering merupakan jalan masuk utama sirkulasi sistemik karena permukaan absorpsinya lebih besar. Gelas dan daftar obat PELAKSANAAN a. Makanan dalam lambung memperlambat waktu pengosongan lambung sehingga obat dihancurkan oleh asam. respon klien. Mengambil daftar obat dan obat kemudian diteliti kembali.

ramah ASUHAN KEPERAWATAN PEMBERIAN OBAT MELALUI SUBLINGUAL TINJAUAN UMUM Suatu kegiatan pelayanan keperawatan dalam memberikan obat yang diberikan secara sub lingual PERSIAPAN Persiapan Klien a. hati-hati c. Memasang tongspatel ( jika klien tidak sadar ) kalau sadar anjurkan klien untuk Mekanisme absorpsi obat dalam berbagai rute pemberian: Rute bukal (sublingual) Penempatan di bawah lidah memungkinkan obat berdifusi ke dalam anyaman kapiler dan secara langsung masuk ke dalam sirkulasi sistemik.I. Cek perencanaan Keperawatan klien b Klien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan Persiapan Alat a. hingga terlarut seluruhnya c. Obat yang sudah ditentukan b. Langkah-langkah : a. memberitahu pasien agar meletakkan obat pada bagian bawah lidah. Tongspatel (bila perlu ) c. obat yang sudah ditentukan dalam tempatnya II. tidak minum dan berbicara selama obat belum terlarut seluruhnya IV. Persiapan alat : a. Hal yang perlu diperhatikan : a. Pelaksanaan : a. menjelaskan kepada pasien tentang pemberian obat III. menganjurkan pasie agar tetap menutup mulut. sabar b. Perawat cuci tangan b. memberikan obat kepada pasien b. Keuntungannya adalah obat melakukan bypass . Kasa untuk membungkus tongspatel PELAKSANAAN a.

Langkah-langkah : a. Untuk obat yang diberikan dengan cara inhalasi ini obat yang dalam keadaan gas atau uap yang akan diabsorpsi akan sangat cepat bergerak melalui alveoli paru-paru serta membran mukosa pada saluran pernapasan. yang menghasilkan efek hampir sama cepatnya dengan IV. Persiapan alat : a. obat yang diperlukan b. terhindar dari efek lintas pertama dan dapat diberikan langsung kepada bronkus. Mekanisme absorpsi obat dalam berbagai rute pemberian: Inhalasi (melalui paru-paru) Inhalasi (umumnya berupa aerosol) memberikan pengiriman obat yang cepat melewati permukaan luas dari saluran nafas dan epitel paru-paru.memasang tabir di sekeliling tempat tidur III. Dengan luas perukaan alveolar besar (70 – 100 m2). menawarkan pasien untuk buang air kecil atau . selain mengabsorpsi zat berupa zat dapat juga mengabsorpsi cairan dan zat padat. Utamanya untuk terapi lokal dalam daerah saluran pernafasan. Maksudnya adalah mempercepat kerja obat serta bersifat lokal dan sistematik. Rektal Adalah obat yang cara pemberiannya melalui dubur atau anus. kadar obat dapat terkontrol.memberitahu dan menjelaskan kepada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan . Inhalasi Adalah obat yang cara pemberiannya dengan cara disemprotkan ke dalam mulut. Pemberian ini hanya mungkin untuk obat yg dapat diabsorpsi dengan mudah dan tidak untuk obat yang memiliki rasa tidak enak. Memberikan obat melalui rektal I. Kelebihan dari pemberian obat dengan cara inhalasi adalah absorpsi terjadi cepat dan homogen. Persiapan pasien : . sarung tangan II. Cocok untuk zat dalam bentuk gas. piala ginjal c.melewati usus dan hati dan tidak diinaktivasi oleh metabolisme.

