Anda di halaman 1dari 33

A.

Pentingnya K3 dalam dunia industri


Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aspek yang terpenting dalam aktivitas
dunia industri. Seberapa penting atau tidaknya akan kesehatan dan keselamatan kerja (K3)
tergantung pada seberapa besar pengaruhnya terhadap subjek atau objek itu sendiri.
Penerapan K3 di dunia industri mengalami beberapa kendala antara lain Costibility dan
understanding dalam penerapan K3 itu sendiri. Hal ini menuntut komitmen dan kesadaran
pada masing-masing pihak akan pentingnya K3. jika pihak industri sudah menyadari akan
pentingnya K3 yang pada dasarnya sangat berpengaruh pada produktifitas kerja, maka
masalah biaya dalam penerapannya akan menjadi suatu yang harus dipenuhi untuk
melengkapi

bahan

baku

industri

itu

sendiri.

Keselamatan kerja mencakup semua aspek, bisa melalui manusia (pekerja), metode, alat
atau lingkungan. Untuk keselamatan manusia dibekali dengan pengetahuan tentang
perlengkapan kegiatan kerjanya dengan instruksi kerja yang aman/SOP. Metode yang
representative dan compatible juga mampu mendatangkan keselamatan. Sedangkan mesin
(alat) memerlukan suatu aksesoris khusus dalam menunjang kerjanya agar mampu
beroperasi secara aman tanpa mengurangi fungsi aslinya dengan sedikit sentuhan teknologi
tidak menutup kemungkinan alat penunjang tersebut dalam keadaan tertentu bisa sangat
penting

sekali

eksistensinya.

Kesehatan (health) adalah derajat/tingkat keadaan fisik psikologi individu. Kesehatan ini
sangat besar andilnya dalam hal keselamatan dan kecelakaan kerja. Hal ini dikaitkan dengan
kondisi
a.

fisiologis

dari

Ketidakseimbangan

a)

Tidak

sesuai

b)

Posisi

tubuh

manusia

fisik/kemampuan
berat
yang

dapat

Kepekaan

panca

kekuatan

antara
dan

menyebabkan

mudah

:
lain

lemah
tubuh

indera

terhadap

bunyi
fisik

Cacat
Ketidakseimbangan

kemampuan

jangkauan

Cacat

f)
a)

pekerja

contoh

Kepekaan

e)
b.

fisik

badan,

c)
d)

seperti

sementara
psikologi

Rasa

takut

pekerja

antara

lain

(Phobia)

b)

Gangguan

emosional

c)

Sakit

jiwa

d)
e)

Tingkat
Tidak

kecakapan
mampu

memaha-mi

f)

Sedikit

g)

ide

Gerakan

yang

lamban

h)

Kurang

terampil

c.

Stress

mental

a)

Emosi

b)

berlebihan

Beban

c)

mental

Pendiam

d)

Problem

berlebihan

dan

sesuatu

tertutup

yang

tidak

dipahami

e)

Frustasi

f)

Sakit

mental

d.

Stress

fisik

a)

Badan

sakit

b)

Beban

tugas

c)

berlebihan

Kurang

d)

istirahat

Kelelahan

e)

sensori

Terpapar

f)

bahan

Terpapar

kimia

panas

g)

Kekurangan

h)

Gerakan

yang

tinggi
oksigen
terganggu

i) Gula darah menurun


Gangguan kesehatan akibat reaksi fotokimia (terbakar, luka, terkena bahan kimia) dalam
industri sangat seringkali terjadi dan penyumbang paling banyak dalam catatan kecelakaan
kerja ini menuntut suatu transformasi teknologi komplementer yang aman dan ramah
lingkungan.
Kecelakaan (accident) merupakan kejadian yang tidak diinginkan yang mengakibatkan luka
pada manusia, kerusakan harta benda, kerugian pada proses atau terjadinya kontak dengan
suatu benda atau sumber tenaga yang lebih dari daya tahan tubuh atau struktur. Kecelakaan
ini
a.

dibedakan
Lost

Time

Injure

(LTI)

menjadi

cidera

yang

mengakibatkan

hilangnya

:
waktu

kerja.

b. Restricted Duties Injure (RDI) ; cidera yang mengakibatkan kerja menjadi terbatas
c. Medical Treatment Injure (MTI) ;cidera yang memerlukan bantuan petugas kesehatan
d. First Aid Injure (FAI) ; cidera yang memerlukan P3K
Kecelakaan ini mengakibatkan kerugian yang tidak diinginkan antara lain :
a.
a)
b)
c)
b.

Kerugian
Kerusakan
Hari

bahan
kerja
Biaya
Kerugian

ekonomis
dan
yang

mesin
hilang
pengobat
non-ekonomis

a)

Penderitaan

b)
c)

Klaim
Konsekuensi

yang

hilang

fisik
atas

(hilang

waktu,

kepercayaan
hilangnya

kepercayaan

diri)

d) Rasa tidak aman


Masalah understanding pihak industri terhadap K3, tidak semua industri memahami potensi
bahaya yang dapat timbul dari metode kerja, terlebih lagi pada industri kecil dan menengah
yang pemahaman K3-nya sangat kurang. Oleh sebab itu diperlukan penelitian oleh tim ahli
untuk menganalisis potensi bahaya yang muncul terhadap setiap penerapan metode kerja
dan penggunaan alat/mesin, yang selanjutnya dapat mencari solusi untuk mengantisipasi
kecelakaan yang terjadi sehingga dapat meminimalisasinya agar tidak terjadi.
Untuk itu, LK3 adalah suatu program untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat, aman,
sejahtera dan produktif melalui upaya peningkatan kesehatan dan keselamatan tenaga kerja
serta keserasian lingkungan di dalam dan di sekitar perusahaan.
Sasaran
1.

Mencegah

LK3
terjadinya

kecelakaan

kerja

dan

:
penyakit

akibat

efek

kerja

dan

2. Mewujudkan produktifitas kerja dan meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja.


Tujuan

LK3:

1. Menjamin agar tenaga kerja dan orang lain di sekitar tempat kerja dalam keadaan selamat
dan
2.

sehat.
Menjamin

berlangsungnya

proses

produksi

secara

aman

dan

efisien.

3. Menjamin penggunaan sumber produksi secara lancar dan aman.


Kecelakaan kerja dapat terjadi pada setiap proses produksi. Untuk mewujudkan lingkungan
kerja yang sehat dan aman maka perlu dilakukan analisis keselamatan kerja. JSA (Job Safety
Analysis)dilakukan dengan menelusuri bahaya pekerjaan satu per satu secara teliti dari
tahapan input sampai output, kemudian dievaluasi setiap langkah dari bahaya dan mencari
solusi dari setiap bahaya yang diidentifikasi tersebut

Dalam dunia persaingan terbuka pada era globalisasi ini , perusahaan menerapkan standar acuan
terhadap berbagai hal terhadap industri seperti kualitas, manajemen kualitas, manajemen
lingkungan, serta keselamatan dan kesehatan kerja. Apabila saat ini industri pengekspor telah
dituntut untuk menerapkan Manajemen Kualitas (ISO-9000, QS-9000) serta Manajemen
Lingkungan (ISO-14000) maka bukan tidak mungkin tuntutan terhadap penerapan Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan kerja juga menjadi tuntutan pasar internasional.
Untuk menjawab tantangan tersebut Perusahaan menerapkan kebijakan kesehatan dan
keselamatan kerja berdasarkan pada peraturan dari pemerintah yang diwakili oleh Departemen
Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang telah menetapkan sebuah peraturan perundangan mengenai

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang tertuang dalam Peraturan
Menteri Tenaga Kerja Nomor : PER.05/MEN/1996.
Hal ini bertujuan untuk menciptakan sistem K3 di tempat kerja yang melibatkan segala pihak
sehingga dapat mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja dan terciptanya
tempat kerja yang aman, efisien, dan produktif.
Sumber : https://aekhulan.wordpress.com/2009/05/18/kesehatan-dan-keselamatan-kerja/#more129 . diakses: Selasa, 20 Oktober 2015

Lingkungan Kesehatan dan Keselamatan Kerja


Di sini ada Dollar gratis
Dalam dunia persaingan terbuka pada era globalisasi ini , perusahaan menerapkan standar
acuan terhadap berbagai hal terhadap industri seperti kualitas, manajemen kualitas,
manajemen lingkungan, serta keselamatan dan kesehatan kerja. Apabila saat ini industri
pengekspor telah dituntut untuk menerapkan Manajemen Kualitas (ISO-9000, QS-9000)
serta Manajemen Lingkungan (ISO-14000) maka bukan tidak mungkin tuntutan terhadap
penerapan Manajemen Keselamatan dan Kesehatan kerja juga menjadi tuntutan pasar
internasional.
Untuk menjawab tantangan tersebut Perusahaan menerapkan kebijakan kesehatan dan
keselamatan

kerja berdasarkan

pada

peraturan

dari

pemerintah

yang

diwakili

oleh

Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang telah menetapkan sebuah peraturan
perundangan mengenai Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang
tertuang dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor : PER.05/MEN/1996.
Hal ini bertujuan untuk menciptakan sistem K3 di tempat kerja yang melibatkan segala pihak
sehingga dapat mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja dan
terciptanya

tempat

kerja

yang

aman,

efisien,

dan

produktif.

Alasan harus menerapkan SMK 3 yaitu karena SMK3 bukan hanya tuntutan pemerintah,
masyarakat, pasar, atau dunia internasional saja tetapi juga tanggung jawab pengusaha
untuk menyediakan tempat kerja yang aman bagi pekerjanya. Selain itu penerapan SMK3
juga

mempunyai

banyak

manfaat

a.

bagi

industri

kita

antara

lain

Manfaat

1.

Mengurangi

2.

Menghindari

3.

