Anda di halaman 1dari 3

Pola Penyebaran Populasi

1. Pengertian
Pola adalah distribusi menurut ruang. Data pola penyebaran tumbuhan dapat memberi
nilai tambah pada data densitas dari suatu spesies tumbuhan. Pola penyebaran tumbuhan
dalam suatu wilayah dapat dikelompokan menjadi tiga yaitu:
a. Acak
Pola peneyebaran secara acak dapat dilihat jika jarak , lokasi, sembarang tumbuhan
tidak mempunyai arah dan posisi terhadap lokasi spesies yang sama.
b. Mengelompok
Pola penyebaran mengelompok (Agregated atau undispersed), menunjukan bahwa
hadirnya suatu tumbuhan akan memberikan indikasi untuk menemukan tumbuhan yang
sejenis. Anggota tumbuhan yang ditemukan lebih banyak ditemukan secara mengelompok
dikarenakan ada beberapa alasan :
1) Reproduksi tumbuhan yang menggunkan
a) ruuner atau rimpang.
b) Reproduksi tumbuhan yang menggunakan biji cenderung jatuh di sekitar induk.
2) Lingkungan /habitat mikro pada tiap spesies yang mempunyai kesamanan pada anggota
spesies. Habitat dikatakan homogen pada lingkungan makro, namun pada lingkungan
mikro sangat berbeda. Mikrositus yang paling cocok untuk suatu spesies cenderung
ditempati lebih padat untuk spsies yang sama.
c. Teratur
Pola penyebaran teratur jika secara reguler dapat ditemui pada perkebunan, agricultur
yng lebih diutamakan efektifitas dan efisiensi lahan.

2.

Cara pengukuran pola


Bebrapa pengukuran pola diantaranya adalah:

a.

Menggunaan kuadrat acak.


Pemanfaatan jumlah individu yang berakar dalam tanah dihitung dalam kuadrat dan

merupakan data pengamatan. (observed). Data harapan dihitung dengan rumus Poison
yang hanya memerlukan jumlah rata rata tumbuhan per kuadrat. Perbedaan antara data
pengamatan daengan data harapan dinalisis dengan chi square. Contoh perhitungan dengan
analisis Poison untuk setiap spesies adalah sebagai berikut:
Tabel 3 : Analisis pola penyebaran spesies dengan menggunakan rumus Poison
Jumlah
tumbuhan
per kuadrat

Pengamatan jumlah
kuadrat dengan x
tumbuhan

13

Haraopan
Jumlah kuadrat dengan x tumbuhan =

e -m (mx /X!) (100)


21.0

X2
(Pengamatan Harapan) 2
Harapan

3.0

51

32.8

10.1

23

25.6

0.3

13.3

8.0

5.20

10

1.60

1.5

Total

100

99.5

2=22.9

Analisis dengan menggunakan kuadrat acak ini memerlukan minimal 100 kuadrat
yang diletakan secara acak. Ukuran plot disesuikan dengan tipe life form. Tumbuhan yang
dianalisis sebaiknya adalah tumbuhan yang tunggal seperti spesies Elepanthus, Tridaks
procumben. Pengelompokan dengan menggunakan klas skala B-B yang terdiri dari enam
kelas
Asumsi sebaran Tumbuhan secara umum adalah mengelompok, sehingga Ho:
dikatakan sebagai spesies tumbuhan X adalah tidak mengelompok. Penggunaan rumus
poison memerlukan jumlah rerata tumbuhan per juadrat (m), bilangan konstanta e =
2,7183, sehingga e -m = 0,21
Berdasarkan harga 2=22.9 dokonfirmasikan dengan tabel 2 dengan derajad bebas
3 = 11,34, maka nilai 2 hitung =22.9> 2 tabel = 11,34. Ho ditolak, artinya HA diterima
berarti tumbuhan tsb hidup secara mengelompok.
b. menggunakan metode jarak
Metode jarak dapat digunakan dalam perhitungan pola dengan tidak menggunakan
plot. Jarak antara tumbuhan yang salaing berdekatan dihitung dan akan dipelajari dalam
teknik sampling pada bab kemudian.
c. Freuensi
Frekuensi dapat digunakan untuk menaksir pola, dimana frekuensi adalah jumlah
kuadrat yang berisi spesies tumbuhan tertentu. Jika ada 50 kuadrat yang ditempatkan
dilapangan area pengamatan dan 25 diantaranya ditandai dengan hadirnya spesies tertentu
maka frekuensi tumbuhan tersebut adalah 50%.
Berdasarkan densitas dan frekuensi dapat juga digunakan sebagai prediksi untuk pola
spesies tumbuhan. Sebagai contoh adalah jika angka densitas tinngi dan frekuensi rendah
maka dapat diasumsikan bahwa tumbuhan tersebut adalah mengelompok, demian juga
sebaliknya. Tetapi penggunakan densitas dan frekuensi adalah ukuran yang tidak
independen karena masih ada faktor lain yaitu luas kuadrat yang digunakan berpengaruh
terhadap frekuensi yang hadir dalam kuadrat.