sehingga biotransfortasi obat oleh hati dikurangi. Rute rektal juga berguna untuk obat yang menginduksi muntah jika diberikan secara oral atau jika penderita mengalami muntah-muntah. hati-hati b. Persiapan alat : a. membebaskan pakaian bagian bawah c. handuk bawah d. Selama 20 menit pasien istirahat baring f. memasukkan obat ke dalam rectum sambil menyuruh pasien menarik nafas panjang. melepaskan sarung tangan dan meletakkan pada piala ginjal g merapikan pakaian pasien dan lingkungannya dan perawat mencuci tangan IV. suppositoria vagina b. Rute rektal Lima puluh persen aliran darah dari rektum memintas sirkulasi portal (melalui hati biasanya pada rute oral). hanya saja dimasukan ke dalam vagina MEMBERIKAN OBAT MELALUI VAGINA I. Hal yang perlu diperhatikan : a. Bagian obat yang diabsorpsi dalam 2/3 bagian bawah rektum langsung mencapai vena cava inferior dan tidak melalui vena porta.buang air besar b. Pelaksanaan : a. Pervaginam Untuk obat ini bentuknya hampir sama atau menyerupai obat yang diberikan secara rektal. sabar d. teliti c. sarung tangan c. meletakkan piala ginjal di bawah anus d. sopan Mekanisme absorpsi obat dalam berbagai rute pemberian: 3. Keuntungan pemberian melalui rektal (juga sublingual) dl mencegah penghancuran obat oleh enzim usus atau pH dalam lambung. piala ginjal kertas klosed II. perawat memakai sarung tangan e. memberitahu pasien tentang tindakan yang akan .

dilakukan b. hati-hati b. absorpsi obat. Oke deh kalo begitu saya coba tulis .3 Mekanisme Absorpsi Obat absorpsi intramuskular. memberikan posisi supine selama 5-10 menit. membuka pakaian bawah. sopan Parenteral Adalah obat yang cara pemberiaannya tanpa melalui mulut (tanpa melalui saluran pencernaan) tetapi langsung ke pembuluh darah. mekanisme absorpsi obat Setelah diliat2 ternyata lumayan banyak yg nyari info ttg Absorpsi obat dan tetek bengeknya. teliti c. sering muntah dan tidak kooperatif. Langkah-langkah : a. menutupi dengan handuk bawah d. mencuci tangan IV. memberikan posisi dorsal recumbent III. tetes telinga dan lain-lain II. absorpsi rektal. Topikal/lokal Adalah obat yang cara pemberiannya bersifat lokal. membuka libia agar nampak meatus vagina e. absorpsi intravaskular. absorpsi sublingual. masukkan suppositoria ke dalam liang vagina kurang lebih 8-10 cm atau sedalam mungkin f. misalnya tetes mata. membuka pembungkus suppositoria b. menyiapkan lingkungan c. Akan tetapi cara pemberian obat dengan cara ini kurang aman karena jika sudah disuntikan ke dalam tubuh tidak bisa dikeluarkan lagi jika terjadi kesalahan. Misalnya sediaan injeksi atau suntikan. Sikap : a. mo nyari tugas ya?? hehe. Kelebihannya bisa untuk pasien yang tidak sadar. k/p melumasi suppositoria tipis-tipis d. meninggikan panggul dengan satu bantal h. menggunakan sarung tangan c. Tujuannya adalah agar dapat langsung menuju sasara. mengeluarkan jari tangan dan membuka sarung tangan g. absorpsi subkutan. salep.. inhalasi. absorpsi peroral. absorpsi lewat hidung.

Tahun 1921. Sp. b. Sarwono Waspadji. mekanismenya seperti fagositosis (fagositosis untuk berupa partikel padat) e. penembusan ke dalam membran dengan adanya perbedaan knsentrasi dan tanpa bantuan. Khusus bagi penderita DM tipe I (IDDM) insulin merupakan kebutuhan pokok yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.4. menggunakan energi dari sintesis ATP karena senyawa memasuki suatu membran dengan melawan gradien (melawan konsentrasi kebalikan dari difusi pasif). koefisien distribusi senyawa serta koefisien difusi berbanding terbalik dengan tebal membran. Saat ini penyulingan insulin sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat dengan hasil yang makin memuaskan.PD. Transport senyawa berbanding langsung dengan landaian konsentrasi.. Mekanisme absorpsi obat secara umum: a. Dalam praktek sehari-hari diabetes mellitus yang membutuhkan terapi insulin merupakan kasus yang sering dijumpai. Difusi pasif. . ekstrak insulin dari hewan dibuat oleh para ilmuwan dari University of Toronto. II. untuk molekul besar berupa cairan. Transport aktif. Pinositosis. Kepiawaian dokter (umum maupun spesialis) dalam perawatan pasien salah satunya dapat diukur dari ketelitiannya dalam manajemen pasien DM yang membutuhkan insulin. Canada. Difusi terfasilitasi.deh mengenai absorpsi obat. proses penembusan tanpa menggunakan energi (ATP) tetapi memerlukan bantuan pembawa (carrier). Ontario. g terlalu lengkap sih tapi mudah2n bisa membantu. senyawa2 tertentu yang di dalam tubuh/ di luar membran sel mengalami ionisasi sehingga sukar diserap maka senyawa tersebut berikatan dengan senyawa yang berlawanan muatan kemudian dihantar menembus membran sel dan masuk ke dalam cairan intraseluler. c. d. pendapat Prof. Pasangan ion. Terapi Insulin untuk Praktek Sehari-hari . Dr. Aborpsi obat adalah proses penyerapan obat dari tempat mulai dicerna sampai obat bekerja dan kadarnya tidak mengalami perubahan sehingga memberikan efek..