Menciptakan

jam
kerugian
tempat

kerja
kerja

Langsung

yang

material

hilang
dan

yang

akibat

jiwa

efisien

dan

kecelakaan

akibat

kecelakaan

produktif

karena

kerja
kerja
tenaga

4. kerja merasa aman dalam bekerja


b.
1.

Manfaat
Meningkatkan

Tidak
image

market

Langsung
terhadap

:
perusahaan

2.

Menciptakan

hubungan

yang

harmonis

bagi

karyawan

dan

perusahaan.

3. Perawatan terhadap mesin dan peralatan semakin baik, sehingga membuat umur alat
semakin lama.
Dengan banyaknya keuntungan dalam penerapan SMK3 serta standarisasi SMK3 di Indonesia
yang cukup representatif, inilah saatnya bagi Industri Indonesia untuk melaksanakan SMK3
sesuaiPER.05/MEN/1996 baik industri skala kecil,

menengah,

hingga

besar. Sehingga

bersama-sama menjadi industri yang kompetitif, aman, dan efisien dalam menghadapi pasar
terbuka.
A. Laboratorium
Laboratorium adalah sarana yang dipergunakan untuk melakukan pengukuran, penetapan,
dan pengujian terhadap bahan yang digunakan untuk penentuan formula obat yang akan
dibuat. Untuk dapat menerapkan K3 yang baik, fasilitas laboratorium harus memenuhi
beberapa

persyaratan

berikut

ini.

1. Harus mempunyai sistem ventilasi yang memadai agar sirkulasi udara berjalan lancar.
2. Harus mempunyai alat pemadam kebakaran terhadap bahan kimia yang berbahaya yang
dipakai.
3. Harus menyediakan alat pembakar gas yang terbuka untuk menghindari bahaya
kebakaran.
4. Meja yang digunakan harus diberi bibir untuk menahan tumpahan larutan yang mudah
terbakar,

korosif

dan

melindungi

tempat

yang

aman

dari

bahaya

kebakaran

5. Menyediakan dua buah jalan keluar untuk keluar dari kebakaran dan terpisah sejauh
mungkin.
6. Tempat penyimpanan di laboratorium di desain untuk mengurangi sekecil mungkin risiko
oleh

bahan-bahan

berbahaya

dalam

jumlah

besar.

7. Harus tersedianya alat Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K).


B. Job Safety Analysis (JSA)
Kecelakaan kerja (accident) adalah suatu kejadian yang tidak diinginkan, tidak diduga, tidak
disengaja dan terjadi dalam hubungan kerja yang berdampak pada kerugian berupa cidera
pada pekerja, kerusakan barang-barang produksi dan kehilangan waktu selama proses
produksi. Kecelakaan kerja terjadi oleh karena kontak dengan substansi atau sumber energi
melebihi Nilai Ambang Batas (NAB).
Secara

umum

kecelakaan

kerja

dibagi

menjadi

a. Kecelakaan industri (industrial accident), yaitu kecelakaan yang terjadi di tempat kerja
karena

adanya

sumber

bahaya

atau

bahaya

kerja.

b. Kecelakaan dalam perjalanan (community accident), yaitu kecelakaan yang terjadi di luar
tempat kerja yang berkaitan dengan hubungan kerja.

Penyebab
a.

kecelakaan

Kondisi

1.

kerja

berbahaya

dapat

(unsafe

Mesin,

dibagi

condition),

peralatan,

dalam

yaitu

yang

kelompok

tidak

bahan

aman

dan

:
dari:

lain-lain

2.

Lingkungan

kerja

3.

Proses

kerja

4.

Sifat

5.

pekerjaan

Cara

kerja

b. Perbuatan berbahaya (unsafe act), yaitu perbuatan berbahaya dari manusia yang dapat
terjadi
1.

antara
Kurangnya

2.

lain

pengetahuan

Cacat

3.

Keletihan

dan

keterampilan

tubuh
dan

karena:
pelaksana

(bodily

kelemahan

daya

defect)
tahan

tubuh.

4. Sikap dan perilaku kerja yang tidak baik


Adapun bahaya yang akan dihadapi oleh pekerja dalam laboratorium jika kecelakaan terjadi
antara

lain

1. Bahaya kebakaran dan ledakan dari zat/bahan yang mudah terbakar atau meledak.
2.

Bahan

beracun,

corrosive.

3.

Bahaya

radiasi

4.

Luka

bakar

5.
6.

Syok
Luka

sayat

akibat

akibat

alat

gelas

aliran
yang

pecah

listrik

dan

benda

tajam

7. Bahaya infeksi dari kuman, virus atau parasit.


Adapun

beberapa

contoh

kecelakaan

yang

banyak

terjadi

di

laboratorium

a. Terpeleset , biasanya karena lantai licin yang dapat berakibat luka ringan (memar), luka
berat

(memar

otak)

Pencegahan

Dengan memakai sepatu anti slip, jangan memakai sepatu dengan hak tinggi, atau tali
sepatu longgar. Kemudian hati-hati bila berjalan pada lantai yang sedang dipel (basah dan
licin) atau tidak rata konstruksinya dan juga memperhatikan pemeliharaan lantai dan tangga.
b. Mengangkat beban merupakan pekerjaan yang cukup berat, terutama bila mengabaikan
kaidah

ergonomi

yang

dapat

berakibat

cedera

pada

Pencegahan

punggung.
:

Beban jangan terlalu berat, jangan berdiri terlalu jauh dari beban, jangan mengangkat beban
dengan posisi membungkuk tapi pergunakanlah tungkai bawah sambil berjongkok, dan
Pakaian

penggotong

jangan

terlalu

ketat

sehingga

pergerakan

terhambat.

c. Risiko terjadi kebakaran (sumber : bahan kimia, kompor, listrik), bahan desinfektan yang
mungkin mudah menyala (flammable) dan beracun. Kebakaran terjadi bila terdapat 3 unsur
bersama-sama yaitu: oksigen, bahan yang mudah terbakar dan panas. Yang dapat
mengakibatkan :Timbulnya kebakaran dengan akibat luka bakar dari ringan sampai berat

bahkan

kematian

dan

juga

timbulnya

keracunan

akibat

kurang

hati-hati.

Pencegahan
Konstruksi bangunan harus tahan api, sistem penyimpanan yang baik terhadap bahan-bahan
yang mudah terbakar, pengawasan terhadap kemungkinan timbulnya kebakaran yaitu adanya
sistem tanda kebakaran, yang manual yang memungkinkan seseorang menyatakan tanda
bahaya dengan segera ataupun otomatis yang menemukan kebakaran dan memberikan
tanda

secara otomatis,

adanya jalan untuk

menyelamatkan diri,

perlengkapan

dan

penanggulangan kebakaran, penyimpanan dan penanganan zat kimia yang benar dan aman.
C.

Penyakit

Akibat

Kerja

&

Penyakit

Akibat

Hubungan

Kerja

di

Laboratorium

Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi
yang kuat dengan pekerjaan, pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab, harus ada
hubungan sebab akibat antara proses penyakit dan hazard di tempat kerja. Faktor
Lingkungan kerja sangat berpengaruh dan berperan sebagai penyebab timbulnya Penyakit
Akibat Kerja.
Penyakit akibat kerja di laboratorium kesehatan umumnya berkaitan dengan faktor kimia
(pemaparan dalam dosis kecil namun terus menerus seperti antiseptic pada kulit, zat
kimia/solvent yang menyebabkan kerusakan hati; faktor ergonomi (cara duduk salah); faktor
fisik dalam dosis kecil yang terus menerus (panas pada kulit, tegangan tinggi, radiasi dan lain
lain.
a.

Faktor

Kimia

Petugas di laboratorium kesehatan yang sering kali kontak dengan bahan kimia dan obatobatan seperti antibiotic, demikian pula dengan solvent yang banyak digunakan dalam
komponen antiseptic, desinfektan dikenal sebagai zat yang paling karsinogen. Semua bahan
ini cepat atau lambat ini dapat memberi dampak negatif terhadap kesehatan pekerja.
Gangguan kesehatan yang paling sering adalah dermatosis (iritasi kulit) kontak akibat kerja
yang pada umumnya disebabkan oleh iritasi (amoniak, dioksan) dan hanya sedikit saja oleh
karena alergi (keton). Bahan toksik (trichloroethane, tetrachloromethane) jika tertelan,
terhirup atau terserap melalui kulit dapat menyebabkan penyakit akut atau kronik, bahkan
kematian. Bahan corrosive (asam dan basa) akan mengakibatkan kerusakan jaringan yang
irreversible pada daerah yang terpapar.
Pencegahan

1. Material Safety Data Sheet (MSDS) dari seluruh bahan kimia yang ada untuk diketahui
oleh

seluruh

petugas

laboratorium.

2. Menggunakan karet isap (rubber bulb) atau alat vakum untuk mencegah tertelannya
bahan kimia dan terhirupnya aerosol.
3. Menggunakan alat pelindung diri (pelindung mata, sarung tangan, jas laboratorium)
dengan

benar.

4. Menghindari penggunaan lensa kontak, karena dapat melekat antara mata dan lensa.
5. Menggunakan alat pelindung pernapasan dengan benar.
6.