Penderita IDDM (DM tipe 1) umumnya tidak banyak mengalami masalah jika harus mengkonsumsi insulin mengingat itu merupakan satu-satunya obat yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. hingga metode inhalasi sebagai pilihan terbaru. Penggunaan insulin pada penderita DM tipe 2 juga terus mengalami perkembangan. mengingat masih ada beberapa lini pilihan terapi bagi mereka. Metode ini diharapkan dapat menurunkan A1C sebanyak 1%. Namun secara garis besar penggantian insulin merupakan cara yang paling efektif untuk men dekati kondisi fisiologis. Saat ini pasien IDDM hampir semua mendapat terapi bolus/basal. Sedangkan pasien NIDDM (DM tipe 2) relatif memiliki kesukaran yang lebih dalam menggunakan insulin. pendekatan pasien IDDM sangat konvensional dengan pemberian Neutral Protamine Hagedom (NPH) dan insulin dua kali sehari. Sebenarnya tata . Ketoasidosis) atau mengalami penu runan berat badan yang drastis. Pada prinsipnya patofisiologi DM tipe 2 ialah terjadinya resistensi insulin di membran sel (kelainan kerja insulin) yang terus-menerus sehingga mengganggu sekresi insulin. Pemberian insulin dosis malam akan menekan produksi glukosa dari hepar dan sangat menurunkan kadar glukosa darah puasa. Masalah yang ada sampai sekarang ialah kadar glukosa darah yang meningkat drastis sesudah makan hingga meningkat kan risiko penyakit kardiovaskular. Perkembangan insulin Lebih dari 35 tahun lalu. Saat ini perkembangan pemberian insulin ialah variasi cara pemberian yang makin mudah dan nyaman. Terapi insulin pada DM tipe 2 juga dilakukan jika terapi konvensional dengan Obat Anti Diabetik (OAD) oral sudah tidak memberikan hasil yang memuaskan. Insulin diberikan sesuai kebutuhan basal untuk menjaga metabolisme berjalan fisiologis. Penderita DM tipe 2 juga kadang membutuhkan insulin pada kali pertama mereka melakukan kunjungan ke dokter jika menunjukkan gejala klinis yang berat (mis. Resistensi yang berlangsung lama ini menyebabkan berkurangnya fungsi sel beta sehingga akhirnya pasien akan membutuhkan insulin. Ada yang memilih pompa infus insulin subkutan atau injeksi insulin bolus.