Faktor

Ergonomi

Ergonomi berfungsi untuk menyerasikan alat, cara, proses dan lingkungan kerja terhadap
kemampuan, kebolehan dan batasan manusia untuk terwujudnya kondisi dan lingkungan
kerja yang sehat, aman, nyaman dan tercapai efisiensi yang setinggi-tingginya. Pendekatan
ergonomi bersifat konseptual dan kuratif, secara populer kedua pendekatan tersebut dikenal
sebagai to fit the Job to the Man and to fit the Man to the Job. Sebagian besar pekerja di
dalam laboratorium bekerja dalam posisi yang kurang ergonomi, misalnya tenaga operator
peralatan, hal ini disebabkan peralatan yang digunakan pada umumnya barang impor yang
disainnya tidak sesuai dengan ukuran pekerja Indonesia. Posisi kerja yang salah dan
dipaksakan dapat menyebabkan mudah lelah sehingga kerja menjadi kurang efisien dan
dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan fisik dan psikologis (stress) dengan
keluhan yang paling sering adalah nyeri pinggang kerja (low back pain).
Menurut M. Mikhew (ICHOIS 1997), gambaran umum yang menjadi ciri-ciri umum industri
dan
a)

yang

sering

Timbulnya

terjadi

risiko

bahaya

antara
pekerjaan

lain

yang

tinggi.

b) Keterbatasan sumber daya dalam mengubah lingkungan kerja dan menentukan pelayanan
kesehatan
c)

Rendahnya

kerja
kesadaran

terhadap

yang
faktor-faktor

fisik

kuat.
kesehatan

kerja.

d) Kondisi pekerjaan yang tidak ergonomi, kerja fisik yang berat dan jam kerja yang panjang.
e) Pembagian kerja di struktur yang beraneka ragam dan rendahnya pengawasan
manajemen
f)

Masalah

serta
perlindungan

pencegahan
lingkungan

bahaya-bahaya
tidak

terpecahkan

pekerjaan.
dengan

baik.

g) Kurangnya pemeliharaan kesehatan, jaminan keamanan, sosial (asuransi kesehatan) dan


fasilitas kesejahteraan.
Pelayanan kesehatan kerja yang diberikan melalui penerapan ergonomi, diharapkan dapat
meningkatkan mutu kehidupan kerja (Quality of Working Life), dengan demikian produktifitas
kerja dapat ditingkatkan dan penyakit akibat kerja dapat diturunkan, proses kerja dan
lingkungan kerja yang aman. Interaksi ini akan berjalan dengan baik bila ketiga komponen
tersebut dipersiapkan dengan baik dan saling menunjang. Misalnya menyesuaikan ukuran
peralatan kerja dengan postur tubuh pekerja dan menilai kelancaran gerakan tubuh pekerja.
Dalam penerapan ergonomi akan dipelajari cara-cara penyesuaian pekerjaan, alat kerja dan
lingkungan kerja dengan manusia, dengan memperhatikan kemampuan dan keterbatasan
manusia itu sehingga tercapai suatu keserasian antara manusia dan pekerjaannya yang akan
meningkatkan kenyamanan kerja dan produktifitas kerja.

Adapun beberapa posisi yang penting untuk penerapan ergonomi di tempat kerja adalah
sebagai

berikut

a.

Posisi

berdiri

Ukuran tubuh yang penting adalah tinggi badan berdiri, tinggi bahu, tinggi siku, tinggi
pinggul,

panjang

b.

lengan.

Posisi

duduk

Ukuran tubuh yang penting adalah tinggi duduk, panjang lengan atas, panjang lengan bawah
dan tangan, jarak lekuk lutut dan garis punggung, serta jarak lekuk lutut dan telapak kaki.
Di

samping

itu,

pengenalan

mempertimbangkan
a.

Anatomi

dan

1.

permasalahan

beberapa

gerak

aspek

terdapat

ergonomi

(bidang

(dua)

Antropometris

hal

di

kajian

penting

tempat

kerja

ergonomi),

yang

yaitu

berhubungan,

dipengaruhi

perlu
:

yakni

oleh

:
:

a.

Jenis

kelamin

b.

Perbedaan

bangsa

c.

Sifat/hal-hal

d.

Kebiasaan

yang

diturunkan

yang

2.

berbeda

Biomekanik

kerja

Misalnya dalam hal penerapan ilmu gaya antara lain sikap duduk/berdiri yang tidak/kurang
melelahkan karena posisi yang benar dan ukuran peralatan yang telah diperhitungkan.
b.

Fisiologi

dibagi

menjadi

1. Fisiologi lingkungan kerja yang berhubungan dengan kenyamanan dan pengamanan


terhadap

potential

2.

hazards,

ruang

gerak

dan

yang

memadai.

fisiologi

kerja

c.

Psikologi

Perasaan aman, nyaman dan sejahtera dalam bekerja yang didapatkan oleh pekerja. Hal ini
dapat

terjadi

karena

lingkungan

menimbulkan

kerja

(cahaya,

ventilasi,

stres

posisi

kerja)

pada

yang

tidak

pekerja.

d. Rekayasa dan teknologi merupakan kiat-kiat untuk mendesain peralatan yang sesuai
dengan ukuran tubuh dan batasan-batasan pergerakan manusia. Dan juga dapat memberi
rasa

aman

terhadap

pekerjaannya.

e. Penginderaan merupakan kemampuan kelima indera manusia menangkap isyarat-isyarat


yang datang dari luar.
Untuk menerapkan ergonomi maka ada beberapa persyaratan yang harus dilaksanakan
antara
a.
1.

lain

Posisi

Terasa

2.
3.
b.

duduk/bekerja
nyaman

Tidak
Dapat

dengan

melakukan
Posisi

duduk,
selama

:
ada

bekerja

persyaratan

melaksanakan

menimbulkan
pekerjaannya

beberapa

pekerjaannya.

gangguan
dengan
dengan

baik

psikologis.
dan
berdiri

memuaskan.
:

Berdiri dengan posisi yang benar, dengan tulang punggung yang lurus dan bobot badan
terbagi

rata

pada

c.

kedua

tungkai.

Proses

bekerja

Ukuran yang benar akan memudahkan seseorang dalam melakukan pekerjaannya, tetapi
akibat postur tubuh yang berbeda, perlu pemecahan masalah terutama di negara-negara
berkembang yang menggunakan peralatan impor sehingga perlu disesuaikan kembali,
misalnya tempat kerja yang harus dilakukan dengan berdiri sebaiknya ditambahi bangku
panjang setinggi 10-25 cm agar orang dapat bekerja sesuai dengan tinggi meja dan tidak
melelahkan.
d.

Penampilan

tempat

kerja

Mungkin akan menjadi baik dan lengkap bila disertai petunjuk-petunjuk berupa gambargambar

yang

mudah

diingat,

e.

mudah

dilihat

setiap

saat.

Mengangkat

beban

Terutama di negara berkembang mengangkat beban adalah pekerjaan yang lazim dan sering
dilakukan tanpa dipikirkan efek negatifnya, antara lain : kerusakan tulang punggung,
kelainan bentuk otot karena pekerjaan tertentu, Penanggulangan permasalahan ergonomi di
setiap jenis pekerjaan dapat dilakukan setelah mengetahui terlebih dahulu bagaimana proses
kerja dan posisi kerjanya
Untuk menanggulangi Permasalahan Ergonomi maka dilakukan beberapa sistem pemecahan
masalah antara lain mengidentifikasi masalah yang sedang dihadapi dengan mengumpulkan
sebanyak mungkin informasi kemudian menentukan prioritas masalah; masalah yang paling
mencolok harus ditangani lebih dahulu. Setelah analisis dikerjakan, maka satu atau dua
alternatif intervensi harus diusulkan. Pada pengenalan/rekognisi ada 3 hal yang harus
diperhatikan, yang saling berinteraksi dalam penerapan ergonomi dengan fokus utama pada
sumber daya manusia (human centered design) :
a. Kesehatan mental dan fisik harus diperhatikan untuk diperbaiki sehingga didapatkan
tenaga kerja yang sehat fisik, rohani dan sosial yang memungkinkan mereka hidup produktif
baik

secara

sosial

maupun

ekonomi.

b. Kemampuan jasmani dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan antropometri,


lingkup

gerak

sendi

dan

kekuatan

otot.

c. Lingkungan tempat kerja harus memberikan ruang gerak secukupnya bagi tubuh dan
anggota badan sehingga dapat bergerak secara leluasa dan efisien sehingga dapat
menimbulkan

rasa

aman

dan

tidak

menimbulkan

stres

lingkungan.

d. Pembebanan kerja fisik selama bekerja, kebutuhan peredaran darah dapat meningkat
sepuluh sampai dua puluh kali. Meningkatnya peredaran darah pada otot-otot yang bekerja,
memaksa
Kerja

jantung
otot

dapat

untuk

memompa

dikelompokkan

menjadi

darah
dua

lebih
jenis

banyak.
yaitu

1. Kerja otot dinamik, ditandai dengan kontraksi bergantian yang berirama dan ekstensi,
ketegangan

dan

istirahat.

2. Kerja otot statik, ditandai oleh kontraksi otot yang lama yang biasanya sesuai dengan
sikap tubuh. Tidak dianjurkan untuk meneruskan kerja otot statik dalam jangka lama karena
akan

timbul

rasa

nyeri

dan

memaksa

tenaga

kerja

untuk

berhenti.

e. Sikap tubuh dalam bekerja berhubungan dengan tempat duduk, meja kerja dan luas
pandangan. Untuk merencanakan tempat kerja dan perlengkapannya diperlukan ukuranukuran tubuh yang menjamin sikap tubuh paling alamiah dan memungkinkan dilakukannya
gerakan-gerakan yang dibutuhkan. Pada posisi berdiri dengan pekerjaan ringan, tinggi
optimum area kerja adalah 5-10 cm di bawah siku. Agar tinggi optimum ini dapat diterapkan,
maka perlu diukur tinggi siku yaitu jarak vertikal dari lantai ke siku dengan keadaan lengan
bawah men-datar dan lengan atas vertikal. Tinggi siku pada laki-laki misalnya 100 cm dan
pada wanita misalnya 95 cm, maka tinggi meja kerja bagi laki-laki adalah antara 90-95 cm
dan bagi wanita adalah antara 85-90 cm.
7.

Faktor

Fisik

Faktor fisik di laboratorium yang dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja meliputi:
1.

Kebisingan,

getaran

akibat

mesin

dapat

menyebabkan

stress

dan

ketulian

2. Pencahayaan yang kurang di ruang timbang, laboratorium, dapat menyebabkan gangguan


penglihatan
3.
4.

dan

Suhu

dan

Terimbas

kecelakaan

kelembaban

yang

tinggi

kecelakaan/kebakaran

kerja.
di

akibat

tempat

kerja

lingkungan

sekitar.

5. Terkena radiasi khusus untuk radiasi, dengan berkembangnya teknologi pemeriksaan,


penggunaannya meningkat sangat tajam dan jika tidak dikontrol dapat membahayakan
petugas yang menangani.
Pencegahan
1.
2.

:
Pengendalian

Pengaturan

3.

cahaya

ventilasi

Menurunkan

dan

di

penyediaan

getaran

air

ruang
minum

dengan

laboratorium.

yang

cukup

bantalan

4.

Pengaturan

jadwal

kerja

5.

Pelindung

mata

untuk

memadai.

anti

vibrasi

yang

sesuai.

sinar

laser

6. Filter untuk mikroskop


D.
1.
a.

Pengendalian
Pengendalian
UU

d.
e.
f.
g.

Melalui

No.

b.
c.

Penyakit
14

No.

UU
Peraturan

Menteri

Peraturan

dan

1969

tahun
23

1970
tentang

penggunaan

Peraturan/persyaratan

(Legislative

Kerja

Control)

Melalui
antara

Ketentuan-ketentuan

dan

tahun

Kesehatan

Kecelakaan

Tentang

kesehatan
1

No.

Kerja

Perundang-undangan
Tahun

Petugas
UU

Akibat

non

tentang

Keselamatan

1992
higiene

tentang
dan

sanitasi

bahan-bahan
pembuangan

K3

lain

Pokok
kesehatan
Kerja.
Kesehatan

lingkungan.
berbahaya
limbah

2. Pengendalian melalui Administrasi / Organisasi (Administrative Control) antara lain:

a.

Pengaturan

jam

kerja,

lembur

dan

shift

b. Menyusun Prosedur Kerja Tetap (Standard Operating Procedure) untuk masing-masing


instalasi
c.

dan

melakukan

Melaksanakan

prosedur

pengawasan

keselamatan

kerja

terhadap

(safety

pelaksanaannya

procedures)

terutama

untuk

pengoperasian alat-alat yang dapat menimbulkan kecelakaan dan melakukan pengawasan


agar
d.

prosedur
Melaksanakan

tersebut

pemeriksaan

secara

seksama

dilaksanakan

penyebab

kecelakaan

kerja

dan

mengupayakan pencegahannya.
3.

Pengendalian

a.

Substitusi

b.

Isolasi

c.

Secara
dari

dari

Teknis

bahan

bahan-bahan

Perbaikan

(Engineering

kimia,
kimia,

alat
alat

antara

lain:

atau

proses

kerja

kerja

kerja,

sistem

Control),
penggunaan

ventilasi,

alat

pelindung.

dan

lain-

4. Pengendalian Melalui Jalur kesehatan (Medical Control) dengan melakukan beberapa


pemeriksaan

terhadap

pekerjanya

dengan

beberapa

langkah

Pemeriksaan

yaitu

:
Awal

Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebelum seseorang calon / pekerja memulai


melaksanakan pekerjaannya. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran
tentang status kesehatan calon pekerja dan mengetahui apakah calon pekerja tersebut
ditinjau dari segi kesehatannya sesuai dengan pekerjaan yang akan ditugaskan kepadanya
yang
1)

meliputi
Penyakit

pemeriksaan
yang

terhadap
pernah

2)
3)

diderita
Alrergi

Imunisasi

4)
5)

yang

pernah

Pemeriksaan
Pemeriksaan

didapat
badan

laboratorium

rutin

6) Pemeriksaan tertentu :
a.

Pemeriksaan

Berkala

Pemeriksaan kesehatan yang dilaksanakan secara berkala dengan jarak waktu berkala yang
disesuaikan dengan besarnya resiko kesehatan yang dihadapi. Makin besar resiko kerja,
makin kecil jarak waktu antara pemeriksaan berkala. Ruang lingkup pemeriksaan disini
meliputi pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus seperti pada pemeriksaan awal dan
bila diperlukan ditambah dengan pemeriksaan lainnya, sesuai dengan resiko kesehatan yang
dihadapi dalam pekerjaan.
b.

Pemeriksaan

Khusus

Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada khusus di luar waktu pemeriksaan berkala, yaitu
pada keadaan dimana ada atau diduga ada keadaan yang dapat mengganggu kesehatan
pekerja. Sebagai unit di sektor kesehatan pengembangan K3 tidak hanya untuk intern
laboratorium kesehatan, dalam hal memberikan pelayanan paripurna juga harus merambah

dan memberi panutan pada masyarakat pekerja di sekitarnya, utamanya pelayanan promotif
dan preventif.
E.

Sistem

Manajemen

Kesehatan

dan

Keselamatan

Kerja

Kemudian, oleh perusahaan melakukan beberapa tindakan untuk mencegah kecelakaan kerja
yang terjadi bagi pekerjanya khususnya di bagian laboratorium yaitu dengan menerapkan
Sistem Manajemen Kebijakan dan Keselamatan Kerja yang dimulai dari beberapa tahapan
yaitu : Planning (perencanaan),Organizing (organisasi), Actuating (pelaksanaan), Controlling
(pengawasan).
1.

Planning

(Perencanaan)

Berfungsi untuk menentukan kegiatan yang akan dilakukan di masa mendatang guna
mencapai tujuan yang telah ditetapkan khususnya keselamatan dan kesehatan kerja di
laboratorium.
2.

Organizing

Berfungsi
a)

Menyusun

(Organisasi)
untuk

garis

besar

pedoman

:
keamanan

kerja

laboratorium

b) Memberikan bimbingan, penyuluhan, pelatihan pelaksana-an keamanan kerja laboratorium


c)

Memantau

pelaksanaan

pedoman

keamanan

kerja

laboratorium

d) Memberikan rekomendasi untuk bahan pertimbangan penerbitan izin laboratorium


e) Mengatasi dan mencegah meluasnya bahaya yang timbul dari suatu laboratorium
3.

Actuating

(Pelaksanaan)

Berfungsi untuk mendorong semangat kerja pekerja, mengerahkan aktivitas pekerja,


mengkoordinasikan berbagai aktivitas pekerja menjadi aktivitas yang kompak (sinkron),
sehingga semua aktivitas pekerja sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.
4.

Controlling

(Pengawasan)

Berfungsi untuk mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana


yang ditetapkan atau hasil yang dikehendaki.
Untuk dapat menjalankan pengawasan, perlu diperhatikan 2 prinsip pokok, yaitu: adanya
rencana dan adanya instruksi-instruksi dan pemberian wewenang kepada bawahan.
Dalam pengawasan perlu adanya sosialisasi tentang perlunya disiplin, mematuhi segala
peraturan demi keselamatan kerja bersama di laboratorium. Sosialisasi perlu dilakukan terus
menerus, karena usaha pencegahan bahaya yang bagaimanapun baiknya akan sia-sia bila
peraturan

diabaikan.

Dalam laboratorium perlu dibentuk pengawasan laboratorium yang tugasnya antara lain :
a) Memantau dan mengarahkan secara berkala praktek-praktek laboratorium yang baik,
benar

dan

aman

b) Memastikan semua petugas laboratorium memahami cara-cara menghindari risiko bahaya

dalam
c)

laboratorium

Melakukan

penyelidikan/pengusutan

segala

peristiwa

berbahaya

atau

kecelakaan.

d) Mengembangkan sistem pencatatan dan pelaporan tentang keamanan kerja laboratorium


e) Melakukan tindakan darurat untuk mengatasi peristiwa berbahaya dan mencegah
meluasnya bahaya tersebut.
Daftar

Pustaka

dari

berbagai

sumber

http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/cdk_154_kesehatankerja.pdf
sumber

https://aekhulan.wordpress.com/2009/04/11/lingkungan-kesehatan-dan-

keselamatan-kerja/#more-40 . diakses : Selasa, 20 Oktober 2015

Keutamaan K3 dalam Dunia Industri


Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dibanyak perusahaan di Indonesia masih dilihat
sebelah mata. Banyak perusahaan yang menganggap masalah K3 adalah masalah ringan
yang tidak perlu fokus untuk menerapkan manajemen K3 secara khusus.

INDONESIA hingga saat ini masih memiliki tingkat keselamatan kerja yang rendah jika
dibandingkan dengan negara-negara maju yang telah sadar betapa penting regulasi dan
peraturan tentang K3 ini untuk diterapkan. Kesadaran akan hal ini masih sangat rendah baik
itu mulai dari pekerja hingga perusahaan atau pemilik usaha.

Regulasi ini sangat penting untuk dilaksanakan dan dipatuhi dalam dunia kerja karena dapat
mendatangkan manfaat yang positif untuk meningkatkan produktivitas pekerja dan mampu
meningkatkan probality usia kerja karyawan dari suatu perusahaan menjadi lebih panjang.

Sejauh ini, kalaupun ada perusahaan yang menerapkan regulasi K3 biasa bukan karena
dorongan kesadaran sendiri, tapi lebih dikarenakan adanya tuntutan dari buyers atau para
pembeli, terutama ketika perusahaan tersebut melakukan pemasaran ekspor atas hasil
barang produksinya ke pasar international seperti ke Eropa dan negara-negara maju lainnya.
Selain itu biaya dalam menerapkan regulasi ini juga masih dipersoalkan, baik itu mulai dari
biaya pembelian safety accessories peralatan itu sendiri maupun biaya maintenance atau
biaya perawatannya.