sehingga dalam diri pasien akan selalu terpikir tentang makan. Diperlukan ahli gizi. langkah selanjutnya ialah kombinasi beberapa obat. Dari segi dokter. Na mun demikian penatalaksanaan DM masih belum terlalu proaktif. yakni keengganan pasien untuk menggunakan insulin karena khawatir repot menusukkan jarum setiap hari. baik itu IDDM apalagi NIDDM yang sangat bergantung pola hidup yang makin sedenter. Insulin maupun obat antidiabetik oral merupakan pendukung. penanganan pasien DM yang membutuhkan insulin mutlak memerlukan kerja sama tim yang solid. Edukasi dokter ke pasiennya merupakan kunci utama. Jika kita empati sedikit ke pasien. Ada kecenderungan 'psychological insulin resistance'. Pemberian obat awal (Sulfonilurea) memberi hasil 35% perbaikan. Tantangan terapi insulin Saat ini penderita diabetes mellitus sudah sangat banyak jumlahnya. Dokter harus meyakinkan bahwa insulin merupakan obat yang sangat mujarab untuk DM serta model insulin saat ini sudah beraneka ragam. Dari model jarum yang steril hingga bentuk pulpen yang portabel dibawa ke manamana. Model preparat insulin yang beredar di pasaran sudah tak terhitung jumlahnya. kemudian lini kedua (Metformin) memberi hasil 44%. hingga psikolog. terangkan tentang prediktor A1C yang harus mencapai kurang dari 7%. perawat yang bisa melakukan edukasi. Bila perlu.laksana yang paling penting pada DM tipe 2 ialah diet dan mengubah pola hidup menjadi lebih sehat. dan caranya semakin mudah. Banyak juga pasien yang membutuhkan multiple daily injections (MDI) sehingga sering membutuhkan lebih banyak staf untuk hal tersebut. dan ingin makan. makan. insulin sebenarnya menyebabkan hipoglikemia. Beberapa pasien juga enggan menggunakan insulin karena takut menjadi gemuk. baru kemudian pemberian insulin. Tim inilah yang . Berbagai keluhan dan tantangan ini membuat terapi insulin relatif membutuhkan kesabaran dan pengorbanan ekstra. ja rumnya tidak menyakitkan. Hierarki yang sedemikian lama ini membuat tata laksana DM tipe 2 kadang menjadi kurang efektif. terutama bagi pasien dengan latar belakangan pendidikan yang baik.

Detemir. tetap harus diajarkan cara menyuntik untuk keadaan emergensi. askeskin. Pasien yang menggunakan pulpen injeksi tetap harus diajarkan cara menyuntik subkutan dari vial kerja cepat untuk keadaan emergensi.menjaga pemberian insulin tetap berlangsung pada seorang pasien. terutama dari segi keluarga dan finansial. Langkah selanjutnya ialah . misalkan terdapat pasien NIDDM yang sudah mengkonsumsi kombinasi dua obat. Pasien NIDDM tidak terlalu tergantung dengan keadaan sebelum dan sesudah makan. maka wajib diajarkan bagaimana cara menyuntik yang benar. Insulin juga bisa diberikan sewaktu makan dengan menggunakan regimen kerja cepat. glargine). Prinsip pemberian insulin ialah add-on. sedangkan pada NIDDM harus dipikirkan hierarki pengobatan dari mulai golongan sulfonilurea. maka obat yang sudah digunakan tetap dipertahankan tanpa mengubah dosisnya. Anggota keluarga harus tahu benar bagaimana merawat pasien serta harus diupayakan agar pasien memiliki tunjangan (asuransi kesehatan. Meskipun pasien menggunakan insulin inhalasi. Jika hasil masih jelek. dll.) agar dapat selalu membeli insulin. Sangat penting untuk mengenali gejala-gejala klinis tanpa melihat hasil lab. metformin/glibenclamide. gakin. Pertama kali insulin diberikan beberapa saat sebelum tidur kemudian dievaluasi kadar glukosa darah sewaktu. sehingga insulin diberikan dua hingga tiga kali sehari dalam bentuk injeksi atau inhalasi. untuk pasien IDDM dapat digunakan insulin preprandial. Insulin basal mulai ditambahkan dalam dosis tunggal kerja panjang (mis. dan as part. Insulin basal Pemberian insulin harus diberikan segera pada IDDM. hingga regimen penghambat glukagon (DPP-IV dan exanatide). Untuk dokter. seperti glulisine. kadar glukosa darah dan A1C lah yang menjadi petanda utama perbaikan pasien. atau insulin kerja sedang sebelum tidur. lispro. Berdasarkan PERKENI dan American Association of Clinical Endocrinologist (AACE) nilai glukosa darah dua jam postprandial ialah 140 mg/dl. Karena DM merupakan penyakit yang membutuhkan kemandirian pasien. JPS. Pertimbangkan latar belakang pasien.