Contoh saja, untuk perusahaan yang mengoperasikan mesin-mesin berat yang mengeluarkan
suara bising yang dapat menimbulkan hazard (bahaya) terhadap kerusakan telinga, harus
mengeluarkan biaya uang kurang lebih sekitar enam ratus ribu rupiah untuk membeli
peralatan penutup telinga untuk per unit-nya. Tentunya bagi perusahaan yang hanya
memikirkan keuntungan sesaat, maka hal ini akan dianggap sebagai biaya tambahan yang
lumayan relatif besar yang riskan untuk mengurangi pendapatan perusahaan.

Di Indonesia sangat jarang mendengar demonstrasi yang menuntut akan perbaikan


prosedure tentang K3. Yang sering dengar adalah biasanya para buruh atau karyawan atau
pekerja selalu menuntut untuk perbaikan nilai gaji atau salary yang didapatkan. Kondisi ini
menunjukan bahwa masyarakat kita cenderung mengabaikan tentang pentingnya regulasi ini.
Kita juga sering lihat banyak pekerja secara individual (bukan yang terikat dengan
perusahaan) dengan pekerjaan yang memiliki tingkat kecelakaan yang tinggi namun hanya
menggunakan peralatan yang sederhana. Hal ini tentunya tidak sebanding dengan
probabilitas tingkat resiko kecelakaan yang dihadapi.

Pemerintah sebenarnya telah mengeluarkan aturan yang cukup tegas dan cukup jelas
tentang regulasi keselamatan dan kesehatan kerja yang harus diterapkan oleh perusahaanperusahaan yang beroperasi di tanah air. Namun entah mengapa dalam pelaksanaannya
masih carut marut tidak jelas. Sejauh ini, mungkin perusahaan-perusahaan yang telah gointernational seperti di bidang migas yang telah menerapakan dengan cukup baik aturan ini,
selebihnya susah untuk dilakukan pengontrolan. Apakah penyebabnya? Apakah karena
kultur masyarakat kita sudah sedemikian lalai dan tidak terlalu memperdulikan tentang
prosedur ini hingga mungkin nyawa pekerja memiliki resiko besar untuk hilang dengan
mudah di tempat kerja.

Sudah saatnya aturan K3 diterapkan dengan baik untuk meminimalisir kemungkinankemungkinan buruk yang tidak dapat diprediksi. Mungkin jika kita menanyakan kepada para
pekerja tentang K3, maka sebagian besar pasti menjawab hanya pada tingkat yang abu-abu
atau tidak begitu memahami dan menyadari arti pentingnya K3 itu sendiri. K3 adalah salah
satu jenis hak pekerja agar dapat bekerja dengan baik dengan tetap mengedepankan
keselamatan.

Mengingat begitu pentingnya K3 seharusnya tidak terpinggirkan oleh hal-hal strategis pekerja
lainnya seperti nilai gaji yang layak, dan hak-hak lainnya. Yang terpenting adalah pekerja
disini adalah objek dan sekaligus sebagai subjek dari regulai K3 itu sendiri, sehingga jika K3
dilaksanakan dengan baik maka pekerja itu sendiri akan menerima effek positifnya dan
begitu juga untuk keadaan sebaliknya.

Penerapan dengan baik akan regulasi keselamatan dan kesehatan kerja bukan hanya
tanggung jawab pemerintah, tapi juga tanggung jawab semua elemen yang terlibat di
dalamnya seperti pihak perusahaan atau wirausaha, pekerja dan masyrakat secara
keseluruhan.

Ingat! International labour Organization ( ILO ) memperkirakan di seluruh dunia ada 6000
pekerja kehilangan nyawa setiap hari akibat kecelakaan, luka-luka, dan penyakit akibat resiko
kerja. Selain itu setiap tahun 270 juta pekerja menderita luka parah dan 160 juta lainnya
mengalami penyakit jangka panjang ataupun pendek terkait dengan pekerjaan mereka.
Banyak perusahaan tidak menyediakan alat keselamatan dan pengaman untuk pekerjanya.
dan banyak pengusaha juga mengabaikan K3 karena enggan mengeluarkan biaya tambahan.
Hukum sudah dengan ketat mengaturnya cuma implementasi di lapangan tidak semudah itu.
Sekarang semua harus menyadari bahwa K3 sangat penting artinya untuk diiplementasikan
dengan nyata di lapangan demi perusahaan maupun pekerja sendiri.
Sumber

http://mohammadsafaat18.blogspot.co.id/2014/12/keutamaan-k3-dalam-dunia-

industri.html . Diakses : selasa, 20 oktober 2015

Pentingnya K3
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dibanyak perusahaan di Indonesia masih dilihat
sebelah mata. Banyak perusahaan yang menganggap masalah K3 adalah masalah ringan
yang

tidak

perlu

fokus

untuk

menerapkan

manajemen

K3

secara

khusus.

Indonesia hingga saat ini masih memiliki tingkat keselamatan kerja yang rendah jika
dibandingkan dengan negara-negara maju yang telah sadar betapa penting regulasi dan
peraturan tentang K3 ini untuk diterapkan (selengkapnya mengenai angka kecelakaan kerja
di Indonesia, klik disini). Kesadaran akan hal ini masih sangat rendah baik itu mulai dari
pekerja hingga perusahaan atau pemilik usaha. Regulasi ini sangat penting untuk
dilaksanakan dan dipatuhi dalam dunia kerja karena dapat mendatangkan manfaat
yang positif untuk meningkatkan produktivitas pekerja dan mampu meningkatkan probality
usia kerja karyawan dari suatu perusahaan menjadi lebih panjang.

Sejauh ini, kalaupun ada perusahaan yang menerapkan regulasi K3 biasa bukan karena
dorongan kesadaran sendiri, tapi lebih dikarenakan adanya tuntutan dari buyers atau
para pembeli, terutama ketika perusahaan tersebut melakukan pemasaran ekspor atas
hasil barang produksinya ke pasar international seperti ke Eropa dan negara-negara
maju lainnya. Ini menunjukkan komitmen terhadap safety atau keselamatan yang masih
sangat kurang, mengenai komitmen safety selengkapnya klik disinidan disini. Selain itu
biaya dalam menerapkan regulasi ini juga masih dipersoalkan, baik itu mulai dari
biaya pembelian safety accessories peralatan itu sendiri maupun biaya maintenance
atau

biaya

perawatannya.

Contoh saja, untuk perusahaan yang mengoperasikan mesin-mesin berat yang


mengeluarkan suara bising yang dapat menimbulkan hazard (bahaya) terhadap kerusakan
telinga, harus mengeluarkan biaya uang kurang lebih sekitar enam ratus ribu rupiah
untuk membeli peralatan penutup telinga untuk per unit-nya. Tentunya bagi perusahaan
yang hanya memikirkan keuntungan sesaat, maka hal ini akan dianggap sebagai biaya
tambahan yang lumayan relatif besar yang riskan untuk mengurangi pendapatan
perusahaan.

Padahal

K3

justru

menguntungkan

dilihat

dari

sisi

selengkapnya disini,disini, disini,

ekonomi,
dan disini.

Di Indonesia sangat jarang mendengar demonstrasi yang menuntut akan perbaikan


prosedure tentang K3. Yang sering dengar adalah biasanya para buruh atau karyawan
atau pekerja selalu menuntut untuk perbaikan nilai gaji atau salary yang didapatkan.
Kondisi ini menunjukan bahwa masyarakat kita cenderung mengabaikan tentang
pentingnya regulasi ini. Kita juga sering lihat banyak pekerja secara individual (bukan
yang terikat dengan perusahaan) dengan pekerjaan yang memiliki tingkat kecelakaan yang
tinggi namun hanya menggunakan peralatan yang sederhana. Hal ini tentunya tidak
sebanding

dengan

probabilitas

tingkat

resiko

kecelakaan

yang

dihadapi.

Pemerintah sebenarnya telah mengeluarkan aturan yang cukup tegas dan cukup jelas

tentang regulasi keselamatan dan kesehatan kerja yang harus diterapkan oleh perusahaanperusahaan yang beroperasi di tanah air. Namun entah mengapa dalam pelaksanaannya
masih carut marut tidak jelas. Sejauh ini, mungkin industri-industri atau perusahaanperusahaan yang telah go-international terutama di bidang migas yang mayoritas telah
menerapakan dengan cukup baik aturan ini, selebihnya susah untuk dilakukan
pengontrolan. Apakah penyebabnya? Mengapa komitmen safety kurang? Apakah karena
kultur masyarakat kita sudah sedemikian lalai dan tidak terlalu memperdulikan tentang
prosedur ini hingga mungkin nyawa pekerja memiliki resiko besar untuk hilang dengan
mudah

di

tempat

kerja!

Sudah saatnya aturan K3 diterapkan dengan baik untuk meminimalisir kemungkinankemungkinan buruk yang tidak dapat diprediksi. Mungkin jika kita menanyakan kepada
para pekerja tentang K3, maka sebagian besar pasti menjawab hanya pada tingkat yang
abu-abu atau tidak begitu memahami dan menyadari arti pentingnya K3 itu sendiri. K3
adalah salah satu jenis hak pekerja agar dapat bekerja dengan baik dengan tetap
mengedepankan

keselamatan.

Mengingat begitu pentingnya K3 seharusnya tidak terpinggirkan oleh hak-hal strategis


pekerja lainnya seperti nilai gaji yang layak, dan hak-hak lainnya. Yang terpenting adalah
pekerja disini adalah objek dan sekaligus sebagai subjek dari regulai K3 itu sendiri,
sehingga jika K3 dilaksanakan dengan baik maka pekerja itu sendiri akan menerima efek
positifnya

dan

begitu

juga

untuk

keadaan

sebaliknya.

Penerapan regulasi keselamatan dan kesehatan kerja yang baik bukan hanya tanggung
jawab pemerintah, tapi juga tanggung jawab semua elemen yang terlibat di dalamnya
seperti pihak perusahaan atau wirausaha, pekerja, dan masyarakat secara keseluruhan.
Ingat! International labour Organization (ILO) memperkirakan di seluruh dunia ada 6000
pekerja kehilangan nyawa setiap hari akibat kecelakaan, luka-luka, dan penyakit
akibat resiko kerja. Selain itu setiap tahun 270 juta pekerja menderita luka parah dan
160 juta lainnya mengalami penyakit jangka panjang ataupun pendek terkait dengan
pekerjaan mereka. Banyak perusahaan tidak menyediakan alat keselamatan dan
pengaman untuk pekerjanya. dan banyak pengusaha juga mengabaikan K3
karena enggan mengeluarkan biaya tambahan. Hukum sudah dengan ketat mengaturnya
cuma implementasi di lapangan tidak semudah itu. Sekarang semua harus
menyadari bahwa K3 sangat penting artinya untuk diiplementasikan dengan
nyata

di

lapangan

demi

perusahaan

maupun

pekerja

sendiri.

Sumber:

http://mcmedia.co.id/index.php/19-berita-corporate/37-pentingnya-k3-bagi-

karyawan-perusahaan
Kategori: K3
http://ergonomi-fit.blogspot.co.id/2012/01/pentingnya-k3.html

masalh ketika k3 tidak ditarapkandalam industri

LANDASAN TEORI
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan upaya perlindungan
terhadap keselamatan serta kesehatan para tenaga kerja selama mereka bekerja
di perusahaan tempat mereka bekerja. K3 memiliki 2 aspek penting, yaitu
mengenai keselamatan kerja para karyawannya dan kesehatan para
karyawannya. Keselamatan kerja ini sangat berhubungan erat dengan proses
produksi suatu perusahaan. Terutama di Indonesia yang semakin berkembang
negaranya, semakin berkembang pula tingkat kecelakaan kerja yang terjadi.
Keselamatan Kerja telah diatur dalam Undang-Undang No.1 tahun 1970 tentang
keselamatn kerja dalam pasal 3 ayat (1) dan pasal 9 ayat (3), yang berbunyi:
Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja
untuk:
1.

Mencegah

dan

mengurangi

2.

Mencegah,

3.

Mencegah

4.

Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu


kebakaran
atau
kejadian-kejadian
lain
yang
berbahaya

5.

Memberi

6.

Memberi

mengurangi
dan

dan

alat-alat

memadamkan

kebakaran

bahaya

peledak

mengurangi

pertolongan
perlindungan

kecelakaan

pada
diri

kecelakaan
pada

pekerja

7.

Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik


physic maupun psychis, peracunan, infeksi dan penularan

8.

Memelihara

9.

Memperoleh keseerasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan cara


dan
proses
kerjanya

10. Menyesuaikan

bahaya

kebersihan,

kesehatan

dan

ketertiban

dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang


kecelakaannya
bertambah
tinggi

Sedangkan mengenai Kesehatan Kerja telah diatur dalam Undang-Undang


Kesehatan No. 23 Tahun 1992 Bagian 6 tentang Kesehatan Kerja, Pada pasal 23
yang
berisi:
1.

Kesehatan kerja diselenggarakan untuk mewujudkan produktivitas kerja


yang
optimal.

2.

Kesehatan kerja meliputi perlindungan kesehatan kerja, pencegahan


penyakit
akibat
kerja,
dan
syarat
kesehatan
kerja.

3.

Setiap

tempat

kerja

wajib

menyelenggarakan

kesehatan

kerja.

Jadi, keselamatan dan kesehetan kerja harus diselenggarakan dalam setiap


perusahaan. Karena kecelakaan dan penyakit datang secara tidak terduga dan
tanpa
diharapkan.

PEMBAHASAN
Faktor Penyebab Perusahaan Masih
Belum Memberikan Pelayanan K3 Yang
Baik
Tidak sedikit dari perusahaan yang masih belum memberikan pelayanan K3
yang baik dan benar terhadap karyawannya. Padahal hal tersebut sangat penting
untuk masa depan perusahaan juga. Hal ini dapat disebabkan karena faktor

berikut:
1.

Manajemen
perusahaan
rendan
pada
program
perusahaan

memberikan
K3
dalam

prioritas
program

Hampir di banyak perusahaan yang ada, program K3 tidak pernah


dibahas dalam rapat-rapat yang diselenggarakan perusahaan tersebut.
perusahaan hanya terlalu fokus pada produksi perusahaan sedangkan
program K3 tersebut sangat dibelakangkan. Jika sudah terjadi kecelakaan,
barulah perusahaan akan mengingat mengenai K3 tersebut. Namun tetap
perusahaan tidak memprioritaskan program K3 dalam pengoperasiannya.
2.

Kurangnya pengetahuan mengenai K3 baik dari


perusahaan
maupun
karyawannya
Pengetahuan mengenai K3 oleh karyawan ataupun pihak perusahaan
terkadang masih rendah. Baik pengetahuan mengenai cara penerapan K3
yang benar, dampak apabila perusahaan tidak menerapkan K3 tersebut,
dan sebagainya. Hal inilah yang membuat perusahaan masih kurang
dalam
memberikan
pelayanan
K3
untuk
karyawannya.

3.

Keterbatasan modal dalam memberikan pelayanan


K3
Untuk memberikan pelayanan K3 yang benar tentu diperlukan berbagai
modal untuk melaksanakannya terhadap para karyawan. Terkadang
kondisi keuangan perusahaan tersebut tidak mendukung karena
kurangnya modal untuk meningkatkan kualitas pelayanan K3 sehingga
penerapan K3 pun tidak maksimal.

4.

Pengawasan
penerapan

pemerintah

yang

lemah

mengenai
K3

Peraturan K3 memang sudah memiliki undang-undang yang sah dimata


hukum. Namun, pemerintah sendiri masih kurang dalam hal mengawasi
berjalannya peraturan hukum tersebut. Pemerintah hanya menganggap
semuanya akan berjalan lancer bila sudah memiliki hukum yang kuat.

Padahal dalam kenyataannya, penerapan K3 masih sangat kurang


meskipun
telah
memiliki
Undang-Undang
yang
kuat.
Itulah penyebab masih adanya perusahaan yang belum bisa melaksanakan
program
K3
dengan
baik
dan
benar.

Pelaksanaan
K3
Yang
Seharusnya
Diterapkan

Baik
Yang
Perusahaan

Mungkin di setiap perusahaan ada program K3, namun tidak semua perusahaan
menjalankan program K3 tersebut dengan baik dan benar karena disebabkan
oleh beberapa faktor. Sebenarnya, penerapan K3 yang baik dan benar itu
mudah,
yaitu:
1.

Memelihara

peralatan-peralatan

kerja

Perusahaan harus selalu memelihara kondisi peralatan agar selalu dalam


kondisi yang baik. Karena apabila ada yang salah dalam peralatanperalatan kerja karyawan, bisa memberikan dampak yang buruk terhadap
karyawan
tersebut.
2.

Melakukan pengontrolan terhadap perlatan-peralatan kerja secara berkala


Hal ini berguna untuk mengetahui mana peralatan-peralatan yang
mengalami kerusakan agar dapat diperbaiki dan tidak memberikan
bahaya
pada
karyawannya.

3.

Mempekerjakan petugas kebersihan untuk selalu menjaga kebersihan


lingkungan
perusahaan
Kebersihan lingkungan perusahaan tentu akan menjaga kesehatan para
karyawannya. Karena lingkungan yang kotor akan membawa penyakit.

4.

Menyediakan

fasilitas

yang

memadai

Fasilitas-fasilitas disini seperti kantin, karena setiap karyawan tentu


membutuhkan makan saat jam istirahat mereka sehingga mereka

memerlukan kantin untuk tempat mereka beristirahat setelah bekerja.


5.

Perencanaan

program

K3

yang

terkoordinasi

Biasanya, hampir banyak dari perusahaan yang program K3 nya kurang


terkoordinasi di seluruh bagian-bagian perusahaan sehingga penerapan
program
K3
tidak
terlaksana
dengan
baik.
6.

Melakukan penilaian dan tindak lanjut pelaksanaan keselamatan kerja


Apabila ada yang mengalami kecelakaan, tentu perusahaan harus
meninjak lanjuti mengenai hal tersebut. Baik dari segi tanggung jawab
terhadap karyawan tersebut, juga mencari tahu apa penyebab kecelakaan
tersebut terjadi agar tidak terulang kepada karyawannya yang lain.

Dampak Bila Suatu Perusahaan tidak


Melakukan K3 Terhadap Karyawannya
Dikarenakan program K3 yang sangat penting untuk menjamin keselamatan dan
kesehatan para karyawan perusahaan, tentu perusahaan akan mendapat dampak
yang buruk apabila perusahaan tidak memberikan pelayanan K3 terhadap
karyawannya,
seperti:
1.

Terjadinya cidera bahkan bisa menyebabkan kematian pada tenaga kerja


Hal ini disebabkan perusahaan tidak melakukan pemeliharaan dan
pemeriksaan berkala terhadap peralatan-peralatan yang ada di perusahaan
tersebut. Karena bisa saja peralatan tersebut rusak. Jika tidak diterapkan
K3, tentu karyawanlah yang menjadi korbannya hingga mengalami
cidera, bahkan yang terparah bisa mengakibatkan kematian.

2.

Menimbulkan

penyakit

Kurangnya kebersihan lingkungan perusahaan karena tidak terawatnya


lingkungan tersebut, bisa menjadi sarang penyakit. Sehingga kesehatan
karyawan
pun
terancam.

3.

Memberikan

kerugian

Apabila banyak tenaga kerja yang mengalami kecelakaan, tentu


perusahaan akan mengalami kerugian karena perusahaan harus
menanggung biaya kecelakaan dari karyawan tersebut. Ditambah dengan
berkurangnya
karyawan
yang
ada
diperusahaan
tersebut.
4.