Cara ini relatif cepat menurunkan kadar glukosa darah namun sering menyebabkan hipoglikemia di malam hari. Pasien NIDDM mengalami penurunan fungsi sel-sel beta secara perlahan. serta insulin kerja sedang sebelum tidur. Penggantian insulin fisiologis Situasi paling ideal dalam terapi insulin ialah mempertahankan kerja insulin sesuai fisiologinya. Insulin dari rekombinan DNA ini tidak terlalu lama bertahan di dalam darah dibanding dari non manusia. Cara mudahnya ialah memberikan 1/3 kerja sedang dan 2/3 kerja cepat dua kali sehari. relatif lebih aman meskipun kerjanya sangat cepat. Insulin yang lebih modern. Perlu dipertimbangkan tingkat resistensi sel masingmasing individu terhadap insulin. Obesitas. Kadar insulin yang paling tinggi di dalam darah ialah jika terjadi hiperglikemia postprandial. insulin mutlak diberikan sepanjang hari sebelum makan. harus diketahui kapan terjadinya hiperglikemia postprandial dengan memprediksikan jenis makanan yang akan dimakan sehingga dapat diberikan insulin sebelumnya. maka awalnya akan terjadi . Pada pasien IDDM. Sedangkan pada pasien yang masih bisa direncanakan untuk menggunakan insulin pran dial. Insulin split-mix Jika pasien mengalami hiperglikemia hebat postprandial maka dilakukan pendekatan konvensional berupa split-mix. maka sebaiknya tidak digunakan secretagogue (sulfonilurea).melakukan penyesuaian hingga 40-50 unit insulin perhari untuk mengatasi hiperglikemia pada keadaan puasa. Cara ini merupakan metode konvensional dan terkesan 'asal tembak' karena tidak terlalu sesuai dengan fisiologinya. Sedangkan pada pasien NIDDM. Sedangkan cara injeksi insulin yang banyak digunakan ialah insulin gabungan di pagi hari. Pada orang-orang yang sangat resisten insulin (mis. Target utamanya ialah mencapai kadar glukosa darah puasa lebih rendah dari 100 mg/dl. yakni digunakan insulin kerja sedang digabung dengan insulin kerja cepat dalam dosis dua kali sehari. yang berasal dari manusia. DM sejak lama) maka regimen yang baik ialah thiazolodinedione atau metformin. insulin kerja cepat sebelum makan malam.

Hitungan kasar perbandingan glukosa dengan insulin yang dibutuhkan ialah 1 unit berbanding 15 g karbohidrat. lispro. karena sangat berpotensi menimbulkan hipoglikemia. Detemir atau glargine) selama beberapa hari kemudian dilanjutkan dengan insulin setidaknya sebelum makan dengan kerja cepat (mis. Aspart. indikator yang paling akurat saat ini ialah dengan menilai A1C 7-9%. jadi total insulin yang digunakan ialah 3-5 plus jumlah sesuai makanan. Untuk mengikuti irama fisiologis itu diperlukan insulin awal sebagai dosis basal (mis. pasien NIDDM umumnya memiliki kadar glukosa darah 250 mg/dl padahal kadar yang terbaik ialah di bawah 100 mg/dl. Sedangkan jika telah berlangsung lama maka akan terjadi peningkatan glukosa akibat kerja hepar yang berlebihan dalam pro ses glukoneogenesis sehingga akan terjadi hiperglikemia meskipun pada keadaan puasa. Contoh korek si. dan glulisine) segera sebelum makan dan harus dilanjutkan dengan makan. VIAL Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menciptakan keadaan steril. Cara ini lebih efektif dibanding menggunakan kombinasi dua obat antidiabetik oral. Cara ini merupakan cara termudah yang bisa diajarkan ke pasien dan keluarganya. dan kemungkinan menciptakan kondisi mutlak bebas dari mikrorganisme hanya dapat diduga atas dapat proyeksi kinetis angka kematian mikroba. Konsep ini menyatakan bahwa steril adalah istilah yang mempunyai kondisi konotasi relatif. hal 1254). Insulin yang diberikan juga bisa dalam bentuk inhalasi dengan kerja cepat. II. Dengan demikian untuk menurunkan hingga 100 mg/dl dibutuhkan 3-5 unit insulin koreksi.hiperglikemia postprandial karena ketidakmampuan masuknya glukosa ke dalam otot. Perhitungan 1 unit insulin akan se tara menurunkan glukosa darah sebanyak 20-50 mg/dl. Sementara untuk dokter. Produk steril adalah sediaan terapetis dalam bentuk terbagi-bagi yang bebas dari mikroorganisme hidup. Ditambah dengan koreksi kadar insulin. .5. yakni setara satu lembar roti tawar. Secara tradisional keadaan steril adalah kondisi mutlak yang tercipta sebagai akibat penghancuran dan penghilangan semua mikroorganisme hidup. (Lachman.