Proses

kerja

di

perusahaan

terhambat

Karena K3 yang tidak diterapkan hingga menimbulkan kecelakaan, tentu


proses kerja di perusahaan tersebut akan terganggu dan terhambat.
Karena berkurangnya karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut
sehingga proses kerja menjadi lebih lambat dari biasanya.

KESIMPULAN DAN SARAN


KESIMPULAN
Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sangat diperlukan karena
menyangkut perusahaan dan karyawannya. Penerapan K3 ini juga memiliki
prosedur yang benar yang harus diikut sesuai dengan aturan perundangundangannya. Karena apabila K3 tidak terlaksana, tentu akan memberikan
dampak
buruk
terhadap
perusahaan
dan
karyawannya
sendiri.

SARAN
Untuk perusahaan yang belum menerapkan K3 atau penerapan K3 nya masih
rendah, sebaiknya ditingkatkan. Mengingat penerapan K3 sangat dibutuhkan
dalam perusahaan demi kelanjutan perusahaan juga di masa yang akan datang.
http://andrianyusmanfkm.blogspot.co.id/2015/03/hambatan-dalampelaksanaan-k3.html

3.1.1 Faktor Lingkungan Kerja


Faktor lingkungan kerja memiliki keterkaitan dengan tata ruang atau ergonomi.
Ergonomi dapat didefinisikan sebagai rencana kerja yang memungkinkan
manusia bekerja dengan baik tanpa melewati batas kemampuannya. Ergonomi
ini berhubungan dengan :

1. Penyelesaian pekerjaan dengan tenaga kerjanya.


2. Perencanaan pekerjaan agar dapat menggunakan kemampuan manusia
tanpa melebihi batasannya.
3. Perencanaan sistem Man-Machine dengan tenaga kerja, manusia sebagai
kerangka referensinya.
4. Pertalian antara teknologi dan ilmu biologi manusia.
Karena penataan ruang atau lingkungan kerja sangat berpengaruh bagi
kesehatan , keselamatan, dan keamanan pekerja, maka faktor lingkungan ini
bisa menjadi sebuah potensi bahaya kecelakaan bila penataannya tidak
diperhatikan secara utuh.

3.1.2 Potensi Bahaya Kecelakaan Kerja


Bahaya adalah sumber potensial kerusakan atau kerugian yang berupa situasi
yang berpotensi menyebabkan terjadinya kerugian. Sedangkan risiko adalah
kemunginan dan konsekuensi terjadinya luka atau sakit.
Bahaya dapat diklasifikasikan menurut jenisnya, yakni :
1. Bahaya Fisik
Bahaya fisik adalah jenis bahaya yang dapat dirasakan melalui lima indra, yakni
indra penciuman, peraba, perasa, penglihatan, dan pendengaran seperti
kebisingan, vibrasi, dan temperatur.
1. Bahaya Kimia
Bahaya kimia adalah jenis bahaya yang ditimbulkan akibat bahan bahan yang
mengandung material atau senyawa kimia seperti korosif, oksidasi,
karsigonetas, ledakan, dll.
1. Bahaya Biologi
Bahaya biologi adalah jenis bahaya yang disebabkan oleh makhluk hidup,
seperti virus, jamur, bakteri.
1. Bahaya Ergonomi
Bahaya ergonomi adalah jenis bahaya yang disebabkan faktor lingkungan, baik
dari segi tata letak maupun sumber daya manusianya.
1. Bahaya Psikologi
Bahaya psikologi adalah jenis bahaya yang disebabkan oleh keadaan psikologis
atau mental seseorang, sepert stress kerja,lelah piker, dan beban kerja.
Adapun bahaya di tempat kerja dapat dibagi menjadi 4 kategori yakni :

Kategori

Jenis Bahaya

Mesin dan Peralatan

Mesin tanpa alat pelindung atau pengaman,


penggunaan peralatan yang tidak tepat,
peralatan yang desain maupun kondisinya
tidak baik, peralatan yang mempunyai
bagian yang tajam, peralatan dengan
hubungan listrik yang salah.

Lingkungan Kerja Fisik

Lantai licin, tidak rata, kotor, ketidakrapian,


ketidakbersihan, jalan keluar terhalang,
kebisingan yang mengganggu, penerangan
yang tidak memadai, kualitas udara dan
ventilasi yang buruk, berdebu, berasap atau
berbau.

Pekerja dan Tugasnya

Kelelahan, stress, kurang berpengalaman,


semangat kerja, pelecehan, diskriminasi,
pertambahan jam kerja tanpa istirahat yang
cukup, posisi kerja, dan cara mengangkat
barang yang tidak benar, gerakan pindah
yang berulang.

Organisasi

Kurangnya kebijakan dan prosedur mengenai


K3, pelatihan, jadwal pelatihan yang tidak
sesuai.

3.2 Faktor Manusia


3.2.1 Kesehatan Tenaga Kerja
Ada beberapa bahaya dan risiko yang diakibatkan oleh pekerjaan membatik,
diantaranya
Proses Produksi

Potensi Bahaya Kecelakaan

Proses Mendisain

penyakit mata, seperti plus minus akibat penerangan


yang kurang atau terlalu terang.

Proses Perebusan Terkena gangguan pernapasan, dada sesak akibat bau


Malam
yang dihasilkan dan kurangnya ventilasi udara.
terkena canting yang berisi malam yang panas,
Proses Membatik
akibatnya kulit bisa terkena luka bakar bahkan
Tulis
melepuh.

Proses Membatik apabila tidak berhati-hati saat mengecap kain adalah


Cap
kulit bisa terkena luka bakar bahkan melepuh.
Terkena iritasi mata akibat percikan air panas pada
Proses Perebusan
saat merebus, bau yang menyengat dan mengganggu
Kain
pernapasan
Tabel 2 Potensi Bahaya Kecelakaan Kerja pada Industri Batik
Namun para pekerja tidak perlu khawatir akan risiko dan bahaya tersebut.
Tingkat terjadinya risiko dan bahaya bisa diminimalisir bahkan dihilangkan bila
para pekerja mengikuti prosedur K3 dan menggunakan alat pelindung diri yang
telah disediakan. Dan para pekerja pun dapat bekerja dengan nyaman dan
sehat.
http://jaringan-saya.blogspot.co.id/2014/11/penerapan-k3-pada-industri-batikupaya.html

BAB II
PEMBAHASAN

Setiap perusahaan baik perusahaan besar maupun perusahaan kecil mempunyai


fasilitas untuk berproduksi dan juga menguji hasil yang diproduksi dari
perusahaan tersebut dan efek dari pekerjaan tersebut sangat erat kaitannya
dengan tenaga kerja. Tetapi efisiensi dan efektifitas kerja tidak tergantung pada
jumlah tenaga kerja yang banyak, melainkan dari mutu tenaga kerja tersebut.
Keselamatan Kerja adalah Perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang
dan mencegah kecelakaan atau cedera yang terkait dengan pekerjaan.
Kesehatan Kerja adalah Individu yang sehat, bebas dari penyakit, cedera serta
masalah mental dan emosi yang bisa mengganggu aktivitas manusia normal
umumnya. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan upaya
perlindungan terhadap keselamatan serta kesehatan para tenaga kerja selama
mereka bekerja di perusahaan tempat mereka bekerja. K3 memiliki 2 aspek
penting, yaitu mengenai keselamatan kerja para karyawannya dan kesehatan
para karyawannya. Keselamatan kerja ini sangat berhubungan erat dengan
proses produksi suatu perusahaan. Terutama di Indonesia yang semakin
berkembang negaranya, semakin berkembang pula tingkat kecelakaan kerja
yang terjadi.
Keselamatan Kerja telah diatur dalam Undang-Undang No.1 tahun 1970 tentang
keselamatn kerja dalam pasal 3 ayat (1) dan pasal 9 ayat (3)
Sedangkan mengenai Kesehatan Kerja telah diatur dalam Undang-Undang
Kesehatan No. 23 Tahun 1992 Bagian 6 tentang Kesehatan Kerja, Pada pasal 23
yang berisi:

1. Kesehatan kerja diselenggarakan untuk mewujudkan produktivitas kerja


yang optimal.
2. Kesehatan kerja meliputi perlindungan kesehatan kerja, pencegahan
penyakit akibat kerja, dan syarat kesehatan kerja.
3. Setiap tempat kerja wajib menyelenggarakan kesehatan kerja.
Jadi, keselamatan dan kesehetan kerja harus diselenggarakan dalam setiap
perusahaan. Karena kecelakaan dan penyakit datang secara tidak terduga dan
tanpa diharapkan.
A. Faktor Penyebab Perusahaan Masih Belum Memberikan Pelayanan
K3 Yang Baik
Tidak sedikit dari perusahaan yang masih belum memberikan pelayanan K3 yang
baik dan benar terhadap karyawannya. Padahal hal tersebut sangat penting
untuk masa depan perusahaan juga. Hal ini dapat disebabkan karena faktor
berikut:
1.
Manajemen perusahaan memberikan prioritas rendan pada
program K3 dalam program perusahaan
Hampir di banyak perusahaan yang ada, program K3 tidak pernah dibahas dalam
rapat-rapat yang diselenggarakan perusahaan tersebut. perusahaan hanya
terlalu fokus pada produksi perusahaan sedangkan program K3 tersebut sangat
dibelakangkan. Jika sudah terjadi kecelakaan, barulah perusahaan akan
mengingat mengenai K3 tersebut. Namun tetap perusahaan tidak
memprioritaskan program K3 dalam pengoperasiannya.
2.
Kurangnya pengetahuan mengenai K3 baik dari perusahaan
maupun karyawannya
Pengetahuan mengenai K3 oleh karyawan ataupun pihak perusahaan terkadang
masih rendah. Baik pengetahuan mengenai cara penerapan K3 yang benar,
dampak apabila perusahaan tidak menerapkan K3 tersebut, dan sebagainya. Hal
inilah yang membuat perusahaan masih kurang dalam memberikan pelayanan
K3 untuk karyawannya.
3.

Keterbatasan modal dalam memberikan pelayanan K3

Untuk memberikan pelayanan K3 yang benar tentu diperlukan berbagai modal


untuk melaksanakannya terhadap para karyawan. Terkadang kondisi keuangan
perusahaan tersebut tidak mendukung karena kurangnya modal untuk
meningkatkan kualitas pelayanan K3 sehingga penerapan K3 pun tidak
maksimal.
4.

Pengawasan pemerintah yang lemah mengenai penerapan K3

Peraturan K3 memang sudah memiliki undang-undang yang sah dimata hukum.


Namun, pemerintah sendiri masih kurang dalam hal mengawasi berjalannya

peraturan hukum tersebut. Pemerintah hanya menganggap semuanya akan


berjalan lancer bila sudah memiliki hukum yang kuat. Padahal dalam
kenyataannya, penerapan K3 masih sangat kurang meskipun telah memiliki
Undang-Undang yang kuat.
Itulah penyebab masih adanya perusahaan yang belum bisa melaksanakan
program K3 dengan baik dan benar.
B.
Pelaksanaan K3 Yang Baik Yang Seharusnya Diterapkan
Perusahaan
Mungkin di setiap perusahaan ada program K3, namun tidak semua perusahaan
menjalankan program K3 tersebut dengan baik dan benar karena disebabkan
oleh beberapa faktor. Sebenarnya, penerapan K3 yang baik dan benar itu
mudah, yaitu:
1.

Memelihara peralatan-peralatan kerja

Perusahaan harus selalu memelihara kondisi peralatan agar selalu dalam kondisi
yang baik. Karena apabila ada yang salah dalam peralatan-peralatan kerja
karyawan, bisa memberikan dampak yang buruk terhadap karyawan tersebut.
2.

Melakukan pengontrolan terhadap perlatan-peralatan kerja secara berkala

Hal ini berguna untuk mengetahui mana peralatan-peralatan yang mengalami


kerusakan agar dapat diperbaiki dan tidak memberikan bahaya pada
karyawannya.
3.
Mempekerjakan petugas kebersihan untuk selalu menjaga kebersihan
lingkungan perusahaan
Kebersihan lingkungan perusahaan tentu akan menjaga kesehatan para
karyawannya. Karena lingkungan yang kotor akan membawa penyakit.
4.

Menyediakan fasilitas yang memadai

Fasilitas-fasilitas disini seperti kantin, karena setiap karyawan tentu


membutuhkan makan saat jam istirahat mereka sehingga mereka memerlukan
kantin untuk tempat mereka beristirahat setelah bekerja.

5.

Perencanaan program K3 yang terkoordinasi

Biasanya, hampir banyak dari perusahaan yang program K3 nya kurang


terkoordinasi di seluruh bagian-bagian perusahaan sehingga penerapan program
K3 tidak terlaksana dengan baik.
6.

Melakukan penilaian dan tindak lanjut pelaksanaan keselamatan kerja

Apabila ada yang mengalami kecelakaan, tentu perusahaan harus meninjak


lanjuti mengenai hal tersebut. Baik dari segi tanggung jawab terhadap karyawan
tersebut, juga mencari tahu apa penyebab kecelakaan tersebut terjadi agar tidak
terulang kepada karyawannya yang lain.
C. Dampak Bila Suatu Perusahaan Tidak Melakukan K3 Terhadap
Karyawannya
Dikarenakan program K3 yang sangat penting untuk menjamin keselamatan dan
kesehatan para karyawan perusahaan, tentu perusahaan akan mendapat
dampak yang buruk apabila perusahaan tidak memberikan pelayanan K3
terhadap karyawannya, seperti:
1.

Terjadinya cidera bahkan bisa menyebabkan kematian pada tenaga kerja

Hal ini disebabkan perusahaan tidak melakukan pemeliharaan dan pemeriksaan


berkala terhadap peralatan-peralatan yang ada di perusahaan tersebut. Karena
bisa saja peralatan tersebut rusak. Jika tidak diterapkan K3, tentu karyawanlah
yang menjadi korbannya hingga mengalami cidera, bahkan yang terparah bisa
mengakibatkan kematian.
2.

Menimbulkan penyakit

Kurangnya kebersihan lingkungan perusahaan karena tidak terawatnya


lingkungan tersebut, bisa menjadi sarang penyakit. Sehingga kesehatan
karyawan pun terancam.
3.

Memberikan kerugian

Apabila banyak tenaga kerja yang mengalami kecelakaan, tentu perusahaan


akan mengalami kerugian karena perusahaan harus menanggung biaya
kecelakaan dari karyawan tersebut. Ditambah dengan berkurangnya karyawan
yang ada diperusahaan tersebut.
4.

Proses kerja di perusahaan terhambat

Karena K3 yang tidak diterapkan hingga menimbulkan kecelakaan, tentu proses


kerja di perusahaan tersebut akan terganggu dan terhambat. Karena
berkurangnya karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut sehingga proses
kerja menjadi lebih lambat dari biasanya.
D.

Hambatan dalam Pelaksanaan K3 di Perusahaan

Hambatan dari sisi pekerja/ masyarakat :

-Tuntutan pekerja masih pada kebutuhan dasar


-Banyak pekerja tidak menuntut jaminan k3 karena SDM yang masih rendah.

Hambatan dari sisi perusahaan:

Perusahaan yang biasanya lebih menekankan biaya produksi atau operasional


dan meningkatkan efisiensi pekerja untuk menghasilkan keuntungan yang
sebesar-besarnya.
Walaupun K3 sudah dianggap penting dalam aspek kegiatan operasi namun
didalam pelaksanaannya masih saja ditemui hambatan serta kendala-kendala.
Hambatan tersebut ada yang bersifat makro (di tingkat nasional) dan ada pula
yang bersifat mikro (dalam perusahaan).
1.

Hambatan makro

Di tingkat nasional (makro) ditemui banyak faktor yang merupakan kendala yang
menyebabkan kurang berhasilnya program keselamatan kerja antara lain :
a. Pemerintah
Masih dirasakan adanya kekurangan dalam masalah pembinaan (formal & non
formal), bimbingan (pelayanan informasi, standar, code of pratice), pengawasan
(peraturan, pemantauan / monitoring serta sangsi terhadap pelanggaran), serta
bidang-bidang pengendalian bahaya.

b. Teknologi
Perkembangan teknologi perlu diantisipasi agar bahaya yang ditimbulkannya
dapat diminimalisasi atau dihilangkan sama sekali dengan pemanfaatan
ketrampilan di bidang pengendalian bahaya.
c. Sosial budaya
Adanya kesenjangan sosial budaya dalam bentuk rendahnya disiplin dan
kesadaran masyarakat terhadap masalah keselamatan kerja, kebijakan asuransi
yang tidak berorientasi pada pengendalian bahaya, perilaku masyarakat yang
belum sepenuhnya mengerti terhadap bahaya-bahaya yang terdapat pada
industri dengan teknologi canggih serta adanya budaya santai dan tidak
peduli dari masyarakat atau dengan kata lain belum ada budaya
mengutamakan keselamatan di dalam masyarakat / pekerja
2.

Hambatan mikro

Masalah yang bersifat mikro yang terjadi di perusahaan antara lain terdiri dari :
a.

Kesadaran, dukungan dan keterlibatan

Kesadaran, dukungan dan keterlibatan manajemen operasi terhadap usaha


pengendalian bahaya dirasakan masih sangat kurang. Keadaan ini akan
membudaya mulai dari lapis bawah sehingga banyak para karyawan memilki
kesadaran keselamatan yang rendah, disamping itu pengetahuan mereka

terhadap bidang rekayasa dan manajemen keselamatan kerja juga sangat


terbatas. Ditambah lagi anggapan bahwa K3 adalah cost center yang padahal
sebenarnya justru sebaliknya.
b. Kemampuan yang terbatas dari petugas keselamatan kerja
Kemampuan petugas keselamatan kerja dibidang rekayasa operasi, rekayasa
keselamatan kerja, manajemen pengendalian bahaya dirasakan sangat kurang
sehingga merupakan kendala diperolehnya kinerja keselamatan kerja yang baik.
Akibat daripada kekurangan ini terdapatnya kesenjangan antara makin majunya
teknologi terapan dengan dampak negatif yang makin tinggi dengan
kemampuan para petugas keselamatan kerja dalam mengantisipasi keadaan
yang makin berbahaya.
Hal ini juga disebabkan karena kurangnya pengembangan SDM di bidang K3 atau
kurang dikembangkannya perkembangan dunia pendidikan di bidang ini.
c. Standard, code of practice
Masih kurangnya standard-standard dan code practice di bidang keselamatan
kerja serta penyebaran informasi di bidang pengendalian bahaya industri yang
masih terbatas akan menambah memperbesar resiko yang dihadapi.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A.

Kesimpulan

Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sangat diperlukan karena


menyangkut perusahaan dan karyawannya. Penerapan K3 ini juga memiliki
prosedur yang benar yang harus di ikuti sesuai dengan aturan perundangundangannya. Karena apabila K3 tidak terlaksana, tentu akan memberikan
dampak buruk terhadap perusahaan dan karyawannya sendiri.
B.

Saran

Untuk perusahaan yang belum menerapkan K3 atau penerapan K3 nya masih


rendah, sebaiknya ditingkatkan. Mengingat penerapan K3 sangat dibutuhkan
dalam perusahaan demi kelanjutan perusahaan juga di masa yang akan datang.
http://andrianyusmanfkm.blogspot.co.id/2015/03/hambatan-dalam-pelaksanaank3.html