mata dan irigasi. bila penderita tidak dapat diajak bekerjasama dengan baik. Produk steril termasuk sediaan parentral. kimia atau mikrobiologi. intramuskular. 2. Injeksi intramuskular dilakukan dengan memasukkan kedalam otot rangka. Injeksi intravena memberikan beberapa keuntungan : 1. subkutan. Pada umumnya pemberian secara parenteral dilakukan bila diinginkan kerja obat yang lebih cepat. hal 1292). intrakutan dan intraspinal. (Lachman. Tempat suntikan sebaiknya sejauh mungkin dari saraf-saraf utama atau pembuluh-pembuluh darah utama. karena sediaan ini disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa kebagian dalam tubuh. atau dengan mengisikan sejumlah obat ke dalam wadah dosis tunggal atau wadah dosis ganda. cocok untuk keadaan darurat . 3. sediaan tersebut harus bebas dari kontaminasi mikroba dan dari komponen toksik dan harus mempunyai tingkat kemurniaan tinggi dan luar biasa. tidak sadar. dapat memastikan obat sampai pada tempat yang diinginkan . tempat penyuntikkan melalui intra muskular sebaiknya dibatasi paling banyak 5 ml. Sedangkan pada bayi. bila disuntikkan kedaerah gluteal. yakni membran kulit dan mukosa. Lima yang paling umum adalah intravena. atau mensuspensikan sejumlah obat ke dalam sejumlah pelarut.Sediaan parenteral ini merupakan sediaan yang unik diantara bentuk obat terbagi-bagi. mengemulsikan. Preparat parental bisa diberikan dengan berbagai rute. dan 2 ml bila di deltoid. efek terapi lebih cepat didapat. tidak dapat atau tidak tahan menerima pengobatan secara oral atau bila obat tersebut tidak efektif dengan cara pemberian yang lain. Pada orang dewasa tempat yang paling sering digunakan untuk suntikan intramuskular adalah seperempat bagian atas luar otot gluteus maksimus. Karena sediaan mengelakkan garis pertahanan pertama dari tubuh yang paling efisien. Injeksi diracik dengan melarutkan. Semua komponen dan proses yang terlibat dalam penyediaan produk ini harus dipilih dan dirancang untuk menghilangkan semua jenis kontaminasi secara fisik. seperti pada keadaan gawat.

1 Kesimpulan Jadi suatu pemberian obat itu harus benar obatnya. Zat pengawet (FI IV hal 17) keculai dinyatakan lain. Untuk obat-obat yang rusak oleh cairan lambung. klien yang benar. dan dokumentasi yang benar.html?m=1 . Perlu dapar sesuai pH stabilitasnya 4. dosis yang benar. larutan atau suspensi dengan volume sebanyak 5 mL atau lebih besar. Perlu pengawet karena digunakan berulang kali sehingga kemungkinan adanya kontak dengan lingkungan luar yang ada mikroorganismenya 2.com/2014/01/makalah-peberian-obat-bab-ii. obat yang benar.6% – 0. Digunakan untuk mewadahi serbuk bahan obat. Vial adalah salah satu wadah dari bentuk sediaan steril yang umumnya digunakan pada dosis ganda dan memiliki kapasitas atau volume 0. kecuali untuk subkutan dan intravena harus dihitung isotonis (0. 13) 3. dan untuk zat yang mepunyai bakterisida tidak perlu ditambahkan pegawet BAB I11 PENUTIP 3. Vial dapat berupa takaran tunggal atau ganda. Bila diperdagangan. adalah zat pengawet yang cocok yang dapat ditambahkan ke dalam injeksi yang diisikan dalam wadah ganda/injeksi yang dibuat secara aseptik. waktu yang benar.5-100 ml. botol ini ditutup dengan sejenis logam yang dapat dirobek atau ditembus oleh jarum injeksi untuk menghisap cairan injeksi. rute yang benar.blogspot. Hal yang perlu diperhatikan untuk sediaan injeksi dalam wadah vial (takaran ganda): 1. Tidak perlu isotonis.2%) (FI IV hal.4. gumilar69.